Quote:Original Posted By dsperdana ►
ane ada opini....
mungkin, biaya untuk restorasi film lebih mahal ketimbang bikin film yg "dalam tanda kutip"
karena belum tentu, film hasil restorasi itu bakalan bisa bersaing dengan film2 baru...
secara idealisme Gan, merestorasi film itu bukan untuk tujuan komersial, justru sebaliknya yaitu untuk menyelamatkan karya, sejarah, warisan budaya.
Nah, pengetahuan serta minat pemerintah dan masyrakat yang lemah akan "upaya penyelamatan" menjadikan banyak arsip , film, koran Indonesia dari jaman dahulu teronggok begitu saja.
Quote:Original Posted By gie.lank ►
Lah seharusnya kita bersyukur donk, masih ada yang mau merestorasi film Indonesia, dilihat dari animo anak bangsa yang sedikit berminat dengan film-film itu. Toh itu juga dapat mengangkat nama Indonesia, kita lihat di film-film luar juga banyak yang terjadi seperti ini, sah-sah aja kok selama tidak mengganti substansi dan makna dari film tersebut, apalagi ampe di klaim, itu masih sah-sah aja kok
Gan, ini bukan sekedar masalah klaim negara lain atau sekedar "mengangkat nama Indonesia". Lewat Jam Malam hanya merupakan salah satu film yang akhirnya berhasil di restorasi dan berhasil ditayangkan di Perancis dan tanpa kita sadari telah "diselamatkan" pihak asing dari ancaman kepunahan.
Bagaimana nasibnya dengan film-film lain yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan, yang dibiarkan begitu saja tanpa direstorasi, di preservasi. Mereka akan musnah, dan kita kaan kehilangan sejarah, warisan budaya kita Gan.
Quote:Original Posted By we.are.wolf ►
ya kalo mampu sih sebaiknya restorasi itu dari "pihak dalam"
tapi kalo ga mampu ya bisa minta bantuan "pihak luar" 
*tapi masa kita gak mampu sih...
:
nah, pertanyaan bagus yang susah juga dijawab..
