Smile Kesalahan Tata Bahasa yang Bikin Sesak Dada

Dalam kehidupan sehari-hari saya seringkali menemukan penggunaan bahasa Indonesia yang keliru. Saya mungkin bukan mahasiswa jurusan sastra Indonesia, tapi saya ingin mencoba membantu memaparkan contoh-contoh penggunaan bahasa yang salah dan menyalahi kaidah bahasa Indonesia, dan sudah terlanjur menjadi budaya umum…



PENULISAN SINGKATAN DAN AKRONIM
Singkatan merupakan perpendekan serangkaian kata ke dalam bentuk beberapa huruf. Kata-kata yang dimaksud biasanya merujuk kepada nama lembaga, bidang studi, nama tempat, atau istilah. Umumnya huruf-huruf yang membentuknya adalah huruf-huruf awal dari kata-kata tersebut. Cara membacanya pun beragam, tergantung huruf-huruf yang membentuknya. Misal, “IPA” akan diucapkan “I-Pa” karena memiliki huruf vokal “A” di belakang . Rasanya kita jarang sekali mendengar orang menyebut “I-P-A”. Namun “IPS” akan dibaca “I-P-S” karena terdiri dari dua huruf mati atau konsonan yang mengakhiri singkatan. Mustahil rasanya saat ditanya mengenai jurusan, orang menjawab, “Saya jurusan Ipssss!”

Tapi masyarakat kita seringkali mengasosiasikan akronim sebagai singkatan. Meski fungsinya sama-sama sebagai penyingkat, tapi akronim memiliki bentuk yang berbeda dengan singkatan. Akronim dibentuk dari kumpulan suku kata dari kata-kata yang disingkatnya. Nah, faktor terpenting yang membedakan singkatan dan akronim adalah penggunaan huruf besar dan kecil. Akronim cenderung ditulis sebagaimana layaknya nama lembaga atau orang: diawali huruf besar, sisanya huruf kecil. Dan membacanya tidak pernah dengan cara mengeja, melainkan selalu mengucapkannya seperti membaca kata biasa. Misal, “Depdagri”.

Nah, lantas apa yang menjadi salah kaprah? Ya itu tadi, penyalahgunaan huruf besar dan kecil. Masyarakat cenderung menuliskan akronim dengan huruf besar semua. Misal, “Saya kuliah di UNPAK.” Padahal yang betul seharusnya, “Saya kuliah di Unpak.” Karena setiap huruf dalam kata “Unpak” bukan penyingkat. Yang menjadi penyingkat adalah suku kata “Un” dan “Pak”.

Oya, satu hal yang terpenting, jangan menggunakan sistem CamelCase dalam akronim, ya. Contoh “Unpak”, jangan ditulis “UnPak”, meskipun bila ditulis tanpa disingkat, huruf P pada “Pakuan” menggunakan huruf besar.


PENYALAHGUNAAN BEBERAPA KATA

Ubah atau Rubah?
“Kau boleh acuhkan diriku… dan anggap ku tak ada… tapi takkan merubah…” Sebuah petikan lagu yang sangat indah dari seorang Once. Saya pun suka. Tapi kata “merubah” itu lho… mengganjal sekali! Mana sudah terlanjur “diakui” menjadi karya seni pula, huft….

Yah, akuilah kalau kita cenderung menggunakan kata “merubah” atau “dirubah” dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin “kambing hitam”-nya adalah kata “berubah” yang sudah sangat familiar di telinga kita. Sehingga tanpa sadar kita kebiasaan menerapkannya juga dalam imbuhan me- dan di-.

Padahal yang paling tepat adalah “mengubah” dan “diubah”. Karena kata dasarnya adalah “ubah”. Coba deh, cari kata “rubah” di kamus. Pasti definisinya mengenai sejenis hewan dan tak ada sangkut-pautnya dengan “rubah” yang kita maksud. Mungkin bisa dimaafkan bila kita keceplosan menggunakan kedua kata yang salah kaprah itu dalam percakapan sehari-hari, tapi jangan sampai “keceplosan” menggunakannya dalam karya tulis, yaaa…!

Tinggali dan Tinggalkan
“Ku mempunyai dua hati yang tak bisa, ‘tuk kutinggali….” Pasti familiar dong, sama petikan lagu nakal milik T2 ini. Ya, lagi-lagi ada kesalahkaprahan bahasa yang terlanjur “diakui”. Memang, dalam beberapa kata, imbuhan belakang –kan dan –i tidak benar-benar sepadan. Contoh, “membubuhkan” dan “membubuhi”. Yang membedakan adalah, kata pertama cenderung merujuk pada apa yang dibubuhkan pada sesuatu, maka kita ambil contoh kalimat: “Saya membubuhkan tanda tangan di kertas”. Sementara pada kata kedua, mengacu pada apa sesuatu yang dibubuhi, maka bentuk kalimat yang ideal adalah, “Saya membubuhi kertas dengan tanda tangan”. Mau contoh lain? Oke, misalnya, “memasukkan” berarti si subjek membuat sesuatu masuk ke dalam sesuatu, sementara “memasuki” artinya si subjek sendiri yang masuk ke dalam sesuatu.

Nah, ketahuan dong, kalau petikan syair T2 itu salah besar? Bahkan dari makna pun sudah berbeda meski kata dasarnya sama. “Kutinggalkan” artinya si “aku” menjauh dari sesuatu, sementara “kutinggali” berarti “aku” TINGGAL DI DALAM sesuatu. Mungkin penggunaan kata “kutinggali” ini dimaksudkan agar senada dengan kata di bait sebelumnya, yakni “dua hati”. Tapi rasanya nggak usah maksain juga kan, Mas Dodhy? Atau memang Anda nggak tahu? ***sombong***

Kau-
“Kau” adalah salah satu bentuk kata ganti orang kedua tunggal. Yang menjadi salah kaprah adalah penggunaan kata “kau-” yang diikuti beberapa kata kerja tertentu. Sama seperti “ku-”, kata “kau-” seharusnya digabung dengan kata kerja yang mengikutinya. Misal, “kaupikir”, “kauambil”, “kaurasakan”, atau “kausimpan”. Tapi hal ini tidak berlaku untuk kata ganti “kamu”, “Anda”, “sampeyan”, “ente”, “yey”, dan lainnya karena “kau-” di sini sepadan dengan “ku-” (bukan “aku”).

Geming, Seronok, dan Acuh
Salah satu penyakit berbahasa yang terparah adalah ketika makna suatu kata diubah menjadi sangat kontradiktif dengan makna aslinya. Salah satunya “geming”. Makna asli dari kata ini adalah “bertahan” atau “tetap pendirian”. Contoh kalimatnya: “Meski sudah dibujuk, saya tetap bergeming.” Tapi belakangan maknanya diputarbalikkan seratus delapan puluh derajat menjadi “berubah pendirian”. Contoh kalimat: “Karena dipaksa sedemikian rupa, akhirnya dia bergeming.”

Di samping itu, ada juga kata “seronok”. Entah siapa yang menyesatkan arti kata ini menjadi sangat negatif. Mungkin karena penggalan bunyi kata “-ronok” yang tidak enak didengar secara verbal, sehingga menimbulkan kesan bahwa kata “seronok” berarti “tidak sopan” atau “tidak enak dipandang”. Padahal makna “seronok” justru “sopan” atau “sedap dipandang”. Jadi, salah besar kalau ada yang bilang, “Pakaian pelacur itu seronok sekali!”

Terakhir, ada lagi kata yang maknanya seenaknya dibolak-balik laksana martabak emih. Yakni “acuh”. Seperti kata “seronok”, mungkin bunyi kata “-cuh” itu yang menimbulkan asumsi salah mengenai makna kata “acuh”. Pernah saya menemui kalimat, “Saya sakit hati karena ucapan saya diacuhkan.” Lha, ucapan diacuhkan kok sakit hati, sih? Harusnya senang dong, karena artinya ucapan tersebut DIPEDULIKAN

kata gabung
Ragam jurnalistik ini banyak digunakan dalam persurat kabaran.
-> Kesalahan kalimat tersebut terletak pada penulisan kata persurat kabaran. Memang betul, kata gabung seperti surat kabar, tanggung jawab dan sebagainnya dituliskan terpisah. Tetapi apabila kata-kata tersebut mendapat awalan dan akhiran, harus dituliskan serangkai. Jadi penulisan yang betul: persuratkabaran, pertanggungjawaban.
Contoh lain:
memberi tahu -> pemberitahuan
ambil alih -> pengambilalihan
gotong royong -> kegotongroyongasn
tidak adil -> ketidakadilan
salah guna -> disalahgunakan
jungkir balik -> dijungkirbalikkan

menyingkat waktu
Untuk menyingkat waktu, marilah kita mulai acara ini.
->Waktu tidak dapat dipersingkat; karena itu kalimat tersebut salah. Yang betul: Untuk menghemat waktu, marilah kita mulai acara ini.

saling
Sebagai sesama manusia, kita wajib saling tolong-menolong.
-> Kata saling sudah menunjuk pengertian dilakulkan oleh dua belah pihak; sama benar dengan bentuk tolong-menolong. Maka yang betul: sebagai sesama manusia, kita wajib saling menolong; atau: sebagai sesama manusia, kita wajib tolong menolong. Bentuk yang sejenis dengan bentuk tersebut.
Saling kejar-mengejar seharusnya: saling mengejar, kejar mengejar atau berkejar-kejaran.
Saling pegang-memegang seharusnya: saling memegang, pegang-memegang atau berpegang-pegangan.
Bentuk seperti di atas, termasuk gejala pleonasme.

pelopor
Salah seorang yang mempelopori berdirtinya koperasi di desa ini ialah bapak saya.
-> Yang betul memelopori. Kata tersebut berasal dari kata dasar pelopor. Karena awalan me yang melekat padanya, maka bunyi p-nya luluh; dan menjadi memelopori.

dipersilahkan
Para tamu dipersilahkan masuk.
-> Kesalahan kalimat tersebut pada penulisan kata dipersilahkan. Kata tersebut seharusnya dituliskan tanpa h: dipersilakan.

waktu dan tempat saya persilakan
->Kalimat ini sering sekali dipakai orang, padahal kalimat tersebut salah. Siapa yang biasannya dipersilakan? Jawabannya tentu saja bukan waktu dan tempat, melainkan orangnya. Karena itu, mestinya kalimat tersebut kita ubah:
-> Bapak atau Saudara............saya persilakan.(isilah titik-titik terwsebut dengan nama orang atau pejabat yang akan memberi sambutan)


Nah, itu baru segelintir dari seluruh kesalahan tata bahasa yang sudah terlanjur menjadi kebiasaan masyarakat kita. Kalau sampai kebiasaan ini mendarah daging dalam diri anak cucu kita kelak, wah, bahaya tuh! Bisa-bisa bahasa Indonesia yang baku benar-benar musnah di kemudian hari.

Memahami bahasa Inggris sebagai bahasa internasional memang suatu keharusan. Tapi jangan sampai jadikan hal itu sebagai alasan untuk bergaya sok keinggris-inggrisan. Kalau masyarakat Indonesia sendiri banyak keliru dalam menggunakan bahasa Indonesia, wah, lantas siapa yang harus melestarikan bahasa nasional kita ini? Orang Amerika? Orang Malaysia? Orang Zimbabwe? Tidak mungkin, bukan?



Bahasa Indonesia adalah identitas bangsa, seharusnya perkembangan zaman dan perubahan teknologi komunikasi tidak bisa menggerusnya, apalagi hanya demi pergaulan.

“Kau tak kenal bangsamu sendiri…”
–Pramoedya Ananta Toer


Bolehlah bagi cendolnya
semoga bahasa indonesia jadi bahasa internasional gan
Penting nih buat berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa alay meraja lela sampe nggak kenal usia sih
Tambahan dari agan - agan :

Quote:Original Posted By gareng92
GAN ane nambahin gambarnya gan ..
taro pejawen gan..






































Quote:Original Posted By irvanjulist
saya ingin menambahkan gan masalah pengucapannya
ironi sekali banyak pejabat, publik figure, pembawa acara salah pengucapan vokal...

Pengucapan nama negaranya sendiri aja salah
padahal ini penting gan krna identitas
ini pembahasannya:
(Endonesia/Eindonesia seharunya kn Indonesia ya pengucapannya Indonesia) emang ada negara Endonesia/Eindonesia

ini pengucapan ya bukan masalah penulisannya
dari sekarang coba perhatikan deh dijamin deh pasti aja ada klo lg nongton tipi

coba aja deh google translet ketik Indonesia pake terjemahan ke negara manapun ya pengucapannya tetep aja Indonesia (klik sound nya)
ini link nya:
http://translate.google.co.id/?hl=id...d|en|Indonesia
mesin aja bener masa iya kalah :



Quote:Original Posted By sup3rwin
Thread yang bagus gan. Ane tambahkan:
1. Penulisan "Perseroan Terbatas" (PT), tidak pakai titik. Banyak perusahaan dan instansi pemerintah yang menuliskan "PT" memakai titik. Salah satunya yang bikin ane geli ngeliatnya waktu ane disuruh memeriksa laporan keuangan salah satu BUMN. Di header laporan keuangan tersebut, dengan jelas tertulis "PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) P.T. #$#$#%#$%^^ #######". Mirisnya lagi waktu ane mengusulkan koreksi penulisan tersebut, mereka malah dengan percaya dirinya mengatakan "oh itu memang formatnya seperti itu". Well~

2. Penulisan "terima kasih", padahal menurut EYD, seharusnya "terimakasih".

3. Penulisan kata sapaan yang huruf awalnya ditulis memakai huruf kecil, seharusnya huruf besar. Contohnya:
"Bisakah Anda menolong saya?"
"Baik Pak, saya akan menyelesaikannya hari ini"

4. Penggunaan koma sebelum kata "sehingga", seharusnya tidak perlu memakai koma.

5. Penulisan kata setelah tanda baca (titik dua, titik koma, garis miring) yang tidak memakai spasi, seharusnya setelah tanda baca harus ada spasi.

6. Kesalahan pada kalimat yang ada di bagian penutup surat resmi, akhir pidato, atau penutupan acara oleh moderator. Contohnya:
"Akhir kata, atas perhatiannya, kami/ saya ucapkan terimakasih"
Dua kesalahan yang ada dalam kalimat tersebut:

nya= sufiks (akhiran) tersebut jika digabungkan dengan kata "perhatian", maka maknanya menjadi tidak jelas. Lebih baik jika sufiks tersebut diganti dengan "anda", "teman-teman", atau "saudara/ i"

ucapkan= kata ini digunakan pada kalimat pasif, seharusnya "saya/ kami mengucapkan terimakasih" atau "terimakasih saya/ kami ucapkan"

dan masih banyak kesalahan umum lainnya.


Jadi inget sewaktu ane mengikuti pelajaran bahasa Indonesia. Guru ane bilang, "kalau kalian memasang iklan "rumah ini akan dijual", ya kapan lakunya toh? Wong baru rencana juga"
Dari situ ane paham kalo penulisan yang benar yaitu "Rumah ini dijual"


Quote:Original Posted By AltianoGerung
1. ternyata kata "merubah" bkn cman ada dlm msyrk aja tapi udah sampe ke google. coba agan cari di google translate deh. kata merubah itu udah dipatenkan yang sama artinya dg "mengubah"
2. kau- . google tranlate juga selalu mengoreksi kalau kita menuliskan kata ini. misalnya "kaupikir" malah disarankan "kau pikir"
3. wah wah kalau kata seronok & acuh mah sulit sekali untuk dirubah, soalnya udah banyak yg mengartikannya salah. mungkin harus dilaksanakan perubahan besar2an gan. google translatepun udah salah mengartikan kata-kata tersubut contohnya: pakaian seronok = sexy clothes acuhkan temanmu = ignore your friends. ini baru namanya FATAL GILA!!
4. menyingat .... mempelopori .... waktu dan tempat .... = No Comment!

Saya juga setelah membaca thread ini saya jadi SANGAT PERIHATIH, soalnya pasti sudah banyak masyarakat indo yang menyalah gunakan kata2 tsb

Saya Mengajak Teman2 semua utk menyebarkan masalah ini pada teman2 lainnya !!

Terima kasih juga buat TS yg udah ngasih infonya...



Quote:Original Posted By sister sledge
Wah... Jujur ya juragan TS, saya sudah lama "gemes" sama topik ini... Akhirnya ada yang muat juga

Bahasa Indonesia memang sulit, harus diakui. Buktinya, kebanyakan orang di Indonesia punya nilai jeleknya malah di pelajaran BI. Termasuk saya...

Aneh dan sedikit miris sih. Entah salah siapa atau apa, pelajarannya yang memang susah, sistem pendidikannya yang kurang, atau manusianya? Sedangkan Bahasa Inggris sangat mudah untuk dicerna.

Dewasa ini, banyak sekali pergeseran makna kata justru oleh kalangan muda. Contohnya ya "secara"

Tambahan dari saya, jurnalis jaman sekarangpun tidak kalah keblinger, membaca artikel mereka rasanya saya ingin menangis. Menggunakan bahasa sehari-hari tidak pada tempatnya. Kalau hanya berita kacangan seputar artis, saya masih maklum. Suatu hari saya membaca di detik..com dengan head line: "Busettttt Ada Nenek Diperkosa Sama 7 Pria! Parahhhhhh!" (Kira-kira begitu bunyinya) dengan isi tulisan yang (maaf) menurut saya sampah. Tidak informatif sama sekali, cenderung ofensif.

Ini hanya pandangan saya, mohon maaf kalo ada teman-teman jurnalis yang membaca.




Quote:Original Posted By w1ng
Ini thread TOP BANGET!
1. Satu-satunya thread Kaskus yg ane bookmark.
2. Banyak banget komentar "Agan guru?" atau sejenisnya, makin menunjukkan bhw bahasa Indonesia emang tidak 'eksis' di negaranya sendiri. Sebenernya gak perlu repot2 jadi guru, kalo mau mempelajari bahasa sendiri.
3. Kurang kreatifnya sebagian besar guru bahasa Indonesia dalam menyampaikan materi belajar di kelas.
4. Anak2 mudanya juga tidak bangga dgn bahasanya sendiri. Lebih bayak yg pada ribet ke bhs inggris biar dibilang 'gaulnya internasional'. Pret!
5. Yg parah, makin banyak guru/dosen yg kagak ngarti sedalam si TS ini, akhirnya gak ada perbaikan di murid2/mahasiswanya.
Salut buat bang TS. Maaf kalo bahasa ane campur aduk.
nice inpo Gan, bermanfaat bgt ..

Quote: yang lelet gak dapet ipad, mau ipad? cekidot >> https://apps.facebook.com/guinnesstimecontest
mangstab gan
bhasa indonesia memang lebih sulit dibanding bhs inggris
emang kau itu salah ya?
Quote:Original Posted By sinned92
emang kau itu salah ya?


kata “kau-” seharusnya digabung dengan kata kerja yang mengikutinya. Misal, “kaupikir”, “kauambil”, “kaurasakan”, atau “kausimpan”

sumber : http://bahasa.kompasiana.com/2011/09...in-sesak-dada/
nice thread gan
berhubung ane belom iso ane bantu rate aja gan
hello fighters, we are SEND TO BACK



MEMBERS :
\t
Spoiler for otcho/vocal:

Spoiler for ryan/bass:

Spoiler for danil/guitar:


biography
hello,fighters ...

It all started from the dismissal of "otcho's"(the vocalist) first band.
Then he started to think on making a revenge band.
Ryan(his colleague and bassist) and Otcho himself created a new band and agreed to call it "Send To Back".
The band's philosophy is : going back to the past and fixing the future.
Ryan then recruits Danil(guitarists) and Bona(drummer who has a metal background!).
Then Otcho decides to add another troop who holds the synthenizer.
They chose Willy(synth), the youngest of Send To Back's member.
Carrying the theme of "fighting", Send To Back is expected to light up and burn the spirits of youngsters to fight !


enjoy our 1st single : "fighting is the implementation of words"

download the song :
Code:
http://www.media*fire..com/?7upyn2vav8mcx3l


Spoiler for lirik:


links :
http://www.reverbnation.com/sendtoback
http://www.facebook.com/pages/SendTo...31237143618912










our very first studio update :



Hello fighters, after losing a few personels and an addition of a new one, Send To Back has released their latest 2nd single entitled, R.A.S (Rock After School).
This is basically about a person who gets bullied during school hours. Once school hours is over, those bullies became turned down to this person's rockband's song. Moreover, the bullies came to their knees and sing their song. So fighters, enjoy our latest singles, stop bullying, Let's Rock After School!



dukung musisi lokal
gan ane mau nanya,
kalo bikin singkatan, haruskah diambil dari kata dasar masing2?
contoh GABUNGAN JOMBLO BERMARTABAT TINGGI <----- , (asal aja gan)

singkatannya GJBT, atau GJMT,

terima kasih,



taro depan gan
karna pada dasarnya bahasa indonesia itu berawal dri bahasa melayu..kenapa memilih bahasa melayu cz bahasa melayu sdh menjadi bahasa yang besar ketimbang dengan bahasa2 adat/daerah yg ada di Indonesia...cz skrg bahasa melayu dipakai gk cuman Indonesia aza...makanya Indonesia merycycle bahasa melayu dengan menjadi bahasa Indonesia..dlm EYD...maknya byk ditemukan bahasa Indonesia hmpir sma bhasa Malaysia.singapure,brunei..
gan, udah jadi editor wikipedia belum?
kalo belum, gabung gih. (maksa bener yak )
banyak artikel pilihan di sana yg kurang kualitasnya dari segi tata bahasa.
iya itu jaman ane SD sering salah, tp sekarang ud ga..alhamdulilah
BAHASA SLANG YANG MENYALAHI KAIDAH BAHASA
Apakah itu? “Secara”! Ya, sudah lama saya mendapati kata “secara” yang digunakan tidak sesuai dengan maknanya. Misal, “Secara gue kan ganteng!” atau, “Secara Vian kan sok tahu!” atau, “Kamu pasti menang, secara kan kamu hebat!”

Memang sih, sepintas penggunaan kata ini terdengar keren dan gahol, eh, gaul. Saya sendiri tidak menyalahkan penggunaan bahasa slang yang sudah mendesak penggunaan bahasa Indonesia baku. Saya juga tidak keberatan dengan istilah-istilah gaul yang menggantikan istilah aslinya, misal “sendiri” jadi “sendokir”, “cemburu” jadi “cembokur”, “berlebihan” jadi “lebay”, dan lain-lain.

Tapi kalau kata yang sudah terdaftar dalam KBBI dilencengkan maknanya, itu salah besar, kawan! “Secara” itu sudah jelas maknanya: dengan cara. Misal, “Masukkan secara pelan-pelan,” (jangan ngeres yaaa) atau, “Berbicaralah secara langsung dengannya.”

Lebih menyebalkan lagi, kata “secara” yang salah ini sempat menjadi semboyan iklan. “Secara tumbuh tuh ke ataaaaaas, nggak ke sampiiiiing!” Album pertama Emmy Labib juga berjudul “Secara Aku Wanita”.

Saya sendiri sempat tergoda untuk ikut mengembangbiakkan kata ini, dan menerapkannya dalam karya tulis saya. Tapi untung saya sebisa mungkin menghindarinya.



PENULISAN KATA SERAPAN BAHASA ASING
Yang paling umum adalah kekeliruan penggunaan huruf F dalam beberapa istilah serapan, yang seharusnya menggunakan huruf V. Misal, “aktifitas” seharusnya “aktivitas”, atau “kreatifitas” seharusnya “kreativitas”. Penggunaan huruf F hanya digunakan saat kata-kata jenis tersebut dituis sebagai kata sifat, dengan kata lain saat akhiran “-itas”-nya dihilangkan, yakni “aktif” dan “kreatif”.

Dalam bahasa Indonesia, beberapa istilah serapan dari bahasa asing memiliki versi sendiri. Secara pengucapan mungkin sama atau hampir sama, tapi penulisannya berbeda. Tapi tetap saja ada yang belibet dalam menuliskan istilah asing dalam bahasa Indonesia. Misal, “fotokopi”, seringkali ditulis “fotocopy”. Nanggung, bukan? Kalaupun memang mau menggunakan versi asli, ya tulis saja “photocopy”. Jangan dicampuradukkan seperti gado-gado, oke?

Beberapa istilah asing lain juga sebenarnya punya versi dalam bahasa kita. Misal “pizza”, dalam bahasa kita ditulis “piza”, dengan satu Z. Tapi lantaran orang Indo tahunya “pizza”, tak masalah bila kita tulis dengan dua Z. Daripada dianggap norak, hehe. Tapi alangkah baiknya bila tulisan “pizza” dicetak miring agar pembaca tahu bahwa nama itu berasal dari bahasa asing.
TS guru ya
sampai tau yang beginian
nice share ga
bermanfaat banget, *bagi gw juga
karena gw juga sering salah dalam berbahasa indonesia yang baik dan benar


Quote:
http://clinictatapasutri.blogspot.com/
ketemu linknya
Perangsang Hot, Pmebesar Penis, mainan Dewasa
ada produk lain juga
belanja 300K gratis 1 produk suka-suka


Quote:Original Posted By bangnoey
gan ane mau nanya,
kalo bikin singkatan, haruskah diambil dari kata dasar masing2?
contoh GABUNGAN JOMBLO BERMARTABAT TINGGI <----- , (asal aja gan)

singkatannya GJBT, atau GJMT,

terima kasih,



taro depan gan


Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal unsur-unsur nama diri ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Misalnya : SIM-> surat izin mengemudi. Jadi menurut saya tetap pakai GJBT karena merupakan nama sebuah instansi.
wah thx's ya gan pelajarannya
INfo bagus nih, ane coba praktekin ah