KASKUS

(index) Seni dan Budaya Nusantara

Kekayaan seni dan budaya indonesia sungguh luar biasa besarnya jangan sampai kita berteriak (lagi) karena tetangga sebelah justru yg melestarikannya disaat melupakan atau bahkan tidak mengenalnya.
Mari kita kenali seni tari, seni suara, seni kriya, seni lukis, seni sastra dan seni budaya lainya karena dari sana lah kita bisa belajar tentang kearifan nenek moyang kita.
halaman untuk index
Tari Saman (Aceh)


Di antara beraneka ragam tarian dari pelosok Indonesia, tari saman termasuk dalam kategori seni tari yang sangat menarik. Keunikan tari saman ini terletak pada kekompakan gerakannya yang sangat menakjubkan. Para penari saman dapat bergerak serentak mengikuti irama musik yang harmonis. Gerakan-gerakan teratur itu seolah digerakkan satu tubuh, terus menari dengan kompak, mengikuti dendang lagu yang dinamis. Sungguh menarik, bukan? Tak salah jika tari saman banyak memikat hati para penikmat seni tari. Bukan hanya dari Indonesia, tapi juga dari mancanegara. Sekarang, mari kita ulas lebih dalam lagi mengenai tarian unik ini.

Sejarah
Mengapa tarian ini dinamakan tari Saman? Tarian ini di namakan Saman karena diciptakan oleh seorang Ulama Aceh bernama Syekh Saman pada sekitar abad XIV Masehi, dari dataran tinggi Gayo. Awalnya, tarian ini hanyalah berupa permainan rakyat yang dinamakan Pok Ane. Namun, kemudian ditambahkan iringan syair-syair yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT, serta diiringi pula oleh kombinasi tepukan-tepukan para penari. Saat itu, tari saman menjadi salah satu media dakwah.

Pada mulanya, tari saman hanya ditampilkan untuk even-even tertentu, khususnya pada saat merayakan Hari Ulang Tahun Nabi Besar Muhammad SAW atau disebut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Biasanya, tari saman ditampilkan di bawah kolong Meunasah (sejenis surau panggung). Namun seiring perkembangan zaman, tari Saman pun ikut berkembang hingga penggunaannya menjadi semakin sering dilakukan. Kini, tari saman dapat digolongkan sebagai tari hiburan/pertunjukan, karena penampilan tari tidak terikat dengan waktu, peristiwa atau upacara tertentu. Tari Saman dapat ditampilkan pada setiap kesempatan yang bersifat keramaian dan kegembiraan, seperti pesta ulang tahun, pesta pernikahan, atau perayaan-perayaan lainnya. Untuk tempatnya, tari Saman biasa dilakukan di rumah, lapangan, dan ada juga yang menggunakan panggung.

Tari Saman biasanya ditampilkan dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syekh. Penari Saman dan Syekh harus bisa bekerja sama dengan baik agar tercipta gerakan yang kompak dan harmonis.

Makna dan Fungsi
Tari Saman dijadikan sebagai media dakwah. Sebelum Saman dimulai, tampil pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat. Pemuka adat memberikan nasehat-nasehat yang berguna kepada para pemain dan penonton. Syair-syair yang di antunkan dalam tari Saman juga berisi petuah-petuah dan dakwah.
Berikut contoh sepenggal syair dalam tari S aman:

Reno tewa ni beras padi, manuk kedidi mulu menjadi rempulis bunge.

Artinya:

Betapa indahnya padi di sawah dihembus angin yang lemah gemulai. Namun begitu, burung kedidi yang lebih dulu sebagai calon pengantin serta membawa nama yang harum.

Namun dewasa ini, fungsi tarian saman menjadi bergeser. Tarian ini jadi lebih sering berfungsi sebagai media hiburan pada pesta-pesta, hajatan, dan acara-acara lain.

Nyanyian
Pada tari Saman, terdapat 5 macam nyanyian :

1. Rengum, yaitu sebagai pembukaan atau mukaddimah dari tari Saman (yaitu setelah dilakukan sebelumnya keketar pidato pembukaan). Rengum ini adalah tiruan bunyi. Begitu berakhir langsung disambung secara bersamaan dengan kalimat yang terdapat didalamnya, antara lain berupa pujian kepada seseorang yang diumpamakan, bisa kepada benda, atau kepada tumbuh-tumbuhan.
2. Dering, yaitu rengum yang segera diikuti oleh semua penari.
3. Redet, yaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh seorang penari pada bagian tengah tari.
4. Syek, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak.
5. Saur, yaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah dinyanyikan oleh penari solo.


Gerakan
Tarian saman menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam tarian saman: Tepuk tangan dan tepuk dada. Diduga, ketika menyebarkan agama Islam, syeikh saman mempelajari tarian melayu kuno, kemudian menghadirkan kembali lewat gerak yang disertai dengan syair-syair dakwah Islam demi memudahkan dakwahnya. Dalam konteks kekinian, tarian ritual yang bersifat religius ini masih digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui pertunjukan-pertunjukan.

Tarian Saman termasuk salah satu tarian yang cukup unik, karena hanya menampilkan gerak tepuk tangan dan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak guncang, kirep, lingang, surang-saring (semua gerak ini adalah bahasa Gayo). Selain itu, ada 2 baris orang yang menyanyi sambil bertepuk tangan dan semua penari Tari Saman harus menari dengan harmonis. Dalam Tari Saman biasanya, temponya makin lama akan makin cepat supaya Tari Saman menarik.

Penari
Pada umumnya, tari Saman dimainkan oleh belasan atau puluhan laki-laki. tetapi jumlahnya harus ganjil. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, tarian ini juga dimainkan oleh kaum perempuan. Pendapat Lain mengatakan tarian ini ditarikan kurang dari 10 orang, dengan rincian 8 penari dan 2 orang sebagai pemberi aba-aba sambil bernyanyi. Namun, perkembangan di era modern menghendaki bahwa suatu tarian itu akan semakin semarak apabila ditarikan oleh penari dengan jumlah yang lebih banyak. Di sinilah peran Syeikh, ia harus mengatur gerakan dan menyanyikan syair-syair tari Saman.

Kostum atau busana khusus saman terbagi dari tiga bagian yaitu:
· Pada kepala: bulung teleng atau tengkuluk dasar kain hitam empat persegi. Dua segi disulam dengan benang seperti baju, sunting kepies.
· Pada badan: baju pokok/ baju kerawang (baju dasar warna hitam, disulam benang putih, hijau dan merah, bahagian pinggang disulam dengan kedawek dan kekait, baju bertangan pendek) celana dan kain sarung.
· Pada tangan: topeng gelang, sapu tangan. Begitu pula halnya dalam penggunaan warna, menurut tradisi mengandung nilai-nilai tertentu, karena melalui warna menunjukkan identitas para pemakainya. Warna-warna tersebut mencerminkan kekompakan, kebijaksanaan, keperkasaan, keberanian dan keharmonisan.

Tari saman memang sangat menarik. Pertunjukkan tari Saman tidak hanya populer di negeri kita sendiri, namun juga populer di mancanegara seperti di Australia dan Eropa. Baru-baru ini tari saman di pertunjukkan di Australia untuk memperingati bencana besar tsunami pada 26 Desember 2006 silam. Maka dari itu, kita harus bangga dengan kesenian yang kita miliki, dan melestarikannya agar tidak punah.


Sumber :http://ensiklopedi-budaya-indonesia.blogspot.com
Tari Rapai Daboh /Debus (Aceh)


Penampilan rapai daboih, titik utamanya adalah pada kemahiran spritual dalam menggunakan senjata tajam dengan berbagai ketangkasan yang cukup menegangkan dan mendebarkan. Pada rapai daboh yang dipertandingkan (Urouh) setiap pihak minimal satu kuru (12 rapai) dan maksimal 5 kuru (60 buah rapai). Pihak-pihak yang bertanding membentuk lingkaran dan diatara kedua pihak dibuat tanda batas. Ditengah - tengah pemain ada seorang khalifah mengangkat tangan tinggi - tinggi, terdengarlah teriakan melengking yang diikuti dengan suara tabuhan, secara serentak, yang dilanjutkan dengan zikee (salam selamat datang).

copas dari : http://virtualaceh.com/about_aceh.ph...=59&arttype=13

Pada saat - saat pukulan rapai dimulai cepat, tampilan para pemain debus dengan kemahiran dan keberanian yang cukup tinggi dalam menggunakan senjata tajam dan membakar diri dengan api yang membuat setiap penonton menahan nafas. Apabila ada pemain debus yang mengalami cedera atau luka dalam atraksi tersebut,
(karena kesalahan dalam memukul rapai, atau pihak lain yang ingin mencoba ketinggian ilmunya) Khalifah akan segera turun tangan, dengan hanya menyapu bagian yang terluka dengan tangan khalifah, darah akan segera berhenti mengalir dan dengan serta merta luka itupun lenyap seketika.

Pertunjukan bercanda dengan maut ini biasanya berlangsung sampai dini hari atau menjelang subuh.
Didong


Sebuah kesenian rakyat Gayo yang dikenal dengan nama Didong, yaitu suatu kesenian yang memadukan unsur tari, vokal, dan sastra. Didong dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Kesenian ini diperkenalkan pertama kali oleh Abdul Kadir To`et. Kesenian didong lebih digemari oleh masyarakat Takengon dan Bener Meriah.

Makna
Ada yang berpendapat bahwa kata “didong” mendekati pengertian kata “denang” atau “donang” yang artinya “nyanyian sambil bekerja atau untuk menghibur hati atau bersama-sama dengan bunyi-bunyian”. Dan, ada pula yang berpendapat bahwa Didong berasal dari kata “din” dan “dong”. “Din” berarti Agama dan “dong” berarti Dakwah.

Fungsi
Pada awalnya didong digunakan sebagai sarana bagi penyebaran agama Islam melalui media syair. Para ceh didong (seniman didong) tidak semata-mata menyampaikan tutur kepada penonton yang dibalut dengan nilai-nilai estetika, melainkan di dalamnya bertujuan agar masyarakat pendengarnya dapat memaknai hidup sesuai dengan realitas akan kehidupan para Nabi dan tokoh yang sesuai dengan Islam. Dalam didong ada nilai-nilai religius, nilai-nilai keindahan, nilai-nilai kebersamaan dan lain sebagainya. Jadi, dalam ber-didong para ceh tidak hanya dituntut untuk mampu mengenal cerita-cerita religius tetapi juga bersyair, memiliki suara yang merdu serta berperilaku baik. Pendek kata, seorang ceh adalah seorang seniman sejati yang memiliki kelebihan di segala aspek yang berkaitan dengan fungsinya untuk menyebarkan ajaran Islam. Didong waktu itu selalu dipentaskan pada hari-hari besar Agama Islam.

Perkembangan
Dalam perkembangannya, didong tidak hanya ditampilkan pada hari-hari besar agama Islam, melainkan juga dalam upacara-upacara adat seperti perkimpoian, khitanan, mendirikan rumah, panen raya, penyambutan tamu dan sebagainya. Para pe-didong dalam mementaskannya biasanya memilih tema yang sesuai dengan upacara yang diselenggarakan. Pada upacara perkimpoian misalnya, akan disampaikan teka-teki yang berkisar pada aturan adat perkimpoian. Dengan demikian, seorang pe-didong harus menguasai secara mendalam tentang seluk beluk adat perkimpoian. Dengan cara demikian pengetahuan masyarakat tentang adat dapat terus terpelihara. Nilai-nilai yang hampir punah akan dicari kembali oleh para ceh untuk keperluan kesenian didong.
Penampilan didong mengalami perubahan setelah Jepang masuk ke Indonesia. Sikap pemerintah Jepang yang keras telah “memporak-porandakan” bentuk kesenian ini. Pada masa itu, didong digunakan sebagai sarana hiburan bagi tentara Jepang yang menduduki tanah Gayo. Hal ini memberikan inspirasi bagi masyarakat Gayo untuk mengembangkan didong yang syairnya tidak hanya terpaku kepada hal-hal religius dan adat-istiadat, tetapi juga permasalahan sosial yang bernada protes terhadap kekuasaan penjajah Jepang. Pada masa setelah proklamasi, seni pertunjukan didong dijadikan sebagai sarana bagi pemerintah dalam menjembatani informasi hingga ke desa-desa khususnya dalam menjelaskan tentang Pancasila, UUD 1945 dan semangat bela negara. Selain itu, didong juga digunakan untuk mengembangkan semangat kegotong-royongan, khususnya untuk mencari dana guna membangun gedung sekolah, madrasah, mesjid, bahkan juga pembangunan jembatan. Namun, pada periode 1950-an ketika terjadi pergolakan DI/TII kesenian didong terhenti karena dilarang oleh DI/TII. Akibat dilarangnya didong, maka muncul suatu kesenian baru yang disebut saer, yang bentuknya hampir mirip dengan didong. Perbedaan didong denga saer hanya dalam bentuk unsur gerak dan tari. Tepukan tangan yang merupakan unsur penting dalam didong tidak dibenarkan dalam saer.
Dewasa ini didong muncul kembali dengan lirik-lirik yang hampir sama ketika zaman Jepang, yaitu berupa protes (anti kekerasan). Bedanya, dewasa ini protesnya ditujukan kepada pemerintah yang selama sekian tahun menerapkan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer, sehingga menyengsarakan rakyat. Protes anti kekerasan sebenarnya bukan hanya terjadi pada kesenian didong, melainkan juga pada bentuk-bentuk kesenian lain yang ada di Aceh.

copas dari om wiky

Warak Ngendog

ikutan ah.....saya babar abis budaya daera saya dulu...Kota Semarang.
ntar baru yang lain.

Warak Ngendhog adalah mainan khas Kota Semarang yang muncul sekali dan hanya hadir di perayaan tradisi Dugderan. Mainan ini berwujud makhluk rekaan yang merupakan gabungan beberapa binatang yang merupakan simbol persatuan dari berbagai golongan etnis di Semarang: Cina, Arab dan Jawa. Kepalanya menyerupai kepala naga (Cina), tubuhnya layaknya buraq (Arab), dan empat kakinya menyerupai kaki kambing (Jawa).



Tidak jelas asal-usul Warak Ngendog. Binatang rekaan ini hanyalah mainan dalam bentuk patung atau boneka celengan yang terbuat dari gerabah. Siapa yang menginspirasi pembuatannya pun tak ada yang tahu. Yang pasti sejak dugderan digelar, sejumlah pedagang menggelar mainan ini. Dalam setiap penjualan, penjual menaruh telur ayam matang di bawahnya. Telur itu turut serta dijual bersama waraknya.

Warak Ngendog

Warak ngendog aslinya memang hanya berupa mainan anak-anak dengan wujud menyerupai hewan. Jika dibandingkan dengan bentuk Warak Ngendog yang ada sekarang ini, Warak Ngendog yang asli terbuat dari gabus tanaman mangrove dan bentuk sudutnya yang lurus.

Konon ciri khas bentuk yang lurus dari Warak Ngendog ini mengandung arti filosofis mendalam. Dipercayai bentuk lurus itu menggambarkan citra warga Semarang yang terbuka lurus dan berbicara apa adanya. Tak ada perbedaan antara ungkapan hati dengan ungkapan lisan. Selain itu Warak Ngendog juga mewakili akulturasi budaya dari keragaman etnis yang ada di Kota Semarang.

Kata WARAK sendiri berasal dari bahasa arab “Wara’I” yang berarti suci. Dan Ngendog (bertelur) disimbolkan sebagai hasil pahala yang didapat seseorang setelah sebelumnya menjalani proses suci. Secara harfiah, Warak Ngendog bisa diartikan sebagai siapa saja yang menjaga kesucian di Bulan Ramadhan, kelak di akhir bulan akan mendapatkan pahala di Hari lebaran.

Warak Ngendog bagi Kota Semarang sudah menjadi ikon identitas kota dan sudah dikenal hingga keluar daerah. Beberapa titik di pusat kota, bahkan direncanakan akan dibangun patung Warak Ngendog sebagai maskot penegas ciri khas kota Semarang.
ijin nyumbang kang mas

kesenian asli daerah saya


Gong SiBolong Kesenian Tradisional Kota Depok



Ini merupakan kesenian tradisional asli dari daerah Depok tepatnya daerah Kelurahan Tanah Baru Kecamatan Beji. Kesenian ini dinamakan “Kesenian Tradisional Gong SiBolong Pusaka Jaya”.
Kesenian Tradisional Gong SiBolong Pusaka Jaya merupakan kesenian asli dari daerah Kota Depok.
Mungkin sebagian warga depok khususnya kecamatan Beji sudah mengetahui kesenian tersebut.
Namun, banyak juga warga depok yang belum mengetahuinya. Untuk itu sebagai warga depok khususnya yang bertempat tinggal diwilayah Tanah Baru yang disebut-sebut sebagai wilayah ditemukannya Gong SiBolong ini, saya tertarik untuk membahas dan sedikit memberikan informasi untuk warga depok khususnya dan semua yang sudah membaca tulisan ini pada umumnya.



Sejarah Gong SiBolong ini pun tergolong unik, karena juga merupakan sebuah cerita atau legenda dari masyarakat Depok. Kisah ini di mulai sekitar abad ke 16, saat itu Kampung Tanah Baru masih lebih banyak hutan dan rawa, dimana penduduknya sangat sedikit dan umumnya bertani. Di Kampung Tanah Baru tersebut kerap kali terdengar bunyi-bunyian suara Gamelan di malam hari, namun ketika sumber dari suara tersebut dicari tak satu pun orang yang dapat menemukannya. Sekitar tahun 1648, Seorang warga yang merupakan alim ulama dari Ciganjur bernama Pak Jimin menemukan sumber bunyi tersebut, yang ternyata memang seperangkat gamelan. Namun ternyata tidak ada orang yang memainkannya. Lokasi penemuannya adalah di sekitar daerah Pala Kali yg terkenal angker bagi penduduk sekitar.
Pak jimin pun hanya sanggup membawa sebuah gong yang bolong di tempat pukulnya, gendang, dan bende. Ketika Pak Jimin kembali lagi bersama beberapa tetangganya untuk menggambil sisa perangkat gamelan itu, ternyata perangkat gamelan lainnya sudah raib. Ketiga alat music tersebut akhirnya diberi nama Si Gledek, karena bunyinya yang nyaring.
Gong SiBolong, baru dilengkapi sehingga menjadi satu set gamelan yang bisa dimainkan ketika berada di tangan Pak Tua Galung (Pak Jerah).
Pak jerah melengkapinya dengan satu set gendang, dua set saron, satu set kromong, satu set kedemung, satu set kenong, terompet, bende serta gong besar. Ini pula yang menandai terbentuknya Kelompok Kesenian Gong SiBolong.
Kelompok Kesenian ini ketika tampil menampilkan serangkaian pertunjukan antara lain ajeng, ngayuban, dan ngibing. Ajeng, adalah permainan gamelan khas Depok, yang dentumannya mirip gamelan Bali.
Nayuban, merupakan penampilan tarian Khas asal tanah Baru, yang merupakan cikal bakal tarian doger karawang, dan Jaipongan.



Gong SiBolong pun sekarang menjadi nama dari kelompok kesenian khas kota Depok. Tak tanggung tanggung kelompok kesenian ini pernah memenangkan juara 1 dalam pagelaran kesenian Jawa Barat Travel Exchange 2008.
Jika Anda semua penasaran dan ingin melihatnya, Anda dapat melihat replikanya di sebuah tugu yang berada didaerah Tanah Baru, Depok. Disana terdapat replika Gong SiBolong diatas tugu tersebut. Sebagian besar warga Depok pasti mengetahui sebuah tugu tersebut. Tugu itu terletak pada sebuah persimpangan jalan, sehingga jangan heran ketika tugu tersebut menjadi sebuah patokan untuk menunjukan wilayah Tanah Baru. Namun, sedikit orang yang mengetahui apa sebenarnya Tugu tersebut.
Namun sayangnya kesenian yang merupakan aset Kota Depok itu kini terancam punah. Sebab menurut generasi penerus ketujuh kesenian Gong SiBolong, saat ini tidak ada generasi muda di Kota Depok yang mau mempelajari kesenian tersebut.
Berikut ini adalah silsilah kesenian Gong si Bolong yang bersumber dari H.Holil (cucu dari H.damong Putra dari Pak Tua Jimin tahun 1913)
1. Pak Tua Jimin (ciganjur)
2. Pak Anim (curug)
3. Pak Tua Galung (tanah baru)
4. Pak Saning (tanah baru)
5. Nyai Asem (tanah baru)
6. Pak Bagol (tanah baru)
7. Pak Buang Jayadi (tanah baru)
8. Pak Kamsa S atmaja (tanah baru)
9. Pak Buang Jayadi (tanah baru)
Kesenian Gong SiBolong, telah menjadi kesenian khas Depok. Terlepas benar atau tidak legenda penemuannya. Kesenian ini Patut lah dilestarikan sebagai salah satu kesenian khas dan budaya Depok.

hasil copas dari trit mynewland*Forbidden*


tararengkyu atas tambahan infonya mas pang dan mas angel
Seni ukir dan patung Asmat (Papua)



Salah satu kebudayaan Irian Jaya yang terkenal hingga ke mancanegara adalah seni ukir suku Asmat. Seni ukir Asmat telah dikenal luas sejak terjadi kontak antara suku Asmat dengan budaya Barat pada tahun 1700-an. Saat ini, jumlah mereka kurang lebih sekitar 70 ribu orang. Masyarakat Asmat terdiri dari 12 sub-etnis, dan masing-masing memiliki ciri khas pada karya seninya.

Sarana Komunikasi dengan Dunia Roh

Bagi suku Asmat, mengukir kayu bukanlah sekadar seni, namun sudah merupakan bagian dari spiritualitas hidup dan kepercayaan mereka terhadap roh leluhur. Suku Asmat percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang alami, tetapi disebabkan oleh sihir hitam yang datang dibuat oleh musuh, kecuali orang yang mati terbunuh di peperangan atau anak bayi yang baru lahir. Untuk menghormati roh leluhur, suku Asmat menuangkannya ke dalam bentuk ukiran kayu. Ketika suku Asmat mengukir, mereka tidak sekadar melakukan kegiatan seni. Namun pada saat itu mereka tengah dengan berhubungan dengan dunia roh dan berkomunikasi dengan arwah keluarganya yang sudah meninggal. Bagi orang Asmat, setiap ukiran yang telah mereka buat adalah representasi dari kerabat mereka yang telah meninggal

Karakteristik Ukiran Asmat

Ukiran suku Asmat memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan seni ukir dari daerah lainnya. Perbedaan tersebut dikarenakan beragamnya sub-etnis Asmat yang berpengaruh pada setiap hasil ukirannya. Setiap suku memiliki keunggulan tersendiri. Ada yang menonjol pada ukiran salawaku atau perisai, ada pula yang memiliki ukiran untuk hiasan kano dan ada yang unggul pada ukiran tiang kayu.
Bukan itu saja, setiap karya ukir yang dihasilkan tidak ada yang memiliki kesamaan satu sama lainnya, baik dari segi pola maupun skala. Jadi, kalau Anda memiliki satu patung Asmat dengan pola tertentu, maka tidak akan ada yang menyerupainya sama persis. Ukiran suku Asmat bersifat naturalis dengan memiliki beragam motif, mulai dari patung manusia, panel, perisai perahu, tifa, telur kasuari sampai ukiran tiang. Mereka menjadikan pengalaman hidup dan lingkungan tempat tinggal sebagai pola ukiran mereka, seperti perahu, pohon, binatang dan orang berperahu, orang berburu dan lain-lain. Karena pola dan cara membuatnya yang rumit itulah karya ukir Suku Asmat bernilai tinggi dan terkenal ke mancanegara.

Bisj, Ukiran Asmat yang Paling Mengerikan



Ukiran tradisional Asmat yang paling mengerikan adalah bisj. Bisj adalah tiang kayu yang mewakili para leluhur yang telah meninggal dunia. Tiang bisj tersusun dari dua figur leluhur atau lebih yang diukir bertingkat atas-bawah
Pada awalnya, Bisj dibuat sebagai perlengkapan dalam upacara tradisional pemenggalan kepala dan kanibalisme para musuh yang berhasil dikalahkan agar arwah leluhur tenang. Namun oleh pemerintah RI upacara ini dilarang, sehingga kini tradisi Bisj sudah memudar dan mulai terlupakan orang

Bambu Gila: Tarian Mistis Dari Maluku

Mbah Masagung, ikutan nimbrung ya
Ane waktu SMP dulu pernah liat ini di Ambon
seru menyeramkan
orang-orang megangin bambu panjang yang seperti ngamuk gak mau diem.


Bambu Gila: Tarian Mistis Dari Maluku


Mantra, kemenyan, dan tujuh pria kuat bertarung melawan sebatang bambu dengan panjang sekitar 2,5 meter dan berdiameter 8 cm merupakan pemandangan menarik yang bisa Anda nikmati ketika menyaksikan 'bambu gila' di Maluku. Setelah menyaksikan pertunjukan ini, Anda akan merasakan pengalaman supranatural yang mungkin jarang atau belum pernah Anda rasakan sebelumnya. Tarian ini juga dikenal dengan nama Buluh Gila atau Bara Suwen. Pertunjukan ini bisa ditemui di dua desa yaitu Desa Liang, kecamatan Salahatu, dan Desa Mamala, kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Di Provinsi Maluku Utara, atraksi yang bernuansa mistis ini dapat dijumpai di beberapa daerah di kota Ternate dan sekitarnya.

Untuk memulai pertunjukan ini sang pawang membakar kemenyan di dalam tempurung kelapa sambil membaca mantra dalam ‘bahasa tanah’ yang merupakan salah satu bahasa tradisional Maluku. Kemudian asap kemenyan dihembuskan pada batang bambu yang akan digunakan. Jika menggunakan jahe maka itu dikunyah oleh pawang sambil membacakan mantra lalu disemburkan ke bambu. Fungsi kemenyan atau jahe ini untuk memanggil roh para leluhur sehingga memberikan kekuatan mistis kepada bambu tersebut. Roh-roh inilah yang membuat batang bambu seakan-akan menggila atau terguncang-guncang dan semakin lama semakin kencang serta sulit untuk dikendalikan.

Biasanya, dalam berbagai atraksi yang melibatkan hawa mistis, manusialah yang dirasuki oleh roh mistis tetapi dalam tarian ini roh mistis yang dipanggil dialihkan ke dalam bambu. Ketika pawang membacakan mantra berulang-ulang, si pawang lantas berteriak “gila, gila, gila!” Atraksi bambu gila pun dimulai. Alunan musik mulai dimainkan ketika tujuh pria yang memegang bambu mulai merasakan guncangan bambu gila. Bambu terlihat bergerak sendiri ketika pawang menghembuskan asap dan menyemburkan jahe ke batang bambu. Para pria yang memeluk bambu mulai mengeluarkan tenaga mereka untuk mengendalikan kekuatan guncangan bambu. Ketika irama musik mulai dipercepat, bambu bertambah berat dan menari dengan kekuatan yang ada di dalamnya. Atraksi bambu gila berakhir dengan jatuh pingsannya para pemain di arena pertunjukan. Hal yang unik dari pertunjukan ini, kekuatan mistis bambu gila tidak akan hilang begitu saja sebelum diberi makan api melalui kertas yang dibakar.

Bambu yang digunakan merupakan bambu lokal. Namun, proses memilih dan memotong bambu tidak sembarangan, karena dibutuhkan perlakuan khusus. Pawang terlebih dahulu meminta izin dari roh yang menghuni hutan bambu tersebut. Bambu kemudian dipotong dengan melakukan adat tradisional. Bambu dibersihkan dan dicuci dengan minyak kelapa kemudian dihiasi dengan kain pada setiap ujungnya. Dahulu, bambu langsung diambil dari Gunung Gamalama, gunung api di Ternate, Maluku Utara. Saat ini, tarian bambu gila dipelajari dan dimainkan di luar pulau Maluku.

Tradisi tari bambu gila diyakini sudah lama dimulai sebelum masa Islam dan Kristen masuk ke kepulauan ini. Saat ini tari berbau mistis ini hanya dipentaskan di beberapa desa kecil. Melihat tarian ini merupakan pengalaman spiritual yang unik. Lantunan mantra dari pawang dan tabuhan tifa menciptakan pertunjukan yang tidak bisa Anda temukan ditempat lain di dunia. Apalagi jika Anda ikut menari dengan bambu gila, membuat pengalaman ini sulit untuk Anda lupakan.

Spoiler for Bambu Gila:

Spoiler for Bambu Gila:


http://www.indonesia.travel/id/desti...is-dari-maluku

http://www.indonesiabox.com/s/bambu-gila-ambon/

terbang bandung



videone rodok burem



Bertempat di Gedung Gradika Bhakti Praja Kota Pasuruan, Rabu ( 22/12 ) telah dilangsungkan festival lomba terbang bandung dalam rangka mengembangkan seni dan budaya di Kota Pasuruan. Hadir dalam acara Sekretaris I Bidang Pemerintahan Umum, Kepala Disporabud, Kepala Dinas Pendidikan atau yang mewakili serta para undangan.

Festival kali ini diikuti oleh SD, SMP dan SMA atau yang sederajat se – Kota Pasuruan. Adapun tujuan dari festival ini untuk mengembangkan seni dan budaya khususnya di bidang seni tari, Memacu aktifitas dan eksistensi pelajar dalam mengembangkan kesenian serta Memberikan motivasi dan kesempatan seluas-luasnya kepada pelajar untuk dapat menjaga serta melestarikan kesenian daerah ; ungkap Basri dalam sambutannya selaku ketua panitia.
Lebih lanjut Asisten III Bidang Pemerintahan ; mengatakan Budaya bangsa yang beraneka ragam semakin terkikis oleh budaya barat dan akhirnya westerniasi semakin merajai dari segala segi kehidupan. Kesenian daerah yang merupakan salah satu aset bangsa semakin tidak terjamah oleh generasi muda dan bisa dikatakan kesenian tradisional tidak bisa mengikuti jaman dan terkesan kuno.

Dan di akhir sambutannya berharap pembinaan ini tidak berhenti sampai disini, tetapi harus berkelanjutan dan tarian terbang bandung menjadi tarian wajib yang harus di pelajari oleh semua lapisan masyarakat Kota Pasuruan, utamanya murid – murid dari Sekolah dasar, sampai SMA sederajat bahkan para mahasiswa – mahasiswi Kota Pasuruan wajib mempelajarinya. Selain itu tari terbang bandung diharapkan ikut tampil dalam arak – arakan pada acara memperingati hari jadi Kota Pasuruan dan dapat ditampilkan secara kolosal serta dapat juga ditampilkan juga pada peresmian GOR Untung Suropati yang hampir selesai. ( Agus S Hadi/ Humas )


http://pasuruan.go.id/festival-lomba...rbang-bandung/


tari khas pasuruan, tapi saya sendiri ga ngerti kenapa dinamakan terbang bandung?

RAMPAK BEDUG, Pandeglang-Banten






Kita pasti akan asing bila kita mendegar kata Rampak Bedung, asal mula kata Rampak yang ber arti adalah Serempak juga banyak, jadi Rampak Bedug adalah Bedug yang ditabuh / atau dimaikan secara bersamaan, sehingga mempuyai irama / bunyi yang khas terdengar,Rampak Bedug sendiri dapat dikatakan pengembangan dari Seni Bedug, memaikan Bedug yang biasa ada di Masjid atau di Mushola dapat dimaikan oleh siapa saja, tetapi Rampak Bedug biasanya dimaikan oleh pemain Profesional.

Rampak bedug sering dimaikan pada saat acara-acara seperti di bulan Rahmadan serta dapat pula dimaikan secara Profesional pada acara-acara Hajatan seprti Khinatan dan Pernikahan, serta di hari peringatan kedaerahan bahkan profesional,Rampak Bedug sendiri merupakan pengiring Takbiran, Marhaban, Shalawatan,dan Lagu-lagu benuansa Religi

Rampak Bedug awal mulanya dikenalkan pada tahun 1950 an,khususnya di kecamatan Pandeglang Banten. Masuk ke tahun 1960 an Pampak Bedug menjadi sebuah permainan rakyat dan menyebar ke daerah-daerah sekitarnya, pada awal mulanya permainan Rampak Bedug hanya mengunakan Bedug saja untuk permainan ini,kemudian dikembang dengan tari-tarian.

Sekarang ini permainan seni dan budaya rampak bedung masih tetap dipertahankan. dengan makin berkembangnya permainan ini rampak bedug ini di Pandeglag Banten dan sekitarnya, banyak yang mendirikan sanggar-sanggar permainan khas ini.

www.griyawisata.com

Dibeberapa kampung/desa disana mempunyai rampak bedug tersendiri. Ada beberapa Desa yg memang legendaris, secara turun temurun terus menjaga budaya ini. Merupakan kebanggan juga bagi Desa tersebut pada akhirnya. Mereka mentas sekalian berlatih rutin di bulan ramadhan, karena biasanya ada perlombaan juga untuk menyambut Idul Fitri. Irama rampak bedug yg mereka alunkan sungguh bisa dinikmati oleh siapapun.
i miss my childhood.
MOTIF UKIRAN MINANGKABAU



PERAN KATA-KATA DALAM UKIRAN
Falsafah atau pandangan hidup masyarakat adat Minagkabau adalah "adat basandi syarak syarak basandi kitabullah" (ABS-SBK) "syarak mangato, adat mamakai, alam takambang jadi guru"

Dalam hal ini akal dan budi, keluasan perasaan budi sangat berperan, "manusia tahan kieh, binatang tahan lacuik, kilek baliung alah ka kaki, kilek kaco alah kamuko, tagisia lah labiah bak kanai, tasinggung labiah bak jadi". Pepatah tersebut menuntut kearifan dan kebijaksanaan manusia dalam berkata bertindak dan bekerja. Sehingga disebut pula dalam adat "nan bagarih babalabeh" sebagai hasil kearif bijaksanaan sebagai berikut :


Basilek diujung lidah
Malangkah dipangka karih
Bamain diujuang padang
Tahu dikieh kato putuih
Tahu digelek kato abih
Tahu diereang jo gendeang
Sarato kurenah jo baenah
Tahu dirunciang ka mancucuak
Tahu dirantiang kamalantiang
Tahu didahan kamahimpok
Tahu digantiang nan kaputuih
Tahu dicondong kamahimpik
Tahu dibiang nan katabuak
Tahu diunah kamahambek
Tahu dibayang kato sampai


Dalam melahirkan motif-motif dasar ukiran juga terdapat ungkapan adat atau pepatah petitihnya sebagai pangkal tolak renungan seni ukir Minangkabau.
\t \t

la Galigo

Quote:Original Posted By aandz7
La Galigo adalah epik terpanjang di dunia. Epik ini tercipta sebelum epik Mahabharata. Isinya sebagian terbesar berbentuk puisi yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno. Epik ini mengisahkan tentang Sawerigading, seorang pahlawan yang gagah berani dan juga perantau.

La Galigo bukanlah teks sejarah karena isinya penuh dengan mitos dan peristiwa-peristiwa luar biasa. Namun demikian, epik ini tetap memberikan gambaran kepada sejarahwan mengenai kebudayaan Bugis sebelum abad ke-14. Sebagian manuskrip La Galigo dapat ditemui di perpustakaan-perpustakaan di Eropa, terutama di Perpustakaan Koninkelijk Instituut Taal Land en Volkenskundig Leiden di Belanda. Terdapat juga 600 muka surat tentang epik ini di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, dan jumlah mukasurat yang tersimpan di Eropa dan di yayasan ini adalah 6000 tidak termasuk simpanan oleh pribadi-pribadi.

Spoiler for gambar:



Spoiler for isi cerita:




bersambung.....
sambungan....

Quote:Original Posted By aandz7

Spoiler for macam:

Spoiler for Gorontalo:
\t

Spoiler for Riau dan Malaysia:


Spoiler for Dalam pentas:



Spoiler for Sumber:



benda-benda peninggalan

untuk informasi mengenai benda-benda yang digunakan pada zaman dahuu dan merupakan peninggalan budaya dayak cek dihttp://ligad1121.blogspot.com

Ikut nambahin ya,mbah...

UPACARA GREBEG MAULUD KERATON YOGYAKARTA (1)

Spoiler for Grebeg 1:


Upacara perarakan gunungan di Keraton Yogyakarta (maupun Surakarta) lebih dikenal dengan Upacara Grebeg. Ada pula yang mengatakan sebagai Upacara Sekaten. Dalam tradisi di Keraton Yogyakarta, Upacara Grebeg umumnya diselenggarakan sebanyak tiga kali dalam setahun. Upacara Grebeg tersebut meliputi Grebeg Syawal, Grebeg Maulud, dan Grebeg Besar. Grebeg Syawal dilaksanakan sebagai bentuk peringatan akan selesainya bulan puasa atau bulan Ramadhan dan hadirnya bulan Syawal. Grebeg Maulud dilaksanakan sebagai bentuk peringatan akan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Grebeg Besar dilakasanakan sebagai bentuk peringatan akan bulan Besar atau bulan Dzulhijah.

Istilah grebeg berasal dari keluarnya raja dan keluarga dalam upacara tersebut dengan diiringi para punggawa yang proses keluarnya digambarkan seperti diiringi angin yang berbunyi gerebeg...gerebeg...

Upacara Grebeg di Yogyakarta dipercaya telah dilaksanakan sejak zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I (1755-1792). Pelaksanaan Upacara Grebeg dianggap sebagai wujud atau simbol kemurahan dan perlindungan raja terhadap kawulanya. Simbol itu diwujudkan dengan perarakan gunungan yang dikawal kesatuan-kesatuan prajurit kertaon yang disebut bregada. Untuk Keraton Yogyakarta terdapat 10 kesatuan prajurit yang mengiringi perarakan gunungan itu, yakni Prajurit Wirabraja, Daeng, Nyutra, Mantrijero, Patang Puluh, Bugis, Ketanggung, Jagakarya, Prawiratama, dan Surakarsa. Pada masa lalu ada bregada atau kesatuan prajurit lain,yakni Sumaatmaja, Jager, dan Langenastra.

Spoiler for Grebeg 2:


Pada Upacara Grebeg Maulud, 16 Februari 2011 lalu gunungan yang diarak berjumlah tujuh buah. Enam buah diperebutkan di halaman Masjid Agung Keraton Yogyakarta sedang yang satunya lagi dikirimkan ke Kadipaten Paku Alaman untuk diperebutkan di sana. Satu buah lagi diperebutkan di Kepatihan Yogyakarta. Berkaitan dengan itu Kadipaten Paku Alaman juga mengirimkan dua buah bregada prajurit untuk menjemput gunungan tersebut. Kedua kesatuan atau bregada prajurit dari Kadipaten Paku Alaman itu adalah Prajurit Plangkir dan Draghonder.

Ada pun rincian gunungan yang diperebutkan bagi masyarakat umum ini adalah Gunungan Gepak (1 buah), Gunungan Lanang (2 buah), Gunungan Dharat (1 buah), Gunungan Wadon (1 buah), Gunungan Bromo (1 buah), dan Gunungan Pawuhan (1 buah). Gunungan itu sendiri sesungguhnya merupakan rangkaian makanan yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk semacam gunung. Gunungan-gunungan ini semula disemayamkan di tempat yang dinamakan Keben untuk kemudian dibawa ke Alun-alun Utara dan diarak menuju tempat yang telah ditentukan (Masjid Agung Keraton Yogyakarta, Masjid Paku Alaman, dan Kepatihan).

Spoiler for Grebeg 3:


Perarakan gunungan ini dilakukan di bawah pengawalan kesatuan-kesatuan prajurit seperti tersebut di atas. Bahkan untuk gunungan yang diberikan ke Kepatihan dilakukan dengan pengawalan sepasang gajah. Gunungan yang diarak ini sebelumnya diserahterimakan di Pagelaran oleh panitia kepada Manggalayuda Prajurit Keraton yang dalam hal ini adalah GBPH. Yudaningrat. Manggalayuda inilah yang menjadi pimpinan tertinggi prajurit keraton dan yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan perarakan gunungan hingga sampai ke tempat yang dituju.

(bersambung)
UPACARA GREBEG MAULUD KERATON YOGYAKARTA (2)

Spoiler for Grebeg 4:


Gunungan yang diarak dari Pagelaran Keraton ini merupakan simbolisasi dari kemurahan hati raja kepada kawulanya atau dalam bahasa Jawa disebut juga sebagai simbol kekucah dalem. Dalam hal ini raja digambarkan sebagai sosok yang mengayomi, mengayemi, dan mengenyangkan kawulanya. Pada acara Grebeg kali ini gunungan dan ubarampenya diperebutkan di tiga tempat, yakni halaman Kantor Gubernur DIY (kepatihan), halaman Pura Paku Alaman, dan halaman Masjid Agung Kauman.

Antusiasme masyarakat dalam menyambut perarakan gunungan ini dari tahun ke tahun tampaknya tidak pernah susut. Hal ini terbukti dengan berjubalnya masyarakat di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh rombongan pengiring gunungan tersebut. Bahkan banyak juga warga dari luar kota yang telah di datang di lokasi sejak semalam atau bahkan sehari sebelumnya. Mereka datang dari jauh untuk datang ke lokasi dan memperebutkan gunungan dengan kepercayaannya masing-masing. Banyak juga yang datang karena ingin memuaskan rasa penasarannya terhadap keberadaan prosesi gunungan atau Upacara Grebeg tersebut.

Spoiler for Grebeg 5:


Beberapa warga yang ditemui di lokasi, di antaranya berasal dari Magelang menyatakan bahwa mereka datang ke halaman Masjid Agung sejak sore-malam sebelumnya. Mereka menginap di tempat itu dengan tidur beralaskan koran dan hanya asal bisa berbaring. Mereka datang dan ingin bisa mendapatkan bagian dari gunungan. Sebagian mereka percaya bahwa ubarampe yang terdapat di gunungan akan memberikan berkah tertentu bagi mereka. Bagi yang memiliki profesi dagang mereka percaya bahwa dengan demikian dagangan mereka akan laris. Demikian pula jika yang memperebutkan adalah seorang petani, maka mereka percaya bahwa tanaman mereka akan menghasilkan panenan yang baik serta tanah pertaniannya subur. Sedangkan bagi yang masih bujangan mereka percaya bahwa mereka akan cepat menemukan jodoh, dan sebagainya.

Kepercayaan demikian disebabkan oleh karena gunungan tersebut dibuat dengan disertai doa-doa. Bahkan doa resminya dilakukan oleh ulama yang ditunjuk keraton. Oleh karena hal-hal semacam itu, maka banyak orang percaya akan keberkahan dari gunungan tersebut. Tidak mengherankan juga jika dalam acara perebutan gunungan itu warga masyarakat rela menunggu hingga dalam waktu lama untuk dapat ikut memperebutkan gunungan. Mereka rela berdesak-desakan dan berpeluh ria untuk dapat memperebutkan gunungan. Resiko terinjak-injak, jatuh, bahkan kecopetan pun seolah tidak mereka pedulikan asal bisa memperoleh bagian dari ubarampe pembuat gunungan.

Spoiler for Grebeg 6:


Antusiasme masyarakat dalam menyambut perarakan gunungan tersebut pada sisi lain menjadi daya tarik wisata yang tentu saja berimplikasi pada pemasukan devisa dan menjadi motor bagi pergerakan ekonomi di lokasi yang bersangkutan. Tidak mengherankan juga jika prosesi ini dikemas dan disatukan dengan berbagai kegiatan lain semacam PMPS yang memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha ekonominya. Bahkan untuk berbagai ajang sosialisasi program atau produk termasuk kreasi seni.

Dengan demikian pula prosesi atau hajat dalem gunungan ini bukan semata-mata sebagai simbol bagi kekucah dalem, namun dalam skala makro juga menjadi ajang berbagai kepentingan khususnya religi, budaya, dan tentu saja ekonomi.
Quote:Original Posted By ligad1121
untuk informasi mengenai benda-benda yang digunakan pada zaman dahuu dan merupakan peninggalan budaya dayak cek dihttp://ligad1121.blogspot.com



terimakaih mas Mawardi, silahkan share juga disini biar berbagi pengetahuan ttg budaya.
GURINDAM 12

Gurindam 12 merupakan puisi, hasil karya Raja Ali Haji seorang sastrawan dan Pahlawan Nasional dari Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau.

Ini gurindam pasal yang pertama

Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang ma'rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang terpedaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat.

Ini gurindam pasal yang kedua

Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua temasya.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.

Ini gurindam pasal yang ketiga:

Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.

Ini gurindam pasal yang keempat:

Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

Ini gurindam pasal yang kelima:

Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Ini gurindam pasal yang keenam:

Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh menyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi
×