KASKUS

di depan disebutkan kalau ibukota salakanagara terletak di pandeglang

tapi kalo versi ridwan saidi dalam bukunya "babad tanah betawi" menyebutkan kalau salakanagara terletak di Kali Tirem, Warakas, Tanjung Priok

mana yang betul ya? atau sempat terjadi perpindahan ibukota?
kontinuitas cirebon dan banten masih bisa diperdebatkan. ketika banten runtuh, kenyataannya cirebon justru tetap berdiri, meskipun terpecah, dan tidak merdeka penuh. mungkin posisinya mirip kasunanan dan mangkunegaran di solo.

btw, ane seneng baca trit ini, dan timeline yang disusun ts, menurut ane menarik.

urang2 sunda selalu mengaitkan akar historisnya ke kerajaan pajajaran, yg sayangnya hampir tidak meninggalkan artefak atau catatan sejarah yg bisa melukiskan kehidupan dan budaya urang sunda pada masa itu.
punten ah ngiringan andeprok diajar didieu...


Quote:Original Posted By kamojang
kontinuitas cirebon dan banten masih bisa diperdebatkan. ketika banten runtuh, kenyataannya cirebon justru tetap berdiri, meskipun terpecah, dan tidak merdeka penuh. mungkin posisinya mirip kasunanan dan mangkunegaran di solo.

btw, ane seneng baca trit ini, dan timeline yang disusun ts, menurut ane menarik.

urang2 sunda selalu mengaitkan akar historisnya ke kerajaan pajajaran, yg sayangnya hampir tidak meninggalkan artefak atau catatan sejarah yg bisa melukiskan kehidupan dan budaya urang sunda pada masa itu.


itulah gan.. yg anehnya, knp koq sangat sedikit sekali bukti2 sejarah dan peninggalan dr kerajaan padjajaran ini...
ane pernah baca, emg bukan budaya nya di sunda itu ngbikin pahatan2 org/raja/patih.. tp kan setidaknya seharusnya, ada bekas2 peninggalan istana nya..

apakah benar2 hancur tak bersisa ataukah "tilem" ketutupan ama "halimun"?
Punten ngiring bingaah didieu..
Sampurasun.. Jadi merasa reueus yeuh aya Trit tentang Sunda.. Komplitan lagi atuh gan.. Meh rame, da orang lain juga titeterejel pengen apal sejarah Sunda.. Jangan sampai barudak Sunda anu ngora tidak tahu sejarah Sunda.. Jangan sampai kagiridig juga ku kebudayaan batur.. Nuhun ka TeeS yang sudah aprak2an nyari bahan buat Trit.. .. Ka sadayana ikutan icikibung didieu..

Quote:Original Posted By kamojang
....... urang2 sunda selalu mengaitkan akar historisnya ke kerajaan pajajaran, yg sayangnya hampir tidak meninggalkan artefak atau catatan sejarah yg bisa melukiskan kehidupan dan budaya urang sunda pada masa itu.


Kalau hipotesa sayah mah, mungkin pada waktu itu Pajajaran atau Kerjaaan Sunda lainnya tidak seperti kerajaan di Nusantara pada umumnya yang membuat bangunan kerajaan dengan tembok dan sabangsaning batu.. Kerajaan Sunda lebih memilih (bangunan) dengan unsur alami (bambu, kayu dll -kecuali batu-).. Itu dikarenakan karakter urang Sunda sendiri yang dekat dengan alam dan tidak mau agul ku payung butut.. Mungkin..
kalo soal materi bangunan, semua kerajaan kuno di indonesia kayaknya memakai bahan baku kayu buat membangun istana dan berbagai kedung lainnya. istana pertama yg dibangun pake tembok adalah keraton jogja (itu pun oleh hb kesekian). ketika kesultanan yogya berdiri, seluruh kompleks istana dibangun dari balok-balok kayu.

yg memprihatinkan itu tiadanya/minimnya dokumen tentang kerajaan pajajaran. belanda aja hampir tidak punya catatan sejarah berarti; padahal belanda punya dokumen historis tentang kerajaan kutai, samudera pasai dll, yg semuanya sudah runtuh jauh sebelum berkuasanya belanda di nusantara.

karena dokumen historis begitu minim, "sejarah" urang sunda sangat diwarnai oleh mitos, bahkan dongeng. misalnya tentang prabu siliwangi, yang mayoritas sejarahwan sunda sendiri menganggapnya sebagai kisah/dongeng turun-temurun. istilah "siliwangi" secara akademis diartikan sebagai "silih wangi" (keturunan mulia), yang merujuk ke para raja di tatar sunda (bukannya merujuk ke satu tokoh).

banyak yg bakal sebel kalau dibilang prabu siliwangi itu tidak ada. tapi keberadaannya sebagai tokoh sejarah memang sulit dibuktikan.
Quote:Original Posted By lhiiyf
bang, ane numpang nanya dong
bapak ane punya nama panjang 'kertadipraja'. nah beberapa waktu lalu ane penasaran, terus nanya ke tante gw katanya bapak ane masih punya keturunan kerajaan sunda
mohon pencerahannya
......



wah mirip2 ama nama kakeknya nenek ane ( naon atuh disebutna )
namanya "natapraja"
mungkin kamsudnya bukan keturunan dari kerajaan, tapi masih "pembesar" di jaman2 kerajaan dahulu, bapak nt masih "raden" ya?

ngiring calik ah....
Peninggalan Kerajaan Sunda banyak kok gan, cuma sayang kalah pamor dan tidak terawat

misalnya candi Bojongmenje, terletak 500 m dari jalan raya Rancaekek, sayang tidak ada tindak lanjutnya
di setiap kabupaten di Jawa Barat terdapat banyak peninggalan zaman dulu, seperti di Majalengka (Kerajaan Talaga), di Tasikmalaya (Kerajaan Galunggung), di Bogor (Batutulis dari Prabu Sinala Aji). Sanghyang Tapak di Cibadak, Sukabumi, prasasti Kawali di Banten, prasasti Tugu, prasasti Ciaruteun, prasasti Kebun Kopi, dan prasasti Pasir Jambu, dan banyak lagi peninggalan sejenis tersebar di wilayah Jawa Barat.

pernah diberitakan ada dua arca yang berada di taman dekat kandang burung di Kebon Binatang, Jalan Tamansari Bandung, yang sudah tak terpelihara lagi. Arca-arca tersebut berasal dari abad ke-11 M atau zaman Kerajaan Pajajaran. Menurut penelitian Dra. Endang Widyastuti dari Balai Kepurbakalaan Bandung tahun 2004, arca perempuan adalah arca Dewi Durga atau Dewi Durgamaha Sisuramardhini istri dewa Siwa. Arca laki-laki berbentuk pria berjanggut adalah resi Agastya. Kedua arca memiliki nilai historis sebagai peninggalan dari zaman kerajaan Pajajaran ("PR", 28 November 2007).
Prabu Siliwangi aka Sribaduga maharaja

Peristiwa-peristiwa di masa pemerintahannya
Beberapa peristiwa menurut sumber-sumber sejarah:
Carita Parahiyangan menceritakan, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sbb :"Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Sukakreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dinaurang reya, ja loba di sanghiyang siksa".(Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatanganmusuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Senang sejahtera diutara, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tanggaorang banyak yang serakah akan ajaran agama).
Dari Naskah ini dapat diketahui, bahwa pada saat itu telah banyak RakyatPajajaran yang beralih agama (Islam) dengan meninggalkan agama lama.

Naskah ini menceritakan, bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran.
[Syarif Hidayat masih cucu Sri Baduga dari Lara Santang. Ia dijadikan raja oleh uanya(Pangeran Cakrabuana) dan menjadi raja merdeka di Pajajaran di BumiSunda (Jawa Barat)]. Ketika itu Sri Baduga baru saja menempati istana Sang Bhima (sebelumnyadi Surawisesa). Kemudian diberitakan, bahwa pasukan Angkatan Laut Demak yang kuat berada di Pelabuhan Cirebon untuk menjaga kemungkinan datangnya serangan Pajajaran.Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya yang dikirimkandari Pakuan ke Cirebon, tidak mengetahui kehadiran pasukan Demak disana.
Jagabaya tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon-Demak yang jumlahnya sangat besar. Setelah berunding, akhirnya Jagabayamenghamba dan masuk Islam.Peristiwa itu membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Pasukan besar segeradisiapkan untuk menyerang Cirebon. Akan tetapi pengiriman pasukan itudapat dicegah oleh Purohita (pendeta tertinggi) keraton Ki Purwa Galih.[Cirebon adalah daerah warisan Cakrabuana (Walangsungsang) darimertuanya (Ki Danusela) dan daerah sekitarnya diwarisi dari kakeknya KiGedeng Tapa (Ayah Subanglarang).


Cakrabuana sendiri dinobatkan oleh Sri Baduga (sebelum menjadi Susuhunan) sebagai penguasa Cirebon dengan gelar Sri Mangana. Karena Syarif Hidayat dinobatkan oleh Cakrabuana dan juga masih cucu SriBaduga, maka alasan pembatalan penyerangan itu bisa diterima oleh penguasa Pajajaran. Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masa pemerintahannya. Dapat dimaklumi kenapa ia mencurahkan perhatiankepada pembinaan agama, pembuatan parit pertahanan, memperkuatangkatan perang, membuat jalan dan menyusun PAGELARAN (formasitempur). [Pajajaran adalah negara yang kuat di darat, tetapi lemah di laut.Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Dilaut, Pajajaran hanya memiliki enam buah Kapal Jung 150 ton dan beberaalankaras (?) untuk kepentingan perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun)].

Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkimpoian putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada empat pasangan yang dijodohkan, yaitu :Pangeran Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi). Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor. Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun. Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa).
Perkimpoian Pangeran Sabrang Lor alias Yunus Abdul Kadir dengan RatuAyu terjadi 1511. Sebagai Senapati Sarjawala, panglima angkatan laut,Kerajaan Demak, Sabrang Lor untuk sementara berada di Cirebon.Persekutuan Cirebon-Demak inilah yang sangat mencemaskan Sri Badugadi Pakuan.
Tahun 1512, ia mengutus putera mahkota Surawisesa menghubungi Panglima Portugis Alfonso d'Albuquerque di Malaka (ketika itu baru saja gagal merebut Pelabuhan Pasai atau Samudra Pasai).Sebaliknya upaya Pajajaran ini telah pula meresahkan pihak Demak. Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Jati (Syarif Hidayat) tetap menghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek. Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan sektor-sektor pemerintahan. Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab, bukan terhadap Kerajaan Cirebon. Terhadap Islam, ia sendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya,Subanglarang, adalah seorang muslimah dan ketiga anaknya --Walangsungsang alias Cakrabuana, Lara Santang, dan Raja Sangara --diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam). Karena permusuhan tidak berlanjut ke arah pertumpahan darah, maka masing masing pihak dapat mengembangkan keadaan dalam negerinya.Demikianlah pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sebagai jamankesejahteraan (Carita Parahiyangan). Tome Pires ikut mencatat kemajuan jaman Sri Baduga dengan komentar "The Kingdom of Sunda is justlygoverned; they are true men" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil;mereka adalah orang-orang jujur).
Sampurasun...
Alhamdulillah aya keneh dulur-dulur nu "ngamumule" budaya & sajarah sunda. Mugia salawasna aya dina panangtayungan gusti nu Maha Suci dina raraga nyukcruk galur jati diri kasundan.

ikut menyimak... dan belajar...

Quote:Original Posted By jabrigh
wah mirip2 ama nama kakeknya nenek ane ( naon atuh disebutna )
namanya "natapraja"
mungkin kamsudnya bukan keturunan dari kerajaan, tapi masih "pembesar" di jaman2 kerajaan dahulu, bapak nt masih "raden" ya?

ngiring calik ah....


Quote:Raden Demang Aldakusumah

Raden Aldakusumah menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Demang Panjalu dengan gelar Raden Demang Aldakusumah, ia menikahi Nyi Raden Wiyata (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) dan mempunyai empat orang anak, yaitu:

1) Raden Kertadipraja (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu),

2) Nyi Raden Wijayaningsih,

3) Nyi Raden Kasrengga (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu), dan

4) Nyi Raden Sukarsa-Karamasasmita (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu).

Semantara itu adik sepupunya yang bernama Raden Argakusumah (putera Wedana Kawali Raden Arya Cakradikusumah) diangkat menjadi Bupati Dermayu (sekarang Indramayu) dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara IV. Raden Demang Aldakusumah dan Raden Tumenggung Argakusumah (Cakranagara IV) setelah wafatnya dimakamkan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu.
[sunting] Raden Kertadipraja

Putera tertua Demang Aldakusumah yang bernama Raden Kertadipraja tidak lagi menjabat sebagai Demang Panjalu karena Panjalu kemudian dijadikan salah satu desa/kecamatan yang masuk kedalam wilayah kawedanaan Panumbangan Kabupaten Galuh, sementara ia sendiri tidak bersedia diangkat menjadi Kuwu (Kepala Desa) Panjalu. Pada tahun 1915 Kabupaten Galuh berganti nama menjadi Kabupaten Ciamis.

Raden Kertadipraja (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) menikahi Nyi Mas Shinta (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) dan menurunkan empat orang anak yaitu:

1) Raden Hanafi Argadipraja (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu),

2) Nyi Raden Aminah - Adkar (Cirebon),

3)Nyi Raden Hasibah - Junaedi (Reumalega, Desa Kertamandala Panjalu),

4) Nyi Raden Halimah - Suminta (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu),

5) Raden Ahmad Kertadipraja (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu), dan

6) Nyi Raden Aisah - Padma (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu)
[sunting] Raden Hanafi Argadipraja

Raden Hanafi Argadipraja (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) mempersunting Nyi Raden Dewi Hunah Murtiningsih (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) puteri dari Kuwu Cimuncang (sekarang Desa Jayagiri Kecamatan Panumbangan Ciamis) yang bernama Raden Nitidipraja, penulis catatan sejarah & silsilah Panjalu dalam bahasa Sunda dengan aksara arab dan latin (makamnya di Puspaligar, Panjalu), dan dari pernikahannya itu menurunkan lima orang putera-puteri:

1) Nyi Raden Sukaesih-Raden Abdullah Suriaatmaja,

2) H. Raden Muhammad Tisna Argadipraja,

3) Raden Galil Aldar Argadipraja,

4) Hj. Nyi Raden Siti Maryam-H.Encur Mansyur,

5) Nyi Raden Siti Rukomih-Raden Sukarsana Sadhi Pasha.


Sedangkan adik Raden Hanafi Argadipraja, yakni Raden Ahmad Kertadipraja (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) menurunkan empat orang anak:

1) H. Raden Afdanil Ahmad,

2) Raden Nasuha Ahmad,

3) Nyi Raden Nia Kania, dan

4) Raden Ghia Subagia.

kita saudara kah gan?
source: http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaa...Panjalu_Ciamis


ane kurang tau gan, bokap ane ngelepas nama 'kertadipraja'nya. mau nanya2 nggak enak
Quote:Original Posted By Private.Indo
sigana mah aya hubunganna sareng Resi Dorna




btw ada yang tau ga simbol / umbul2 pada waktu era pajajaran. dulu ada yang ngasih tapi agak kurang greget soalnya dari game rome empire yang dimodif
jadi semacam simbol orang sunda. kalo indonesia kan pancasila simbolnya. nah kalo sunda apaan ya?


kalau yang dulu nya saya kurang tau. tapi logo simbol padjajaran yang saya liat adalah mahkota binokasih sanghyang pake.

Quote:Original Posted By chitinx
boleh bertanya?

liat2 trit ada yg bahas kerajaan sunda, nah mau nanya siapa prabu banjaransari?



mohon dijelaskan karena penasaran banget, mau nanya nenek/kakek udah telah telat karena udah ga ada, penasarannya baru sekarang


yang ane blod.
ada salah satu kecamatan di Ciamis yang bernama Banjarsari.
ga tau ada ngga hubungannya
punten ah ngirigan ngariung didieu.

ngatosan materi nu anyar deui ah
aksara dan angka urang sunda


Dalam teks, angka diapit oleh dua tanda pipa | ... |.

lengkapnya cari aja di mbah google
Prasasti-Prasasti Jawa Barat:

TARUMANEGARA
Prasasti Ciaruteun
semula terletak pada aliran sungai Ciaruteun, 100 meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Cisadane. Tahun 1981 prasasti itu diangkat dan diletakkan dalam cungkup. Prasasti Ciaruteun ditulis dalam bentuk puisi 4 baris, berbunyi:

"vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam".

Terjemahannya menurut Vogel:

"Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara".

Prasasti Ciaruteun bergambar sepasang "pandatala" (jejak kaki). Gambar jejak telapak kaki menunjukkan tanda
kekuasaan yang berfungsi mirip "tanda tangan" seperti jaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya. Menurut "Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara" parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman (395-434 M) terdapat nama "Rajamandala" (Raja daerah) Pasir Muhara.

Prasasti Kebun Kopi
~ ~ jayavisalasya Tarumendrasya hastinah ~ ~
Airwavatabhasya vibhatidam= padadvayam

Terjemahan: “Di sini nampak tergambar sepasang elapak kaki…yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam….dan (?) kejayaan”


Prasasti Telapak Gajah
bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:

"jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam"

(Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa).

Prasasti batu
peninggalan Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai) Cikasungka. Prasasti inipun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi dua baris :

"shriman data kertajnyo narapatir - asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam - padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam - bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam".

Terjemahannya menurut Vogel :

"Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya".

Prasasti Cidanghiyang
Teks: Vikranto ‘yam vanipateh/prabhuh satya parakramah narendra ddhvajabhutena/ srimatah purnnawvarmanah
Terjemahan: “Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang sesungguhnya dari raja dunia, yang Mulia Purnawarman yang menjadi panji sekalian raja-raja”.
PAKUAN

Prasasti Jayabupati
prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi. Prasasti ini terdiri atas 40 baris sehingga memerlukan empat (4) buah batu untuk menuliskannya. Keempat batu bertulis itu ditemukan pada aliran Cicatih di daerah Cibadak. Tiga ditemukan di dekat Kampung Bantar Muncang, sebuah ditemukan di dekat Kampung Pangcalikan. Keunikan prasasti ini adalah disusun dalam huruf dan bahasa Jawa Kuno. Keempat prasasti itu sekarang disimpan di Museum Pusatdengan nomor kode D 73 (dari Cicatih), D 96, D 97 dan D 98. Isi ketiga batu pertama (menurut Pleyte):

D 73 :

//O// Swasti shakawarsatita 952 karttikamasa tithi dwadashi shuklapa-ksa. ha. ka. ra. wara tambir. iri- ka diwasha nira prahajyan sunda ma-haraja shri jayabhupati jayamana- hen wisnumurtti samarawijaya shaka-labhuwanamandaleswaranindita harogowardhana wikra-mottunggadewa, ma-

D 96 : gaway tepek i purwa sanghyang tapak ginaway denira shri jayabhupati prahajyan sunda. mwang tan hanani baryya baryya shila. irikang lwah tan pangalapa ikan sesini lwah. Makahingan sanghyang tapak wates kapujan i hulu, i sor makahingan ia sanghyang tapak wates kapujan i wungkalagong kalih matangyan pinagawayaken pra-sasti pagepageh. mangmang sapatha.

D 97 : sumpah denira prahajyan sunda. lwirnya nihan.


Terjemahannya :

Selamat. Dalam tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, Ahad, Wuku Tambir. Inilah saat Raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa,

membuat tanda di sebelah timur Sanghiyang Tapak. Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan jangan ada yang melanggar ketentuan ini. Di sungai ini jangan (ada yang) menangkap ikan di sebelah sini sungai dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak sebelah hulu. Di sebelah hilir dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak pada dua batang pohon besar. Maka dibuatlah prasasti (maklumat) yang dikukuhkan dengan Sumpah.

Prasasti Batutulis:

* Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun,
* diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana
* di wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu hajj di pakwan pajajaran seri sang ratu dewata
* pun ya nu nyusuk na pakwan
* diva anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) cu rahyang niskala-niskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang
* ya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyanl sa(ng)h yang talaga rena mahawijaya, ya siya, o o i saka, panca pandawa e(m) ban bumi


artinya:
* Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu
* Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana,
* dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.
* Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan.
* Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang.
* Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida[1], membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka "Panca Pandawa Mengemban Bumi"[2].

Prasasti Astana Gedhe Kawali

nihan tapa kawali nu sang hyang mulia tapa bhagya parĕbu raja wastumangadĕg di kuta kawali nu mahayuna kadatuan sura wisesa nu marigi sakuliling dayĕh. nu najur sakala desa aja manu panderi pakĕna gawe ring hayu pakĕn hebel jaya dina buana
hayua diponah-ponah
hayua dicawuh-cawuh
inya neker inya angger
inya ninycak inya rempag

Alihbahasa
Inilah jejak (tapak) (di) Kawali (dari) tapa beliau Yang Mulia Prabu Raja Wastu (yang) mendirikan pertahanan (bertahta di) Kawali, yang telah memperindah kedaton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan di sekeliling wilayah kerajaan, yang memakmurkan seluruh pemukiman. Kepada yang akan datang, hendaknya menerapkan keselamatan sebagai landasan kemenangan hidup di dunia.
Jangan dimusnahkan!
Jangan semena-mena!
Ia dihormati, ia tetap.
Ia menginjak, ia roboh.
Prasasti Kebantenan

Raja Rahyang Niskala Wastu Kancana mengirim pesanan melalui ningrat Hyang Kancana ke Susuhunan Pakuan Pajajaran untuk mengurus dayohan di Jayagiri dan Sunda Sembawa.
Raja tinggal di Pakuan, dari tanah keramat (tanah devasasana); perbatasan yang sudah ditetapkan, dan tanah itu tidak boleh didistribusikan karena pelabuhan devasana menyaranai untuk ibadah, yang menjadi milik raja. Raja Sunda dan sangsi bangunan suci di Sunda Sembawa, yang harus dirawat dan tidak terganggu karena daerah yang ditetapkan adalah daerah perumahan para wiku (pendeta). Kalau ada yang berani untuk memasuki daerah itu di sunda Sembawa, mereka harus dibunuh.
Sri Baduga Maharaja, yang memerintah di Pakuan, sangsi tanah keramat (tanah devasana) di Gunung (Gunung Samya (Rancamaya), perbatasan yang sudah ditetapkan. Siapapun yang memasuki dilarang mengganggu di situ, dan dari pengenaan pajak dan pungutan lainnya dilarang karena yang wilayah yang terdapat tempat ibadah, yang milik raja.

Lempeng E42a
muka
1. //0// om awighnamastu nihan sakakala ra
2. hiyang wastu kancana pun/turun ka ra
3. hiyang ningrat kancana/maka nguni ka susuhunan ayeu-
4. na di pakwan pajajaran pun/ mula mo mihape
belakang
1. dayeuhan di jayagiri/ deung dayeuhan di sunda sembawa
2. aya ma nu ngabayuan inya ulah dek ngaheuryanan
3. inya ku na dasa/ calagara/ kapas timbang/ pare
4. dongdang pun/ mang[k]a ditudi[ng] ka para muhara/ mula dek men-

Lempeng E.42b.
muka
1. taan inya beya pun. kena inya nu purah dibuhaya
2. mibuhayakeunna kacarita pun. nu pageuh ngawaka-
3. nna dewa sasana pun 0.0.

Lempeng E.43
muka:
1. //0// pun ini piteket sri baduga maharaja ratu haji
2. di pakwan sri sang ratu dewata/nu dipitekatan mana (baca:nana) le-
3. mah dewasasana di sunda sembawa/ mulah waya nu ngubahya/
4. mulah waya nu ngaheuryanan/ tebeh timur hanggat ciraub
5. ka sanghiyang salila/ ti barat hanggat ruseb ka munjul ka ci
6. bakekeng, ciho[n]je. ka muhara cimuncang pun. ti kidul
belakang
1. hanggat ka leuweung comon. mulah mo mihape ya. ke
2. na. dewa sasana sanggar kami ratu. sapaah jalan gede
3. kagirangkeun. lemah larangan pigeusaneu para wiku
4. pun. ulah ek waya nu keudeu dibeunangng ing ngagurat ke
5. aing heman.di wiku pun

Lempeng E.44
muka
1. ini piteket nu seba di Pajajaran. miteke
2. tanna kabuyutan di sunda sembawa aya ma nu ngaba
3. yuan mulah aya nu nyekapan. mulah aya
4. nu munah-munah inya. nu ngaheuryanan lamun aya nu
belakang
1. keudeu paambahna lurah sunda sembawa. ku aing dititah dipaeh
2. han. kena eta lurah kawikwan

Lempeng E.45
1.//0// pun ini piteket sri baduga maharaja ratu haji di pakwan sri sang ratu
2. dewata. nu dipiteketan mana (baca:nana) lemah dewa sasana. di gunung
samaya sugan aya
3. nu dek ngaheuryanan inya. ku palulurahhan mulah aya
4. nu ngaheuryanan inya. ti timur ha[ng]gat ciupih ti barat ha[ng]gat cilebu
5. ti kidul ha[ng]gat jalan gede pun mulah aya nu ngaheuryanan inya
ku[na] da
6. sa calagara upeti panggeureus reuma ulah aya nu me[n]taan inya
7. kena sanggar kami ratu purah mibuhayakeunna ka ratu pun nu pageuh
ngawakan
8. na dewa sasana pun 0.0


Terjemahan
E.42a
1. Semoga selamat sejahtera di dunia. Inilsah tanda peringatan
2. Rahiyang Niskala Wastu Kancana. turun kepada Ra
3. hiyang Ningrat Kancana turun kemudian diamanatkan kepada susuhunan
sekarang
4. di Pakwan Pajajaran yang telah enitipkan
Belakang
1. wilayah Jayagiri dan wilayah di Sunda Sembawa
2. (karena) ada yang membiayai kehidupan mereka hendaknya jangan
mengganggu
3. dengan dasa, calagara, kapas timbang, dan pare
4. dongdang. Maka diperintahkan kepada segenap masyarakat jangan

E.42b.
1. memungut biaya (pajak) kepada mereka karena mereka
2. (kelompok) yang secara khusus membaktikan diri dan berpegang kepada
teguh kepada ajaran dewasasana

E.43
muka
1. inilah (surat) pengukuhan Sri Baduga Maharaja penguasa di
2. Pakwan Sri Sang Ratu Dewata. Yang dikukuhkan adalah tanah
3. Dewasasana di Sunda Sembawa. Hendaknya angan ada yang mengganggu dan
janganlah semena-mena. Batas-batas (yang dikukuhkan adalah) di arah timur
mulai dari Ciraub
4. hingga ke Sanghiyang Salila. di arah Barat mulai dari Ruseb hingga ke Munjul
ke Ci
5. Bakekeng, Cihonje, hingga ke muara Cimuncang, arah Selatan
belakang:
1. mulai dari hutan Comon, hendaknya ditaati karena
2. Dewasasana adalah sanggar kami para raja. [termasuk juga] sepanjang jalan
3. besar hingga menuju ke hulu, seluruhnya merupakan kawasan (wilayah) suci
(taneuh larangan) yang khusus disediakan bagi para wiku
4. Hendaknya jangan melanggar keputusan yang telah dikukuhkan tertulis ini
karena
5. aku sangat melindungi dan menyayangi kepada para wiku

E.44.
muka
1.inilah (surat) pengukuhan dari yang bersemayam di Pajajaran
2. mengukuhkan kabuyutan di Sunda Sembawa. Hendaknya dipelihara dan
dijaga
3. Hendaknya jangan dirintangi
4. maupun diganggu. Jikalau ada yang
belakang
1.(berani) merebut kawasan Sunda Sembawa aku perintahkan segera dibunuh
2. karena kawasan ini merupskan lingkungan hunian para wiku

E.45
1.Inilah (surat) pengukuhan Sri Baduga Maharaja. Raja yang berkuasa di Pakwan
Sri sang Ratu
2. Dewata yang dikukuhkan adala lingkungan (kawasan) Dewasasana di Gunung
Samaya. Hendaknya jangan ada
3. yang menganggu baik huniannya maupun lingkungannya
4. Jangan diganggu! Batas-batasnya di timur mulai dari Ciupih di barah mulsai
dari Cilebu
5. dari Selatan mulai sepanjang jalan besar. Jangan diganggu oleh pungutan
6. dasa, calagara, upeti panggeureus reuma, Jangan pula ada yang [berani]
meminta
7. karena kawasan nini merupakan sanggar pemujaan [para raja yang telah
menjadi wiku] yang teguh memegang ajaran dewasasana dan yang
senantiasa memberikan perlindungan kepada raja
Quote:Original Posted By pitaloka
aksara dan angka urang sunda


Dalam teks, angka diapit oleh dua tanda pipa | ... |.

lengkapnya cari aja di mbah google

ini di sebut nya apa ya?
http://initialdastroboy.wordpress.co...gan-indonesia/

“Tidak ada orang Sunda yang menjadi Presiden RI, yang menjadi wakil pun hanya seorang. Itu pun tidak memperlihatkan prestasi yang membanggakan. Mungkin karena merasa menjadi ban serep saja.” Itulah salah satu pernyataan menggelitik banyak orang -terutama orang Sunda dan suku Sunda- dari sastrawan Sunda Ajip Rosidi perihal kontribusi urang Sunda dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang beliau sampaikan dalam orasi ilmiah di Universitas Padjadjaran, Dipati Ukur, Kota Bandung.



Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Urang Sunda di Lingkungan Indonesia”, saat menerima gelar Doktor Honoris Causa (HC) untuk program studi Budaya Fakultas Sastra dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Senin (31/1), sastrawan Ajip Rosidi mengatakan, orang Sunda suka membohongi diri sendiri dengan berpegang pada mitos-mitos yang tidak rasional dan tidak ada buktinya. Umpamanya, kata Ajip, percaya kepada keagungan Kerajaan Pajajaran dan rajanya Prabu Siliwangi, yang secara historis tidak ada buktinya pernah ada. Sebab keduanya hanya terdapat dalam cerita pantun, dongeng, mitologi, dan semacamnya.

“Hal itu menyebabkan orang Sunda tidak merasa perlu berusaha melakukan sesuatu. Sebab terlalu percaya akan datangnya pertolongan dari Prabu Siliwangi (padahal tak pernah datang),” ungkapnya.



Pada bagian lain orasinya Ajip mengatakan, kesadaran sebagai orang Sunda perlu dibina, tapi dengan kesadaran bahwa Sunda sekarang berada di lingkungan Indonesia. Orang Sunda sekarang bukan keturunan Prabu Siliwangi, yang hendak mendirikan keagungan Kerajaan Pajajaran.

Pertama, karena sampai sekarang Kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi tidak ada buktinya secara historis (dalam Saleh Danasasmita/2003 dan Ayatrohaedi/1986). “Kedua, karena negara RI bukan lanjutan dari Kerajaan Pajajaran atau kerajaan-kerajaan lainnya, yang pernah berdiri di Nusantara, seperti Tarumanegara, Kutai, Sriwijaya, Majapahit, Samudera Pasai, Goa, Ternate, dan lain-lain,” terangnya.



Benarkah Kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi itu mitos ??
Quote:Original Posted By PTCkoe
sanjaya pendiri mataram dan raden wijaya pendiri majapahit adalah keturunan kerajaan sunda

jadi bisa dipastikan ningrat/bangsawan jawa yg sampai sekarang ini masih eksis adalah keturunan urang sunda




Sepertinya anda sangat terobsesi dengan fisik. Anda menyukai kulit putih dan anda ingin mengklaim orang Jawa yang fisiknya bagus sebagai keturunan Sunda ? Lah kalau anda melihat mayoritas suporter Persib Bandung yang kulitnya hitam itu orang mana ? mayoritas buruh-petani-nelayan Jabar yang kulitnya hitam itu orang mana ? Ane orang Indonesia Timur kulit hitam orang mana ? jelek kah ??

Bangsawan Jawa seperti Raden Wijaya itu satu orang tuanya adalah Jawa asli.
Quote:Original Posted By viperjack99




Sepertinya anda sangat terobsesi dengan fisik. Anda menyukai kulit putih dan anda ingin mengklaim orang Jawa yang fisiknya bagus sebagai keturunan Sunda ? Lah kalau anda melihat mayoritas suporter Persib Bandung yang kulitnya hitam itu orang mana ? mayoritas buruh-petani-nelayan Jabar yang kulitnya hitam itu orang mana ? Ane orang Indonesia Timur kulit hitam orang mana ? jelek kah ??

Bangsawan Jawa seperti Raden Wijaya itu satu orang tuanya adalah Jawa asli.


orang jawa yang berkulit kuning itu keturunan Sultan Demak