KASKUS

¶¶¶ Kisah penjual amplop di masjid Salman ITB ¶¶¶ Nangis ane gaaan T_T

Assalammualaikum..
Misi gan.. kemarin ane dikasih link ma temen ane.. ane kira apaan..
Subhanallah.. ternyata berisi kisah inspiratif yg berdasarkan kisah nyata..
Dijamin thread ini no repost.. ini buktinya
Spoiler for "no repost":


Baca sampai Habis gan.. dijamin ente bakal



Quote:Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.




Quote:Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Spoiler for "Bapak Penjual Ampop":


Quote:Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Spoiler for "Bapak Penjual Ampop":


Quote:Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.


Spoiler for "Amplop":


Quote:Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

*********************************************************

Quote:
Tulisan saya yang terdahulu yang berjudul Bapak Tua Penjual Amplop Itu ternyata mendapat respon yang luar biasa dari pembaca. Setelah saya lihat statistik di Worpress ternyata tulisan tersebut sudah dibaca puluhan ribu kali dan tanggapan komentar hingga hari ini mencapai 336 buah. Saya sendiri tidak menyangka atas respon yang luar biasa tersebut, sebab tulisan ini hanyalah sekadar catatan kecil yang biasa saya tulis dari pengalaman yang saya temui.

Banyak yang bertanya kepada saya bagaimana caranya memberikan sedekah atau sumbangan buat bapak tua itu. Saya sendiri juga belum tahu teknis pengumpulan dan pemberian sedekah tersebut, karena maksud tulisan tersebut bukanlah untuk mengumpulkan infaq/shadaqoh buat si bapak. Pertanggungjawabannya nanti juga agak susah, tetapi yang lebih saya khawatirkan (mudah-mudahan saja tidak terjadi) adalah perubahan sikap si bapak yang karena sedekah yang berturut-turut tersebut khawatir membuat dia salah menafsirkan sehingga timbul sikap “mengemis” belas kasihan dengan menjual amplop.

Mudah-mudahan tidak begitu ya, tetapi mohon maaf saya belum bisa menyalurkan sumbangan, silakan salurkan sedekah ke lembaga amil terdekat dari Masjid Salman seperti Rumah Amal Salman ITB atau PKPU. Saya tetap punya pendapat bahwa cara terbaik membantu bapak itu adalah membeli jualannya, kalaupun melebihkan uang pembelian tidak apa-apa. Untuk urusan modal usaha dan perbaikan taraf hidup si bapak, biarlah itu tugas lembaga amil zakat tadi. Kalaupun anda jauh dari Bandung dan tidak bisa membeli amplopnya, anda masih bisa membeli dagangan orang-orang dhuafa di lingkungan terdekat anda. Masih banyak orang kecil lainnya dis ekitar kita yang membutuhkan perhatian. Tetapi sekali lagi, terima kasih atas semua niat baik, mudah-mudahan Allah SWT sudah membalas niat baik itu dengan pahala.

Seorang mahasiswa ITB aktivis Masjid Salman ITB, Romi Hardiyansyah, mencoba menemui bapak penjual amplop dan mewawancarainya di kantor Rumah Amal Salman ITB. Laporan wawancaranya itu dia muat di akun fesbuknya. Saya minta izin memuat hasil wawancara itu di dalam blog ini, sebagai informasi yang lebih lengkap tentang bapak penjual amplop. Banyak yang masih penasaran seperti apa bapak itu dan bagaimana hidupnya. Yang jelas bapak tua itu masih setia berjualan di depan gerbang kampus ITB atau di depan gerbang Masjid Salman, tidak hanya hari Jumat tetapi sekali-sekali pada hari yang lain.

Di bawah ini tulisan Romi Hardiyansyah yang dimuat di dalam
http://www.facebook.com/note.php?not...50390709462123
Quote:
Bapak Penjual Amplop

Setelah membaca catatan dari salah seorang dosen ITB melalui website pribadinya, saya mencoba menggali lebih dalam tentang bapak penjual amplop ini. Yang saya tahu bahwa bapak ini hanya berjualan setiap hari jumat saja di pintu masuk Komplek Masjid Salman-ITB. Namun, ketika hari selasa saya mendapatkan laporan dari salah seorang rekan bahwa bapak penjual amplop ini menjajakan dagangannya di salah satu gerbang keluar ITB. Saya tidak menemuinya karena jadwal kuliah yang padat. Barulah ketika rabu, 23 Nopember 2011, sepulang kuliah sekitar pukul 12.00, saya menemuinya di tempat biasa ia menjajakan amplop-amplopnya, yaitu di depan pintu masuk Komplek Masjid Salman-ITB. Saya berniat untuk menemuinya setelah saya melaksanakan shalat zhuhur.

Sekitar pukul 13.00, saya dan Kang Dadan (karyawan Rumah Amal Salman-ITB) bergegas menuju pintu masuk Komplek Masjid Salman-ITB. Kang Dadan ada keperluan untuk menyampaikan amanah infaq salah seorang jamaah di Jakarta kepada beliau sementara saya memang berkeperluan untuk bercakap-cakap dan membeli amplopnya. Kami meminta beliau merapikan dagangannya dan mau berbincang-bincang dengan kami di salah satu ruangan di kantor Rumah Amal Salman-ITB. Alhamdulillah beliau mau dan segera mengemas amplop-amplopnya. Selama mengemas amplop-amplopnya, kami menerima banyak komentar dari para pedagang-pedangang lain di sekitar.

Menurut para pedagang, tidak sedikit orang yang membeli satu atau dua amplop tapi dibayar seharga Rp 5.000, Rp 20.000, bahkan Rp 50.000. Si Bapak justru sering berkata kepada para pembeli bahwa uang yang diberikannya kelebihan. Namun, para pembeli mengatakan agar diambil saja lebihnya.

Setelah bercakap-cakap dengan para pedagang sekitar, si Bapak ini pun siap untuk kami ajak ke kantor. Ia membawa tas besarnya pada bahu sebelah kiri dan menjinjing plastik berisi amplop dengan tangan kanannya. Tibalah kami di salah satu ruangan di kantor Rumah Amal Salman-ITB dan mulailah percakapan kami. Sebenarnya selama perjalanan ke rumah amal pun kami bercakap-cakap di jalan.

Namanya Suhud, lahir di Tasikmalaya 76 tahun yang lalu. Ayahnya asli Tasikmalaya sedangkan Ibunya asli Kuningan. Bapak yang sudah hidup tiga perempat abad ini suka merantau kesana kemari semasa mudanya hingga sekarang tinggal menetap bersama anak terakhir dan cucunya di Manggahan, Dayeuh Kolot. Pak Suhud memiliki tiga orang anak yang semuanya laki-laki semua. Anak pertama dan keduanya tidak tinggal bersama Pak Suhud. Semua anaknya memiliki keterbatasan dalam ekonomi sehingga jika beliau menggantungkan diri kepada anaknya, tentu akan susah. Dari sinilah beliau memutuskan untuk berdagang di usianya yang sudah renta.

Pak Suhud sehari-harinya berjualan amplop. Ya, amplop. Ia hanya berjualan amplop, tidak dengan yang lain. Pak Suhud menjajakan amplop-amplopnya di Pasar Simpang Dago dari pagi sampai siang kemudian dilanjutkan menjajakan amplop-amplopnya di pintu masuk Komplek Masjid Salman-ITB. Selain itu, Pak Suhud juga menjajakan amplopnya di Sukajadi, Kebun Binatang, dan tempat-tempat lainnya. Beliau baru sekitar sebulan yang lalu menjajakan dagangannya di Salman.

Amplop-amplop tersebut ia ambil dari tetangganya. Kemudian Pak Suhud akan menerima upah sesuai dengan banyaknya amplop yang bisa ia jual. Setoran tersebut tidak dibatasi waktu, boleh kapan saja. Jika pembeli sedang sepi, boleh jadi hari itu tidak setor dulu sampai dengan banyak amplop yang terjual.

Pak Suhud memulai usaha ini dari 2001. Namun karena usianya yang sudah renta, 10 tahun tersebut tidak semuanya digunakan untuk berjualan amplop, terkadang jika sedang capai, ia tidak berangkat mencari nafkah. Sebelum berjualan amplop, Pak Suhud berjualan sayur mayur. Istri Pak Suhud meninggal dunia 6 tahun yang lalu sehingga penghasilan yang beliau dapatkan murni beliau gunakan untuk keperluan hidup beliau sehari-hari. Ketiga anaknya mengetahui bahwa ayahnya ini berjualan amplop untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Pak Suhud berangkat dari rumahnya di Dayeuh Kolot sekitar pukul 03.30 dan pulang menuju rumahnya sekitar pukul 14.00. Beliau menggunakan angkutan perkotaan atau bis kota sebagai sarana transportasinya. Beliau mengatakan lama perjalanan bisa sampai dua atau tiga jam. Sungguh, perjuangan yang sangat hebat bagi laki-laki paruh baya ini.

Penghasilan Pak Suhud sehari-hari jelas tidak menentu. Terkadang tidak ada satu pun amplop yang terjual sehingga untuk kembali pulang ia biasanya meminjam uang pada pedagang-pedagang sekitar dan berjanji akan menggantinya jika nanti amplopnya ada yang membeli. Tetangga yang menjadi tempat setornya tidak mempermasalahkan akan keterlambatan setoran, jelas beliau. Beliau menambahkan ongkos pergi-pulangnya tiap hari sebesar Rp 12.000, padahal penghasilannya tiap hari belum tentu sebesar itu. Pada siang hari, Pak Suhud biasa makan di tempat makan yang beliau katakan murah harganya. Pemilik rumah makan sering mengatakan bahwa jika beliau ingin makan, silakan datang saja tanpa perlu membayar.

Beliau mengambil 100 amplop dari tetangganya seharga Rp 7.500 dan ia menjualnya seharga Rp 10.000. Artinya, untuk 100 amplop yang terjual, ia hanya mendapatkan untung Rp 2.500 saja. Jika dipikir-pikir, siapa yang mau membeli amplop sebanyak itu? Kalau pun ada yang membelinya, keuntungan yang beliau peroleh jelas tidak bisa digunakan untuk makan nasi sekalipun. Allahu a’lam. Ketika ditanya kenapa memilih berjualan amplop, ia hanya menjawab sngkat saja, karena amplop ringan, masih bisa beliau bawa dibandingkan jika beliau berdagang yang lainnya.

Karena usianya yang sudah tua, tentu fisiknya pun tidak lagi seperti anak muda. Pak Suhud mengatakan bahwa matanya kini telah kurang awas (rabun), pendengarannya kurang berfungsi dengan baik, dan dadanya sering pengap. Saya memerhatikan, beliau berbicara dengan suara yang lirih sekal dan tangan yang benar-benar gemetar baik di kala berbicara, di kala merapikan amplop-amplopnya, di kala membawa tas, dan lainnya.

Dalam keadaan yang seperti itu, Pak Suhud tetap tegar untuk menjaga kehormatannya dengan tidak meminta-minta. Begitu pula yang dikomentarkan para pedagang di sekitar pintu masuk Komplek Masjid Salman-ITB. Mereka menambahkan, banyak yang badannya masih bujangan, perkasa, gagah, dan kuat, namun meminta-minta. Kami menutup pembicaraan siang itu dengan menyampaikan amanah infaq dari Rumah Amal Salman-ITB.

Sebenarnya, ketika awal sampai akhir perbincangan saya berusaha menahan air mata agar tidak keluar karena mendengar suara Pak Suhud yang begitu lirih dan tangannya yang gemetaran. Terima kasih Pak Suhud. Darimu, saya belajar sebuah perjuangan..

Semoga kelapangan dan keberkahan rezeqi menyertaimu Pak. Dan Allah, tidak akan menyiakan hamba-hamba-Nya..


SUMBER 1
SUMBER 2


Quote:


Untuk thread ini Ane ga terlalu mengharapkan cendol..
Ane uda seneng banget kl agan2/sista2 membaca dan bisa memberikan komennya..

Syukur2 kl bisa me-rate thread ane..


Dgn memberikan komentar, berarti Agan&Sista ikut melestarikan thread ini dan dgn begitu makin banyak orang membaca dan Insya Allah bisa memetik hikmah dari sini..

Amiiinn..

jujus saja ketika ane pertama kali baca ini dari seorang blogger ane langsung



KUMPULAN TESTIMONIAL & KISAH dari KASKUSER

Quote:Original Posted By secret1986
sedih bacanya gan..
ane paling ga tega deh sama kakek2 ato nenek2 yg masih dagang..
di satu sisi kasian, tapi di sisi lain kagum karna mereka ga mau ngemis..
padahal kalo bapak itu ngemis, penghasilannya bisa jauh lebih besar daripada dagang amplop..
tapi itu lah hebatnya.. orang2 yg pantang mengemis.. bener2 hebat..
ane hampir ga pernah kasih uang ke pengemis, kecuali kakek2 n nenek2..

pernah di suatu lampu merah liat nenek2 tua renta jualan sapu lidi, ane ngeliatnya kasian bgt..
akhirnya ane beli 5 sapu lidinya walopun ga tau buat apa..
pernah juga ada bapak2 dinas kebersihan, mungkin umur 50 taun lebih, tapi kurus n udah keriput, nyapu daun2 kering di pinggir jalan.. sedih bgt liatnya..
ane mau kasih uang, takut dia tersinggung, akhirnya ane beliin dia makanan aja dibungkus, trus balik lagi buat kasih dia..
dianya seneng bgt kaya mau nangis gitu.. ane juga jadi sedih bgt liatnya..

setuju sama kata temen ente, beli aja walopun ga tau buat apa..
mereka itu sebenernya orang2 mulia..
orang2 yg ga punya apa2, tapi pantang ngemis.. :


Quote:Original Posted By xSup
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Assalamualaikum Warrahmatullahi wabarakatuh,

---

Miris Kehidupan Bapak Tsb Gan . Maka dari itu kita disini diajarkan Untuk Bersyukur karena nasib kita jauh dari Bapak tsb dan kita diajarkan utk mengasihi dan sling memberi


--
Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


°Demi Masa°
°Sesungguhnya Manusia itu Benar-Benar dalam KERUGIAN°
°Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan Amal Saleh dan Nasehat-Menasehati Supaya Mentaati KEBENARAN dan°
°Nasehat-Menasehati supaya menetapi KESABARAN°

•Biasakan Harimu Penuh Dengan •


Quote:Original Posted By Ichinaf
Bapak ini lebih terhormat gan, dari pejabat2 koruptor yang ngga tau malu. Si bapak penjual amplop ini harga dirinya tinggi gan walo dah tua ngg mau jadi beban orang dia jualan bukan minta2 ato ngamen ngg jelas, semoga barokah juga agan TS yang dah membuka mata hati kita dengan tulisan dan pengalamannya.


Quote:Original Posted By ekky.chapters
ane terhar gan sama Cerita di Blog tersebut ..Ane setuju dengan pendapat agan,kita jangan memberi,tapi kita apresiasikan Barang daganganya agar dia bisa buat modal lagi..


Oia ane juga mempunyai beberapa cerita seperti agan,dimana ada pedangang yang bisa dibilang barang jualanya itu "aneh",karena kita pastinya sudah tidak gunakan jualannya tersebut..pasti Anak kasuser juga pernah denger ..


Penjual "TALENAN,ULEG-ULEG,atau COET"..yang jual anak anak putus sekolah



Quote:Original Posted By intaanettokun
subhanallah perjuangan bapak ini gan....
semoga ALLAH selalu memberikan kesehatan kepada bapak, ane bayangkan klo ini terjadi pada orang tua kita ato terjadi pada diri kita nanti,

gimana bapak klo lg dijalan hujan turun gan...??? ato klo panas terik sekali ???

alhamdulillah sesuai dengan nama bapak "suhud = org yg hidup sederhana cuma berharap ridho dari ALLAH"

berbeda dengan yg punya uang banyak tapi masih bergelimang dosa dari harta yang dimiliki


jgn lupa baca yg ini.. dalem banget gan...
Quote:Original Posted By black.tupai
“bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

INSYA ALLAH ane mau mengamalkan kata-kata itu gan doain ya gan
bpk si penjual amplop sifat dan tindakan bpk mulia semoga Allah SWT kan membalas kemuliaan bpk amiiiiin

untuk semangat agan-sista dari bacaan ini
Spoiler for tambahan:
Wah kasian yah tuh bapak
Tapi hebat tuh bapak, tetap tidak mau mengemis walaupun dalam keadaan susah






Spoiler for "JANGAN DIBUKA!!!":
Bismillahirahmannirrohim...
dari cerita dan pengalaman diatas semoga
semua kaskuser yang membaca thread ini membantu doa kepada sibapak
agar diberikan kesehatan dan rezeki yang panjang walau diantara kita tidak bisa membantu dengan materi
ini adalah salah 1 contoh ada kaki ada tangan badan sehat bukan berarti tidak ada kerjaan putus asa dan mengemis
bapak itu benar" mulia tidak mengemis
wassalam
waduh, sedih ane bacanya gan
bt tmen2 yg punya rejeki lebih jgn lupa shadkoh.
diluar sana msih bnyak orang2 sperti bapak ini

Thumbs up 

mengharukan sekali gan.....semoga para aghniya terketuk hatinya akan wajibnya shadaqah dan zakat.....padahal menurut hitungan statistik apabila yg kaya sadar untuk berzakat niscaya bisa meminimalisir kemiskinan...meminimalisir kemiskinan=meminimalisir kejahatan....
selain itu fungsi baz dibandung atau dmn saja belum berfungsi dengan baik (menurut ane)..bahkan ada yg jd lahan bisnis..naudzubillah...
semoga Allah merahmati hamba-Nya yang beriman dan beramal sholeh...
wallahu'alam

jd malu ama kelakuan ane selama ini

insya Allah kita coba bantu.....
kebetulan deket juga gan dr rumah..
ane malu sama diri ane sendiri gan.
ane setuja sama TS, cara membantu Bapak ini adalah dengan membeli dagangannya meskipun uangnya dilebihkan

dengan itu, Insya Allah dia akan merasa dihargai

terima kasih TS, ente udah bikin thread yang keren
ane rate 5 deh gan... ikut sedih baca ceritanya.
perjuangan nya wajib ditiru gan sama yang berjiwa muda
nice share gaan
ane tiap jumat lewat jarang banget merhatiin.
sumpah ane terharu baca thread ente.
ane uda gatau lagi mau ngomong apa gan
Ininlah Pengorbanan Seseorang Untuk Mencukupi Kehidupannya , Cerita ini dapat Memotivasi Kita
nangis ane gan baca cerita ente....
ya ampunnnn....

jika ane bisa lakukan sesuatu buat mu pak Suhud...
:
Salut sama bapak penjual amplop.
Perbuatan yang patut dicontoh (Meski sudah tua dia berusaha untuk mencari nafkah).

Jaman sekarang banyak orang yang hanya meminta-minta padahal dia masih kuat, muda dan fisiknya baik2 saja.
Ane gak nangis gan
Cuma

Banyak banget pelajaran yang bisa kita ambil dari trit ini
dalam memberikan sedekah...klo tidak ingin merasa ditipu denga embel2 berdagang sebaiknya kaskuser langsung saja datangi tempat tinggal si bapak ini.apakah dia benar2 berdagang atau bagaimana.dengan itu kita akan tahu kehidupannya yang sebenarnya.tanpa maksud apa2 saya juga miris...dengan hal seperti itu.
ada pepatah di FJB "MARILAH TELITI SEBELUM BERBELANJA"



TERIMA KASIH
Kisah inspiratif seorang bapak berusia 3/4 abad yang berjuang menafkahi hidupnya dengan cara halal. Bapak itu tidak mengemis ataupun meminta belas kasih pada kita. Bapak itu tulus berusaha menjajakan barang jualan nya dengan sabar.
salut deh