LUNGGI : Tenun Sambas Kain Tradisional Kalimantan Barat

Quote:

Quote:A. Asal-usul
Tenun ikat Sambas atau yang lebih akrab disebut Tenun Sambas, sebagaimana namanya, merupakan kerajinan tenun yang dihasilkan oleh masyarakat Sambas, Kalimantan Barat. Konon, kain ini telah ada sejak kesultanan Sambas dipimpin Sultan Sulaiman. Sultan Sulaiman mendirikan Kesultanan Sambas pada tahun 1675 M dan memerintah selama selama 10 tahun, yaitu sampai tahun 1685, dengan gelar Sultan Muhammad Shafiuddin I. Namun, dengan melihat motif-motif tumbuhan yang sangat dominan pada Tenun Sambas, tenunan ini mungkin telah ada sebelum berdirinya Kesultanan Islam Sambas, yaitu ketika di Sambas masih berdiri kerajaan-kerajaan Hindu. Jika Tenun Sambas telah ada pada masa Sultan Sulaiman memerintah kesultanan Sambas atau bahkan sebelumnya, maka Tenun Sambas hingga saat ini telah berumur lebih dari 300 tahun.

Keberadaan Tenun Sambas yang mampu melewati rentang waktu tiga abad menunjukkan bahwa tenunan ini mempunyai keistimewaan tertentu yang membuatnya senantiasa dilestarikan. Orang-orang Sambas menggunakan kain tenunan ini sebagai pelengkap pelaksanaan ritual adat, salah satunya adalah upacara adat perkimpoian. Dalam upacara perkimpoian, kain Tenun Sambas digunakan sebagai pelengkap barang antaran atau seserahan dari pihak mempelai lelaki kepada mempelai perempuan, dan kain cual dijadikan balasan barang antaran dari mempelai wanita ke pihak mempelai laki-laki (balas baki). Dengan digunakannya Tenun Sambas sebagai salah satu pelengkap ritul adat, maka tenunan ini merupakan teman orang-orang Sambas dalam mengarungi hidupnya. Dengan fungsinya tersebut, wajar jika Tenun Sambas terus (baca: harus) dilestarikan oleh masyarakat Sambas.

Salah satu ciri khas Tenun Sambas adalah keberadaan pucuk rebung atau orang Sambas biasa menyebutnya suji bilang sebagai motifnya. Kain Tenun Sambas, menurut Suhaeri dengan mengutip Sahidah, selalu ada pucuk rebungnya. Motif pucuk rebung berbentuk segi tiga, memanjang dan lancip. Disebut pucuk rebung karena merupakan stilirisasi dari tunas bambu muda. Penggunaan pucuk rebung sebagai ciri khas Tenun Sambas bukan sebuah kebetulan, tetapi memiliki makna yang luas dan mendalam. Sedikitnya ada tiga makna dari penggunaan motif ini sebagai ciri khas. Pertama, sebagai pengingat agar orang-orang sambas terus berupaya untuk maju. Pucuk rebung adalah bagian dari pohon bambu yang terus tumbuh dan tumbuh. Semangat trus tumbuh inilah yang ingin disampaikan oleh motif ini. Kedua, orang Sambas harus senantiasa berpikiran lurus, sebagaimana tumbuhnya pucuk rebung. Pucuk rebung selalu tumbuh lurus hingga menjulang tinggi. Ketiga, jika mencapai puncak tertinggi, tidak boleh sombong dan arogan, sebagaimana pohon bambu yang selalu merunduk ketika telah tinggi.

Spoiler for Pucuk Rebung:



Quote:Dalam membuat Tenun Sambas, keberadaan benang emas sangat penting. Benang emas digunakan untuk membuat bentuk dan penanda motif pada tenunan. Begitu pentingnya keberadaan benang emas dalam membuat Tenun Sambas, sehingga orang-orang Sambas menyebut tenun ini dengan nama kain bannang ammas (kain benang emas). Dalam http://muhlissuhaeri.blogspot.com disebutkan bahwa pada zaman dahulu, benang emas untuk membuat Tenun Sambas terbuat dari benang emas colok. Ciri dari benang ini ringan dan tahan lama, serta warnanya tidak mudah pudar walaupun telah berusia ratusan tahun.


Tenun Sambas memiliki warna-warna cerah cukup beragam, seperti warna merah manggis, orange, warna paru (pink), hijau dan hitam. Tenun ini dapat dipakai oleh kaum laki-laki maupun perempuan. Tenun Sambas yang dipakai untuk kaum perempuan biasanya berukuran panjang 200 cm dengan lebar 1,05 cm. Sedangkan Tenun Sambas untuk laki-laki berukuran panjang 150 cm dengan lebar 60 cm. Khusus untuk laki-laki, tenunan ini dipakai di pinggang dan berfungsi seperti sabuk, sehingga sering juga disebut juga kain sabuk.

Harga Kain Tenun Sambas bervariasi, tergantung pada kualitas bahan dan tingkat kesulitan motif tenunan. Kain Tenun Sambas untuk perempuan dengan kualitas biasa dan motif sederhana harganya sekitar 200 ribu, sedangkan yang berkualitas bagus dengan motif yang rumit harganya sekitar 1,5 juta. Harga satu lembar Tenun Sambas dapat melonjak hingga 2 juta apabila pelanggan ingin mendapatkan motif khusus. Kain Tenun Sambas untuk kaum laki-laki dengan kualitas biasa harganya minimal 150 ribu, dan harganya 750 ribu untuk yang berkualitas bagus.
Spoiler for Tenun Sambas:

LUNGGI : Tenun Sambas Kain Tradisional Kalimantan Barat

Quote:B. Motif Tenunan
Konon, Kain Tenun Sambas hingga saat ini telah memiliki ratusan motif. Motif-motif Tenun Sambas yang saat ini cukup dikenal masyarakat, di antaranya Tepuk Pedada, Siku Keluang, Mata Punai, Awan Larat, Pucuk Rebung, Bunga Pecah, Bunga Melur, Biji Periak, Angin Putar, Ragam Banji, Bunga Cengkeh, dan Bunga Cempaka. Salah satu keunikan Tenun Sambas adalah walaupun memiliki banyak motif, motif pucuk rebung senantiasa menjadi tajuk dalam setiap helai Kain Tenun Sambas.

Berikut ini beberapa jenis Kain Tenun Sambas dengan beberapa motif yang sudah cukup dikenal oleh masyarakat.

1. Kain Telur Bunga Cangkring
Disebut Telur Bunga Cangkring karena kain ini memiliki motif bunga-bunga cangkring yang disusun dalam satu bundaran berbentuk telur warna hitam dengan kombinasi pucuk rebung. Kain ini sangat cocok dipakai pada waktu menghadiri kegiatan-kegiatan yang dilaksananakan pada malam hari. Dengan memakai kain ini, seseorang akan terlihat berwibawa.
Spoiler for Telur Bunga Cangkring:

Kain Tenun Sambas ini memiliki beberapa motif, antara lain: pucuk rebung,
tahi lalat, talok mata ayam, tabur bunga melati kecil, bunga tanjung,
bunga malek, bunga cangkring, dan bunga mawar merah.

2. Kain Rantai Mas
Kain Rantai Mas ini memiliki warna dasar hijau. Kain ini biasanya dipakai oleh kaum wanita untuk menghadiri acara-acara penting, seperti menghadiri undangan dari pembesar suatu daerah atau undangan dari raja.
Spoiler for Rantai Mas:

Kain Tenun Sambas ini merupakan perpaduan beberapa motif,
seperti: pucuk rebung, tahi lalat (berbentuk titik), bunga telur mata ayam,
tujuh tabur bunga melati kecil di tengah- tengah, bunga tanjung,
bunga malek, dan bunga cangkring.

3. Kain Mahkota Berawan
Spoiler for Mahkota Berawan:

Motif yang paling menonjol dan khas pada kain ini adalah dua ekor burung yang bertengger diatas mohkota raja yang selimuti awan. Menandakan kemerdekaan dan kemakmuran.

4. Kain Sabuk Rantai Berbintang
Kain Tenun Sambas ini biasanya dipakai oleh kaum pria untuk melengkapai baju teluk belanga (baju khas Melayu). Kain yang memiliki warna dasar ungu ini memiliki ukuran setengah dari kain biasa, dan biasanya dipakai lewat batas lutut atau setengah saja.
Spoiler for Sabuk Rantai Berbintang:

Tenunan Sabuk Rantai Berbintang ini merupakan kombinasi dari
beberapa motif, seperti: pucuk rebung, tahi lalat, talok mata ayam,
tabur bunga melati kecil, bunga tanjung, bunga malek, bunga cangkring,
dan bunga mawar merah

5. Kain Sabuk Bintang Timur
Kain ini memiliki warna dasar merah muda dengan motif bintang yang sangat mencolok, sehingga mengandung makna cita-cita yang luhur. Oleh karena itu, kain ini sangat cocok dipakai oleh anak- anak yang menjelang baliqh.
Spoiler for Sabuk Bintang Timur:

Tenunan ini diperkaya oleh beberapa motif, seperti: pucuk rebung,
tahi lalat (berbentuk titik), bunga telur mata ayam, tabur bunga,
bunga tanjung, dan bunga cangkring.


Quote:Sumber

Lunggi Terkini

Quote:TENUN SAMBAS IN FASHION

Spoiler for Picture:


Mungkin banyak orang yang belum mengetahui tentang kain khas Sambas, Kalimantan Barat. Dalam pagelaran busana tunggalnya di ajang tahunan Jakarta Fashion and Food Festival Senin lalu (23/05/2011), Didi Budiardjo mengangkat pamor songket Sambas agar lebih dikenal luas.

Hadir dalam tema 'Juxtapose', Didi mengusung gaya Jepang kontemporer yang dipadankan dalam kain tenun Sambas dalam 27 koleksi yang dipamerkannya.

"Kain tenun Sambas memang masih belum banyak dikenal orang. Keistimewaan kain tenun Sambas ini karena memiliki 2 unsur motif yang berbeda seperti unsur china pada motif mawar dan unsur islam pada motif geometrik. Hal ini memiliki nilai yang istimewa di mata saya," kata Didi ketika dijumpai dalam konferensi pers yang berlangsung di Hotel Harris, Kelapa Gading.

Sebenarnya dalam pagelaran busananya, tidak hanya ditampilkan kain sambas. Tetapi kain tenun padang, kain tenun palembang, kain tenun lombok juga turut dieksplorasinya walau tidak dominan. Kain tradisional tersebut lalu dikolaborasikan dengan material modern seperti organza, sutra, taffeta, katun, sutra clogne, brocade, zibeline, satin duchesse, katun pique dan lame matelasse.

Berkat kepiawaiannya, material tersebut tampil begitu indah dalam potongan busana berkesan elegan dan romantis. Kimono modern berbahan motif tenun dengan atasan penuh manik dapat ditemui dalam beberapa koleksinya. Untuk pemilihan warna, desainer yang masuk dalam rekor MURI dalam desain bustier terbesar ini menggunakan warna-warna yang lebih atraktif.

"Warna yang sedang tren saat dalam fashion saat ini cenderung lebih berani dan mencolok," ungkap desainer berusia 41 tahun ini.

http://wolipop.detik..com/read/2011/...n-tenun-sambas



Quote:TENUN SAMBAS FOR GARUDA AIRLINE

Spoiler for Picture:


Sambas, sebuah kota yang berada di bagian barat pulau Kalimantan ini ternyata menyimpan kekayaan budaya dan fashion Indonesia. Kota yang bisa ditempuh selama 6 jam perjalanan darat dari kota Pontianak ini merupakan salah satu kota yang menghasilkan produk kain tenun-kain tenun cantik. Kain tenun merupakan salah satu warisan budaya yang mencerminkan jati diri sebuah bangsa. Motif, teknik, maupun corak dari sebuah produk tenun dapat mengidentifikasi masyarakat pembuatnya. Sebenarnya kain tenun khas Sambas sudah dikenal di Indonesia dan mancanegara sejak masa Kesultanan Sambas 300 tahun lalu. Namun, sayangnya seiring bergulirnya waktu, banyak masyarakat Indonesia saat ini yang belum terbiasa mendengar dan melihat kain tenun khas Sambas.

Pada umumnya, masyarakat Sambas adalah pengrajin tenun dan untuk masyarakat Kalimantan Barat, khususnya di Sambas, produk tenun bukanlah komoditi dagang yang asing bagi mereka. Kemampuan menenun masyarakat Sambas diperoleh secara turun-menurun dari generasi ke generasi, namun kembali disayangkan seiring dengan perkembangan jaman, ternyata kota kecil ini juga terkena pengaruh dampak kemajuan teknologi sehingga minat pemuda Sambas pada tenun pun menurun.

produk yang dihasilkan dari kain tenun sambasMenenun memang bukanlah pekerjaan utama masyarakat Sambas, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa produk tenun yang mereka hasilkan sangat membantu perekonomian keluarga. Beberapa pengrajin tenun Dusun Semberang, Desa Sumber Harapan, Sambas pun berhasil menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke jenjang universitas berkat produk tenun yang mereka hasilkan.

Sebagai salah satu upaya untuk melestarikan produk tenun khas Sambas, PT Garuda Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Propinsi Kalimantan Barat, dan Cita Tenun Indonesia (CTI) melaksanakan program pelatihan dan pengembangan industri tenun di Desa Sumber Harapan, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Propinsi Kalimantan Barat. Program pelatihan ini dimulai sejak bulan November 2010 dan melibatkan 24 orang pengrajin tenun di Desa Sumber Harapan, Sambas.

Quote:http://www.fimela.com/read/2011/10/1...i-tenun-sambas

Syaikh Khatib Sambasi

Putra Sambas Kalimantan Barat Yang Terkenal dan Berpengaruh di Tanah Jawa

Quote:


Quote:Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah
Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah adalah sebuah nama tarekat yang diberikan oleh Syaikh Khatib Sambasi. Tarekat ini populer dengan sebutan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah atau disingkat TQN. Syaikh Ahmad Khatib Sambas adalah putra Kalimantan Barat yang belajar agama Islam dan bermukim di Mekkah. Ia belajar Tasawuf pada guru Sufi Qadiriyah, Syaikh Syamsuddin, sampai mendapat derajat yang tertinggi menggantikan gurunya di Jabal Qubais. Oleh gurunya ia diangkat menjadi "Syaikh Mursyid Kamil al Mukammil", kemudian melanjutkan kegiatan gurunya di tempat tersebut dan mendapat sambutan yang sangat antusias terutama dari para pelajar asal Nusantara sejak awal abad ke 19. Pada tahun 1870, ia merumuskan tarekat baru yang disebut TQN. TQN merupakan penggabungan dua tarekat yang berbeda yaitu Qadiriyah dan Naqshabandiyah menjadi metode tersendiri yang praktis untuk menempuh jalan spiritual.

Perkembangan di Nusantara

Syaikh Ahmad Khatib Sambas adalah seorang ulama Indonesia paling berpengaruh sepanjang abad 19, beliau juga pendiri TQN yang tersebar luas di Nusantara, terutama di Jawa. Beliau juga dikenal sebagai cendekiawan ulung terutama di bidang ilmu agama, seperti Qur’an, hadits, fiqih, kalam, dan, tentu saja, tasawuf.
Nama lengkapnya ialah Syaikh Muhammad khatib bin Abdul Ghafar as Sambasi Al Jawi, lahir di Kampung Asam, Sambas, Kalimantan Barat, pada tahun 1805 M (1217 H). Setelah menyelesaikan pendidikan agama tingkat dasar, beliau pergi ke Mekah pada umur 19 tahun untuk memperdalam ilmu, dan beliau menetap di sana hingga akhir hayatnya, yakni saat beliau wafat pada 1872 M (1289 H). Di antara para gurunya adalah Syaikh Daud Ibn Abdullah al-Fathani, seorang alim besar dan mursyid tarekat Syattariyah. Syaikh al-Fatani inilah yang memperkenalkan Syaikh Ahmad Khatib kepada Syaikh Syamsuddin, seorang mursyid dari Tarekat Qadiriyyah. Peristiwa agak aneh dan menimbulkan tanda tanya, yakni mengapa Syaikh Ahmad Khatib Sambas tidak ikut pada tarekat guru pertamanya itu, padahal pada waktu itu Tarekat Syattariyyah bisa dikatakan cukup dominan dalam penyebarannya hingga akhir abad 19.
Syaikh Syamsuddin ini amat mempengaruhi kehidupan Syaikh Ahmad Khatib Sambas, dan Syaikh Ahmad Khatib menjadi muridnya yang terbaik. Kelak Syaikh Ahmad Khatib inilah yang menggantikan posisi gurunya sebagai mursyid Tarekat Qadiriyyah. Tetapi tidak diketahui dengan pasti dari siapa Syaikh Ahmad Khatib Sambas menerima ijazah Tarekat Naqsyabandiyyah. Syaikh Ahmad Khatib Sambas adalah mursyid dari dua tarekat, meskipun kemudian dia tidak mengajarkannya secara terpisah, melainkan dikombinasikan. Kombinasi ini bisa dianggap sebagai bentuk tarekat baru yang berbeda dari dua tarekat sumbernya. Karenanya di Indonesia beliau dikenal sebagai pendiri Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah. Penyebaran tarekat ini juga dibantu oleh tersebar luasnya kitab karangan beliau, Fath al-Arifin, salah satu karya paling populer untuk praktik sufi di dunia Melayu. Kitab ini menjelaskan unsur-unsur dasar ajaran sufi, seperti baiat, zikir, muraqabah, silsilah (mata rantai spiritual) TQN.
Dalam perkembangannya di Indonesia, tarekat ini disebarkan sejak datangnya murid Syaikh Akhmad Khatib Sambas. Di Kalimantan Barat, tarekat ini disebarkan oleh dua orang muridnya, yaitu Syaikh Nuruddin ( berasal dari Filipina) dan Syaikh Muhammad Saad (asli Sambas)

Quote:
Sumber

Cerita Rakyat Sambas

Quote:Bujang Nadi dan Dare Nandung

Quote:Pada zaman dahulu ketika keturunan Sultan sedang pergi berburu ke hutan, ketika sedang asik berburu tetapi bukan buruan yang didapatkan, tiba-tiba rombongan dikejutkan dengan tangisan suara bayi. Semua rombongan berpikir” di hutan belantara seperti ini dari mana asal suara tangisan bayi tersebut” ujar keturunan Sultan tersebut. Keturunan Sultan tersebut langsung memberikan perintah kepada seluruh prajurit yang ikut berburu untuk mencari dari mana suara bayi berasal. Setelah sekian lama mencari ternyata suara bayi tersebut berasal dari rumpun bambu, prajurit langsung diperintah untuk menebang pohon bambu tersebut, tanpa di duga dan di sangka semua rombongan di kejutkan dengan kehadiran seorang bayi yang berasal dari balik rumpun bambu. Tanpa pikir panjang, di dampingi dengan perasaan panik keturunan Sultan yang memimpin kegiatan berburu langsung memberikan perintah kepada seluruh anak buahnya untuk membawa bayi yang ditemukan di dalam bambu tersebut di bawa ke Istana untuk di temukan dengan Sultan Sambas. Secara kebetulan Sultan Sambas juga belum mempunyai anak, jadi bayi yang di temukan di hutan tadi langsung di angkat oleh Suultan Sambas untuk menjadi anaknya dan di beri nama TanNunggal. Mengapa bayi yang di temukan di dalam rumpun bambu tersebut diberi nama TanNunggal?????

Pada zaman dahulu setiap keturunan Sultan pasti di panggil dengan sebutan “Tan”, kebetulan bayi yang di temukan di dalam rumpun bambu tersebut memiliki gigi yang aneh kalau di bandingkan dengan manusia biasa atau manusia normal. Dari rahang kiri sampai rahang kanan gigi bayi tersebut menyatu seolah-olah hanya memiliki satu gigi atau sering di sebut dengan gigi tunggal, padahal kalau manusia biasa giginya tidak mungkin menyatu atau terdiri dari beberapa buah gigi, sehingga bayi tersebut di beri nam TanNunggal.

TanNunggal dibesarkan di lingkungan istana Sambas layaknya seperti anak sendiri, sehingga TanNunggal menjadi tumbuh dewasa dengan gagah berani dan dipercaya akan menggantikan posisi bapaknya (sultan Sambas) memimpin kerajaan Sambas. Pada saat TanNunggal memerintah kerajaan Sambas dia menyunting rakyat biasa menjadi istrinya dan dikaruniai dua orang anak, yaitu laki-laki dan perempuan, yang laki-laki diberi nama Nadi dan yang perempuan diberi nama Nandong. Dalam kebiasaan masyarakat Sambas biasanya anak laki-laki sering dipanggil dengan sebutan Bujang dan yang perempuan dipanggil dengan sebutan Dare, maka jelaslah anak tersebut dipanggil dengan Bujang Nadi dan Dare Nandong. Pada saat TanNunggal berkuasa di Sambas, raja TanNunggal terkenal dengan raja yang kejam karena sifatnya yang sombong dengan rakyat. Dia memimpin dengan sewenang-wenang, apa yang ia katakan dan semua keinginannya harus dilaksanakan walaupun hal tersebut dibenci oleh rakyat Sambas, banyak hal yang terjadi sehingga TanNunggal dikatakan raja yang kejam dan zalim. Pernah pada suatu saat rakyat Sambas digemparkan dengan kejadian yang sangat mengejutkan sampai-sampai TanNunggal dikatakan manusia setengah siluman.

Pada saat ia memimpin TanNuanggal paling senang makan sambal asam, pada hari itu tukang masak kerajaan atau tukang buat sambal asam terlambat membuat sambal asam, sedangkan jam makan siang TanNunggal sudah sebentar lagi, jadi si tukang masak tergesa-gesa untuk membuat sambal asam untuk TanNunggal sedangkan dia sudah tahu bahwa TanNunggal tidak mau memakan tanpa sambal asam bahkan TanNunggal bisa marah, begitu takut dimarah TanNunggal si tukang masak tergesa-gesa untuk membuat sambal asam sampai-sampai jari kelingkingnya teriris lalu darahnya menetes ke dalam sambal asam yang dibuat tadi, karena waktu yang sudah sangat singkat lalu si tukang masak itu langsung mengaduk darah yang menetes tadi ke dalam sambal asam yang ia buat karena ia berpikir tidak sempat lagi membuat sambal asam yang baru. Sambal asam tersebut langsung disajikan di meja makan TanNunggal, begitu memakan sambal tersebut TanNunggal sangat kenyamanan dia berpikir “Mengapa ya sambal asam pada hari ini sangat enak berbeda dengan hari biasanya”. Lalu TanNunggal bertanya kepada si tukang masak. Si tukang masak pun tidak berani untuk berbohong, ia menceritakan bahwa sambal asam itu sudah bercampur dengan darahnya sendiri. Semenjak kejadian itu TanNunggal memerintahkan kepada tukang masak setiap kali membuat sambal asam harus dicampur dengan darah manusia.

Kembali ke cerita Bujang Nadi dan Dare Nandong, pada masa hidupnya Bujang Nadi sangat suka memelihara ayam jago dan Dare Nandong paling suka untuk menenun kain sampai-sampai dia pernah mendapatkan hadiah berupa mesin tenun yang berlapis emas, tiap hari Bujang Nadi dan Dare Nandong hanya diperbolehkan bermain berdua saja melainkan hanya berteman dengan ayam jago dan alat tenun milik Dare Nandong karena TanNunggal sangat membenci mereka jika dia berteman dengan rakyat biasa.

Pada suatu kejadian, ketika Bujang Nadi dan Dare Nandong sedang asik barmain di taman istana tanpa sadar mereka di intip oleh seorang pengawal istana, tepat pada saat itu Bujang Nadi dan Dare Nandong sedang asik bercerita tentang perkimpoian.
Bujang Nadi : dik, jika kamu ingin mencari pasangan hidup. Pasangan hidup seperti apa yang kamu idamkan?
Dare Nandong : adik sangat mengharapakan, nanti calon suami adik mirip dangan abang, baik itu dari segi gantengnya, gagahnya, dan sikapnya harus seperti abang. Sedangkan abang, istri seperti apa yang abang inginkan?
Bujang Nadi : abang juga berkehendak demikian, abang sangat mengharapkan istri abang nantinya seperti adik cantiknya dan tentunya hati istri abang juga seperti adik lembutnya.

Mendengar percakapan kakak adik tersebut pengawal kerajaan yang sedang mengintip tadi salah artikan, dia berpikir kakak adik tersebut ingin melakukan perkimpoian sedarah, tanpa berpikir panjang sang pengawal kerajaan itu langsung melaporkan kejadian tersebut kepada TanNunggal. Raja TanNunggal sangat terkejut, dia sangat malu dengan kejadian itu, sebelum anaknya berbuat hal yang dapat merusak citra atau nama baik kerajaan Sambas bahkan dapat memberikan aib bagi kerajaan, padahal apa yang iya dengar semuanya salah belaka. TanNunggal langsung memerintahkan kepada prajuritnya untuk mengubur kedua anaknya yaitu Bujang Nadi dan Dare Nandong beserta dengan ayam jago milik Bujang Nadi dan mesin tenun milik Dare Nandong. Kemudaian kedua kakak adik tersebut di kubur hidup-hidup di daerah Sebedang Kecamatan Tebas tentunya masih di Kabupaten Sambas.

Konon katanya masyarakat setempat sampai pada saat ini masih percaya bahwa kuburan tersebut sangat angker karena setiap malam jumat sering mendengar kokokan suara ayam jantan yang berasal dari kuburan Bujang Nadi dan Dare Nandong yang di kubur dalam satu makam, bahkan kadang-kadang terdengar suara orang sedang menenun kain yang juga berasal dari kuburan tersebut yang di duga milik Dare Nandong.


Spoiler for Danau Sebedang:

Cerita Rakyat Sambas II

Quote:Batu Ballah Batu Betangkop

Quote:Kononnya, pada waktu dahulu ada sebuah gua ajaib di daerah sambas. Gua ini digelar batu belah batu bertangkup dan amat ditakuti oleh ramai penduduk kampung. Pintu gua ini boleh terbuka dan tertutup bila diseru dan sesiapa yang termasuk ke dalam gua itu tidak dapat keluar lagi.

Suatu masa dahulu di sebuah kampung yang bernama pemangkat yang berdekatan dengan gua ajaib ini, tinggal Mak Tanjung bersama dua orang anaknya, Melur dan Pekan. Mak Tanjung asyik bersedih kerana baru kehilangan suami dan terpaksa menjaga kedua-dua anaknya dalam keadaan yang miskin dan daif.

Pada suatu hari, Mak Tanjung teringin makan telur ikan tembakul. Dia pun pergi ke sungai untuk menangkapnya. Bukan main suka hatinya apabila dapat seekor ikan tembakul.

"Wah, besarnya ikan yang mak dapat !" teriak Pekan kegembiraan.

" Ya, ini ikan tembakul namanya. Mak rasa ikan ini ada telurnya. Sudah lama mak teringin untuk memakan telur ikan tembakul ini," kata Mak Tanjung.

Mak Tanjung terus menyiang ikan tembakul itu. Dia pun memberikan kepada Melur untuk dimasak gulai.

" Masaklah gulai ikan dan goreng telur ikan tembakul ini. Mak hendak ke hutan mencari kayu. Jika mak lambat pulang, Melur makanlah dahulu bersama Pekan. Tapi, jangan lupa untuk tinggalkan telur ikan tembakul untuk mak," pesan Mak Tanjung kepada Melur.

Setelah selesai memasak gulai ikan tembakul, Melur menggoreng telur ikan tembakul pula. Dia terus menyimpan sedikit telur ikan itu di dalam bakul untuk ibunya. Melur dan Pekan tunggu hingga tengah hari tetapi ibu mereka tidak pulang juga. Pekan mula menangis kerana lapar. Melur terus menyajikan nasi, telur ikan dan gulai ikan tembakul untuk dimakan bersama Pekan.

" Hmmm..sedap betul telur ikan ini," kata Pekan sambil menikmati telur ikan goreng.

" Eh Pekan, janganlah asyik makan telur ikan sahaja. Makanlah nasi dan gulai juga," pesan Melur kepada Pekan.

" Kakak, telur ikan sudah habis. Berilah Pekan lagi. Belum puas rasanya makan telur ikan tembakul ini ," minta Pekan.

" Eh, telur ikan ini memang tidak banyak. Nah, ambil bahagian kakak ini," jawab Melur.

Pekan terus memakan telur ikan kepunyaan kakaknya itu tanpa berfikir lagi. Enak betul rasa telur ikan tembakul itu! Setelah habis telur ikan dimakannya, Pekan meminta lagi.

" Kak, Pekan hendak lagi telur ikan," minta Pekan kepada Melur.

" Eh , mana ada lagi ! Pekan makan sahaja nasi dan gulai ikan. Lagipun, telur ikan yang tinggal itu untuk mak. Mak sudah pesan dengan kakak supaya menyimpankan sedikit telur ikan untuknya ," kata Melur.

Namun, Pekan tetap mendesak dan terus menangis. Puas Melur memujuknya tetapi Pekan tetap berdegil. Tiba-tiba, Pekan berlari dan mencapai telur ikan yang disimpan oleh Melur untuk ibunya.

" Hah, rupa-rupanya ada lagi telur ikan! " teriak Pekan dengan gembiranya.

" Pekan! Jangan makan telur itu! Kakak simpankan untuk mak," teriak Melur.

Malangnya, Pekan tidak mempedulikan teriakan kakaknya, Melur dan terus memakan telur ikan itu sehingga habis. Tidak lama kemudian, Mak Tanjung pun pulang. Melur terus menyajikan makanan untuk ibunya.

" Mana telur ikan tembakul, Melur? " tanya Mak Tanjung.

" Err... Melur ada simpankan untuk mak, tetapi Pekan telah menghabiskannya. Melur cuba melarangnya tetapi...."

" Jadi, tiada sedikit pun lagi untuk mak? " tanya Mak Tanjung.

Melur tidak menjawab kerana berasa serba salah. Dia sedih melihat ibunya yang begitu hampa kerana tidak dapat makan telur ikan tembakul.

" Mak sebenarnya tersangat ingin memakan telur ikan tembakul itu. Tetapi...." sebak rasanya hati Mak Tanjung kerana terlau sedih dengan perbuatan anaknya, Pekan itu.

Mak Tanjung memandang Melur dan Pekan dengan penuh kesedihan lalu berjalan menuju ke hutan. Hatinya bertambah pilu apabila mengenangkan arwah suaminya dan merasakan dirinya tidak dikasihi lagi. Mak Tanjung pasti anak-anaknya tidak menyanyanginya lagi kerana sanggup melukakan hatinya sebegitu rupa.

Melur dan Pekan terus mengejar ibu mereka dari belakang. Mereka berteriak sambil menangis memujuk ibu mereka supaya pulang.

" Mak, jangan tinggalkkan Pekan! Pekan minta maaf ! Mak...." jerit Pekan sekuat hatinya.

Melur turut menangis dan berteriak, " Mak, Kasihanilah kami! Mak!"

Melur dan Pekan bimbang kalau-kalau ibu mereka merajuk dan akan pergi ke gua batu belah batu bertangkup. Mereka terus berlari untuk mendapatkan Mak Tanjung.

Malangnya, Melur dan Pekan sudah terlambat. Mak Tanjung tidak mempedulikan rayuan Melur dan Pekan lalu terus menyeru gua batu belah batu bertangkup agar membuka pintu. Sebaik sahaja Mak Tanjung melangkah masuk, pintu gua ajaib itu pun tertutup.

Melur dan Pekan menangis sekuat hati mereka di hadapan gua batu belah batu bertangkup. Namun ibu mereka tidak kelihatan juga.

Dan sampai sekarang tempat itu disebut tanjung batu yang terletak di Kecamatan Pemangkat.


Spoiler for Tanjung Baru:


Quote:Sumber

|Sintang| Asal-Usul Lambang Garuda (Pancasila) [Indonesia] Part 1


Quote:
Setelah Raden Syamsuddin diberhentikan oleh pemerintah NICA (Belanda) dari jabatan Panembahan, maka di Sintang hanya ada pemerintahan tunggal yaitu NICA dengan Beuwkes sebagai assisten residet. Susunan tata pemerintahan kerajaan disempurnakan berdasarkan pengakuan terhadap 12 daerah pemerintahan swapraja dan 3 daerah Neo Swapraja yang diakui oleh pemerintahan Hindia Belanda sejak tahun 1926 dengan staatsblad 1948 (hasan, Syamsuddin, 1973). Dengan perkembangan inilah dalam tahun 1947 diangkat Ade Muhammad Djohan sebagai Ketua Majelis Kerajaan Sintang. Ke 12 daerah Swapraja serta 3 daerah Neo Swapraja ini membentuk suatu gabungan yang merupakan sebuah Federasi. Federasi ini oleh pemerintah NICA diakui sebagai daerah Istimewa dengan pemerintahan sendiri melalui sebuah Dewan yang disebut Dewan Kalimantan Barat (DKB), dan daerahnya disebut Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB). Pengakuan ini dikeluarkan oleh Letnan Gubernur Jendral, tanggal 2 Maret 1948 (Staatsblad 1948 No. 58), (sumber buku “Wajah Kalimantan Barat” Hal. 14).

Usia DIKB tidak lama, karena dengan surat keputusan No. 234/R dan 235/R tanggal 7 Mei 1950 menyerahkan wewenang pemerintahannya kepada Resident Kalimantan Barat di Pontianak sebagai wakil pemerintah Pusat RIS di saat itu. Kemudian Menteri Dalam Negeri RIS mengeluarkan surat keputusan No. B.Z. 17/2/47 tertanggal 24 Mei 1950 yang menetapkan bahwa Pemerintahan di Kalimantan Barat dijalankan oleh Residen Kalimantan Barat berlandaskan pasal 54 Konstitusi RIS.

Saat Ade Mohammad Djohan diangkat menjadi Ketua Mejelis Kerajaan Sintang, beliau juga terpilih sebagai anggota DPR wakil Kalimantan Barat. Dari jabatan itu hubungan persahabatan keduanya semakin dekat, apalagi saat itu Sultan Hamid II sebagai Menteri Negara Zonder Porto Folio berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) No. 2 tahun 1949 dipercaya untuk mengkoordinir kegiatan perancangan lambang Negara. Sehubungan dengan penugasan itu beliau mulai melakukan pendekatan ke berbagai kalangan termasuk melakukan studi komperatif atas lambing Negara barat maupun timur. Dalam rangka mencari ide untuk membuat lambang Negara, terdapat kesempatan Sultan Hamid II berbicara kepada Ade Mohammad Djohan (sebagai kepala Swapraja Sintang anggota parlemen RIS). Ade Mohammad Djohan menyatakan bahwa lambang kerajaan Sintang adalah Burung Garuda. Mendengar ucapan Ade Mohammad Djohan, Sultan Hamid sangat tertarik dan sejak itu baik di Jakarta ataupun di Pontianak terjadi diskusi yang sangat intensif antara keduanya. Akhir dari semua itu Sultan Hamid II memberitahukan kepada Ade Mohammad Djohan bahwa beliau telah memutuskan akan membuat rancangan Lambang Negara RIS berbentuk Burung Garuda.



|Sintang| Asal-Usul Lambang Garuda (Pancasila) [Indonesia] Part 2

Quote:Berhubung dengan itu Sultan Hamid II pada bulan Januari 1950 berkunjung ke Kapuas Hulu dan dengan sengaja singgah di kesultanan Sintang untuk membuktikan sebuah fakta yang yang pernah dibicarakan dengan Ade Mohammad Djohan tentang lambang kerajaan Sintang. Pada saat Sultan Hamid melihat fakta yang ada, beliau kagum dan sangat tertarik. Oleh karena itu Sultan Hamid II segera meminjamkan burung Garuda sebagai lambang kerajaan Sintang untuk dibawa ke Pontianak. Burung Garuda yang dipinjam oleh Sultan Hamid sat itu adalah berukuran kecil yang menghiasi puncak penyangga tiang Gantungan Gong yang dibawa Patih Lohgender dari Majapahit.

Saat itu pihak swapraja Sintang tak keberatan, namun dengan beberapa syarat, salah satunya Sultan Hamid harus menandatangani semacam berita acara peminjaman, dan waktu peminjaman sendiri tak boleh lebih dari 1 bulan. Fakta bahwa bentuk Burung Garuda yang pernah dibawa Sultan Hamid II tersebut kini di Simpan di Istana Kesultanan Sintang, yang telah ratusan tahun lalu menjadi pusat Kerajaan Sintang.

Menurut A.M Sulaiman (83) salah seorang pegawai swapraja Sintang yang turut menjadi saksi peminjaman lambang kerajaan Sintang oleh Sultan Hamid II pada masa itu, juga membenarkan adanya peminjaman tersebut. Sebagai saksi hidup peminjaman, beliau juga menyatakan, tak bermaksud menyangkal fakta sejarah bahwa Sultan Hamid II yang mengusulkan Burung Garuda Sebagai lambang negara, namun mereka hanya berharap ada pelurusan kronologi sejarah. Faktanya adalah Sultan Hamid II memang meminjam lambang kerajaan Sintang yang berbentuk Burung Garuda. Faktanya lambang tersebut menjadi acuan Sultan Hamid mengusulkan Burung Garuda Sebagai Lambang Negara.” Ditambahkan lagi olehnya saat dialog antara keduanya, Ade Mohammad Djohan mengusulkan kepada Sultan Hamid II untuk mengusulkan Burung Murai sebagai lambang Negara, karena burung murai adalah burung pembersih atau rajin artinya tidak mau bermain-main ditempat yang kotor, oleh sebab itu apabila kita lihat sarang burung murai selalu dalam keadaan bersih.

Diskursus mengenai kronologi terciptanya lambang negara Indonesia kembali dibuka, pasalnya meski sejarah negara ini menyatakan bahwa ide penggunaan Burung Garuda sebagai lambang negara ini diperkenalkan oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, namun ternyata lambang yang dibawa oleh Sultan Hamid tersebut dipinjam dari lambang kerajaan Sintang. Apabila Sultan Hamid II tidak meminjam burung Garuda yang menjadi lambang kerajaan Sintang saat itu, besar kemungkinan rancangan lambang Negara yang diusulkan oleh Sultan Hamid II bisa jadi dengan bentuk dan nama lain seperti yang diusulkan oleh anggota panitia lainnya.

Kalau kita amati secara mendalam, lambang Negara Republik Indonesia “Lahir Dari Sintang” sudah tepat, karena bahan yang dipinjam oleh Sultan Hamid II berbentuk fisik dan bukan sketsa gambar garuda di berbagai candi di pulau Jawa seperti yang dikirimkan oleh K.H. Dewantara kepada Sultan Hamid II, apalagi seperti pernyatan J.U Lontaan yang menyatakan: "Ukiran burung Garuda. Tak berbeda dengan gambar burung garuda lambang bangsa Indonesia", Lambang kerajaan Sintang dengan nama Burung Garuda, sedangkan Lambang Negara oleh Sultan Hamid II menamakan Elang Rajawali Garuda Pancasila. Dan baru diatur dalam amandemen kedua UUD 1945 pada tahun 2000 barulah dicantumkan bahwa “Garuda Pancasila” merupakan Lambang Negara Indonesia.

Oleh sebab itu lambang Negara Republik Indonesia lahir dari lambang kerajaan Sintang sudah sangat jelas sekali karena artefak burung Garuda itu sendiri masih utuh dan terpelihara dengan baik, bahkan dalam rangka memperingati “60 tahun Garuda Pancasila” oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melalui Museum Konperensi Asia Afrika Bandung meminjam artefak burung Garuda itu untuk dijadikan icon pameran "60 tahun Garuda Pancasila". Karena pameran itu mendapat sambutan puluhan ribu pengunjung, maka pihak kementerian luar negeri melalui museum konperensi Asia Afrika memperpanjang peminjaman untuk tingkat Asia di Bandung sehingga peminjaman artefak tersebut menjadi 6 (enam) bulan lamanya. Alhasil artefak burung Garuda yang berasal dari eks kerajaan Sintang mampu menyedot puluhan bahkan ratusan ribu pengunjung dari berbagai lapisan masyarakat
.

Quote:SUMBER
http://sintangculture.blogspot.com/2...n-sintang.html

Upacara Adat Sambas :TEPUNG TAWAR

Quote:Upacara Adat Sambas : TERUNG TAWAR

Quote:Adat dan upacara adat yang disebut Tepung Tawar merupakan salah satu bentuk adat dari sekian banyak bentuk adat berserta upacaranya, yang sejak ratusan tahun silam telah di kenal dan diapresiasi cukup baik oleh masyarakat Melayu Sambas. Tepung Tawar mulai dikenal masyarakat Malayu Sambas, belum di dapatkan data yang jelas. Namun bila disimak dari pelaksanaan upacaranya, acara tepung tawar ini mulai sejalan dangan mulai pesatnya ajaran agama Islam yang di sebarkan ke daerah ini oleh para mubaliq, baik yang datang dari Arab, Sumatera, Malaysia, Thailand (patani), dan pulau-pulau lainnya.
Upacara adapt Tepung Tawar terdapat juga pada masyarakat didaera Melayu Pontianak, Mempawah, Ngabang, Ketapang, Sintang, Sanggau dan Kapuas Hulu. Fungsi dan tujuan Tepung Tawar senantiasa menunjukkan persamaan, apabila terdapat perbedaan, kemungkinan dalam sebutan atau dialok bahasa setempat.
Kata Tepung Tawar kalau ditinjau dari bahasa Indonesia terdiri dari kata Tepung dan kata Tawar yang bermakna tepung yang rasanya tawar dan tidak asin. Memang salah satu perlengkapan Tepung Tawar terdiri dari tepung beras tersebut. Tetapi didalam bahasa Melayu Sambas kata ”tawar” mendekati kata “jampi” atau “mantra” bukan lawan kata asin “air tawar” bermakna air yang telah di jampi atau dibacakan doa oleh tetua-tetua kampong.


Quote:

Quote:
A. Tepung Tawar

Acara dan upacara Tepung Tawar olah masyarakat Melayu Sambas dilakukan dlam berbagai kegiatan. Pada umumnya meliputi siklus daur) kehidupan manusia,artinya Tepung tawar dilakukan pada saat pelaksanaan perkimpoian, saat si Ibu melahirkan anak pertamanya. Dan pada saat sebuah keluarga mendapat musibah meninggal dunia. Pada masa-masa tertentu. Yaitu terjadinya kejadian atau pristiwa sangat penting dalam masyarakat Melayu Sambas juga dilakukan acara Tepung Tawar. Contoh beberapa kejadian atau pristiwa penting secara singkat diuraikan sebagai berikut.

1. Pada pelaksanaan perkimpoian, Tepung Tawar dilakukan terhadap kedua pengantin, yang dilakukan pada hari ketiga setelah hari pesta kimpoi. Setelah Tepung Tawar dilaksanakan, dilanjutkan dengan acara adat “mandi bululus” dan acara “balik tikar”

2. Calon ibu yang kehamilan pertamanya memasuki usia tujuh bulan dan usia sembilan bulan, melakukan Tepung Tawar tujuh bulan. Tepung Tawar sembilan bulan (disebut juga”Tepung Tawar”atau “Belenggang”) ketika sang bayi berusia 40 hari dilakukan pada acara Tepung Tawar bayi dan kedua suami-istri.

3. Bila ada keluarga yang menempati rumah baru (pindah rumah maka di lakukan pula acara Tepung Tawar)

4. Tepung Tawar dilaksanakan juga bila ada anak laki-laki yang akan dikhitan.

5. demikian juga keluarga yang salah seorang anggota keluarganya meninggal, pada hari-hari tertentu setelah hari penguburan akan dilaksanakan acara Tepung Tawar bagi keluarga yang ditinggalkan.

Maksud dan fungsi mengadakan acara Tepung Tawar ini adalah untuk memohon keselamatan dan terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan, yang tentunya di tunjukkan krpada Allah Swt. Yang menciptakan manusia dan alam raya. Inilah barang kali tujuan pokok, disamping adanya tujuan lain yang tersirat dari upacara Tepung Tawar tersebut. Pada akhir dari acara Tepung Tawar senantiasa dipanjatkan doa selamat oleh tokoh dan tua-tua kampong.


Quote:B. Pelaksanaan Tepung Tawar

Manjelang pelaksanaan Tepung Tawar, diperlukan persiapan, perlengkapan, tenaga pelaksanaan, dan lain-lain. Berikut ini uraian secara ringkas hal-hal yang harus ada dan dipersiapkan dalam ritual Tepung Tawar tersebut.
1. Waktu pelaksanaan tepung tawar umumnya pada baiyi atau pada sing hari, bertempat dirumah atau orang yang hajatan. (bersangkutan)

2. Pelaksanaannya terdiri antara lain :
a. Satu buah mangkok putih tempat tepung beras yang telah di hancurkan dengan air tolak bala, yaitu segelas air putih yang di bacakan doa tolak bala. Selain untuk menghancurkan tepung beras, air tawar tolak bala digunakan juga untuk diminum atau untuk disiramkan di kepala yang ditepung tawari.

b. Beberapa helai daun lenjuang ungu, daun mentibar (disebut daun ntibar), dan beberapa helai daun ribu-ribu.

c. Sebentuk cincin emas atau perak, terutama pada tepung tawar mandi belulus pengantin. Cincing tersebut diikatkan pada anyaman daun kelapa muda.

d. Beras kuning secukupnya.

e. Sebuah talam kecil tempat meletakkan mangkuk.

Sambung : TEPUNG TAWAR

Quote:Orang di minta untuk melaksanakan Tepung Tawar disebut “Tukang Pappas”. Pelaksanaan di sebut “mappas”. Tukang Pappas ini biasanya orang-orang tua di kampung, keluarga tua terdekat, dan lain-lain. Jumlah tukang pappas selamanya ganjil, misalnya 3,5 atau 7 orang. Jumlah ganjil ini memang telah ditentukan adat. Kalau dilakukan laki-laki atau perempuan maka jumlahnya di atur, misalnya kalau lima orang, dibagi 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Kalau Pemappas sebanyak 7 orang dapat di bagi lima laki-laki, dua orang perempuan atau 3 orang perempuan dan empat orang laki-laki, dan seterusnya. Tiga jenis daun tersebut di atas diikat dijadikan satu berikut cincin, diletakkan disamping mangkuk berisi air tupung beras. Beras kuning dimasukkan kedalam gelas kecil, diletakkan di samping mangkuk.
Setelah sesuatu lengkap dan maka acara Tepung Tawar dilaksanakan. Untuk pelaksanaan penulis mengambil contoh acara Tepung Tawar pindah rumah baru. Acara ini biasanya dilaksanakan pada hari jumat pagi. Pada malam jumat biasanya dilakukan pembacaan surat yasin oleh para tamu. Pada saat selesai membaca surat yasin dan doa maka tamu di sungguhi jamuan berupa nasi, kue-kue sop kimlo, besok paginya tetamu yang hadir tersebut di manta untuk hadir pula sekitar pukul 5.30 WIB atau pukul enam pagi.
Keluarga yang pindah rumah duduk dilantai beralaskan tikar. Sang ibu di samping bapak, di kiri atau kanan duduk anak-anak mereka . Posisi duduk dengan melonjorkan kedua kaki ke depan. Busana yang di pakai bebas, rapi, dan bersih. Kopiah yang di pakai di tanggalkan dan kedua tangan di atas lutut dengan tapak tangan terbuka.
Setelah siap maka tibalah orang pertama Tukang Pappas melaksanakan tugasnya. Mangkuk berisi air tepung beras dipegang dengan tangan kiri, yangan kanan memengan ikatan daun lenjuang ,ntibar, daun ribu-ribu. Ikatan daun dicelupkan kedalam mangkuk, kemudian dengan perlahan-lahan dipukul-pukulkan ke bahu kanan dan kiri si Bapak, kemudian dipukulkan pada kedua tapak tangan, setelah itu, pada kedua kaki. Hal yang sama dilakukan juga kepada si Ibu, anak tertua, dan anak berikut sehingga selesai.
Setelah memappas maka si Bapak, Ibi, dan anak-anak ditaburi beras kuning pada kepalanya. Setelah selesai tukang pappas pertama, dilanjutkan oleh Tukang Pappas kedua, dilanjutkan oleh Tukang Pappas ketiga, keempat, dan seterusnya sesuai dengan jumlah pemappasan yang telah ditentukan.
Tukang Pappas terakhir sedikit berbeda dengan Tukang Pappas sebelumnya. Pappasan terakhir, setelah melakukan pappasan seperti Pemappasan terdahulu, Pemappasan terakhir harus pyla memappas bagian-bagian rumah yang dipindahi, yaitu memeppas keempat sudut (tiag sudut) rumah, dimulai dari sudut kanan luar rumah, kemudian menuju ke belakang rumah. Setelah selesai, daun (ikatan daun) dan air tepung tawar dibuang ketempat khusus di belakang rumah.
Keluarga yang ditepung tawari diberi minum air tolak bala kemudian mandi. Suguhan jamuan pada pagi ituselalu berupa kue-kue sebanyak 5 sampai 8 macam. Diadatkan pula untuk tetep menyuguhkan kue apam beras, ketupat ketan, dan bertih yang diberi gulla merah. Minumannya selalu manis seperti kopi atau kopi susu.
Secara garis besar dan umum dilakukan adalah seperti acara Tepung Tawar pindah rumah baru. Pada acara Tepung Tawar pengantin mandi belullus acara tambahan adalah meniup Tawar yang diletakkan di dalam “dulapan” berisi beras, padi, gula pasir, kelapa, dan lain-lain. Lilin sebanyak 5 sampai 7 buah ditiupkan secara bersamaan oleh kedua pengantin. Setelah itu di lanjutkan dengan mandi bersama yang dilakukan siraman oleh beberapa “tukang siram” dari para tetamu yang di undang.
Pada acara ini salah seorang penyiram melakukan sesuatu yang tidak diduga sebelumnya. Setelah ia melakukan siraman satu atau dua kali, Siraman ketiga bukan ditujukan kepada kedua pengantin tetapi diarahkan dan ditujukan kepada tetamuyang menyaksikan. Tentu saja tetamu yang terkena siraman iar basah kuyup dan ia pun secara spontan mengambil gayung dan menyiram tetamu yang belum terkena siraman. Suasana menjadi ramai dan tawa berkepanjangan.
Selesai acara mandi-mandi ini, dilanjutkan dengan lagi acara “balik tikar” dengan tata cara tertentu pula. Tepung Tawar pengantin jamuan yang di hidangkan biasanya berdentuk makan nasi “bersaprah” (makan beregu).
Pada Tepung Tawar kehamilan pertama berusia tujuh bulan yang ditepung tawari adalah si Ibu yang hamil. Pada acara Tepung Tawar kehamilan berusia atau memasuki usia sembilan bulan, Tepung Tawar ini disebut “Belenggang atau Tepung Tawar Minyak”. Sebelum ditepung tawari cara biasa, si Ibu berbaring diatas tempat tidur ber Alaskan kain batik. Seorang bidan (dukun beranak) yang telah di “tampah” lama sebelumnya mengurut-urut perut si Ibu. Selesai urutan pertama, kain batik pertama diambil demikian dilakukan sampai ketujuh kain ditarik dari alas si Ibu.
Pada saat itu, adapt Tepung Tawar Belenggang sudah jarang dilakukan. Tepung Tawar setelah si bayi berusia empat puluh hari yang kemudian dilanjutkan dengan acara “injak bumi” juga agak jarang dilakukan. Hal ini tidak dilakukan lagi mungkin disebabkan banyaknya perlrngkapan yang diperlukan, misalnya tanah yang akan diinjak si bayi haruslah tanah yang di ambil dimekah, saat orang naik haji.


Quote:C. Adat Tepung Tawar ke Depan

Bentuk aspek seni budaya dapat hilang atau mati karena kehilamhan fungsinya dalam masyarakat pendukung. Hilangnya fingsi tersebut karena factor internal dan eksternal, factor ekternal karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup membawa pengaruh dalam budaya lokal sehingga terjadi gesekan dan benturan yang berdampak negative, seperti perubahan nilai-nilai, pola piker dan pola tingkah laku dalam hidup bermasyarakat dan budaya.


Spoiler for Pappas:


Quote:SUMBER

Wapres Buka MTQ Internasional di Pontianak



inilah..com, Pontianak - Memenuhi undangan Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama KH. Said Aqil Siradj, Wakil Presiden (Wapres) Boediono hadir dan membuka Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-7 Antar Pondok Pesantren, MTQ Internasional ke-1 antar Lembaga Al Qur’an dan Musyawarah Nasional ke-4 Jam’iyyatul Qurra’wal Huffazh Nahdlatul Ulama Tahun 2012 di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman, Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (3/7) malam.

Wakil Presiden yang didampingi Ibu Herawati Boediono beserta rombongan tiba di Pontianak pada Selasa (3/7) sore dan memulai rangkaian kegiatan dengan membuka pameran Kalbar Expo 2012 yang ditandai dengan pengguntingan pita.

Setelah berkeliling stand selama lebih kurang 30 menit, Wapres beserta rombongan menuju Stadion Sultan Syarif Abdurrahman untuk membuka kegiatan.

Pelaksanaan pembukaan yang berlangsung meriah diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh perwakilan Qori’ dan Qori’ah dengan tampilan visual yang disesuaikan dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang sedang dibacakan, dilanjutkan dengan laporan ketua umum Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra’wal Huffazh Nahdlatul Ulama K.H. A. Muhaimmin Zen, penyerahan piala bergilir, ucapan selamat datang dari Gubernur Kalimantan Barat Kornelis, M.H, dan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj.

Setelah menyampaikan amanatnya, Wapres Boediono membuka resmi MTQ International. "Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahiim saya buka secara resmi Musabaqah Tilawatil Qur'an Nasional Ke-7 Antar Pondok Pesantren, Musabaqah Tilawatil Qur'an Internasional Ke-1 Antar Lembaga Al-Quran, serta Musyawarah Nasional Ke-4 Jam'iyyatul Qurra'wal Huffazh Tahun 2012. Selamat berlomba dan selamat bermusyawarah. Semoga Allah SWT selalu meridhoi langkah kita semua.” ujarnya.

Usai pembukaan oleh Wapres Boediono, acara dilanjutkan dengan Pengibaran bendera Jam’iyyatul Qurra’wal Huffazh Nahdlatul Ulama, dan pembacaan doa. Acara ditutup dengan defile kafilah dan pagelaran kesenian tarian kolosal Getar Tahar NKRI yang diperagakan oleh kurang lebih 500 pelajar dari Singkawang.

MTQ Nasional VII, MTQ Internasional I, dan Munas IV Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (salah satu badan otonom organisasi Nahdlatul Ulama) ini merupakan kegiatan lima tahunan. MTQ kali ini diikuti sekitar 1.500 orang dari 250 pondok pesantren se-Indonesia dan 11 negara ASEAN. Sementara itu, Munas IV akan diikuti oleh lebih-kurang 650 peserta yang berasal dari pengurus wilayah dan cabang Jami’yyatul Qurra’ wal Huffazh.

Kegiatan MTQ kali ini bersamaan dengan Kalbar Expo 2012 yang merupakan pameran nasional dan dilaksanakan setiap tahun. Kali ini adalah pelaksanaan yang ke-8 kali sejak tahun 2005. Kalbar Expo diikuti oleh 200 stand yang berasal dari instansi pemerintah pusat dan daerah (provinsi, kabupaten, dan kota).

Turut mendampingi Boediono dalam kunjungan ke Kalbar ini adalah Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Kebudayaan Wiendu Nuryanti dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama K.H. Said Aqil Siradj dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra’wal Huffazh Nahdlatul Ulama K.H. A. Muhaimmin Zen.
Quote:Original Posted By BlackCola


inilah..com, Pontianak - Memenuhi undangan Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama KH. Said Aqil Siradj, Wakil Presiden (Wapres) Boediono hadir dan membuka Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-7 Antar Pondok Pesantren, MTQ Internasional ke-1 antar Lembaga Al Qur’an dan Musyawarah Nasional ke-4 Jam’iyyatul Qurra’wal Huffazh Nahdlatul Ulama Tahun 2012 di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman, Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (3/7) malam.

Wakil Presiden yang didampingi Ibu Herawati Boediono beserta rombongan tiba di Pontianak pada Selasa (3/7) sore dan memulai rangkaian kegiatan dengan membuka pameran Kalbar Expo 2012 yang ditandai dengan pengguntingan pita.

Setelah berkeliling stand selama lebih kurang 30 menit, Wapres beserta rombongan menuju Stadion Sultan Syarif Abdurrahman untuk membuka kegiatan.

Pelaksanaan pembukaan yang berlangsung meriah diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh perwakilan Qori’ dan Qori’ah dengan tampilan visual yang disesuaikan dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang sedang dibacakan, dilanjutkan dengan laporan ketua umum Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra’wal Huffazh Nahdlatul Ulama K.H. A. Muhaimmin Zen, penyerahan piala bergilir, ucapan selamat datang dari Gubernur Kalimantan Barat Kornelis, M.H, dan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj.

Setelah menyampaikan amanatnya, Wapres Boediono membuka resmi MTQ International. "Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahiim saya buka secara resmi Musabaqah Tilawatil Qur'an Nasional Ke-7 Antar Pondok Pesantren, Musabaqah Tilawatil Qur'an Internasional Ke-1 Antar Lembaga Al-Quran, serta Musyawarah Nasional Ke-4 Jam'iyyatul Qurra'wal Huffazh Tahun 2012. Selamat berlomba dan selamat bermusyawarah. Semoga Allah SWT selalu meridhoi langkah kita semua.” ujarnya.

Usai pembukaan oleh Wapres Boediono, acara dilanjutkan dengan Pengibaran bendera Jam’iyyatul Qurra’wal Huffazh Nahdlatul Ulama, dan pembacaan doa. Acara ditutup dengan defile kafilah dan pagelaran kesenian tarian kolosal Getar Tahar NKRI yang diperagakan oleh kurang lebih 500 pelajar dari Singkawang.

MTQ Nasional VII, MTQ Internasional I, dan Munas IV Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (salah satu badan otonom organisasi Nahdlatul Ulama) ini merupakan kegiatan lima tahunan. MTQ kali ini diikuti sekitar 1.500 orang dari 250 pondok pesantren se-Indonesia dan 11 negara ASEAN. Sementara itu, Munas IV akan diikuti oleh lebih-kurang 650 peserta yang berasal dari pengurus wilayah dan cabang Jami’yyatul Qurra’ wal Huffazh.

Kegiatan MTQ kali ini bersamaan dengan Kalbar Expo 2012 yang merupakan pameran nasional dan dilaksanakan setiap tahun. Kali ini adalah pelaksanaan yang ke-8 kali sejak tahun 2005. Kalbar Expo diikuti oleh 200 stand yang berasal dari instansi pemerintah pusat dan daerah (provinsi, kabupaten, dan kota).

Turut mendampingi Boediono dalam kunjungan ke Kalbar ini adalah Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Kebudayaan Wiendu Nuryanti dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama K.H. Said Aqil Siradj dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra’wal Huffazh Nahdlatul Ulama K.H. A. Muhaimmin Zen.


sumber
Kafilah Internasional dan Munas Tiba
Terkendala Masalah Tiket



PARA peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional mulai berdatangan. Begitu juga dengan para peserta musyawarah nasional (MUNAS) Jammi’yatul Qurra’ Wal Huffazh yang akan digelar pada 6 dan 7 Juli mendatang, sudah ada yang tiba di Kota Pontianak. Kepala Biro Kesejahteraan Sosial selaku Ketua I MTQ Nasional IV dan Internasional I, Susanto Tri Nugroho, mengungkapkan hingga Kamis (5/7) kafilah dan dewan hakim MTQ Internasional yang sudah hadir berasal dari Negara Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Iran, Rusia, Tartastan, dan Singapore.

Sedangkan untuk peserta dari Timor Leste, Suriah, dan Turki masih berada di Jakarta. Kedatangan mereka ke Pontianak terkendala masalah tiket pesawat Jakarta ke Pontianak karena padatnya penerbangan yang bertepatan dengan musim liburan. “Kita sudah mendapat informasi dari NU Pusat, kafilah dari Timor Leste, Turki, dan Suriah saat ini sedang berada di Jakarta dan dalam persiapan menuju Pontianak,” ujar Susanto.

Susanto menjelaskan perlombaan untuk cabang tilawah dan tahfidz Alquran dimulai pada 8 Juli 2012. Pada 7 Juli pukul 19.00 dilaksanakan technical meeting di Hotel Orchardz, sedangkan lokasi lomba mengambil tempat di Asrama Haji dan Gedung Kartini.Disisi lain, lanjutnya, perlombaan MTQ Nasional IV telah berlangsung sejak 4 Juli 2012 dengan memperlombakan 10 cabang. Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan cabang-cabang lomba MTQ tersebut bisa langsung ke tempat acara antara lain Aula Dinas kesehatan, Gedung kartini, Stadion Sultan Syarif Abdurrahman, Aula Asrama Haji, Aula Asrama Haji, Aula Dekopin, dan Aula Gedung Korpri.

Peserta Munas Jammi’yatul Qurra’ Wal Huffazh yang berasal dari seluruh kabupaten, kota dan provinsi seluruh Indonesia juga mulai berdatangan. “Peserta Munas ini sekitar 400 orang dari seluruh kabupaten kota di Indonesia,” katanya. Munas dilaksanakan selama dua hari dengan tempat yang berbeda, yakni 6 Juli di Hotel Mahkota dan 7 Juli di Balai Petitih. Terkait hadiah yang akan diterima oleh para pemenang, Susanto menjelaskan masing-masing cabang akan diambil tiga pemenang yakni juara 1,2, dan 3. ”Selain mendapat trophy, para pemenang juga akan mendapatkan uang tunai,” ujar Susanto.

Hari Kedua Berjalan Lancar
Sementara itu Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di hari kedua, Kamis (5/7) berjalan dengan lancar. Beberapa cabang lomba dilangsungkan di beberapa tempat. Untuk di Aula Asrama Haji Pontianak, dilangsungkan MTQ tingkat remaja putra-putri. Untuk di aula Dekopin dilangsungkan cabang Musabaqah Hifzhil Quran 5, 15 dan 30 juz.

Sementara itu, di aula gedung Korpri dilangsungkan cabang MTQ tingkat anak-anak putra-putri. Sedangkan di gedung Kartini dilangsungkan Kiraatil Kutub, dan di aula gedung Dinkes Provinsi dilangsungkan Tafsir. Sementara di pentas utama yang terletak di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman, dilangsungkan MTQ tingkat dewasa pada malam harinya.

Semua cabang dibagi tiga sesi. Yaitu sesi pagi hingga yang dimulai pada pukul 08.00, istirahat pukul 12.00. Sesi siang dari 13.00 hingga 17.00 dan sesi malam pada pukul 19.00 hingga 23.00. Untuk semua cabang berjalan sesuai dengan jadwal, bahkan ada yang selesai lebih awal.Untuk peserta MTQ tingkat remaja, berlangsung lancar. Cara yang dilangsungkan di Aula Asrama Haji Pontianak ini juga banyak ditonton pengunjung, baik dari official dan peserta. Dibandingkan dengan cabang lainnya, cabang MTQ tingkat remaja ini lebih banyak menyita perhatian banyak orang.

Para peserta yang tampil juga berhasil memukau para penonton. Alunan suara yang merdu dan indah dapat ditemukan pada cabang ini. “Ini kan tingkat nasional, jadi suara bagus itu harus,” kata salah seorang penonton. Selain itu, di Aula Korpri juga tidak kalah semaraknya. Di tempat ini dilangsungkan cabang MTQ tingkat anak-anak. Tempat ini juga banyak dikunjungi para penonton. Namun sayang, kebanyakan penonton yang hadir bukan berasal dari warga Pontianak, melainkan hanya dari peserta dan official saja. (uni/afi/hms)

sumber
Budaya Kalbar Perkuat Ekonomi Daerah

Quote:

Quote:PONTIANAK – Budayawan Abdul Halim Ramli mengatakan bahwa keragaman budaya Kalbar bisa menjadi modal kuat untuk memperkuat perekonomiannya sendiri secara mandiri. “Banyak yang bisa diangkat dari budaya kita,” ujarnya saat menjadi pembicara tunggal “Obrolan Santai: Peran Budaya Kalbar dalam Mendukung Kemandirian Bangsa” di Kantor Bank Indonesia Perwakilan Kalbar, Jalan A Yani, kemarin (5/7).

Mantan Pemimpin Redaksi Pontianak Post ini menyebut pada mulanya masyarakat asli Kalbar hidup mandiri tanpa tergantung dengan pihak luar dalam memenuhi kebutuhan ekonominya. “Semua sudah ada di hutan, dari makanan sampai obat-obatan. Tapi perlahan hal tersebut pudar seiring meluasnya hubungan dengan pihak luar dan perkembangan zaman,” ujar dia.

Potensi dari sisi pariwisata juga disebutkan dia akan berkembang apabila dikemas dengan baik. “Acara seperti Cap Go Meh, Gawai Dayak dan lainnya memang harus dikembangkan. Itu memicu perputaran uang. Banyak warga masyarakat dari kalangan bawah yang mendapat keuntungan dari acara-acara semacam itu,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kalimanan Barat Hilman Tisnawan mengatakan kajian budaya sangat penting untuk menentukan kebijakan ekonomi sebuah bangsa. “Bagi Bank Indonesia, penting sekali untuk melihat apakah budaya kita compatible tidak dengan sistem ekonominya. Kalau budaya bangsa kita banyak terkandung nilai-nilai adat, maka sistem hukumnya juga harus menyerap itu, terutama dalam hukum bisnis,” ungkap dia.

Dikatakan Hilman, untuk masalah budaya, Indonesia memiliki tantangan yang lebih besar dari negara lain karena keberagamannya. “Kita lihat Jepang atau Korea yang homogen. Mereka punya kebudayaan yang tunggal oleh karena itu tidak ada gesekan budaya. Sementara kita begitu beragam, dan potensi gesekan lebih besar,” kata Hilman dalam acara untuk memperingati HUT ke-59 BI tersebut. Namun Hilman menyebut Amerika Serikat sebagai sebuah bangsa yang mampu membentuk kebudayaan baru, padahal pada awalnya terdiri dari banyak sekali kebudayaan yang berbeda. (ars)


sumber
Seni Tari Membuat Tuak

Quote:


Quote:TARIAN Multy Tuak yang baru saja dirintis dua bulan yang lalu oleh Sanggar Jurong ‘K Gong Kabupaten Sanggau menceritakan bagaimana cara membuat tuak yang merupakan minuman yang identik dengan suku Dayak di Sanggau. Pemilik dan sekaligus pembina Sanggar, Ratih Alipius mengatakan tarian yang berartikan membuat tuak ini diciptakan sendiri dari suatu cerita. Penari yang menarikan tarian ini pun berjumlah delapan orang dengan formasi yang bagus. Dimana putra dan putri bergabung dalam tarian tersebut.

“Tarian membuat tuak ini dibuat juga karena dayak Sanggau sangat identik dengan tuak yang merupakan air minum yang biasa disuguhkan dalam acara-acara besar,” ujarnya. Ratih mengungkapkan dalam proses pembuatan tarian ini, tidak ditemukan kendala yang sulit. Lantaran anak-anak didiknya memang sudah berbakat dan memiliki talenta dalam menari. Sanggar yang dinaunginya tersebut pun baru berusia satu tahun dan baru ada tarian-tarian dayak. Untuk kedepannya, Ratih pun akan mengembangkan tarian-tarian di Sanggar miliknya itu.

Meskipun tarian ini baru dua bulan dibuat. Tetapi sudah tampil sebanyak empat kali. Diantaranya saat acara Gawai Dayak di Pontianak, acara Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) di Kecamatan Entikong, Sekayam dan di Pemkab Sanggau. Walaupun terbilang baru, namun para penarinya tidak mengalami kesulitan yang berarti. Hanya di dalam formasi tariannya saja, karena penari yang tampil hanya enam orang yang sebenarnya adalah delapan orang.

“Untuk kendalanya tidak ada. Tampilan anak-anak dalam setiap kegiatan sudah maksimal. Tarian tersebut disuguhkan agar masyarakat tahu bagaimana proses pembuatan tuak,” jelasnya. Sementara itu, salah satu penari, M. Agustine Dwi Steviana (17) mengaku tidak ada kesulitan dalam tarian yang dilakukan. Semua dapat dilakukan dengan mudah lantaran dirinya memang sudah terbiasa dengan tarian-tarian dayak.

Sejak kelas 2 SMP Agustine berlatih tari di sanggar. Sehingga dengan mudah untuk mengikuti tarian, mestipun terbilang baru. Dalam setiap penampilan, Agustine mengaku tidak ada kendala yang berarti. Hanya saja saat formasi tarian diubah. Lantaran penari yang tampil hanya berjumlah enam orang. “Hanya formasinya saja saat diubah kendalanya, tapi semuanya bisa diatasi,” singkatnya. (sgg*)


sumber

Budaya Dayak Sintang Dipuji di Bali

Budaya Dayak Sintang Dipuji di Bali

Quote:

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sekretaris dinas kebudayaan dan pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sintang H Junaidi mengaku bangga dengan antusiasme penonton ketika Sanggar Bujang Sebeji Sintang menampilkan aneka kebudayaan asli dayak Sintang, Jumat (15/6/2012). Antusiasme tersebut menurutnya ditunjukan dengan penuhnya penonton ketika penampilan berdurasi 1,5 jam tersebut dimulai.

"Kita diberikan kesempatan tampil mulai pukul 11.00 WIB hingga 12.30 WIB, kita sangat bangga karena antusiasme penonton luar biasa. Bahkan panggung penonton penuh sesak dengan penonton, ada sebagian penonton yang sampai tidak mendapatkan tempat," tandas Junaidi yang dikonfirmasi Tribunpontianak.co.id, dari Pontianak, Jumat malam (15/6/2012).

Pada kesempatan pagelaran budaya bali tahun ini dijelaskan Junaidi, Kabupaten Sintang memang diberikan kesempatan mewakili Kalimantan Barat tampil di acara tersebut secara khusus. Bukan hanya tarian, sanggar yang dibawa pada saat kegiatan juga menampilkan pakaian adat dayak, lagu tradisional dayak serta penampilan alat musik Sape' dan Keledik.

"Pokoknya sepanjang penampilan kebudayaan tersebut tepuk tangan penonton sangat luar biasa sekali. Kita juga merasa bangga bahwa masyarakat termasuk turis mancanegara begitu menganggumi kebudayaan yang kita tampilkan tersebut, juga sebagai ajang promosi bagi Kabupaten Sintang," tandasnya.

sumber
Kejayaan Kerajaan Tanjungpura di Kepulauan Karimata



AL Maula merupakan masjid tua yang ada di Desa Padang, Kepulauan Karimata, dan diduga berangka tahun 1513. Sekadar di ketahui, tahun ini merupakan masa-masa tengah keemasan Imperium Tanjungpura ketika beribukota di Sukadana. Pada masa kekuasaannya, pengaruh Imperium Tanjungpura beribukota di Sukadana, ternyata sampai ke Kesultanan Manila (warga asli menyebutnya Maynila atau Sang Nila Utama, saat ini ibukota negara Filipina).

Manila sebelum menjadi jajahan Spanyol, awalnya merupakan pemukiman warga Hindu yang kemudian menjadi Muslim di abad ke-11. Bersamaan Kerajaan Champa (Vietnam Selatan) yang beribukota di Indrapura, juga mendapat pengaruh Islam di abad itu. Dalam sejarah negara Filipina, Manila diambil dari kata Fi Amanillah (di bawah lindungan Tuhan, dari Bahasa Arab) dan banyaknya tanaman Nila. Kesepakatan Laksamana Nala dari Majapahit sekitar tahun 1305 dan Laksamana Nasrudin (bawahan Temur Khan, raja pengganti Kubhilai Khan, bertahta di Beijing-Tiongkok) pelabuhan Manila (suku Melayu dan suku Filipina asli, menyebutnya Maynila) tidak boleh dijajah negara manapun. Alasannya sebagai batas antara jajahan Dinasti Yuan di Vietnam dan pulau Hainan (kala itu setengahnya suku Hui Champ yang Muslim) dengan jelajah angkatan laut Sriwijaya yang sudah mengabdi ke Majapahit di kepulauan Palawan, Sulu, dan Mindanau.

Oleh karenanya pelaut-pelaut Sriwijaya (ditaklukkan Majapahit sekitar tahun 1275) jelajahnya hanya boleh sampai ke Sulu dan Mindanau (keduanya kelak berdiri Kesultanan Sulu dan Mindanao hingga ditaklukkan Spanyol). Memasuki tahun 1375 ketika Brunei Darussalam merdeka dengan menyerang pangkalan laut Majapahit di Paloh (Sambas), wilayah Filipina dibagi dengan Imperium Tanjungpura yang beribukota di Sukadana.

Alasannya sama-sama kerajaan Islam, walaupun asalnya merupakan warga asli (suku Dayak). Bahkan makam salah satu pendiri awal kerajaan Brunei Darussalam berada di Sukadana (KKU, Indonesia). Dibuktikan tahun 1995 ada kunjungan utusan Brunei Darussalam ke Jakarta dan Sukadana, untuk mencari makam nenek moyang Sultan Hasanal Bolkiah itu.

Namun pendapat lain, masjid yang berdiri kokoh di Dusun Pantai Lestari ini disebut sebagai peninggalan raja di Pulau Karimata, Tengku Abdul Jalil. Berarti hanya berangka abad ke-19. Pengurus Masjid Al Maula, Syaiful Ihsan, mengaku tidak mengetahui secara pasti tahun berapa masjid ini sebetulnya dibangun. Bahkan, ditambahkannya, Tok Ali, yang merupakan orang yang paling tua di desanya itu juga tidak tahu kapan awal dibangunnya masjid tersebut.

“Namun, beberapa tahun lalu sebelum masjid direnovasi seperti terlihat sekarang, pernah ditemukan tulisan tahun 1513 yang terdapat di tangga naik masjid. Namun, kayu itu tak sempat diamankan karena ikut terbakar saat masyarakat gotong-royong membersihkan masjid,” ujarnya seraya menyebut apakah tulisan itu sebagai tanda awal dibangunnya masjid atau ada maksud lainnya.

Disebutkan bahwa masjid tua tersebut saat ini sudah tidak asli lagi. Artinya, seluruh fisik bangunan sudah beberapa kali direnovasi. “Dulu tongkatnya tinggi dan dindingnya menggunakan sasak (bambu yang dianyam) serta atapnya menggunakan atap sirap,” jelasnya. Sekarang ini, bentuk masjid sudah seperti bangunan masjid kebanyakan lainnya. Lantai dan dinding masjid menggunakan cor beton dan menggunakan atap metal. Diakui Ihsan, rehab masjid dimulai sekitar tahun 1994 dengan mengganti tongkat menjadi cor. Kemudian pada tahun 2007, atapnya diganti dengan atap metal warna biru.

sumber
Quote:Quote:Gawai Dayak Penghargaan Buat Cornelis

Quote:GELAR Gawai Dayak Kabupaten Sanggau 2012 yang dilaksanakan, Sabtu (7/7) akan memberikan penghargaan Pomuntuh Agung Kehormatan kepada dua orang tokoh masyarakat Dayak yang dianggap telah berjasa dalam bidang pemerintahan dan pembinaan keumatan. Dua orang tersebut yakni Cornelis dan Agustinus PR. Cornelis dan Agustinus PR merupakan orang dari Suku Dayak yang telah berjasa dalam pembangunan.

Demikian disampaikan Ketua Panitia Gawai Dayak Kabupaten Sanggau, Andreas Nyas saat ditemui Pontianak Post, Jumat (6/7) siang kemarin."Mereka tokoh kelahiran Sanggau dan sudah berjasa untuk bidang pemerintahan dan gereja atau pembinaan umat untuk golongan masyarakat Dayak khususnya dan masyarakat Kalbar secara umum," ujarnya.

Dikatakannya, kegiatan Gawai Dayak akan dipusatkan di Rumah Adat Betang Raya Dori' Mpulor Kabupaten Sanggau dan akan dilangsungkan selama tiga hari, 7-9 Juli 2012. Untuk pembukaannya akan dilaksanakan, Sabtu sekira pukul 08.00 wib rencananya akan dihadiri Presiden Adat Dayak Nusantara, Teras Narang yang didampingi Ketua DAD Kalimantan Barat yang sekaligus Gubernur Kalbar, Cornelis.

"Kita fokus di Rumah Adat Betang dan tidak ada pawai. Acara Gawai juga akan dirangkai dengan peresmian rumdat," tambahnya.Andreas juga menginformasikan bahwa akan datang tamu warga Dayak dari Sarawak, Malaysia. Jika diperkirakan, sedikitnya akan ada lima ribu undangan yang akan hadir dalam acara Gawai tersebut. "Kita undang sedikitnya lima ribu orang. Gawai kedelapan ini merupakan ungkapan syukur atas capaian dari usaha sehari-hari. Kemudian juga untuk melestarikan budaya dan pemersatu masyarakat Dayak dan utamanya antar sesama suku bangsa," jelasnya. (sgg)


sumber
Quote:Quote:Keraton Landak Gelar Ziarah Akbar

Quote:TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK - Menjelang kegiatan Tumpang Negeri yang digelar setiap tahunan oleh keluarga besar Keraton Ismahayana Landak pada Kamis (21/6/2012) pagi di keraton Ismahayana Landak Desa Raja Kota Ngabang. Pihak kerabat keraton melakukan ziarah Akbar pada Rabu (20/6/2012) pagi ke makam Raja Landak pertama yang berada di Desa Munggu Kecamatan Ngabang.

Tepat pukul 09.00 WIB kerabat keraton Ismahayana bersama masyarakat dan puluhan pelajar dari Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTSN) 1 Ngabang turut serta menyatu ke rombongan yang akan berziarah ke makam pendiri kerajaan Landak ini.

Pemangku istana keraton Ismahayana Landak Gusti Boy Sulaiman, mengatakan sebelum gelar acara Tumpang Negeri, kerabat keraton bersama masyarakat melakukan ziarah ke makam raja Landak ini.

"Memang sudah menjadi agenda tahunan, sebelum kita gelar Tumpang Negeri, kita lakukan ziarah akbar, selain kerabat keraton, warga pun diantara ikut rombongan,"ujarnya.
\t\t

Tengku Abdul Jalil; Raja Terakhir Karimata




PELAPIS – Tak satupun masyarakat di Desa Padang, Kepulauan Karimata, yang tahu kapan Tengku Abdul Jalil bin Tengku Marhum mangkat. Sebab, makam Tengku Abdul Jalil di Desa Padang tidak diberi tulisan yang menerangkan wafatnya Raja Karimata tersebut. Kondisi Makam Tengku Abdul Jalil masih terlihat kokoh di Desa Padang. Nisan yang dicat berwarna kuning dan di dekat makam Tengku Abdul Jalil, terdapat satu makam lainnya.

Dilihat dari tulisannya, makam tersebut bernama Tengku Ja’far yang berdasarkan tulisan wafat pada 31 Agustus 1912. Dua makam ini dipagar dalam satu bangunan semacam pondok yang diatapi. Akses untuk menuju makam Tengku Abdul Jalil juga tidak sulit. Karena sudah dibangun jalan aspal sepanjang 400 meter dan lebar 1,5 meter pada tahun 2010. “Tengku Abdul Jalil bin Tengku Marhum adalah raja terakhir di Karimata,” ungkap warga setempat, Syaiful Ihsan.

Syaiful Ihsan sendiri tidak tahu kapan Tengku Abdul Jalil meninggal dunia. Bahkan, dia mencoba untuk mengetahui dengan bertanya kepada orang-orang tua yang ada di desa tersebut. “Orang-orang tua di desa ini pun sudah tidak ada yang tahu kapan wafatnya tengku Abdul Jalil?” ucap pemuka masyarakat Desa Padang ini.
Disebutkan, Tengku Abdul Jalil adalah abang kandung dari Tengku Akil bin Tengku Marhum, raja Sukadana berdaulat sekitar tahun 1824.

Sedangkan Tengku Ja’far, yang makamnya berdampingan dengan tengku Abdul Jalil disebutkan sebagai orang dekat Raja. Di sekeliling makam tengku Abdul Jalil juga banyak dijumpai makam-makam lainnya, yang sepertinya kurang terawat. Diinformasikan, makam-makam tersebut yang sebagian besar misannya terbuat dari kayu, merupakan keluarga dari Raja Tengku Abdul Jalil. Menurut warga, makam Tengku Abdul Jalil kerap didatangi warga maupun para penziarah dari luar untuk memanjatkan doa.

sumber