Sejarah sosial budaya kalimantan barat




KONDISI GEOGRAFIS KALIMANTAN BARAT

Provinsi Kalimantan Barat terletak antara 280o LU dan 30o LS, serta antara 108o – 114o BT. Daerahnya dilewati oleh Garis Khatulistiwa, yaitu di atas Kota Pontianak, ibukota Provinsi ini. Menurut letak administratif, Provinsi Kalimantan Barat sebelah Utara berbatasan dengan Serawak, sebelah Timur berbatasan dengan provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Jawa dan sebelah Barat dibatasi Selat Karimata dan Laut Cina Selatan.
Daerah Kalimantan Barat memiliki banyak sungai, besar maupun kecil yang sangat bermanfaat untuk sarana tranportasi sampai ke daerah pedalaman, seperti Sungai Sambas, Kapuas, Pawan, Jelai, Landak dan lain-lain. Diantara Sungai Kapuas dan anak-anak sungainya terdapat dataran tinggi yang bernama Wadi, sedangkan mulai dari Sambas, Pontianak, Ketapang dan sekitarnya merupakan dataran rendah yang luas dan berawa-rawa taPi ditutupi oleh hutan-hutan lebat.
Pedalaman Kalimantan Barat merupakan hutan lebat yang belum banyak ditempuh oleh manusia. Dari hutan-hutan ini dapat diperoleh hasil berbagai jenis kayu, seperti kayu ramin, meranti, jelutung, kebaca, belian dan sebagainya, juga rotan, damar, kayu besi, lilin dan lain-lain. Binatang-binatang yang terdapat di Kalimantan Barat cukup banyak jenisnya dan yang terkenal adalah orang utan, burung enggang, serta binatang tropis lainnya. Begitu pula dengan binatang air, seperti ikan air tawar maupun ikan air laut.

Berdirinya kota pontianak

Pada tanggal 24 Rajab 1181 H yang bertepatan para Alkadri membuka hutan dipersimpangan tiga Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal dan tempat tersebut diberi nama Pontianak. Berkat kepemimpinan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Kota Pontianak berkembang menjadi kota Perdagangan dan Pelabuhan.
Tahun 1192 H, bertepatan tanggal 23 Oktober 1771 M, rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak yang pertama. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Mesjid Raya Sultan Abdurrahman Alkadri dan Istana Kadariah, yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.

Adapun Sultan yang pernah memegang tampuk Pemerintahan Kesultanan Pontianak :
1. Syarif Abdurrahman Alkadrie (1771 – 1808 )
2. Syarif Kasim Alkadrie (1808 – 1819)
3. Syarif Osman Alkadrie (1819 – 1855)
4. Syarif Hamid Alkadrie /Sultan Hamid I (1855 – 1872)
5. Syarif Yusuf Alkadrie (1872 – 1895)
6. Syarif Muhammad Alkadrie (1895 – 1944)
7. Syarif Thaha Alkadrie (1944 – 1945)
8. Syarif Hamid Alkadrie / Sultan hamid II (1945 – 1950)

Sejarah pemerintahan kota

Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie (lahir tahun 1742 H) yang membuka pertama Kota Pontianak pada hari Rabu, tanggal 23 Oktober 1771 M bertepatan dengan tanggal 14 hari bulan Rajab 1185 H, kemudian pada hari Isnen, tanggal 8 hari bulan Sya’ban th 1192 H, SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRIE dinobatkan menjadi SULTAN KERAJAAN PONTIANAK.
Selanjutnya 2 tahun kemudian, setelah Sultan Kerajaan Pontianak dinobatkan, maka pada tahun 1194 H bersamaan tahun 1778 M, masuk dominasi kolonialis Belanda dari Batavia (Betawi) dengan utusan Petor (Asistent Resident) dari Rembang bernama WILLEM ARDINPOLA dan mulai pada masa itu bangsa Belanda berada di Pontianak. Oleh Sultan Pontianak, bangsa Belanda itu ditempatkan di seberang Keraton Pontianak yang terkenal dengan nama TANAH SERIBU (Verkendepaal).
Dan baru pada tanggal 5 juli 1779, 0.1. Compagnie Belanda membuat perjanjian (Politiek Contract) dengan Sultan Pontianak tentang pendudukan Tanah Seribu (Verkendapaal) untuk dijadikan tempat kegiatan bangsa Belanda, dan seterusnya menjadi tempat / kedudukan Pemerintah Resident het Hoofd Westeraffieling van Borneo (Kepala Daerah Keresidenan Borneo Istana Kadariah Barat), dan Asistent Resident het Hoofd der Affleeling van Pontianak (Asistent Resident Kepala Daerah Kabupaten Pontianak) dan selanjutnya Controleur het Hoofd Onderaffleeling van Pontianak / Hoofd Plaatselijk Bestur van Pontianak (bersamaan dengan kepatihan) membawahi Demang het Hoofd der Distrik van Pontianak (Wedana), Asistent Demang het Hoofd der Onderdistrik van Siantan (Asistent Wedana / Camat), Asistent Demang het Hoofd der Onderdistrik van Sungai Kakap (Asistent Wedana / Camat).
Kronologis berdirinya Plaatselijk Fonds seterusnya Stadsgemeent, Pemerintahan Kota Pontianak, Kotapraja, Kota Besar, Kotamadya Dati II Pontianak dapat diuraikan sebagai berikut :

Plaatselijk fonds

Berada di bawah kekuasaan Asistent Resident het Hoofd der Affleeling van Pontianak (Semacam Bupati KDH Tk II Pontianak), Plaatselijk Fonds merupakan badan yang mengelola dan mengurus Eigendom (milik) Pemerintah dan mengurus dana / keuangan yang diperoleh dari Pajak, Opstalperceelen, Andjing Reclame, Minuman keras dan Retribusi pasar, Penerangan jalan, semuanya berdasarkan Verordening (Peraturan) yang berlaku.
Daerah kerja Plaatselijk Fonds adalah daerah Verkendepaal (Tanah Seribu). Pimpinan Plaatselijk Fonds terdiri dari : Voorziter (ketua), Beheerder Staadfonds (Pimpinan selain Voorziter), Sekretaris. Behercomisie dibantu beberapa Comisieleden (Pengawasan) Plaatselijk Fonds.
Setelah pendaratan Jepang, praktis terhenti, terkecuali soal kebersihan dan bekerja kembali dengan pimpinan tentara Jepang, setelah masuk tenaga sipil Jepang dan adanya Kenkarikan (semacam Asistent Resident) Jepang, maka Plaatselijk Fonds dihidupkan kembali berganti nama SHINTJO yang dipimpin orang Indonesia, yaitu Alm. Bp. MUHAMMAD ABDURRACHMAN sebagai SHINTJO dan untuk Pimpinan Pemerintah Sipil tetap ada Demang dan Asistent Demang dengan nama Jepang adalah GUNTJO.

Stadsgemeente (lamdshaap gemeente)

Berdasarkan Besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 14 Agustus 1946 No. 24/1/1940 PK yang disahkan / Goedgskeurd de Resident der Westerameeling van Borneo (Dr. J. VAN DER SWAAL) menetapkan sementara sebagai berikut :
Yang menjadi Syahkota pertama adalah R. SOEPARDAN, 1 Oktober 1946 dan Syahkota melakukan serah terima harta benda dan keuangan Plaatselijk Fonds pada tanggal 1 Oktober 1946 dari Staats Fonds MUHAMMAD ABDURRACHMAN.
Masa jabatan Syahkota R. SOEPARDAN, 1 Oktober 1946 dan berakhir awal tahun 1948, untuk selanjutnya berdasarkan penetapan Pemerintah Kerajaan Pontianak diangkat ADS. HIDAYAT, dengan jabatan BURGERMESTER Pontianak sampai tahun 1950.

Pemerintahan kota pontianak

Pembentukan Stadsgermeente bersifat sementara, maka Besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 14 Agustus 1946 No.24/1/1946/KP dirobah dan diperhatikan kembali dengan UU Pemerintahan Kerajaan Pontianak tanggal 16 September 1949 No. 40/1948/KP, memutuskan mulai dari tanggal Peraturan ini berlaku , maka Keputusan Pemerintah Kerajaan Pontianak tertanggal 14 Agustus 1946, No. 24/1/1946/KP dirubah dan diperhatikan kembali. Dalam Undang-Undang ini disebut Peraturan Pemerintah Pontianak dan membentuk Pemerintah Kota Pontianak. Sedangkan perwakilan rakyat disebut Dewan Perwakilan Penduduk Kota Pontianak.
Walikota pertama ditetapkan oleh Pemerintah Kerajaan Pontianak adalah NY. ROHANA MUTHALIB, sebagai wakil Walikota Pontianak, dan apa sebab kedudukannya sebagai Wakil Walikota Pontianak, mengingat pasal 25 dari UU Ketua Pontianak sebagai Walikota hanya dapat diangkat lelaki yang menurut keputusan hakim.

Kota besar pontianak

Sebagai pengganti NY. ROHANA MUTHALIB, oleh Pemerintah diangkat SOEMARTOYO, sebagai Walikota Besar Pontianak, mengingat peralihan kekuasaan Swapraja Pontianak kepada Bupati / Kabupaten Pontianak tidak termasuk, maka Pemerintah Daerah Kota Besar Pontianak berstatus Otonom
PEMERINTAH DAERAH KOTA PRAJA PONTIANAK

Sesuai dengan perkembangan Tata Pemerintahan, maka dengan UU Darurat No. 3 tahun 1953, bentuk Pemerintahan LANDSCHAP GEMEENTE, ditingkatkan menjadi KOTAPRAJA PONTIANAK. Pada masa ini Urusan Pemerintahan terdiri dari Urusan Pemerintahan Umum dan Urusan Pemerintahan Daerah (Otonomi Daerah).

Pemerintah kotamadya dati ii pontianak

Selanjutnya perkembangan Pemerintahan Kota Praja Pontianak berubah dan sebutannya, yaitu dengan berdasarkan Undang-Undang No. 1 tahun 1957 Penetapan Presiden No. 6 tahun 1959 dan Penetapan Presiden No. 5 tahun 1960, Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 9 tahun 1964 dan Undang-Undang No. 18 tahun 1965, maka berdasarkan Surat Keputusan DPRD-GR Kota Praja Pontianak No. 021/KPTS/DPRD-GR/65 tanggal 31 Desember 1965, nama Kota Praja Pontianak diganti menjadi KOTAMADYA PONTIANAK.
Kemudian dengan UU No. 5 tahun 1974, maka sebutan / nama Kotamadya Pontianak berubah menjadi KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PONTIANAK.

Spoiler for sumber:
DKP Gelar Lomba Masak Asam Pedas
Minggu, 4 Desember 2011 21:39 WIB


TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Untuk memeriahkan peringatan hari Nusantara ke 12, dinas kelautan dan perikanan Kabupaten (DKP) Kabupaten Ketapang akan mengadakan berbagai kegiatan. Acara puncak akan dilaksanakan pada 13 Desember 2011 mendatang.

Kepala dinas DKP Ketapang Tanam mengatakan, beberapa kegiatan yang akan diselenggaran DKP tersebut antara lain, upacara puncak pada 13 Desember, di Sei Tayap Kabupaten Ketapang dan rencananya akan dimulai pada pukul 09.00 WIB.

"Pada tanggal 3 kemarin kita sudah adakan lomba memasak ikan asam pedas di Dinas Pertanian Ketapang. Kegiatan ini melibatkan ibu-ibu dari darma wanita Ketapang, pesertanya dari darma wanita, dinas, instansi SMKN 2 dan wanita pesisir, dan rencananya pada 12 Desember nanti kita juga akan adakan lomba memancing," katanya kepada Tribunpontianak.co.id, Minggu (4/12/2011).

Spoiler for sumber:
ini boleh ga
tarian dari indonesia menang juara 1 di Hsinchu,Taiwan

Kampung Budaya Kalbar Menelan Dana Rp60 Miliar

Quote:Nasional / Jumat, 5 Agustus 2011 13:26 WIB

Metrotvnews.com, Pontianak: Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat akan membangun pusat kegiatan budaya di Kota Pontianak. Alokasi dana untuk Kampung Budaya itu sebesar Rp60 miliar dalam dua tahun anggaran.

"Target kami dalam dua tahun akan tuntas pembangunan Kampung Budaya tersebut. Rencananya pembangunan itu dimulai pada tahun ini," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalbar, Jakius Sinyor di Pontianak, Jumat (5/8).

Menurut dia, rencana pembangunan Kampung Budaya dan alokasi anggarannya sesuai kesepakatan pertemuan antara eksekutif dan legislatif Kalbar beberapa waktu silam.

Ia menambahkan secara umum ada tiga bagian utama Kampung Budaya yakni Rumah Adat Melayu, Rumah Adat Dayak, dan plasa. Rinciannya, Rumah Adat Melayu menghabiskan dana Rp22 miliar, Rumah Adat Dayak Rp22 miliar, dan Rp16 miliar pembangunan plasa.

Ia melanjutkan, plasa akan disiapkan menjadi lokasi kegiatan acara-acara kebudayaan misalnya festival budaya melayu, dayak, tionghoa, maupun etnis-etnis lainnya di Kalbar.

Untuk tahap awal, ungkapnya, dana yang sudah disepakati sebesar Rp5,1 miliar. Dana tersebut diperkirakan mencukupi untuk pembangunan kolom, pondasi maupun lantai 1 rumah adat Dayak.

Sementara untuk Rumah Adat Melayu, pihaknya masih menunggu konsep bangunan yang akan diajukan. "Kami tunggu seperti apa," kata Jakius Sinyor.

Sedangkan untuk bangunan Rumah Adat Melayu yang kini sudah berdiri, ia juga belum tahu akan tetap dipertahankan atau tidak karena masih menunggu rancang desain yang baru.

Mengenai bangunan untuk etnis lain di Kalbar agar ikut ditampilkan di Kampung Budaya, ia mengakui bahwa hal itu tidak disiapkan secara khusus. Namun, lanjut dia, mereka dapat memanfaatkan plasa yang menyediakan panggung terbuka untuk kegiatan-kegiatan kebudayaan pula.

"Dua bangunan utama lain untuk menunjukkan keterwakilan etnis mayoritas di Kalbar," katanya menegaskan.

Lokasi pembangunan Kampung Budaya berada di lahan bekas Gedung DPRD Kalbar di Jalan Sutan Syahrir, Pontianak Kota. Luas kawasan tersebut sekitar tiga hektare, dan hingga kini masih ada sejumlah bangunan misalnya Kantor Kadin Kalbar, Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Kalbar, Kantor Badan Kesbanglinmas Kalbar.

Mengenai pengelolaan Kampung Budaya, Jakius Sinyor mengatakan, akan diserahkan ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kalbar. "Dinas Pekerjaan Umum hanya menangani masalah fisik," kata dia.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kalbar juga akan mendapat dana pendampingan terkait Kampung Budaya dari pemerintah pusat.(Ant/RRN)


Spoiler for sumber:

Thumbs up 



Adil Ka’ Talino Bacuramin Ka’ Saruga Basengat Ka’ Jubata

pas lagi jalan2 di regional Kalimantan Barat,eh liat ada thread bagus..salut buat TS

Quote:GAWE ADAT NAIK DANGO : adalah suatu bentuk upacara adat penyimpanan benih padi di dalam Dango (lumbung padi) yang dipersiapkan untuk masa tanam berikut. Benih padi yang disimpan tentu benih pilihan yang dianggap baik. Proses penyimpanan benih padi dalam dango padi disebut juga dengan istilah Dayak Kanayatn, niduratn padi atau menidurkan padi. Event Gawe Adat Naik Dango dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat kolektifnya setiap satu kali setahun , tepatnya pada tanggal 27 April. Ketika Kab.Pontianak dimekarkan menjadi 3 daerah otonom,Pontianak,Landak dan Kubu Raya, penyelenggaraan event ini menjadi milik bersama, secara bergiliran kabupaten-kabupaten ini menjadi tuan rumah pelaksana kegiatan ini. Banyak atraksi budaya Dayak Kanayatn yang menarik disajikan dalam kegiatan Gawe Adat Naik Dango, seperti Tarian tradisional, tari kreasi tradisi, lagu daerah, permainan gasing, olah raga menyumpit, lomba menumbuk padi, dan sebagainya.

biarkan gambar yang berbicara

Quote:Hantaran Adat: Merupakan ujud persembahan yang disediakan setiap kontingen per-Binua,berupa hasil panen dan ternak
Spoiler for Hantaran Adat:


Quote:Tetua Adat: Terdiri dari para timanggong (temenggung) se-binua Landak,Pontianak & Kubu Raya
Spoiler for Tetua Adat:


Quote:Peraga Adat: merupakan persembahan untuk tradisi Nyangahatn (berdoa) kepada Sang Pencipta dan para leluhur sebagai ucapan syukur atas panen yang didapat (dalam konteks ini Naik Dango)
Spoiler for Peraga Adat:


Quote:Perlombaan Nyuman Poe’: Poe’ atau pulut atau lemang adalah salah satu makanan tradisional khas Dayak Kanayatn,nyuman poe’ berarti memasak pulut/lemang, sekilas memasak makanan dengan media bambu atau disebut masyarakat Dayak solekng ini tampak mudah,namun memasak poe’ ini memerlukan keterampilan tersendiri,api yang pas,santan yang pas akan menghasilkan poe’ yang lembut dan enak
Spoiler for Lomba Nyuman Poe’:


Quote:Pajajang: Pajajang merupakan perwakilan kontingen-kontingen dari binua-binua Kanayatn, dahulu binua dikategorisasikan berdasarkan daerah kekuasaan timanggong-timanggong namun kini disesuaikan dengan tata pemerintahan daerah NKRI setingkat kecamatan,jadi Kecamatan dianggap mewakili binua (mohon koreksi kalau saya salah.red)
Spoiler for Pajajang:


Sekian informasi dari saya semoga berguna,jika posting saya berkenan,saya ga nolak dikasi

Bagi yang suka petualangan,cek TKP bang bro---------
Quote:<<< AIR TERJUN BANANGAR : Berlian di Uncak Landak >>>

Mengenal Tradisi Lisan Dayak Desa [Sintang]

Quote:By A.Alexander Mering
Quote:Ketika sebuah masyarakat belum mengenal budaya tulis, maka cara untuk mengkomunikasikan berbagai kearifan local masyarakat, menurunkannya kepada generasi yang berikut adalah dengan system tanda. Lazim juga disebut bahasa sebagaimana dimaksud pramagtik smiotik yang akhirnya memungkinkan kita berfikir, berhubungan dengan orang lain dan memberikan makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta. Di antaranya adalah dengan satu kesatuan konvensi, peraturan yang dipersempit pada ikon, lambang, signal dan juga cara oral (oral tradition).

Dengan tradisi lisan, memberikan ruang bagi ilmu pengetahuan, kearifan local, sejarah, mitologi, kepercayaan, tradisi dan semua gejala alam yang diserap oleh panca indera maupun kotak fakir manusia dapat diwariskan.

Sesuai dengan judul kertas kerja ini, penulis ingin menyampaikan betapa kekayaan yang tersimpan dalam lumbung budaya masyarakat Dayak Desa ini akan menuju kemusnahan bila tidak segera didokumentasikan. Karena paralon tradisi lisan yang selama ini dijadikan salah satu saluran pewarisannya telah terancam punah oleh berbagai factor internal maupun eksternal yang terdapat di lingkungannya. Bahkan perubahan social yang sangat cepat di Indonesia pada beberapa dasawarsa terakhir dapat menghapus secara drastis kelompok etnik beserta tradisi lisan yang dimilikinya.

Ini diperparah dengan minimnya penelitian maupun usaha untuk mendokumentasikannya. Setakat ini, dokumentasinya sangat bergantung pada pelaku hidup yaitu tetua-tetua adat, atau penyaji ritual. Akibatnya banyak sekali pengetahuan dan kearifan berharga yang pernah dilahirkan masyarakat ini menjadi hilang tanpa bekas.

Sepintas akan sulit membuat batasan antara kelompok Dayak Desa yang hidup di beberapa Kecamatan di Kabupaten Sintang maupun Sekadau ini dengan suku Dayak Ketungau, Bugau dan Mualang yang juga memiliki kemiripan dengan kelompok Dayak Iban dan Kantuk di Kapuas Hulu.

Karena bila dilihat dari system kekerabatan dan system komunikasi serta system konsep tentang alam dan pekerjaan keduanya memiliki kemiripan (Bentuk, fungsi aplikasi, Mitologi Tentun Ikat Dayak di Kabupaten Sintang, Albert Rufinus dan Asriyadi Alexander, 2000-2001)

Namun menurut hasil penelitian Sujarni Alloy, peneliti pada Institut Dayakologi Pontianak, di Kabupaten Sintang Bahasa Desa adalah bahasa yang terbanyak penuturnya dan mereka tersebar di dalam tujuh daerah kecamatan. Kelompok masyarakat Dayak inilah yang menamakan dirinya sebagai suku Dayak Desa.

Bahasa Desa mempunyai banyak persamaan dengan bahasa Lebang, Mualang, Ketungau dan Bugau. Persamaannya adalah terutama karena ke lima bahasa ini banyak sekali memakai “ai” untuk kata-katanya, seperti untuk mengatakan makan mereka mengatakannya dengan “makai”, untuk berjalan mereka mengatakannya dengan “bejalai”, dan lain sebagainya. Meskipun begitu, mereka juga memiliki perbedaan, yaitu pada tekanan dan logatnya. Dari hasil penelitian yang dilakukan antara 1997-2000 itu diketahui bahwa Bahasa Desa di pakai oleh sekitar 41,376 jiwa atau merupakan 9,73% dari keseluruhan penduduk kabupaten Sintang.
Pada umumnya Suku Desa mendiami tujuh buah kecamatan, yaitu kecamatan Sintang, kecamatan Kelam Permai, kecamatan Binjai Hulu, kecamatan Dedai, kecamatan Sungai Tebelian, kecamatan Tempunak dan kecamatan Sepauk.

Untuk mencapai tempat kediaman masyarakat Desa ini sangat gampang karena berada di tujuh kecamatan yang berada di sekitar kota Sintang dan semua tempat pemukiman mereka itu bisa di capai dengan jalan darat dan beberapa di antaranya bahkan bisa di capai dengan melalui sungai. Sementara di kabupaten Sekadau, kelompok masyarakat ini bermukim di 5 kampung saja yang hakikatnya merupakan penyebaran dari kabupaten Sintang sebagai tanah asal-usul penyebarannya.

Tidak ada data resmi mengenai jumlah populasi suku dayak ini kini. Hal ini lebih dipersulit lagi dengan akulturasi maupun inkulturasi yang terjadi antara suku ini dengan berbagai suku lainnya yang ada di kabupaten itu sekarang.

1. Kana
Kana adalah suatu bagian dari tradisi lisan Dayak desa berbentuk cerita lirik, semacam syair panjang yang dituturkan oleh orang-orang tertentu , yang telah memiliki syarat-syarat tertentu (misalnya; usia, Keturunan, dan tentu juga keahlian). Menurut pak Bangu seorang ahli Kana, yang berusia sekitar 58 tahun, di desa Terumbu’, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang. Menurut beliau misalnya Kana Bilang Temawai/Menghitung Tembawang, walaupun seseorang cukup pandai menuturkannya tetapi apa bila ia belum pernah duda/janda karena salah satu pasangannya meninggal, maka ia belum boleh menuturkan Kana tersebut. Selain itu, jika seseorang yang ber-kana tengah ber-kana maka ia tidak boleh menghentikan ceritanya secara sesuka hatinya karena cerita ini dianggap sakral, dan tokoh-tokoh yang berperan dalam cerita tersebut dipercayai akan merasa tersinggung dan marah. Ia harus memilih bagian-bagian yang tepat apabila dengan terpaksa harus menghentikan ceritanya. Misalnya jika Kana tersebut tengah menceritakan babak peperangan maka cerita itu tak boleh dihentikan sebelum para tokoh cerita tersebut mencapai kemenangan, dan seterusnya.



lanjut dibawah
lanjut
Quote:
“Temawai pepah lempa’ ubah, alai raja Segugah nempa’ tanah baru mesai buah mawang. Angkat reia’ nguai temawai Kecit Iring Larit alai Raja Segugit nempa’ langit mesa’ lamar para’, angkat reria’ nguai temawai riran ulu tayan dia’ pengadai tuan Selutan, alai ia nempa’ bulan ngeluar pingan pelangka. Angkat reia’ nguai temawai jenenyang ulu jentawang, dia’ pengadai lemamang bintang tiga, bintang randok baka dura, bintang tiga bilang uma. Angkat reia’ nguai temawai trapaeh ulu kapuaeh tumaeh seperapaeh mata. Angkat retemawai titi ulu melawi dia’ upa’ malui krangan manti titi sari napan ….. Angkat reia’ nguai temawai tuai ulu merakai, dia’ pengadai cinta muga. Angkat reia’ nguai temawai belenyut tebing laut, dia’ tanah mansut baru mesai tutup celepa’, baru ai’ bisik nanga, baru bisi’ riran nanyan kebanandan pala, munti’ baru bisi’ suti’ dua, baru bisi’ pantai alai nuba. Dia’ ikan keli’ baru senini’ ngau ikan juara. Angkat reia’ ngui temawai upam ribang capan, alai jugam agi’ ngesan tandan pisang. Reia’ angkat ketemawai ribang mungu’ sengang, dia’ munsang agi’ tauk nginang kandang manuok dara…”

2. Kanduok

Kanduok (desa) adalah suatu cerita berstruktur yang setengah dilagukan, biasanya mengenai riwayat-riwayat para tokoh-tokoh mitologi, seperti Kelieng, Kumang, dll., Kanduok ini secara umum dapat dibagi menjadi 2, yaitu :

a. Yang bersifat lebih serius dan mendalam

Seperti Kana diatas, Kanduok serius apa bila yang bersifat khusus, misalnya tentang kehidupan tokoh-tokoh seperti Kelieng, Kumang dll. atau Kana yang di tuturkan menjadi Kanduok, juga tetap harus memenuhi prasyarat tertentu seperti pada Kana, tetapi Kanduok atau ensera ini umumnya lebih pendek. Misalnya pada Kandok Raja Bediri yang dituturkan informan Bangu, 58, dari Dusun Terumbuk, Desa Pelimping, Kecamtan Kelam permai.

“…belengai babi tali landai dedinga Inaei rekumpai berendam , tepitu’ kema asasi Inaei retanah tabai tu’ pampai bedesai uran…, ari mpai tengari ulantang siri kema Inaei bagi retanah betawi ka’ lesi maa….ti danyam, kema tepesan Inaei duan retanah taaa…yaa…an, putap repemangkap ikan keba repuntianak Inaei babi udak tali tengak maka sintak sabak lasedan, babi tali nyenyua lai ngemela ai’ mata mata dua tiga bereta bebinsan…, tapi dipuntan mentawan aku dibatu….rawan kema tepesan Inaei ngeruan retanah….tayan, ngerinsa mesepa Laja besendam detan keda’lawi’ pendan degengam tuan sa…pi…u…mpan, dekedang aja besapar lengan, baka sapar memuli tungal…., tungal detan kejelayan kelawi’ bemban pemeran ngebau ketanah babi tali sawah sebelah u….ma…laya’ tebelengka’ mangka’ nguman rian telabuoh pusuoh nyur detandan…., dipi’ jaran betanduok tungal derinsa sepa laja besendam, detan kelandai menyalai mentan nadai tegisier kaki jempuli ni…pa..an, nipan…nyuruoh kitai kakat da….ya…ap, nangan ka’ nambung sida’ dekebung ujan, pengitau Ijau duan ka’ ngesah detampah….bemban, meda’ uwie sega’ tebeluma’ lima’ enam, bedapan tujuh lapan baka detipan ngau besi tajam putuoeh detangan sedal belawie’ leman, celaka kema derinya namban..”

b. Yang bersifat lebih ringan

Kanduok ini mungkin lebih dekat dengan istilah dongeng dan tidak memiliki persyaratan-persyaratan khusus seperti pada Kana. Kanduok yang ringan-ringan dan pendek-pendek, biasanya cerita-ceritanya bersifat bebas, sering dijadikan pengantar tidur bagi anak-anak, seperti fabel, dan sebagainya. Misalnya kisah Inaei Kera’ ngau Inaei ukuoi (induk kera dan Induk anjing). Apai Aloi (pak Ali-Ali).

Untuk satu buah Kanduok atau ensera biasanya cukup dituturkan oleh satu orang saja. Kanduok biasanya dituturkan terutama pada saat-saat para wanita-wanita, saat sedang membersihkan rumput atau saat-saat bergotong-royong memanen padi di ladang. Oleh sebab itu penutur Kanduok ini cendrung seorang ibu/wanita. Tetapi boleh juga dilakukan oleh pria. Misalnya yang dituturkan seorang informan Riri, umur 72 tahun, Desa Baning Panjang, kecamatan Kelam Permai. Ia menuturkan lewat kanduoknya tentang rumah Inaei Kelieng yang diserang musuh dan akhirnya mereka berhasil meloloskan diri atas bantuan selampai, kepua’ kumbu’ (jenis-jenis Kain tenun ikat) yang membawa mereka sekeluarga terbang jauh.

3. Mantra

A. Enselan

Enselan adalah bagian dari sebuah kegiatan upacara adat yang biasa dilakukan dalam kelompok masyarakat ini. Semacam mantra yang telah baku untuk memohon berkat kepada Sang Pemilik Kekuasaan mutlak. Misalnya saja pada upacara Enselan Indu’ (enselan anak perempuan), yang antara lain memohon kepada beberapa orang-orang sakti maupun nenek moyang yang pernah hidup sebagai seorang yang bijaksana, Sakti, pandai menenun dan lain sebagainya untuk memberkati kehidupan sang anak supaya kelak ia mengikuti jejak kebijaksanaan dan kepandaian mereka.

Ada juga upacara enselan anak lelaki yang prosesnya hampir sama. Saat enselan, sang anak didudukan di atas gong dengan dipangku seseorang yang pantas menurut adat dengan beralaskan kepuak kumbuk tersebut. Sang anak diolesi darah ayam yang dicampur dengan darah babi, sebagai tanda pemberkatan.

Demikian juga halnya dengan enselan uma (enselan Ladang) supaya kegiatan berladang itu berkenan kepada Sang Penguasa Alam dan terhindar dari gangguan hama maupun bencana lainnya.

B. Timang Muanyik.

Mantra ini biasanya hanya dibacakan ketika akan mengambil lebah madu. Dengan mantra ini, mereka yang ditugaskan mengambil madu di pucuk pohon akan dapat terhindar dari sengatan lebah. Mantra ini semacam dialog kosmologi antara pembaca mantra dengan penguasa alam. Intinya pemantra meminta izin kepada penguasa alam semesta agar diperkenankan mengambil madu lebah itu. Dalam beberapa kalimat mantra itu juga terkandung bujukan kepada raja lebah. Selain ditujukan supaya lebah tidak menyengat, juga supaya madu yang dihasilkan itu berkualitas baik dan tidak kosong. “Ti muanyik nisik madu pecal ke tusu nyai ratu baka catu depajak kenyang.

Ti muanyik kak minteh tepeh ngau tapeh bidang betulang. Penguasa lalau adalah Penguasa Lalau, Dara Remiya . Bila keliru membaca mantra maka pemanjat akan jatuh.



4. Ngerenung

Ngerenung adalah bagian dari upacara-upacara adat dalam masyarakat dayak desa namun hampir tak pernah dilakukan lagi karena sudah langka dan sangat sulit untuk menemukan penutur atau penyaji ritualnya, kecuali ritual serupa yang disebut Bebasouk Arang, saat berladang. Namun menurut sejumlah responden di Kecamatan Kelam Permai mereka masih ingat bahwa ketika masih hidup dan berkumpul di rumah betang dahulu dikenal beberapa buah renung dalam masyarakat ini yaitu:

a. Renung enselan ladang (dilakukan diladang dan merupakan kelanjutan dari enselan ladang)

b. Renung turun ngemak (renung ini hanya dilakukan saat upacara memandikan anak kecil disungai),

c. Renung ngapeh pentiek (dilakukan saat menanam pentiek/semacam patung dari kayu).

d. Renung tusut (silsilah asal mula terciptanya manusia sampai ke keturunan atau sang anak yang sedang dipestakan), Renung ini biasanya dilakukan saat upacara pemasahan gigi sang anak, atau upacara saat menggunting rambut, atau menitik (melobangi) daun telinga sang anak baik laki-laki atau perempuan. Renung ini sebenarnya kelanjutan dari enselan. Setelah seorang anak dienselan maka kemudian dilanjutkan dengan renung ini tadi, tujuannya untuk menggemakan suara pesta/upacara tersebut dengan mengundang tokoh-tokoh mitologi maupun nenek moyang yang pernah hidup bertuah dan sakti dan pandai. Tujuannya meminta berkat dan tuah mulai dari obat-obat atau pun ajimat-ajimat yang akan menjadi bekal membantu sang anak dalam mengarungi kehidupannya di dunia. Supaya kelak ia menjadi orang yang bijak, pandai menganyam-menenun dan memperoleh suami yang baik (bagi anak perempuan), dan seterus, dan seterusnya. Semua yang terlibat langsung dalam gawai tersebut biasanya dari adalah mereka yang memiliki keahlian tertentu biasanya mengenakan pakaian adat dari kain tenun ikat sehingga melahirkan suasana yang sakral

Masih banyak lagi tradisi lisan dayak desa yang menyimpan catatan tersendiri mengenai budaya kelompok masyarakat ini, terutama legenda maupun mitos-mitos yang diantaranya telah telah menjadi bayangan purba (archetype) ( bandingkan dengan ulasan Seno Gumira Adjidarma, tentang Indonesia sebagai pasien Jung, Sejarah Tak terkuburkan, Kompas, Sabtu, 6 Mei 2000) dan sisanya masih bisa kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak Desa, misalnya kehidupan rumah betang di Ensaid, atau Baning Panjang, Kecamatan Kelam Permai.

Inilah contoh yang paling dekat dan yang masih dapat kita saksikan dan kita rasakan secara konkrit. Baik yang berupa atrifak kebudayaan, seperti tenun ikan, patung, dan benda atau ikon lainnya sebagai penanda bahwa kelompok masyarakat ini pernah dan masih ada

Lebih dari itu, tradisi lisan ini terus menerus dituturkan dan masih dilakukan dalam bentuk ritual kehidupan untuk menjaga tatanan keseimbangan jagat, atau apa yang oleh F. H. L. Hsu ( Psychological Homeostatis and jen” American Anthropologist, 1971), yaitu suatu lingkaran karib atau manusia berjiwa yang selaras dan berkepentingan (YB. Mangun Wijaya, 1999). Namun tak dapat dipungkiri bahwa masuknya agama Kristen maupun agama lainnya maupun pengaruh teknologi dalam ranah kepercayaan kelompok masyarakat ini telah menyebabkan tradisi lisan masyarakat Desa semakin hari terdegradasi dan erosi.

sumber
Quote:http://wisnupamungkas.wordpress.com/...an-dayak-desa/

Kembangkan Ekowisata Menjadi Bisnis Masyarakat

Quote:Quote:Kapuas Hulu-PUTUSSIBAU, (kalimantan-news) - Dalam pengembangan ekowisata mesti dapat bermanfaat bagi masyarakat setempat, dan sesungguhnya pengembangan ekowisata tersebut merupakan bisnis yang dilakukan langsung oleh masyarakat dalam mengelola potensi wisata yang ada, salah satunya yang ada di Rumah Betang Sungai Uluk Palin, pasalnya melalui pengembangan ekowisata dapat memupuk semangat masyarakat untuk mengali budaya adat istiadat yang ada dan memiliki nilai jual tinggi di mata dunia.

Quote:Demikian dikatakan Hermas dari Komunitas Pariwisata Kapuas Hulu (Kompakh) pada acara sosialisasi pengembangan ekowisata yang dilaksanakan pada Minggu (05/02/2012) di Rumah Betang Desa Sungai Uluk Palin.

Quote:“Mau tidak mau, suka tidak suka harus Kita terima kenyataan bahwa Rumah Betang Sungai Uluk Palin ini menyimpan banyak keunikan budaya yang tidak dimiliki oleh daerah lain, dan keunikan inilah yang sudah dikenal hingga mendunia, Kita harus bangga akan hal itu, tinggal bagaimana caranya masyarakat bisa merasaka manfaat dengan wisata ini, oleh karenanya dikembangkanlah ekowisata yang harus dipahami oleh masyarakat,” jelasnya.

Quote:Dikatakan Hermas, bahwa untuk mengembangkan ekowisata yang benar-benar dirasakan masyarakat manfaatnya, memaka waktu yang cukup panjang, tidak semerta-merta bisa dirasakan, oleh karenanya mesti terus dilakukan pembinaan serta memupuk tingkat kesadaran masyarakat untuk peduli terhadap kebersihan lingkungan untuk mendukung pengembangan ekowisata.

Quote:Tidak hanya itu Hermas juga berharap agar seluruh masyarakat yang ada di Desa Sungai Uluk Palin untuk dapat mengubah pola pikir untuk mengembangakan potensi wisata yang ada, sebab tanpa disadari bahwa Sungai Uluk Palin sudah terkenal hingga ke Mancan Negara.

Quote:“Yang perlu diperhatikan itu kesiapan masyarakat itu sendiri terutama kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan keramahan terhadap lingkungan sehingga bisa menarik perhatian orang luar, jangan sampai Betang kebanggan Kita ini terkenal dengan kekumuhannya,” tandas Hermas. (phs)


Spoiler for sumber:

Pemprov Kalbar beri penghargaan tokoh pendidikan dan budaya

Quote:Quote:Pontianak (ANTARA News) - Empat dari enam budayawan dan tokoh pendidikan Kalimantan Barat yang sedianya menerima penghargaan saat Upacara HUT ke-55 pemerintah provinsi, Senin pagi, akhirnya hadir di acara ramah tamah di Pendopo Gubernuran, Senin malam.

Keempatnya yakni Gusti Syamsumin (tokoh pendidikan), Xaferius Fuad Asali (budayawan), John Bamba (budayawan), dan Wijaya Tandra (tokoh pendidikan).

Mereka menerima potongan kue ulang tahun yang diberikan oleh istri Gubernur Kalbar, Frederika Cornelis.

Sedangkan dua tokoh lain yang tidak hadir adalah Barnabas Simin dan Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim (budayawan).

Informasi yang dihimpun, dua orang itu tidak hadir karena di saat bersamaan harus mengikuti acara lain yang sudah dijadwalkan sebelumnya.

Pemprov Kalbar dikabarkan telah memberi surat klarifikasi dan permohonan maaf kepada para tokoh itu.

Gubernur Kalbar Cornelis menyerahkan penghargaan tersebut termasuk para pemenang lomba dalam rangkaian kegiatan yang digelar guna memeriahkan HUT ke-55 Pemprov.

Keenam tokoh itu sendiri jadwal sebelumnya akan menerima penghargaan dari Pemprov Kalbar pada saat Upacara HUT ke-55 di halaman Kantor Gubernur Kalbar.

Namun karena masalah administrasi sehingga pemberian penghargaan ditunda dan diserahkan saat ramah tamah di Pendopo Gubernur Kalbar pada malam harinya.

Hal itu sempat membuat kecewa mereka. John Bamba saat di Kantor Gubernur Kalbar mengatakan, sebelum hadir pada upacara HUT Pemprov tersebut, mereka juga sudah dikumpulkan, mengikuti gladi resik pada Jumat (27/1) dan kemarin surat resmi serta pesan singkat melalui telepon mengenai rencana penyerahan penghargaan itu mereka terima dari Biro Kesejahteraan Sosial Pemprov Kalbar.

Tetapi setelah datang pukul 06.30 WIB dengan mengenakan jas lengkap, keenamnya tidak juga dipanggil untuk menerima penghargaan. "Kami sempat mengecek habis upacara tadi, dan dikasih tahu acaranya di ruang dalam. Tetapi ternyata hanya minum teh," katanya lagi.

XF Asali, yang sudah berusia 80 tahun, datang sejak pukul 06.30 WIB mengenakan jas lengkap. "Ya kecewa kita sudah datang tetapi acaranya tidak jadi," katanya.

Ia mengatakan secara pribadi sebenarnya "surprise" dengan adanya niat Pemprov memberikan penghargaan sebagai Tokoh Kebudayaan kepada dirinya.

Ia menunjukkan undangan resmi dari Pemprov yang isinya jadwal acara yang mesti dihadiri sebelum menerima penghargaan tersebut.


Spoiler for sumber:

Cap Go Meh Hasil Akulturasi Budaya Yang Jadi Daya Tarik Wisata

Quote:Senin, 06 Februari 2012 15:12

Puncak perayaan Festival Cap Go Meh benar-benar menyihir penonton yang rela berdatangan ke Kota Singkawang untuk menyaksikan atrakasi tatung yang memang ditunggu-tunggu.
Sebanyak 765 tatung pada Senin (6/2) benar-benar menyihir penonton yang rela berdesak-desakan untuk menyaksikan atraksinya. Diperkirakan lebih dari 20 ribu penonton menyaksikan perayaan Cap Go Meh ini baik wisatawan nusantara, wisatawan mancanegara, penduduk di sekitar Singkawang serta penduduk Singkawang sendiri.
Perayaan Cap Go Meh di Kota Singkawang memang agak berbeda jika dibandingkan dengan perayaan di daerah lain yang banyak komunitas Tionghoanya di Indonesia termasuk juga di negara asalnya Tiongkok. Sehingga tak heran perayaan Cap Go Meh di Singkawang menjadi satu daya tarik wisata yang mendorong ribuan wisatawang datang untuk menyaksikannya.
Cap Go Meh di Singkawang di yakini sebagai hasil akulturasi budaya masyarakat pendatang dari Tiongkok dengan penduduk lokal. Hasil akulturasi inilah yang menjadi suatu daya tarik yaitu dengan kehadiran tatung yang mempunyai kekuatan supra natural. Seseorang menjadi tatung bisa didapat karena warisan keturunannya, didapat karena mempelajari atau karena mendapat wangsit.
Kekuatan supra natural itulah yang ditunggu-tunggu penonton karena pada perayaan Cap Go Meh para tatung memperlihatkan kekuatannya yang menurut logika sehat tidak akan dapat terjadi. Namun hal seperti itu nyata terjadi dialami tatung seperti badan mereka yang dapat ditembus senjata tajam tanpa meneteskan darah atau tubuh mereka disiran air keras tanpa mengerang kesakitan.
Para tatung yang menunjukan atraksinya dengan berkeliling kota diyakini sebagai upaya untuk mengusir roh jahat. Dengan mengusir roh jahat diharapkan kota dapat terbebas dari pengaruh roh jahat. Selama melakukan atraksinya keliling kota para tatung ada yang berjalan kaki maupun berdiri di atas pedang, atau senjata tajam lainnya pada tandu yang digotong kelompok pengiringnya.
Sebelum para tatung pawai keliling Kota Singkawang pada ruas jalan yang telah ditentukan, sejak pagi hari mereka telah berkumpul di Stadion Kridasana untuk dilepas. Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH melepas secara resmi didampingi Walikota Singkawang Dr. Hasan Karman, SH,MM.
Even tahunan yang terbesar di Kalimantan barat juga menarik para pejabat untuk menyaksikannya. Seperti yang terlihat Pangdam XII Tanjung Pura, Kapolda Kalimantan Barat, Ketua DPRD Kota Singkawang Kepala SKPD di lingkungan Pemerintah Kota Singkawang serta undangan lainnya.


Sumber

Anggota DPR RI Kagum Budaya Sanggau

Quote:

Quote:Quote:TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Jafar Hafsah kagum dengan pelaksanaan Festival Faradje' yang dilaksanakan Keraton Surya Negara Sanggau, Selasa (28/06/2011).
Quote:Ia berharap apa yang sudah dilaksanakan oleh pihak keraton setiap tahunya ini bisa dijaga dan dilestarikan secara maksimal karena merupakan kekayaan bangsa Indonesia .
Quote:
Hal tersebut dikatakan Jafar Hafsah disela-sela menghadiri acara pembukaan Festival Faradje' yang digelar di halaman Keraton Surya Negara Sanggau.


Quote:"Kebudayaan adalah roh pemersatu bangsa kita Indonesia ini, makanya kebudayaan tersebut harus dijaga dan dilestarikan mengingat negara kita adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan tetap terpeliharanya kebudayaan yang ada di negara kita maka kita berharap negara kita tercinta ini tetap bersatu," katanya.

Quote:Dijelaskan Jafar, DPR RI juga sedang melakukan pembahasan mengenai undang-undang yang mengatur tentang keberadaan kerajaan dan keraton yang ada di Nusantara.

Quote:Diharapkan dengan undang-undang yang sedang dibahas tersebut keberadaan kerajaan dan keraton di nusantara tetap terjaga dan dilestarikan.

Quote:"Kami akan berjuang agar undang-undang tersebut segera disahkan. Dengan harapan bahwa UU dapat mengayomi keberadaan raja-raja di nusantara, termasuk yang ada di Kabupaten Sanggau. Saya minta kerajaan yang ada di Kalbar tetap menjaga keutuhan kerajaan yang ada termasuk rumah kayu yang masih banyak di wilayah ini yang sangat saya kagumi keberadaanya," tandasnya.

Quote:
Pelaksanaan pensucian negeri yang dikenal dengan sebutan Festival Faradje' dilaksanakan setiap tahun oleh pihak Keraton Surya Negara Sanggau. Selain merupakan upaya untuk membersihkan Kota Sanggau dari bencana, upacara yang dilaksanakan juga menjadi upaya pihak keraton untuk menjaga kebudayaan yang ada agar tidak punah dimakan zaman.


Quote:Acara Festival Faradje' yang digelar dimulai dengan upacara pawai keliling Kota Sanggau, yang diikuti oleh benda-benda pusaka kerajaan, prajurit kerajaan dan juga melibatkan elemen masyarakat. Pawai keliling Kota Sanggau yang dimulai sejak pukul 8.00 WIB sendiri menjadi pusat perhatian masyarakat Kota Sanggau dan sekitarnya mengambil rute halaman Keraton Surya Negara, Jl A Yani, Jl Jend Sudirman, Jl Kartini dan kembali ke halaman Kerato Surya Negara Sanggau.

Quote:Acara kemudian dilanjutkan dengan upacara tolak bala yang disebut dengan tolak ajong, dengan cara melarung benda berbentuk perahu yang berisikan buah-buahan dan ayam. Yang dilarung ke Sungai Kapuas untuk membersihkan Kabupaten Sanggau dari bencana, acara Festival faradjeÆ sendiri digelar selama tiga hari mulai 28 Juni 2011 hingga 1 Juli 2011.

Quote:Ketua kekerabatan Keraton Kalimantan Barat Gusti Suriyansyah, ketika dikonfirmasi Tribun secara terpisah mengatakan merasa bangga dengan festival yang dilakukan Keraton Surya Negara Sanggau tersebut. Festival yang digelar tersebut menurutnya merupakan upaya untuk menjaga kebudayaan sesuai dengan fungsi utama keraton di Kalimantan Barat ini.


Quote:Harus kita akui kebudayaan asing sekarang masuk ke Kalbar tanpa toleransi, dengan festival semacam inilah kita harapkan menjadi penyaring kebudayaan asing yang masuk. Makanya kita berbangga hati Keraton Surya Negara Sanggau sudah mampu melaksanakanya. Keraton yang lain seperti Landak, Mempawah, sudah melaksanakanya dan harapan keraton lain juga mengikutinya, tandasnya.



Quote:Dirinya juga berharap terhadap pemerintah kabupaten yang ada di Kalimantan Barat untuk memperhatikan secara khusus keberadaan keraton yang ada di wilayahnya. Mengingat keraton merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari berdirinya sebuah wilayah. Sehingga harus mendapatkan perhatian secara maksimal.


Quote:
"Sebagai ketua kerukunan keraton yang ada di Kalbar kita akan perjuangkan agar keberadaan keraton ini mendapat perhatian lebih. Kita merasa bangga dengan kabupaten-kabupaten yang selama ini sudah memberikan perhatian lebih, sehingga keraton yang ada bisa melakukan festival seperti ini dalam upaya mempertahankan budaya yang ada," tandasnya.



sumber

Wisata Ziarah Makam Keramat Tujuh

Quote:Quote:Oleh: Kamiriluddin

Di Kabupaten Ketapang banyak objek wisata yang dapat dijumpai. Dari sekian banyak tersebut, objek wisata yang tak kalah peminatnya adalah wisata ziarah. Wisatawan lokal maupun mancanegara kerap melancong ke Bumi Ale-ale untuk berwisata di objek wisata ziarah.

Objek wisata ziarah yang disuguhkan, misalnya, mendatangi Makan Kerajaan Tanjung Pura, Makam Keramat Tujuh, Makam Keramat Sembilan, Makam Pahlawan, dan masih banyak lagi lainnya. Tidak sedikit wisatawan yang datang ke tempat tersebut. Umumnya kedatangan mereka selain wisata juga ingin berziarah. Raja Tanjungpura, namanya banyak diabadikan untuk bangunan strategis pemerintah seperti Universitas Tanjungpura, Kodam Tanjungpura dan Jalan Tanjung Pura. Kabupaten Ketapang patut bangga, karena kerajaan Makam Tanjungpura berada di sini (Ketapang, Red).

Makam Kerajaan Tanjungpua terletak di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang. Tidak jauh dari komplek makam terdapat padang khalwat berukuran kurang lebih 10 x 20 meter. Padang khalwat merupakan tempat raja untuk tafakur (mendekatkan diri kepada Sang Pencipta). Meski berada ditengah hutan, tempat ini selalu bersih walaupun tidak ada orang yang membersihkan. Tidak jauh dari padang khalwat ini terdapat sumur untuk bersuci (berwudhu).

Kompleks Makam Kerajaan Tanjungpura berjarak sekitar 27 Km dari Kota Ketapang. Objek ini dapat di tempuh dengan jalan darat menggunakan kendaraan roda dua sekitar dua jam. Bisa juga lewat sungai dengan motor air sekitar empat jam atau jika ingin cepat menggunakan speed boat sekitar satu jam.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ketapang, Yudo Sudarto, SP, M.Si mengatakan pengembangan wisata ziarah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW dengan tujuan meningkatkan ketakwaan dan mengingatkan akan kematian dibenarkan dalam Islam. Sejauh ini pengelolaan objek wisata ziarah masih belum maksimal, akibatnya kebanyakan masing-masing peziarah datang sendiri-sendiri atau kelompok. Menurutnya, objek wisata ziarah cukup potensial untuk dikembangkan seintensif objek-objek wisata alam, wisata sejarah, minat khusus dan sebagainya.

Selain makam Kerajaan Tanjungpura, makam tua yang tak pernah sepi pengunjung adalah Makam Keramat Tujuh dan Makam Keramat Sembilan di Kecamatan Benua Kayong. Makam ini cukup terkenal baik di dalam negeri maupun manca Negara Makam Keramat Tujuh yang dikenal adalah penuh dengan kesan dan keajaibannya sehingga banyak penziarah datang ke tempat itu. Makam Keramat Tujuh adalah makam tua yang terbuat dari batu bertuliskan huruf Arab dan pada kaki makamnya dengan tulisan huruf Jawa.

Persisnya terletak sekitar empat kilometer dari Kelurahan Mulia Kerta, Kecamatn Benua Kayong. Menurut Uti Mahyus, Juru Kunci Makam Keramat Tujuh, penziarah sangat banyak pada waktu tertentu seperti saat hari raya Idul Fitri. Makam Keramat Tujuh ini, dikatakan Uti, tidak hanya didatangi oleh pengunjung dari dalam daerah akan tetapi juga pernah dikunjungi oleh warga Negara asing diantaranya dari Jerman, Amerika, Singapura, Brunai dan Malaysia. Dimana dalam hal ini mereka melakukan suatu penelitian sejarah. Bahkan arkeolog UI pernah meneliti di makam ini.


sumber
Quote:

Quote:Mempawah – Perayaan budaya Robok-robok 2012 di Kuala Mempawah Kabupaten Pontianak berlangsung semarak dan meriah. Dengan mengusung tema peduli bangsa bersatu karya, kegiatan itu diresmikan oleh Wakil Gubernur Kalbar Cristiandy Sanjaya ditandai dengan pemukulan tar di Pelabuhan Perikanan Indonesia (PPI) Kuala Mempawah, Rabu (18/1).

Bupati Pontianak Ria Norsan dalam sambutannya menjelaskan, perayaan Robok-robok dimaksudkan untuk menolak bala sekaligus napak tilas perjalanan Opu Daeng Menambon dari Kerajaan Martapura Ketapang ke Kerajaan Bengkule Rajak Mempawah.

“Melalui event ini diharapkan dapat menarik minat wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara untuk berkunjung ke Mempawah. Sehingga event ini menjadi salah satu kegiatan wisata budaya yang selalu dinanti dan ditunggu masyarakat luas,” kata Norsan.

Norsan menilai semua elemen harus senantiasa peduli terhadap nilai-nilai kebudayaan yang ada di masyarakat. Karena dengan kebudayaan akan terbangun suatu bangsa dengan karya yang indah. Untuk itu, tema tahun event Robok-robok pada tahun 2012 ini yaitu peduli bangsa bersatu karya.

“Dari sektor ekonomi, Robok-robok diharapkan mampu memberikan dampak luas kepada masyarakat. Seperti adanya kegiatan pasar rakyat yang mampu memberikan multiplier effect yang luas. Serta adanya pembangunan kebudayaan dan pariwisata yang mencakup lintas sektoral dan lintas daerah, termasuk peran masyarakat dan swasta,” tuturnya.

Sementara itu, Raja Mempawah Pangeran Ratu Mulawangsa Dr Ir Mardan Adijaya Kusuma Ibrahim MSc mengajak semua masyarakat untuk memperkuat persatuan dan kesatuan. Seperti halnya ilmu nasi kebuli sepiring. Manusia diibaratkan sebagai nasi yang tidak ada perbedaannya.

“Nasi tidak akan enak jika tidak dicampur dengan ramuan yang pas. Seperti minyak bawang dan garam. Demikian pula budaya. Sedangkan piringnya diibaratkan seperti aparat keamanan yang menjaga keutuhan persatuan masyarakat. Sedangkan sendok dan garpunya adalah jajaran eksekutif, legislatif, dan yudikatif,” paparnya.

Nah, timpal Mardan, jika berbagai ramuan itu dicampur menjadi satu dengan baik dan benar, maka nasi kebuli ini akan cantik dilihat dan enak dimakan. Untuk itu, masyarakat hendaknya tidak hidup sendiri-sendiri.

“Budaya itu harus ditata dengan baik. Karena, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu meletakkan budaya di hatinya. Sebab, budaya adalah suatu budi daya yang di dalamnya ada etos kerja, moral, tata nilai,” pendapatnya.

Mardan menegaskan bahwa budaya merupakan benteng dari negara ini. Suatu negara tidak cukup hanya dengan kesejahteraan dan keamanan saja. Melainkan juga perlunya benteng informasi dan budaya.

“Kami ucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah yang telah menghargai pemikiran seni dan budaya di daerah ini. Kita jangan saling curiga atau tuding menuding antarbudaya yang satu dan lainnya. Jangan buat budaya itu menjadi picik atau politik,” tegasnya.

“Mari bersama kita lestarikan dan kembangkan seni dan budaya yang ada. Sehingga bisa menjadi seperti nasi kebuli sepiring yang cantik dilihat, enak dimakan dan higienis. Supaya bangsa ini lebih berwibawa, memiliki harkat dan martabat yang lebih baik,” pesannya.

Senada itu, Wakil Gubernur Kalbar Cristiandy Sanjaya mengatakan Pemerintah Provinsi Kalbar sejak dulu bertekad senantiasa mengembangkan dan meningkatkan nilai-nilai budaya di masyarakat. Hal itu sebagaimana dijabarkan dalam visi dan misi RPJMD yang diusung sejak tahun 2008-2013 mendatang.

“Yakni bagaimana mewujudkan masyarakat Kalbar yang beriman, sehat, cerdas, aman, berbudaya, dan sejahtera. Jadi dari tahun 2008 kita sudah menempatkan budaya menjadi sentral. Karenanya, di berbagai tempat kita selalu mempromosikan budaya yang ada di masyarakat Kalbar. Salah satunya Robok-robok ini,” kata Cristiandy. (shn)


sumber : sumber