KASKUS

Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.

Selamet malem.

Permisi, para sepuh sekalian.
Saya mau bikin trit tentang wayang.

Wayang dengan segala kisahnya, tokoh-tokohnya, karakter yang menyertainya
dan berbagai faktor eksternal yang melengkapi kehadirannya seakan bagai sumur yang tidak pernah kering.

Menjadi obrolan mulai dari warung kopi sampai cafe yang mentereng.
Oleh tukang becak sampai presiden.
Dari bromocorah sampai ulama.

Wayang, selain dibahas mengenai lakon dan tokohnya juga menjadi bahan kajian yang menarik dari berbagai sudut pandang.

Oleh karena itu, dengan segala hormat, saya membikin trit ini tidak lain untuk tempat berbagi informasi dan pengetahuan lain tentang wayang.

Mohon bimbingan dari para sepuh.
INDEX

Ini hanya sebagai alat bantu saja, informasi hangat bakal banyak diperoleh dari obrolan di trit ini,
baik berkaitan dengan artikel yang diposting atau tidak sama sekali.
Mulai filsafat sampai gosip, dari politik hingga mistik.....

1.
a. Konsep kepemimpinan semar dalam wayang purwa ditinjau dari filsafat politik 1
b. Konsep kepemimpinan semar dalam wayang purwa ditinjau dari filsafat politik 2
c. Konsep kepemimpinan semar dalam wayang purwa ditinjau dari filsafat politik 3
2. Memfilsafatkan wayang atau merakyatkan lagi dinamika wayang?
3.
a. Wayang: Di Balik Bayang-bayang Perubahan 1
b. Wayang: Di Balik Bayang-bayang Perubahan 2
c. Wayang: Di Balik Bayang-bayang Perubahan 3
4.
a. TERBELENGGU OLEH ISTILAH 1
b. TERBELENGGU OLEH ISTILAH 2
c. TERBELENGGU OLEH ISTILAH 3
5. Wayang Sapuh Leger
6. Wayang Calon Arang
7. Wayang Cupak
8. Wayang Babad
9. Wayang Sasak
10. Wayang Arja
11. Wayang Gambuh
12.
a. Wayang Tantri
b. Wayang Tantri
13. Wayang Listrik Kontemporer
14. Wayang Beber
15. Politik Wayang
16. Kumbo Karno dan Bung Hatta
17. Kematian yang Tertunda dan AntiOedipus [Catatan dari Pementasan "Rama Barghawa"]
18. lakon “Semar Mbangun Khayangan (Forum Maya)”
19. Orang Jawa Tidak Suka "hitam putih"
20. Dalang Wayang Golek
21. Lima Kategori Dalang
22. Ki Akhamadi, Dalang Wayang Golek Cepak
23. Boma Menggugat - Wayang Orang “Boma” Pelajaran bagi Orangtua Durhaka
24. BOMA NARAKASURA VS GATUTKACA (Rebutan Kikis Tunggarana)
25. Tarot wayang
26. Wayang Ceng Blong Khas Bali
27. Karakter Wayang Bali
28. Dua Sisi Yang Harus Ada
29. Mbilung Yang Berbahasa Indonesia
30. Wayang ‘Krucil’ Mbah Gandrung Sebuah Kearifan Lokal , Mistis dan Sejarah
31.
a. Cenk Blonk, Wayang Kulit Bali Gaya Baru 1
b. Cenk Blonk, Wayang Kulit Bali Gaya Baru 2
32. Semar dan Socrates
33. Air Mata Yang Hilang
34. Pitoyo Amrih: Novel Wayang Membangun Bangsa
35. Kayon
36. Lakon: Penuh Ajaran Keadilan dan Tahu Balas Budi
37. Jamaah Setia Wayang Purwa
38. Wayang banjar : Segi mistik proses pembuatan wayang
39. REFLEKSI DARI DISKUSI: Ritual kepada Dewa Siwa Di Kraton Yogyakarta
40. Kisah Sukesi, Pendidikan Seks dalam Tradisi Jawa
41. Sekolah sangat mahal. Tiru Ekalaya saja?
42. Aswatama
43. Asawatama Sosok Misterius
44. Nostalgia Nonton Wayang Bersama Bung Karno
45. Soekarno, Wayang dan Ratu Adil
46. Tragedi Dorna
47. Antara Pencitraan & Kebohongan dalam Jagat Pewayangan & Panggung Politik
48. Filsafat Wayang Jadi Cabang Studi Baru
49. Jembatan Madusura
50. Semar Moksa
51. Tipe pemimpin menurut pewayangan
52. Wayang Hanya Diperkaya Unsur Islami?
53. Spesifikasi dan karakteristik wayang wahyu surakarta
54. Monggo Dinikmati
55. Titik Singgung Wayang dan Keris
56. Visualisasi Karakter Pada Wayang Wong
57. Diskusi Lakon-lakon Wayang Sunan Kalijaga

58. Rikmadenda Mencari Tuhan
59. Milik siapa cinta sinta? : Gambaran sinta dalam puisi-puisi indonesia modern
60. Pergelaran Wayang "Kulit Manusia" di Magelang
61.
a. Wayang Arjuna ini dibuat dari kulit manusia 1
b. Wayang Arjuna ini dibuat dari kulit manusia 2
62.
a. WAYANG, KARYA ASLI LELUHUR BANGSA, Sebagai Falsafah “Gumêlaring-Bawáná 1
b. WAYANG, KARYA ASLI LELUHUR BANGSA, Sebagai Falsafah “Gumêlaring-Bawáná 2
c. WAYANG, KARYA ASLI LELUHUR BANGSA, Sebagai Falsafah “Gumêlaring-Bawáná 3
63. Masterpiece
64. bukit wayang jember
65. pantangan nanggap wayang kulit di bromo
66.
a. Kandungan Nilai filosofis Dalam Serat menak dan Wayang Golek Menak 1
b. Kandungan Nilai filosofis Dalam Serat menak dan Wayang Golek Menak 2
67. Kebaikan Kurawa
68. Pidato Karna Kepada Pejuang Kuru
69. Ki sabdho sutedjo, dalang berdarah tionghoa
70. Jeff "Paimin" Cottaz, Jembatan Wayang
71. Wayang Gantung Singkawang di Ambang Senja
72. Wayang Kulit Betawi
73. Wayang Kulit Palembang
74. Mudiknya Dawet Ayu Banjarnegara

Konsep kepemimpinan semar dalam wayang purwa ditinjau dari filsafat politik

PENDAHULUAN

Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan kebudayaannya. Kebudayaan yang timbul dan berkembang dalam setiap suku memiliki keunikan dan kekhasan yang berbeda-beda, salah satunya adalah kebudayaan Jawa. Kebudayaan Jawa dalam hal ini Jawa Tengah mempunyai ragam kebudayaan, salah satunya adalah wayang. Bagi masyarakat Jawa pagelaran wayang yang hanya dipentaskan pada hari-hari tertentu seperti hari perayaan keagamaan dan acara-acara slametan (upacara yang ditandai dengan sajian bermacam-macam makanan yang ditentukan menurut kebudayaan Jawa), dan untuk merayakan peristiwa penting, misalnya kelahiran, sunatan, perkimpoian itu, tidak hanya sebagai hiburan akan tetapi pada perkembangannya, cerita-cerita atau lakon yang dipentaskan disesuaikan dengan kondisi dan keadaan yang sedang dialami oleh masyarakat. Bahkan sering kali pementasan wayang ini menyindir bahkan mengkritik para tokoh masyarakat, politikus, dan pemimpin negara yang perilakunya dianggap ‘menyimpang' dari harapan masyarakatnya.

Salah satu tokoh wayang yang paling banyak digemari dalam masyarakat Jawa adalah Semar . Dalam mitologi Jawa, semar adalah seorang pemimpin yang sering dipuja karena keberhasilannya dalam memajukan bangsa. Tokoh ini banyak dijadikan sebagai simbol seorang pemimpin yang ideal, yang memiliki sifat rendah hati, suka menolong sesama, tidak serakah, melakukan tapa , mengurangi makan dan tidur, dan laku lainnya. Hal ini menarik karena sifat-sifat manusia dalam mitologi Jawa sering kali disimbolkan dengan sifat dan watak dari tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan, bahwa apa yang terjadi di dunia pewayangan akan terjadi pula di dunia nyata ini, seolah apa yang dilakonkan dalam cerita wayang, menggambarkan keadaan yang nyata baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Dalam kenyataan hidup, semar merupakan lambang yang memberi petunjuk mengenai hidup, kehidupan dan masalahnya. Petunjuk-petunjuk semar sedehana, karena dia seorang pembantu atau abdi , tetapi karena tokoh semar ini baik hati dan penasehat para Pandhawa yang bijaksana, para hadirin yang menonton wayang wajib memperhatikan nasehat dan ajaran semar serta petunjuknya, yang selama ini dianggap sebagai contoh dan teladan orang Jawa.

Oleh karena itu, menurut Niels Mulder (1996) ajaran-ajaran Jawa penuh dengan simbolisme dan ilmu rahasia ( ngelmu ) yang memacu angan-angan dan renungam mitologi wayang purwa yang diilhami oleh cerita Mahabharata , kehidupan dunia nampak hanya merupakan pencerminan semata, suatu bayangan dari kebenaran dan kejadian-kejadian yang lebih tinggi.

Dalam pembahasan akan dipapar lebih lanjut mengenai tokoh semar dalam mitologi Jawa dilihat dari konsep kepemimpinan dan pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat Jawa pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

PEMBAHASAN

A. Mengenal Figur Semar

Semar Badranaya adalah tokoh punakawan yang dalam wayang Jawa memiliki peran yang lebih utama daripada wayang babon (wayang dengan tokoh asli India ). Punakawan adalah karakter yang khas dalam wayang Indonesia . Mereka melambangkan sifat manusia. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasehat para ksatria, penghibur, kritisi social, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Dalam wayang Jawa karakter punakawan terdiri atas Sema r, Garen g, Bagon g dan Petruk .

Di dalam wayang kulit, semar adalah pembantu Pandhawa, tetapi dia sangat dihormati oleh tuannya. Semar biasanya dimintai nasehat oleh Pandhawa dalam mengambil keputusan mengenai masalah yang dianggap gawat dan mendesak. Sebagai punakawan yang tertua, semar tidak punya keinginan memegang kekuasaan duniawi sebagaimana halnya kebanyakan manusia. Hal ini dikarenakan kekuasaan umumnya dapat mengubah watak, situasi sekaligus dapat mencelakakan. Semar dapat mencapai tujuannya secara efektif dengan cara memberi contoh, sebagai metode pengajarannya tanpa bermaksud mengusai orang lain atau harta benda. Masyarakat Jawa percaya bahwa semar adalah turunan dari satu dewa dalam mitos yang paling berkuasa.

Sebagai tokoh wayang yang memiliki banyak keunggulan sifat pribadi, banyak masyarakat Jawa yang tetarik dengan dunia wayang, menjadikan semar sebagai sosok ideal yang patut dijadikan panutan dalam menjalani hidup sehari-hari. Kehadiran semar dalam kehidupan nyata ini sering ditunggu-tunggu mengingat kondisi negara saat ini yang semakin kacau, kesengsaran dan penindasan oleh kaum kuat terhadap yang lemah semakin merajalela, moral dan etika tidak lagi diindahkan, para pemimpin yang hanya memikirkan kekayaan pribadi tanpa peduli dengan keadaan rakyatnya yang semakin tertindas dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya. Dunia pewayangan melukiskan situasi tersebut sebagai penanda akan hadirnya tokoh semar, seorang dewa yang turun dari langit untuk menyelamatkan manusia (Abdul Munir Mulkan, 2005).

Mitos Asal Usul Semar

Tuti Sumukti (2005:20) mengatakan ada dua versi utama yang menceritakan asal-usul semar. Pertama, langit dan bumi yang dikuasai oleh Sang Hyang Wenang , mempunyai anak bernama Sang Hyang Tunggal . Sang Hyang Tunggal ini mempunyai istri bernama Dewi Rekawati , putri kepiting raksasa yang bernama Rekatama. Pada suatu hari Dewi Rekawati bertelur dan seketika itu telur itu terbang ke langit menuju ke hadapan Sang Hyang Wenang . Telur itu menetas sendiri kemudian muncul tiga makhluk yang berasal dari kulit telur, putih telur dan kuning telur. Makhluk yang berasal dari kulit telur dinamai Tejamantri , dari putih telur adalah Ismaya dan yang dari kuning telur itu Manikmaya.

Pada suatu hari mereka terlibat pertengkaran karena mempermasalahkan siapa yang akan menggantikan kedudukan ayahnya kelak, sebagai penguasa. Manikmaya menyarankan agar diadakan pertandingan menelan gunung dan memuntahkannya kembali. Tejamantri , melakukannya lebih dulu, tetapi gagal. Kemudian Ismaya , dia dapat menelannya, tetapi tidak berhasil memuntahkannya kembali. Kejadian ini menyebabkan terjadinya Goro-Goro atau bencana. Goro-goro ini menyebabkan Sang Hyang Wenang turun tangan dan mengambil keputusan bahwa pada waktunya Manikmaya akan menjadi raja para dewa, penguasa kahyangan dan akan mempunyai keturunan yang menjadi penduduk bumi. Sementara Tejamantri dan Ismaya harus turun ke bumi untuk memelihara keturunan Manikmaya . Keduanya boleh menghadap Sang Hyang Wenang jika Manikmaya bertindak tidak adil. Sejak saat itu nama mereka diganti, Tejamantri menjadi Togog , Ismaya dinamakan Semar dan Manikmaya menjadi Bathara Guru . Karena sebuah gunung pernah ditelannya bentuk tubuh semar menjadi besar, gemuk dan bundar.

Versi kedua, bahwa sebutir telur yang dipegang Sang Hyang Wenang menetas sendiri dan tampaklah langit, bumi dan cahaya atau teja serta dua makhluk anthropomorphis, Manik dan Maya . Versi pertama dan kedua bila dibandingkan akan ada persamaan, Ismaya dari versi pertama dan Maya dari versi kedua terjadi dari putih telur. Manikmaya dan Manik merupakan transformasi dari kuning telur dan keduanya menjadi raja para dewa di surga. Dalam kedua versi tersebut Manikmaya dan Manik menjadi Bathara Guru , yang keturunannya tersebar di surga dan bumi, sedangkan Ismaya dan Maya dinamakan Semar dan dijadikan pelindung bumi. Jelas disini bahwa semar adalah tokoh dominan di alam semesta dan sebagai pelindung bumi yang erat kaitannya dengan penduduk bumi.
Penggambaran Tokoh Semar

Menurut Herjaka dalam tulisannya di situs [url]www.jawapalace.org[/url] semar dalam bahasa Jawa disebut dempel = keteguhan jiwa . Rambut semar berbentuk seperti kuncung yang bermakna akuning sang kuncung , yaitu sebagai kepribadian pelayan yang mengejawantah untuk melayani manusia.

Dia tidak laki-laki dan bukan perempuan, tangan kanannya ke atas mempunyai makna bahwa sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan symbol Sang Maha Tunggal . Sedangkan tangan kirinya ke belakang mengandung makna berserah total dan mutlak serta sekaligus symbol kemuliaan yang netral namun simpatik.

Penggambaran bentuk fisik semar tidak mudah ditebak. Wajahnya adalah wajah laki-laki, tapi badannya seperti perempuan dengan perut dan dada besar. Rambutnya putih dan memiliki kerutan di wajah yang menandakan dia telah lanjut usia, tetapi potongan rambutnya kuncung sepeti anak-anak. Bibirnya tersenyum tetapi matanya selalu mengeluarkan air mata. Semar menggunakan kain sarung kawung seperti yang digunakan para abdi.

Penggambaran bentuk yang demikian menjadikan semar sebagai sosok yang sarat misteri dan juga simbol kesempurnaan hidup. Tubuh semar tersimpan karakter wanita, laki-laki, anak-anak, orang tua, ekspresi gembira dan sedih bercampur menjadi satu.melihat genealogi semacam itu, semar selalu hadir dalam setiap lakon wayang dan kehadirannya sangat dinanti para penggemarnya. Meskipun dia seorang abdi , rakyat jelata, buruk rupa, miskin, hitam legam namun dibalik wujud lahirnya tersebut tersimpan sifat-sifat mulia, yakni mengayomi, mampu menyelesaikan masalah, sabar, dan bijaksana.

B. Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan

Masalah pemimpin dan kepemimpinan merupakan masalah sosial. Pemimpin tidak akan muncul tanpa adanya masyarakat, pemimpin tidak dapat disebut pemimpin tanpa adanya kelompok individu sebagai bawahannya. Manusia merupakan topik sentral mengenai permasalahan dan tujuan ilmu-ilmu kepemimpinan, khususnya mengenai ketertiban, keselarasan, keteraturan dan ketrentaman hidupnya. Fungsi seorang pemimpin untuk menjaga terlaksananya suatu peraturan yang berlaku sering terjadi meskipun telah dibuat suatu peraturan jika tanpa pengarahan dan petunjuk yang benar dari orang-orang yang lebih tahu (pemimpin), pelaksanaan peraturan itu justru akan menimbulkan permasalahan baru

Seorang pemimpin dapat dilihat dari kemampuannya mewujudkan cita-cita kelompok, kemampuannya untuk berkomunikasi dengan lingkungan juga kemampuan menangkap dan menjabarkan kebudayan yang melingkupi kehidupannya. Pemimpin merupakan figur multidimensi, dimana ia hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat sekaligus ketua kelompok. Ia selalu berkepentingan dengan keadaan dan kejadian dalam lingkungannya.

Thomas Aquinas mengatakan bahwa seorang penguasa (pemimpin) negara mempunyai kewajiban terhadap rakyat yang dikuasainya. Tugas penguasa negara yang utama adalah mengusahakan kesejahteraan dan kebajikan hidup bersama. Untuk itu pengusa negara dituntut untuk memungkinkan rakyat memenuhi kebutuhan materialnya, diantaranya kebutuhan sandang pangan. (Ahmad Suhelmi, 2001:100)

Alfred Mc. Lunglee seperti yang dikutip oleh Jarmono (1983), merumuskan pengertian kepemimpinan, bahwa seorang pemimpin ialah seorang yang memiliki status kepemimpinan, suatu posisi penguasaan atau pengendalian yang membudaya di dalam kelompok masyarakat. Menjadi simbol suatu gerakan yang memahami dengan benar akan dirinya sendiri secara internal dan eksternal yang mempunyai peranan sebagai juru bicara kelompoknya. Memiliki sedikit pengikut atau tidak mempunyai pengikut secara langsung, tetapi yang meletakkan jalan dikemudian hari akan dilalui atau diikuti orang lain.

C. Konsep Kepemimpinan Ideal Ala Semar

1. Manunggaling Kawula Gusti

Dalam ilmu politik, semar dapat dijadikan sebuah pengejawantahan dari ungkapan Jawa tentang kekuasaan, yaitu Manunggaling kawula-Gusti (kesatuan hamba-Raja). Semar diantara punakawan adalah guru, sesepuh dan pemimpin mereka. Dalam hubungannya dengan Arjuna salah satu dari Pandhawa, semar juga abdi (pelayan). Pelayan disini dapat disamakan dengan ‘pembantu' tetapi bantuan yang diberikan semar lebih bersifat abstrak. Bantuan abstrak yang diberikan semar adalah berupa ajaran. Arjuna dan Semar bersama-sama melambangkan (satuan) yang berupa ‘manusia', Arjuna sebagai pribadi sedangkan semar sebagai pikiran dan kesadarannya. (Tuti Sumukti, 2005:93) Tidak dapat dipisahkannya antara Arjuna dan para punakawan terutama semar ini melembangkan konsep Jawa tentang manunggaling kawula-gusti . Bahwa seorang raja (gusti) dengan mengikuti hukum harus pasrah atau menyerahkan diri pada ajaran tersebut. Dengan cara ini raja dapat mengajar rakyatnya (kawula) dengan memberi contoh menurut hukum yang berlaku.

Selo Soemardjan, yang dikutip oleh Tuti Sumukti (2005: 93-94) menerjemahkan mengenai salah satu cerita dalam lakon wayang yang berjudul Wahyu Tejamaya :

Meskipun raja memegang kekuasaan tertinggi atas rakyatnya, dia harus selalu ingat bahwa dia satu-satunya penghubung, yang sangat berpengaruh diantara kerajaannnya dan dunia (kekuatan) gaib. Dia tidak dapat lepas dari salah satu dari mereka, dan tidak bisa berselisih dengan mereka juga. Nama yang dipakai oleh Sultan Yogyakarta yang pertama mencerminkan kewajiban yang disadari karena kedudukannya yang penting itu. Sebagai pangeran , dia diberi gelar “ Mangkubumi ”, yang artinya memangku dunia ini. Tetapi sebagai sultan atau raja, dia memakai gelar Hamengkubuwono , orang yang melindungi alam semesta. Nama ini memberi tanda kewajiban raja yang utama, yaitu menyatukan kerajaannya dengan alam semesta dengan perantaraan dirinya. Dengan tekanan pada kewajiban utama ini, pertimbangan terpenting kenegaraan ada pada tercapainya persatuan antara kawula atau rakyat dan rajanya yang disebut manunggaling kawula-gusti . Dalam aspek mistiknya, konsep ini bermakna persatuan antara alam gaib dan manusia dan juga persatuan antara manusia dan penciptanya. Konsep persatuan yang harus dicapai dan merupakan kewajiban utama raja ini, disertai dengan adanya nilai-nilai sosial yang diikuti para kawula . Tujuan utama dalam hidup para kawula adalah tercapainya persatuan tersebut diatas. Pada tingkat perseorangan, sesorang dapat bersatu dengan kekuatan alam gaib dengan menyerahkan diri atau pasrah pada ajaran seorang guru, tetapi untuk pemerintahan (kerajaan) dan masyarakat seluruhnya, satu-satunya perantara adalah raja.

Seorang pemimpin sebesar bangsa Indonesia seharusnya dapat memadukan antara atas dan bawah, pemimpin dan yang dipimpin, yang diberi kekuasaan dan yang menjadi sasaran kekuasaan, kepentingan hukum negara dan kepentingan objek hukum. Hukum-hukum negara yang baik belum tentu berakibat baik, jika yang dari atas itu tidak disesuaikan dengan kepentingan dan kondisi rakyat, seperti dalam ajaran manunggaling kawula-gusti .

Semar menghormati rakyat jelata lebih dari menghormati para dewa pemimpin. Badan, karakter dan kualitasnya adalah tingkat tinggi, tetapi perwujudannya sangat merakyat. Semar mudah menangis ketika melihat penderitaan manusia yang di abdi nya, itulah sebabnya wayang semar matanya selalu berair. Semar lebih mampu menangisi orang lain daripada menangisi dirinya sendiri. Semar sudah tidak peduli dan tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi hanya memikirkan penderitaan orang lain. Semar sebagai keturunan dewa seharusnya menguasai ‘dunia atas' dan menguasi segalanya, tetapi ia memilih hanya menjadi abdi, tidak kaya dan tidak berkuasa.

Cerminan seorang pemimpin yang baik melihat yang dipimpinnya tidak dari atas singgasana yang terpisah, tetapi melihat dari sudut pandang rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin sejati itu menurut filsafat semar adalah bersifat paradoks. Seorang pemimpin adalah seorang majikan sekaligus pelayan, kaya tetapi tidak terikat dengan kekayaannya, tegas dalam keadilan untuk memutuskan mana yang benar dan yang salah. Ajaran tua tentang kekuasaan politik bersumber dari Hastabrata dan dimitoskan dalam diri semar.
2. Pengaruh Konsep Kepemimpinan Semar dalam Kehidupan Masyarakat

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di Jawa.

Figure punakawan khususnya semar dapat dijadikan sebagai figur pemimpin yang sejati dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan pengertian punakawan. Punakawan secara lahiriah adalah sebagai symbol atau suatu pola terstruktur dari ‘pembantu pimpinan' yang sangat ideal. Kata punakawan menurut pedalangan berasal dari kata pono , yang artinya cerdik, cermat dalam pengamatan dan kata kawan = teman. Punakawan berarti teman atau pamong yang sangat cerdik, dapat dipercaya serta mempunyai pandangan yang luas dan pengamatan yang tajam serta cermat. Punakawan itu adalah abdi (bukan pelayan). Abdi itu hendaknya memiliki watak bijaksana, dapat dipercaya, jujur, panjang nalar dan tenang serta berani menghadapi segala situasi dan perasaan, baik yang sederhana maupun yang rumit.

Kehadiran semar dalam kehidupan nyata ini sering ditunggu-tunggu mengingat kondisi negara saat ini yang semakin kacau, kesengsaran dan penindasan oleh kaum kuat terhadap yang lemah semakin merajalela, moral dan etika tidak lagi diindahkan, para pemimpin yang hanya memikirkan kekayaan pribadi tanpa peduli dengan keadaan rakyatnya yang semakin tertindas dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya. Sebagai simbol kearifan dalam dunia wayang, semar adalah dewa yang menyamar sebagai orang kecil untuk mengembalikan perdamaian saat Negara dalam keadaan gawat. Nampaknya hal ini menjadikan banyak masyarakat atau segelintir orang yang masih peduli dengan kelangsungan hidup negara ini mendambakan sosok semar yang menjelma dalam kehidupan real saat ini, yang mampu menyelamatkan bangsa dari berbagai krisis multidimensi yang sedang melanda bangsa Indonesia. Terlebih lagi dalam agama Islam juga diajarkan bahwa akan ada seorang Al-Mahdi yang diturunkan Tuhan sebagai sang pembebas.

KESIMPULAN

Figur pewayangan yang selalu dijadikan panutan, semar yang memiliki kelebihan-kelebihan tokoh punakawan yang menjadi dewa penyelamat bagi kekacauan sebuah Negara. Penjelmaan dari seorang Batara yang mau menjadi abdi atau pembantu dari para Raja dan Ksatria.

Pertunjukan wayang kulit telah menjadi salah satu wahana terpenting untuk menyampaikan berita dan ajaran yang bersifat kebudayaan kepada masyarakat Jawa khususnya. Melalui cara ini mereka belajar membedakan nilai-nilai positif dan negatif. Dalam cerita wayang, sosok semar mencerminkan tingkah laku yang terpuji dalam menyelesaikan msalah lingkungan yang mencakup pertimbangan kebudayaan. Perbuatan semar yang dalam pembahasan ini mengenai bagaimana seorang pemimpin seharusnya bertindak menunjukkan adanya bimbingan berdasarkan konsep-konsep dan kepercayaan orang Jawa, yang membawa kearah dan tujuan yang rasional. Putusan semar dapat diterima oleh semua pihak.

Di jaman yang menurut Ronggowarsito adalah jaman edan ini, terasa relevan kini, ketika perilaku menyimpang menjadi jalan legal untuk memperoleh kekuasaan dan meraih kekayaan, sementara banyak rakyat kecil yang merasa tertindas dengan keadaan yang semakin tidak menentu, harga-harga barang kebutuhan menjadi mahal sementara perbaikan nasib yang dijanjikan para pemimpin tak kunjung terwujud. Dunia pewayangan melukiskan situasi tersebut sebagai penanda akan hadirnya semar, seorang dewa yang bertugas sebagai penyelamat jaman.

Semar memang ada dalam dunia mitologi, tapi yang penting bagaimana mitos itu menjadi kesadaran budaya dan politik sebagai referensi seluruh dinamika kehidupan sebuah bangsa. Meskipun Negara ini seolah membutuhkan kehadiran seorang semar yang bisa menyelamatkan negara dari keterpurukan yang berkepanjangan, akan tetapi para pemimpin dan rakyat tidak hanya berpangku tangan dan berdiam diri saja menanti kehadiran semar dalam kehidupan nyata tapi hendaknya berusaha memperbaiki diri dengan kembali kepada ajaran agama dan hukum serta norma yang berlaku di masyarakat dengan diawali dari diri pribadi masing-masing.

Oleh: Hanifa Erfandari

DAFTAR PUSTAKA

Bratawidjaja, Thomas Wiyasa. 2000. Upacara Tradisional Masyarakat Jawa .

Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Jarmono, Drs. 1983. Kepemimpinan Sebagai Ilmu dan Seni . Yogyakarta : Liberty .

Katodirdjo, Sartono, dkk. 1987. Perkembangan Peradaban Priyayi . Yogyakarta :

Gadjah Mada University Press.

Kattsoff, Louis. O. 1996. Pengantar Filsafat . Yogyakarta : Tiara Wacana.

Mulder, Niels. 1996. Pribadi Dan Masyarakat Di Jawa. Jakarta : Pustaka Sinar

Harapan.

Mulkhan, Abdul Munir. 2005. Menunggu Semar Di Zaman Edan . Dalam Kompas,

19 Maret 2005. Jakarta .

Suhelmi, Ahmad. 2001. Pemikiran Politik Barat. Jakarta : Gramedia.

Sumukti, Tuti. 2005. Semar: Dunia Batin Orang Jawa . Yogyakarta : Galang Press.

Sumber: http://jurnalmahasiswa.filsafat.ugm.....id/nus-11.htm
wayang . itu artinya waya.....bayangan. jadi memberikan bayangan prilaku hidup sesuai nilai kebenaran yang benar bukan yang baik. baik belum tentu benar, tetapi kebenaran pasti akan mendatangkan kebaikan.
Quote:Original Posted By pemogan17
wayang . itu artinya waya.....bayangan. jadi memberikan bayangan prilaku hidup sesuai nilai kebenaran yang benar bukan yang baik. baik belum tentu benar, tetapi kebenaran pasti akan mendatangkan kebaikan.


terima kasih, mbah


Kalo ada artikel menarik seputar wayang, silakan di share di sini, mbah.
ikutan menyimak ah
Quote:Original Posted By prabuanom
ikutan menyimak ah


ha ha ha
jadi grogi kalo diliatin sesepuh
Quote:Original Posted By buhitoz
ha ha ha
jadi grogi kalo diliatin sesepuh


hayah tiap haari udah ketemu padahal hahaha
mantap mbah :

cendol meluncur .........

Memfilsafatkan wayang atau merakyatkan lagi dinamika wayang?

Memfilsafatkan wayang dalam “filsafat wayang”. Kira-kira begitu, tajuk diskusi pada Sabtu lalu, 22 Oktober 2011, di Museum Wayang Taman Mini Indonesia Indah. Menghadirkan dua pakar dari Jogja, Dr. Purwadi, S.S., M. Hum, dosen dari Universitas Negeri Yogyakarta dan Slamet Sutrisno, entahlah gelarnya tidak disebutkan, namun beliau ini dosen Fakultas Filsafat dari Universitas Gadjah Mada.

Diskusi tersebut adalah salah satu acara dari rangkaian Festival Wayang “WOW” atau World of Wayang 2011 yang diprakarsai Senawangi atau Sekretariat Nasional Wayang Indonesia. Tentunya program kegiatan yang sangat prestisius. Jadwal acara bertajuk wayang yang keren dan hebat digulirkan selama sepekan. Namun, kiranya nuansa puncak kegiatan atau penutupan pada hari Sabtu itu yang penuh dengan acara bermutu, seperti pementasan Wayang Suket oleh Ki Slamet Gundono, wayang Kampung Sebelah oleh Ki Jlitheng Suparman, drama wayang oleh Swargaloka, serta diskusi filsafat wayang itu, sepi belaka. Baru pada malam harinya pada acara pamungkas, pergelaran Wayang Purwa semalam suntuk oleh Ki Manteb Sudarsono, seribuan penonton meruang pada halaman Museum Wayang yang mewah dan megah itu. [ Admin : Gedung Pewayangan Kautaman TMII Jakarta ]

Kenapa harus filsafat wayang dan kenapa “WOW” sebagai festival yang keren dan bermutu itu sepi?

Rasa-rasanya, apa yang dijelaskan dan dipaparkan dua pakar yang terlibat kerjasama dengan Senawangi dalam proyek perwayangan nasional itu tidak salah. Bagus! Dan hebat terasa dalam pencernaan pengetahuan. Wayang sebagai salah satu produk kesenian nusantara memang menakjubkan dan hebat belaka. Setiap subtil baik dari segi cerita, bentuk wayang maupun kultur pementasan, semuanya ajib tak terbantahkan. Penuh dengan kandungan nilai-nilai. Dan memiliki spesifikasi, tak kalah indah dan misuwur jika dibandingkan dengan kultur dunia secara universal. Maka tak heran, jika wayang kemudian mendapatkan atensi yang besar dari dunia internasional sebagai Internasional Heritage.

Namun menjadi sebuah fakta kiranya, wayang kita, wayang nusantara, baik wayang Purwa, wayang Sunda, wayang Betawi dan sebagainya dalam kehidupan kekinian rasa-rasanya makin menurun saja gairah, gejolak dan gemanya di masyarakat. Fakta yang dapat dijadikan standar secara statistik adalah jarangnya pementasan itu mengisi ruang-ruang keseharian hiburan di tengah masyarakat. Juga, jikapun ada pentas, penontonnya hanya segelintir saja. Namun terkecuali jika yang mementaskan adalah dalang kondang macam Ki Manteb Sudarsono dan Ki Anom Suroto. Itupun, saya rasa sudah tidak lagi memasuki angka-angka penonton fantastis. Dimana pada zaman-zaman saya remaja dulu, jika menonton pementasan kedua dalang kondang dari Surakarta itu, rata-rata penonton bisa di atas 5 ribu orang. Kini, meski di tempat yang paling strategis pun ditanggap, di alun-alun kota misalnya, paling banyak ada di rentang 1 ribu hingga 2 ribu penonton.

Dan juga sebuah fakta, sesekali mendengarkan keluhan para dalang di kawasan kesenian pewayangan, yaitu Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, Boyolali dan Solo, jarang sekali mereka mendapatkan lagi tanggapan mentas. Jika pun ada, karena terpaksa, maksudnya dalam kondisi yang tidak ideal alias dibayar sekenanya saja oleh si penanggap. Karena menanggap pementasan wayang, seakan-akan sudah kalah prestise jika harus dibandingkan dengan menanggap kesenian campursari yang lebih gayeng dan efisien, misalnya.

Tentunya, tajuk memfilsafatkan wayang menjadi proyek nasional ke dalam seri-seri seminar di tempat-tempat mewah dan mendapatkan support dan dana dari negara, barangkali agak “ganjil” rasanya. Terlalu menara gading. Jika memang Senawangi memposisikan sebagai “agen perubahan” dan lokomotif bagi menjadi “besar”nya wayang sebagai produk kebudayaan nasional, apa urgensi pokok, kehadiran dan keberadaannya, jika data dan fakta yang tergelar adalah seperti yang tersebut di atas. Selalu mengambil klaim-klaim besar tentang prestasi wayang, sedangkan program yang dijalani “sepi” oleh respon dan partisipasi rakyat?

Wayang, sebagai produk pemikiran yang penuh dengan kandungan nilai-nilai, sudah semestinya berposisi sebagai wahana dan sarana bagi lajunya dinamisasi. Maka gerakan yang nyata, aktif dan optimis sangat ditunggu dan dirindu. “Bobrok”nya birokrasi pemerintahan yang tidak berpihak kepada kebudayaan memang sebuah fakta nyata. Namun, justru itu seharusnya lantas menjadikan tantangan bagi perwayangan nasional untuk menembus dinamika. Bahwa wayang dan implementasi pementasan atau variasi kreatifnya menjadi “keharusan” untuk menjawab kebuntuan, bahkan katarsis atau pencerahan untuk mengurai sumpegnya keadaan.

Siapa yang harus dinamis?

Lembaga-lembagakah, macam Senawangi atau Pepadi?
Institusi akademisnya, macam STSI, ISI dsb?
Seniman dan kreatornya, para dalang, komikus, novelis, jurnalis?
Agen-agen kinerja profesional swasta, biro jasa atau LSM?
Atau Masyarakatnya?

Mari jujur dan optimis menjawabnya. Dengan sepenuh hati, tentu saja.

Zentha

24 Oktober 2011 : 17.oo

tulisan ini dibuat oleh Dwi Klik Santosa seusai menghadiri salah satu acara ( diskusi Filsafat Wayang ) di Pekan Wayang Indonesia 2011. Suatu refleksi oleh generasi muda apresiasi-wan wayang Indonesia . Jawaban Anda ???

Dwi Klik Santosa – saat ini tinggal di Pondok Aren, Jakarta - adalah penulis naskah novel grafis wayang “ Abimanyu Putra Rembulan “ yang telah terbit beberapa bulan yang lalu. Saat ini sedang mempersiapkan novel grafis wayang ke-dua berjudul “Wisanggeni Anak Api”.

sumber: http://www.facebook.com/note.php?not...50522870876110
Quote:Original Posted By hateisworthless
mantap mbah :

cendol meluncur .........


trims, mbah momod
seggggeerrrrr.....
ha ha ha
Nunut ndeprok ya mbah
ikut membaca ya mbah
yg pasti, dari cerita pewayangan banyak falsafah hidup yg luar biasa buat di khidupan keseharian kita. sy kenal cerita pewayangan semenjak SD dari komik2 R.A Kosasih. (monggo dilanjut mbah)
Quote:Original Posted By K120NY
Nunut ndeprok ya mbah


Quote:Original Posted By Masagung
ikut membaca ya mbah


silakan, mbah
suatu kehormatan untuk saya

mohon masukannya, mbah
supaya gak campur aduk dengan trit wayang yang sudah ada
dan bisa menambah semarak obrolan di Forbud.

maksud saya bikin trit ini
karena saya pikir masih banyak yang bisa dibahas dari wayang

seperti proses pembuatan wayang
kehidupan para seniman wayang
informasi perkembangan kesenian wayang
berbagai pemikiran tentang filsafat wayang
dan sebagainya dan sebagainya

mangga, silakan berbagi di sini.

Sebagai sarana media..wayang bisa dipakai jadi apa saja,ya..mas.

Nice thread.

Quote:Original Posted By buhitoz
silakan, mbah
suatu kehormatan untuk saya

mohon masukannya, mbah
supaya gak campur aduk dengan trit wayang yang sudah ada
dan bisa menambah semarak obrolan di Forbud.

maksud saya bikin trit ini
karena saya pikir masih banyak yang bisa dibahas dari wayang

seperti proses pembuatan wayang
kehidupan para seniman wayang

informasi perkembangan kesenian wayang
berbagai pemikiran tentang filsafat wayang
dan sebagainya dan sebagainya

mangga, silakan berbagi di sini.


patut dibahas itu mbah :

Wayang: Di Balik Bayang-bayang Perubahan

Oleh: Bambang Sulistyo, Gatra
March 14, 2008

Pemenang kategori feature bidang Seni dan Musik
Anugerah Adiwarta Sampoerna

____________________________________________________________________


Lebih dari 3.500 tahun, wayang bertahan mendampingi perubahan peradaban. Ia hidup, tumbuh, dan berkembang bersama problematika masyarakatnya. UNESCO mengukuhkan wayang Indonesia sebagai Karya Agung Warisan Budaya.

“SEBAGAI sebuah pertunjukan, wayang berada di ambang kematian,” ujar Bambang Murtiyoso, di antara hiruk-pikuk persiapan pertunjukan wayang di Jakarta, awal pekan lalu. Pakar seni pedalangan dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, Jawa Tengah, itu mengulang kembali ramalan yang didengungkan lima tahun silam.

Kemudian, Bambang, 61 tahun, dengan jenaka bercerita tentang “kegagalannya” mewariskan kecintaannya terhadap wayang kepada dua dari empat anaknya. Dua buah hatinya yang kini kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dan Universitas Sebelas Maret, Solo, itu tidak menunjukkan tanda-tanda ketertarikan pada wayang.

Padahal, Bambang sudah berusaha keras mengakrabkan anak-anaknya dengan wayang, sejak mereka masih balita. Ia berkisah tentang wayang dan nilai-nilai kearifannya, sebagai pengantar tidur bagi anak-anaknya. Memperdengarkan kaset rekaman wayang, mempertontonkan video pertunjukan wayang.

Setelah anak-anaknya bisa membaca, Bambang pun menyodorkan buku-buku wayang kepada mereka. Apa boleh buat, sang anak menolak mentah-mentah. “Itu kan untuk orang masa lalu,” Bambang menirukan ucapan anaknya, sambil tersenyum kecut.

Tentu bukan pernyataan independen sang anak yang membuat Bambang, salah seorang penggagas wayang sandosa alias wayang berbahasa Indonesia, mengemukakan pernyataan kritis seputar eksistensi pertunjukan wayang. Ada beberapa tanda-tanda kematian wayang yang ia sarikan dari pengamatan dan penelitiannya.

Bambang, yang sudah puluhan tahun menggeluti wayang, giat meneliti kiprah para dalang dalam menyuguhkan wayang ke tengah masyarakat. Menurut catatannya, tanda kematian wayang paling penting adalah semakin semaraknya prilaku dan atau kecenderungan para dalang –terutama dengan reputasi tengahan dan bawah– sekadar menonjolkan aspek tontonan.

“Mereka mengabaikan kaidah tatanan dan tuntunan yang memuat nilai-nilai moral, kearifan, dan kecerdasan lokal,” Bambang Murtiyoso menegaskan. Malam itu, di hari pertama Kongres VII Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Sena Wangi) yang berlangsung di Gedung Pewayangan Kautaman, Jakarta, awal pekan silam, belum genap 24 jam saya mengenal Bambang Murtiyoso.

Sebelum itu, namanya sesekali saya temukan lantaran disebut-sebut dalam beberapa buku yang berisi hasil penelitian seputar wayang. Rasanya, seseorang tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenali sikap sinis dalam balutan kelakar sebagai daya tarik “tak bendawi” lelaki yang –disebut oleh Clara van Groenendael– sebagai keturunan kesembilan dari lurah-lurah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, ini.

Oleh karena itu, sangat mungkin bentukan kata “kematian” yang ia sematkan pada wayang sebagai sebuah pertunjukan tidaklah mengacu pada pengertian benar-benar “selesai”. Melainkan pernyataan model guyonan sinikal yang diharap mendapat tanggapan serius dari para penggiat wayang di Indonesia.

Idealisme, Pergeseran dalam Nostalgia

BERBINCANG tentang dinamika pewayangan dengan orang-orang –yang saya duga– mencintai wayang sungguh menyenangkan. Terutama ketika pandangan-pandangan kritis, penolakan, dukungan serta pujian yang mengiringi idealisme dan perubahan dalam dunia wayang disampaikan melalui kisah-kisah beraroma nostalgia atau ilustrasi-ilustrasi lugas dengan muatan kekinian.

Seperti cerita tentang intergritas dalang kondang Yogjakarta Ki Timbul Hadiprayitno. Bambang berkisah, suatu ketika di awal tahun 1990-an, ia dimintai tolong untuk mengundang Ki Timbul oleh keluarga seorang jenderal yang hendak mengadakan upacara ruwatan dengan pertunjukan wayang di Magelang.

Lima hari menjelang hari-H, pihak keluarga meminta dicarikan juga seorang pelawak untuk mendampingi dalang senior kelahiran tahun 1934 itu. Alasannya, pendekatan humor dalang kesayangan versi Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) tahun 1979 itu dianggap kurang rame, zonder hura-hura, dan kurang berselera masa kini.

“Setelah mencari ke sana-sini, akhirnya saya dapatkan pelawak Ranto Edi-Gudel,” tutur Bambang. Satu hari menjelang hari-H, Bambang memberitahu Ki Timbul soal pelawak pendamping di pertunjukannya itu. Reaksinya? “Nak, kamu ke Yogya sekarang, ambil uang muka yang sudah saya terima ini. Saya tidak ndalang tidak apa-apa,” Bambang menirukan suara Ki Timbul dalam percakapan lewat telepon.

Ki Timbul memang dikenal sebagai dalang yang punya integritas. Ia memilih bertahan untuk tidak mengikuti kecenderungan mendalang “hura-hura” dengan menghadirkan pelawak, orkes campursari, dan lain-lain.”Saya tidak peduli jenderal atau siapa pun, kalau saya ndalang ya ndalang. Kalau tidak lucu, tidak dibayar juga tidak apa-apa,” ujar Bambang masih menirukan ucapan Ki Timbul.

Lain lagi cerita yang dilontarkan Roesman S. Hadikusumo, Ketua Bidang Umum Sena Wangi ini mengaku beberapa kali kedatangan dalang yang “curhat” lantaran diminta penonton yang mendesaknya untuk segera menyediakan waktu buat campursari di tengah-tengah lakon. “Dan pada banyak peristiwa, penonton ikut bubar begitu campursari-nya rampung,” kata Roesman.

Atau cerita menarik dari tanah Sunda. Peneliti perkembangan wayang golek sunda, Cahya Hedy, 40 tahun, memaparkan dua pesinden termasyhur di tatar Pasundan, Upit Sarimanah, dan Titim Patimah yang fenomenal pada tahun 1960-an.

Masa itu, wayang golek mengalami stagnasi dan daya tarik pertunjukan wayang beralih dari dalang ke para pesinden. “Ketika itu, pesinden seperti Titim Patimah mendapat panggung khusus yang letaknya lebih tinggi dari posisi dalangnya,” pengajar Jurusan Karawitan di STSI Bandung ini memaparkan.

Dengan setting semacam itu, pamor dalang berada di bawah pesinden. Bahkan, sangat mungkin bayaran yang mereka terima pun lebih sedikit dari yang diterima pesinden pujaan penonton itu. Sebagai catatan, pada kurun itu, Upit Sarimanah dan Titim Patimah tidak saja dikenal karena sosok fisik dan kepandaiannya membawakan ketuk tilu, juga karena kualitas suaranya yang memikat.

Kondisi ini kira-kira mirip dengan kebanyakan pertunjukan wayang kulit Jawa lebih dari 10 tahun terakhir ini; ketika sejumlah dalang harus “bersaing” dengan penyanyi campursari, dangdut, pelawak, dan bahkan bentuk fisik tokoh-tokoh wayang rekaannya sendiri. Demi sebuah pertunjukan wayang, sejumlah dalang menggenjot habis-habisan aspek hiburan.
×