KASKUS

salah satu bawaan perang lawan penjajah jaman dulu...
Share dari Kisawung emang top..bisa nambah pengetahuan

Quote:Original Posted By MariskaLin
Ada cerita yg mengatakan bahwa pemakai rantai babi akan menderita penyakit kulit yg tidak akan sembuh, kecuali dia tidak memakainya lagi...


sepertinya yang ini sama dengan di kampung ane.menurut empunya cerita..dia mendapatkan rantai babi dari Babi yang nunggal dan taringnya panjang, ketika si Babi mandi berkubang di lumpur..dan tuh ajimat di simpan si babi disekitar dia mandi.dan kl sampai ketahuan si babi..bakal di kejar sampai mati.
dan si pemilik RB akan memiliki tingkah mirip seperti babi..main tabrak aja serta kulitnya seperti korengan(gudikan:jawa red)
Quote:Original Posted By pandhu
Share dari Kisawung emang top..bisa nambah pengetahuan



sepertinya yang ini sama dengan di kampung ane.menurut empunya cerita..dia mendapatkan rantai babi dari Babi yang nunggal dan taringnya panjang ketia si Babi mandi berkubang di lumpur..dan tuh ajimat di simpan si babi disekitar dia mandi.dan kl sampai ketahuan si babi..bakal di kejar sampai mati.
dan si pemilik RB akan memiliki tingkat mirip seperti babi..main tabrak aja serta kulitnya seperti korengan(gudikan:jawa red)



ini seperti yang di ceritain bokap ane
emang benar puh, ada dana gaib??
wah,kalo punya keren ini
Penjabaran yang lengkap dan panjang...
Dulu pernah dengar jika seseorang memakai rante babi maka kulit tubuh nya seperti terkena penyakit kulit...
Apakah benar seperti itu ki sawung.
mohon ampun suhu, ane ikut nyimak aja.
ane mendeteksi ada dkun dri aceh d sni.hahahaha.droen d aceh d pat?
Baru tau ane mbah, kalok pakek rb bisa kenak kyk penyakit kulit
jaman sekarang banyak yang salah kaprah ,rantai babi dasarnya memang untuk kekebalan,bukan untuk pemrosesan dana gaib..
pernah denger mbah, bokap angkat teman ane punya ntuh, tapi efect negative nya ya ga punya anak dan bau babi + kurap seluruh tubuh, entah asli apa palsu, dia bercerita saat mau ambil tuh rante dikeajar2 raja babi dan dia naik diatas pohon 5/7 hari ga makan, ditungguin si babi sambil nyeruduk pohon..
Baru denger ad yg ginian
Serem n keren juga kayaknya
nunggu pembabaran lebh lanjut dimari ah
Sapa tau pemilik rantai babi asli juga suka maen kaskus
Kalo zaman skr pake rb di casing kayak amulet thai..keren..gak gatel juga krn gak sentuhan langsung sama kulit..
katanya kebal ya puh?
tapi kok yg make bisa mati ketembak juga?

mohon pencerahan puh.
Quote:Original Posted By RicardoSirait
katanya kebal ya puh?
tapi kok yg make bisa mati ketembak juga?

mohon pencerahan puh.


makanya baca baik-baik thread ini sebelum komen ya

ini jawabannya

Quote:Original Posted By kisawung
DALAM sejarah perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda. Ada kisah-kisah mistik. Salah satunya, ajimat rante bui yang dipakai oleh ulama-ulama pengerak perlawanan. Salah satu rante bui itu adalah milik Tgk Chik Di Tiro. Ajimat itu ditemukan Belanda ditubuh Tgk Di Cot Plieng. Sampai kini masih tersimpan di Kolonial Museum di Amsterdam, Belanda dalam etnografia Aceh.
Setelah Snouckh Horgronje, mungkin Schimist lah orang Belanda yang sangat paham soal Aceh. Dengan pengetahuannya bahasa dan adat istiadat Aceh, ia menjadi perwira Belanda yang bisa bergaul secara bebas dengan masyarakat Aceh. Apalagi ditopang dengan pembawaannya yang tenang dan sikapnya yang terkendali.

Namun sebagai tentara Belanda, ia tetap tidak sepenuhnya diterima masyarakat Aceh. Apalagi dalam kecamuk perang. Dalam tahun 1906, Schmist bertugas sebagai seorang letnan di Jeuram dan Seunagan yang kacau balau. Di dua daerah itu, saban hari peristiwa jebakan dan sergapan dengan kelewang terjadi.

Tak mau kejadian itu terus menerus menimpa pasukannya, Schmist pun mencari seorang mata-mata handal. Baginya, tidaklah sulit mencari mata-mata itu. Yang sulit baginya adalah merahasiakan hubungannya dengan mata-mata tersebut. Apalagi, di daerah itu ia berhadapan dengan kelompok Teungku Puteh, yang juga punya banyak mata-mata handal untuk mengecoh dan menyusup ke bivak-bivak Belanda.

Maka “perang” antar spionase pun terjadi. Antara Schmist dan Teungku Puteh saling mengirim mata-mata ke lapangan. Sebagaimana Schmist mempunyai banyak mata-mata di sekitar Teungku Puteh, maka sebanyak itu pula ada mata-mata Teungku Puteh disekitar Schmist.

Terhadap peristiwa saling mengintai lawan tersebut, H C Zentgraaff dalam bukunya “Atjeh” mengungkapkan. “Ini adalah permainan licin melawan licin, yang setiap saat dapat menetas menjadi salah satu serangan kelewang yang amat terkenal dan sangat fanatik serta serba mendadak. Sehingga penduduk Seunagan terkenal sangat buruk pada pasukan kita (Belanda-red). Kita tidak pernah merasa yakin akan hari esok,” tulis mantan serdadu belanda yang dimasa pensiunnya beralih menjadi wartawan tersebut.

Selanjutnya, mantan redaktur Java Bode itu mengisahkan, diantara sekian banyak mata-mata Teungku Puteh, terdapat seorang pedagang yang membuka sebuah toko kecil di Keude (pasar-red) Seunagan. Zentgraaff menyebutnya seorang badut yang sangat lihai, yang sekali-kali juga datang kepada Schmist untuk sekedar ngomong-ngomong sebagai basa-basi. “Padahal ia ingin menggali informasi sekitar Schmist untuk kemudian disampaikannya pada Teungku Puteh,” jelas Zentgraaff.

Pada suatu hari, Schmidt menerima berita baik dari salah seorang mata-matanya. Ia segera menelaah informasi yang diberikan oleh mata-mata tersebut. Pada saat yang bersamaan, datang pula pedagang dari Keude Seunagan itu ke sana, yang tak lain merupakan mata-mata dari Teugku Puteh.
Keduanya pun dibawa masuk kedalam sebuah ruangan oleh Schmist. Si mata-mata tadi segera menceritakan informasi yang dibawanya. Sementara si pedang mendengarnya dengan seksama. Namun keberadaan mata-mata Teungku Puteh tersebut akhirnya diketahui Schmist, setelah ia membongkar rencana Schmist dan pasukannya yang akan menyeran gerilayawan Aceh. Esokya sipedagang itu pun disuruh tangkap.

Antara Schmist dan Teungku Puteh, selain juga sama-sama punya kekuatan mistik. Konon menurut Zentgraaff, Schmist merupakan putra Aceh yang sejak kecil diasuk dan disekolahkan oleh Belanda sampai ke Nezerland, sehingga anak Aceh tersebut menjadi orang Belanda tulen yang sangat mengerti tentang Aceh.

Soal kekuatan mistik yang dimiliki Schmist, Zentgraaff mengaku pernah mendengar hal itu dari Cut Fatimah, janda dari Teungku Keumangan, yang selama hayatnya memberikan perlawanan yang gigih terhadap pasukan-pasukan Belanda di Jeuram. “Ia telah bercerita pada saya, bahwa Schmist adalah salah seorang dari orang-orang yang tidak banyak jumlahnya. Ia memiliki rante bui, yang membuatnya menjadi kebal. Ia juga megetahui hal-hal yang mistik,” ungkap Zentgraaff.

Namun Zentgraaff tidak yakin Schmist memiliki rante bui tersebut. Menurutnya, yang memiliki benda yang bisa menjadi ajimat tersebut hanyalah Teungku Brahim di Njong, Teungki Chik Samalangan dan Teungku Cot Plieng. Mereka adalah pemimpin-pemimpin spiritual di Aceh (ulama) yang mengobarkan semangat jihat untuk melawan Belanda. “Teungku Cot Plieng merupakan yang paling utama diantara mereka itu. Komandan-komandan patroli kita (Belanda-red) yang paling ulung sekali pun, tak punya harapan menghadapi dia. Tak ada seorang Aceh pun yang berani memberitahukan dimana tempat persembunyian segerombolan dari ulama yang sangat keramat itu,” tulis Zentgraaff.

Pun demikian, pasukan Belanda terus memburunya, sampai kemudian pada Juni 1904, pasukan Belanda pimpinan Kapten Stoop berhasil menemukan jejaknya diantara dua aliran sungai Gle Keulabeu. Ia pun disergap, tapi Teungku Cot Plieng berhasil lolos dari “lubang jarum” dengan meninggalkan Al Qur’an dan jimat stempelnya.

Jimat stempel yang ditemukan dari Teungku Cot Plieng itu, disebut-sebut merupakan warisan dari Teungku Syeh Saman Di Tiro, yang dikenal dengan Teungku Chik Di Tiro. Karena tak lagi memiliki jimat stempel tersebut Teungku Cot Plieng pun akhirnya berhasil disergap oleh sebuah pasukan patroli pimpinan Letnan Terwogt. Dalam penyergapan tersebut, ulama karismatik itu pun tewas tertembak.

Mayatnya kemudian diusungkan ke salah satu bivak, untuk keperluan identifikasi. Belanda heran, karena mayat tersebut tidak membusuk. Untuk memastikan kalau itu adalah Teungku Cot Plieng, Belanda akhirnya memanggil Panglima Polem.

Sampai di sana, Panglima Polem memberi hormat pada mayat itu dengan melakukan sujud di tengah orang-orang Aceh yang terdiam karena rasa hormatnya. “Ketika kami berjumpa, Panglima Polem bilang hal itu merupakan rahasia tuhan,” jelas Zentrgaaff.

Panglima Polem pun kemudian melepaskan rante bui dari mayat Teungku Cot Plieng dan memberikannya kepada Van Daalen, seorang perwira Belanda. Tapi Van Daalen menolaknya, karena tak suka terhadap hal-hal yang berbau mistik.
Setelah operasi pembersihan besar-besar dilakukan pasukan Belanda di Pidie, ajimat itu kemudian dihadiahkan kepada Veltman perwira Belanda lainnya yang kerap dipanggil sebagai “Tuan Pedoman”. Ia tidak juga memakai ajimat itu. Ia lebih percaya kepada sebilah besi baja tajam dan sepucuk revolver, ketimbang ajimat tersebut.

Akhirnya rante bui itu dihadiahkan kepada Kolonial Museum di Amsterdam, Belanda, yang hingga kini masih disimpan dalam etnografia Aceh. “Saya berhasil memperoleh sebuah gambar potretnya berkat bantuan seorang bekas opsir marsose kawakan bernama Lamster,” jelas Zentgraaff.

sumber:
http://harian-aceh.com/2011/05/12/mi...pawang-rimueng




Quote:Original Posted By selayo
Penjabaran yang lengkap dan panjang...
Dulu pernah dengar jika seseorang memakai rante babi maka kulit tubuh nya seperti terkena penyakit kulit...
Apakah benar seperti itu ki sawung.


iya betul
Mantap penjelasan nya....

Nice trit dr sesepuhnya para sepuh forsup..
Ane pernah denger ini dr bokap ki mengenai rantai babi.. tapi blum se detail yg ane baca sekarang.. klo bokap dulu punyanya taring babi ki.. ditaruh diatas semua pintu rumah.. ada 4.. katanya buat tolak bala saja.. tp sekarang saya cari2 diatas pintu rumah bokap dah ga ada itu.. entah diambil orang atau muksa..

salim sungkem ki

Thumbs up 

IZIN NYIMAK MBAH..
Quote:Original Posted By kisawung
makanya baca baik-baik thread ini sebelum komen ya

ini jawabannya


iya puh saya sudah baca kok.
pada saat tertembak kan rante bui nya masih menempel.
kan katanya rante bui tersebut yg bisa membuat si pemakainya kebal.
lah kalau kebal kok bisa kena tembak dan mati?
krn saat terakhir jenazah di periksa kan rante buinya masih ada.
×