KASKUS

Rantai Babi ( Rante Bui )


sumber foto:
dari buku karangan DR. Ibrahim Alfian ( dosen UGM )
tentang Perang Aceh





"Diantara PEUGAWE yang dianggap paling kuat adalah Rante Babi atau Rante Bui
Babi Hutan yang selalu dijumpai tidak berkawan dengan kelompoknya
disebut BUI TUNGGAL
pada babi hutan ini tumbuh sejenis kaitan besi di hidungnya yang membuat
binatang itu kebal
kaitan itu sebenarnya terjadi dari cacing tanah / GLANG TANOH
yang tertelan oleh binatang ituketika ia makan lalu bersarang di hidungnya
dan berubah menjadi suatu benda yang mendatangkan keuntungan.
jika bui tunggal itu makan , maka ia melepaskan kaitan itu dan beruntunglah
orang yang dapat memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil rante
tersebut
(Snouck Hurgronje , The Achehnese, 11, hlm 37)



diantara sumber informasi lainnya :


Pada tanggal 2 Juli 1905, pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan Terwogt berhasil menembak Teungku Cot Plieng di Hulu Krueng ( Sungai ) Tiroe, sehingga beliau Syahid.

Pada mayat beliau ditemukan Ajimat ( Ubat Keubai )
berupa Rante Bui, Aneuk Beude ( Peluru ) dan Ulat Jeut.

Ajimat ini ( Ubat Keubai ) merupakan batuan (fosil) yang terbentuk dalam rongga mulut babi hutan tertentu, ( babi kurus yang suka menyendiri dengan jalan terseok – seok ).

Untuk memperoleh Rante Bui biasanya babi hutan tersebut ‘dipancing’ dengan setumpuk Keureumeuh “ Ampas Kelapa”. Babi tersebut menyimpan rantai tersebut di tempat tersembunyi sebelum memakan Ampas Kelapa yang diletakkan oleh orang yang hendak mengambil rantai tersebut .

Ajimat tersebut kini tersimpan di Koloniaal Musium, Amsterdam Belanda. Pada umumnya para pejuang Atjeh banyak memakai Ajimat dan Mengamalkan Isiem ( Mantra ) untuk ilmu kebal dalam rangka menghadapi tentara Belanda ( Marsose ) yang dikenal cukup kejam dan sebahagian besar personilnya merupakan tentara yang di rengkrut dari tanah Jawa dan Ambon.
( Rampagoe B@ng Dj )


sumber berita :
rampagoebgdj.blogspot.com/2009/10/ajimat-teungku-cot-pling.html
suatu malam kami sekeluarga dikejutkan dengan suara berisik yang melenguh berkeliaran disamping rumah kami dahulu di pedalaman kalimantan, tepatnya di kecamatan Melak, Hulu Mahakam, Kaltim.

Kulihat bapakku segera mengambil senapan laras panjang dan segera mengisinya dengan peluru sebesar jempol orang dewasa.
lalu akupun mengikutinya ke arah samping rumah. Duarrrrr.. tembakan tersebut tepat mengenai sasaran. ternyata sosok babi hutan yg sangat besar yang ditembaknya. seketika berhamburanlah pergi lari terbirit-birit kelompok babi lainnya.

namun diluar dugaan, babi besar tadi yg terkena tembakan, ajaibnya segera beranjak bangun seperti bangun dari pingsannya. ternyata walau telah terkena tembakan dengan telak. babi besar itu tidak cedera sedikitpun. kemudian kami lihat babi itu segera lari dengan cepatnya.
itulah kejadian tatkala aku masih berumur 7 tahun, dan kalimantan masih subur dengan hutan belantaranya, di sekitar tahun 1974.

peristiwa itu begitu melekat dalam ingatan, apalagi tatkala keesokan harinya, aku ikut mendengar cerita bapakku itu kepada pegawai-pegawainya ( bapak menjabat sebagai KKPH Dinas Kehutanan). dan salah seorang dari mereka yg masih penduduk aseli setempat ( suku dayak kenyah) bercerita bahwa babi yang semalam bapak tembak ialah Rajanya Babi Hutan.
aku masih mengingatnya walau dalam kegelapan malam namun dibantu sinar bulan tampak bulu2nya gondrong lebat, dan dua taring nampak sangar pada mulutnya..

rumah dinas yg kami tempati itu memang bersebelahan dengan kantor bapak, sehingga setiap pulang sekolah, aku selalu jadikan tempat bermain, bercengkerama dengan pegawai bapak.

pegawai bapak bercerita, bahwa babi besar itu punya kekebalan dan anti tembak, jadi walaupun sudah kena tembak, paling hanya terjatuh bengong sebentar karena efek benturan, lalu bisa bangun dan pergi. menurutnya pada taring babi itu ada "jimatnya" yg berbentuk seperti ulat yg melingkar dan membatu. setiap kali babi itu mandi, maka jimat itu dilepasnya. dan setelah mandi, dipakai lagi dilengketkan pada taringnya..

aku masih tak mengerti dan penasaran dengan jimat itu, yg belakangan terkenal dengan istilah "rantai babi". sampai suatu saat ketika aku kuliah di Bogor, aku menemukan buku karangan DR. Ibrahim Alfian ( dosen UGM ). pada buku itulah ada diceritakan sedikit tentang "rante babi"
yang digunakan ulama Aceh ketika berperang melawan Belanda.

untuk itulah maka aku upload gambarnya disini sebagai penambah wawasan. berhubung belakangan aku sering melihat salah kaprahnya paranormal yg tidak bertanggung jawab dan sombongnya menyatakan " rante babi" versinya, yg kuanggap bohong dan tidak sesuai dengan apa2 yg diketahui dan diceritakan oleh suku-suku di pedalaman.
pada gambar di blog inilah aku menyatakan bentuk aseli rante babi yang sebenarnya. yang mana sekarang rante babi di foto itu masih ada dan tersimpan di museum kolonial Belanda.


sumber:
kisawung.blogspot.com
Horrrreeeee.... Sesepuh favorit gw bikin trit lagi....
Izin menyimak Ki
DALAM sejarah perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda. Ada kisah-kisah mistik. Salah satunya, ajimat rante bui yang dipakai oleh ulama-ulama pengerak perlawanan. Salah satu rante bui itu adalah milik Tgk Chik Di Tiro. Ajimat itu ditemukan Belanda ditubuh Tgk Di Cot Plieng. Sampai kini masih tersimpan di Kolonial Museum di Amsterdam, Belanda dalam etnografia Aceh.
Setelah Snouckh Horgronje, mungkin Schimist lah orang Belanda yang sangat paham soal Aceh. Dengan pengetahuannya bahasa dan adat istiadat Aceh, ia menjadi perwira Belanda yang bisa bergaul secara bebas dengan masyarakat Aceh. Apalagi ditopang dengan pembawaannya yang tenang dan sikapnya yang terkendali.

Namun sebagai tentara Belanda, ia tetap tidak sepenuhnya diterima masyarakat Aceh. Apalagi dalam kecamuk perang. Dalam tahun 1906, Schmist bertugas sebagai seorang letnan di Jeuram dan Seunagan yang kacau balau. Di dua daerah itu, saban hari peristiwa jebakan dan sergapan dengan kelewang terjadi.

Tak mau kejadian itu terus menerus menimpa pasukannya, Schmist pun mencari seorang mata-mata handal. Baginya, tidaklah sulit mencari mata-mata itu. Yang sulit baginya adalah merahasiakan hubungannya dengan mata-mata tersebut. Apalagi, di daerah itu ia berhadapan dengan kelompok Teungku Puteh, yang juga punya banyak mata-mata handal untuk mengecoh dan menyusup ke bivak-bivak Belanda.

Maka “perang” antar spionase pun terjadi. Antara Schmist dan Teungku Puteh saling mengirim mata-mata ke lapangan. Sebagaimana Schmist mempunyai banyak mata-mata di sekitar Teungku Puteh, maka sebanyak itu pula ada mata-mata Teungku Puteh disekitar Schmist.

Terhadap peristiwa saling mengintai lawan tersebut, H C Zentgraaff dalam bukunya “Atjeh” mengungkapkan. “Ini adalah permainan licin melawan licin, yang setiap saat dapat menetas menjadi salah satu serangan kelewang yang amat terkenal dan sangat fanatik serta serba mendadak. Sehingga penduduk Seunagan terkenal sangat buruk pada pasukan kita (Belanda-red). Kita tidak pernah merasa yakin akan hari esok,” tulis mantan serdadu belanda yang dimasa pensiunnya beralih menjadi wartawan tersebut.

Selanjutnya, mantan redaktur Java Bode itu mengisahkan, diantara sekian banyak mata-mata Teungku Puteh, terdapat seorang pedagang yang membuka sebuah toko kecil di Keude (pasar-red) Seunagan. Zentgraaff menyebutnya seorang badut yang sangat lihai, yang sekali-kali juga datang kepada Schmist untuk sekedar ngomong-ngomong sebagai basa-basi. “Padahal ia ingin menggali informasi sekitar Schmist untuk kemudian disampaikannya pada Teungku Puteh,” jelas Zentgraaff.

Pada suatu hari, Schmidt menerima berita baik dari salah seorang mata-matanya. Ia segera menelaah informasi yang diberikan oleh mata-mata tersebut. Pada saat yang bersamaan, datang pula pedagang dari Keude Seunagan itu ke sana, yang tak lain merupakan mata-mata dari Teugku Puteh.
Keduanya pun dibawa masuk kedalam sebuah ruangan oleh Schmist. Si mata-mata tadi segera menceritakan informasi yang dibawanya. Sementara si pedang mendengarnya dengan seksama. Namun keberadaan mata-mata Teungku Puteh tersebut akhirnya diketahui Schmist, setelah ia membongkar rencana Schmist dan pasukannya yang akan menyeran gerilayawan Aceh. Esokya sipedagang itu pun disuruh tangkap.

Antara Schmist dan Teungku Puteh, selain juga sama-sama punya kekuatan mistik. Konon menurut Zentgraaff, Schmist merupakan putra Aceh yang sejak kecil diasuk dan disekolahkan oleh Belanda sampai ke Nezerland, sehingga anak Aceh tersebut menjadi orang Belanda tulen yang sangat mengerti tentang Aceh.

Soal kekuatan mistik yang dimiliki Schmist, Zentgraaff mengaku pernah mendengar hal itu dari Cut Fatimah, janda dari Teungku Keumangan, yang selama hayatnya memberikan perlawanan yang gigih terhadap pasukan-pasukan Belanda di Jeuram. “Ia telah bercerita pada saya, bahwa Schmist adalah salah seorang dari orang-orang yang tidak banyak jumlahnya. Ia memiliki rante bui, yang membuatnya menjadi kebal. Ia juga megetahui hal-hal yang mistik,” ungkap Zentgraaff.

Namun Zentgraaff tidak yakin Schmist memiliki rante bui tersebut. Menurutnya, yang memiliki benda yang bisa menjadi ajimat tersebut hanyalah Teungku Brahim di Njong, Teungki Chik Samalangan dan Teungku Cot Plieng. Mereka adalah pemimpin-pemimpin spiritual di Aceh (ulama) yang mengobarkan semangat jihat untuk melawan Belanda. “Teungku Cot Plieng merupakan yang paling utama diantara mereka itu. Komandan-komandan patroli kita (Belanda-red) yang paling ulung sekali pun, tak punya harapan menghadapi dia. Tak ada seorang Aceh pun yang berani memberitahukan dimana tempat persembunyian segerombolan dari ulama yang sangat keramat itu,” tulis Zentgraaff.

Pun demikian, pasukan Belanda terus memburunya, sampai kemudian pada Juni 1904, pasukan Belanda pimpinan Kapten Stoop berhasil menemukan jejaknya diantara dua aliran sungai Gle Keulabeu. Ia pun disergap, tapi Teungku Cot Plieng berhasil lolos dari “lubang jarum” dengan meninggalkan Al Qur’an dan jimat stempelnya.

Jimat stempel yang ditemukan dari Teungku Cot Plieng itu, disebut-sebut merupakan warisan dari Teungku Syeh Saman Di Tiro, yang dikenal dengan Teungku Chik Di Tiro. Karena tak lagi memiliki jimat stempel tersebut Teungku Cot Plieng pun akhirnya berhasil disergap oleh sebuah pasukan patroli pimpinan Letnan Terwogt. Dalam penyergapan tersebut, ulama karismatik itu pun tewas tertembak.

Mayatnya kemudian diusungkan ke salah satu bivak, untuk keperluan identifikasi. Belanda heran, karena mayat tersebut tidak membusuk. Untuk memastikan kalau itu adalah Teungku Cot Plieng, Belanda akhirnya memanggil Panglima Polem.

Sampai di sana, Panglima Polem memberi hormat pada mayat itu dengan melakukan sujud di tengah orang-orang Aceh yang terdiam karena rasa hormatnya. “Ketika kami berjumpa, Panglima Polem bilang hal itu merupakan rahasia tuhan,” jelas Zentrgaaff.

Panglima Polem pun kemudian melepaskan rante bui dari mayat Teungku Cot Plieng dan memberikannya kepada Van Daalen, seorang perwira Belanda. Tapi Van Daalen menolaknya, karena tak suka terhadap hal-hal yang berbau mistik.
Setelah operasi pembersihan besar-besar dilakukan pasukan Belanda di Pidie, ajimat itu kemudian dihadiahkan kepada Veltman perwira Belanda lainnya yang kerap dipanggil sebagai “Tuan Pedoman”. Ia tidak juga memakai ajimat itu. Ia lebih percaya kepada sebilah besi baja tajam dan sepucuk revolver, ketimbang ajimat tersebut.

Akhirnya rante bui itu dihadiahkan kepada Kolonial Museum di Amsterdam, Belanda, yang hingga kini masih disimpan dalam etnografia Aceh. “Saya berhasil memperoleh sebuah gambar potretnya berkat bantuan seorang bekas opsir marsose kawakan bernama Lamster,” jelas Zentgraaff.

sumber:
http://harian-aceh.com/2011/05/12/mi...pawang-rimueng
assalammualaikum ....

ijin nyimak kiiiii hehehehhehe ...

dari dulu saya pengen tau ciri2x babi yg punya rante babi ... hmm ?? ...
Menyimak penjelasan sesepuh d temani secangki k0pi
selamat malam ki sawung....
asik ntar malam ada bacaan....

semoga sehat selalu ki sawung
Ane ikutan baca kisawung
proses hingga menjadi rantai babi itu ada pernah q dengar, dari sejenis ulat yang menempel pada taringnya (kalau tidak salah, agak lupa ceritanya kang ), jenis ulat yang apabila dari kejauhan terdengar suara nyaring nya mungkin kang kisawung ada komentar tentang ini?
mantap ki.......
duduk menyimak dengan manis.....
Ada cerita yg mengatakan bahwa pemakai rantai babi akan menderita penyakit kulit yg tidak akan sembuh, kecuali dia tidak memakainya lagi...
Mantap puh...
Newbie ijin menyimak ya ki Sawung...
Baru kelar baca nih

Iya kisawung pernah liat kawan dikantor memperlihatkan bekas tembak dipunggung tangan kanannya sewaktu mengetes rante babi ini yang bila dikalungkan akan muat di leher
bila dimasukan ke pinggang akan muat pula
dimasukan ke pergelangan kaki juga muat seperti elastis
namun menurut pengakuannya rb tsb sudah ia berikan ke seorang di desa adat di papua
ane tanya kenapa
katanya kurang baik saya sifatnya sewaktu memakai rb itu
ane tanya lagi kenapa
ia mengaku merasa memandang semua orang lebih rendah dari dirinya sewaktu memakainya
who knows kisawung ane hanya menikmati jalan cerita kawan aja
Baru nongol picnya dimari
Menikmati pic dolo deh

beda jauh antara Pesugihan Babi Ngepet dan Rante Babi

Beda jauh antara Pesugihan Babi Ngepet dan Rante Babi
dalam hubungannya dengan pengambilan
uang gaib / bank gaib


perlu diperhatikan bahwa ada suatu anggapan dengan memiliki Rante Babi
maka akan dapat dipanggil siluman babi dalam hubungannya dengan
mengambil harta dan atau uang gaib

padahal sudah jelas menurut sejarah diatas bahwa , Rante babi untuk kebal
tidak ada sejarahnya untuk pengambilan dana gaib

kalau mau ambil dana gaib yah jelas , silakan belajar ritual pesugihan babi ngepet
jadi bukan dengan cara pake rante babi

Rante Babi tak ada hubungan sama sekali dengan siluman babi ngepet
Rante babi adalah mustika alam yang terbentuk dalam rongga mulut babi

dan atau menurut versi lainnya Rante Babi ialah berasal dari besi kursani
yang menurut Suhu Omtatok sangat banyak terdapat di semak belukar
pada daerah tertentu di Aceh

Rantai Bui dan Rantai Bumi adalah beda jauh

Rantai Bui dan Rantai Bumi adalah beda jauh

Rantai Bui atau Rante Bui ialah Rantai Babi

Rantai Bumi ialah pusaka Gentar Bumi / Gantar Bumi yang berupa akar kenyal
yang mirip seperti gelang karet , dan akan masuk di kepala
leher atau pinggang menyesuaikan bentuk ukurannya

inilah salah kaprah yang terjadi di dunia keparanormalan saat ini
Quote:Original Posted By kisawung
Rantai Bui dan Rantai Bumi adalah beda jauh

Rantai Bui atau Rante Bui ialah Rantai Babi

Rantai Bumi ialah pusaka Gentar Bumi / Gantar Bumi yang berupa akar kenyal
yang mirip seperti gelang karet , dan akan masuk di kepala
leher atau pinggang menyesuaikan bentuk ukurannya

inilah salah kaprah yang terjadi di dunia keparanormalan saat ini


rantai bumi buat kekebalan juga kah
Lanjut kisawung
Ikutan nyimak ya
sembari nebeng istirohat dimari
pengetahuan baru bangi nubi seperti ane
terimakasih kepada kisawung udah mau share ilmunya,nubi ijin nyimak aja
soalnya gak paham apa2 tentang RB

pengertian rantai adalah istilah sumatera untuk kalung

pengertian rantai adalah
istilah Sumatera untuk kalung


silahkan perhatikan jika kita ada di Sumatera dan Malaysia
jika kita melihat ada seseorang yang memakai kalung
lalu kita bertanya kalung apakah yang dia pakai

maka pasti akan dia jawab, saya memakai rante emas bermata batu ...
atau dia bilang... ah ini rante biasa saja

jadi Rantai atau Rante di Sumatera bermakna kalung
dan sesuai foto diatas maka jelaslah makna Rante Babi
ialah kalung yang bermatakan mustika dari Babi

maka kita lihat sekarang bentuk Rante babi
yang dibuat dan direkayasa seperti layaknya rantai kecil
dengan istilah mata satu , mata tiga , mata 13 dan seterusnya
sudah jauh dari kenyataan yang sebenarnya

di Rawabening sangat banyak dijual Rantai babi model semacam itu
Quote:Original Posted By soowoo
Baru kelar baca nih

Iya kisawung pernah liat kawan dikantor memperlihatkan bekas tembak dipunggung tangan kanannya sewaktu mengetes rante babi ini yang bila dikalungkan akan muat di leher
bila dimasukan ke pinggang akan muat pula
dimasukan ke pergelangan kaki juga muat seperti elastis
namun menurut pengakuannya rb tsb sudah ia berikan ke seorang di desa adat di papua
ane tanya kenapa
katanya kurang baik saya sifatnya sewaktu memakai rb itu
ane tanya lagi kenapa
ia mengaku merasa memandang semua orang lebih rendah dari dirinya sewaktu memakainya
who knows kisawung ane hanya menikmati jalan cerita kawan ajaQuote:Original Posted By soowoo
rantai bumi buat kekebalan juga kah
Lanjut kisawung
Ikutan nyimak ya
sembari nebeng istirohat dimari


iya betul Rantai bumi juga buat kekebalan
dan aku pertama kalinya tahu tentang Rantai Bumi ialah di daerah Banten

btw @soowo thx for share