[FREE] Hukum Syariah di Aceh Harus Dihapuskan!!!

Alasannya:

Hukum syariah di Aceh adalah bentuk Negara dalam Negara. Ini sama sekali tidak sesuai dengan semangat NKRI. Indonesia adalah negara sekuler yang hukumnya tidak didasarkan pada hukum suatu agama manapun.

Lagipula penerapannya tidak manusiawi yang bisa merusak wajah RI di mata dunia. Amnesty International sudah meminta Indonesia menghentikan praktek2 tidak manusiawi ini.

let's debate! :

Spoiler for "larangan murtad":


Spoiler for "wali nanggroe":

Spoiler for "pengesahan hukum rajam oleh DPRA":

Spoiler for "kebebasan pers":


=======

Spoiler for "pendapat ketua DPR":

Spoiler for "amnesty international":
pertamax :
Kok parah bgt sih ampe kosong gini? Ane sih setuju2 aja drpd Aceh memberontak lagi kaya 'dedek' ane tiap pagi
yailah, namanya jugak daerah istimewa
fahami dulu ituh!!
jangan hapus post gue dolo yeee... komennya nyusul..

sekarang lu liat aja jogja kok masih pake raja-raja an
aceh itu bisa seperti itu karena ada julukan serambi mekkah ditambah ada embel-embel D.I nya kk
Officials Fire Local Shariah Police Chief Over Aceh Rape Case
Nurdin Hasan | January 21, 2010


A woman walks past by a sign advising people to wear
Muslim attire at Baiturrahman Grand Mosque in Banda Aceh.
(Photo: Heri Juanda, AP)
\t


Banda Aceh. Zulkifli Zainon, the mayor of Langsa city in Aceh, officially dismissed the chief of the local Shariah Police, Syahril, on Wednesday over allegations that three of his officers gang-raped a 20-year-old university student.

Syahril, who also acted as the city’s public order chief, was formally removed from his post during an official ceremony on Tuesday. He was replaced by Syahbainur.

Syahril has been transferred to the office of the Langsa administration, where he will hold no specific position.

“It was only natural that there would be condemnation and pressure from various public elements, from community leaders, nongovernmental organizations and students, to fire the three [officers] and discharge the head of the public order command and Shariah Police,” Zulkifki said following Tuesday’s ceremony.

“We in the government must be alert to see and respond to such demands to avoid unwanted consequences,” he said.

Syahril told the Jakarta Globe on Wednesday that he accepted his dismissal.

“There was a lot of pressure from the public and students to have me fired because of the actions of three of my subordinates,” he said. “I’m responsible for my subordinates’ actions. My dismissal is the consequence and impact of their deed.”

“Maybe it was my fault, not being able to control the Shariah Police members who committed this savagery,” he added.

Syahril said the three alleged rapists had not been fired from their contract positions with the Shariah Police, also known as Wilayatul Hisbah, pending a police investigation and a possible trial.

Syahril said all three suspected rapists were married and had children. Police he said, continued to interrogate two of the suspects, identified only by their initials and ages as FA, 28, and MN, 29. The third suspect, identified as 27-year-old Dedi Setiawan, is still at large.

Syahril said news of the alleged rape broke after the victim “cried in her mother’s arms and told her she had been raped by three WH members.”

“The girl’s mother had previously received a call from the police telling her to come to the police station to pick up her daughter,” he said.

He added that on Jan. 7, the student had been detained with her boyfriend near a traffic circle on the city ring road and the pair were brought in by the three police officers accused of the rape for “interrogation and re-education.”

“Around dusk the Shariah Police had finished questioning and re-educating them and asked for [the couple’s] address so their parents could be contacted,” Syahril said. “The couple refused to divulge the information, maybe because they were afraid their parents would find out. So they were told to spend the night in different rooms of the office.”

“Then, early Friday morning, we learned that the officers went back to rape the girl.”

Despite the scandal, the Shariah Police have continued to conduct patrols across the province, though the frequency of the patrols has been cut back to avoid a public backlash.

“Now, you cannot see young people hugging their lovers on motorcycles or sitting close together in quiet places. Maybe this rape incident has served as a lesson to teach the public and parents to become more aware of the need to properly educate their children,” Syahril said.

Asked if the people of Langsa were frightened that members of the Shariah Police might commit similar crimes, Syahril said: “Possibly. But we hope this kind of shameful case will not happen again. My three subordinates have besmirched the name of the WH and the implementation of Islamic Shariah that is being promoted in Aceh.”

Aceh’s deputy governor, Muhammad Nazar, said on Tuesday that there was no need to disband the province’s Shariah Police because there was no legal obligation to do so.

Dismissing calls for the Shariah Police to be disbanded over the case, Nazar said that the alleged rape was not the fault of the organization.

“Just because some individuals do something wrong does not mean the institution should be disbanded,” he said.

“Those who did wrong simply need to face harsh punishment.”


http://www.thejakartaglobe.com/home/...pe-case/353948
Kalau masalah malu dan sakit nya dicambuk, gue si gk peduli
Masalahnya, apakah ada perubahan positif antara sebelum dan sesudah SI?, itu aja
Rabu, 05 Mei 2010
Cewek Jatuh, Terobos Razia Busana Muslim



BANDA ACEH, KOMPAS.com — Seorang wanita pengendara sepeda motor yang coba menerobos razia busana muslim terjatuh. Insiden ini terjadi akibat ia coba menabrak seorang petugas Wilayatul Hisbah yang sedang melakukan razia di Jalan T Nyak Arief, Simpang Mesra, Banda Aceh, Selasa (4/5/2010).

Seperti yang kerap diberitakan, razia macam ini dilakukan dengan alasan menegakkan syariat Islam di Aceh. Mirip dengan razia kendaraan bermotor, para petugas biasanya menghentikan wanita yang membawa kendaraan. Biasanya pula wanita yang kedapatan tidak berpakaian sesuai dengan syariat akan diamankan untuk diberi nasihat terkait qanun atau Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2002 tentang Busana Muslim sebagai pelaksanaan syariat Islam di NAD.

Pihak penegak syariat meyakini razia macam ini mampu mengontrol perilaku warga, khususnya perempuan. Mereka wajib mengenakan jilbab dan tidak mengenakan pakaian ketat. Dalam kasus di atas, sepertinya si wanita takut ditangkap karena mengenakan celana jins yang "relatif" ketat meski ia telah memakai jilbab.
Diposkan oleh herry octaviendi di Rabu, Mei 05, 2010
menurut gw jangan dihapus, tapi ditinjau ulang-- misalnya, masa maho dicambuk 100x apa malah nggak tambah ketagihan : harusnya para maho dihukum dengan dipaksa kimpoi ama wanita normal, saia kira hukuman ini akan lebih menyakitkan

apalagi katanya pahala bisa menebus dosa, kalau begitu kenapa yang banyak dosa nggak disuruh berbuat baik saja seperti melayani masyarakat, dipekerjakan, diayomi agar dapat kembali ke fitrahnya














*halah cambuk2 aja dah, urusan orang aceh ini
Kenapa yah pada suka dengan hukuman ala arap...
Quote:Original Posted By IDharum...
Kenapa yah pada suka dengan hukuman ala arap...


arap itu kan kiblat nya kk


di aceh, ladang ganja kok ga habis2 ya
pibot ngeganja molo


Pembantaian Syariat Islam di Aceh


Cita-cita dan harapan negeri yang bersya’riat mungkin, kini, hanya akan tinggal kenangan. Sebuah harapan akan kehidupan yang islami dengan menjalankan syariat yang kaffah, tanpa terasa mulai hilang. Kondisi yang terlihat justru sebuah pembantaian terhadap syariat Islam itu sendiri.

Terprovokasi, memprovokasi, diprovokasi? Anda boleh berpikir seperti itu.

Kita harus jujur dengan kondisi saat ini. Kita tidak lagi dapat membohongi diri kita, tidak lagi harus bertopeng dan “bermegah-megahan” dengan label syariat Islam. Karena kondisi yang terjadi saat ini sangat menyedihkan dan memalukan.

Entah mengapa, keadilan itu selalu menjadi barang yang sangat mahal di negeri ini, sebuah negeri yang bersyariat Islam. Padahal, salah satu tujuan penegakan syariat Islam itu adalah untuk sebuah keadilan dan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Namun yang terjadi, masyarakat pun semakin apatis dan tidak sedikit pula yang ikut-ikutan bermain “curang” atas ketidakadilan yang selama ini dilihatnya.

Hukum memang hanya untuk orang kecil, hukum memang untuk dilanggar. Itulah yang saya lihat saat ini.

Syariat Islam di Aceh tidak lebih sebagai “tumbal” kepentingan dan keegoan. Saya tidak tahu, apakah syariat Islam sebagai tumbal bagi masyarakat atau masyarakatlah yang menjadi tumbal dari syariat islam itu sendiri demi kepentingan “ego”.

Berbicara real, lihatlah, apa yang terjadi dengan syariat Islam di Aceh. Hampir 10 tahun berjalan, Kondisi Aceh nyaris tidak ada perubahan.

Pelanggaran syariat Islam terus menerus terjadi, bahkan semakin vulgar. Bukan hanya masyarakat awam, pejabat pemerintah, mahasiswa, pelajar, seolah-olah berlomba untuk melakukan kemaksiatan (mesum). Jadi tidaklah salah jika ada anggapan, syariat islam di Aceh adalah Syariat yang berbalut maksiat.

Lihat saja, pemberitaan media di Aceh, nyaris setiap harinya masyarakat dicecoki oleh pemberitaan narkoba, pembunuhan, khalwat, korupsi hingga prostitusi. Jika melihat persentase, setiap tahun justru mengalami peningkatan yang luar biasa.

Pembantaian Syariat ini mulai terasa sejak Wilayatul Hisban atau WH sudah tidak berdiri sendiri secara independen. WH sudah serumah dengan SatPol PP. Dulu, sewaktu awal-awal serumah, memang WH tidak cocok dengan Satpol PP, bahkan sempat jotos-jotosan antara Wh dan satpol PP pada sebuah perhelatan besar.

Tapi sekarang, jangan heran dan terkejut saat melihat anggota WH ikut bersama SatPol PP “memberangus” kios pedagang di pinggir jalan. Mereka sudah sangat lengket ibarat dua sejoli.

Ntah ada hubungannya tau tidak, marwah WH pun lama-kelamaan mulai luntur dimata masyarakat. Sudah banyak* cerita dan kasus yang melibatkan anggota WH. Sebagai pengayom yang juga mencoba mencicipi korban “tangkapannya”. Masih ingat bagaimana tiga oknum WH memperkosa seorang gadis “tangkapannya” di Langsa? Sangat memilukan!

Nah, sekarang coba kita lihat. Dimana kasus itu berada? Bagaimana pelakunya ditindak? Semuanya hilang ditelan bumi.

Kasus terakhir, dua insan berlainan jenis terpaksa dihukum cambuk karena ketahuan berciuman.* B E R C I U M A N !!!

Benar-benar pembantaian terhadap keadilan. Coba kita runut ulang kasus-kasus mesum yang melibatkan pejabat dan orang-orang besar di Aceh? Dimana semuanya? Hilang ditelan fulus (uang).

Syariat Islam di aceh bisa dibeli dengan uang. Ada uang, akan bebas dari cambuk dan hukuman, bahkan ada uang, kasusnya juga bisa dibayar ke media agar tidak terpublish. Sangat menyedihkan memang!

Nah, bagi korban dari masyarakat awam yang tidak berduit, apes dah. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain harus menerima nasib syariat Islam.

Kasus korupsi? Jangan Tanya lagi. Masih ingat status aceh sebagai daerah paling korupsi di Indonesia? Saat itu aceh sudah berstatus syariat Islam. Dan nyatanya, hingga saat ini, korupsi masih merajalela di Aceh.

Belum lagi dengan aturan Qanun yang gamang di Aceh. Qanun Jinayah misalnya. Justru Pemerintah Aceh hingga saat ini masih belum menandatanganinya. Padahal Qanun Jinayah merupakan kunci pelaksanaan Syariat Islam di Aceh.

Qanun Jinayah yang telah disahkan itu masih 50 persen. Belum masuk pembahasan korupsi dan hal-hal penting lainnya.

Saat pengesahan Qanun Jinayah, justru ratusan orang dari berbagai ormas melakukan demo penolakan. Seolah-olah, Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) berjuang sendiri terhadap Qanun Jinayah demi terlaksananya syariat Islam di Aceh. Dalam qanun Jinayah termaktub hukuman rajam di Aceh.

Yusny Saby, salah seorang tokoh pendidikan dan ulama di Aceh bahkan pernah meminta, Pemimpin Harus Mampu Terapkan Qanun Jinayah

Saat ini, disaat Partai Aceh memegang sebagian besar kursi di DPRA, ternyata Qanun Jinayah juga tidak jelas juntrungnya.

Lalu untuk apa semua perjuangan yang mengatasnamakan rakyat ini! Dimana perjuangan yang mengatasnamakan keadilan ini! Karena itu, saya menganggap, saat ini telah terjadi pembantaian Syariat Islam di Aceh!
Quote:Original Posted By nanchiang15
Kalau masalah malu dan sakit nya dicambuk, gue si gk peduli
Masalahnya, apakah ada perubahan positif antara sebelum dan sesudah SI?, itu aja


Kira2 kalo lo ketangkapan lagi kimpoy ama lonte
Trus dihukum cambuk ditmpt umum, lo bakal jera gak? :
Bandingkan dgn hukuman abal2 yg bisa ditebus dgn kedok denda :
memang ada2 saja tuh peraturan, mana ada peraturan khusus dalam negara, cuma bikin rusuh dan tidak bersatu saja.
Quote:Original Posted By parakontoI
arap itu kan kiblat nya kk


di aceh, ladang ganja kok ga habis2 ya
pibot ngeganja molo


“Prestasi” Narkoba Aceh Lebih Baik dari MTQ
Banda Raya - 19 June 2011

Banda Aceh | Harian Aceh – Penggunaan narkotika serta obat-obatan terlarang di kalangan pemuda dan masyarakat Aceh saat ini dinilai memasuki fase kritis dan mengkhawatirkan untuk tingkat nasional. Daerah yang terkenal dengan penerapan Syariat Islam ini juga dilaporkan meraih “prestasi” yang lebih baik untuk penggunaan Narkoba ketimbang prestasi di bidang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di tingkat nasional.
“’Prestasi’ bidang Narkoba, masyarakat Aceh masih lebih baik ketimbang MTQ di tingkat nasional,” kata Dewi Meuthia, istri Wakil Gubernur Aceh, Minggu (19/6).

Kata dia, Aceh meraih peringkat ke sembilan untuk kejuaraan MTQ di tingkat nasional pada awal 2011 lalu. Prestasi ini dinilainya masih kalah jauh dengan jumlah pengguna Narkoba di daerah ini yang menduduki urutan ke tujuh di nasional.

Persoalan serius ini dinilai tidak akan berakhir hanya dengan berpangku tangan pada Pemerintah Aceh semata. Keterlibatan aktif masyarakat serta orang tua dalam menjaga lingkungan dan keluarganya merupakan salah satu usaha mencegah berkembangnya Narkoba di Aceh.
“Jadi, tidak saling menyalahkan seperti selama ini. Penggunaan Narkoba masih menjadi permasalahan serius di Aceh,” kata mantan aktivis KARMA semasa konflik Aceh itu.

Terkait menurunnya prestasi Aceh di ajang MTQ tingkat nasional, Dewi menyarankan untuk tidak terlalu dibesar-besarkan. Pasalnya, prestasi tersebut merupakan tanggungjawab semua pihak. “Mungkin ke depan kita harus lebih fokus lagi dalam pembinaan kader atau peserta, salah satunya dengan mengeluarkan anggaran yang relatif lebih banyak dan pembinaan yang lebih ketat,” katanya.(mrd)

http://harian-aceh.com/2011/06/19/%E...-baik-dari-mtq

weeew...
Quote:Original Posted By IDharum...
Kenapa yah pada suka dengan hukuman ala arap...


kaarena itu arap udah ketinggalan zaman .
Quote:Original Posted By piongsakit
kaarena itu arap udah ketinggalan zaman .


karena para arap KW3 pengen jadi arap original...
wah gan, kalo mau dihubung2kan sama kemanusian, HAM, dan sejenisnya, kembaran batistuta yang disalib juga melanggar HAM.

dan pernyataan "Indonesia adalah negara sekuler yang hukumnya tidak didasarkan pada hukum suatu agama manapun." adalah tidak sepenuhnya benar.

hukum pernikahan contohnya :
Quote:Original Posted By IDharum...
“Prestasi” Narkoba Aceh Lebih Baik dari MTQ
Banda Raya - 19 June 2011

Banda Aceh | Harian Aceh – Penggunaan narkotika serta obat-obatan terlarang di kalangan pemuda dan masyarakat Aceh saat ini dinilai memasuki fase kritis dan mengkhawatirkan untuk tingkat nasional. Daerah yang terkenal dengan penerapan Syariat Islam ini juga dilaporkan meraih “prestasi” yang lebih baik untuk penggunaan Narkoba ketimbang prestasi di bidang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di tingkat nasional.
“’Prestasi’ bidang Narkoba, masyarakat Aceh masih lebih baik ketimbang MTQ di tingkat nasional,” kata Dewi Meuthia, istri Wakil Gubernur Aceh, Minggu (19/6).

Kata dia, Aceh meraih peringkat ke sembilan untuk kejuaraan MTQ di tingkat nasional pada awal 2011 lalu. Prestasi ini dinilainya masih kalah jauh dengan jumlah pengguna Narkoba di daerah ini yang menduduki urutan ke tujuh di nasional.

Persoalan serius ini dinilai tidak akan berakhir hanya dengan berpangku tangan pada Pemerintah Aceh semata. Keterlibatan aktif masyarakat serta orang tua dalam menjaga lingkungan dan keluarganya merupakan salah satu usaha mencegah berkembangnya Narkoba di Aceh.
“Jadi, tidak saling menyalahkan seperti selama ini. Penggunaan Narkoba masih menjadi permasalahan serius di Aceh,” kata mantan aktivis KARMA semasa konflik Aceh itu.

Terkait menurunnya prestasi Aceh di ajang MTQ tingkat nasional, Dewi menyarankan untuk tidak terlalu dibesar-besarkan. Pasalnya, prestasi tersebut merupakan tanggungjawab semua pihak. “Mungkin ke depan kita harus lebih fokus lagi dalam pembinaan kader atau peserta, salah satunya dengan mengeluarkan anggaran yang relatif lebih banyak dan pembinaan yang lebih ketat,” katanya.(mrd)

http://harian-aceh.com/2011/06/19/%E...-baik-dari-mtq

weeew...


Ya Jelas, Kan Aceh Surganya Ladang Ganja


Polda Aceh Kembali Temukan Ladang Ganja Seluas 1 Hektar

Kamis, 10/02/2011 21:05 WIB
Jakarta - Pihak kepolisian dari Polda Aceh kembali menemukan ladang ganja seluas 1 hektar di Desa Lalang, Kecamatan Cot Glie, Nanggro Aceh Darussalam pada Rabu (9/2/2011).

Temuan ini merupakan tindaklanjut dari operasi tim gabungan TNI-Polri yang dilakukan pada beberapa waktu lalu, tepatnya pada Selasa (8/2/2011).

"Pada hari Rabu tanggal 9 Februari 2011 pukul 08.00 wib UKL I bersama-sama SATGAS RES Aceh Besar dengan jumlah kekuatan personil 39 orang bergerak dari Polsek Indrapuri ke TKP ladang Ganja, di Desa Mereu, Kecamatan Indrapuri untuk melakukan pencabutan tanaman ganja yang di temukan oleh SATGAS RES Aceh Besar," kata Kapolda Nanggro Aceh Darussalam Irjen Pol Iskandar Hasan melalui rilisnya pada Kamis (10/2/2011).

Setelah melakukan pencabutan pohon ganja di ladang tersebut, petugas kembali menyisir ketempat lain guna mengetahui apakah masih terdapat ladang ganja lainnya.

"Sekira pukul 09.00 wib tiba di TKP dan melakukan Pencabutan tanaman ganja. Giat tersebut selesai sekira pukul 10.30 wib," katanya.

Setelah melakukan penyisiran, petugas kembali menemukan ladang ganja seluas lebih kurang 1 hektar di Desa Lalang, Kecamatan Cot Glie. Dari temuan tersebut, petugas mengamankan sedikitnya 3000 batang pohon ganja yang diperkirakan berumur dua-tiga bulan dengan ketinggian dua meter.

"Selanjutnya melakukan penyisiran dan menemukan kembali ladang ganja di Desa Ialang. Kecamatan Cot Glie dengan luas ladang kurang lebih 1 hektar, jumlah kurang kebih 3000 batang, umur tanaman kurang lebih dua sampai tiga bulan dengan tinggi tanaman rata-rata satu sampai dua meter," imbuhnya.

Kemudian barang bukti 3000 pohon ganja itu dibawa ke Polsek Indrapuri untuk pengembangan penyelidikan berikutnya. "Kemudian tanaman tersebut di cabut dan di kumpulkan serta di anggkut ke truk untuk dibawa dan diamankan ke Polsek Indrapuri. Kegiatan berakir pukul 15.00 WIB," tandasnya. (ajt/ajt)

http://today.co.id/read/2011/02/10/9...eluas_1_Hektar