KASKUS

Doktorandus & Insinyur Itu Bukanlah Sebuah Gelar !

Pertama
Quote:Bandung PR 1992
Quote:Sekarang ini banyak sarjana yang tidak malu memakai “gelar” doktorandus (Drs),Insinyur(Ir) dan sejenisnya. Padahal dotorandus,insinyur atau sejenisnya bukanlah gelar. Bahkan universitas yang meluluskan sarjana itu,tidak mewajibkan sarjananya memakai “gelar” seperti itu.

Demikian pendapat yang dikemukakan Soewarno Darsoprajitno,staf ahli senior pada Puslitbang Geologi Ditjen Geologi dan Suber Daya Mineral,kepada wartawan “PR” di Bandung baru-baru ini.

Dikemukakannya,insinyur pun bukanlah gelar melainkan profesi sama halnya dengan profesi sopir atau wartawan. “Insinyur itu tidaklah selalu bisa diraih kalau tamat perguruan tinggi,” kata Soewarno yang mengenyam pendidikan diGeologi ITB tahun 60-an.

Ia menilai,sarjana sekarang banyak yang membiarkan dirinya dalam ketidakmengertian. Banyak yang memakai “gelar” Drs. di depan namanya,namun tidak mengerti apa arti dan kepanjangannya. Ini dibuktikan sendiri ketika ia memberikan kuliah disalah satu perguruan tinggi ternama di Bandung,belum lama ini.

“Saya bertanya kepada mahasiswa ,siapa yang tahu apa kepanjangan Drs. ? Kalau tahu,angkat tangan. Ternyata mereka tidak ada yang bisa menjawab. Mereka yang pakai Drs. pun mungkin banyak yang tidak tahu,” ujarnya.

“Selesai diwiduda,lalu mereka menempeli namanya dengan Drs. Padahal pada ijazah sarjananya,tidak disebutkan bahwa kalau yang bersangkutan lulus ,tamat ujian sarjana,berhak menggunakan gelar Drs. Itu tidak ada!,mereka tidak tahu . Padahal Drs. adalah singkatan dari doctorandus instantunasendi . Artinya doktor yang belum jadi atau calon doktor!. kata Soewarno

Dikemukakannya,sarjana (dokterandus) itu jika ia melanjutkan studinya,baru bisa menjadi sarjana madya. Dari situ,jika yang bersangkutan studi lagi,harus bersaing dengan ketat memperoleh gelar sarjana utama yakni DOKTOR. DOKTOR inilah yang GELAR!

Sekarang ini,menurut Soewarno,doktorandus ada disembarang gang. Tanpa diplomasi penuh mereka memakai Drs. “pemain Badminton,pingpong,dsb,pakai doktorandus,”katanya berseloroh.

“Selesai diwisuda langsung memakai gelar. Sedangkan mereka belum punya karya dan prestasinya belum ada. Kok tidak malu!” lanjutnya.

Soewarno bercerita tentang pengalamannya ketika bekerja diKalimantan dan bertemu dengan seorang tenaga ahli dari Jepang. “orang Jepang itu bertanya kepada saya,kok teman-temanmu itu pada pakai Ir.(baca;ir),apa itu artinya?” kata Soewarno,mengutip pertanyaan ahli dari Jepang itu.

“Saya katakan,itu bukan ir,tapi Ir suatu gelar yang kepanjangannya insinyur,”lanjut Soewarno

Orang Jepang itu berkata “Wah,persis diJepang 50 tahun yang lalu…”

Menurut Soewarno,jawab orang Jepang itu berarti bahwa kita diIndonesia ketinggalan 50 tahun diari orang Jepang,khususnya tentang kelatahan menggunakan”gelar”yang tidak pada tempatnya.

Yang paling disesalkan,menurut Soewarno,orang Indonesia yang senang memakai Drs atau Ir itu kerjanya banyak yang santai. Duduk-duduk saya . Akan tetapi kalau mengeluarkan kartu nama,tercantum Drs. pada awal nama yang bersangkutan …

Nah disini dapat disimpulkan,bahwa bukan berarti orang yang tidak mempunyai gelar “Drs atau Ir dsb” itu berarti tidak mempunyai gelar sama sekali. Melainkan mereka ialah orang yg lebih maju 50 tahun dari yg memakai gelar tersebut. Dan mereka menyadari bahwa gelar sebenarnya ialah DR “DOKTOR” bukanlah Drs”calon DOKTOR”. Seperti halnya Jepang yg meninggalkan kita 50 tahun silam. Gelar tersebut bukanlah semata-mata gelar akan tetapi gelar dapat dibuktikan bukan hanya oleh tulisan semata.. tapi dengan perbuatan dan pekerjaan kita . Jadi dalam hal ini jgn bangga lah hanya karena gelar,tetapi banggalah karena diri anda ,bangga akan pekerjaan anda ,dan banggalah akan perbuatan (akhlak) anda,Karena didunia ini percaya diri merupakan kunci kesuksesan ..


Kalau agan berkenan
tapi jangan
wah ane baru tahu soal drs

btw drs masih banyak dipake ama guru guru di beberapa sekolah, kenapa yah

kalo Ir kayaknya dah jarang yang make kayaknya

nice trit gan
Quote:Original Posted By Celso
wah ane baru tahu soal drs

btw drs masih banyak dipake ama guru guru di beberapa sekolah, kenapa yah

kalo Ir kayaknya dah jarang yang make kayaknya

nice trit gan


iya gan berarti itu semua gurunya belum pada tau kalau DRS itu calon Doktor,malu kan kalau kita pake gelar tapi kelakuan kita tidak sepantas dengan gelar itu,terusss andai kita pake gelar drs terus ga ngelanjutin s3 juga sama aja dengan bohong.. DRS kan calon doktor tapi ga ngelanjutin s3 sama aja dengan calon gagal bukan??
kalau yg ir berarti udah pada nyadar itu gan... ada juga gelar dr<--- kalau gelar ini emang saat s1 lulus sudah diperkenankan di cantum didepan namanya,kalau drs univ yg meluluskan pun tidak mengharuskan memakai gelar drsnya ...

apalah arti sebuah gelar kalau nggak ada sumbangsihnya buat bangsa & negara
toh banyak juga gelar-gelar hasil beli

FYI, Ir. VS Drs. itu dulu sempet rame loh
gara2 soal gaji. yg Ir. lebih gede dapetnya daripada yg Drs.
Quote:Original Posted By lhiiyf
apalah arti sebuah gelar kalau nggak ada sumbangsihnya buat bangsa & negara
toh banyak juga gelar-gelar hasil beli

FYI, Ir. VS Drs. itu dulu sempet rame loh
gara2 soal gaji. yg Ir. lebih gede dapetnya daripada yg Drs.


Setuju gan
Ga ada artinya gelar jika pekerjaan kita asal-asalan...

Kalau agan berkenan dongg
Tapi jangan yaa
truss kenapa Ir. sering diidentikkan dgn lulusan teknik :

--------------------------------

kyk gitu buat keren2nan doang
lumayan naikin status sosial

biasanya semakin panjang/bnyk gelarnya semakin bagus
Soekarno pindah ke Bandung, melanjutkan pendidikan tinggi di THS (Technische Hooge-School), Sekolah Teknik Tinggi yang kemudian hari menjadi ITB, meraih gelar insinyur, 25 Mei 1926. Semasa kuliah di Bandung, Soekarno, menemukan jodoh yang lain, menikah dengan Inggit Ganarsih (1923).

Ir. Soekarno mendapat helar DR (HC) dari ITB karena sumbangsihnya dalam ilmu teknik sipil dan terutama Ir.Soekarno merupakan alumni Teknik Sipil ITB. Salah satu hasil karya Soekarno yang masih tampak sampai saat ini adalah karya dibidang sipilnya yakni Monas (monumen nasional).
Bukan mau sok tau gan, maaf tapi sedikit koreksi. Karena kita ikut pola pendidikan Belanda makanya kita pakai gelar, drs dan ir. Belanda sendiri setahu saya sudah merubah atau meniadakan gelar ini baru pada tahun 2002 karena ada Bologna Process ( http://en.wikipedia.org/wiki/Bologna_process ). Belanda harus mengadopsi sistem transfer kredit Eropa (ECTS).

drs. atau doktorandus yang terjemahan bebasnya calon doktor adalah gelar setara s2 kalau sekarang. Kalau mereka yang punya gelar drs bisa langsung masuk s3 kalu kuliah di Belanda, jadi ga perlu ambil s2 lagi. Padahal di Indonesia sendiri drs disetarakan dengan s1. Demikian pula dengan gelar ir. atau "ingenieur" yang walupun lebih ke teknik prinsipnya sama sebagai sebuah gelar dengan drs.

sebenarnya kita rugi ketika pada tahun 1996 kalau ga salah, lulusan s1 di berikan gelar sarjana .... (st, s.sos, se, sh, dll.) padahal kalau kita masih pake drs dan ir, itu setara dengan lulusan s2 di luar negeri.

Memang di luar, gelar atau graduate itu dihitung dari doktor, tapi bukan berarti drs. atau ir. bukan gelar. malah menurut saya lebih bergengsi dari pada se, st, s.sos dll. Belanda sendiri sekarang sudah tidak mengeluarkan gelar drs dan ir semenjak 2002, tapi tetap diakui sebagai gelar pendidikan yang bisa melamar ke pendidikan s3.

Kalau tujuannya si bapak itu ngritik gelar karena orang Indonesia lebay pake gelar sih saya juga setuju, tapi mengatakan bahwa drs. atau ir. bukan gelar rasanya agak kurang tepat, karena Indonesia sendiri dari dulu tidak konsisten dengan aturan soal gelar.
Memang berbeda negara berbeda kebijakan soal gelar, asal di negaranya sendiri jelas. Perancis bahkan sampai sekarang masih punya gelar DEA (Diplôme d'Études Approfondies) yang diberikan pada fase pertama (1-2 tahun) kuliah jenjang s3 nya.

agan bisa cek sendiri soal gelar di Belanda pra-2002 di link ini http://en.wikipedia.org/wiki/Academi...ee#Netherlands
Quote:Original Posted By wowoxarc
Bukan mau sok tau gan, maaf tapi sedikit koreksi. Karena kita ikut pola pendidikan Belanda makanya kita pakai gelar, drs dan ir. Belanda sendiri setahu saya sudah merubah atau meniadakan gelar ini baru pada tahun 2002 karena ada Bologna Process ( http://en.wikipedia.org/wiki/Bologna_process ). Belanda harus mengadopsi sistem transfer kredit Eropa (ECTS).

drs. atau doktorandus yang terjemahan bebasnya calon doktor adalah gelar setara s2 kalau sekarang. Kalau mereka yang punya gelar drs bisa langsung masuk s3 kalu kuliah di Belanda, jadi ga perlu ambil s2 lagi. Padahal di Indonesia sendiri drs disetarakan dengan s1. Demikian pula dengan gelar ir. atau "ingenieur" yang walupun lebih ke teknik prinsipnya sama sebagai sebuah gelar dengan drs.

sebenarnya kita rugi ketika pada tahun 1996 kalau ga salah, lulusan s1 di berikan gelar sarjana .... (st, s.sos, se, sh, dll.) padahal kalau kita masih pake drs dan ir, itu setara dengan lulusan s2 di luar negeri.

Memang di luar, gelar atau graduate itu dihitung dari doktor, tapi bukan berarti drs. atau ir. bukan gelar. malah menurut saya lebih bergengsi dari pada se, st, s.sos dll. Belanda sendiri sekarang sudah tidak mengeluarkan gelar drs dan ir semenjak 2002, tapi tetap diakui sebagai gelar pendidikan yang bisa melamar ke pendidikan s3.

Kalau tujuannya si bapak itu ngritik gelar karena orang Indonesia lebay pake gelar sih saya juga setuju, tapi mengatakan bahwa drs. atau ir. bukan gelar rasanya agak kurang tepat, karena Indonesia sendiri dari dulu tidak konsisten dengan aturan soal gelar.
Memang berbeda negara berbeda kebijakan soal gelar, asal di negaranya sendiri jelas. Perancis bahkan sampai sekarang masih punya gelar DEA (Diplôme d'Études Approfondies) yang diberikan pada fase pertama (1-2 tahun) kuliah jenjang s3 nya.

agan bisa cek sendiri soal gelar di Belanda pra-2002 di link ini http://en.wikipedia.org/wiki/Academi...ee#Netherlands



Wow, jadi bingung neh, ad 2 pndapat yg beda!
Jd yg mna yg bner?!
Nanti klo ane paKe ir d ktawain lg!!:
Tpi klo drs bsa lgsung k s3 bkannya menguntungkan tuh!!:d
Quote:Original Posted By bich123
iya gan berarti itu semua gurunya belum pada tau kalau DRS itu calon Doktor,malu kan kalau kita pake gelar tapi kelakuan kita tidak sepantas dengan gelar itu,terusss andai kita pake gelar drs terus ga ngelanjutin s3 juga sama aja dengan bohong.. DRS kan calon doktor tapi ga ngelanjutin s3 sama aja dengan calon gagal bukan??
kalau yg ir berarti udah pada nyadar itu gan... ada juga gelar dr<--- kalau gelar ini emang saat s1 lulus sudah diperkenankan di cantum didepan namanya,kalau drs univ yg meluluskan pun tidak mengharuskan memakai gelar drsnya ...



tapi mungkin saja guru tsb lulusan tahun sebelum 1993

setelah ngubek ngubek wikipedia

Quote:Sebelum tahun 1993, gelar sarjana yang ada di Indonesia antara lain Doktorandus (Drs.), Doktoranda (Dra.), dan Insinyur (Ir.) (wikipedia)
Quote:
Namun di Indonesia gelar doktorandus ini mengalami degradasi dan sampai tahun 1990 gelar ini diberikan bagi lulusan program S-1 dalam Ilmu Sosial. Untuk wanita dibuat pembedaan dengan pemberian gelar Dra., sementara di Belanda pembedaan ini tidak dibuat lagi


berarti bukan berarti gelar drs ama Ir. itu tanpa gelar, karena memang jaman itu belum ada ketetapan baku mengenai pemberian gelar. baru tahun 1993 dengan Kep 036/U/1993 udah ada sistem pemberian gelar dan sebutan lulusan perguruan tinggi

nah kalo jaman sekarang, lulus kuliah diberikan gelar drs ama ir. itu baru salah kayaknya

kalo saya ada salah, mohon koreksinya
Gak salah gan/sis,

artikel yang di kutip TS itu bertahun 1992. Makasih info nya ttg standarisasi gelar.
duduk disamping dulu menyimak
belum paham soal gelar ini ..


yang ane tangkep menjadi sebuah kesimpulan sementara disini itu :
DRS.DRA. dan IR itu masih bawaan dari belanda, namun mengalami perubahan dari waktu ke waktu tertentu .

bagaimana tentang tanggung jawabnya ?
masih ada orang melihat itu gelar .. tapi act. kadang masih kurang "sreg" dengan yang seharusnya .

koreksi kalo ada yang salah dan maap kalo ada yang tersinggung
Quote:Original Posted By wowoxarc
Gak salah gan/sis,

artikel yang di kutip TS itu bertahun 1992. Makasih info nya ttg standarisasi gelar.


oh iya saya gak liat soal itu

Quote:Original Posted By kunchan
duduk disamping dulu menyimak
belum paham soal gelar ini ..

yang ane tangkep menjadi sebuah kesimpulan sementara disini itu :
DRS.DRA. dan IR itu masih bawaan dari belanda, namun mengalami perubahan dari waktu ke waktu tertentu .

bagaimana tentang tanggung jawabnya ?
masih ada orang melihat itu gelar .. tapi act. kadang masih kurang "sreg" dengan yang seharusnya .

koreksi kalo ada yang salah dan maap kalo ada yang tersinggung


Orang Bergelar belum tentu professional, namun orang professional pasti dapat gelar professional. Dan gelar itu bisa dibeli

gelar akademis di Indonesia itu kayaknya embel embel buat nyari pekerjaan (salah satunya) dan juga gengsi
mungkin kalo dia punya gelar gajinya lebih besar

atau mungkin pas pilkda / pemilu, banyak tuh yang beli gelar
semakin keren gelarnya maka terlihat semakin terpelajar
semakin terpelajar maka semakin banyak yang milih

mendingan gelar kasur aja deh
Quote:Original Posted By celso.petso

Orang Bergelar belum tentu professional, namun orang professional pasti dapat gelar professional. Dan gelar itu bisa dibeli

gelar akademis di Indonesia itu kayaknya embel embel buat nyari pekerjaan (salah satunya) dan juga gengsi
mungkin kalo dia punya gelar gajinya lebih besar

atau mungkin pas pilkda / pemilu, banyak tuh yang beli gelar
semakin keren gelarnya maka terlihat semakin terpelajar
semakin terpelajar maka semakin banyak yang milih

mendingan gelar kasur aja deh


wah jawabnya sepuh BP banget
@Bold : itu jawaban yang sedikitnya menggambarkan sebuah realita di negeri kita
Quote:Original Posted By wowoxarc
Bukan mau sok tau gan, maaf tapi sedikit koreksi. Karena kita ikut pola pendidikan Belanda makanya kita pakai gelar, drs dan ir. Belanda sendiri setahu saya sudah merubah atau meniadakan gelar ini baru pada tahun 2002 karena ada Bologna Process ( http://en.wikipedia.org/wiki/Bologna_process ). Belanda harus mengadopsi sistem transfer kredit Eropa (ECTS).

drs. atau doktorandus yang terjemahan bebasnya calon doktor adalah gelar setara s2 kalau sekarang. Kalau mereka yang punya gelar drs bisa langsung masuk s3 kalu kuliah di Belanda, jadi ga perlu ambil s2 lagi. Padahal di Indonesia sendiri drs disetarakan dengan s1. Demikian pula dengan gelar ir. atau "ingenieur" yang walupun lebih ke teknik prinsipnya sama sebagai sebuah gelar dengan drs.

sebenarnya kita rugi ketika pada tahun 1996 kalau ga salah, lulusan s1 di berikan gelar sarjana .... (st, s.sos, se, sh, dll.) padahal kalau kita masih pake drs dan ir, itu setara dengan lulusan s2 di luar negeri.



Dalam hal ini yang dipermasalahkan itu sebenarnya bukan gelarnya tetapi pekerjaan kita yang tidak sesuai dengan gelar yang kita pakai.. contoh: gelar kita drs/dra kalau kerjanya santai-santai kan percuma saja bukan ... Tetapi lebih baik bekerja secara profesional daripada mementingkan gelar
Gan,mau nanya.. Brarti kurang lebih Drs. itu mirip sama kondisi mahasiswa FK yang baru dapet gelar S.Ked nya dong ya? Kan klo di FK, sbelom ikut coass blom jadi dokter tuh.. Blom pake dr. di depannya..
Quote:Original Posted By Koncil
Gan,mau nanya.. Brarti kurang lebih Drs. itu mirip sama kondisi mahasiswa FK yang baru dapet gelar S.Ked nya dong ya? Kan klo di FK, sbelom ikut coass blom jadi dokter tuh.. Blom pake dr. di depannya..


Kalau menurut saya itu beda drs. dgn dr.. kalau drs itu pasca sarjana disebutnya calon DOKTOR tapi kalau dr itu emg gelar yang diberikan oleh universitas tersebut sebagai tnda tamat belajar di FK tersebut ...
Quote:Original Posted By wowoxarc
Gak salah gan/sis,

artikel yang di kutip TS itu bertahun 1992. Makasih info nya ttg standarisasi gelar.


pantesan
hampir aja ane mau marah2
bapak ane kan insinyur soalnya

well, intinya sebenernya tanggung jawab akademik
jangankan yang gelar insinyur, yang gelar sarjana, Ahli madya, sampai ke gelar doktor pun punya tanggung jawab terhadap ilmu yang mereka peroleh
percuma aja kalau gelar doktor sekalipun kalau tidak bermanfaat bagi masyarakat sekitar
Quote:Original Posted By kholee
pantesan
hampir aja ane mau marah2
bapak ane kan insinyur soalnya

well, intinya sebenernya tanggung jawab akademik
jangankan yang gelar insinyur, yang gelar sarjana, Ahli madya, sampai ke gelar doktor pun punya tanggung jawab terhadap ilmu yang mereka peroleh
percuma aja kalau gelar doktor sekalipun kalau tidak bermanfaat bagi masyarakat sekitar


Setuju gan
Guru2 sekolah ane banyak banget yg pake gelar Drs. + Dra. gan