KASKUS

Ganesha kavacham

apakah itu kavacha?

Quote:Magical armours -- Kavachas

Residing in this city-like body, the Prana (vital breath) is its guardian. This Prana measures ten fingers in inhalation and twelve fingers in exhalation - Shivasvarodaya, 221

Each of the tantrik deities has her or his own kavacha or armour, which protects devotees from the many dangers which may afflict a human being. These could either be recited in a ritual context, or written down on birch bark or other substances and worn on the body to give protection.

Code:
http://www.shivashakti.com/kavacha.htm


Quote:Kavacham Mantras For Protection

The fear of the known rather than the unknown is often brushed aside by most of us in our daily lives. Our mind tends to create its own mech of insecurities and we strive to overpower the obstacles strewn across our path to achivement. Kavach, a special genre of remedial mantras belived to create a shield of protection against danger, is an answer for all our quests of supremacy that we seek over hostile and adverse cicumstances.

Code:
http://www.mantraonnet.com/shopping-kavacham.html


Quote:A Practical Way of Requesting the Lord's Protection - The Kavacha Mantra Armor Hymns
This protection is made available through surrender to the Lord via the kavacham or armour hymns, for example, the armour hymn of Lord Sarabesvara Siva, the great protector, motivator and well wisher.

Kavacha or Kavacham = Armour. It implies protection. The Kavacha mantras are Armour Mantras or Protection Mantras that explicitly request the Lord to protect us.

While the very meaning of the word mantra is to protect, the Kavacha Mantras make it that much more explicit.

The efficacy of the armour hymns depend on the devotee's faith. They work best for those who have surrendered to the Lord. He or she who surrenders every part of his or her body to the Lord and seeks His protection will surely get it. This is why we have provided the meanings for the Ganesh armour hymn below so you can see how the Lord's protection is explicitly invoked in each line of the hymn.

It should become clear that the Lord's protection becomes available when every part of the body is surrendered to the Lord's care and all activities are done for Him, by Him and through Him.

Code:
http://www.agasthiar.org/AUMzine/0013-ganesh.htm


jadi kesimpulan sederhananya kavacha adalah doa perlindungan yang bersumber dari ajaran hindu terutama di india.

siapakah dewa ganesha



Ganesa (Sanskerta गणेश ; ganeṣa)dalah salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu, yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan, Dewa pelindung, Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan. Lukisan dan patungnya banyak ditemukan di berbagai penjuru India; termasuk Nepal, Tibet dan Asia Tenggara. Dalam relief, patung dan lukisan, ia sering digambarkan berkepala gajah, berlengan empat dan berbadan gemuk. Ia dikenal pula dengan nama Ganapati, Winayaka dan Pilleyar. Dalam tradisi pewayangan, ia disebut Bhatara Gana, dan dianggap merupakan salah satu putera Bhatara Guru (Siwa). Berbagai sekte dalam agama Hindu memujanya tanpa memedulikan golongan. Pemujaan terhadap Ganesa amat luas hingga menjalar ke umat Jaina, Buddha, dan di luar India.[1]

Meskipun ia dikenal memiliki banyak atribut, kepalanya yang berbentuk gajah membuatnya mudah untuk dikenali. Ganesa mahsyur sebagai "Pengusir segala rintangan" dan lebih umum dikenal sebagai "Dewa saat memulai pekerjaan" dan "Dewa segala rintangan" (Wignesa, Wigneswara), "Pelindung seni dan ilmu pengetahuan", dan "Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan". Ia dihormati saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung/pemantau tulisan saat keperluan menulis dalam upacara.[2] Beberapa kitab mengandung anekdot mistis yang dihubungkan dengan kelahirannya dan menjelaskan ciri-cirinya yang tertentu.

Ganesa muncul sebagai dewa tertentu dengan wujud yang khas pada abad ke-4 sampai abad ke-5 Masehi, selama periode Gupta, meskipun ia mewarisi sifat-sifat pelopornya pada zaman Weda dan pra-Weda.[3] Ketenarannya naik dengan cepat, dan ia dimasukkan di antara lima dewa utama dalam ajaran Smarta (sebuah denominasi Hindu) pada abad ke-9. Sekte para pemujanya yang disebut Ganapatya, (Sanskerta: गाणपत्य; gāṇapatya), yang menganggap Ganesa sebagai dewa yang utama, muncul selama periode itu.[4] Kitab utama yang didedikasikan untuk Ganesa adalah Ganesapurana, Mudgalapurana, dan Ganapati Atharwashirsa.

Etimologi dan nama lain



Ganesa memiliki banyak gelar dan nama pujian, termasuk Ganapati dan Wigneswara. Gelar dalam agama Hindu yang dipakai sebagai penghormatan, yaitu Sri (Sanskerta: श्री; śrī, juga dieja Shri atau Shree) seringkali ditambahkan di depan namanya. Salah satu cara yang terkenal dalam memuja Ganesa adalah dengan menyanyikan Ganesa Sahasranama, sebuah doa pengucapan "seribu nama Ganesa". Setiap nama dalam sahasranama mengandung arti berbeda-beda dan melambangkan berbagai aspek dari Ganesa. Sekurang-kurangnya ada dua versi Ganesa Sahasranama; salah satu versi diambil dari Ganeshapurana, yaitu sastra Hindu untuk menghormati Ganesa.

Nama Ganesa adalah sebuah kata majemuk dalam bahasa Sanskerta, terdiri dari kata gana (Sanskerta: गण; gaṇa), berarti kelompok, orang banyak, atau sistem pengelompokan, dan isha (Sanskerta: ईश; īśa), berarti penguasa atau pemimpin.[5] Kata gana ketika dihubungkan dengan Ganesa seringkali merujuk kepada para gana, pasukan makhluk setengah dewa yang menjadi pengikut Siwa.[6] Istilah itu secara lebih umum berarti golongan, kelas, komunitas, persekutuan, atau perserikatan.[7] Ganapati (Sanskerta: गणपति ; gaṇapati), nama lain Ganesa, adalah kata majemuk yang terdiri dari kata gana, yang berarti "kelompok", dan pati, berarti "pengatur" atau "pemimpin".[7] Kitab Amarakosha, yaitu kamus bahasa Sanskerta, memiliki daftar delapan nama lain Ganesa: Winayaka, Wignaraja (sama dengan Wignesa), Dwaimatura (yang memiliki dua ibu), Ganadipa (sama dengan Ganapati dan Ganesa), Ekadanta (yang memiliki satu gading), Heramba, Lambodara (yang memiliki perut bak periuk, atau, secara harfiah, yang perutnya bergelayutan), dan Gajanana (yang bermuka gajah).[8]

Winayaka (Sanskerta: विनायक ; vināyaka) adalah nama umum bagi Ganesa yang muncul dalam kitab-kitab Purana Hindu dan Tantra agama Buddha.[9] Nama ini mencerminkan sebutan terhadap delapan kuil Ganesa yang terkenal di Maharashtra yang mahsyur sebagai astawinayaka. Nama Wignesa (Sanskerta: विघ्नेश; vighneśa) dan Wigneswara (Sanskerta: विघ्नेश्वर; vighneśvara) (Penguasa segala rintangan) merujuk kepada tugas utamanya dalam mitologi Hindu sebagai pencipta sekaligus penyingkir segala rintangan (vighna).

Nama yang mahsyur bagi Ganesa dalam bahasa Tamil adalah Pille atau Pilleyar ("anak kecil"). A. K. Narain membedakan arti istilah-istilah tersebut dengan mengatakan bahwa pille berarti seorang "anak" sementara pilleyar berarti seorang "anak yang mulia". Dia menambahkan bahwa kata pallu, pella, dan pell dalam bahasa-bahasa rumpun Dravida berarti "gigi atau gading gajah", namun lebih lazim diartikan "gajah".[10] Seorang penulis buku yang bernama Anita Raina Thapan menambahkan bahwa akar kata pille pada nama Pillaiyar mungkin aslinya berarti "gajah muda", karena kata pillaka dalam bahasa Pali berarti "gajah muda".[11]

Penggambaran



Ganesa adalah figur yang terkenal dalam kesenian India. Citra tentang Ganesa menjamur di berbagai penjuru India sekitar abad ke-6.[12] Tidak seperti dewa-dewi lainnya, penggambaran sosok Ganesa memiliki berbagai variasi yang luas dan pola-pola berbeda yang berubah dari waktu ke waktu. Dia kadangkala digambarkan berdiri, menari, beraksi dengan gagah berani melawan para iblis, bermain bersama keluarganya sebagai anak lelaki, duduk di bawah, atau bersikap manis dalam suatu keadaan.

Biasanya Ganesa digambarkan berkepala gajah dengan perut buncit. Patungnya memiliki empat lengan, yang merupakan penggambaran utama tentang Ganesa. Dia membawa patahan gadingnya dengan tangan kanan bawah dan membawa kudapan manis, yang ia comot dengan belalainya, pada tangan kiri bawah. Motif Ganesa yang belalainya melengkung tajam ke kiri untuk mencicipi manisan pada tangan kiri bawahnya adalah ciri-ciri yang utama dari zaman dulu. Patung yang lebih primitif di Gua Ellora dengan ciri-ciri umum tersebut, ditaksir berasal dari abad ke-7.[13] Dalam perwujudan yang biasa, Ganesa digambarkan memegang sebuah kapak atau angkus pada tangan sebelah atas dan sebuah jerat pada tangan atas lainnya.

Pengaruh unsur-unsur kuno dalam susunan penggambaran tersebut masih bisa diamati dalam penggambaran Ganesa secara kontemporer. Dalam sebuah penggambaran modern, satu-satunya variasi terhadap unsur-unsur kuno adalah tangan kanan bawah Ganesa tidak memegang patahan gading namun seolah-olah terarah ke mata pengamat dengan gerak tangan yang melambangkan perlindungan atau penyingkir ketakutan (abhaya mudra).[14] Kombinasi yang sama terhadap empat lengan dan atribut, muncul pada patung Ganesa yang sedang menari, yang merupakan tema terkenal.

Code:
http://id.wikipedia.org/wiki/Ganesa
Atribut umum



Ganesa digambarkan berkepala gajah semenjak awal kemunculannya dalam kesenian India.[15] Mitologi dalam Purana memberi beberapa penjelasan mengenai kejadian yang menyebabkannya berkepala gajah. Salah satu perwujudannya yang terkenal, yakni Heramba-Ganapati, memiliki lima kepala gajah, dan variasi kecil lainnya pada jumlah kepala diketahui. Sementara beberapa kitab mengatakan bahwa Ganesa terlahir dengan kepala gajah, pada cerita yang terkenal dikatakan bahwa ia memperoleh kepala gajah di kemudian hari. Motif utama yang terulang dalam cerita-cerita tersebut adalah bahwa Ganesa lahir dengan tubuh dan kepala manusia, kemudian Siwa memenggalnya ketika Ganesa mencampuri urusan antara Siwa dan Parwati. Kemudian Siwa mengganti kepala asli Ganesa dengan kepala gajah. Detail kisah pertempuran dan penggantian kepala, memiliki beragam versi menurut sumber yang berbeda-beda. Dalam kitab Brahmawaiwartapurana terdapat kisah yang cukup menarik. Saat Ganesa lahir, ibunya, Parwati, menunjukkan bayinya yang baru lahir ke hadapan para dewa. Tiba-tiba, Dewa Sani (Saturnus), yang konon memiliki mata terkutuk, memandang kepala Ganesa sehingga kepala si bayi terbakar menjadi abu. Dewa Wisnu datang menyelamatkan dan mengganti kepala yang lenyap dengan kepala gajah. Kisah lain dalam kitab Warahapurana mengatakan bahwa Ganesa tercipta secara langsung oleh tawa Siwa. Karena Siwa merasa Ganesa terlalu memikat perhatian, ia memberinya kepala gajah dan perut buncit.


Nama Ganesa pada mulanya adalah Ekadanta (satu gading), merujuk kepada gadingnya yang utuh hanya berjumlah satu, sedangkan yang lainnya patah. Beberapa citra menunjukkan ia sedang membawa patahan gadingnya. Hal penting di balik penampilan khusus ini dikandung dalam kitab Mudgalapurana, yang mengatakan bahwa nama penjelmaan Ganesa yang kedua adalah Ekadanta. Perut buncit Ganesa muncul sebagai ciri-ciri khusus pada kesenian patung sejak zaman dulu, yang ditaksir sejak periode Gupta (sekitar abad IV-VI).[16] Penampilan ini amat penting, karena menurut Mudgalapurana, dua penjelmaan Ganesa yang berbeda memakai nama yang diambil dari Lambodara (perut buncit, atau, secara harfiah, perut bergelantungan) dan Mahodara (perut besar).[17] Kedua nama tersebut merupakan kata majemuk dalam bahasa Sanskerta yang melukiskan bagaimana keadaan perutnya. Kitab Brahmandapurana mengatakan bahwa Ganesa bernama Lambodara karena segala semesta (yaitu "telur alam semesta"; IAST: brahmāṇḍa) di masa lalu, sekarang, dan yang akan datang ada di dalam tubuhnya. Jumlah lengan Ganesa bervariasi; wujudnya yang terkenal memiliki sekitar dua sampai enam belas lengan.[18] Banyak penggambaran tentang Ganesa yang menampilkan ia bertangan empat, yang telah disebut dalam Purana dan ditetapkan sebagai wujud standar dalam beberapa kitab tentang ikonografi. Wujudnya pada masa awal memiliki dua lengan.[19] Wujud dengan 14 dan 20 lengan muncul di India Tengah selama abad ke-9 dan abad ke-10.[20] Ular adalah tampilan yang umum dalam penggambaran tentang Ganesa dan muncul dalam beragam bentuk.[21] Menurut Ganesapurana, Ganesa melilitkan ular Basuki di lehernya. Penggambaran lain tentang ular meliputi kegunaannya sebagai benang suci (IAST: yajñyopavīta) yang dililitkan melingkari perut sebagai sabuk, dipegang di tangan, dililitkan di pergelangan kaki, atau dipakai sebagai mahkota. Pada dahi Ganesa kemungkinan ada mata ketiga atau simbol sekte Siwa (Sanskerta: tilaka), yang berupa tiga garis mendatar. Ganeshapurana mengatakan bahwa tanda tilaka sama saja dengan bulan sabit pada dahi kepala. Wujud tertentu dari Ganesa yang disebut Bhalachandra (IAST: bhālacandra; "Bulan di dahi") memasukkan unsur penggambaran tersebut. Namun warna lain yang spesifik dihubungkan dengan wujud tertentu.[22] Beberapa contoh mengenai hubungan warna dengan gerakan meditasi tertentu dinyatakan dalam Sritattvanidhi, sebuah buku tentang ikonografi dalam Hinduisme. Sebagai contoh, putih dihubungkan dengan wujud Ganesa sebagai Heramba-Ganapati dan Rina-Mochana-Ganapati (Ganapati yang membebaskan dari belenggu). Ekadanta-Ganapati digambarkan berwarna biru selama bermeditasi dalam wujud itu.

Wahana



Citra Ganesa pada mulanya tidak disertai dengan wahana (tunggangan).[23] Pada delapan penjelmaan Ganesa yang dinyatakan dalam Mudgalapurana, Ganesa lima kali menggunakan tikus dalam lima penjelmaannya, menggunakan singa saat menjelma sebagai Wakratunda, seekor merak saat menjelma sebagai Wikata, dan menggunakan Sesa, naga ilahi, dalam penjelmaannya sebagai Wignaraja. Pada empat penjelmaan Ganesa yang terdaftar dalam Ganesapurana, Mohotkata menunggangi singa, Mayureswara menunggangi merak, Dumraketu menunggangi kuda, dan Gajanana menunggangi tikus. Dalam pandangan agama Jaina terhadap Ganesa, wahananya ada bermacam-macam, seperti misalnya tikus, gajah, penyu, domba, atau merak.[24]

Ganesa seringkali digambarkan menunggangi atau diantar oleh seekor tikus. Martin-Dubost mengatakan bahwa tikus muncul sebagai wahana yang utama dalam sastra tentang Ganesa, di wilayah India Tengah dan Barat selama abad ke-7; tikus juga selalu ditempatkan dekat dengan kakinya. Tikus sebagai wahana muncul pertama kali dalam kitab Matsyapurana dan kemudian dalam Brahmandapurana dan Ganesapurana, dimana Ganesa menggunakannya sebagai kendaraan hanya pada inkarnasi terakhirnya. Ganapati Atharwashirsa mengandung sloka tentang Ganesa yang menyatakan bahwa gambar tikus terdapat dalam benderanya. Nama Musakawahana (berwahana tikus) dan Akuketana (berbendera tikus) muncul dalam Ganesa Sahasranama.

Tikus ditafsirkan dalam berbagai pengertian. Seorang penulis buku tentang Ganesa bernama John A. Grimes telah menafsirkan makna tikus sebagai atribut Ganesa. Michael Wilcockson mengatakan bahwa tikus melambangkan orang-orang yang ingin mengatasi keinginan dan mengurangi sifat egois.[25] Yuvraj Krishan, seorang penulis buku Ganesa, mengatakan bahwa tikus itu bersifat merusak dan mengancam pertanian. Kata Sanskerta mūṣaka (tikus) diambil dari akar kata mūṣ (mencuri, merampok). Merupakan hal yang penting untuk menaklukkan tikus sebagai hama penghancur, sejenis wighna (rintangan) yang perlu untuk diatasi. Jadi menurut teori tersebut, Ganesa sebagai penguasa tikus menunjukkan fungsinya sebagai Wigneswara (dewa segala rintangan) dan memberi bukti terhadap perannya sebagai grāmata-devatā (dewa pedesaan) bagi rakyat yang kemudian meningkat kemuliaannya.[26] Paul Martin-Dubost yang juga pernah menulis buku tentang Ganesa memberi sebuah pandangan bahwa tikus adalah simbol yang memberi sugesti bahwa Ganesa, seperti halnya tikus, mampu menembus bahkan memasuki tempat-tempat rahasia.[27]

Rintangan

Ganesa adalah Wigneswara atau Wignaraja, dewa segala rintangan, baik yang bersifat material maupun spiritual. Ia mahsyur dipuja sebagai penyingkir segala rintangan, meski ia juga memasang rintangan pada umatnya yang perlu diberi cobaan. Paul Courtright mengatakan, "pekerjaannya adalah menempatkan dan menyingkirkan rintangan. Itu merupakan kekuasaannya yang utama..."[28]

Yuvraj Krishan menyatakan bahwa beberapa nama Ganesa mencerminkan perannya yang berkembang dari waktu ke waktu.[29] M. K. Dhavalikar beranggapan bahwa karena cepatnya ketenaran Ganesa di antara dewi-dewi Hindu, dan kemunculan para Ganapatya, sehingga ada perubahan tekanan suara dari wignakartā (pencipta rintangan) menjadi wignahartā (penyingkir rintangan).[30] Bagaimana pun, dua fungsi tersebut menjadi amat penting dalam karakter Ganesa, seperti yang dijelaskan Robert Brown, "bahkan setelah Ganesa dalam Purana digambarkan dengan baik, Ganesa meninggalkan banyak hal-hal penting untuk peran gandanya sebagai pencipta dan penyingkir rintangan, sehingga memiliki aspek negatif maupun positif.".[31]

Buddhi

Ganesa dianggap sebagai Dewa Aksara dan Pelajaran. Dalam bahasa Sanskerta, kata buddhi adalah kata benda feminin yang banyak diterjemahkan menjadi kecerdasan, kebijaksanaan, atau akal.[32] Konsep buddhi erat dikaitkan dengan kepribadian Ganesa, khususnya pada zaman Purana, ketika banyak kisah menonjolkan kepintarannya dan cinta terhadap kecerdasan. Salah satu nama Ganesa dalam Ganeshapurana dan Ganesa Sahasranama adalah Buddhipriya. Nama ini juga muncul dalam daftar 21 nama di akhir Ganesa Sahasranama yang menurut Ganesa amat penting. Kata priya bisa berarti "yang tercinta", dan dalam konteks suami-istri bisa berarti "kekasih" atau "suami",[33] maka nama Buddhipriya bisa saja berarti "Yang dicintai oleh kecerdasan" atau "Suami Buddhi".[34]

Aum

Ganesa diidentikkan dengan mantra Aum dalam agama Hindu (Simbol: ॐ, juga dieja 'Om'. Istilah oṃ(ng)kāraswarūpa (Aum adalah wujudnya), ketika diidentikkan dengan Ganesa, merujuk pada sebuah pemahaman bahwa ia menjelma sebagai bunyi yang utama.[35] Kitab Ganapati Atharwashirsa memberi penjelasan mengenai hubungan ini. Swami Chinmayananda menerjemahkan pernyataan yang relevan berikut ini:

(O Hyang Ganapati!) Engkaulah (Tritunggal) Brahma, Wisnu, dan Mahesa. Engkaulah Indra. Engakulah api (Agni) dan udara (Bayu). Engkaulah matahari (Surya) dan bulan (Candrama). Engkaulah Brahman. Engkaulah (tiga dunia) Bhuloka [bumi], Antariksa-loka [luar angkasa], dan Swargaloka [sorga]. Engkaulah Om. (Itu sebagai tanda, bahwa Engkaulah segala hal tersebut).[36]

Beberapa pemuja melihat kesamaan antara lekukan tubuh Ganesa dalam penggambaran umum dengan bentuk simbol Aum dalam aksara Dewanagari dan Tamil.[37]



Code:
http://id.wikipedia.org/wiki/Ganesa
Cakra pertama


Menurut Kundalini yoga, Ganesa menempati cakra pertama, yang disebut muladhara. Mula berarti "asal, utama"; adhara berarti "dasar, pondasi". Cakra muladhara adalah hal penting yang merupakan manifestasi atau pelebaran pokok-pokok kekuatan ilahi yang terpendam.[38] Hubungan Gansea dengan hal ini juga diterangkan dalam Ganapati Atharwashirsa. Courtright menerjemahkan pernyataan sebagai berikut: "[O Ganesa,] Engkau senantiasa menempati urat sakral di pondasi tulang punggung [mūlādhāra cakra]."[39] Maka dari itu, Ganesa memiliki kediaman tetap dalam setiap makhluk yang terletak pada Muladhara. Ganesa memegang, menopang dan memandu cakra-cakra lainnya, sehingga ia mengatur kekuatan yang mendorong cakra kehidupan.[38]

Kelahiran



Meski Ganesa terkenal sebagai putera dari Siwa dan Parwati, mitos-mitos dalam Purana memiliki ketidakpastian mengenai kelahirannya. Dia bisa saja diciptakan oleh Siwa, atau oleh Parwati, atau oleh Siwa dan Parwati, atau muncul secara misterius dan ditemukan oleh Siwa dan Parwati. Terdapat berbagai versi mengenai kelahiran Ganesa, namun kisah yang paling terkenal berasal dari kitab Siwapurana.

Dalam kitab Siwapurana dikisahkan, suatu ketika Parwati (istri Dewa Siwa) ingin mandi. Karena tidak ingin diganggu, ia menciptakan seorang anak laki-laki. Ia berpesan agar anak tersebut tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya selagi Dewi Parwati mandi dan hanya boleh melaksanakan perintah Dewi Parwati saja. Perintah itu dilaksanakan sang anak dengan baik.

Alkisah ketika Dewa Siwa hendak masuk ke rumahnya, ia tidak dapat masuk karena dihadang oleh anak kecil yang menjaga rumahnya. Bocah tersebut melarangnya karena ia ingin melaksanakan perintah Parwati dengan baik. Siwa menjelaskan bahwa ia suami Parwati dan rumah yang dijaga si bocah adalah rumahnya juga. Namun sang bocah tidak mau mendengarkan perintah Siwa, sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun. Akhirnya Siwa kehabisan kesabarannya dan bertarung dengan anaknya sendiri. Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala si bocah. Ketika Parwati selesai mandi, ia mendapati puteranya sudah tak bernyawa. Ia marah kepada suaminya dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali. Siwa sadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya.

Atas saran Brahma, Siwa mengutus abdinya, yaitu para gana, untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. Ketika turun ke dunia, gana mendapati seekor gajah sedang menghadap utara. Kepala gajah itu pun dipenggal untuk mengganti kepala Ganesa. Akhirnya Ganesa dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa dan sejak itu diberi gelar Dewa Keselamatan.

Keluarga dan istri


Dalam keluarga Ganesa ada saudaranya yang bernama Skanda, yang juga disebut Kartikeya, Murugan, dan lain-lain. Perbedaan wilayah memberikan versi berbeda tentang jenjang kelahiran mereka. Di India Utara, Skanda biasanya dianggap yang lebih tua, sementara di India Selatan, Ganesa dianggap yang lebih dahulu lahir. Skanda merupakan dewa perang yang mahsyur sekitar tahun 500 SM sampai 600 M, ketika pemujaan terhadapnya berkurang secara signifikan di India Utara. Seiring dengan memudarnya Skanda, Ganesa mulai berkembang. Beberapa kisah menceritakan persaingan antara kedua bersaudara tersebut dan bisa saja mencerminkan ketegangan yang terjadi antar sekte (pemuja Ganesa dan pemuja Skanda).[40]

Status orangtua Ganesa, subjek pembicaraan yang luas bagi para sarjana, memiliki beragam versi dalam cerita-cerita mitos. Salah satu pola dalam mitos mengidentifikasi Ganesa sebagai seorang brahmacarya yang tak menikah.[41] Pandangan ini biasa terdapat di India Selatan dan di beberapa wilayah India Utara. Dalam contoh lain, ia diasosiasikan dengan konsep Buddhi (kecerdasan), Siddhi (kekuatan spiritual), dan Riddhi (kemakmuran); tiga kualitas ini kadangkala dipersonifikasikan sebagai para dewi, yang konon menjadi para istri Ganesa. Dia bisa juga digambarkan dengan satu pasangan saja atau seorang pelayan tanpa nama (Sanskerta: daşi). Dalam contoh lain, ia diasosiasikan dengan dewi kebudayaan dan kesenian, yaitu Saraswati atau Śarda (umumnya di Maharashtra).[42] Dia juga disangkutpautkan dengan dewi keberuntungan dan kemakmuran, Laksmi.[43] Contoh lainnya, terutama yang menonjol di wilayah Benggala, menghubungkan Ganesa dengan pohon pisang, Kala Bo.[44]

Kitab Siwapurana mengatakan bahwa Ganesa memiliki dua putera: Ksema (kemakmuran) dan Laba (keuntungan). Menurut kisah versi India Utara, puteranya seringkali disebut Suba (keselamatan) dan Laba. Film berbahasa Hindi tahun 1975 berjudul Jai Santoshi Maa menampilkan Ganesa yang menikahi Riddhi dan Siddhi lalu memiliki puteri bernama Santoshi Ma, dewi kepuasan. Kisah ini tidak memiliki dasar dari kitab Purana.[45]

Code:
http://id.wikipedia.org/wiki/Ganesa
Pemujaan dan festival



Ganesa banyak dipuja saat acara kerohanian maupun kegiatan sehari-hari; khususnya saat mulai berniaga seperti misalnya membeli kendaraan atau memulai bisnis. K.N. Somayaji berkata, "jarang ada rumah (Hindu di India) yang tidak memiliki arca Ganapati. [..] Ganapati, sebagai dewa yang termahsyur di India, dipuja oleh hampir seluruh kasta dan di seluruh penjuru negara".[46] Pemujanya percaya bila Ganesa dibuat senang, ia akan memberi kesuksesan, kemakmuran dan perlindungan terhadap bencana.

Ganesa bukan dewa bagi sekte tertentu, dan umat Hindu dari seluruh denominasi memanggil namanya saat memulai persembahyangan, memulai usaha yang penting, dan upacara keagamaan. Penari dan musisi, khususnya di India Selatan, memulai pertunjukkan seni seperti misalnya tari Bharatnatyam dengan terlebih dahulu memuja Ganesa. Mantra-mantra seperti misalnya Om Shri Gaṇeshāya Namah (Om, hormat pada Hyang Ganesa yang mahsyur-mulia) seringkali dipakai. Salah satu mantra paling terkenal yang diasosiasikan dengan Ganesa adalah Om Gaṃ Ganapataye Namah.

Pemujanya memberi persembahan berupa manisan seperti misalnya modaka dan bola-bola kecil manis (laddu). Dia seringkali digambarkan memegang semangkuk manisan, yang disebut modakapātra. Karena ia diidentifikasikan dengan warna merah, ia seringkali dipuja dengan pasta cendana merah (raktacandana) atau bunga merah. Rumput Dūrvā (Cynodon dactylon) dan benda lainnya sering dipakai dalam memujanya.

Festival yang dikaitkan dengan Ganesa adalah Winayaka caturti (Ganesa Caturti) pada śuklapakṣa (hari keempat bulan purnama) di bulan bhadrapada (Agustus/September) dan Ganesa jayanti (ulang tahun Ganesa) dirayakan pada cathurthī dalam kṛṣṇapakṣa (hari keempat bulan mati) di bulan magha (Januari/Februari).

Ganesa Caturti


Festival tahunan untuk memuja Ganesa yang berlangsung selama sepuluh hari, dimulai pada Ganesa Caturti, yang jatuh pada akhir bulan Agustus atau awal September. Festival memuncak pada hari Ananta Caturdasi, ketika arca (murti) Ganesa dicelupkan ke dalam air. Pada tahun 1893, Lokmanya Tilak mengubah festival tahunan ini dari perayaan keluarga secara pribadi menjadi acara bagi masyarakat luas.[47] Ia melakukannya untuk mengatasi kesenjangan antara golongan Brahmana dan non-Brahmana dan menemukan konteks tak lazim yang dimaksud untuk membangun akar persatuan di antara mereka, dalam cita-cita nasional menentang penjajahan Inggris di Maharashtra.[48] Karena Ganesa dipuja secara luas sebagai "dewa bagi semua orang", Tilak memilihnya sebagai tempat menampung protes rakyat India terhadap pemerintahan Inggris.[49] Tilak adalah orang pertama yang memasang citra Ganesa yang besar bagi masyarakat umum di sebuah paviliun, dan menetapkan tradisi untuk mencelupkan semua citra Ganesa pada hari kesepuluh.[50] Di masa kini, umat Hindu di penjuru India merayakan festival Ganapati dengan semangat menyala, meskipun hal itu paling populer di negara bagian Maharashtra. Festival itu juga mendapat proporsi yang besar di Mumbai dan di sekitar kuil-kuil Astawinayaka.

Kuil



Dalam tempat suci Hindu, Ganesa dapat diuraikan beraneka macam: sebagai dewa bawahan (parswadewata); sebagai dewa yang erat dengan dewa utama (pariwaradewata); atau sebagai dewa utama di sebuah kuil (pradhana), dijamu bagaikan dewa tertinggi di antara dewa-dewi Hindu.[51] Sebagai dewa keluar-masuk, dia banyak ditempatkan di pintu gerbang kuil Hindu untuk menghalau hal-hal buruk, yang sama dengan perannya sebagai penjaga pintu rumah Parwati. Dan juga, beberapa kuil didedikasikan untuk Ganesa sendiri, misalnya Astawinayaka (Sanskerta: अष्टविनायक; aṣṭavināyaka; "delapan (kuil) Ganesa") di Maharashtra yang paling mahsyur. Terletak di jarak sekitar 100 kilometer dari kota Pune, masing-masing dari delapan kuil ini memuliakan wujud utama Ganapati, lengkap dengan cerita dan legendanya; bersama-sama mereka membentuk sebuah mandala, menandai wilayah suci Ganesa.

Ada banyak kuil Ganesa yang penting di tempat-tempat berikut ini: Wai di Maharashtra; Ujjain di Madhya Pradesh; Jodhpur, Nagaur dan Raipur (Pali) di Rajasthan; Baidyanath di Bihar; Baroda, Dhokala, dan Balsad di Gujarat dan Kuil Dhundiraj di Benares, Uttar Pradesh. Kuil Ganesa yang utama di India Selatan yaitu sebagai berikut: Kuil Jambukeśvara di Tiruchirapalli; di Rameshvaram dan Suchindram di Tamil Nadu; Hampi, Kasargod, dan Idagunji di Karnataka; dan Bhadrachalam di Andhra Pradesh.

T. A. Gopinatha berkata, "Setiap desa, meskipun desa kecil, memiliki citra Wigneswara-nya sendiri dengan atau tanpa kuil untuk menempatkannya. Di jalan masuk menuju desa atau sebuah benteng, di bawah pohon bodhi […], dalam sebuah relung […], di kuil Wisnu maupun Siwa dan juga pada bangunan suci yang khususnya dibangun dalam kuil Siwa […]; figur Wigneswara kelihatan tak berubah-ubah."[52] Kuil Ganesa juga dibangun di luar India, termasuk Asia Tenggara, Nepal, dan di beberapa negara barat.

Di luar India dan agama Hindu



Hubungan dagang dan budaya telah memperluas pengaruh India di Asia Barat dan Tenggara. Ganesa adalah salah satu dari banyaknya dewa-dewi Hindu yang menjamah negeri asing sebagai akibatnya.[80]

Ganesa khususnya disembah oleh para pedagang dan rombongannya, yang pergi ke luar India untuk malakukan hubungan dagang. Periode dari sekitar abad ke-10 sampai seterusnya ditandai oleh perkembangan jaringan-jaringan baru terhadap hal pertukaran, pembentukan serikat dagang, dan bangkitnya sirkulasi keuangan. Selama masa ini, Ganesa menjadi dewa utama yang dikaitkan dengan para pedagang.[81] Tulisan paling awal yang mengandung seruan kepada Ganesa sebelum memanggil dewa-dewi lainnya dikaitkan dengan komunitas rombongan pedagang.[82]

Umat Hindu bermigrasi ke nusantara dan membawa budaya mereka, termasuk Ganesa, bersama mereka. Arca-arca Ganesa ditemukan di sepanjang wilayah Nusantara dalam jumlah yang banyak, seringkali di samping kuil Siwa. Wujud Ganesa didapati dalam kesenian Hindu di Jawa, Bali, dan Kalimantan yang menunjukkan pengaruh regional yang spesifik.[83] Penyebaran budaya Hindu secara perlahan-lahan ke Asia Tenggara telah membuat wujud Ganesa dimodifikasi di Burma, Kamboja, dan Thailand. Di Indochina, agama Hindu dan Buddha dijalankan dengan berdampingan, dan pengaruh timbal balik bisa dilihat dalam penggambaran Ganesa di wilayah itu. Di Thailand, Kamboja dan di Vietnam, Ganesa terutama dianggap sebagai penyingkir segala rintangan. Bahkan kini oleh umat Buddha di Thailand, Ganesa dihormati sebagai penyingkir segala rintangan, atau dewa keberhasilan.[84]



Sebelum kedatangan Islam, Afganistan memiliki ikatan budaya yang erat dengan India, dan pemujaan terhadap dewa-dewi Hindu maupun Buddha sama-sama dijalankan. Beberapa contoh arca dari abad ke-5 sampai abad ke-7 telah bertahan, mencerminkan bahwa pemujaan Ganesa adalah hal yang populer di wilayah itu.[85]

Ganesa muncul dalam agama Buddha Mahayana, tidak hanya dalam wujud dewa Vināyaka dalam agama Buddha, namun juga sebagai wujud raksasa dengan nama yang sama.[86] Citranya muncul dalam arca-arca agama Buddha selama akhir masa kerajaan Gupta. Sebagai dewa Vināyaka dalam agama Buddha, ia seringkali digambarkan sedang menari. Wujud ini, disebut Nṛtta Ganapati, dan termahsyur di wilayah India Utara, kemudian diadopsi di Nepal, lalu di Tibet.[87] Di Nepal, wujud Ganesa secara Hindu, dikenal sebagai Heramba, sangat terkenal; ia memiliki lima kepala dan menunggangi singa. Penggambaran Ganesa di Tibet menunjukkan pandangan yang bertentangan terhadapnya.[88] Ganapati versi Tibet adalah tshogs bdag.[89] Dalam versi Tibet, Ganesa digambarkan sedang diinjak oleh kaki Mahākāla, yaitu dewa bangsa Tibet yang terkenal. Penggambaran lain menampilkan wujudnya sebagai pemusnah segala rintangan, kadangkala dalam wujud sedang menari. Ganesa muncul di Cina dan Jepang dalam wujud yang menampilkan karakter wilayah yang berbeda. Di Cina Utara, ada patung batu dari zaman awal yang dikenal sebagai Ganesa, disertai tulisan yang berangka tahun 531.[90] Di Jepang, pemujaan terhadap Ganesa pertama kali disebutkan pada tahun 806.[91]

Sastra agama Jaina (Jainisme) tidak menyebutkan adanya pemujaan terhadap Ganesa. Namun, Ganesa dipuja oleh banyak umat Jaina, muncul sebagai pengambil alih fungsi Kubera.[92] Hubungan Jaina dengan komunitas perdagangan mendukung gagasan bahwa Jainisme mengambil tradisi pemujaan Ganesa sebagai akibat dari hubungan perdagangan.[93] Patung Ganesa tertua versi Jaina ditaksir berasal dari abad ke-9.[94] Sebuah kitab Jaina dari abad ke-15 memaparkan prosedur untuk memasang citra Ganapati.[95] Citra Ganesa muncul dalam kuil Jaina di Rajasthan dan Gujarat.[96]

Code:
http://id.wikipedia.org/wiki/Ganesa

inilah Sansar Mohanam ganesha kavacham tersebut


neh gan ganesha kavacha


This is a God Ganesh Kavacham .It is in Sanskrit. It can be called as a prayer made to the god Ganesh for protecting our body and removing obstacles from our life. Name of this kavacham is SansarMohanam. It is from, Brahmavaivarta Poorana. It is told to Shanaichar (Bhagwan Saturn) by God Vishnu.

1 God Vishnu is telling to Shanaichar: (Bhagwan Saturn) Rushi of this kavacham is Prajapati. Chanda is Bruhati. Lambodar (God Ganesh) is god of this kavacham. For Dharma, Artha (money), Kama (desires) and Moksha (liberty from bondage of life) this kavacham is used. All other kavachas are included in this kavacham. Let mantra: 'Om Gam Hum ShriGaneshaya Swaha' protects my head. I am asking mantra of 32 letters to protect my forehead. Let mantra: 'Om Hrim Clim Shrim Gam' always protects my both eyes. Let Vighnesh always protects my sinciput on this earth. Let mantra: 'Om Hrim Shrim Clim' always protects my nose. Let mantra: 'Om Goum Gam Shurpakarnaya Swaha' protects my lips. Let mantra of sixteen letters protects my teeth, taluka and tongue.

2. Let mantra: 'Om Lam Shrim Lambodarayeti Swaha' protects my Gandam (cheeks). Let mantra: 'Om Clim hrim Vighnanashaya Swaha' always protects my ears. Let mantra: 'Om Shrim Gam Gajananay Swaha' always protects my shoulders. Let mantra: 'Om Hrim Vinayakay Swaha' always protects my back. Let mantra: 'Om Clim Hrim' protects my Kankal. Let mantra: 'Gam' protects my chest. Let Vighnanihanta always protects my hands, feet and whole body. Let Lambodar protects me from east. Let Vighnanayak protects me from south-east. Let Vighnesh protects me from south. Let Gajanan protects me from south-west. Let Son of Parvati protects me from west. Let Son of God Shankar protects me from north-east. Let avatar of ShriKrishna protects me from north. Let Ekadanta protects me from north-west. Let Hrambha protects me from above. Let Ganadhip (who is worshiped by all) protects me from down (the nadir). In sleep and when I am awake; Guru of all yogis protect me.

3. O! My disciple, I told you this kavacham; and the name of this kavacham is SansarMhohanam kavacham. Long back this kavacham was told to me by God ShriKrishna in Vridavan of golok at the time of rasamandalam. I have given the same to you. You are not supposed to give it to everybody. This kavacham is very pious and it removes all obstacles from the life. Anybody who, after worshiping his guru; wears it on his right arm or around his neck, there is no doubt becomes God Vishnu. O! Grhendra (Saturn) Thousands of Ashwamedha and Hundrades of Vajpeya Yagnyas cannot compute even one upon sixteen part of this kavacham. The devotee who knows this kavacham; and who worship or recites the mantra one billion times of son of God Shankar i.e. of God Ganesh, without reciting this kavacham, never receives Sidhi of the mantra.

Thus here completes this SasarMohanam Ganesh Kavacham which is from Brahmavaivarta Poorana and told by God Vishnu to Shanaichara.

sansaara mohanam gaNesh kavacham

vishuruvaacha

sansaara mohanasyaasya kavachasya prajaapatihi
rushishchandashcha bruhatii devo lambodaraha svayam II
dharmaartharkaamamoksheshu viniyogaha prakirtitaha
sarveshaam kavachaanaam cha saarabhootamidam mune II 1 II

om gam hum shriigaNeshaaya svaahaa me paatu mastakam I
dvaatrinshadaksharo mantro lalaatam me sadaavatu I
om hriim kliim shriim gamiti cha santatam paatu lochanam I
taalukam paatu vigneshaha santatam dharaNiitale II 2 II

om hriim shriim kliimiti cha santatam paatu naasikaam I
om goum gam shoorpakarNaaya svaahaa paatvadharam mama I
dantaani taalukaam jivhaam paatu me shodashaaksharaha II 3 II

om lam shriim lambodaraayeti svaahaa gaNdam sadaavatu
om kliim hriim vignanaashaaya svaahaa karNam sadaavatu
om shriim gam gajaananaayeti svaahaa skandham sadaavatu
om hriim vinaayakaayeti savaahaa prushtam sadaavatu II 4 II

om kliim hriimiti kankaalam paatu vakshahasthalam cha gam
karou paadou sadaa paatu sarvaagam vignanignakrut
praachyaam lambodaraha paatu aagneyyaam vignanaayakaha
dakshiNe paatu vignesho nairutyaam tu gajaananaha II 5 II

paschime paarvatiiputro vaayavyaam shankaraatmajaha
krushNsyaamshashchittare cha paripoortamasya cha
aeshaanyaamekadantashcha herambaha paatu chordhvataha
adho gaNaadhipaha paatu sarvapoojyashcha sarvata
svapne jaagaraNe chaiva paatu maam yoginaam guruhu II 6 II

iti te kathitam vatsa sarvamantroughavigraham
sansaar mohanam naama kavacham paramaadbhootam
shrikrishNena puraa dattam goloke raasamaNdale
vrundaavane viniitaaya mahyam dinakaraatmajaha II 7 II

mayaa dattam cha tubhyam cha yasmai kasmai na daasyasi
param varam sarva poojyam sarva samkaTtaaraNam
gurum abhyarchya vidhivat kavacham dhaarayettu yaha
kaNthe vaa dakshiNe baahou soapi vishNurna sanshayaha II 8 II

ashvamedha sahastraaNi vaajapeyashataani cha
grahendra kavachasyaasya kalaam naarhanti Shodashiim
idam kavachamadnyaatvaa yo bhajet shankaraatmaham
shatalaksha prajptoapi na mantraha sidhidaayakaha II 9 II

iti shriibramhavaivarte shanaishcharam prati vishNunopadishTam
sansaara mohanam gaNesha kavacham sampoorNam

Code:
http://ioustotra.blogspot.com/2011/03/sasarmohanam-ganesh-kavacham.html
SELAMAT ATAS DIBUKANYA THREAD INI
NEWBI IJIN NYIMAK DAN MEJENG DI PEJWAN
keren nih treadnya kang ,semoga daku banyak mendapatkan pencerahan dimari
Quote:Original Posted By Empeldhim
SELAMAT ATAS DIBUKANYA THREAD INI
NEWBI IJIN NYIMAK DAN MEJENG DI PEJWAN


hayah......hahahaha
Quote:Original Posted By minghay27
keren nih treadnya kang ,semoga daku banyak mendapatkan pencerahan dimari


waduh mbah minghay...monggo dibabar mbah
Quote:Original Posted By prabuanom
waduh mbah minghay...monggo dibabar mbah


huahahaha kok mbah .....?
daku mah ga ada papa nya ama akang....
boleh tanya nih kang kalau Ganesh yang berdiri satu kaki dan bertangan banyak itu versi indiakah ?
Quote:Original Posted By minghay27
huahahaha kok mbah .....?
daku mah ga ada papa nya ama akang....
boleh tanya nih kang kalau Ganesh yang berdiri satu kaki dan bertangan banyak itu versi indiakah ?






ini ya mas?kalo ga salah termasuk dalam 32 form ganesh

Nritya Ganapati

The happy "Dancer," Nritya Ganapati, is four-armed and golden, with rings on His fingers, holding a tusk, goad, noose and modaka sweet. He prances under the kalpavriksha tree, epitomizing exuberant activity and joy.

Code:
http://www.shreeganesh.com/32forms.htm
yuppp kuerreenn....kang ,beliau ini yg dtg pas daku lg bikin punya sarva....
ijin menyimak....
Quote:Original Posted By minghay27
yuppp kuerreenn....kang ,beliau ini yg dtg pas daku lg bikin punya sarva....



wah mantab kang, membawa kebahagiaan ya kang, karena beliau ini tampaknya sedang enjoy dalam menari. juga yg dicandi sukuh kalo ga salah dipahatkan ganesha yang sedang menari juga kang.



walo agak beda, tp pose ganesha yg sedang menari ini termasuk langka katanya.
Quote:Original Posted By prabuanom
wah mantab kang, membawa kebahagiaan ya kang, karena beliau ini tampaknya sedang enjoy dalam menari. juga yg dicandi sukuh kalo ga salah dipahatkan ganesha yang sedang menari juga kang.


daku juga lom nge kenapa yang dtg beliau, mungkin ada kaitannya dengan kepada siapa yg berjodoh dgn beliau kali...
gimana jadi mau masukin holy material kang..?
duduk ndeprok, mau baca2 dulu
untuk masalah ganesha
sesepuh gadjah mungkin mau ngejabarin
tampaknya orangnya lagi g OL neh,bantuin babe nya
numpang mejeng
izin menyimak puh
×