Thumbs up Semua tentang Para Boddhisatva (Calon Buddha yang mengumpulkan paramita/kebajikan)

welcome agan dan aganwati ,


tread kali ini semua tentang kisah para Boddhisatva,calon calon Buddha yang mempraktikan kebajikan dan melengkapi dasa paramitanya untuk menjadi Buddha,


pertama tama,
Apa yang dimaksud dengan Boddhisatva??



gambar Buddha Amitabha beserta para Boddhisatva Mahasattva yang tak terhitung banyaknya di pure land Sukhavati



Dalam ajaran agama Buddha, seorang Bodhisattva (bahasa Sanskerta) atau Bodhisatta (bahasa Pali) atau Photishat (bahasa Thai: โพธิสัตว์ adalah makhluk yang mendedikasikan dirinya demi kebahagiaan makhluk semesta.

Dalam bahasa Sanskerta, istilah Bodhisattva terdiri dari dua kata, yaitu bodhi yang berarti pencerahan atau penerangan, dan sattva yang berarti makhluk. Bodhisattva juga merujuk kepada Buddha di kehidupan sebelum-Nya.

Dalam ajaran Mahayana, Bodhisattva mengambil janji untuk tidak memasuki nirvana sebelum semua makhluk mencapai ke-Buddha-an. Ini tidak sama dengan di tradisi Theravada pada umumnya, makhluk yang mencapai pencerahan adalah Arahat, bukan Buddha.

Arti Bodhisatta pada Pali Canon (kumpulan koleksi kitab pada ajaran Theravada) dan tradisi Theravada tidak mengatakan bahwa seorang Bodhisattva membuat janji tidak akan mencapai penerangan sebelum semua orang lain mencapai penerangan. Ini merupakan inovasi dari Mahayana. Jadi seorang Bodhisatta dan seorang Bodhisattva merupakan hal yang berbeda.


Para Bodhisattva sangat dikagumi di dalam seni terkenal, termasuk salah satu patung tertinggi dari Bodhisattva di Vihara Puning di Cina, dibangun pada tahun 1755.

--------------------------
apa saja ikrar seorang Boddhisatva??

ikrar seorang Boddhisatva berbeda-beda sesuai dengan Boddhisatva tersebut begitupula dengan Ikrar seorang Buddha

------------------------
apa saja paramita -kebajikan, yang harus dijalankan oleh seorang Boddhisatva??

--------------------------------------------------

Enam Paramita [Sad Paramita]



Delapan Ruas Jalan Kemuliaan yang diuraikan pada halaman sebelumnya, dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian utama, yaitu: Sila, Samadhi dan Prajna. Dalam Buddhisme Mahayana, dikembangkan lebih lanjut menjadi Enam Paramita [Sad Paramita] atau Enam Perbuatan Luhur, dan merupakan ajaran pertama yang dilakukan oleh para Bodhisattva untuk mencapai pandangan Buddha yang tidak terbatas yaitu Cinta Kasih [maitri/metta], Kasih Sayang [karuna], Simpati [mudita] dan Keseimbangan Batin [upeksa/upekkha]. Dengan demikian tindakan seorang Bodhisattva haruslah benar-benar terlepas dari semua kepentingan atau kebanggaan pribadi, tanpa ikatan, tanpa batas, tanpa henti dan tanpa perbedaan dalam membantu semua makhluk yang memerlukan pertolongan. Tindakan seorang Bodhisattva, dapat disamakan dengan matahari yang menyinari bumi ini, tanpa membeda-bedakan, tanpa ikatan, tanpa batas, tanpa henti, dan tidak pernah membanggakannya atau mengakui pahalanya.

Enam Paramita tersebut terjalin sebagai satu kesatuan, karena pengaruh dari ajaran Asanga (pendiri Yogacara) sebagaimana disebutkan dalam Mahayana Sutralankara dengan urutan : dana-sila-ksanti-virya-dhyana-prajna. Adapun dalam pelaksanaan paramita ini dapat dibagi dalam tiga tingkatan sebagaimana tersebut dalam Lankavatara Sutra, yaitu :

1. Tingkat Biasa;merupakan suatu pelaksanaan paramita dengan harapan untuk memperoleh pahala baik pada masa kehidupan saat ini maupun pada kehidupan berikutnya.
2. Tingkat Luarbiasa; merupakan suatu pelaksanaan paramita dengan tujuan untuk mencapai nirvana, untuk tidak dilahirkan kembali.
3. Tingkat Tertinggi; merupakan suatu pelaksanaan paramita oleh para Bodhisattva dalam usahanya untuk menyelamatkan semuat makhluk dari lingkaran penderitaan [samsara].

--------------------------------------------

1. Dana Paramita



Dana Paramita merupakan perbuatan luhur tentang beramal, berkorban baik materi maupun non-materi. Dana paramita ini dapat digolongkan lagi atas : Dana, Atidana (yang lebih tinggi) dan Mahatidana (yang tertinggi).



Para penerima Dana dapat dibagi atas tiga kategori, yaitu (1) dana kepada teman dan keluarga; (2) dana kepada yang membutuhkan, yang miskin, yang menderita dan yang tidak berdaya; (3) dana kepada para bhikshu/bhikkhu dan para brahmana (orang suci Hindu). Dana yang diberikan adalah merupakan milik kekayaan.



Atidana adalah merupakan suatu pemberian dana dimana merupakan miliknya yang terakhir dengan tujuan pemupukan kebajikan untuk mengatasi kemelekatan terhadap rasa cinta yang dapat dianggap sebagai penghambat menuju jalan Kebuddhaan, sehingga menimbulkan kepribadian yang luhur. Contoh pelaksanaan Atidana dikisahkan dengan baik dari cerita Raja Visvantara yang dikutip dari Jatakamala dan Avadana Kalpa Lata.



Pangeran Menyerahkan Semuanya



Visvantara merupakan putra Raja Sanjaya. Beliau telah membagi habis harta miliknya sebagai derma , sampai akhirnya Beliau menyerahkan juga gajah putih milik kerajaan kepada kaum pendeta. Kedermawaannya yang tinggi tersebut menyebabkan ayahnya mengusirnya dari kerajaan untuk dikucilkan di Gunung Vanka.



Visvantara dalam perjalanan ke Gunung Vanka ditemani oleh istrinya dan dua orang anaknya dengan menaiki kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda. Di tengah perjalanan, mereka bertemu seorang pendeta yang meminta kuda-kuda mereka dimana diberikan semua oleh Beliau. Pada kesempatan lain, keretanya juga diberikan kepada pendeta lain yang ditemuinya. Akhirnya mereka meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki dimana Visvantara menggendong putranya, dan istrinya menggendong putrinya. Sesampainya di tempat tujuan, mereka tinggal di rumah yang terbuat dari daun-daunan.



Pada suatu hari sewaktu istrinya sedang pergi, datanglah seorang brahmana yang meminta kedua orang anaknya untuk dijadikan pelayannya. Visvantara tidak sanggup untuk menolak permintaan seorang brahmana, sehingga diserahkannya kedua anaknya tersebut juga. Kejadian tersebut menggugah Deva Sakra yaitu pemimpin para Deva yang kemudian muncul dalam penyamarannya sebagai seorang pendeta yang miskin dan memohon kepada Visvantara agar dapat menyerahkan istrinya kepadanya. Tentu saja permohonan inipun dikabulkannya, dan atas ketulusan Visvantara kemudian Deva Sakra menjelma kembali ke bentuk aslinya dan memberkahi Visvantara. Brahmana yang membawa kedua anaknya kemudian menyerahkannya kepada kakeknya, Raja Sanjaya .



Kejadian ini membuat Raja Sanjaya dan rakyatnya menjadi terharu sehingga Visvantara dipanggil kembali dan diberikan kedudukan kembali sebagai pangeran kerajaan yang kemudian hari menjadi Raja menggantikan ayahnya.



Mahatidana merupakan pengorbanan dana tertinggi karena yang diberikan adalah anggota tubuh seorang Mahasattva. Pengertian anggota tubuh ini dapat mencakup daging, darah, organ mata ataupun organ tubuh lainnya, bahkan seluruh tubuhnya karena Sang Mahasattva sudah tiada mempunyai sedikitpun rasa cinta kepada semuanya itu. Kesediaannya memberikan pengorbanan yang besar ini merupakan pencurahan kasih yang luar biasa kepada makhluk hidup dengan tujuan untuk mengakhiri penderitaan. Terdapat banyak kisah di dalam Jataka yang menceritakan tentang pemberian mahatidana oleh Sang Bodhisattva Mahasattva. Salah satunya adalah kisah di bawah ini.



Bodhisattva Mengorbankan Tubuh



Pada suatu masa yang silam, hiduplah Raja Maharatha bersama tiga putranya, Mahapranada, Mahadeva, dan Mahasattvavan. Pada suatu hari ketiga pangeran berjalan di dalam suatu hutan yang besar dan sunyi, dimana di tengah perjalanan mereka bertiga bertemu dengan seekor harimau betina yang baru beranak lima ekor. Tubuh harimau betina begitu kurus dan lemah karena lapar dan haus. Mereka bertiga membicarakan tentang keadaan harimau tersebut dan membayangkan bagaimana bisa harimau betina yang malang tersebut beserta anak-anaknya dapat bertahan hidup.



Mahasattvavan kemudian meminta agar kedua saudaranya berangkat dulu dengan mengatakan nanti dia akan menyusul ke lembah karena hendak melakukan sesuatu. Setelah ditinggal sendirian, maka Mahasattvavan berucap kepada harimau tersebut, "Saya terharu dan dengan rela memberikan tubuh saya untuk kebaikan dunia dan untuk pencapaian bodhi." Kemudian dia melemparkan dirinya di hadapan harimau betina tersebut, namun harimau yang lemah tersebut tidak dapat berbuat apa-apa terhadap dirinya. Mahasattvavan akhirnya mengambil sebilah bambu tua yang ditemukannya di sekitar lokasi tersebut dan memotong kerongkongannya sehingga mati terbaring dekat harimau tersebut.
(uraian lebih lanjut akan dibahas dalam tread -jataka)
2. Sila Paramita



Sila Paramita merupakan perbuatan luhur tentang hidup bersusila, tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik oleh badan [kaya], ucapan [vak], dan pikiran [citta].



Pelaksanaan Sila Paramita merupakan pelengkap dari seorang Bodhisattva yang telah melaksanakan Dana Paramitha. Pelaksanaan Sila Paramita ini dapat diumpamakan kaki ataupun mata dimana tanpa kaki maka seseorang akan terjatuh ke dalam bentuk kehidupan yang penuh kejahatan, ataupun tanpa mata maka seseorang tidak akan dapat melihat Dharma.



Terdapat tiga pengertian dalam menguraikan Sila Paramita, yaitu

1. Kebajikan moral secara umum dimana kepribadian yang menganggumkan merupakan ciri utamanya;
2. Kebajikan moral yang dikaitkan dengan suatu cita-cita penyucian yang direalisasikan melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan;
3. Kebajikan moral yang dikaitkan dengan lima ajaran moral [Pancasila Buddhis) dan sepuluh jalan tindakan yang baik dan bermanfaat dimana merupakan latihan moral kebajikan bagi umat awam.

Pelaksanaan Sila merupakan suatu usaha seorang Bodhisattva untuk memusnahkan seluruh tiga akar kesengsaraan atau tiga racun dunia, yaitu:

1. raga yang dapat dianggap sebagai persamaan kata lobha yaitu hawa nafsu, gairah, kesenangan perasaan.
2. dvesa [dosa] yaitu kebencian, keinginan buruk
3. moha yaitu kebodohan batin, khayalan, kebingungan mengenai pikiran

Dalam melatih Sila Paramita, maka terdapat sepuluh pantangan yang harus dijalankan seorang Bodhisattva, yaitu :

1. Pantang membunuh makhluk hidup
2. Pantang mencuri
3. Pantang dari ketidak-sucian
4. Pantang berbicara bohong
5. Pantang memfinah
6. Pantang berbicara kasar
7. Pantang terhadap kesembronoan dan berbicara yang tidak berarti
8. Pantang terhadap sifat iri hati
9. Pantang terhadap sifat dengki
10. Pantang dari pandangan salah
3. Ksanti Paramita

ketulusan hati dan cinta kasih kepada semua makhluk di dunia

Ksanti merupakan suatu perbuatan luhur tentang kesabaran. Ksanti Paramita mencakup tiga pengertian, yaitu, kesabaran, ketabahan, dan ketulusan hati. Seorang Bodhisattva haruslah melatih kesabaran karena ketidaksabaran akan mudah menimbulkan kemarahan dimana dapat menghancurkan semua pemupukan kebajikan yang telah terhimpun.



Ketidaksabaran dalam bertindak sering menenggelamkan kita dalam lautan penderitaan yang menyebabkan penyesalan yang berkepanjangan.

4. Virya Paramita



Virya Paramita merupakan perbuatan luhur mengenai keuletan, ketabahan dan semangat.
Terdapat dua macam Virya, yaitu :

1. Sannaha-virya, yang dapat diartikan memakai perisai dalam arti mempersiapkan diri atau memperkuat iman terhadap berbagai godaan.
2. Prayoga-virya, yang dapat diartikan dengan ketekunan dan kesungguhan dalam pelaksanaan Ajaran Sang Buddha .



5. Dhyana Paramita



Dhyana Paramita merupakan perbuatan luhur mengenai samadhi. Terdapat 4 jenis Dhyana sebagaimana dinyatakan dalam ajaran Yogacara, Lankavatara Sutra, yaitu :

1. Balopacarika Dhyana, dhyana yang dilakukan oleh Sravaka dan Pratyekabuddha dengan merenungkan tentang ketidak-kekalan dari sifat ke-aku-an.
2. Artapravicaya Dhyana, dyana yang dilaksanakan oleh para Bodhisattva yang telah mengerti hakekat Keberadaan dari alam semesta.
3. Tathatalambana Dhyana; dhyana yang terdiri dari pengkajian atas Keberadaan dari Kebenaran serta merenungkannya.
4. Tathagata Dhyana; dhyana yang dilaksanakan oleh para Tathagata yang telah mengetahui Pengetahuan yang Tertinggi dan selalu bersedia untuk mengabdi kepada semua makhluk.



6. Prajna Paramita



Prajna Paramita merupakan Paramita yang terpenting; yaitu perbuatan luhur mengenai Kebijaksanaan.
Terdapat dua makna dalam Prajna, yaitu :

(1) Prajna yang kekal.

(2) Prajna yang berfungsi sejalan dengan ke lima Paramita lainnya.



Usaha pengembangan prajna ini terdapat tiga jalur yang mengarah kepada suatu pendalaman (intuisi) dan pengetahuan, yaitu :

1. berdasarkan ajaran orang lain atau kitab suci tertulis ataupun lisan [sutamaya panna],
2. berdasarkan pemikiran yang mendalam [cintamaya panna], dan
3. berdasarkan meditasi pengolahan dan realisasi [bhavanamaya panna]

Selain Enam Paramita tersebut di atas, terdapat juga Empat Paramita tambahan, yaitu :

1. Upaya-Kausalya Paramita ; merupakan kemahiran dalam perbuatan atau adaptasi dari usaha usaha untuk perubahan guna

memberikan pertolongan secara luhur

2. Pranidhana Paramita; aspirasi atau resolusi luhur

3. Bala Paramita; kekuatan atau kemampuan luhur

4. Jnana Paramita; pengetahuan luhur



Sedangkan dalam Buddhisme Theravada dikembangkan tindakan Bodhisattva dalam Sepuluh Kebajikan Luhur atau Sepuluh Parami, dengan urutan sebagai berikut :

1. Kemurahan hati [Dana]

2. Kesusilaan [Sila]

3. Penglepasan Keduniawian [Nekkhamma]

4. Kebijaksanaan [Panna]

5. Kegiatan [Viriya]

6. Kesabaran [Khanti]

7. Kejujuran [Sacca ]

8. Keputusan [Adhitthana]

9. Cinta-Kasih [Metta]

10.Keseimbangan [Upekkha]



Sang Buddha bersabda :" Hendaklah ia menjaga ucapan dan mengendalikan pikiran dengan baik serta tidak melakukan perbuatan jahat melalui jasmani. Hendaklah ia memurnikan tiga saluran perbuatan ini, memenangkan ` Jalan ' yang telah dibabarkan oleh Para Suci. " (Dhammapada, 281).
apa saja pelanggaran Berat untuk seorang Boddhisatva??



Sila Boshisattva \t
6 Pelanggaran Berat

1. Membunuh

Para umat yang mendalami Buddhadharma dan sebagai upasaka-upasikasadhaka wanita perumah tangga yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, nyawa sekecil semut pun, tidak pula diperkenankan sembarang dibunuh. Terutama bagi yang telah menerima sila, bila menyuruh orang lain melenyapkan nyawa makhluk hidup, atau sendiri yang melakukan pembunuhan, orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, atau upasaka-sika yang bejat, atau upasaka-sika yang ternoda, atau upasaka-sika yang terbelenggu.

2. Mencuri

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan mencuri dan merampas harta milik orang lain, sekalipun dana sekecil apapun juga tidak diperkenankan. Apabila melanggar Sila Mencuri, orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

3. Berdusta

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan berkata tidak jujur mendustai orang. Misalnya, “Saya telah mencapai tingkat Bodhisattva”, “Telah melampaui tiga alam dan memperoleh sidhi Arahat” dan sebagainya, hal semacam ini yang mana belum mencapai dikatakan mencapai telah merusak kedisiplinan sila. Orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

4. Berzinah

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan melakukan hubungn intim dengan orang ketiga di luar pasangan suami istri (Apabila melakukan hubungn intim dengan istri sendiri yang sedang menjalani sila, saat lagi hamil tua, menyusui, atau pun melakukan hubungan suami istri dengan cara tidak wajar, juga termasuk berzinah), apabila melanggar Sila Berzinah, orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

5. Menjual Beli Miras

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan melakukan transaksi jual-beli minuman keras atau sejenisnya (termasuk jenis barang yang dapat memabukkan pikiran manusia), apabila melanggar Sila Menjual-beli Miras, orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

6. Membicarakan Kesalahan Catur Parsadah

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan menyebar-luaskan kesalahan para bhiksu dan bhiksuni, atau menyebar-luaskan kesalahan para upasaka dan upasika, apabila melanggar Sila Membicarakan Kesalahan Catur Parsadah (bhiksu, bhiksuni, upasaka, dan upasika), orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.
DELAPAN BELAS PELANGGARAN UTAMA (PARAJJIKA) IKRAR BODHISATTVA

1. Memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain.
2. Tidak memberi harta benda atau Dharma.
3. Menolak permintaan maaf seseorang.
4. Meninggalkan Mahayana.
5. Mengambil milik Triratna.
6. Meninggalkan Dharma.
7. Melepas jubah seseorang.
8. Melakukan lima perbuatan terburuk.
9. Berpandangan salah.
10. Menghancurkan desa atau kota.
11. Menjelaskan sunyata kepada mereka yang mungkin akan salah mengerti.
12. Menyebabkan orang lain meninggalkan Mahayana.
13. Menyebabkan orang lain meninggalkan Pratimoksha.
14. Merendahkan Hinayana.
15. Mengaku telah mencapai realisasi, misalnya sunyata.
16. Menerima sesuatu yang di curi dari Triratna.
17. Membuat peraturan yang menyusahkan.
18. Meninggalkan Bodhicitta.


EMPAT PULUH ENAM PELANGGARAN BIASA (SANGHADISESA) SILA BODHISATTVA

Tujuh pelanggaran yang berkaitan dengan Dana Paramita

1. Tidak melakukan persembahan kepada Hyang Triratna setiap hari.
2. Menuruti keinginan pikiran karena keterikatan.
3. Tidak menghormati mereka yang telah mengangkat ikrar Bodhisattva lebih dulu.
4. Tidak menjawab pertanyaan tulus orang lain.
5. Menolak undangan.
6. Menolak pemberian emas.
7. Tidak memberi Dharma kepada mereka yang menginginkannya.

Sembilan Pelanggaran yang berkaitan dengan Sila Paramita

8. Tidak membantu mereka yang melanggar ikrarnya.
9. Tidak berbuat sesuatu sehingga orang lain bangkit keyakinannya.
10. Hanya melakukan sedikit hal demi kebahagiaan makhluk lain.
11. Dengan belaskasih tidak melakukan perbuatan yang menyakiti.
12. Mencari ketenaran dan kekayaan dengan jalan yang salah.
13. Tertarik pada pertunjukan-pertunjukan.
14. Menganggap bahwa Bodhisattva tidak perlu meninggalkan samsara.
15. Tidak menghindari sebab nama buruk.
16. Tidak membantu orang lain menghindari ketidak bajikan.

Empat pelanggaran yang berkaitan dengan KshantiParamita

17. Membalas mencaci atau menyakiti.
18. Mengabaikan mereka yang marah.
19. Menolak permintaan maaf orang lain.
20. Menuruti serta tidak mengendalikan kemarahan kita.
Tiga pelanggaran yang berkaitan dengan Virya Paramita

21. Mencari murid karena menginginkan keuntungan dan penghormatan
22. Tidak berusaha mengatasi kemarahan.
23. Tidak meninggalkan pembicaraan yang tak berguna karena keterikatan.

Tiga pelanggaran yang berkaitan dengan Dhyana Paramita

24. Mengabaikan latihan samatha.
25. Tidak berusaha mengatasi rintangan samatha.
26. Hanyut dalam kenikmatan samadhi.

Delapan pelanggaran yang berkaitan dengan Prajna Paramita

27. Meninggalkan Sravakayana.
28. Mempelajari Sravakayana mengorbankan Mahayana.
29. Mempelajari ajaran bukan Dharma dengan mengorbankan Mahayana.
30. Menyenangi ajaran bukan Dharma.
31. Mencela ajaran Mahayana.
32. Memuji diri sendiri dan meremehkan orang lain.
33. Tidak menghadiri acara pembabaran Dharma.
34. Lebih bergantung pada buku dari pada Guru atau mengabaikan Guru.

Dua belas pelanggaran yang berkaitan dengan ikrar melakukan kebajikan demi semua makhluk

35. Tidak memberi pertolongan kepada yang membutuhkan.
36. Menolak menolong orang yang sakit.
37. Tidak berusaha mengatasi penderitaan orang lain.
38. Tidak mengajarkan ajaran yang sesuai dengan pendengarnya.
39. Tidak membalas kebajikan mereka yang telah berbuat baik kepada kita.
40. Memperberat perasaan sedih orang lain.
41. Tidak memberikan bantuan materi kepada mereka yang menginginkannya.
42. Tidak memperlakukan secara khusus pada para siswa.
43. Tidak melakukan yang di inginkan orang lain.
44. Tidak memuji kebajikan orang lain.
45. Tidak berbuat sesuatu pada saat di butuhkan.
46. Tidak menggunakan abhijnana.
__________________
wajib di save ni, ini yg dr dulu saya cari. makasih banyak ya kk auchan semoga jasa kebajikan kk auchan di berkati oleh para Buddha dan Bodhisatva kk
ijin nyimaq ye..
susah bener ye jadi boddhisattva..T.T
huah cc suhu Auchan sharing ilmu. duduk bersila

thumbup
thumbup
keren banget auchan

terimakasih banyak buat artikelnya
ijin baca2 ya chan, info penting neh
wah lg rajin nih bikin trit
padahal yg disebelah lum selese dibaca
makin banyak deh PRnya
Quote:Original Posted By wazp888


thx dah disundul kk

Quote:Original Posted By andre31
wajib di save ni, ini yg dr dulu saya cari. makasih banyak ya kk auchan semoga jasa kebajikan kk auchan di berkati oleh para Buddha dan Bodhisatva kk


wahh terimakasih bnyk jg kk andre doany

Quote:Original Posted By silverdeep
ijin nyimaq ye..
susah bener ye jadi boddhisattva..T.T


iy kk susah bener y jd Boddhisattva,,,apalagi jd Buddha...
Quote:Original Posted By ShinNyet
huah cc suhu Auchan sharing ilmu. duduk bersila

thumbup
thumbup


wew dipanggil cc suhu lagi

silakan kk shin dibagi ilmunya juga

Quote:Original Posted By bukanpenjahats
keren banget auchan

terimakasih banyak buat artikelnya


ini dia yang aslinya muncul
ayo dibabar ce

Quote:Original Posted By Avantasia
ijin baca2 ya chan, info penting neh


silakan cc
Quote:Original Posted By little_frenz
wah lg rajin nih bikin trit

hehehe iy kk little... daripada nda ada kerjaan pas liburan..
dibabar kk ilmunya

Quote:Original Posted By chocolattier
padahal yg disebelah lum selese dibaca
makin banyak deh PRnya



wkkwk dikit2 aniki bacanya,
saya jg ngetikny dikit2 kok
yang pertama ingin saya share adalah Ksitigarbha Boddhisatva
(karena saya ada bukunya )

Ksitigarbha Boddhisatva Purva Pranidhana Sutra

Ksitigarbha Boddhisattva Mahasattva yang menolong para makhluk menderita di alam neraka

(penerjemahan kedalam bhs mandarin oleh YA.Tripitakacarya Maha Sramana Siksamana-tahun 700 M, bhs indo oleh UP.Dharmago, UP Aryarasmiprabhamegha , diterbitkan Sangha Agung Indonesia-1994)

Bagian pertama

Istana Trayastrimsa Varga Rddhidhi Jnanam
---------------------------------------------------

Demikian yang kudengar,Pada suatu ketika sang Buddha berada di surga Trayastrimsa akan mengkhotbahkan Dharma kepada ibu-Nya. Ketika itu dari sepuluh penjuru dunia yang tak terbatas, semua Buddha dan Maha Boddhisatva Mahasattva yang jumlahnya sulit diperkirakan dating berkumpul. Mereka menjunjung dan memuji Buddha Sakyamuni yang dapat menampilkan di dunia Panca Kasayah, (lima macam kekeruhan),Maha Prajna Rddhiabhijanabala (tenaga batin) yang tak dapat terpikirkan, untuk menundukan umat yang bertegar hati,agar mereka sadar dan mengerti jalan mana menuju ke kebahagiaan dan mana menuju ke penderitaan.
Masing masing mengirim utusan untuk memberi hormat kepada Sang Buddha.

Saat itu Sang Buddha tersenyum dan tubuh Nya mengeluarkan ratusan ribu koti (satuan tak terhingga) awan bercahaya Maha Rasmihprabna Megha,seperti Maha Pari purna Megha, Maha Maitri Megha,Maha Jhana Megha, Maha Prajna Megha, Maha Samadhi Megha,Maha Sri Megha,Maha Punya Megha,Maha Guna Megha ,Maha Sarana Maha Stotra Megha,Setelah berbagai awan awan bercahaya berhenti keluar,kemudian terdengar bermacam macam suara merdu,seperti Dana Paramita Ghosa,Sila Paramita Ghosa,Ksanti Paramita Ghosa,Virya Paramita Ghosa,Dhyana Paramita Ghosa,Prajna Paramita Ghosa,Maitri Ghosa, Karuna Ghosa,Upeksa Ghosa,Maha Simhanada Ghosa,Garijita Ghosa,Maha Grajita Ghosa.

Setelah berbagai suara merdu yang tak terlukiskan berhenti berkumandang, datang dan berkumpul pula di Surga Trayastrimsa ,Deva,Naga,Hantu,dan makhluk suci yang tak terbilang banyaknya dari dunia Saha dan dunia lainnya.
Seperti dari alam Surga Maha raja Kajika dari Surga Trayastrimsa,dari Surga Yama,dari Surga Tusita , dari Surga Nimanarati, dan Surga Paranirmita vasavaratin,dari Surga Brahma kajika,dari surga Bramaparsadya,dari Surga Bramapuronita, dari Surga Mahabrahma,dari Surga Parittabha,dari Surga Apramanabha,dari Surga Abhasvara, dari surga Parittasubha,dari Surga Apramasubha, dari Surga Punyaprasava,dari Surga Brhatphala,dari Surga Avrha,dari Surga Atapa dari Surga Sudrsa,dari surga sudarsana dari surga akanistha,dari surga Mahamahesvara,hingga surga Naivasamjnanasamjnayatana. Segala macam deva,naga,hantu,dan makhluk suci semuanya berkumpul.
Ada lagi dari dunia lain dan dunia Saha,seperti dewa Penguasa laut,dewa sungai,dewa pohon,dewa gunung,dewa bumi,dewa danau,dewa pertanian,dewa siang,dewa malam,dewa angkasa,dewa langit,dewa minuman dan makanan,dewa tumbuh tumbuhan,dan lain lain makhluk suci semuanya datang berkumpul.

Ada lagi dari dunia lain dan dunia Saha,para Raja setan seperti raja Setan bermata Kejam,,Raja Setan penghisap darah,raja setan penghisap sari mani,raja setan pemakan janin dan telur,raja setan penyebar penyakit, raja setan penolak tuba,raja setan pengasih penyayang,raja setan pemberi sejahtera,raja setan berbudi luhur,dan lain lain raja setan semuanya berkumpul.

Pada saat itu Sang Buddha bersabda kepada Pangeran Dharma Manjusri Boddhisatva Mahasattva, “Engkau melihat semua Buddha,Boddhisatva dan Deva ,Naga,Hantu ,Makhluk suci di dunia,di dunia lain,di bumi lain,kini semuanya datang berkumpul di surga Trayastrimsa. Dapatkah engkau menghitung jumlahnya?”
Manjusri menjawan “Bhagawan yang termulia,dengan daya Rddhi – Abhijnabala-ku,sekalipun ribuan kalpa menghitungnya,hamba tak dapat mengetahui berapa jumlah yang hadir.” Sang Buddha bersabda lagi kepada Manjusri Boddhisatva, “Dengan Buddhacaksu-Ku (mata Buddha) menghitung,masih juga tidak dapat mengetahui jumlah yang sebenarnya. Ini semua berkat penjelmaan Ksitigarbha Boddhisatva sejak berkalpa kalpa lamanya,baik yang sudah ditolong,yang akan ditolong,yang belum ditolong,maupun yang sudah berhasil,yang akan berhasil ,yang belum berhasil.”

Manjusri Bodhisattva menjawab Sang Buddha,”Bhagawan Yang termulia,sejak masa silam hamba telah banyak melakukan kusala karma (perbuatan baik) dan telah memperoleh kebijaksanaan tanpa halangan (omniscience). Mendengar sabda Bhagawan hamba percaya sepenuhnya. Tapi para sravaka yang berpahala kecil,Deva,Naga,Asta gatyah (delapan kelompok makhluk) serta para umat dari masa yang akan datang,meskipun mendengar sabda Tathagata yang sesungguhnya,mereka akan merasa sangsi. Jika kita paksakan Dharma ini,mereka akan melakukan fitnahan. Oleh karena itu kami mohon dengan hormat Bhagawan sudi menguraikan prestasi yang dicapai Ksitigarbha Boddhisatva,sebab utama apa,melakukan ibadat yang bagaimana,menyatakan tekad apa,sehingga beliau dapat mencapai keberhasilan yang tak terpikirkan hebatnya.

Sang Buddha bersabda kepada Manjusri Boddhisattva, “Seandainya semua tumbuh tumbuhan seperti rumput,pohon,hutan,rimba,padi ,rami,bamboo,kumpai,batu,gunung,debu halus yang berada di alam Trishasra – Mahasahasra,masing masing dijadikan Sungai Gangga.

Butiran pasir yang berada di setiap Sungai Gangga itu tiap butirnya dijadikan alam Trishasra – Mahasahasra,butiran debu yang berada di tiap alam Trishasra Mahasahasra itu tiap butirnya dijadikan satu kalpa,tumpukan debu selama satu kalpa itu tiap butir debunya dijadikan pula satu kalpa. Maka beberapa kalpa jumlahnya takkan dapat dihitung. Namun Ksitigarbha Bodhisattva sejak mencapai Dasa Bhumayah hingga sekarang,lamanya telah mencapai ribuan kali lipat daripada perumpamaan kita tadi. Apalagi Ksitigarbha Boddhisatva pernah berada di Sravaka Bhumi dan Prateykabuddha – Bhumi,lamanyapun tak terhitung Manjusri,kewibawaan serta keagungan janji suci Boddhisattva ini sungguh takkan terperikan!