KASKUS

★★★ Dieng • Abode of The Gods ★★★

Quote:Kawah purba Gunung Prahu yang sekarang menjadi pemukiman penduduk ini merupakan dataran tertinggi kedua yang dihuni manusia setelah Tibet

Quote:
Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:



Preambule
Quote:•Geografis
Dataran Tinggi Dieng merupakan dataran tinggi yang tertinggi kedua didunia setelah Tibet / Nepal, dan yang terluas di Pulau Jawa.
Dieng terletak pada posisi geografis 7’ 12’ Lintang Selatan dan 109 ‘ 54’ Bujur Timur,
berada pada ketinggian 6.802 kaki atau 2.093 m dpl.
Secara administrativ, Dieng mencakup Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.
Dan Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.
Hingga tahun 1990-an wilayah ini tidak terjangkau listrik dan merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.
Letaknya yang juga berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa.
Kawah-kawah kepundan banyak dijumpai di sana. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut.
Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin, berkisar 15—20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari.
Pada musim kemarau (Juli dan Agustus),
suhu udara dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun")
karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.
Kawasan Dataran Tinggi Dieng merupakan sebuah kompleks gunung berapi dengan kerucut-kerucutnya terdiri dari :
Bisma, Seroja, Binem, Pangonan Merdada, Pagerkandang, Telogo Dringo, Pakuwaja, Kendil. Kunir dan Prambanan.
Lapangan fumarola terdiri atas Kawah Sikidang, kawah Kumbang, kawah Sibanteng, Kawah Upas,
Telogo Terus, Kawah Pagerkandang, Kawah Sipandu, Kawah Siglagah dan Kawah Sileri.

•Etimologi
Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata Bahasa Kawi: "di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa).
Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam.
Nama Dieng berasal dari bahasa Sunda karena diperkirakan pada masa pra-Medang sekitar tahun 600 Masehi
daerah itu berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh.
Ditengah-tengah dataran tinggi Dieng dahulu terdapat tempat pemujaan dan asrama pendidikan Hindu tertua di Indonesia.
Sebagai bangunan suci tersebut sampai sekarang dapat kita saksikan dengan adanya candi beserta puing-puing bekas Vihara

•Geologi
Dataran Tinggi Dieng merupakan sebuah plateu yang terjadi karena letusan dasyat sebuah gunung berapi.
Dengan demikian kondisi geologisnya samapai sekarang masih relative labil bahkan sering terjadi gerakan-geraka tanah.
Beberapa bukti menunjukan hal tsb adalah, peristiwa hilangnya Desa Legetang,
terpotongnya jalan antara Banjarnegara Karangkobar dan Sukoharjo Ngadirejo
maupun retakan-retakan tanah yang mengeluarkan gas beracun seperti peristiwa Sinila.
Dataran tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya,
seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi Tengger. Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya.
Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya.
Keadaan ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979.
Tidak hanya gas beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi,
letusan lumpur, tanah longsor dan banjir.
Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan.
Secara biologi,
aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di air-air panas di dekat kawah
beberapa spesies bakteri termofilik ("suka panas") yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi.

•Hidrologi
Di Kawasan Dataran Tinggi Dieng terdapat sumber mata air yang merupakan hulu dari Kali Serayu
dengan sumber dari Bisma Lukar yang merupakan hulu dari kali Tulis dgn sumber air dati kaki Gunung Perahu
Sumber-sumber air di Kawasan Dataran Tinggi Dieng banyak dimanfaatkan oleh penduduk sekitar kawasan utuk pengairan areal pertanian.

•Manusia dan Alam
Sumber Daya Manusia (penduduk) di Kawasan Dataran Tinggi Dieng berjurnlah 1.562.004 orang yang menempati areal kawasan seluas ± 1027.21 KM.
Sebagian besar penduduk Kawasan Dataran Tinggi Dieng terdiri dari Suku lawa Pegunungan,
yang pada umumnya merupakan memeluk agarna Islam yang patuh dan taat.
Meskipun demikian, mereka tidak menutup diri terhadap pengaruh modernisasi dalam kehidupan sehari hari,
hanya mereka masih segan untuk melepaskan cara hidup tradisional seperti dalam acara adat Perkimpoian dan Khitanan.
Sedang letak astronomis ada pada sekitar 7,20º Lintang Selatan dan 109,92 º Bujur Timur dan pada ketinggian ketinggian ± 2.095m dpa.
Mungkin kalau pada Google Earth bisa dimasukkan Latitude: -7,20 dan Longitude: +109,92.
Sebagian besar pendudluk Kawasan Dataran Tinggi Dieng hidup dari hasil pertaniannya.
Namun demikian karena pesatnya kemajuan dalam perekonomian sekarang ini,
maka sebagian dari mereka sudah mengalihkan mata pencaharian ke bidang lain seperti bidang
perdagangan atau kepegawaian sebagai karyawan di Kantor kantor Pernerintahan.
Dengan meningkatnya tingkat kunjungan wisatawan domestik dan wisatawan asing di Kawasan Dataran Tinggi Dieng,
maka pada umumnya penduduk di sekitar daerah wisata ini mendapat keuntungan
/ penghasilan tambahan dari hasil pertanian ataupun bekerja pada perusahaan perusahaan yang melayani kepentingan wisatawan tersebut,
seperti misalnya bekerja di hotel hotel, restoran dan lain-lain.


Obyek Wisata

Quote:•Candi

Berdasarkan temuan Prasasti Situs Dieng diperkirakan dibangun abad VII – XIII Masehi.
Sebagai kebaktian kepada Dewa Syiwa dan Sakti Syiwa ( istri Syiwa ).
Dilihat dari 21 bangunan, situs Dieng dibagi menjadi 5 kelompok.
Empat kelompok merupakan bangunan ceremonial Site ( tempat pemujaan ) yaitu :

Kelompok Candi Arjuna ( Pendawa 5 )
Kelompok Candi Gatut Kaca
Kelompok Candi Bhima
Kelompok Candi Dwarawati / Parikesit
Kelompok Candi Magersari

Kompleks Candi Arjuna terdiri dari 5 candi.
Deret sebelah timur adalah Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Putadewa dan Candi Sembadra.
Berhadapan dengan Candi Arjuna adalah Candi Semar yang terletak sendiri di sebelah barat.
Pada candi-candi tersebut digambarkan dewa-dewa pendamping Dewa Siwa.
Hanya di candi Srikandi terdapat gambar Dewa Brahma, Siwa dan Wisnu.

Candi Gatotkaca terletak di kaki bukit Pangonan (Bukit tempat penggembalaan)
terdapat Makara yang khas berupa wajah raksasa yang menyeringai tanpa rahang bawah.

Candi Bhima mempunyai penampilan yang khas,
pada bagian atapnya mirip dengan bentuk Shikara seperti mangkuk yang ditelungkupkan.

Candi Dworowati terletak di utara dan didirikan di Bukit Perahu dengan ukuran 5m x 4m dan tinggi 6m

Dan beberapa candi lain :

Candi Semar
Candi Sembadra
Candi Srikandi
Candi Setyaki



Quote:•Telaga

1 . Telaga Merdada
Telaga Merdada dahulumerupakankepundan (kawah gunung berapi yang kemudian terisi air hujan)
air dari telaga itu dapat dipergunakan untuk kebutuhan penduuduk Desa Karang Tengah

2. Telaga Sewiwi
Telaga ini bukan merupakan bekas kawah melainkan pemunculan air tanah dari bukit bukit sekitarnya ditambah air hujan,
sehingga terjadilah telaga.

3.Telaga Balekambang
Terletak di Kompleks Candi Pendowo, untuk menghindari bahaya banjir yang dapat merusak candi candi,
penduduk membuat saluran pembuangan air kesungai Dolok.
Saluran tersebut diberi nama Gangsiran Aswatama.

4. Telaga Warna dan Telaga Pengilon
Kedua telaga ini dulu merupakan satu telaga saja, karena terbendungnya Sungai Tulis oleh lava,
maka telaga tersebut terpisahkan menjadi dua sampai sekarang.
Telaga ini juga telaga yang paling ramai dikunjungi karena letaknya yang strategis.

5. Telaga Dringo
Nama Dringo didapat dari tumbuhnya dringo di sekeliling telaga tanpa ditanam orang.
Telaga itu juga merupakan bekas kawah yang meletus pada tahun 1786.
Terletak di desa Pekasiran, dan langsung berbatasan dengan desa wonopriyo kecamatan Blado kabupaten Batang,
sejalur dengan kawah candradimuka.

6. Telaga Cebong
Telaga ini merupakan cekungan dikelilingi oleh perbukitan.
Air tanah bukit bukit itumengisi cekungan tersebut.
Air telaga digunakan untuk keperluan sehari hari oleh penduduk Sembungan.

7. Telaga Menjer
Merupakan telaga alam terluas di Kabupaten Wonosobo.
Berada di ketinggian 1300 meter diatas permukaan laut, dengan luas 70 Ha dan kedalaman 45 meter.
Telaga Menjer terletak didesa Maron Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo 12 km sebelah utara kota Wonosobo.


Quote:
sekedar trit sederhana bentuk kesengsem saya pada dieng
untuk berbagi informasi, poto dan update apa saja about dieng


monggo dinikmati

salam travel


Quote:Official Thread from Traveller

[all about] ★★★ Dieng • Abode of The Gods ★★★


Quote:Info Tiket :
Biaya Retribusi tempat Masuk : Rp.12.000 / orang (tiket terusan)
itu udah meliputi 4 obyek wisata : yaitu telaga pengilon, kawah sikidang, dieng theatre, dan komplek candi Arjuna, dan candi Bima.
Atau bisa dibeli di masing masing obyek wisata (retail/terpisah)

Info Parkir :
Parkir ditiap tempat Obyek wisata ( untuk Motor roda 2 ) Rp.2000,- /motor
untuk telaga pengilon ada tambahan sebesar Rp.2000,- /orang ( dari dinas kehutanan )


-
-


۩۩۩ Kumpulan FR & Trit-trit Lain Tentang Dieng ۩۩۩


Quote:FR

• FR Dieng Plateau Area : 8 - 10 Oktober 2010
• [FR] Cheap Trip to Dieng Plateau, Wonosobo, Wonosari's Beach, and Jogja
• FR - Menyusuri Sejarah Dieng
• [FR] Sendirian Dieng Plateu, 12 - 13 Feb 2011
• Dataran tinggi Dieng "Dieng Pleteau" (pengalaman ane gan)
• ◘◘◘ ▌CatPer Dieng - Serayu 13-15 Mei 2010 ▌◘◘◘



Quote:Trit Tentang Dieng

• Legenda Telaga Warna Dieng
• [Travel] jalan-jalan ke Dieng Plateu Area
• Dieng, pesona alam yang terlupakan
• Mengintip Keindahan Dataran Tinggi Dieng..
• misteri anak berambut gimbal dieng..
• Misteri Bocah Gimbal Dari Lereng Dieng (Indonesia)
• Indahnya alam Dieng [pict]
• Seputar info tentang Dataran Tinggi Dieng [+pic]
• Dieng - Dunia Misterius para Dewa
Quote:•Kawah

Berikut adalah kawah-kawah di DT Dieng:
Candradimuka
Sibanteng
Siglagah
Sikendang, berpotensi gas beracun
Sikidang
Sileri
Sinila, berpotensi gas beracun
Timbang, berpotensi gas beracun

1. Kawah Sibanteng
Sibanteng terletak di Desa Dieng Kulon. Kawah ini pernah meletus freatik dua pada bulan Januari 2009,
menyebabkan kawasan wisata Dieng harus ditutup beberapa hari untuk mengantisipasi terjadinya bencana keracunan gas.
Letusan lumpurnya terdengar hingga 2km, merusak hutan milik Perhutani di sekitarnya,
dan menyebabkan longsor yang membendung Kali Putih, anak Sungai Serayu.
Sebelumnya Kawah Sibanteng meletus pada bulan Juli 2003.

2. Kawah Sikidang
Kawah Sikidang adalah kawah di DTD yang paling populer dikunjungi wisatawan karena paling mudah dicapai.
Kawah ini terkenal karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas.
Karena seringnya berpindah-pindah seperti rusa/ kidang, maka orang2 sekitar menyebutnya kawah sikidang (anak Kijang) .

3. Kawah Pagerkandang
Bila dilihat morfologinya dapat disimpulkan sebagai bekas kawah gunung berapi yang berbentuk kerucut.
Tubuh gunung telah runtuh akibat letusan dan punggung di sebelah utara sampai barat laut menjadi terbuka dan keluarlah bahan letusan.
Kegiatan vulkanik

4. Kawah Sileri
Kawah Sileri adalah kawah yang paling aktif dan pernah meletus beberapa kali (catatan yang ada 1944, 1964, 1984, dan Juli 2003).
Pada aktivitas freatik terakhir (26 September 2009) muncul tiga katup kawah yang baru disertai dengan pancaran material setinggi 200 meter.
juga merupakan cekungan yang terisi oleh bahan, letusan dari Pagerkandang (tahun 1944).
Dari morfologinya terlihat bahwa kawah ini merupakan lubang peletusan pindahan dari Kawah Pagerkandang.
Kawah Sileri merupakan kawah terluas. Air kawahnya bergolak,
mendidih persis seperti bekas cucian beras yang dalam bahasa Jawa disebut Leri, sehingga dinamakan Sileri

5. Kawah Sinila
Kawah Sinila terletak di Desa Dieng Wetan. Kawah Sinila pernah meletus pada pagi hari tahun 1979,
tepatnya 20 Februari 1979. Gempa yang ditimbulkan membuat warga berlarian ke luar rumah,
namun kemudian terperangkap gas yang keluar dari Kawah Timbang akibat terpicu letusan Sinila.
Sejumlah warga (149 jiwa) dan ternak tewas keracunan gas karbondioksida yang terlepas dan menyebar ke wilayah pemukiman.


6. Kawah Candradimuka
Kawah ini bukan merupakan kawah gunung berapi, melainkan pemunculan solfatar dari rekahan tanah.
Terdapat dua lubang pengeluaran solfatar yang masih aktif,
salah satunya mengeluarkan solfatar terus menerus sedangkan yang lain secara berkala.
Tempat ini dipakai untuk Upacara Ritual Ruwatan 1 Suro.
Terletak di desa Pekasiran Batur Banjarnegara.
Quote:•Oleh - oleh, makanan dan minuman khas

Dieng memiliki makanan dan minuman khas yang tidak dijumpai di wilayah lain.
Makanan ini 'wisata kuliner' khas Dieng.

1. Opak
Opak dibuat dari singkong rebus yang ditumbuk, diberi garam dan daun kucai, dibentuk tipis-tipis, dijemur lalu digoreng.
Namun tidak semua opak diberi daun kucai. Opak adalah kerupuk khas Wonosobo.
Pusat produksinya ada di desa Jolontoro kecamatan Sapuran.
Di pasaran dijual matang maupun mentah. Jika anda menggoreng sendiri, jangan sampai gosong.
Sebab dengan minyak yang cukup panas, opak mentah kering akan matang hanya dalam waktu kira-kira 7 detik.
Sekali goreng, kira kira satu genggam. Opak cocok untuk hidangan di rumah,
lebih enak sambil minum teh.
Ada yang menjual per kilogram, ini opak yang diurai.
Ada juga opak yang dirangkai dengan tali bambu. Harganya pun berbeda-beda.
Yang bagus ada yang Rp. 7.000,- per/kg. Satu kilogram opak mentah jika digoreng semua,
bisa mengembang menjadi dua atau tiga toples besar.

2. Mie Ongklok
Dari namanya bisa ditebak. Ini makanan dari mie. Namun mie yang satu ini sangat khas dan asli Wonosobo.
Cara penyajiannya mirip dengan mie ayam.
Bedanya, kalau mie ayam aromanya adalah ayam, sedang mie ongklok aromanya adalah udang kering/ebi.
Mie ongklok dibuat dari dari mie, kol/kubis, cabe, daun kucai dan kuah bumbu kental pedas.
Ada juga yang ditambah tahu bacem atau tempe kemul. Disajikan panas-panas.
Sekarang ini, mie ongklok banyak ditemani dengan sate.
Sebenarnya, itu makanan yang berbeda. Artinya, anda boleh saja membeli mie ongklok tanpa sate.
Sebab memang aneh, mie ongklok sebagai hidangan utama harganya lebih murah dibanding pelengkapnya, yaitu sate. Semangkok mie ongklok kira-kira harganya Rp. 3.500,- atau Rp. 4.000,- . Sedangkan satenya, satu porsi jelas lebih dari Rp. 3.500,-. Bagi yang tidak suka sate, biasanya membeli beberapa porsi mie ongklok dan satenya hanya satu atau dua porsi, atau tidak usah pakai sate sama sekali. Penjual yang baik biasanya bertanya, mau dengan sate apa tidak.
Pertama kali makan mie ongklok orang biasanya masih heran.
Sebab makanan ini kuahnya seperti lem kental. Namun kali yang berikutnya biasanya suka.
Banyak juga keluarga yang baru ada tamu atau saudara dari luar kota, rame-rame makan mie ongklok, sebagi sajian khas.
Penjual mie ongklok ada yang mangkal atau permanen dan ada pula yang didorong.
Seperti penjual mie ayam. Makanan ini biasanya siap dijual kira-kira mulai jam 09.00 sampai malam.
Jadi kalau anda mencari mie ongklok dibawah jam 09.00, biasanya masih jarang atau belum siap.
Sebenarnya banyak yang menjual mie ongklok. Namun ada diantaranya yang sudah terkenal.
Salah satunya adalah Pak Muhadi di Jl. A Yani, sebelah utara terminal lama. Di Kauman,
Longkrang dan seputar Rita Pasaraya juga ada.
Kemudian, untuk yang dorongan, banyak dijumpai di kampung atau perumahan di siang hari menjelang sore.

3. Tempe Kemul
Tempe kemul adalah tempe yang diselimuti atau 'dikemuli' dengan tepung yang diberi bumbu dan daun kucai.
Salah satu bumbunya adalah kunyit sehingga tempe kemul ini warnanya kuning, belang-belang hijau karena ada daun kucainya.
Tempe kemul ini spesifik Wonosobo, tidak ada di daerah lain.
Makanan ini sangat populer di Wonosobo sehingga sering djadikan snack pada saat ada rapat, gotong royong, kumpul-kumpul ataupun makanan sehari-hari di rumah.
Jarang sekali orang bosan dengan makanan yang satu ini.
Maklum, rasanya enak dan gurih. Apalagi dimakan dengan cabe rawit pedas.

4. Carica
Carica (dibaca: Karika) adalah pepaya khas Dieng. Salah satu tanaman endemik dieng.
Hanya tumbuh di daerah dingin. Carica ini mirip dengan buah pepaya (Carica Papaya)
Carica ini diolah dan dijadikan manisan carica.

5. Keripik Jamur
Sesuai dengan namanya, keripik jamur adalah jamur yang dibuat menjadi keripik.
Di Wonosobo, sejak dulu budidaya jamur sudah tidak asing lagi.
Selain sebagai bahan makanan basah, kini masyarakat Wonosobo sudah lebih inovatif dengan mengolah jamur menjadi keripik.

6. Kacang Dieng
Sesuai dengan namanya, kacang ini hanya ada di daerah Dieng dan sekitarnya.
Rasanya gurih, cocok untuk dimakan di perjalanan atau untuk oleh-oleh.
Ada yang menamai kacang ini dengan nama kacang babi.
Nama yang aneh, padahal tidak ada sangkut pautnya dengan babi.

7. Purwaceng
Purwaceng (Pimpinella Fraucan) adalah tanaman 'ginseng' ala Dieng.
Disamping sebagai obat tradisional, tanaman ini dijadikan minuman seperti kopi dan dipercaya dapat menambah vitalitas.

8. Teh
Sebenarnya di tiap daerah ada teh. Namun teh dari Wonosobo rasanya lain-dari yang lain. Terutama teh hitam produksi Tambi. Teh ini diekport ke manca negara. Namun sebagian di jual di pasaran lokal.
Pusat penjualannya adalah di koperasi PT Tambi Jl. Tumenggung Jogonegoro, Supermarket, di kios utara Pasar Induk atau di kios oleh-oleh,
seperti di Kertek. Ada kemasan dus dan ada kemasan plastik,
ukurannya bermacam-macam.
•Objek wisata lainya :

Quote:Museum Dieng Kailasa
menyimpan artefak dan memberikan informasi tentang alam (geologi, flora-fauna),
masyarakat Dieng (keseharian, pertanian, kepercayaan, kesenian)
serta warisan arkeologi dari Dieng.
Memiliki teater untuk melihat film (saat ini tentang arkeologi Dieng),
panggung terbuka di atas atap museum, serta restoran.

Dieng Plateau Theater (DPT)
teater untuk melihat film tentang kegunungapian di Dieng.
terletak di bukit sebelah barat telaga warna,
di puncak bukitnya bisa melihat pemandangan telaga warna dan pengilon

Air Terjun
Air terjun Sikarim yang merupakan terusan dari air telaga cebong.
terletak di tengah tengah antara desa sembungan dan desa mlandi garung.
perjalanan yang menarik jika kita berangkat dari desa sembungan,
karena berjalan dengan awan yg berada dibawah kita

Curug Sirawe
curug yg sejalur dengan air panas bitingan, berada di tengah tengah dieng - pekasiran

Puncak-puncak

Gunung Prahu (2.565 m)
Gunung Pakuwaja (2.395 m)
Gunung Bismo (2.486 m)
Gunung Sikunir (2.263 m), tempat wisata, dekat Sembungan

Gua
Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur.
Terletak di antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon,
sering digunakan sebagai tempat olah spiritual.

Sumur Jalatunda
sumur yang bukan buatan manusia ini terletak di desa pekasiran.
merupakan kepundan gunung berapi yang meletus dan terisi air menjadi sumur
dengan kedalaman 100 m dan mempunyai garis tengah kurang lebih 90 meter.
Konon Sumur Jalatunda merupakan salah satu pintu gaib menuju penguasa Laut Selatan.

Tuk Bima Lukar
Mata air Sungai Serayu, sering disebut dengan Tuk Bima Lukar (Tuk = mata air).

Watu Kelir
Situs berupa tembok batu yang menempel pada bukit tepat di atas Tuk Bima Lukar. Pada situs Watu Kelir ini juga terdapat tangga batu yang menghubungkan bagian bawah dengan bagian atas bukit. Situs ini dulunya diperkirakan berfungsi sebagai jalan masuk ke kelompok candi. Tangga berudak yang terbuat dari batu lebih memudahkan perjalanan ke bagian atas bukit.

Gangsiran Aswatama
Saluran air kuno yang terletak di Desa Pakasiran yang diduga fungsinya dulu untuk mengeringkan air danau yang menggenangi dataran tinggi Dieng.

Gardu Pandang Tieng
Dengan ketinggian 1800 m diatas permukaan laut, dari atas gardu pandang dapat menikmati pemandangan yang sangat indah, dan dipagi hari dapat pula melihat matahari terbit dengan cahaya keemasan atau dengan istilah “Golden Sun Rise” di pagi hari. Kalau dari arah wonosobo pasti melewati gardu pandang ini


•Daftar hotel yang ada di Wonosobo dan kawasan Dieng

Quote:Untuk booking atau informasi lebih lanjut, silahkan hubungi hotel yang anda inginkan

Wonosobo
1. Kresna Bintang IV Jl. Pasukan Ronggolawe No. 30 324111
2. Surya Asia Bintang II Jl. A. Yani No.137 322992
3. Bhima Bintang I Jl. a. Yani 321233
4. Sri Kencana Bintang I Jl. A. Yani No. 81 321551
5. Parama Bintang I Jl. A. Yani No. 112 321788
7. Dewi Bintang III Jl. A. Yani 321813
8. Kledung Pass Melati III Jl. Magelang Km 17
9. Nirwana Melati III Jl. Resimen 18 No. 36 321066
10. Duta Melati II Jl. R S U No. 3 321674
11. Petra Melati II Jl. A. Yani No.97 321447
12. Dieng Melati I JL. Bayangkara No. 39 322035
13. Asri Melati I Jl. Resimen 18 322476
14. Familiy Melati I Jl. Sumbing No. 16 321396
15. Pendawa Lima Melati I Jl. Resimen 18 No. 46 321257
16. Sindoro Melati I Jl. Sumbing No. 14 321179
17. Widuri Melati I Jl. Resimen 18 No. 44
18. Surya Melati I Jl. A. Yani No.6
19. Surabaya Melati I Jl. Raya Dieng 321181
20. Jawa Tengah Melati I Jl. A. Yani No. 62
21. Rahayu Melati I Jl. Resimen 18 No. 50 322431
22. Lestari Melati I Dieng
23. Mandala Wangi Melati II Jl. Bambang Sugeng Km 4 Mendolo 321813
24. Dieng Plateau Melati II Jl. Raya Dieng No. 16
25. Slamet Melati I Jl. M. Bambang Sugeng -

Dieng
1. Homestay Batu kelir - 08522750106 / 085227676444
2. Homestay Siti Hinggil - 08132700912/081227919080
3. Homestay Arjuna 1&2 - 08139239091 / 0286-3342038
4. Homestay Nusa Indah - 081226918123
5. Homestay Krisna - 085292168201
6. Homestay Pondok wisata lestari -085228272404 / 0286-3342026
7. Homestay Dieng Pass - 085291250250 / 085743461555
8. Homestay Flamboyan - 081327605040 / 081227552998
9. Homestay Dwarawati - 085227393190
10. Penginapan Bu Jono - 085310791967 / 085227389949
11. Penginapan Asri - 0286-3342034 / 085227444337
•Jalur/akses menuju Dieng

Quote:Bagi Anda yang ingin bertamasya ke Objek Wisata Alam dan Budaya di Kawasan Dataran Tinggi Dieng,
terdapat dua pilihan jalur kendaraan yang dapat digunakan.
Berikut ini adalah Peta Petunjuk Arah menuju ke Kawasan Wisata Dieng.

Jalur Wonosobo merupakan jalur favorit untuk menuju ke Dieng.
Jika dibandingkan dengan jalur dari banjarnegara,
jalur dari wonosobo relatif lebih pendek dan mudah untuk dijangkau serta jalan yang tidak terlalu berkelok.
Berikut merupakan akses untuk memasuki kota wonosobo :
Dengan kondisi alam yang sedemikian rupa,
satau-satunya jenis angkutan untuk menuju Wonosobo hanyalah angkutan darat.
Dahulu pernah ada kereta api jurusan Purwokerto, sekarang hanya tinggal rel-nya.
Meskipun demikian, transportasi ke dan dari Wonosobo relatif ramai.
Transporatsi dari luar kota dapat anda pilih, bis atau jenis travel.
Namun banyak juga yang mencarter taxi dari Semarang atau Yogyakarta.

Dari Semarang (Ibu kota Provinsi)
Di terminal antar kota Terboyo banyak terdapat bis yang melayani trayek Semarang - Purwokerto melalui Wonosobo.
Jaraknya sekitar 120 km dan waktu tempuh kira-kira 3.5 jam. Rutenya adalah :
(Semarang-Ungaran-Bawen-Ambarawa) - (Secang-Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo)


Dari Surakarta (Solo)
Walaupun tidak banyak bis langsung dari Solo ke Wonosobo namun ada beberapa perusahaan bis yang melayani trayek ini.
Anda dapat mendapatkan bis tersebut di terminal Tirtonadi jurusan Solo-Purwokerto via Wonosobo.
Jaraknya sekitar 180 km waktu tempuhnya kita-kira 6 jam. Jalurnya adalah :
(Solo-Kartasura) - (Boyolali-Ampel) - (Salatiga-Bawen- Ambarawa) - (Secang-Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo)


Dari Magelang
Jalur dari Magelang ini merupapakan jalur ke Wonosobo yang ramai.
Kira-kira sepuluh menit sekali ada bis yang datang dan pergi.
Bis terakhir kira-kira jam 19.00 berangkat dari terminal antar kota Magelang.
Jaraknya sekitar 65 km dengan waktu tempuh kira-kira 2 jam. Jalurnya adalah :
(Magelang-Secang) - (Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo)

Disamping itu, ada rute alternatif ke Wonosobo dari Magelang ini,
terutama untuk mempersingkat jalan dari Borobudur-Wonosobo.
Ada trayek micro bis langsung dari Magelang ke Wonosobo namun tidak sampai di kota Wonosobo,
melainkan hanya sampai di Sapuran, salah satu Kecamatan di Wonosobo.
Dari Sapuran ke Wonosobo jaraknya 18 km dan banyak sekali angkutan yang siap melayani anda.
Jalur Borobudur-Wonosobo ini sering dijadikan alternatif travel Borobudur - Wonosobo.

Dari Purworejo
Jalur dari purworejo tidak terlalu ramai, baik ramainya kendaraan maupun pemukiman.
Jalannya cukup baik namun berbelak-belok cukup tajam dan menanjak.
Tidak ada bis besar yang melayani trayek ini, tetapi banyak micro bis yang beroperasi.
Sejak terminal Purworejo pindah ke terminal baru,
bis jurusan Wonosobo tidak masuk di terminal antar kota Purworejo.
Micro bis jurusan Wonosobo biasanya mangkal di terminal lama atau di Purworejo Plaza.
Jika anda dari arah Yogyakarta, silahkan turun di pertigaan Don Bosko,
naik angkota dan turun di terminal lama atau di komplek Purworejo Plaza.
Jarak Purworejo-Wonosobo sekitar 50 km dan waktu tempuh sekitar 2 jam. Jalurnya adalah :
(Purworejo-Loano) - (Kepil-Sapuran-Kalikajar-Kertek-Wonosobo)

Jika anda naik kendaraan pribadi, harap hati-hati sebab jalur ini walaupun agak sempit,
banyak truk yang biasanya mengangkut kayu.

Dari Yogyakarta
Tidak ada trayek langsung dari Yogyakarta ke Wonosobo.
Namun karena jalur Yogyakarta - Magelang - Semarang sangat ramai,
dengan sendirinya dari Yogyakarta ke Wonosobo menjadi sangat mudah.
Dari terminal Umbulharjo, atau dari terminal Jombor,
naik bis jurusan Magelang dan turun di terminal antar kota Magelang, baru ke Wonosobo.
Total jarak sekitar 120 km dan waktu tempuh kira-kira 3.5 jam. Jalurnya adalah :
(Yogyakarta-Sleman-Tempel) - (Secang-Magelang) - (Temanggung-Parakan) (Kertek-Wonosobo)

Selanjutnya ikuti jalur dari Magelang.
Dari Yogyakarta ke Wonosobo, disamping lewat Magelang,
anda juga dapat lewat jalur Purworejo. Dari Terminal Umbulharjo atau Nggamping,
naik bis jurusan Purworejo dan baru melanjutkan ke Wonosobo.
Total jarak sekitar 120 km dengan waktu tempuh sekitar 3.5 jam. Rutenya adalah :
(Yogyakarta-Sentolo-Wates) - (Purworejo). Selanjutnya ikuti jalur dari Purworejo


Dari Purwokerto
Merupakan jalur yang ramai. Ada banyak bis yang melayani trayek ini.
Untuk jalur ini, kira-kira setiap sepuluh menit ada bis yang datang dan pergi.
Ada bis yang hanya melayani trayek Purwokerto-Wonosobo dan ada trayek Purwokerto-Semarang lewat Wonosobo.
Anda bisa mendapatkan bis jurusan Wonosobo di terminal utama Purwokerto.
Jaraknya sekitar 120 km dan waktu tempuh sekitar 3 jam. Jalurnya sebagai berikut:
(Purwokerto-Sokaraja) - (Purbalingga-Bukateja) - (Klampok-Banjarnegara) - (Selomerto-Wonosobo)

Dari Kebumen
Meskipun masih langka, sebenarnya ada jalur langsung Wonosobo-Kebumen.
Jalurnya berbelok-belok dan naik turun.
Anda dapat mendapatkan bis jurusan Wonosobo-Kebumen di terminal antar kota Wonosobo namun hanya beberapa buah saja.
Jaraknya sekitar 65 km dengan waktu tempuh sekitar 2.5 jam. Jalurnya sebagai berikut :
(Kebumen) - (Wadaslintang-Kaliwiro-Selomerto-Wonosobo)

Dari Pekalongan / Banjarnegara
Ke Dieng bisa diakses dari Banjarnegara dan juga Pekalongan. Kalau dari tapi kalau dari Pekalongan bisa ke arah selatan melalui linggo asri, paninggaran, kalibening, wonoyoso, batur, dan terakhir sampai dieng.
dari Pekalongan naik bis kecil jurusan kalibening, turun di pertigaan wonoyoso. Dari wonoyoso ganti angkutan umum ke batur, turun di pasar batur ganti lagi bus kecil ke dieng.
(Kajen - Linggo asri) - (Paninggaran - Kalibening - Wonoyoso) - (Batur - Dieng)

Dari Jabodetabek
Trayek Jabotabek Wonosobo dilayani oleh banyak armada yang terdiri dari berbagai perusahaan oto bis.
Anda bisa mendapatkan bis tersebut di terminal:
Pulo Gadung, Kp Rambutan, Bekasi, Lebak Bulus, Cimone, Merak dan Bogor.
Dengan jarak 520 km, dari sekitar wilayah Jakarta,
bis biasanya berangkat sekitar pukul 17 wib dan sampai di Wonosobo menjelang fajar.
Quote:
Spoiler for map:


Spoiler for map:


Spoiler for map:


Quote:Kawah Sikidang
Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Quote:Tuk Bimo Lukar
Spoiler for dieng:


Quote:Kawah Condrodimuko
Spoiler for dieng:


Quote:Sumur Jalatunda
Spoiler for dieng:


Quote:Kawah Sileri
Spoiler for dieng:


Quote:Hasil Bumi
Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:



Quote:Kuliner
Spoiler for kuliner:


Spoiler for kuliner:

Quote:Sikunir
Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:



Quote:Telaga Cebong
Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:



Quote:Telaga Merdada
Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Quote:Telaga Warna
Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:



Quote:Gimbal Dieng
Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Quote:Telaga Dringo
Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:



Quote:Candi Candi
Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:



Quote:Telaga Menjer
Spoiler for dieng:


Quote:DPT
Spoiler for dieng:


Quote:More Pict
Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:
Quote:Tempo Doeloe

Quote:
Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:




Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:


Spoiler for tempo dulu:
_________________________________________
Tragedi Sinila 20 Februari 1979

Quote:Kawah Sinila yang terletak didesa Dieng Wetan (timur), tiba-tiba meletus dan menyemburkan gas beracun ‘karbon monoksida’ (CO) yang sangat mematikan. Tercatat 149 jiwa tewas dalam musibah yang kemudian dinyatakan sebagai musibah nasional.

Quote:
Spoiler for sinila:


Spoiler for sinila:


Spoiler for sinila:




_
_


★ Situs Ondho Budho ★


Quote:Berupa bangunan tangga batu kuno yang terletak diantara desa Siterus dan desa Sembungan. Konon tangga ini digunakan sebagai jalan pintas dari dieng menuju desa Sembungan. Sekarang komplek ini dikelilingi pohon cemara , pinus dan areal pertanian warga. Situs kuno ini merupakan obyek yang jarang dikunjungi oleh wisatawan di Dieng

Spoiler for Ondho Budho:


Spoiler for Ondho Budho:


courtesy : Tropenmuseum, Amsterdam NL
-
-

Gunung Pakuwaja


Quote:Gunung Pakuwaja atau orang Dieng menyebutnya dengan logat "Pakuwojo". merupakan salah satu rangkaian gunung kecil di datarang tinggi Dieng yang terletak sejajar dengan gunung Kendil, gunung Prambanan dan bukit Sikunir di sebelah selatan dengan ketinggian 2395 mdpl.
Konon gunung ini merupakan "paku" nya Jawa. Di tengah gunung ini terdapat sebuah batu menjulang tinggi dr permukaan gunung. Orang Dieng mempercayai bahwa batu tersebut adalah "paku" nya Jawa.
Di kanan kiri batu tersebut merupakan bekas telaga yang mengering beberapa tahun silam dan konon airnya berpindah mengalir ke bawah, yaitu ke telaga Cebong.
Candi-candi di Dieng dibangun dengan menggunakan batu Andesit yang berasal dari gunung Pakuwaja ini. Melalui situs tangga batu kuno "Ondho Budho" batuan Pakuwaja dibawa menuju Dieng.
Trekking ke gunung Pakuwaja tidaklah sulit. Untuk mendaki gunung ini paling cepat dan mudah lewat jalur desa Sembungan. Kemudian menyusuri lereng yang dipenuhi perkebunan kentang. Banyak petani setempat yang bisa membantu menuju puncak pakuwaja, karena mendekati puncakpun merupakan areal perkebunan kentang warga Sembungan. Waktu tempuh kira-kira 30 menit dari sembungan ke puncak.
Gunung pakuwaja sering digunakan untuk ritual atau semedi, banyak dijumpai bunga dan dupa di batu besar tersebut.



Quote:
Spoiler for Pakuwaja:


Spoiler for Pakuwaja:


Spoiler for Pakuwaja:


Spoiler for Pakuwaja:


Spoiler for Pakuwaja:


Spoiler for Pakuwaja:


Spoiler for Pakuwaja:


Spoiler for Pakuwaja:
_
Tragedi Lenyapnya Desa Legetang 16/17 April 1955
Longsoran Tanah yang Bisa "Terbang"


Quote:Dukuh Legetang adalah sebuah daerah di lembah pegunungan Dieng, sekitar 2 km ke utara dari kompleks pariwisata Dieng Kabupaten Banjarnegara. Dahulunya masyarakat dukuh Legetang adalah petani-petani yang sukses sehingga kaya. Berbagai kesuksesan duniawi yang berhubungan dengan pertanian menghiasi dukuh Legetang. Misalnya apabila di daerah lain tidak panen tetapi mereka panen berlimpah. Kualitas buah/sayur yang dihasilkan juga lebih dari yang lain.

Namun barangkali ini merupakan "istidraj" (disesatkan Allah dengan cara diberi rizqi yang banyak dan orang tersebut akhirnya makin tenggelam dalam kesesatan). Masyarakat dukuh Legetang umumnya ahli maksiat dan bukan ahli bersyukur. Perjudian disana merajalela, begitu pula minum-minuman keras (yang sangat cocok untuk daerah dingin).

Tiap malam mereka mengadakan pentas Lengger (sebuah kesenian yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung kepada perzinaan). Anak yang kimpoi sama ibunya dan beragam kemaksiatan lain sudah sedemikian parah di dukuh Legetang.

Suatu malam turun hujan yang lebat dan masyarakat Legetang sedang tenggelam dalam kemaksiatan. Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara "buum", seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pagi harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa jawanya: tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang. Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit.

Lenyapnya desa Legetang dan penghuninya juga menyimpan misteri. Antara kaki gunung sampai perbatasan kawasan pemukiman di dusun itu sama sekali tidak tertimbun, padahal jaraknya beberapa ratus meter. ”Longsoran tanah itu seperti terbang dari lereng gunung dan jatuh tepat di pemukiman.
Seandainya gunung Pengamun-amun sekedar longsor, maka longsoran itu hanya akan menimpa dibawahnya. Akan tetapi kejadian ini bukan longsornya gunung. Antara dukuh Legetang dan gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang.
Seluruh penduduknya mati. Jauh melebihi korban tewas akibat bencana gas beracun kawah Sinila tahun 1979 yang merenggut 149 nyawa. Gegerlah kawasan Dieng.

Gejala lereng gunung akan longsor sudak diketahui 70 hari sebelum kejadian. Para pencari rumput pakan ternak dan kayu bakar untuk mengasap tembakau rajangan di samping untuk memasak, melihat ada retakan memanjang dan cukup dalam di tempat itu. Tapi tanda-tanda tadi tak membuat orang waspada, meski sering jadi bahan obrolan di Legetang waktu itu.

Tak ada sedikit pun bagian rumah yang kelihatan. Tanda-tanda kehidupan penghuninya juga tak ada. Alam Legetang sebagian besar cekung. Tanah dari lereng gunung seakan diuruk ke cekungan itu dan meninggi dibanding tanah asli disekitarnya. Setelah dilakukan penggalian cukup lama oleh warga, tapi tak sedikit para korban dibiarkan terkubur, karena amat sulit dievakuasi.

Kini tanah lokasi bencana itu sedikit demi sedikit digarap warga untuk budidaya tembakau dan sayur. Sekitar 1980, ketika kentang menggusur tanaman tembakau dan jagung di pegunungan Dieng, bekas dusun Legetang pun berubah jadi ladang kentang dan kobis, termasuk tanah kuburan umum milik bekas dusun tersebut.

Kini diatas bukit bekas dukuh Legetang dibuat tugu peringatan.
Ditugu tersebut ditulis dengan plat logam:
"TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955"



Akhir November tahun lalu saya menyempatkan mengunjungi bekas dukuh Legetang tersebut. “Beautiful, Misty and Mysterous. Cantik, berkabut dan misterius. Dan kata terakhir dalam kalimat tersebut cukup menggambarkan Legetang. Jalan menuju Legetang cukup lebar, tetapi kecuraman dan jalan yang masih terbuat dari batu serta bahu jalan adalah sebuah jurang membuat saya harus berhati-hati karena licin sehabis hujan.
Disekitar lokasi saya sempat ngobrol dengan beberapa petani. Bahwa salah satu diantara petani tersebut pernah menemukan 10 lembar seng (atap rumah) bekas rumah yang terkubur puluhan tahun silam dan beberapa potongan tulang manusia sewaktu menggarap lahan yang dulunya bekas desa legetang itu.
Dan puncak gunung Pengamun-amun yang berpindah itu sekarang masih bisa dijumpai, berada disebelah tenggara tugu peringatan. Berupa gundukan tanah kecil mengerucut yang ditumbuhi tanaman "waluh jipang". Penduduk sekitar sering memetik buah waluh jipang dan daunya untuk dijadikan sayuran dirumah


Quote:
Spoiler for Legetang:


Spoiler for Legetang:


Spoiler for Legetang:


Spoiler for Legetang:


Spoiler for Legetang:


Spoiler for Legetang:


Spoiler for Legetang:


Spoiler for Legetang:


Spoiler for Legetang:


Spoiler for Legetang:

-
-

★★★ Lengenda Bajang Dieng ★★★


Quote:Adalah Legenda rakyat di kawasan dataran tinggi Dieng. Datangnya rambut gembel yang diturunkan oleh Ratu Kidul penguasa Laut Selatan dan dititipkan kepada Tumenggung Kolo Dete kepada keturunannya menjadi sebuah tradisi yang sacral bagi masyarakat kawasan Dataran Tinggi Dieng.

Kakek Moyang Rambut Gembel
Pada masa kerajaan medang Kamulyan, sebelum Majapahit sesudah Kediri datanglah 6 orang panglima perang dari Kraton Jogjakarta dengan tujuan mengasingkan diri berbekal beras merah dan air putih. Mereka memilih kawasan Dieng karena mereka menganggap bahwa Dieng adalah tempat yang sempurna untuk meminta kepada Sang Hyang agar semua permintaannya dikabulkan. Adapun ke enam orang itu adalah :
1.\tTumenggung Kolo Dete
2.\tBuyut Citra (Dieng)
3.\tMbah Rewok (Dieng)
4.\tKyai Jagang Jaya (Dieng)
5.\tNoto Yudho (Karangtengah)
6.\tMangku Yudho (Karangtengah)

Ke enam inilah yang nantinya menjadi cikal bakal kawasan Dieng. Perjuangan mereka membuka lahan dan mengabdikan diri kepada Sang Hyang baik siang maupun malam tanpa mengenal lelah. Akhirnya terkabulkanlah oleh Sang Hyang sehingga tercipta Dieng.

Diantara enam orang tersebut terdapatlah kakek moyang rambut gembel yaitu Tumenggung Kolo Dete yang semasa hidupnya di beri amanat oleh Nyi Ratu Kidul untuk menitipkan rambut gembel yang pada akhirnya akan diminta kembali oleh Nyi Ratu Kidul. Selang beberapa waktu Tumenggung Kolo Dete, mukswa (mati tanpa meninggalkan raga) tahun1561 saka atau tahun 1628 Masehi di Gunung kendil (Pertapaan Giri Kala Wacana) dan diangkat oleh Sang Hyang menjadi penguasa di kawasan Tinggi Dieng. Sepeninggal Tumenggung Kolo Dete, Dieng dititipkan kepada kelima panglima tersebut dan seluruh anak cucunya untuk merawat dan melestarikan kawasan Dieng. Beliau juga berpesan bahwa seluruh anak cucu beserta keturunannya akan dititipi rambut gembel. Yang suatu saat akan di minta kembali oleh Nyi Ratu Kidul.

Mendapat pesan dari Tumenggung Kolo Dete, kelima panglima itu bingung. Mereka menanyakan satu sama yang lain, mereka bersepakat untuk bersemedi untuk mencari petunjuk. Dalam bersemedi kelima panglima tersebut memilih tempat masing2 sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh Tumenggung Kolo Dete.

Mbah Buyut Citra bersemedi di pertapan Giri Kalawacana (Gunung Kendil)
Mbah Rewok (Dieng) bersemedi di Goa Semar
Kyai Jagang Jaya (Dieng) bersemedi di Candi Bima
Noto Yudho (Karangtengah) bersemedi di Telaga Warna
MAngku Yudho (Karangtengah) bersemedi di Bima Lukar
Sekembalinya dari semedinya , masing2 mereka mengutarakn apa yang mereka dapatkan.

Datangnya Rambut Gembel
Dalam semedinya Mbah Buyut Citra mendapat bisikan bahwa rambut gembel pada keturunannya akan ditandai dengan sakit panas yang sangat tinggi pada usia 2 tahun, selama 2 minggu dan bisa sembuh tanpa obat. Hal itu terus berulang kali setiap akan tumbuh Gembel. Maka Mbah Buyut Citra menyarankan kepada seluruh penghuni kawasan Dieng sampai keturunannya bahwa keturunannya akan kelak akan mendapatkan titipan dari Tumenggung Kolo Dete berupa rambut Gembel yang nantinya akan diminta kembali dari Ratu Kidul. Rambut Gembel yang tumbuh pada keturunannya adalah sebuah anugerah yang diberikan kepada anak anak terpilih

Ruwat Rambut Gembel (Cukur)
41 hari 41 malam Mbah Rewok bersemedi , beliau ditemui oleh sesosok Tumenggung Kolo Dete yang berpakaian jubah putih berambut panjang berucap “ Rambut Gembel pada keturunan mu harus di ruwat, dan anak yang diruwat harus memakai kain putih beralaskan kain putih yang dipayungi payung rotak (payung kertas) di taburi beras kapurata (beras yang ditumbuk dengan kunyit dan kencur), namun sebelum diruwat apa yang diminta si anak harus dipenuhi. Jika tidak akan sakit dan tumbuh Gembel kembali Potongan rambut tersebut harus diletakan dalam cawan putih berisi air dari Bima Lukar di sertai Bunga Setaman agar rambut Gembel diterima Nyi Ratu Kidul dalam keadaan suci”. Setelah itu Mbah Rewok merasa lega atas apa yang dirisaukannya.

Sesaji Rambut Gembel
Sekembalinya ki Jagang Jaya, Noto Yudho, dan Mangku Yudho dari semedinya , mereka pun mengutarakan apa yang di dapatinya kepada mbah Citra dan Mbah Rewok.

Kyai Jagang Jaya berkata “ sebelum rambut Gembel dipotong, semua kerabat dan saudara harus memberi beberapa sesaji berupa tumpeng robyong, yang melambangkan persatuan agar sanak saudara bersatu menjaga dan mengutamakan kebersamaan dalam kehidupan, tumpeng rombyong ini dipersembahkan untuk Nyi Robyon dan Ki Robyong yang sudah menjaga Rambut Gembel dari datangnya sampai dikembalikan rambut Gembel kepada Nyi Ratu Kidul, kemudian tumpeng kalung, agar anak yang diruwat gembelnya mendapat rejeki dari yang Maha Kuasa, selanjutnya panggang Ayam “sarana untuk membersihkan jiwa anak dari ganggua roh jahat yang mengelilinginya”, dan yang terakhir adalah “jajan pasar” kelak anak yang diruwat lekas cepat besar dan berpikiran dewasa dalam menemukan jalan kehidupan, itulah sesaji yang dipenuhi agar terbebas dari kesukaran,

Larungan Rambut Gembel
Tidak ketinggalan Noto Yudho dan Mangku Yudho mengutarakan hal yang senada, Rambut Gembel yang sudah di ruwat harus dilarung agar sampai ke Nyi Ratu Kidul, untuk itu mereka menunjukkam tempat mana yang terdapat air, yang mengalir ke pantai Selatan. Maka dipilihlah telaga warna, kaleran telaga ini memiliki arti tersendiri diantaranya adalah :

Warna merah melambangkan amarah
Warna hitam melambangkan sofiah
Warna putih melambangkan mutmainah
Warna kuning melambangkan alulamah
Dan warna hijau yang melambangkan pancer (penyatu sifat warna).
Karena rambut mengandung 4 (empat) sifat yang sama dengan warna telaga warna, jadi mereka setuju untuk melarung rambut Gembel di telaga warna.

Semenjak itulah muncul rambut gembel di dataran tinggi Dieng, denga kepercayaan dan keyakinan dari masyarakat, ruwat rambut Gembel di jadikan tradisi yang berlangsung secara turun temurun sampai saat ini.

Sumber: Buku Legenda Bajang Dieng
Nara sumber : Bpk Rusmanto (Juru kunci / Sesepuh Dieng) & Bpk Kuswanto (sesepuh dan penghayat kebudayaan Dieng).


Quote:Gimbal Dieng
Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:


Spoiler for dieng:
-

selamat buang mang anto a.k.a koboi insap a.k.a stressmetal
atas terpilihnya sebagai pemenang Djarum Super Blog Contest
kategori "Pemenang Peserta Teraktif" dengan 24 Artikel

2 spot terindah dieng mewakili untuk kemenangan tersebut

para pemenang

Sunrise Yang Terlewat, Kabut Yang Menghampiri (Gunung Sikunir, 2350 mdpl, 18 Juni 2011)

Mengunjungi Taman Bunga Di Tengah Ketinggian (Gunung Prau, 2565 mdpl, 18-19 Juni 2011)

okeh tenan le reserved
silakan ngepost di page berikutnya ya
×