KASKUS

Thumbs up ---[share]wewengkon cirebon(berdasar peta 1857) [UPDATE TERUS]---

Quote:mohon maaf bila saya ada salah2,saya hanya bermaksud untuk lebih mengenalkan agan2 terhadap kota wali yang 1 ini..

Spoiler for cirebon:



berikut adalah thread ane..
Dan ini nama-nama “kota kecamatan” yang ada di Karesidenan Cirebon (1856)
.
Spoiler for cirebon lama:




Spoiler for wewengkon kerajaan cirebon:


*bukti banten dikuasai cirebon:
Berdasarkan riset ini juga diketahui bahwa daerah ini (banten_red) berkembang pesat pada abad ke-16 saat Islam masuk pertama kali di wilayah ini. Perkembangan pemukiman ini kemudian meluas atau bergeser ke arah Serang dan ke arah pantai. Pada daerah pantai inilah kemudian didirikan Kesultanan Banten oleh Sunan Gunung Jati. Kesultanan ini seharusnya menguasai seluruh bekas Kerajaan Sunda di Jawa Barat. Hanya saja Sunda Kalapa atau Batavia direbut oleh Belanda serta Cirebon.



Spoiler for kampung cirebon:



Cerita mitos, yang diduga paling tua pada masa awal Islamisasi daerah Banten, adalah terkait dengan cerita asal usul sebuah kampung yang bernama Kecirebonan. Kampung ini didirikan oleh Kibuyut ‘Afil atas perintah Syarif Hidayatullah, yang kelak dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati.

Untuk melaksanakan perintah tersebut, Kibuyut ‘Afil pergi dari Cirebon ke Banten atas bimbingan gaib Sinuhun Panembahan Maulana Syarif Hidayatullah gelar Sunan Gunung Jati. Setibanya di Banten, Kibuyut ‘Afil mulai mencari sebuah tempat untuk dijadikan tempat tinggal Syarif Hidayatullah.

Sementara itu, dari Cirebon Syarif Hidayatullah melemparkan sebuah tongkat ke arah Banten. Lemparan itu dilakukan oleh Syarif Hidayatullah seiring dengan keberangkatan Kibuyut ‘Afil ke Banten. Tongkat itu jatuh di sebuah tempat yang sekarang bernama Kecirebonan dan di tempat itulah Kibuyut ‘Afil mendirikan tempat tinggal untuk Syarif Hidayatullah.

Ketika Syarif Hidayatullah tiba di Banten untuk mengislamkan daerah ini, ia tinggal di kampung yang yang telah didirikan oleh Kibuyut ‘Afil. Setelah memandang anaknya, Maulana Hasanudin, cukup ilmu untuk menyebarkan agama Islam, Syarif Hidayatullah meninggalkan Banten dan kembali Cirebon. Sementara itu, kampung sebagai tempat tinggal Syarif Hidayatullah terus dijaga oleh Kibuyut ‘Afil sampai ia meninggal dunia.

Oleh karena itu, sampai sekarang kampung itu dinamai kampung Kacirebonan.

keterangan,


RESIDENTIE CHERIBON [1856]
Afdeeling Cheribon: 1 Kota Cheribon, 2 Loewar Kota, 3 Ploembon,
4 Beber, 5 Mandi Rantja, 6 Sindang Laoet, 7 Losari, 8 Gegesik.

Afdeeling Madjalengka: 9 Madjalengka, 10 Radja Galoe, 11 Djatiwangi,12 Palimanan, 13 Madja, 14 Telaga.

Afdeeling Koeningan: 15 Koeningan, 16 Kadoe Gede, 17 Lebak wangi, 18 Tjiawigebang, 19 Loerahagoeng

Afdeeling Galoe: 20 Tjiamies, 21 Kawali, 22 Pandjaloe, 23 Rantja

Afdeeling Indramajoe: 24 Indramajoe, 25 Karamgampel, 26 Sleman
Particulier Land Indramajoe: 27 Passekan, 28 Lobener, 29 Oedjoeng, 30 Djati Toejoe
Particulier Land Kandang Hawor: 31 Lelea, 32 Losarang, 33 Kandang Hawor, 34 Loewoeng Malang

Menurut tradisi lisan yang berkembang di Majalengka, perubahan nama Sindangkasih menjadi Majalengka terjadi setelah Nyi Rambut (Ambet) Kasih – tokoh mitos yang dianggap sebagai penguasa pertama di Sindangkasih – ngahiang (menghilang). Diduga hal itu terjadi pada pertengahan abad ke-16 [Bukan 1490?--Tatang. Kalau abad ke-16, ya Nyi Ambet/Rambut Kasih tidak sedang "men-sugih muktikan Sindang Kasih"--men-1490-kan!]

Uraian tersebut – meskipun secara garis besar – mengandung arti, bahwa secara metodologis, pemilihan tanggal 7 Juni 1490 sebagai hari jadi Kabupaten Majalengka, jelas salah. Walaupun tanggal 7 Juni (1490) dianggap sebagai hari jadi Majalengka, tanpa embel-embel kabupaten, tanggal itu tetap salah. Letak kesalahannya, tanggal itu tidak mengacu pada fakta/momentum yang seharusnya menjadi dasar acuan, baik fakta pembentukan Kabupaten Maja, maupun momentum perubahan nama Sindangkasih menjadi Majalengka.

Biar tambah parusingeun urang Majalengka, tah ini nukilan internet tentang Nyi Rambut Kasih yang lain (Versi Sumedang Larang)

Konon, menurut legenda, Prabu Tajimalela yang bergelar Batara Tuntang Buana atau Resi Cakrabuana, saat itu memiliki tiga orang putra, masing-masing Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Ulun (Catatan: Sunan Ulun Bukan Prabu Geusan Ulun/Raden Angka Wijaya Raja Sumedang Larang Terakhir ). Berdasarkan naskah “Layang Darmaraja” (layang = surat; dokumen), untuk menyerahkan tahta kerajaan kepada salah seorang putranya, Prabu Tajimalela mengadakan sebuah ujian untuk Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung, tapi ketiga (kedua?–Tatang) putranya itu ternyata tidak berkehendak menjadi raja. Sedangkan Sunan Ulun memilih menjadi Resi/Sunan/Ulama dan hijrah ke Talaga, Majalengka untuk menyebarkan ketauhidan dibantu oleh ibunya/istri Prabu Tajimalela (Ratu Endang Kasih/Ratu Rambut Kasih) yang berasal dari keturunan Sanghyang Talaga Majalengka. [Nah, jadi wajar kalau ada orang Talaga yang mengatakan bahwa menurut tradisi lisan, Ratu Rambut Kasih teh ngahiang (lenyap) di Sangiang, Talaga--Tatang].

Supaya tambah bingung, ini ceritera lain nu aya di internet (Maaf, bahasanya diedit lagi sebagian!).

Sekitar tahun 1480 (pertengahan abad XV) Masehi di Desa Sindangkasih, tiga kilometer arah selatan dari kota Majalengka, bersemayam seorang ratu yang bernama Nyi Rambut Kasih keturunan Prabu Siliwangi, yang masih teguh memeluk Agama Hindu.

Ratu masih bersaudara dengan Rarasantang, Kiansantang dan Walangsungsang, yang kesemuanya telah masuk agama Islam. Keberadaan Nyi Rambut Kasih di daerah Majalengka adalah bermula untuk menemui saudaranya di daerah Talaga yang bernama Raden Munding Sariageng, suami dari Ratu Mayang Karuna yang waktu itu memerintah di Talaga. Di perbatasan Majalengka – Talaga, Ratu mendengar bahwa daerah Talaga (kerajaan Talaga, mencakup Maja dan bagian selatan Majalengka–Pen) sudah masuk Islam. Oleh karena itu Ratu mengurungkan maksudnya ke Talaga, dan menetaplah Ratu tersebut di Sindangkasih (mendirikan kerajaan????–memang punya siapa?–Pen.), dengan daerahnya meliputi Sindangkasih, Kulur, Kawunghilir, Cieurih, Cicenang, Cigasong, Babakanjawa, Munjul dan Cijati. (Tuh, jadi Kawunggirang masuk Talaga).

Kira-kira tahun 1485 putera Raden Rangga Mantri ( Raja Kerajaan Talaga–Pen.) yang bernama Dalem Panuntun diperintahkan menjadi Dalem di Majalengka (Nah, lho, bukannya Sindangkasih menjadi bawahan Kerajaan Talaga, kalau begitu???–Pen.), yang membawa akibat pemerintahan Nyi Rambut Kasih terjepit oleh pengaruh Agama Islam. (Sahibul hikayat yang lain menyebut tahun 1529 orang tua Dalem Panuntun (Panungtung?), yaitu Ratu Sunyalarang dan Raden Ragamantri masuk Islam. Lucu, ya?! Jadi, kan setelah Sindangkasih “langka” (1490) baru pada masuk Islam, dan mengirim Dalem Panuntun ke Sindangkasih (setelah hilang?!).

[Nah, tambah "pabaliut" lagi dengan ceritera ini: Akir abad XV Masehi, Majalengka telah berpenduduk Islam. Beliau sebelum wafat telah menunjuk putra-putranya untuk memerintah di daerah-daerah kekuasannya seperti halnya: Sunan Wanaperih untuk memegang tampuk di Walangsuji, Dalem Lumaju Agung di kawasan Maja, Dalem Panuntun di Majalengka, sedangkan putra pertamanya ialah Prabu Haurkuning di Talaga yang selang kemudian di Ciamis.]

Kemudian lagi pada tahun 1489 utusan Cirebon, Pangeran Muhammad dan isterinya Siti Armilah atau Gedeng Badori diperintahkan untuk mendatangi Nyi Rambut Kasih dengan maksud agar Ratu maupun Kerajaan Sindangkasih masuk Islam dan Kerajaan Sindangkasih masuk kawasan kesultanan Cirebon. Nyi Rambut Kasih menolak, timbul pertempuran antara pasukan Sindangkasih dengan pasukan Kesultanan Cirebon. Kerajaan Sindangkasih menyerah (cetak tebal dari pengutip–Tatang) dan masuk Islam, sedangkan Nyi Rambut kasih tetap memeluk agama Hindu. Mulai saat inilah (cetak tebal dari Pengutip) ada Candra Sangkala “Sindang Kasih Sugih Mukti” tahun 1490.


hanya share,jika ada pemberian 'good reputation point' (GRP),saya jga tidak menolak.

terima kasih.

matursuwun sanget kagem mas, ingkang kula mboten sumerep wastanipun, ingkang sampum ngupahi ijem2 kagem kula..



sumber:
Spoiler for sembur:


ternyata ada yang kasih cendol....
Spoiler for terima kasih:



UPDATE PADA HALAMAN KE 2....
Wah..kebetulan ane punya Naskah kuno dari Babad Cirebon,nih.

Ini cuplikannya;

Spoiler for Dandanggoelo:
hem keren juga petanya gan, jd sebenernya yang menguasai bekasi dan seputaran jabodetabek adalah cirebon ya gan?bukan banten?
Quote:Original Posted By zeth
Wah..kebetulan ane punya Naskah kuno dari Babad Cirebon,nih.

Ini cuplikannya;

Spoiler for Dandanggoelo:



hmmm,,,dandanggulo..matursuwun mas, tambahanipun sae..


Quote:Original Posted By prabuanom
hem keren juga petanya gan, jd sebenernya yang menguasai bekasi dan seputaran jabodetabek adalah cirebon ya gan?bukan banten?



yang jelas, islamisasi diwilayah2 itu dilakukan oleh orang2 dari kerajaan cirebon mas. dibawah pimpinan langsung Sunan Gunung Djati (Syarif Hidayatullah)..
maka'a daerah2 sekitaran situ kental akan kebudayaan2 yang sebenar'a warisan kerajaan islam kacirebonan..


saumpami wonten punapa2 ingkang sawon, kula nyuwunpun ageng pangapunten mas..
Quote:Original Posted By Foxadit
hmmm,,,dandanggulo..matursuwun mas, tambahanipun sae..





yang jelas, islamisasi diwilayah2 itu dilakukan oleh orang2 dari kerajaan cirebon mas. dibawah pimpinan langsung Sunan Gunung Djati (Syarif Hidayatullah)..
maka'a daerah2 sekitaran situ kental akan kebudayaan2 yang sebenar'a warisan kerajaan islam kacirebonan..


saumpami wonten punapa2 ingkang sawon, kula nyuwunpun ageng pangapunten mas..


wah saya malah bener bener ga tau mas, hehehe makanya saya nanya. terimakasih jawabannya mas . monggo dilanjut mas
Maap gan, ada yg janggal ama tulisannya. Disebutkan Islam masuk Banten abad 16 ? Sedangkan Banten menyerang Pajajaran atas dasar penyebaran Islam itu abad 15, buktinya banyak gan di sejarah umum. Banten didirikan bersamaan dengan Cirebon atas dasar perkembangan pengaruh Demak, oleh karena itu, ketika Banten menyerang Pajajaran petama kalinya mengalami kekalahan, lalu meminta bantuan pd Cirebon dan Demak.

Mengenai wewengkon itu bukan berarti Banten bawahan Cirebon ya, karena pd saat itu sistem kerajaan Islam seperti ke khalifahan, lebih merupakan mitra, Keslutanan Banten itu mandiri juga Cirebon, namun lebih tepat disebut Banten berkiblat pd Cirebon dan Cirebon berkiblat pd Demak.

Juga ttg budaya yg agan bilang sekitar bekasi jabodetabek merupakan banyak budaya Cirebon, jg ga bener gan, Cirebon baru berdiri abad 14 itu pun masih dibawah Pajajaran seperti sebelumnya sama seperti daerah2 lain di jawa barat skrg dengan masih memberikan upeti pd Pajajaran, sebelum itu Cirebon adalah merupakan dukuh kecil, berarti yg benar adalah budaya Sunda yg ada di sekitar jabodetabek, dan seluruh wilayah jawa barat skrg. Sebaliknya budaya Cirebon adalah perpaduan budaya Jawa dan Sunda terbukti pd kultur masyarakat Cirebon yg terdapat Cirebon Sunda dan Cirebon Jawa.

Baktos
Quote:Original Posted By adiawae
Maap gan, ada yg janggal ama tulisannya. Disebutkan Islam masuk Banten abad 16 ? Sedangkan Banten menyerang Pajajaran atas dasar penyebaran Islam itu abad 15, buktinya banyak gan di sejarah umum. Banten didirikan bersamaan dengan Cirebon atas dasar perkembangan pengaruh Demak, oleh karena itu, ketika Banten menyerang Pajajaran petama kalinya mengalami kekalahan, lalu meminta bantuan pd Cirebon dan Demak.

Mengenai wewengkon itu bukan berarti Banten bawahan Cirebon ya, karena pd saat itu sistem kerajaan Islam seperti ke khalifahan, lebih merupakan mitra, Keslutanan Banten itu mandiri juga Cirebon, namun lebih tepat disebut Banten berkiblat pd Cirebon dan Cirebon berkiblat pd Demak.

Juga ttg budaya yg agan bilang sekitar bekasi jabodetabek merupakan banyak budaya Cirebon, jg ga bener gan, Cirebon baru berdiri abad 14 itu pun masih dibawah Pajajaran seperti sebelumnya sama seperti daerah2 lain di jawa barat skrg dengan masih memberikan upeti pd Pajajaran, sebelum itu Cirebon adalah merupakan dukuh kecil, berarti yg benar adalah budaya Sunda yg ada di sekitar jabodetabek, dan seluruh wilayah jawa barat skrg. Sebaliknya budaya Cirebon adalah perpaduan budaya Jawa dan Sunda terbukti pd kultur masyarakat Cirebon yg terdapat Cirebon Sunda dan Cirebon Jawa.

Baktos


hmmm...muhun kang, kalau memang seperti itu keadaan yang bener'a menurut akang,nanti saya edit. toh disini jga saya tidak merasa paling benar..

namanya juga share,bisa saling mengingatkan plus menambahi..

saya juga setuju kalau banten itu bukan wilayah jajahan atau sebagai'a,toh memeng tidak ada istilah "vassal state" to? yang terjadi hanya proses "penguasaan" dalam bentuk spiritual/islamisasi..bukan jajahan...

nuhun kang geus di ingetkeun..


ini juga ada tambahan dari saya,,,
Penyebarannya dilakukan oleh salah seorang pemimpin Islam yang dikenal sebagai wali berasal dari Cirebon yakni Sunan Gunung Jati, pada tahun 1525 M dan 1526 M. Seperti di dalam naskah Purwaka Tjaruban Nagari disebutkan bahwa Syarif Hidayatullah setelah belajar di Pasai mendarat di Banten untuk meneruskan penyebaran agama Isalam yang sebelumnya telah dilakukan oleh Sunan Ampel. Pada tahun 1475 M, beliau menikah dengan adik bupati Banten yang bernama Nhay Kawunganten, dua tahun kemudian lahirlah anak perempuan pertama yang diberinama Ratu Winahon dan pada tahun berikutnya lahir pula pangeran Hasanuddin. (Atja;1972:26)

Setelah Pangeran Hasanuddin menginjak dewasa, syarif Hidayatullah pergi ke Cirebon mengemban tugas sebagai Tumenggung di sana. Adapun tugasnya dalam penyebaran Islam di Banten diserahkan kepada Pangeran Hasanuddin, di dalam usaha penyebaran agama Islam Ini Pangeran Hasanuddin berkeliling dari daerah ke daerah seperti dari G. Pulosari, G. Karang bahkan sampai ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon. (Djajadiningrat;1983:34) Sehingga berangsur-angsur penduduk Banten Utara memeluk agama Islam. (Roesjan;1954:10)

Karena semakin besar dan maju daerah Banten, maka pada tahun 1552 M, Kadipaten Banten dirubah menjadi negara bagian Demak dengan Pangeran Hasanuddin sebagai Sultannya. Atas petunjuk dari Syarif Hidayatullah pusat pemerintahan Banten dipindahkan dari Banten Girang ke dekat pelabuhan di Banten Lor yang terletak dipesisir utara yang sekarang menjadi Keraton Surosowan. (Djajadiningrat;1983:144) Pada tahun 1568 M, saat itu Kesultanan Demak runtuh dan digantikan oleh Panjang, Barulah Sultan Hasanuddin memproklamirkan Banten sebagai negara merdeka, lepas dari pengaruh Demak atau pun Panjang. (Hamka;1976:181) Disamping itu Banten juga menjadi pusat penyebaran agama Islam, banyak orang-orang dari luar daerah yang sengaja datang untuk belajar, sehingga tumbuhlah beberapa perguruan Islam di Banten seperti yang ada di Kasunyatan. Ditempat ini berdiri masjid Kasunyatan yang umurnya lebih tua dari masjid Agung Banten. (Ismail;1983:35) Disinilah tempat tinggal dan mengajarnya Kiayi Dukuh yang bergelar Pangeran Kasunyatan guru dari Pangeran Yusuf. (Djajadiningrat;1983:163)

Kerajaan Islam di Banten Saat itu lebih dikenal oleh masyarakat Banten dan sekitarnya dengan sebutan Kesultanan Banten. Kesultanan Banten telah mencapai masa kejayaannya dimasa lalu dan telah berhasil merubah wajah sebagian besar masyarakat Banten. Pengaruh yang besar diberikan oleh Islam melalui kesultanan dan para ulama serta mubaligh Islam di Banten seperti tidak dapat disangsikan lagi dan penyebarannya melalui jalur politik, pendidikan, kebudayaan dan ekonomi di masa itu.
Quote:Original Posted By Foxadit
hmmm,,,dandanggulo..matursuwun mas, tambahanipun sae..





yang jelas, islamisasi diwilayah2 itu dilakukan oleh orang2 dari kerajaan cirebon mas. dibawah pimpinan langsung Sunan Gunung Djati (Syarif Hidayatullah)..
maka'a daerah2 sekitaran situ kental akan kebudayaan2 yang sebenar'a warisan kerajaan islam kacirebonan..


saumpami wonten punapa2 ingkang sawon, kula nyuwunpun ageng pangapunten mas..


Quote:Original Posted By prabuanom
wah saya malah bener bener ga tau mas, hehehe makanya saya nanya. terimakasih jawabannya mas . monggo dilanjut mas


mungkin akan sedikit saya luruskan mas, barangkali pencerahan dari saya membawa kesesatan pemahaman dan pengetahuan,,,mungkin awal'a memang bukan "cirebon" melainkan tokoh'a, yakni Syarif Hidayatullah. baru, kemudian ketika sekitaran sunda kelapa, bekasi dll. dikuasai portugis dengan bantuan padjajaran. cirebon bersama dengan Fatahillah merebut'a kembali.
dibawah ini nanti akan ada keterangan lebih jelas'a..monggo disimak...

saya refisi,
Pengaruh Islam di Bekasi terjadi seiring dengan direbutnya benteng pertahanan Sunda Kelapa dari tangan Kerajaan Pajajaran oleh pasukan yang dipimpin oleh pangeran Fatahilah & syarif Hidayatullah (yang sering disalah artikan sebagai satu orang yang sama), sekitar tahun 1527. Kemenangan pasukan Fatahilah membuka ruang bagi perkembangan agama Islam di bekas wilayah Kerajaan Pajajaran, termasuk ke wilayah Bekasi.

Penyebaran agama Islam dilakukan oleh para pengikut Fatahillah yang berasal dari keturunan Sultan Abdul Fatah dari Banten. Karena itu, kehidupan agama memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap seluruh aspek kehidupan orang Bekasi tempo dulu.

naah ini juga ada,,

awalmula penguasaan padjajaran terhadap sekitaran sunda Kelapa (termasuk bekasi) karena terdesaknya padjajaran terhadap pengembangan Islam di seluruh Tanah Pasundan. Prabu Siliwangi hanya bisa menahan diri atas perkembangan wilayah Cirebon yang semakin luas itu. Bahkan wilayah Pajajaran sendiri sudah semakin terhimpit.
Pada tahun 1511 Malaka diduduki oleh bangsa Portugis. Selanjutnya mereka ingin meluaskan kekuasaan ke Pulau Jawa. Pelabuhan Sunda Kelapa yang jadi incaran mereka untuk menancapkan kuku penjajahan. Demak Bintoro tahu bahaya besar yang mengancam kepulauan Nusantara. Oleh karena itu Raden Patah mengirim Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor untuk menyerang Portugis di Malaka. Tapi usaha itu tak membuahkan hasil, persenjataan Portugis terlalu lengkap, dan mereka terlanjur mendirikan benteng yang kuat di Malaka.

Ketika Adipati Unus kembali ke Jawa, seorang pejuang dari Pasai (Malaka) bernama Fatahillah ikut berlayar ke Pulau Jawa. Pasai sudah tidak aman lagi bagi mubaligh seperti Fatahillah karena itu beliau ingin menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa.

Raden Patah wafat pada tahun 1518, berkedudukannya digantikan oleh Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor, baru saja beliau dinobatkan muncullah pemberontakan pemberontakan dari daerah pedalaman, didalam usaha memadamkan pemberontakan itu Pangeran Sabrang Lor meninggal dunia, gugur sebagai pejuang sahid.

Pada tahun 1521 Sultan Demak di pegang oleh Raden Trenggana putra Raden Patah yang ketiga. Di dalam pemerintahan Sultan Trenggana inilah Fatahillah diangkat sebagai Panglima Perang yang akan ditugaskan mengusir Portugis di Sunda Kelapa.

Fatahillah yang pernah berpengalaman melawan Portugis di Malaka sekarang harus mengangkat senjata lagi. Dari Demak mula-mula pasukan yang dipimpinnya menuju Cirebon. Pasukan gabungan Demak Cirebon itu kemudian menuju Sunda Kelapa yang sudah dijarah Portugis atas bantuan Pajajaran.
Mengapa Pajajaran membantu Portugis ? Karena Pajajaran merasa iri dan dendam pada perkembangan wilayah Cirebon yang semakin luas, ketika Portugis menjanjikan bersedia membantu merebut wilayah Pajajaran yang dikuasai Cirebon maka Raja Pajajaran menyetujuinya.

Mengapa Pasukan gabungan Demak-Cirebon itu tidak dipimpin oleh Sunan Gunungjati ? Karena Sunan Gunungjati tahu dia harus berperang melawan kakeknya sendiri, maka diperintahkannya Fatahillah memimpin serbuan itu. Pengalaman adalah guru yang terbaik, dari pengalamannya bertempur di Malaka, tahulah Fatahillah titik-titik lemah tentara dan siasat Portugis. Itu sebabnya dia dapat memberi komando dengan tepat dan setiap serangan Demak-Cirebon selalu membawa hasil gemilang. Akhirnya Portugis dan Pajajaran kalah, Portugis kembali ke Malaka, sedangkan Pajajaran cerai berai tak menentu arahnya. Selanjutnya Fatahillah ditugaskan mengamankan Banten dari gangguan para pemberontak yaitu sisa-sisa pasukan Pajajaran. Usaha ini tidak menemui kesulitan karena Fatahillah dibantu putra Sunan Gunungjati yang bernama Pangeran Sebakingking. Di kemudian hari Pangeran Sebakingking ini menjadi penguasa Banten dengan gelar Pangeran Hasanuddin.
Fatahillah kemudian diangkat segenap Adipati di Sunda Kelapa. Dan merubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, karena Sunan Gunungjati selaku Sultan Cirebon telah memanggilnya untuk meluaskan daerah Cirebon agar Islam lebih merata di Jawa Barat.

Berturut-turut Fatahillah dapat menaklukkan daerah TALAGA sebuah negara kecil yang dikuasai raja Budha bernama Prabu Pacukuman. Kemudian kerajaan Galuh yang hendak meneruskan kebesaran Pajajaran lama.Raja Galuh ini bernama Prabu Cakraningrat dengan senopatinya yang terkenal yaitu Aria Kiban. Tapi Galuh tak dapat membendung kekuatan Cirebon, akhirnya raja dan senopatinya tewas dalam peperangan itu.

Kemenangan demi kemenangan berhasil diraih Fatahillah. Akhirnya Sunan Gunungjati memanggil ulama dari Pasai itu ke Cirebon. Sunan Gunungjati menjodohkan Fatahillah dengan Ratu Wulung Ayu. Sementara kedudukan Fatahillah selaku Adipati Jayakarta kemudian diserahkan kepada Ki Bagus Angke. Ketika usia Sunan Gunungjati sudah semakin tua, beliau mengangkat putranya yaitu Pangeran Muhammad Arifin sebagai Sultan Cirebon ke dua dengan gelar Pangeran Pasara Pasarean. Fatahillah yang di Cirebon sering disebut Tubagus atau Kyai Bagus Pasai diangkat menjadi penasehat sang Sultan.

Sunan Gunung Jati lebih memusatkan diri pada penyiaran dakwah Islam di Gunungjati atau Pesantren Pasambangan. Namun lima tahun sejak pengangkatannya mendadak Pangeran Muhammad Arifin meninggal dunia mendahului ayahandanya. Kedudukan Sultan kemudian diberikan kepada Pangeran Sebakingking yang bergelar sultan Maulana Hasanuddin, dengan kedudukannya di Banten. Sedang Cirebon walaupun masih tetap digunakan sebagai kesultanan tapi Sultannya hanya bergelar Adipati.Yaitu Adipati Carbon I. Adpati Carbon I ini adalah menantu Fatahillah yang diangkat sebagai Sultan Cirebon oleh Sunan Gunung Jati.

Adapun nama aslinya Adipati Carbon adalah Aria Kamuning.
Sunan Gunungjati wafat pada tahun 1568, dalam usia 120 tahun. Bersama ibunya, dan pangeran Carkrabuasa beliau dimakamkan di gunung Sembung. Dua tahun kemudian wafat pula Kyai Bagus Pasai, Fatahillah dimakamkan ditempat yang sama, makam kedua tokoh itu berdampingan, tanpa diperantarai apapun juga.

sekian dari saya..
Quote:Original Posted By Foxadit
mohon maaf bila saya ada salah2,saya hanya bermaksud untuk lebih mengenalkan agan2 terhadap kota wali yang 1 ini..

Spoiler for cirebon:



berikut adalah thread ane..
Dan ini nama-nama “kota kecamatan” yang ada di Karesidenan Cirebon (1856).
Spoiler for cirebon lama:




Spoiler for wewengkon kerajaan cirebon:


*bukti banten dikuasai cirebon:
Berdasarkan riset ini juga diketahui bahwa daerah ini (banten_red) berkembang pesat pada abad ke-16 saat Islam masuk pertama kali di wilayah ini. Perkembangan pemukiman ini kemudian meluas atau bergeser ke arah Serang dan ke arah pantai. Pada daerah pantai inilah kemudian didirikan Kesultanan Banten oleh Sunan Gunung Jati. Kesultanan ini seharusnya menguasai seluruh bekas Kerajaan Sunda di Jawa Barat. Hanya saja Sunda Kalapa atau Batavia direbut oleh Belanda serta Cirebon.


Spoiler for kampung cirebon:



Cerita mitos, yang diduga paling tua pada masa awal Islamisasi daerah Banten, adalah terkait dengan cerita asal usul sebuah kampung yang bernama Kecirebonan. Kampung ini didirikan oleh Kibuyut ‘Afil atas perintah Syarif Hidayatullah, yang kelak dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati.

Untuk melaksanakan perintah tersebut, Kibuyut ‘Afil pergi dari Cirebon ke Banten atas bimbingan gaib Sinuhun Panembahan Maulana Syarif Hidayatullah gelar Sunan Gunung Jati. Setibanya di Banten, Kibuyut ‘Afil mulai mencari sebuah tempat untuk dijadikan tempat tinggal Syarif Hidayatullah.

Sementara itu, dari Cirebon Syarif Hidayatullah melemparkan sebuah tongkat ke arah Banten. Lemparan itu dilakukan oleh Syarif Hidayatullah seiring dengan keberangkatan Kibuyut ‘Afil ke Banten. Tongkat itu jatuh di sebuah tempat yang sekarang bernama Kecirebonan dan di tempat itulah Kibuyut ‘Afil mendirikan tempat tinggal untuk Syarif Hidayatullah.

Ketika Syarif Hidayatullah tiba di Banten untuk mengislamkan daerah ini, ia tinggal di kampung yang yang telah didirikan oleh Kibuyut ‘Afil. Setelah memandang anaknya, Maulana Hasanudin, cukup ilmu untuk menyebarkan agama Islam, Syarif Hidayatullah meninggalkan Banten dan kembali Cirebon. Sementara itu, kampung sebagai tempat tinggal Syarif Hidayatullah terus dijaga oleh Kibuyut ‘Afil sampai ia meninggal dunia.

Oleh karena itu, sampai sekarang kampung itu dinamai kampung Kacirebonan.

keterangan,

RESIDENTIE CHERIBON [1856]
Afdeeling Cheribon: 1 Kota Cheribon, 2 Loewar Kota, 3 Ploembon,
4 Beber, 5 Mandi Rantja, 6 Sindang Laoet, 7 Losari, 8 Gegesik.

Afdeeling Madjalengka: 9 Madjalengka, 10 Radja Galoe, 11 Djatiwangi,12 Palimanan, 13 Madja, 14 Telaga.

Afdeeling Koeningan: 15 Koeningan, 16 Kadoe Gede, 17 Lebak wangi, 18 Tjiawigebang, 19 Loerahagoeng

Afdeeling Galoe: 20 Tjiamies, 21 Kawali, 22 Pandjaloe, 23 Rantja

Afdeeling Indramajoe: 24 Indramajoe, 25 Karamgampel, 26 Sleman
Particulier Land Indramajoe: 27 Passekan, 28 Lobener, 29 Oedjoeng, 30 Djati Toejoe
Particulier Land Kandang Hawor: 31 Lelea, 32 Losarang, 33 Kandang Hawor, 34 Loewoeng Malang

Menurut tradisi lisan yang berkembang di Majalengka, perubahan nama Sindangkasih menjadi Majalengka terjadi setelah Nyi Rambut (Ambet) Kasih – tokoh mitos yang dianggap sebagai penguasa pertama di Sindangkasih – ngahiang (menghilang). Diduga hal itu terjadi pada pertengahan abad ke-16 [Bukan 1490?--Tatang. Kalau abad ke-16, ya Nyi Ambet/Rambut Kasih tidak sedang "men-sugih muktikan Sindang Kasih"--men-1490-kan!]

Uraian tersebut – meskipun secara garis besar – mengandung arti, bahwa secara metodologis, pemilihan tanggal 7 Juni 1490 sebagai hari jadi Kabupaten Majalengka, jelas salah. Walaupun tanggal 7 Juni (1490) dianggap sebagai hari jadi Majalengka, tanpa embel-embel kabupaten, tanggal itu tetap salah. Letak kesalahannya, tanggal itu tidak mengacu pada fakta/momentum yang seharusnya menjadi dasar acuan, baik fakta pembentukan Kabupaten Maja, maupun momentum perubahan nama Sindangkasih menjadi Majalengka.

Biar tambah parusingeun urang Majalengka, tah ini nukilan internet tentang Nyi Rambut Kasih yang lain (Versi Sumedang Larang)

Konon, menurut legenda, Prabu Tajimalela yang bergelar Batara Tuntang Buana atau Resi Cakrabuana, saat itu memiliki tiga orang putra, masing-masing Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Ulun (Catatan: Sunan Ulun Bukan Prabu Geusan Ulun/Raden Angka Wijaya Raja Sumedang Larang Terakhir ). Berdasarkan naskah “Layang Darmaraja” (layang = surat; dokumen), untuk menyerahkan tahta kerajaan kepada salah seorang putranya, Prabu Tajimalela mengadakan sebuah ujian untuk Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung, tapi ketiga (kedua?–Tatang) putranya itu ternyata tidak berkehendak menjadi raja. Sedangkan Sunan Ulun memilih menjadi Resi/Sunan/Ulama dan hijrah ke Talaga, Majalengka untuk menyebarkan ketauhidan dibantu oleh ibunya/istri Prabu Tajimalela (Ratu Endang Kasih/Ratu Rambut Kasih) yang berasal dari keturunan Sanghyang Talaga Majalengka. [Nah, jadi wajar kalau ada orang Talaga yang mengatakan bahwa menurut tradisi lisan, Ratu Rambut Kasih teh ngahiang (lenyap) di Sangiang, Talaga--Tatang].

Supaya tambah bingung, ini ceritera lain nu aya di internet (Maaf, bahasanya diedit lagi sebagian!).

Sekitar tahun 1480 (pertengahan abad XV) Masehi di Desa Sindangkasih, tiga kilometer arah selatan dari kota Majalengka, bersemayam seorang ratu yang bernama Nyi Rambut Kasih keturunan Prabu Siliwangi, yang masih teguh memeluk Agama Hindu.

Ratu masih bersaudara dengan Rarasantang, Kiansantang dan Walangsungsang, yang kesemuanya telah masuk agama Islam. Keberadaan Nyi Rambut Kasih di daerah Majalengka adalah bermula untuk menemui saudaranya di daerah Talaga yang bernama Raden Munding Sariageng, suami dari Ratu Mayang Karuna yang waktu itu memerintah di Talaga. Di perbatasan Majalengka – Talaga, Ratu mendengar bahwa daerah Talaga (kerajaan Talaga, mencakup Maja dan bagian selatan Majalengka–Pen) sudah masuk Islam. Oleh karena itu Ratu mengurungkan maksudnya ke Talaga, dan menetaplah Ratu tersebut di Sindangkasih (mendirikan kerajaan????–memang punya siapa?–Pen.), dengan daerahnya meliputi Sindangkasih, Kulur, Kawunghilir, Cieurih, Cicenang, Cigasong, Babakanjawa, Munjul dan Cijati. (Tuh, jadi Kawunggirang masuk Talaga).

Kira-kira tahun 1485 putera Raden Rangga Mantri ( Raja Kerajaan Talaga–Pen.) yang bernama Dalem Panuntun diperintahkan menjadi Dalem di Majalengka (Nah, lho, bukannya Sindangkasih menjadi bawahan Kerajaan Talaga, kalau begitu???–Pen.), yang membawa akibat pemerintahan Nyi Rambut Kasih terjepit oleh pengaruh Agama Islam. (Sahibul hikayat yang lain menyebut tahun 1529 orang tua Dalem Panuntun (Panungtung?), yaitu Ratu Sunyalarang dan Raden Ragamantri masuk Islam. Lucu, ya?! Jadi, kan setelah Sindangkasih “langka” (1490) baru pada masuk Islam, dan mengirim Dalem Panuntun ke Sindangkasih (setelah hilang?!).

[Nah, tambah "pabaliut" lagi dengan ceritera ini: Akir abad XV Masehi, Majalengka telah berpenduduk Islam. Beliau sebelum wafat telah menunjuk putra-putranya untuk memerintah di daerah-daerah kekuasannya seperti halnya: Sunan Wanaperih untuk memegang tampuk di Walangsuji, Dalem Lumaju Agung di kawasan Maja, Dalem Panuntun di Majalengka, sedangkan putra pertamanya ialah Prabu Haurkuning di Talaga yang selang kemudian di Ciamis.]

Kemudian lagi pada tahun 1489 utusan Cirebon, Pangeran Muhammad dan isterinya Siti Armilah atau Gedeng Badori diperintahkan untuk mendatangi Nyi Rambut Kasih dengan maksud agar Ratu maupun Kerajaan Sindangkasih masuk Islam dan Kerajaan Sindangkasih masuk kawasan kesultanan Cirebon. Nyi Rambut Kasih menolak, timbul pertempuran antara pasukan Sindangkasih dengan pasukan Kesultanan Cirebon. Kerajaan Sindangkasih menyerah (cetak tebal dari pengutip–Tatang) dan masuk Islam, sedangkan Nyi Rambut kasih tetap memeluk agama Hindu. Mulai saat inilah (cetak tebal dari Pengutip) ada Candra Sangkala “Sindang Kasih Sugih Mukti” tahun 1490.

hanya share,jika ada pemberian 'good reputation point' (GRP),saya jga tidak menolak.

terima kasih.

matursuwun sanget kagem mas, ingkang kula mboten sumerep wastanipun, ingkang sampum ngupahi ijem2 kagem kula..



sumber:
-http://www.google.co.id/search?um=1&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla%3Aen-US%3Aofficial&biw=1024&bih=576&site=search&tbm=isch&sa=1&q=peta+wewengkon+cirebon&aq=f&aqi=&aql=&oq=
-Tatang M. Amirin, dosen tetap di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
-humaspdg.wordpress.com

keren gan. maap cuman bisa menyimak ja. soalnya ane juga kurang pengetahuan tentang kerajaan2 islam di jawa barat. bisa nambah pengetahuan ane ni gan
Quote:Original Posted By fauzi14021987
keren gan. maap cuman bisa menyimak ja. soalnya ane juga kurang pengetahuan tentang kerajaan2 islam di jawa barat. bisa nambah pengetahuan ane ni gan


makasih dah mampir mas.lek berkenan, wenehi opo
hehehe
ayo gan...di kunjungin....
hemmm,,keren gan...
ane deh...

kebetulan ane anak crb...
heemmmm begitu ya gan...ane baru tau tuh
keren gan, thanks dah bagi2 info
Quote:Original Posted By New.ibaguza
heemmmm begitu ya gan...ane baru tau tuh
keren gan, thanks dah bagi2 info


makasih dah mampir gan....
matursuwun yo mase....
Cirebon,kota Wali.....mantap gan
Quote:Original Posted By aryasembet
Cirebon,kota Wali.....mantap gan


bantu di ya mas....
ane orang asli Majalengka gan
jd gtu yaa??.. sejarah kota kecil kelahiran ane
baru tau euy.
tpi pusing gan yg bner yg mana??..


mampir trit ane: JUAL HONDA CBR 150 tahun 2007
Quote:Original Posted By sarcazcore
ane orang asli Majalengka gan
jd gtu yaa??.. sejarah kota kecil kelahiran ane
baru tau euy.
tpi pusing gan yg bner yg mana??..


mampir trit ane: JUAL HONDA CBR 150 tahun 2007


hehehe...kalo berkenan bagi ijo2'a dong gan.....


btw makasih dah mampir gan... dong gan...biar ga tenggelam...
wedew...
cirebon jaman doeloe nih...

brb ngirim grp