maaf sebelumnya gan, ane mau tanya... manusia reinkarnasi kan untk menebus dosanya di masa lalu... brti org yg bs mencapai moksa adlh org2 yg sudah menebus dosanya atau bs di blg tnpa dosa? apa bisa sbg manusia kt hidup tnpa melakukan dosa...?
Quote:Original Posted By Reinzheart
maaf sebelumnya gan, ane mau tanya... manusia reinkarnasi kan untk menebus dosanya di masa lalu... brti org yg bs mencapai moksa adlh org2 yg sudah menebus dosanya atau bs di blg tnpa dosa? apa bisa sbg manusia kt hidup tnpa melakukan dosa...?


secara konsep moksha itu bebas, bebas dr belenggu tri guna (satvam rajas tamas) bebas dr dosa dan pahala selayaknya Brahman yg acintya (tak terpikirkan)
Quote:Original Posted By patih.djelantik
kenaapa gak mengorbankan manusia aja? siapa tau tar manusia itu berguna dikelahiran selanjutnya biar gak sia-sia selama hidup



menurut hukum negara secara resmi temen agan belum menjadi hindu. KTP nya belum diubah kan?



syarat dan tatacaranya coba hubungi PHDI terdekat gan


maksud ane secara hukum Tuhan-manusia gan... ato secara hukum agama dy diitung udah Hindu apa belum ya? kl belum brati sia2 aja dy sering ke pura n sembahyang selama ini
klo secara hukum negara emg yg ky kata agan diatas
Quote:Original Posted By biggycom
pembunuhan apapun bentuknya (kecuali perang suci) itu wrong, jangan bawa siva dev, dia aja gak makan daging bro (mahaguru yogi)

setiap manusia pasti masuk neraka dan pasti masuk surga, tidak ada namanya saldo balance, hanya pelepasan dari sirkulasi semesta yg bisa menyelamatkan atman tunggal... kalau tidak yah reinkarnasi trus

mudah mudahan gak jadi pengikutnya amrozi cs


indonesia indonesia aja gan atau ingris ingris aja

apapun berarti tanpa kecuali kalo masih ada kecuali brarti bukan apapun.

setau saya memang bukan phala baik dan phala buruk yang menentukan orang moksa atau tidak, tetapi tingkat "kesadaran" orang tersebut.

Quote:Original Posted By carijanda
maksud ane secara hukum Tuhan-manusia gan... ato secara hukum agama dy diitung udah Hindu apa belum ya? kl belum brati sia2 aja dy sering ke pura n sembahyang selama ini
klo secara hukum negara emg yg ky kata agan diatas


setau saya upacara Sudhi Wadani adalah pengesahaan (ketok palu lah ibaratnya)
mungkin lebih jelas dapat di lihat disini
http://gryadharmakerti.wordpress.com.../sudhi-wadani/
atau menghubungi PHDI wilayah masing masing

dan tidak ada perbuatan yang sia sia gan, asal pada tempatnya
Quote:Original Posted By carijanda
maksud ane secara hukum Tuhan-manusia gan... ato secara hukum agama dy diitung udah Hindu apa belum ya? kl belum brati sia2 aja dy sering ke pura n sembahyang selama ini
klo secara hukum negara emg yg ky kata agan diatas


tidak ada itu.. semua sama di hadapan tuhan (katanya).. masa iya sih tuhan tidak menghitung segala perbuatannya kalau dia tidak resmi sebagai seorang hindu atau karmanya yang sebelum dia resmi menjadi hindu

kan upacara itu untuk pengakuan diri aja kalau temen agan itu hindu. dihitung udah hindu atau belum ya diri sendiri yang merasakan gan. menurut saya, upacara itu peresmian seseorang yang belum hindu menjadi hindu sehingga nanti bisa mengubah kolom agama yang ada di KTP.
ane mau tanya lagi gan..
mengenai sulinggih dan rumah tinggal..
misalkan ane punya rumah yang dari pintu masuk itu seperti lorong dan diatasnya beton lantai 2.. katanya kalo rumah seperti itu sulinggih tidak mau masuk kerumah ya gan? karena mesulub? apakah benar seperti itu? apakah ada solusi untuk permasalahan tersebut apabila mengadakan upacara pelaspas/piodalan?? trims gan
Quote:Original Posted By carijanda
gan ane punya temen, dy sekarang Hindu, dy sudah sering sembahyang n berdoa, ke pura layaknya umat hindu tapi dy belum upacara sudhi wedhani,, itu hukumnya gimana gan? dan apa aja syarat dan tata cara yg benar/ seharusnya jika seseorang pindah agama ke Hindu?

Sudhi Wadhani itu cuma sekedar seremonial aja gan. Lebih penting niat dan pelaksanaan dalam menjalankan ajaran Hindu. Tapi ada baiknya temen agan melakukan Sudhi Wadhani aja. Biar tenang dan ga mikirin soal legalitasnya. Kalo untuk Sudhi Wadhani bisa dateng ke Parisada pusat atau Pura2 besar. Di jakarta ada Pura Aditya rawamangun..
Quote:Original Posted By puqmai
ane mau tanya lagi gan..
mengenai sulinggih dan rumah tinggal..
misalkan ane punya rumah yang dari pintu masuk itu seperti lorong dan diatasnya beton lantai 2.. katanya kalo rumah seperti itu sulinggih tidak mau masuk kerumah ya gan? karena mesulub? apakah benar seperti itu? apakah ada solusi untuk permasalahan tersebut apabila mengadakan upacara pelaspas/piodalan?? trims gan


kalo menurut ane, tergantung sulinggihnya gan, mungkin ada yg bersedia mungkin ada yg tidak, utk yg tidak sebaeknya jgn berprasangka aneh2 dl gan, krn kita sbg umat biasa tidak tau bagaimana aturan seorang sulinggih, biar ga kena tulah, jd baeknya menurut ane cari sulinggih yg kayun (bersedia) sj
Quote:Original Posted By puqmai
ane mau tanya lagi gan..
mengenai sulinggih dan rumah tinggal..
misalkan ane punya rumah yang dari pintu masuk itu seperti lorong dan diatasnya beton lantai 2.. katanya kalo rumah seperti itu sulinggih tidak mau masuk kerumah ya gan? karena mesulub? apakah benar seperti itu? apakah ada solusi untuk permasalahan tersebut apabila mengadakan upacara pelaspas/piodalan?? trims gan

Rumah gw kayak gitu..

Kalo sulinggih ga mau masuk mungkin karena didalemnya panas karena ga ada ac kalee
mau nanya bli, apakah perbedaan konsep pd sekte2 agama hindu (pernah) menyebabkan konflik antar pengikutnya?

ps: ini ane monday, id lama ane suspend, btw ini pertanyaan temen ane di forum sebelah
sekalian ijin sm bro almarhum dan para sepuh
ane ikutan nimbrung dsn gan
Quote:Original Posted By yggsdrasill
mau nanya bli, apakah perbedaan konsep pd sekte2 agama hindu (pernah) menyebabkan konflik antar pengikutnya?

ps: ini ane monday, id lama ane suspend, btw ini pertanyaan temen ane di forum sebelah

Kalo konflik sampe perang atau berantem sih nggak yahh
Palingan cuma saling "ledek" tapi ini paling hanya didapati di tempat2 tertentu. Contohnya di Pura Rawamangun. Khususnya di STAH..

Maklum mungkin hanya sekedar beda pendapat dalam menyikapi suatu hal. Tapi tidak sampe bakar2an atau pUkul2an karena pada hakekatnya mereka sadar koq akan agama yg dipeluk itu sama. Mau gimana caranya mereka menjalankan

Welcome bro.. Mo nimbrung gpp koq. Ini milik bersama
Quote:Original Posted By m0nday
kalo menurut ane, tergantung sulinggihnya gan, mungkin ada yg bersedia mungkin ada yg tidak, utk yg tidak sebaeknya jgn berprasangka aneh2 dl gan, krn kita sbg umat biasa tidak tau bagaimana aturan seorang sulinggih, biar ga kena tulah, jd baeknya menurut ane cari sulinggih yg kayun (bersedia) sj


ane berpikir ini masalah rasa, krn tiap sulinggih berbeda.. ada yang mau dan ada juga yang tidak.
Quote:Original Posted By Almarhum13
Rumah gw kayak gitu..

Kalo sulinggih ga mau masuk mungkin karena didalemnya panas karena ga ada ac kalee


haha.. bisa aja gan.. trus solusi agan gimana? kan rumah agan juga seperti itu?
Quote:Original Posted By Almarhum13
Kalo konflik sampe perang atau berantem sih nggak yahh
Palingan cuma saling "ledek" tapi ini paling hanya didapati di tempat2 tertentu. Contohnya di Pura Rawamangun. Khususnya di STAH..

Maklum mungkin hanya sekedar beda pendapat dalam menyikapi suatu hal. Tapi tidak sampe bakar2an atau pUkul2an karena pada hakekatnya mereka sadar koq akan agama yg dipeluk itu sama. Mau gimana caranya mereka menjalankan

Welcome bro.. Mo nimbrung gpp koq. Ini milik bersama


ane msh agak ragu jika bilang tidak pernah
tp sejauh yg ane tau memang belum pernah sampai yg ekstrim
Quote:Original Posted By yggsdrasill
ane msh agak ragu jika bilang tidak pernah
tp sejauh yg ane tau memang belum pernah sampai yg ekstrim


setidaknya pernah ada konflik sekte dulu di Bali



===================================

Maharsi yang terkenal di kerajaan airlangga, yaitu Mpu Bharadah dan Empu Kuturan. Kedua Empu ini telah menawarkan sebuah jalan tengah bagi berbagai pandangan agama ketika itu. Mpu Bharadah dalam karyanya Calon Arang, mengajarkan perpaduan antara jalan duniawi (gelap) dan jalan spiritual ( terang). Dua ajaran ini ditarik ke tengah oleh Empu Bharadah sehingga menjadi tidak terlalu ekstrim. Pengusung jalan duniawi juga di harapkan memeperhatikan kehidupan spiritual. Sebab tanpa kehidupan ini, mereka tidak akan menemukan kebahagiaan. Demikian juga mereka yang menempuh jalan spiritual, mesti memeperhatikan kehidupan duniawi.

Sementara Empu Bharadha berkutat dengan teologi jalan tengah, Mpu Kuturan justru turun ketengah-tengah masyarakat beliau mempraktekkan jalan tengah (madyatmika) tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kebetulan ketika itu, jawa-bali merupakan sebuah kerajaan bersaudara. Kerajaan jawa dipimpin oleh Airlangga, putra Udayana Warmadewa yang menjadi raja di Bali. Karena itu, beliau mudah mendapatkan tempat terhormat di bali., untuk kehidupan masyarakat bali yang konon belum tenang ketika itu. Akhirnya, beliau datang ke Bali pada Buda Kliwon Pahang 923 caka.

Ketika itu, masyarakat bali, menurut penelitian para ahli terdiri dari 6 sekte, yaiti sekte Sambu, Brahma, Indra, Wisnu, Bayu, dan Kala. Penggolongan 6 sekte ini sebenarnya diambil dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali dalam ritual pada masa kini, yang memiliki berbagai cirri khas ritual tersebut. Berdasarkan berbagai ciriritual tersebut, para ahli kemudian mengelompokkan enam sekte-sekte tersebut antara lain sebagai berikut;

- sekte Sambu misalnya bercirikan pada penyembahan arca, ketika mati mereka diupacarai dengan daun pepetan ketan sebagai sarana pembersihan mayat. Mayat harus ditanam seketika.
-sekte Brahma, menyembah Ida Sshang Yang Surya/ Ida Shang Yang Agni. Penganut sekte ini menggunakan air delima sebagai pembersih mayat. Mayat penganut sekte ini dibakar.
-sekte Indra, penganut menggunakan gunung dan bulan sebagai stana dewa. Penganut sekte ini menggunakan air beras untuk memebersihkan mayat. Mayat penganut sekte ini ditanam di jurang yang berisi goa.
-sekte Wisnu, penganut biasanya memiliki tradisi upacara meminta hujan. Mayat penganut sekte ini biasanya dibersihkan dengan iar yang berisi bunga-bungaan. Abu jenazah penganut sekte ini dihanyutkan ke sungai atau samudra.
-sekte Bayu, penganutnya memandang angina dan bintang sebagai cirri-ciri kehadiran dewa pujaannya. Mereka biasanya menggunakan air hujan sebagai sarana pembersihan mayat. Mayat penganut sekte ini ditaruh begitu saja di sebuah tempat hingga hancur oleh angin. Penganutnya hingga kini masih terdapat di desa Trunyan-kintamani.
-sekte Kala, penganut sekte ini sangat banyak di Bali. Pemujaan terhadap ratu geda mecaling dan sejenisnya merupakan peningggalan sekte ini. Mereka biasanya menggunakan daun bidara dalam upacara kematiannya.

Sekte-sekte ini sebenarnya masih bisa ditambah dengan berbagai kepercayaan lain yang tumbuh dan berkembang ketika itu. Harus diakui, sebagian masyarakat bali ada yang menganut budisme ketika itu. Sehingga sebenarnya secara umum, terdapat tiga kepercayaan besar berkembang pada masa itu. Yaitu, Hindu, Budha dan kepercayaan lokal. Mpu Kuturan kemudian mengadakan pertemuan untuk mencari titik temu dari tiga kepercayaan tersebut. Pertemuan tersebut terkenal dengan Samuan Tiga .pada pertemuan ini, semua ahli-ahli agama datang. Mereka semua membawa pesan inti dari agama mereka masing-masing. Inti dari ajaran ini kemudian dikembangkan Mpu Kuturan menjadi Tri Khayangan, yaitu Puseh, Bale Agung dan Dalem.

Secara umum, umat hindu di bali mengenal Tri Khayangan ini sebagi tempat pemujaan Brahma, Wisnu dan Siwa. Pura Puseh disebutkan sebagai sthana Wisni, Bale Agung sebagai sthana Brahma sedangkan Dalem sebagai sthana Siwa. Pada kenyataannya konsep ini tidaklah 100 persen benar. Konsep ini hanya reka-reka dari seorang ahli agam yang termuat dalam upadeca yang pikirannya dipengaruhi oleh Shiva Shidanta. Ada konsep yang lebih mendalam, yang belum tertangkap dalam upadeca tersebut, yaitu konsep penyatuan berbagai teologi.

Tri Khayangan tersebut merupakan penyatuan berbagai teologi yang berkembang abad ke 10 masehi. Pada zaman Empu Kuturan, paling sedikit ada tiga teologi yang berkembang. Yaitu teologi pantheisme monotheisme, dianut oleh para pengikut Shiwa dan Waisnawa, terdapat juga teologi Polytheisme yang dianut pengusung kepercayaan lokal dan terdapat juga pengikut sakta (pemuja terhadap sakti atau energi penyebab alam semesta). Semua konsep ini disatukan oleh Empu Kuturan dalam Tri Khayangan.

Di Pura Puseh, Empu Kuturan memberikan ruang bagi penganut monotheisme. Kata puseh berarti pusat. Secara luas pusat dimaksudka adalah pusat dunia. Pusat dunia hanya satu yaitu Shang Hyang Widhi. Beliau juga disebut Shang Hyang Trydosasakti. Sementara Bale Agung mengandung makna balai panjang. Balai panjang adalah tempatpertemuan. Di bale ini, semua dewa-dewa pujaan di stanakan. Karena itu penganut jonsep pholitheisme mendapat tempat di bale agung. Pura Dalem, atau lebih dikenal dengan nama Dalem adalah tempat memuja Dewi Dhurga (sakti). pada pura ini, penganut sakta mendapat tempat. Karena itu, semua konsep ketuhanan yang telah tertampung dalam Tri Khayangan ini.

Konsep Budha memeng tidak dapat tempat kedalam konsep ini. Namun secara fhilosofis, Budhisma sesungguhnya tidak memerlikan tempat suci. Sebab inti Budhisma bukaan pemujaan, namun pelatihan-pelatihan untuk mengubah prilaku diri sendiri. Karena itu, pura bagi pengikut sang Budha adalah didrinya sendiri. Para pengikut Budha tidak memerlukakn tempat suci, meskopun memeng ada pengikut Budha yang masih memerlulan tempat suci. Mereka diberi kebesan untuk memebangun tempat suci untuk dewa pujaannya dirumanya masing-masing.


Keseluruhan konsep ini dikembangkan kedalam sebuah tatanan yang disebut Pakraman. Tatanan ini mengikat seluruh warga yang dada di dalam Pekraman. Sehingga semua sekte atau aliran pemikiran tersebut melebur ke dalam Pakraman. Pada sekitar abad ke 15 masehi, peleburan ini tekah mencapai pada titik sempurna. Dhangyang Dwijendra pada sekitar abad tersebut, hanya menemui sekte-sekte seperti terdapat dalam kelompok-kelompok elite para brahmana, seperti brahmana Waisnawa, Shiwa dan Budha. Sementara masyarakat bali sendiri telah terlebur ke dalam Pakraman. Siapa pun tidak bisa membedakan sekte-sekte mereka. Walau pun mereka menganut sebuah sekte tertentu. Sifatnya sangat pribadi. Tak perlu diumumkan di tengah-tengah masyarakat luas.

http://tombongopini.wordpress.com/20...bahan-di-bali/
Quote:Original Posted By puqmai


ane berpikir ini masalah rasa, krn tiap sulinggih berbeda.. ada yang mau dan ada juga yang tidak.


haha.. bisa aja gan.. trus solusi agan gimana? kan rumah agan juga seperti itu?

Ya bener kata si patih. Ente cari aja sulinggih yg mau. Lagian ane emang rumahnya gini koq. Dan kemungkinan ane bilang karena ga ada ac bener lohh
Konfliknya dimana patih ?? Palingan cuma dibagian cara melakukan ajaran sekte itu kan ?

Maksud agan monday mungkin sampe bakar2an dan bunuh2an kek sebelah itu loh.

@rakshasa ane nyari jersey kw lokal donk yg merk multisport apa 7stars gitu. Yg di daerah jakarta barat. Khususnya jelambar
bli, saya baru pertama maen kesini, jadi kalo ada salah kata, saya mohon maaf.

duduk perkaranya gini bli. saya sedang mencari kepercayaan yang masuk ke akal dan ke hati. saya putuskan untuk nanya nanya ke trit holy.

dan pertanyaannya adalah :
1. siapakah atman? dulu pernah sekilas baca buku tentang hindu dan udah lupa.
pertanyaan ini termasuk sifat dan sejenisnya. seperti di hukum identitas gitu lah.
2. perbedaan mendasar hindu bali dengan india apa? beneran ga tau.
mungkin cukup.
nanti kalo ada waktu saya bales lagi bli.
terimakasih.
Quote:Original Posted By patih.djelantik
setidaknya pernah ada konflik sekte dulu di Bali



===================================

Maharsi yang terkenal di kerajaan airlangga, yaitu Mpu Bharadah dan Empu Kuturan. Kedua Empu ini telah menawarkan sebuah jalan tengah bagi berbagai pandangan agama ketika itu. Mpu Bharadah dalam karyanya Calon Arang, mengajarkan perpaduan antara jalan duniawi (gelap) dan jalan spiritual ( terang). Dua ajaran ini ditarik ke tengah oleh Empu Bharadah sehingga menjadi tidak terlalu ekstrim. Pengusung jalan duniawi juga di harapkan memeperhatikan kehidupan spiritual. Sebab tanpa kehidupan ini, mereka tidak akan menemukan kebahagiaan. Demikian juga mereka yang menempuh jalan spiritual, mesti memeperhatikan kehidupan duniawi.

Sementara Empu Bharadha berkutat dengan teologi jalan tengah, Mpu Kuturan justru turun ketengah-tengah masyarakat beliau mempraktekkan jalan tengah (madyatmika) tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kebetulan ketika itu, jawa-bali merupakan sebuah kerajaan bersaudara. Kerajaan jawa dipimpin oleh Airlangga, putra Udayana Warmadewa yang menjadi raja di Bali. Karena itu, beliau mudah mendapatkan tempat terhormat di bali., untuk kehidupan masyarakat bali yang konon belum tenang ketika itu. Akhirnya, beliau datang ke Bali pada Buda Kliwon Pahang 923 caka.

Ketika itu, masyarakat bali, menurut penelitian para ahli terdiri dari 6 sekte, yaiti sekte Sambu, Brahma, Indra, Wisnu, Bayu, dan Kala. Penggolongan 6 sekte ini sebenarnya diambil dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali dalam ritual pada masa kini, yang memiliki berbagai cirri khas ritual tersebut. Berdasarkan berbagai ciriritual tersebut, para ahli kemudian mengelompokkan enam sekte-sekte tersebut antara lain sebagai berikut;

- sekte Sambu misalnya bercirikan pada penyembahan arca, ketika mati mereka diupacarai dengan daun pepetan ketan sebagai sarana pembersihan mayat. Mayat harus ditanam seketika.
-sekte Brahma, menyembah Ida Sshang Yang Surya/ Ida Shang Yang Agni. Penganut sekte ini menggunakan air delima sebagai pembersih mayat. Mayat penganut sekte ini dibakar.
-sekte Indra, penganut menggunakan gunung dan bulan sebagai stana dewa. Penganut sekte ini menggunakan air beras untuk memebersihkan mayat. Mayat penganut sekte ini ditanam di jurang yang berisi goa.
-sekte Wisnu, penganut biasanya memiliki tradisi upacara meminta hujan. Mayat penganut sekte ini biasanya dibersihkan dengan iar yang berisi bunga-bungaan. Abu jenazah penganut sekte ini dihanyutkan ke sungai atau samudra.
-sekte Bayu, penganutnya memandang angina dan bintang sebagai cirri-ciri kehadiran dewa pujaannya. Mereka biasanya menggunakan air hujan sebagai sarana pembersihan mayat. Mayat penganut sekte ini ditaruh begitu saja di sebuah tempat hingga hancur oleh angin. Penganutnya hingga kini masih terdapat di desa Trunyan-kintamani.
-sekte Kala, penganut sekte ini sangat banyak di Bali. Pemujaan terhadap ratu geda mecaling dan sejenisnya merupakan peningggalan sekte ini. Mereka biasanya menggunakan daun bidara dalam upacara kematiannya.

Sekte-sekte ini sebenarnya masih bisa ditambah dengan berbagai kepercayaan lain yang tumbuh dan berkembang ketika itu. Harus diakui, sebagian masyarakat bali ada yang menganut budisme ketika itu. Sehingga sebenarnya secara umum, terdapat tiga kepercayaan besar berkembang pada masa itu. Yaitu, Hindu, Budha dan kepercayaan lokal. Mpu Kuturan kemudian mengadakan pertemuan untuk mencari titik temu dari tiga kepercayaan tersebut. Pertemuan tersebut terkenal dengan Samuan Tiga .pada pertemuan ini, semua ahli-ahli agama datang. Mereka semua membawa pesan inti dari agama mereka masing-masing. Inti dari ajaran ini kemudian dikembangkan Mpu Kuturan menjadi Tri Khayangan, yaitu Puseh, Bale Agung dan Dalem.

Secara umum, umat hindu di bali mengenal Tri Khayangan ini sebagi tempat pemujaan Brahma, Wisnu dan Siwa. Pura Puseh disebutkan sebagai sthana Wisni, Bale Agung sebagai sthana Brahma sedangkan Dalem sebagai sthana Siwa. Pada kenyataannya konsep ini tidaklah 100 persen benar. Konsep ini hanya reka-reka dari seorang ahli agam yang termuat dalam upadeca yang pikirannya dipengaruhi oleh Shiva Shidanta. Ada konsep yang lebih mendalam, yang belum tertangkap dalam upadeca tersebut, yaitu konsep penyatuan berbagai teologi.

Tri Khayangan tersebut merupakan penyatuan berbagai teologi yang berkembang abad ke 10 masehi. Pada zaman Empu Kuturan, paling sedikit ada tiga teologi yang berkembang. Yaitu teologi pantheisme monotheisme, dianut oleh para pengikut Shiwa dan Waisnawa, terdapat juga teologi Polytheisme yang dianut pengusung kepercayaan lokal dan terdapat juga pengikut sakta (pemuja terhadap sakti atau energi penyebab alam semesta). Semua konsep ini disatukan oleh Empu Kuturan dalam Tri Khayangan.

Di Pura Puseh, Empu Kuturan memberikan ruang bagi penganut monotheisme. Kata puseh berarti pusat. Secara luas pusat dimaksudka adalah pusat dunia. Pusat dunia hanya satu yaitu Shang Hyang Widhi. Beliau juga disebut Shang Hyang Trydosasakti. Sementara Bale Agung mengandung makna balai panjang. Balai panjang adalah tempatpertemuan. Di bale ini, semua dewa-dewa pujaan di stanakan. Karena itu penganut jonsep pholitheisme mendapat tempat di bale agung. Pura Dalem, atau lebih dikenal dengan nama Dalem adalah tempat memuja Dewi Dhurga (sakti). pada pura ini, penganut sakta mendapat tempat. Karena itu, semua konsep ketuhanan yang telah tertampung dalam Tri Khayangan ini.

Konsep Budha memeng tidak dapat tempat kedalam konsep ini. Namun secara fhilosofis, Budhisma sesungguhnya tidak memerlikan tempat suci. Sebab inti Budhisma bukaan pemujaan, namun pelatihan-pelatihan untuk mengubah prilaku diri sendiri. Karena itu, pura bagi pengikut sang Budha adalah didrinya sendiri. Para pengikut Budha tidak memerlukakn tempat suci, meskopun memeng ada pengikut Budha yang masih memerlulan tempat suci. Mereka diberi kebesan untuk memebangun tempat suci untuk dewa pujaannya dirumanya masing-masing.


Keseluruhan konsep ini dikembangkan kedalam sebuah tatanan yang disebut Pakraman. Tatanan ini mengikat seluruh warga yang dada di dalam Pekraman. Sehingga semua sekte atau aliran pemikiran tersebut melebur ke dalam Pakraman. Pada sekitar abad ke 15 masehi, peleburan ini tekah mencapai pada titik sempurna. Dhangyang Dwijendra pada sekitar abad tersebut, hanya menemui sekte-sekte seperti terdapat dalam kelompok-kelompok elite para brahmana, seperti brahmana Waisnawa, Shiwa dan Budha. Sementara masyarakat bali sendiri telah terlebur ke dalam Pakraman. Siapa pun tidak bisa membedakan sekte-sekte mereka. Walau pun mereka menganut sebuah sekte tertentu. Sifatnya sangat pribadi. Tak perlu diumumkan di tengah-tengah masyarakat luas.

http://tombongopini.wordpress.com/20...bahan-di-bali/


mantaf penjelasannya gan, apa ini cikal bakal lahirnya paham siwa buddha yg lg tren (di bali khususnya) saat ini?! hmm
Quote:Original Posted By jalembung
bli, saya baru pertama maen kesini, jadi kalo ada salah kata, saya mohon maaf.

duduk perkaranya gini bli. saya sedang mencari kepercayaan yang masuk ke akal dan ke hati. saya putuskan untuk nanya nanya ke trit holy.

dan pertanyaannya adalah :
1. siapakah atman? dulu pernah sekilas baca buku tentang hindu dan udah lupa.
pertanyaan ini termasuk sifat dan sejenisnya. seperti di hukum identitas gitu lah.
2. perbedaan mendasar hindu bali dengan india apa? beneran ga tau.
mungkin cukup.
nanti kalo ada waktu saya bales lagi bli.
terimakasih.


1. atman samadengan roh dalam bahasa umum, lebih lengkapnya bisa dibaca di sini http://id.wikipedia.org/wiki/Atman
2. mungkin perbedaannya terletak di tradisi dan adat budayanya, hindu sendiri menyesuaikan thd desa (tempat) kala (waktu) dan patra (keadaan), jadi jika agan misalnya dr jawa maka pake adat jawa