KASKUS

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Indonesia

Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) merupakan salah satu pembangkit listrik yang menggunakan energi terbarukan berupa air. Salah satu keunggulan dari pembangkit ini adalah responnya yang cepat sehingga sangat sesuai untuk kondisi beban puncak maupun saat terjadi gangguan di jaringan. Selain kapasitas daya keluarannya yang paling besar diantara energi terbarukan lainnya, pembangkit listrik tenaga air ini juga telah ada sejak dahulu kala. Berikut ini merupakan penjelasan singkat mengenai pembangkit listrik tenaga air serta keberadaan potensi energi air yang masih belum digunakan.

Tenaga air telah berkontribusi banyak bagi pembangunan kesejahteraan manusia sejak beberapa puluh abad yang lalu. Beberapa catatan sejarah mengatakan bahwa penggunaan kincir air untuk pertanian, pompa dan fungsi lainnya telah ada sejak 300 SM di Yunani, meskipun peralatan-peralatan tersebut kemungkinan telah digunakan jauh sebelum masa itu. Pada masa-masa antara jaman tersebut hingga revolusi industri, aliran air dan angin merupakan sumber energi mekanik yang dapat digunakan selain energi yang dibangkitkan dari tenaga hewan. Perkembangan penggunaan energi dari air yang mengalir kemudian berkembang secara berkelanjutan sebagaimana dicontohkan pada desain tenaga air yang menakjubkan pada tahun 1600-an untuk istana Versailles dibagian luar Paris, Prancis. Sistem tersebut memiliki kapasitas yang sepadan dengan 56 kW energi listrik.

Sistem tenaga air mengubah energi dari air yang mengalir menjadi energi mekanik dan kemudian biasanya menjadi energi listrik. Air mengalir melalui kanal (penstock) melewati kincir air atau turbin dimana air akan menabrak sudu-sudu yang menyebabkan kincir air ataupun turbin berputar. Ketika digunakan untuk membangkitkan energi listrik, perputaran turbin menyebabkan perputaran poros rotor pada generator. Energi yang dibangkitkan dapat digunakan secara langsung, disimpan dalam baterai ataupun digunakan untuk memperbaiki kualitas listrik pada jaringan.

GAMBAR PLTA PADA UMUMNYA
Spoiler for pic:


PENJELASAN RINCI PLTA Mrica
Spoiler for pic:


PLTA di Pulau SUMATRA

PLTA Peusangan
Spoiler for pic:

Sebagian besar energi listrik yang dihasilkan oleh Perusahaan Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan I dan Peusangan II di Takengon akan dipasok untuk kebutuhan listrik di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Berbeda dengan PLTA Asahan, Sumatera Utara, kata Dahlan, energi listrik yang dihasilkan tidak dapat dinikmati oleh masyarakat setempat, sedangkan pembangkit listrik Peusangan I dan PLTA Peusangan II Takengon diperioritaskan terlebih dahulu untuk kepentingan masyarakat setempat.Dengan kapasistas 86 MW, PLTA Peusangan mampu mensuplai energi listrik untuk seluruh daerah yang ada di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

PLTA Siguragura
Bendungan Penadah Air Siguragura (Siguragura Intake Dam) yang terletak di Simorea dan berfungsi sebagai sumber air yang stabil untuk stasiun pembangkit listrik Siguragura. Air yang ditampung di bendungan ini dipergunakan di Stasiun pembangkit listrik Siguragura (Siguragura Power Station) yang berada 200 m di dalam perut bumi dengan 4 unit generator dan total kapasitas tetap dari keempat generator tersebut adalah 203 MW dan merupakan PLTA bawah tanah pertama di Indonesia.
Tipe bendungan ini adalah beton massa dengan ketinggian 47 meter.
Spoiler for pic:


PLTA Tangga
Bendungan Penadah Air Tangga (Tangga Intake Dam) yang terletak di Tangga dan berfungsi untuk membendung air yang telah dipakai PLTA Siguragura untuk dimanfaatkan kembali pada PLTA Tangga. Bendungan ini merupakan bendungan busur pertama di Indonesia. Stasiun Pembangkit Tangga memiliki 4 unit Generator. Total kapasitas tetap dari keempat generator tersebut adalah 223 MW.
Tipe bendungan ini adalah beton massa berbentuk busur dengan ketinggian 82 meter.
Spoiler for pic:


PLTA Sipansihaporas
PLTA sipansihaporas dibangun untuk menunjang sistem kelistrikan yang ada di sumatera utara dan aceh yang juga mempunyai arti khusus didalam pertumbuhan kegiatan usaha ketenaga listrikan Indonesia saat ini.

PLTA sipansihaporas berlokasi didesa HUSOR,Sibuluan dan Sihaporas Kecamatan Sibolga ,Kabupaten Tapanuli Tengah Propinsi Sumatera Utara, mempunyai kapasitas 50 MW (33 MW + 17 MW) dan diharapkan mampu memproduksi energi sebesar 203,6 GWh per tahun.

Adapun Pusat listrik yang ada di SIPANSIHAPORAS, terdiri dari dua power stasion dan satu Dam site
Spoiler for pic:


PLTA Asahan I
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan I yang berlokasi di Porsea, Kabupaten Toba Samosir, Sumatra Utara
PLTA Asahan I, berkapasitas 2 x 90 MW memberikan kontribusi 20% bagi sistem kelistrikan Sumatera Utara dan dinilai paling stabil dibanding PLTA sejenis di tanah air, sehingga perlu kepedulian untuk menjaga lingkungannya. “Disebut stabil, karena PLTA ini tidak dipengaruhi oleh musim. Untuk tetap dapat mempertahankan pasokan tersebut, lingkungannya harus tetap terjaga
Spoiler for pic:


PLTA Batang Agam
PLTA Batang Agam merupakan salah satu dari PLTA yang “cukup” besar di Sumatera Barat disamping PLTA Maninjau. PLTA ini terletak di daerah payakumbuh. PLTA ini memanfaatkan air dari sungai batang agam. Ke “penampung” raksasa berupa danau buatan. Output dayanya boleh dibilang lumayan, karena danaunya terlihat cukup luas. Apalagi mendengar informasi bahwa output dari PLTA ini digunakan untuk menyuplai listrik di propinsi Riau. Kalau mendengar bahwa Riau adalah salah satu daerah penghasil minyak terbesar di Indonesia, sekarang kita boleh bertanya darimana asal daerah yang berperan menerangi Riau yang tentunya butuh energy listrik yang besar (karena industri dan jml populasinya) tersebut?? Jawabannya sesuai dengan judul diatas, PLTA Batang Agam ini adalah salah satu sumber pemasoknya . Tentu tidak seluruhnya, walau sebagian, pastinya PLTA Batang Agam ini adalah salah satu pemasok tenaga listrik yg besar di Riau karena konsentrasinya memang utk kesana , karena kota Bukittinggi dan Padang di suplai bukan dari PLTA ini, tetapi dari PLTA Maninjau.
Spoiler for pic:


PLTA Maninjau
PLTA Maninjau atau Pembangkit Listrik Tenaga Air Maninjau, merupakan salah satu pembangkit listrik bertenaga air, yang berada di kabupaten Agam, Sumatera Barat. PLTA ini menggunakan air Danau Maninjau sebagai sumber penggerak turbinnya, saluran masuk In-take dam PLTA ini berada di daerah Muko-muko.

PLTA Maninjau diresmikan penggunaannya oleh presiden Suharto pada tanggal 28 Desember 1983,dengan kapasitas terpasang 4 x 17 megawatt (68 MW)' kemampuan normalnya 50 MW dan kini hanya menghasilkan 30 MW. Hal ini disebabkan terbatasnya debit air danau.

Pada 30 September 2009, PLTA Maninjau mengalami gangguan dan lepas dari sistem akibat gempa bumi yang berkekuatan 7,6 skala Richter
Spoiler for pic:
PLTA Singkarak
PLTA Singkarak atau Pembangkit Listrik Tenaga Air Singkarak, merupakan salah satu pembangkit listrik bertenaga air, yang berada di kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. PLTA ini menggunakan air Danau Singkarak sebagai sumber penggerak turbinnya, saluran masuk In-take dam PLTA ini berada di daerah kabupaten Tanah Datar.

PLTA Singkarak memiliki kapasitas terpasang 4 x 43 megawatt (172 MW), kemampuannya menyusut menjadi 70 MW, disebabkan terbatasnya debit air danau
Spoiler for pic:


PLTA Tes
PLTA Tes adalah salah satu PLTA tertua di Indonesia. PLTA Tes merupakan pembangkit listrik yang memanfaatkan energi potensial air yang pertama yang didirikan di wilayah Sumatera. Pusat listrik ini menggunakan pola kolam tando dengan gedung pembangkit berada di permukaan tanah yang memanfaatkan aliran Sungai Ketaun yang dibendung dalam kolam tando sebelum dialirkan melalui penstock ke turbin. PLTA Tes terdiri dari 2 sentral unit dimana yang pertama adalah unit PLTA Tes Lama yang mulai dibangun pada tahun 1912-1923 oleh pemerintahan kolonial Hindia-Belanda dan beroperasi mulai tahun 1923 di Desa Turan Tiging Kabupaten Rejang Lebong.
Spoiler for pic:


PLTA Musi
PLTA Musi terletak di Kelurahan ujanmas,Kecamatan ujanmas,Kabupaten Kepahiang,Propinsi Bengkulu. Di kawasan itu ada dua bukit yang berada di tepi kiri dan kanan alur Sungai Musi. Jarak kedua bukit itu sekitar 200 meter sehingga memudahkan dibangunnya bendungan
PLTA Musi yang beroperasi sejak 12 April 2006 dan dibuka secara oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
PLTA Musi pertama kali disurvei tahun 1965. Setelah itu, selama 20 tahun berturut- turut dipantau perkembangan debit airnya. Setelah dinilai layak, pada 1972 mulai dilakukan studi proyek. Lalu, tahun 1994, proyek ini pun dibangun.
PLTA Musi mampu menghasilkan listrik berdaya 210 megawatt dari daya terpasang 3 x 70 megawatt.
PLTA Musi merupakan bagian dari Pembangkit Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), meliputi Sumatera Selatan, Bengkulu, Sumatera Barat, Jambi, dan Lampung dengan beban puncak 1.160,1 MW. Itu berarti PLTA Musi berkontribusi 18,1 persen atau terbanyak dari total kebutuhan listrik di lima provinsi tersebut.
Aliran air di kawasan hulu Sungai Musi lalu dibendung. Sebagian dari air itu disalurkan ke kolam khusus dengan kedalaman 6 meter. Air lalu dialirkan melalui terowongan sejauh 7 km, menembus bukit yang ada di sisi kanan menuju Kabupaten Bengkulu Tengah. Di lokasi itu air dilepas dari ketinggian 400 meter melalui sebuah pipa khusus menuju turbin yang juga dibangun di dalam tanah.
Sebagian lagi dari hulu dialirkan kembali ke alur Sungai Musi. Selama musim hujan, volume air yang dialirkan dari PLTA Musi ke sungai yang memiliki panjang sekitar 720 km itu minimal 35 meter kubik per detik, sedangkan saat kemarau sedikitnya 15 meter kubik per detik.
Spoiler for pic:


PLTA Koto Panjang
Proses pembangunan PLTA Koto Panjang yang terletak di Provinsi Riau dan dan Sumatera Barat, diawali dengan project finding oleh perusahaan konsultan dari Jepang TEPSCO (Tokio Electric Power Service Co. Ltd) bulan September dan November 1989. Untuk pembangunan fisik proyek, mulai dilakukan tahun 1991 dan diresmikan pada tanggal 28 Februari 1997. Dam PLTA Koto Panjang yang memotong aliran Sungai Kampar Kanan dan menggenangi areal seluas 124 km2, dibangun untuk menghasilkan listrik dengan kapasitas sebesar 114 MW melalui 3 unit turbin. Proyek ini dibiayai dengan dana dalam bentuk hutang sebesar 31,177 Miliar Yen dari OECF (Overseas Economic Development Fund) Jepang.
Untuk Kepentingan pembangunan PLTA Koto Panjang ini, 10 desa harus ditenggelamkan dan 4.886 kepala keluarga terusir dari desa mereka untuk pindah ketempat pemukiman baru yang kondisinya sangat buruk dan hanya menjanjikan penderitaan.
Proyek ini jelas dilihat sebagai sebuah kejahatan kemanusiaan, karena dalam prosesnya telah mengesampingkan hak rakyat untuk hidup didesa yang sudah ditempati sejak ratusan tahun yang lalu, dan kebudayaan yang sudah dianut sejak dari nenek moyang mereka.
Proyek PLTA Koto Panjang yang dibangun dibawah ancaman, intimidasi, penangkapan terhadap rakyat yang tidak setuju dengan proyek ini, dilakukan oleh pemerintah Indonesia, rekayasa dan bujuk rayu. Pemerintah menjanjikan bahwa setiap harta dan tanaman masyarakat yang terkena proyek akan diganti; disediakan lahan usaha I dan II yang akan menjadi basis ekonomi di pemukiman baru ; rumah semi permanen siap huni dengan fasilitas air bersih serta listrik gratis selama setahun.
Proses pembangunan PLTA Koto Panjang yang terletak di Provinsi Riau dan dan Sumatera Barat, diawali dengan project finding oleh perusahaan konsultan dari Jepang TEPSCO (Tokio Electric Power Service Co. Ltd) bulan September dan November 1989. Untuk pembangunan fisik proyek, mulai dilakukan tahun 1991 dan diresmikan pada tanggal 28 Februari 1997. Dam PLTA Koto Panjang yang memotong aliran Sungai Kampar Kanan dan menggenangi areal seluas 124 km2, dibangun untuk menghasilkan listrik dengan kapasitas sebesar 114 MW melalui 3 unit turbin. Proyek ini dibiayai dengan dana dalam bentuk hutang sebesar 31,177 Miliar Yen dari OECF (Overseas Economic Development Fund) Jepang.
Untuk Kepentingan pembangunan PLTA Koto Panjang ini, 10 desa harus ditenggelamkan dan 4.886 kepala keluarga terusir dari desa mereka untuk pindah ketempat pemukiman baru yang kondisinya sangat buruk dan hanya menjanjikan penderitaan.
Proyek ini jelas dilihat sebagai sebuah kejahatan kemanusiaan, karena dalam prosesnya telah mengesampingkan hak rakyat untuk hidup didesa yang sudah ditempati sejak ratusan tahun yang lalu, dan kebudayaan yang sudah dianut sejak dari nenek moyang mereka.
Proyek PLTA Koto Panjang yang dibangun dibawah ancaman, intimidasi, penangkapan terhadap rakyat yang tidak setuju dengan proyek ini, dilakukan oleh pemerintah Indonesia, rekayasa dan bujuk rayu. Pemerintah menjanjikan bahwa setiap harta dan tanaman masyarakat yang terkena proyek akan diganti; disediakan lahan usaha I dan II yang akan menjadi basis ekonomi di pemukiman baru ; rumah semi permanen siap huni dengan fasilitas air bersih serta listrik gratis selama setahun.
Spoiler for pic:


PLTA Batu Tegi
PLTA Batu Tegi adalah DAM terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, berlokasi di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.
Spoiler for Rada BWK gan:


PLTA di Pulau JAWA

PLTA Ubrug
Jaman kolonial rupanya tidak hanya mewariskan rasa duka yang mendalam bagi bangsa Indonesia. Namun dibalik itu terdapat peninggalan yang berdaya guna bagi kehidupan masyarakat Indonesia sampai saat ini. Salah satu peninggalan jaman kolonial Belanda yang sampai saat ini masih berfungsi dengan baik adalah keberadaan sejumlah PLTA di Jawa Barat.

Pada awal tahun 1920 pemerintah kolonial Belanda membangun sejumlah PLTA di daerah Jawa Barat (dataran tinggi Bandung). Sebelumnya, Belanda membentuk Perusahaan Tenaga Air Negara Jawa Barat (Landswaterkrachtbedrij f West Java) yang memiliki PLTA Ubrug dan PLTA Kracak.

PLTA yang dibangun pada tahun 1923 ini memiliki daya terpasang sebesar 2 x 5,94 MW (Unit 1 & 2) / 2 x 6,6 MVA yang beroperasi sejak tahun 1923 dan 1 x 6,48 MW (Unit 3) / 7,2 MVA yang beroperasi sejak tahun 1939 sehingga total daya sebesar 18,36 MW. PLTA ini pernah mengalami renovasi pada tahun 1994.

Spoiler for pic:
Yah...,

Kok ane jadi pertamax sih...?
gak seru ah...





Lanjutan

PLTA Bengkok

PLTA pertama yang dibangun di aliran Sungai Ci Kapundung adalah Waterkracht werk Pakar aan de Tjikapoendoeng nabij Dago (PLTA Pakar, belum jelas di mana lokasinya). Produknya adalah tenaga listrik yang didistribusikan ke rumah-rumah di Bandung dan sekitarnya oleh Bandoengsche Electriciteit Maatscappij. PLTA yang masih ada saat ini adalah PLTA Bengkok yang sudah beroperasi sejak tahun 1922. Gedung yang masih berdiri sekarang dibangun tahun 1923 dan di dalamnya masih dapat ditemukan mesin-mesin buatan tahun 1922, di antaranya mesin pendingin Ceber-Stroco Henegelo dan generator Smit Slikkerveer.

Untuk menggerakkan turbin di PLTA ini, air Sungai Ci Kapundung dialirkan melalui saluran khusus yang kemudian ditampung di kolam pengendapan lumpur dan kolam penenang di kawasan Tahura Ir. H. Djuanda (dibangun tahun 1918). Kolam ini sering disebut dengan Kolam Pakar. Melalui pintu pembuang, air memasuki suatu saluran dan menuju pipa pesat sepanjang ± 500 m (tinggi jatuh air sekitar 104 meter) dan kemudian dijadikan pembangkit generator. Listrik yang dihasilkan lalu disalurkan untuk rumah-rumah orang Belanda yang berada di daerah Bandung Utara.

Sejak tahun 1920, pengelolaan distribusi listrik ditangani oleh Gemeenschappelijk Electrisch Bedrift Bandoeng en Omstreken atau G.E.B.E.O. (kemudian menjadi PLN). Menurut salah seorang mantan pekerja di Radio Malabar di Gunung Puntang, pembangunan pembangkit listrik di utara Bandung ini juga difungsikan untuk menambah pasokan kebutuhan listrik dalam mengoperasikan stasiun pemancar Radio Malabar.

Selain PLTA Bengkok, di tempat terpisah di kawasan ini juga terdapat PLTA Dago yang selain berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik juga untuk memenuhi kebutuhan PDAM.
Spoiler for pic:


PLTA Saguling
Terletak di Jawa Barat membendung waduk saguling menghasilkan 4 x 175 MW.
Spoiler for pic:


PLTA Cirata
Unit Pembangkitan (UP) Cirata mengoperasikan Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) menggunakan energi air dari waduk (danau) Cirata yang bersumber dari aliran sungai Citarum di Jawa Barat, terletak di Desa Cadas Sari, Kecamatan Tegal Waru Plered Purwakarta Jawa Barat, tepatnya sekitar 60 km sebelah Barat Laut kota Bandung atau 100 km dari kota Jakarta melalui Purwakarta. UP Cirata memiliki 8 unit pembangkit listrik dengan total daya terpasang 1.008 MW dengan produksi energi listrik rata–rata 1.428 GWh per-tahun.

UP Cirata merupakan PLTA terbesar di Asia Tenggara, dengan bangunan Power House 4 lantai di bawah tanah yang mengoperasikannya dikendalikan dari ruang control Switchyard berjarak sekitar 2 km dari mesin–mesin pembangkit yang terletak di Power House.
Spoiler for pic:


PLTA Jatiluhur
Waduk Jatiluhur terletak di Kecamatan Jatiluhur,

Bendungan itu dinamakan oleh pemerintah Waduk Ir. H. Juanda, dengan panorama danau yang luasnya 8.300 ha.

Bendungan ini mulai dibangun sejak tahun 1957 oleh kontraktor asal Perancis, dengan potensi air yang tersedia sebesar 12,9 milyar m3 / tahun dan merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia.

Di dalam Waduk Jatiluhur, terpasang 6 unit turbin dengan daya terpasang 187 MW dengan produksi tenaga listrik rata-rata 1.000 juta kwh setiap tahun, dikelola oleh PT. PLN (Persero).

Selain dari itu Waduk Jatiluhur memiliki fungsi penyediaan air irigasi untuk 242.000 ha sawah (dua kali tanam setahun), air baku air minum, budi daya perikanan dan pengendali banjir yang dikelola oleh Perum Jasa Trita II.

Selain berfungsi sebagai PLTA dengan sistem limpasan terbesar di dunia, kawasan Jatiluhur memiliki banyak fasilitas rekreasi yang memadai, seperi hotel dan bungalow, bar dan restaurant, lapangan tenis, bilyard, perkemahan, kolam renang dengan water slide, ruang pertemuan, sarana rekreasi dan olahraga air, playground dan fasilitas lainnya.

Dikawasan ini pula kita dapat melihat Stasiun Satelit Bumi yang dikelola oleh PT. Indosat Tbk. (±7 km dari pusat Kota Purwakarta), sebagai alat komunikasi internasional. Jenis layanan yang disediakan antara lain international toll free service (ITFS), Indosat Calling Card (ICC), international direct dan lainnya.
Spoiler for pic:


PLTA Lamajan
Pangalengan masih banyak menyimpan sisi lain yang tidak kalah bagusnyaT. Salah satunya adalah menjejaki jajaran pembangkit tenaga listrik yang ada di sana, seperti PLTA Lamajan dan PLTA Plengan. Keduanya merupakan peninggalan Belanda yang sampai kini masih beroperasi. Jejak-jejak yang mengundang imajinasi masa lampau. Dan di PLTA tersebut kita bisa menikmati udara segar Pangalengan dan pemandangan dengan naik Lori!

Tahun 1920, untuk pertama kalinya jawatan listrik Hindia Belanda terbentuk di Bandung. Awalnya, PLTA ini hanya menyediakan aliran listrik untuk gedung-gedung pemerintahan Belanda, tempat pertemuan sosial yang sekarang menjadi Gedung Merdeka, dan kawasan pertokoan di Jalan Braga. Sebagian dari gedung-gedung bersejarah tersebut, hingga kini masih berdiri kokoh. Semuanya orang Belanda. Kebiasaan orang Belanda beristirahat sambil minum teh di sore hari, juga mendorong penguasa Belanda pada waktu itu, memberikan akses penerangan listrik di tempat favorit mereka, Dago Tea House.

Akan tetapi sebelum penerangan di Bandungnya sendiri, wilayah dataran yang lebih tinggi seperti Pangalengan dan Ciwidey lebih dulu dialiri listrik. Salah satu penyebabnya adalah keberadaan stasiun radio Malabar. Dari momen inilah berikutnya dibangun beberapa PLTA untuk mengakomodir kebutuhan listrik di perkebunan teh. Preangerplaanters, atau para pemilik perkebunan teh di Pangalengan, Lembang dan Ciwidey turut memanfaatkannya.

Salah satu PLTA di daerah selatan Bandung adalah PLTA Plengan. Terletak sekitar 5 km dari kota kecamatan Pangalengan, dikelilingi tebing-tebing bukit di sekitarnya, cukup adem dan memanjakan pandang. Dari sinilah tenaga listrik sekira 6,75 MW dihasilkan. Sebuah bangunan tua menaungi lima mesin turbin yang mengolah tenaga air menjadi listrik.

Tak jauh dari bangunan itu, dua pipa berdampingan menjulur dari ketinggian dengan bertopang pada kemiringan lereng. Dari pipa-pipa yang dicat hijau itu, meluncur air dengan derasnya. Di ujung bawah, aliran itu dipecah ke lima saluran pipa yang masing-masing menuju turbin. Melihat pipa-pipa sepanjang 206 meter itu dari bawah, benar-benar mengagumkan. Terutama membayangkan saat-saat membangunnya dulu. Diameter pipa hampir mencapai 1,2 meter. Sekadar diketahui, PLTA itu beroperasi sejak tahun 1922. Hebatnya, selama 80 tahun lebih pipa ini digunakan ternyata belum pernah mengalami kebocoran.

Air yang dipergunakan PLTA Plengan berasal dari tiga sumber, yakni Sungai Cisangkuy, Cisarua, dan Situ Cileunca yang berjarak 3 km dari PLTA tersebut. Untuk menuju ke ujung pipa atas, susunan tangga yang berjumlah sampai 400 anak tangga, tersedia di sisinya. Untuk kebugaran, rasanya tak ada salahnya mencoba menaiki dan menuruni tangga itu. Panorama tak kalah mengagumkan tampak pula di sekitar kawasan PLTA Lamajan. Jaraknya bisa dibilang tak terlalu jauh dari PLTA Plengan. Toh keduanya berada pada blok yang sama di sekitar Gunung Tilu. Yang membuat atmosfir di sana lebih indah karena kecuraman pipanya, yang memiliki diameter 1,5 meter, sedangkan panjangnya mencapai 500 meter. Dari jalan raya Bandung-Pangalengan, dua pipa berwarna kuning ini terlihat jelas. Belum lagi anak tangganya yang berada di sisinya yang berjumlah ratusan lebih. PLTA Lamajan memiliki tiga turbin masing-masing menghasilkan listrik sebesar 6,525 MW beroperasi sejak 1925.
Spoiler for pic:
ini baru yg di sebut wawasannn
kok di daerah ane gak ada ya gan ...
paling banyak di sumut ya gan, pantes aja di sini listrik menjangkau sampai ke pelosok gan,,,,
wahhh bangganya punya plta sendiri daerah ane
Thanks ya bwat sharing, sekarang nambah lagi ilmuku.




jadi inget waktu masih kecil dulu..sering banget di ajak ayah mancing ikan di PLTA Karangkates
panjang amat gan artikel nya... nyimak dulu deh
ane pernah ke batu tegi gan
karna kampung ane ada di tanggamus
ane mnta PLTA Way Besai dong,,,
di Lampung Barat
whhh ane lebih suka PLTS gan pembangkit listrik tenaga sampah
itu yg PLTA singkarak, rel kereta api nya di atas bendungan ???

Lanjutan part 2

PLTA Parakan Kondang
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Parakankondang milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Dusun Parakankondang, Desa Kadujaya, Kec. Jatigede, Kab. Sumedang
Spoiler for pic:


PLTA Jelok
Pembangkit Listrik Tenaga Air Jelok di Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, beroperasi sejak tahun 1938. Listrik dari pembangkit tersebut pernah menjadi pemasok utama kebutuhan listrik di gemeente atau kotapraja Salatiga yang dahulu banyak dihuni orang-orang Belanda. PLTA Jelok merupakan PLTA tertua di Indonesia karena dioperasikan pada tahun 1938 dan dikelola pada masa pemerintah Hindia Belanda oleh ANIEM. Akan tetapi pada 1955 PLTA Jelok berhasil diambil alih Indonesia.
Spoiler for pic:


PLTA Ketenger
PLTA Ketenger yang berlokasi di Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Propinsi Jawa Tengah kurang lebih 12 km di sebelah Utara Kota Purwokerto.

Dalam perkembangannya PLTA ketenger sekarang terdiri dari tiga mesin pembangkit dengan total kapasitas daya kurang lebih 8,09 MW. Keberadaan PLTA ini dibawah naungan PT. Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit Mrica di Banjarnegara. Disamping itu PLTA ketenger, PT. Indonesia Power juga mengolah seluruh PLTA yang ada di Jawa Tengah.
Spoiler for pic:

Pembangunan PLTA Ketenger
Spoiler for pic:


PLTA Gajah Mungkur
PLTA Waduk Gajah Mungkur adalah sebuah PLTA yang membendung waduk yang terletak 3 km di selatan Kota kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Perairan danau buatan ini dibuat dengan membendung sungai terpanjang di pulau Jawa yaitu sungai Bengawan Solo. Mulai dibangun di akhir tahun 1970-an dan mulai beroperasi pada tahun 1978. Waduk dengan wilayah seluas kurang lebih 8800 ha di 7 kecamatan ini bisa mengairi sawah seluas 23600 ha di daerah Sukoharjo, Klaten, Karanganyar dan Sragen. dihasilkan listrik dari PLTA sebesar 12,4 MegaWatt. Untuk membangun waduk ini pemerintah memindahkan penduduk yang tergusur perairan waduk dengan transmigrasi Bedhol Deso ke Sitiung, wilayah Provinsi Lampung
Spoiler for pic:


PLTA Wadaslintang
PLTA Wadaslintang atau Pembangkit Listrik Tenaga Air Wadaslintang merupakan salah satu pembangkit listrik bertenaga air yang terletak di wilayah kecamatan Wadaslintang, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia.

PLTA Wadaslintang memiliki kapasitas 2 x 8 MW (16 MW),[1] dengan memanfaatkan air pada waduk Wadaslintang yang menggunakan Kali Gede sebagai sumber air utamanya dengan beberapa anak sungai kecil lainnnya. Sehingga operasional PLTA ini sangat bergantung kepada keadaan air yang ada di waduk tersebut.[2]

Waduk Wadaslintang terletak di bagian selatan wilayah kecamatan Wadaslintang berbatasan dengan kecamatan Prembun di kabupaten Kebumen. Dalam proses pembangunannya, waduk Wadaslintang memakan beberapa desa sehingga mengharuskan warganya untuk berpindah tempat tinggal. Proses pembangunan waduk ini dilakukan dalam masa pemerintahan Presiden Suharto di tahun 1992. Waduk ini terkenal sebagai lokasi favorit untuk rekreasi memancing bagi para penggemar olah raga memancing. Biasanya pada akhir pekan dan hari libur, banyak pemancing baik dari dalam maupun luar kota yang mengunjungi waduk ini.

Waduk ini memiliki beberapa fungsi penting yang menopang kehidupan warga di sekitarnya, diantaranya :

1. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
2. Perikanan
3. Pariwisata
4. Mencegah banjir
5. Penampung air
Spoiler for pic:


PLTA Mrica
Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Mrica merupakan salah satu dari 8 unit pembangkitan yang dimiliki oleh PT Indonesia Power yang terletak di Jawa Tengah. UBP Mrica merupakan pembangkit listrik bertenaga air atau lebih dikenal dengan Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan menggunakan sistem Waduk, Kolam Tando, dan Run of River (berada di aliran sungai).

Beberapa kelebihan PLTA dibanding jenis pembangkit lainnya antara lain:
Waktu pengoperasiannya dari start awal relatif lebih cepat (10 menit) serta mampu block start.
Sistem pengoperasian mudah mengikuti perubahan beban dan frekuensi pada sistem penyaluran dengan Setting Speed Drop Free Governor.
Biaya operasi relatif lebih murah karena menggunakan air.
PLTA adalah jenis pembangkit yang ramah lingkungan, tanpa melalui proses pembakaran sehingga tidak menghasilkan limbah bekas pembakaran.
PLTA yang menggunakan waduk dapat difungsikan dengan multi guna (misal pengairan, perikanan, dll)

Unit Bisnis Pembangkitan Mrica memiliki 25 mesin pembangkit yang tersebar di seluruh Jawa Tengah dengan total kapasitas terpasang 306,44 MW.

Sumber air PLTA PB Sudirman(Mrica) berasal dari DAS sungai Serayu yang terletak di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo dengan curah hujan rata-rata 3.900 mm per tahun dengan luas daerah tangkapan hujan 1022 km2. Waduk memiliki ketinggian normal 231 m dengan luas genangan 8 km2. Bendungan Utama terbuat dari timbunan batu dengan inti kedap air setinggi 109 m dan dinding lindung beton setinggi 1,5 m.
Spoiler for pic:

PLTA Kedung Ombo

Pada tahun 1985 pemerintah merencanakan membangun waduk baru di Jawa Tengah untuk pembangkit tenaga listrik berkekuatan 22,5 megawatt dan dapat menampung air untuk kebutuhan 70 hektar sawah disekitarnya. Waduk ini dinamakan Waduk Kedung Ombo. Pembangunan Waduk Kedung Ombo ini dibiayai USD 156 juta dari Bank Dunia, USD 25,2 juta dari Bank Exim Jepang, dan APBN, dimulai tahun 1985 sampai dengan tahun 1989.Waduk mulai diairi pada 14 Januari 1989. Menenggelamkan 37 desa, 7 kecamatan di 3 kabupaten, yaitu Sragen, Boyolali, Grobogan. Sebanyak 5268 keluarga kehilangan tanahnya akibat pembangunan waduk ini.Waduk Kedung Ombo merupakan bendungan raksasa seluas 6.576 hektar yang areanya mencakup sebagian wilayah di tiga Kabupaten, yaitu; Sragen, Boyolali, dan Grobogan. Waduk yang membendung lima sungai itu terdiri dari wilayah perairan seluas 2.830 hektar dan 3.746 hektar lahan yang tidak tergenang air.Selain disuguhi pemandangan nan indah, para pengunjung Waduk Kedung Ombo bisa menikmati wisata air, menumpang perahu motor bertualang mengunjungi pulau-pulau yang bermunculan di tengah waduk. Anda penyuka ikan bakar atau hobi mengail ikan? Jangan khawatir, di Waduk Kedung Ombo juga tersedia tempat pemancingan sekaligus warung yang menjajakan aneka makanan olahan berbahan ikan. Begitu turun dari kendaraan di area parkir, aroma wangi ikan yang dibakar atau digoreng langsung menyergap, mengundang selera makan.
Spoiler for pic:
thanks gan, infonya,,,
jadi menambah wawasan nih...,.
gambarnya kurang gede gan
berat banget bukanya
btw up date lagi gan, keren2 banget inponya

Lanjutan part 3

PLTA Klambu
Terletak di desa Klambu kecamatan Klambu 11 km disebelah barat daya dari kota Purwodadi

Waduk klambu merupakan bendungan besar tempat bertemunya dua sungai besar yaitu sungai Serang dan sungai Lusi itu mempunyai luas oncoran yang terdiri dari klambu bagian kanan yang mengairi sawah seluas 17.288 hektar yang menjangkau kabupaten Grobogan,Kudus dan Pati. Kemudian klambu bagian Kiri mengairi sawah seluas 21.457 hektar di wilayah kabupaten Demak dan Kudus.serta klambu juana melalui pompa air Tambakromo yang mengairi persawahan seluas 9.970 hektar yang menjangkau kabupaten Pati dan Rembang.Bendung Klambu ini selain untuk irigasi persawahan juga buntuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kekuatan 1.2MW serta di gunakan untuk sumber air Minum untuk masyarakat kota Semarang dan sekitarnya yang di ambil melalui pipa dalam tanah sepanjang 45 kilometer dengan kapasitas debit air 1.500 Liter/detik.
Spoiler for pic:


PLTA Mendalan
PLTA Mendalan terletak di Desa Pondok Agung Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Jawa Timur.PLTA Mendalan berada di ketinggian ± 427,50 m diatas permukaan laut dan dikelilingi oleh pegunungan.
PLTA Mendalan didirikan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1927,dengan bangunan yang merupakan peninggalan pemerintahan Belanda itu sendiri bernama NIWEM ( Nederlandsch of Indische Water Kracht Electricitiet Maatscapppy ) dan beroperasi tahun 1932.
Pada saat itu mendalan mempunyai 4 unit pembangkit berkapasitas terpasang 5,6 MW, dengan merk OERLIKON.Sekitar tahun 1949 PLTA Mendalan tidak luput dari ajang pertempuran yang mengakibatkan rusaknya keempat unit.pada tahun 1953 Belanda mengadakan perbaikan, hampir semua peralatan rusak.
Spoiler for pic:


PLTA Siman
PLTA Siman merupakan salah satu pembangkit di perbatasan Kabupaten Kediri dan Malang. Kapasitas yang dimiliki PLTA Siman sebesar 3 x 4,5 KVA dengan daya mampu 3 x 3,5 MW. PLTA Siman memasok listrik untuk keperluan daerah sekitar ( Siman, Kepung, Puncu ) dan GI Sekar Putih Mojokerto.

Spoiler for pic BWK gan:


PLTA Giringan
PLTA giringan terletak di desa kepel kec kare kab madiun.
Spoiler for pic:


PLTA Karangkates
Bendungan Karangkates atau yang sekarang biasa disebut dengan Bendungan Sutami terletak di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bendungan yang airnya berasal dari Sungai Brantas ini mulai dibangun oleh pemerintah antara tahun 1975-1977 dengan dana sekitar US$37,97 juta atau Rp.10.093 milyar untuk dijadikan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Untuk dapat mencapai Bendungan Karangkates relatif mudah (menggunakan kendaraan umum), karena lokasinya berada di tepi jalan raya Malang-Blitar, sekitar 35 kilometer di sebelah selatan Kota Malang atau 16 kilometer arah barat obyek wisata Gunung Kawi.
Spoiler for pic:


PLTA Lodoyo
terletak di kabupaten blitar
Karakteristik Bendung Lodoyo sendiri dapat dilihat dibawah ini :
Tujuan :

1. Pembangkit tenaga listrik PLTA unit II Wlingi Raya dengan daya terpasang 1 x 27 MW
2. PLTA Lodoyo dengan daya terpasang 1 x 4,7 MW
3. Pengatur debit air (afterbay) PLTA Wlingi Raya
4. Pengendalian banjir
5. Perikanan darat dan pariwisata
Spoiler for pic:


PLTA Seguruh
PLTA Sengguruh yang ada di Kepanjen Malang
Spoiler for pic:


PLTA Tulung Agung
PLTA Tulungagung Sebuah pembangkit tenaga listrik yang terletak di tepi Laut Selatan (Samudera Hindia). PLTA ini berlokasi di sebuah dusun kecil bernama Sidem, jadi wajar jika sebagian orang mengenalnya sebagai PLTA Sidem. Namun bagi masyarakat Tulungagung PLTA ini lebih dikenal dengan sebutan PLTA Neyama.

Pada masa pendudukan tentara Jepang (1942-1945) dilaksanakan kerja paksa “Romusha” berupa pembuatan saluran dan terowongan air Neyama (Gunung Selatan) untuk mengalirkan kelebihan air DAS Kali Brantas di daerah Tulungagung ke Samudera Hindia. Hal ini dilakukan sebagai upaya Jepang untuk mengendalikan banjir. Namun pelaksanaannya terhenti akibat kekalahan tentara Jepang dalam Perang Dunia ke II (Agustus 1945).

Tahun 1955 daerah Tulungagung terkena banjir besar yang menelan banyak korban dan kejadian itu menimbulkan gagasan pembangunan kembali terowongan Neyama yang kemudian pada tahun 1955-1961 pembangunan terowongan Neyama tersebut diteruskan oleh Dinas Pengairan Provinsi Jawa Timur.

Selanjutnya pada tahun 1978 dilakukan Proyek Drainase Tulungagung berupa pembuatan Terowongan Tulungagung Selatan dan Saluran Drainase Parit Agung ke arah selatan menuju Samudera Hindia dan dibangunlah PLTA ini sebagai kelanjutan dari pengembangan Proyek Drainase Tulungagung guna memanfaatkan kelebihan sumber daya air yang melimpah untuk kepentingan pembangkit tenaga listrik.
Spoiler for pic:


PLTA Tulis
PLTA Tulis yang terletak di Desa Sokaraja Kecamatan Pagentan, sekitar 30 kilometer arah hulu waduk PLTA Mrica.
Spoiler for pic:


PLTA di Pulau KALIMANTAN
PLTA Riam Kanan
Ir.Pangeran Muhammad Noor, putra daerah Kalimantan Selatan, semasa hidupnya bercita-cita luhur untuk memajukan daerah Kalimantan Selatan. Beberapa prakarsa dari beliau antara lain: proyek PLTA, proyek pengembangan wilayah Sungai Barito, proyek pasang surut untuk meningkatkan transmigrasi dan proyek perluasan persawahan pasang surut.
Bendungan PLTA Ir. PM. Noor dibangun di salah satu cabang Sungai Barito yaitu Sungai Riam Kanan di Desa Aranio, 25 km di sebelah timur Kota Banjarbaru atau 60 km di sebelah timur Kota Banjarmasin. Pelaksanaan pembangunan di Job Site Riam Kanan dilaksanakan dengan sistem sendiri dengan penasihat dari Consulting Engineer Nippon Koei & Co dan Goldance Engineer Hazama Gumi dengan melalui berbagai tahapan, yaitu:
* November 1958 – Januari 1959: Survey Pendahuluan
* Juli – Desember 1970: Penimbunan main dam tahap pertama.
* 30 Juni 1972: Pengisian waduk
* 30 April 1973: Peresmian PLTA oleh Presiden RI, Soeharto.
* 19 Januari 1980 nama PLTA Riam Kanan diganti menjadi PLTA Ir. Pangeran Muhammad Noor sebagai wujud penghormatan terhadap jasa-jasa Alm. Ir. PM. Noor
* Juli 1980 – Mei 1981: Pembangunan tahap II, yaitu penambahan satu unit turbin sehingga sekarang PLTA Ir. PM. Noor memiliki tiga unit turbin.
Spoiler for pic:
keren gan designnya
×