KASKUS

Thumbs up Ekstasi itu apa?? ini ceritanya..

Ekstasi tidak menyebabkan kerusakan otak

Another story about Drugs, sebuah penelitian besar di amerika menemukan bahwa penggunaan MDMA (bahan dasar Ekstasi) tidak mengakibatkan kerusakan otak. Penelitian ini dilakukan guna meninjau ulang kesalahan metode yang terjadi pada penelitian sebelumnya.

Kepala peneliti dari National Institute on Drug Abuse (NIDA), Dr. John Halpern MD tidak menemukan terjadinya cacat kognitif atau mental pada orang orang yang memakai inek. Yang menyebabkan kerusakan pada badan lebih banyak karena kekurangan cairan dan istirahat dikarenakan party semalam suntuk dan non-stop. Dalam batas tertentu seperti obat yang lain, apabila terlalu banyak akan mengakibatkan overdosis dan bisa mematikan.

Penelitian pada tahun 2002 yang dilakukan George Ricaurte cukup menggemparkan. Dia bilang kalau pengguna Ekstasi mempunyai potensi yang besar untuk mengidap Parkinson. Hal ini terbukti tidak akurat, karena terbukti penelitian yang dilakukan olehnya kesalahan dalam menggunakan substansi lain yaitu Methampetamine yang keras.

Jadi apakah ekstasi aman? Jawabannya mungkin tidak, karena produksinya illegal, banyak campuran yang tidak diketahui dan berbahaya bagi tubuh. So be carefull...

sumber :
http://www.addictionjournal.org/view...ase.asp?pr=147
--

New study finds no cognitive impairment among ecstasy users
15 February 2011


The drug known as ecstasy has been used by 12 million people in the United States alone and millions more worldwide. Past research has suggested that ecstasy users perform worse than nonusers on some tests of mental ability. But there are concerns that the methods used to conduct that research were flawed, and the experiments overstated the cognitive differences between ecstasy users and nonusers.

In response to those concerns, a team of researchers has conducted one of the largest studies ever undertaken to re-examine the cognitive effects of ecstasy, funded by a $1.8 million grant from the National Institute on Drug Abuse (NIDA) and published today in the journal Addiction. The study was specifically designed to minimize the methodological limitations of earlier research.

In contrast to many prior studies, ecstasy users in the new study showed no signs of cognitive impairment attributable to drug use: ecstasy use did not decrease mental ability.

Lead author John Halpern is quick to point out that this group of researchers is not the first to identify limitations in prior studies of ecstasy users. “Researchers have known for a long time that earlier studies of ecstasy use had problems that later studies should try to correct. When NIDA decided to fund this project, we saw an opportunity to design a better experiment and advance our knowledge of this drug.”

The researchers fixed four problems in earlier research on ecstasy. First, the non-users in the experiment were members of the "rave" subculture and thus repeatedly exposed to sleep and fluid deprivation from all-night dancing -- factors that themselves can produce long-lasting cognitive effects.

Second, participants were screened for drug and alcohol use on the day of cognitive testing, to make sure all participants were tested while ‘clean’.

Third, the study chose ecstasy users who did not habitually use other drugs that might themselves contribute to cognitive impairment.

Finally, the experiment corrected for the possibility that any cognitive impairment shown by ecstasy users might have been in place before they started using the drug.

The resulting experiment whittled 1500 potential participants down to 52 carefully chosen ecstasy users, whose cognitive function was compared against 59 closely-matched non-users, with tests administered at several stages to make sure participants were telling the truth about their drug and alcohol use.

So does this mean that ecstasy really is the risk-free, hangover-free, miracle drug that lets young ravers and gamers party all weekend without having to pay the price? Says Halpern, “No. Ecstasy consumption is dangerous: illegally-made pills can contain harmful contaminants, there are no warning labels, there is no medical supervision, and in rare cases people are physically harmed and even die from overdosing. It is important for drug-abuse information to be accurate, and we hope our report will help upgrade public health messages. But while we found no ominous, concerning risks to cognitive performance, that is quite different from concluding that ecstasy use is ‘risk-free’."

-- Ends --

For editors:

Media seeking interviews with Dr. Halpern should call McLean Hospital Public Affairs: 1-617-855-2110.

Halpern J.H., Sherwood A.R., Hudson J.I., Gruber S., Kozin D., and Pope H.G. Jr. Residual neurocognitive features of long-term ecstasy users with minimal exposure to other drugs. Addiction, 106: doi:10.1111/j.1360-0443.2010.03252.x

For a full text copy of any article, or to comment on the key findings service, please contact Jean O’Reilly, Editorial Manager, Addiction, jean@addictionjournal.org, tel +44 (0)20 7848 0853.

Addiction ([url]www.addictionjournal.org[/url]) is a monthly international scientific journal publishing more than 2000 pages every year. Owned by the Society for the Study of Addiction, it has been in continuous publication since 1884. Addiction is the top journal in the field of substance abuse and is number one in the 2008 ISI Journal Citation Reports © Ranking in the Substance Abuse Category. Addiction publishes peer-reviewed research reports on alcohol, illicit drugs and tobacco, bringing together research conducted within many different disciplines, as well as editorials and other debate pieces.

semoga bermanfaat

TAMBAHAN:
Mohon di Baca ini buat bahan share & berbagi pengalaman tanpa menyebutkan bendanya, tempat & namanya dan bukan transaksi, TOLONG ya TOLONG....kita punya generasi & sudah pasti anak2 kita di kemudian hari...agar pengalaman kita mereka ketahui & merekalah yg akan berfikir baik/buruknya
notes:

thread ini sebagai bahan pembelajaran, akibat seperti apa yg akan ditimbulkan jika kita mengkonsumsi pil ini

stay calm.....rapih dikit....jangan terlampau vulgar.

Ekstasi Berguna untuk Obati Stres Berat

Senin, 19/07/2010 11:48 WIB
Ekstasi Berguna untuk Obati Stres Berat

Merry Wahyuningsih - detikHealth

South Carolina, Ekstasi merupakan obat ilegal yang dilarang peredarannya. Penelitian terbaru justru menemukan bahwa ekstasi bagus untuk pengobatan gangguan stres pasca-trauma.


Secara medis, obat MDMA (Methylene Dioxy Meth Amphetamine) atau yang lebih dikenal dengan ekstasi ini, diketahui dapat merusak otak dan mempengaruhi daya ingat.

Tetapi menurut hasil penelitian yang telah dipublikasikan dalam Journal of Psychopharmacology, ekstasi dapat berguna bagi orang dengan gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder atau PTSD), misalnya trauma pelecehan seksual.

Peneliti percaya bahwa ekstasi dapat menaikkan tingkat serotonin kimia otak yang disebut hormon oksitosin, yaitu hormon yang diyakini sangat terkait dengan ikatan sosial dan salah satu hormon yang dapat mengurangi efek dari kortisol (hormon pemicu stres).

"Selain itu, euforia (kegembiraan yang meluap-luap) dan rasa nyaman yang ditimbulkan akibat penggunaan ekstasi tampaknya dapat membantu pasien yang membutuhkan terapi pengobatan PTSD," kata Michael Mithoefer, M.D., penulis utama penelitian dan psikiater spesialis PTSD di Mount Pleasant, South Carolina, seperti dilansir dari CNN, Senin (19/7/2010).

Menurut Mithoefer, orang-orang yang mengalami trauma atau peristiwa yang sangat menyakitkan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat pulih dan kembali normal. Untuk itu, diperlukan obat yang dapat membuatnya merasa nyaman.

Tapi menurut National Institute on Drug Abuse, pengobatan ini tidak boleh dilakukan tanpa pengawasan dokter atau tenaga kesehatan lain.

Hal ini karena penyalahgunaan ekstasi dapat menyebabkan depresi, kecemasan berat dan masalah potensi kognitif. Ditambah lagi, ekstasi yang dijual bebas sudah banyak mengandung kontaminasi, yang tidak hanya dapat merusak otak tetapi juga membahayakan nyawa penggunanya.

Melakukan penelitian dengan obat-obatan terlarang adalah proses yang sangat rumit. Ini adalah percobaan klinis pertama untuk mengeksplorasi potensi terapeutik MDMA sejak obat itu dilarang pada tahun 1985.

Selain itu, peneliti juga memerlukan izin dari National Institutes of Health, Food and Drug Administration, serta Drug Enforcement Administration.

Penggunaan MDMA dalam psikoterapi sebenarnya telah dipelajari selama beberapa dekade, tetapi semua penelitian di Amerika Serikat berhenti setelah obat tersebut menjadi ilegal
(mer/ir)

sumber: http://health.detik..com/read/2010/0...ti-stres-berat

Thumbs up Ekstasi Bisa Berguna untuk Terapi Autisme

Senin, 03/01/2011 16:17 WIB
Ekstasi Bisa Berguna untuk Terapi Autisme

Merry Wahyuningsih - detikHealth

New York City, Ekstasi merupakan salah satu dari obat terlarang yang banyak digunakan di Indonesia, selain kokain, ganja dan heroin. Tapi penelitian baru menemukan bahwa ekstasi bisa berguna untuk dijadikan terapi autisme.

Ekstasi atau dikenal juga sebagai MDMA (Methylene Dioxy Meth Amphetamine) telah dikenal dapat meningkatkan perasaan bahagia, euforia, rasa keintiman dengan orang lain, serta meredakan depresi dan kegelisahan, meski obat ini juga sangat berbahaya bila disalahgunakan.

"Efek empathogenic ini menunjukkan bahwa MDMA bisa berguna untuk meningkatkan psikoterapi bagi pasien yang mengalami masalah komunikasi, seperti autisme, skizofrenia atau gangguan kepribadian antisosial lain," jelas Gillinder Bedi, asisten profesor psikologi klinis di Columbia University dan peneliti di New York State Psychiatric Institute, New York City, seperti dilansir Medindia, Senin (3/1/2011).

Menurut Bedi, ekstasi dapat mempengaruhi neuron di otak yang menggunakan serotonin neurotransmitter untuk berkomunikasi dengan neuron lainnya.

Serotonin kimia otak yang disebut hormon oksitosin memainkan peranan penting dalam mengatur suasana hati, agresi, tidur dan kepekaan terhadap rasa sakit, juga terkait dengan ikatan sosial dan salah satu hormon yang dapat mengurangi efek dari kortisol (hormon pemicu stres).

"Dalam konteks pengobatan, efek ini bisa meningkatkan keakraban pada orang-orang yang mengalami kesulitan merasa dekat dengan orang lain," kata John Krystal, editor Biological Psychiatry.


Sayangnya, ekstasi sering digunakan kalangan 'club drug' saat menikmati hiburan malam hari. Obat ini sering disalahgunakan dengan cara dikombinasikan dengan alkohol, sehingga memiliki efek yang dapat berpotensi mengancam nyawa.

"Meski demikian diperlukan lebih banyak penelitian mengenai pengontrolan ekstasi untuk menentukan apakah obat ini bisa dengan aman dan efektif menjadi obat psikoterapi untuk beberapa kondisi," ungkap Bedi.

Temuan sebelumnya yang telah dipublikasikan dalam Journal of Psychopharmacology juga menunjukkan bahwa ekstasi dapat berguna bagi orang dengan gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder atau PTSD), misalnya trauma pelecehan seksual.

Dr. Michael Mithoefer yang melakukan studi ekstasi dan PTSD sebelumnya menuturkan sangat penting untuk menyelidiki terapi baru yang potensial. Dan hal ini tidak boleh dicegah hanya karena ada sesuatu yang disalahgunakan.

"Banyak hal yang bisa mengancam jiwa atau berbahaya jika digunakan secara tidak benar. Tapi jika digunakan dengan bijaksana dan benar, maka ada banyak hal yang juga bisa membantu," ungkap Dr Mithoefer.


sumber: http://health.detik..com/read/2011/0...terapi-autisme

Thumbs up Ekstasi Meningkatkan Kemampuan Sosialisasi?

Rabu, 22/12/2010 10:29 WIB
Ekstasi Meningkatkan Kemampuan Sosialisasi?

Vera Farah Bararah - detikHealth

New York, Ekstasi memberikan efek gembira dan rasa nyaman bagi si pemakainya, karena obat ini meningkatkan produksi hormon oksitosin, yaitu hormon yang menenangkan dan mengatasi rasa gugup. Penemuan terbaru ekstasi bisa meningkatkan kemampuan sosialisasi.


Psikolog dari Columbia University dan peneliti di New York State Psychiatric Institute, New York City menemukan ekstasi atau obat MDMA (Methylene Dioxy Meth Amphetamine) bisa membantu orang lebih mudah melakukan koneksi sosial pada orang lain.

Obat MDMA ini dapat meningkatkan kadar keramahan dan cinta, sehingga ada kemungkinan bisa digunakan sebagai terapi untuk meningkatkan interaksi sosial. Meskipun hubungan tersebut masih bersifat sementara atau bukan hubungan yang mendalam. Hasil temuan ini telah diterbitkan dalam Biological Psychiatry edisi 15 Desember 2010.


"Temuan ini menunjukkan MDMA dapat meningkatkan sosialisasi, tapi tidak berarti dapat meningkatkan empati," ungkap Gillinder Bedi, asisten profesor psikologi klinis di Columbia University dan peneliti di New York State Psychiatric Institute, New York City, seperti dikutip dari HealthDay, Rabu (22/12/2010).

Pada bulan Juli 2010, studi lain melaporkan bahwa MDMA mungkin berguna dalam mengobati gangguan stres pasca trauma (post-traumatic stress disorder/PTSD). Hal ini berdasarkan dampak dari obat yang dapat mengatasi kesedihan dengan membantu mengendalikan ketakutan tanpa membuat orang tersebut merasa mati rasa terhadap emosionalnya.

Ekstasi sering digunakan kalangan 'club drug' saat menikmati hiburan malam hari. Obat ini sering disalahgunakan dengan cara dikombinasikan dengan alkohol, sehingga memiliki efek yang dapat berpotensi mengancam nyawa.

Bedi dan tim menyarankan efek positif dari ekstasi ini bisa membantu orang meningkatkan keterampilan sosialnya dengan melindungi dirinya dari emosi negatif orang lain. Selain itu kemungkinan bisa membantu orang yang PTSD, autisme, skizofrenia atau gangguan kepribadian antisosial untuk mengatasi kesulitan emosional sosialnya.

"Meski demikian diperlukan lebih banyak penelitian mengenai pengontrolan MDMA untuk menentukan apakah obat ini bisa dengan aman dan efektif menjadi obat psikoterapi untuk beberapa kondisi," ungkap Bedi.

Dr. Michael Mithoefer yang melakukan studi MDMA dan PTSD sebelumnya menuturkan sangat penting untuk menyelidiki terapi baru yang potensial. Dan hal ini tidak boleh dicegah hanya karena ada sesuatu yang disalahgunakan.

"Banyak hal yang bisa mengancam jiwa atau berbahaya jika digunakan secara tidak benar. Tapi jika digunakan dengan bijaksana dan benar, maka ada banyak hal yang juga bisa membantu," ungkap Dr Mithoefer.

sumber: http://health.detik..com/read/2010/1...an-sosialisasi

siapa yg salah?

jadi yg bodoh siapa?
silop? apa bnn? kayaknya mrk kudu mengkaji ulang manfaatnya selain ekstasi sebenarnya OBAT STRESS KOTA BESAR & tidak addict seperti yang lainnya...papahku di amerika bilang...engga berbahaya selama bisa kontrol diri & harga yg menentukan bagus/jeleknya dan JANGAN PERNAH COBA YANG LAIN....:maho:maho
Quote:Original Posted By peribirubiru

Hal ini karena penyalahgunaan ekstasi dapat menyebabkan depresi, kecemasan berat dan masalah potensi kognitif. Ditambah lagi, ekstasi yang dijual bebas sudah banyak mengandung kontaminasi, yang tidak hanya dapat merusak otak tetapi juga membahayakan nyawa penggunanya.


ini bener bgt..
gw udah ngerasain depresinya..
ampe depresi berat lg gw..
untung sekarang udah ga lg..

Quote:Original Posted By peribirubiru
jadi yg bodoh siapa?
silop? apa bnn? kayaknya mrk kudu mengkaji ulang manfaatnya selain ekstasi sebenarnya OBAT STRESS KOTA BESAR & tidak addict seperti yang lainnya...papahku di amerika bilang...engga berbahaya selama bisa kontrol diri & harga yg menentukan bagus/jeleknya dan JANGAN PERNAH COBA YANG LAIN....:maho:maho


malah lebih bagus klo dibuat legal & ada produsennya..
jadi kaya obat gt, dosisnya udah pas..

yoiihh

Quote:Original Posted By rEfLeKt
ini bener bgt..
gw udah ngerasain depresinya..
ampe depresi berat lg gw..
untung sekarang udah ga lg..



malah lebih bagus klo dibuat legal & ada produsennya..
jadi kaya obat gt, dosisnya udah pas..


bener banget....secara di kota besar semua org stress cari duit...:maho:maho
tapi selama dosisnya cuma sedikit...asik2 aja...:maho:maho

ya sebulan sekali or 2 minggu sekali asik2 aja...kaga addict tuh...
Quote:Original Posted By peribirubiru
jadi yg bodoh siapa?
silop? apa bnn? kayaknya mrk kudu mengkaji ulang manfaatnya selain ekstasi sebenarnya OBAT STRESS KOTA BESAR & tidak addict seperti yang lainnya...papahku di amerika bilang...engga berbahaya selama bisa kontrol diri & harga yg menentukan bagus/jeleknya dan JANGAN PERNAH COBA YANG LAIN....:maho:maho


yang ini saya setuju gan, jgn pernah coba yg lain

Quote:Original Posted By peribirubiru
bener banget....secara di kota besar semua org stress cari duit...:maho:maho
tapi selama dosisnya cuma sedikit...asik2 aja...:maho:maho

ya sebulan sekali or 2 minggu sekali asik2 aja...kaga addict tuh...


tapi efeknya buruknya inex yah itu
bakalan muncul rasa suggest, ga bikin ketagihan bgt sih cuma suggest aja
kalau denger musik2 house
but, masih bisa di control dah suggestnya juga
badan juga ga bakalan sekarat2 amat kalau ga pake
kecuali org yg udah kecanduan berat, dah susah juga ngilangin ketergantungan

pake yg wajar2 aja lah, minimal 1 minggu sekali, jgn 1 minggu bisa 3/4 kali
itu mah da kecanduan berat,
Quote:Original Posted By rEfLeKt

malah lebih bagus klo dibuat legal & ada produsennya..
jadi kaya obat gt, dosisnya udah pas..


setuju, ekstasi harusnya di legalkan
Quote:Original Posted By peribirubiru


ya sebulan sekali or 2 minggu sekali asik2 aja...kaga addict tuh...


Quote:Original Posted By k4rmel
yang ini saya setuju gan, jgn pernah coba yg lain

tapi efeknya buruknya inex yah itu
bakalan muncul rasa suggest, ga bikin ketagihan bgt sih cuma suggest aja
kalau denger musik2 house
but, masih bisa di control dah suggestnya juga
badan juga ga bakalan sekarat2 amat kalau ga pake

pake yg wajar2 aja lah, minimal 1 minggu sekali, jgn 1 minggu bisa 3/4 kali
itu mah da kecanduan berat,


setuju banget inex gak bikin addict kok buktinya gw udah dr tahun 1999 ampe skg masih baik2 saja. Pergi OK, gak pergi juga OK. Malah sering diajak tp nolak skg, karena udah malas. Dulu awal2 sih sering suggest, tp skg biasa aja. CUman mau kalo bsk libur aja, biar gak ganggu kerjaan
sumpe gan ane tau gak ngerti
Quote:Original Posted By bujang_kelana
setuju banget inex gak bikin addict kok buktinya gw udah dr tahun 1999 ampe skg masih baik2 saja. Pergi OK, gak pergi juga OK. Malah sering diajak tp nolak skg, karena udah malas. Dulu awal2 sih sering suggest, tp skg biasa aja. CUman mau kalo bsk libur aja, biar gak ganggu kerjaan


avatarnya maut amat bos Blue Love
paracetamol juga berdampak jelek kalo kebanyakan, drug is poison
Quote:Original Posted By memph|sto
avatarnya maut amat bos Blue Love


mautan blue love apa pink love gan?
Quote:Original Posted By k4rmel
mautan blue love apa pink love gan?


wkwkkww no komeng... kudu coba sendiri
Quote:Original Posted By k4rmel

mautan blue love apa pink love gan?


Vote for Pink Love gan, cuma neken 1 dari jam 2 sampe jam 8 pagi gak turun"....

Mungkin gara" waktu itu DJnya juga gokil si maennya...
estasi no
prestasi yes
itulah orang Indonesia
Quote:Original Posted By yoyo.cs3
Vote for Pink Love gan, cuma neken 1 dari jam 2 sampe jam 8 pagi gak turun"....

Mungkin gara" waktu itu DJnya juga gokil si maennya...


kalau gitu idem sama saya

wkwkwk...
×