<Ask>Bener ga si klo Prabowo Subianto dikebiri?

Sebelomnya sorry ya gan klo pertanyaan gw sedikit extreme ga ada niat menjelek-jelekan pihak tertentu...

Ane pernah denger dari beberapa org klo prabowo subianto tu pernah dikebiri oleh frtetilin sewaktu beliu bertugas di timtim bener ga si sebenernya?

Mohon maap, ane nanya ini cuma untuk mengobati rasa penasaran ane gan ga ada niat buat menjelek2x kan pihak tertentu yah
Wartawan Dilarang Bicara HAM dengan Prabowo
17-03-2014 21:11
RMOL. Kemunculan surat peraturan wawancara Prabowo Subianto ramai diperbincangkan kalangan wartawan belakangan ini.

Surat itu mengatur jurnalis terutama dari televisi yang dilarang menanyakan beberapa isu krusial menyangkut ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu.

Seperti, tidak boleh mempertanyakan soal hak asasi manusia (HAM), kasus penculikan aktivis 98, urusan pribadi dan keluarga, serta tanggapan terhadap hasil survei calon presiden jelang Pemilu 2014.

Selain itu, aturan tersebut juga mengarahkan topik wawancara ke topik pencitraan Partai Gerindra. Seperti misalnya, jurnalis harus menanyakan ke Prabowo mengenai program-program kerakyatan Gerindra. Serta, tanggapan mengenai isu yang sedang beredar saat ini seperti kepemiluan, politik uang, dan keburukan pemerintahan Presiden SBY.

Disebutkan, peraturan wawancara tersebut dikeluarkan oleh Prabowo Media Center untuk media televisi yang beredar luas sejak Kamis malam (13/3).

Namun, sampai saat ini, belum jelas diketahui mengenai sumber munculnya peraturan wawancara itu. [rus]

http://politik.rmol.co/read/2014/03/...engan-Prabowo-

Utang Perusahaan Prabowo Rp14,3 Triliun
Perusahaan pengolahan kertas milik Prabowo Subianto, PT Kertas Nusantara (sebelumnya PT Kiani Kertas), Kamis 21 Juli 2011, mengadakan pertemuan lanjutan dengan 120 pemberi pinjaman atau debitor perusahaan.

Ini merupakan agenda lanjutan dari pertemuan Selasa lalu yang membahas permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang. Pertemuan kali ini dilaksanakan di Hotel Millennium, Jakarta Pusat, dan berlangsung tertutup.

Kertas Nusantara memiliki 161 kreditor, terdiri dari 136 kreditor konkuren, 18 kreditor istimewa, dan tujuh kreditor separatis. Namun, yang hadir hanya 120 kreditor, terdiri dari 113 kreditor konkuren dan tujuh kreditor separatis. "Sisanya tidak hadir," kata sumber VIVAnews.com yang mengikuti rapat tersebut.

Berdasarkan verifikasi kurator kepailitan dan pengurus PKPU, total utang Kertas Nusantara mencapai Rp14,31 triliun.

Agenda pertemuan kali ini merupakan pengambilan suara atas rencana penangguhan utang perusahaan, yaitu 20 tahun kreditor konkruen dan 15 tahun bagi kreditor separatis. Kreditor konkuren merupakan kreditor yang tidak dijamin aset perseroan, sedangkan kreditor separatis dijamin.

Melihat opsi penundaan utang yang terlalu lama, salah satu kreditor, yaitu PT Multi Alphabet Dinamika yang juga penggugat pailit, merasa kecewa. Mereka lalu meninggalkan ruangan atau walk out. "Multi Alphabet keluar nggak mau ambil suara," kata sumber itu.

Pengamatan VIVAnews.com di lokasi, sempat terjadi ketegangan di ruang rapat. Namun, penjagaan di sekitar ruang sangat ketat. Dua orang berpakaian safari dan dua berpakaian batik berjaga-jaga di depan pintu ruang.

Sementara itu kuasa hukum Multi Alphabet, Benemay menjelaskan bahwa pihaknya memilih walk out karena hakim pengawas tidak mengangkat seorang ahli untuk menilai keadaan dan proposal Kertas Nusantara. "Jadi tidak ada yang menilai proposal penundaan pembayaran utang itu layak dijalankan atau tidak," katanya kepada VIVAnews.com melalui sambungan telepon.

Sebelumnya pada Kamis 9 Juni 2011, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat memerintahkan perusahaan milik pengusaha dan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini membayar utang Rp142 miliar kepada salah satu kreditor, yaitu PT Multi Alphabet. Jika dalam 45 hari utang itu tidak dibayar, maka Kertas Nusantara terancam bangkrut
sumber : http://bisnis.news.viva.co.id/news/r...rp14-3-triliun

Senin, 27 Januari 2014 | 20:44 WIB

Protes Buruh Pabrik Kertas Milik Prabowo Berlanjut

TEMPO.CO, Berau - Memasuki aksi protes hari kedelapan, sekitar seribuan buruh PT Kertas Nusantara (sebelumnya Kiani Kertas) kembali mengepung kantor Bupati Berau, Kalimantan Timur, Senin, 27 Januari 2014. Mereka tetap meminta pihak manajemen membayar gaji 5 bulan yang tertunda hingga hari ini.

Dalam aksi kali ini para buruh membawa serta anak dan istri ke lapangan karena ada pertemuan antara buruh dan Direktur Utama PT Kertas Nusantara di kantor bupati. Tapi sayang, hasil yang diharapkan tak memuaskan para karyawan. Buruh perusahaan milik calon presiden Partai Gerindra, Prabowo Subianto, ini memutuskan tetap menginap di halaman Dinas Tenaga Kerja, Kabupaten Berau, pada hari kesembilan besok.

"Tolonglah Pak Prabowo (Subianto) bantu kami. Anak dan istri kami di rumah kelaparan," kata Syaifullah Tandjung, Wakil Sekretaris SP Kahutindo PT Kertas Nusantara, kepada Tempo, Senin, 27 Januari 2014.

Menurut dia, dalam pertemuan tersebut, Pola Winson yang didampingi Teguh Sulistiawan, General Manager PT Kertas Nusantara site Mangkajang, tidak bisa memenuhi tuntutan buruh. Untuk membayar gaji sebulan saja, menurut Syafullah, manajemen tak mampu.

Menurut Syaifullah, pihak manajemen, seperti yang diungkapkan Pola Winson, saat ini memiliki dana Rp 5 miliar. Dari dana tersebut, Rp 4 miliar akan digunakan untuk membayar gaji. Sisanya, Rp 1 miliar, digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan.

Dana Rp 4 miliar akan dibayarkan sebagai gaji, tapi tidak penuh. Untuk tingkat di bawah supervisor akan menerima 50 persen dari gaji total, supervisor-superintendent dibayarkan 40 persen dan setingkat manajer akan menerima 30 persen dari gaji total.

"Kami tak terima tawaran itu. Kami meminta perusahaan membayar seluruh gaji kami yang tertunda hingga lima bulan lamanya," kata Syaifullah. "Kami tahu dengan tawaran itu manajemen meminta aksi buruh bubar. Tidak bisa."

Memasuki hari kedelapan, para buruh tinggal di tenda-tenda darurat di halaman kantor Disnaker Kabupaten Berau. Mereka menginap sebagai bentuk protes terhadap kebijakan perusahaan yang tak menghiraukan para pekerja.

Sementara itu, Ketua SP Kahutindo, Indra Alam, menilai pemerintah daera, khususnya Disnaker, tak serius menyelesaikan permasalahan buruh. Delapan hari menginap di kantornya tak ada langkah-langkah konkret untuk menekan perusahaan yang jelas-jelas bersalah. "Gaji itu adalah hak pekerja, tapi mengapa Disnaker seolah tak bertaring?" kata Indra Alam.

Sebelumnya, Kepala Humas PT Kertas Nusantara, Nasution, mengungkapkan saat ini perusahaan tengah mengalami kesulitan keuangan. Tak hanya gaji karyawan, pabrik pun tak beroperasi karena kurangnya dana segar yang dimiliki manajemen PT Kertas Nusantara.

Soal tuntutan karyawan, Nasution menyatakan perusahaan sedang berusaha menjalankan kewajiban membayar gaji karyawan. Saat ini, berbagai cara dilakukan hanya untuk mencari dana talangan yang dibutuhkan perusahaan. Kerja sama dengan Salim Grup merupakan salah satu jalan. Namun, kerja sama ini masih dalam negosiasi petinggi perusahaan.

"Kami memang dalam kondisi kesulitan dana saat ini, tapi bukan berarti tidak akan membayar (gaji karyawan). Kami masih berusaha mencari talangan dana," kata Nasution saat dihubungi Tempo, beberapa waktu lalu.

PT Kertas Nusantara, perusahaan yang saham mayoritasnya dimiliki Prabowo Subianto, mempunyai karyawan sebanyak 1.500 orang. Dalam sebulan, perusahaan harus membayar gaji seluruh karyawan sebesar Rp 13 miliar.


Senin, 20 Januari 2014 | 17:04 WIB

5 Bulan Tak Digaji Karyawan Prabowo Subianto Mogok

TEMPO.CO, Berau - Sebanyak 600-an karyawan PT Kertas Nusantara (sebelumnya bernama PT Kiani Kertas) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, berunjuk rasa menuntut gaji yang belum terbayarkan sejak lima bulan lalu. Mereka meminta Prabowo Subianto , pemilik saham mayoritas PT Kertas Nusantara, segera turun tangan menyelesaikan masalah buruhnya.

Ketua SP Kahutindo PT Kertas Nusantara, Indra Alam, mengatakan aksi ini merupakan puncak kesabaran karyawan yang bertahan dengan janji-janji manajemen selama lebih dari empat bulan lamanya. Tapi, perusahaan hingga kini tak pernah merealisasikan gaji yang merupakan hak karyawan perusahaan pengolahan bubur kertas itu. "Sejak September, gaji karyawan tak dibayarkan sampai sekarang," kata Indra Alam, Senin, 20 Januari 2013.

Janji terakhir manajemen melalui Direktur PT Kertas Nusantara Pola Winson akan membayarkan gaji karyawan setelah tanggal 16 Januari 2014. Menurut manajemen, dana segar akan diterima perusahaan atas kerja sama PT Kertas Nusantara bersama Salim Grup pada November 2013 lalu.

"Manajemen menginformasikan bahwa kerja sama sudah deal dengan Salim Grup dan gaji segera dibayarkan. Nyatanya, sampai sekarang, kami belum menerima hak kami," kata dia.

Aksi digelar para karyawan sekitar pukul 09.00 Wita di Kabupaten Berau. Para buruh mendatangi kantor Dinas Tenaga Kerja setempat. Karena tak ditemui Kepala Dinas, para buruh bergeser ke kantor bupati menemui Makmur HAPK di kantornya. Ternyata, bupati juga tak ada di tempat. "Katanya, mereka ke kampung ada acara. Kami ditemui perwakilannya saja," kata Indra.

Aksi hingga kini masih berjalan. Para buruh memilih bertahan di kantor Dinas Tenaga Kerja sampai ada pertemuan dengan Bupati Makmur HAPK yang dijadwalkan pada Selasa besok.

Sementara itu, Kepala Humas PT Kertas Nusantara Nasution menyatakan kondisi perusahaan memang tengah dalam kesulitan keuangan hingga saat ini. Tak hanya gaji karyawan, pabrik juga tak beroperasi karena kurangnya dana segar yang dimiliki manajemen PT Kertas Nusantara.

Soal tuntutan karyawan, Nasution menyatakan bahwa perusahaan tidak akan tinggal diam. Saat ini, berbagai cara dilakukan hanya untuk mencari dana talangan yang dibutuhkan perusahaan. Kerja sama dengan Salim Grup merupakan salah satu jalan. Namun, kerja sama ini masih dalam negosiasi petinggi perusahaan.

"Kami memang dalam kondisi kesulitan dana saat ini, tapi bukan berarti tidak akan membayar (gaji karyawan). Kami masih berusaha mencari talangan dana," kata Nasution saat dihubungi Tempo.

PT Kertas Nusantara, perusahaan yang sahamnya dimiliki Prabowo Subianto mempunyai karyawan sebanyak 1.500 orang. Dalam sebulan, perusahaan harus membayar gaji senilai Rp 13 miliar.
ane gak tau gan
tapi lucu jg yah

Mugiyanto mencari keadilan

Mugiyanto, salah-seorang korban penculikan Tim Mawar Kopassus di tahun 1998, memilih mendampingi keluarga korban penculikan demi mencari keadilan.

Lima belas tahun silam, tepatnya di sebuah petang nan muram, 13 Maret 1998, Mugiyanto diculik oleh beberapa orang dari rumah kontrakannya di Jakarta Timur.
Ketika itu situasi politik Indonesia memasuki fase genting, tatkala tuntutan mahasiswa dan kekuatan oposisi agar Presiden Suharto turun dari kursi dari kursi kekuasaan, makin menguat.

Di saat itulah, bersama sejumlah rekannya sesama aktivis Partai Rakyat Demokratik, PRD, pria kelahiran 1973 ini diambil secara paksa oleh sekelompok orang -- yang belakangan diketahui pelakunya adalah anggota pasukan elit Angkatan Darat, Kopassus, melalui tim kecil yang disebut Tim Mawar…

Digelandang dengan mata tertutup ke sebuah tempat (di markas Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur), Mugi – demikian sapaan akrabnya -- dan sebagian kawan-kawannya, lantas disiksa, diteror, serta diinterogasi…

Mugiyanto (yang ketika itu berstatus mahasiswa Fakultas Sastra, UGM, Yogyakarta, dan berusia 25 tahun) dan lima aktivis PRD lainnya termasuk beruntung, karena kemudian dia berhasil dilepaskan, tetapi tidak bagi 13 aktivis lainnya -- yang nasibnya belum jelas sampai sekarang.

Sekitar dua tahun setelah dibebaskan, dan masih dihantui semacam trauma, Mugi justru “terpanggil” untuk bergabung dengan keluarga korban penculikan, demi mencari keadilan.

"Dalam beberapa hal, saya merasa ini hidup kedua saya,” kata Mugi agak menerawang, menjelaskan latar belakang pilihannya itu, dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Selasa, 26 Maret 2013 lalu.

“Karena,” lanjutnya, “saya pernah berada dalam situasi di mana hidup dan mati itu batasnya sangat tipis”.

Ya, sebagai rasa bersyukur bahwa saya adalah orang yang beruntung (karena masih hidup), maka membuat saya kemudian untuk bersama dengan mereka (keluarga korban penculikan).”

Melibatkan keluarga orang hilang dan didukung pegiat HAM lainnya, Mugi mendirikan Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (Ikohi), untuk mengetahui keberadaan mereka yang masih hilang (“Setidaknya, kalau mereka meninggal, dimana mereka dikuburkan,” kata Mugi), serta mendesak diberikannya hukuman setimpal kepada pelaku utamanya.

“Saya menjadi seperti terpanggil setelah melihat bahwa keluarga korban masih semangat, dan menginginkan keadilan ditegakkan”, Mugi lebih lanjut menjelaskan.

Hal ini dia lakukan juga tidak terlepas dari sikap politisi di parlemen, yang menurutnya, “sama sekali tidak ada komitmen terhadap penegakan HAM terhadap penyelesaian kasus ini, padahal mereka adalah orang-orang yang menikmati buah perjuangan kawan-kawan yang hilang”.
Bunyi ‘ctak,ctak’

Apa yang terjadi di ruangan penyiksaan di salah-satu ruangan di Markas Kopassus Cijantung, yang terjadi lima belas tahun silam, masih menyentak alam sadar Mugiyanto -- hingga saat ini.

(Dalam situs pribadinya, Mugiyanto menggambarkan suasana penyiksaan yang dialaminya: “Mata ditutup, dua tangan dan dua kaki diikat di tempat tidur velbed. Hanya memakai celana dalam. Di sana ada suara sirine yang meraung-raung, suhu ruangan yang sangat dingin, dan alat setrum listrik yang bunyinya seperti cambuk…)

Selama dua hari, 13-15 Maret 1998, Mugiyanto mengaku disekap, diinterogasi, dan disiksa.

“Sampai sekarang, bisa dikatakan saya belum bisa sepenuhnya menghilangkan trauma,” aku Mugi, dengan nada datar.

Tak gampang untuk menghilangkan trauma, katanya.

“Prosesnya memang lama, memang butuh waktu”.

“Terutama ketika saya mendengar seperti cambuk, yang mana itu adalah suara setrum listrik.

“Ctak, ctak, ctak…”

“Saya setiap mendengar suara itu, langsung teringat masa lalu, ” ujar Mugi.

“Sama mendengar handi talkie, karena itu alat komunikasi yang dipakai orang yang menculik saya pada waktu itu, ketika mata saya ditutup”.

(“Rumah kontrakan saya sudah dikepung. Badan saya melemas. Saya sudah membayangkan kematian. Lalu dengan tenaga tersisa, saya raih saklar untuk mematikan lampu. Persis pada saat itulah mereka menggedor rumah. “Buka pintu! Buka pintu!”. Kunci pintu kubuka, lalu sekitar 10 orang masuk…”)
Melawan trauma

Sempat diinterogasi di Koramil Duren Sawit Jakarta Timur, Mugi kemudian dibawa ke Markas Kopassus Cijantung.

Selama dua hari, di tempat itu, Mugi ditempatkan satu sel dengan aktivis PRD Nezar Patria dan Aan Rusdiyanto.

Walaupun matanya ditutup rapat, pria asal Jepara ini mampu mengenali suara dua rekannya itu.

(Dalam kesaksiannya, di kantor YLBHI, 20 Juni 1998, yang saya hadiri, Mugiyanto menuliskannya kesaksiannya: “Ada juga sarana siksa yang sangat mengerikan, para penculik sengaja memperdengarkan suara jeritan orang lain yang sedang disiksa…”)

“Saya tahu dari teriakannya waktu disiksa,” katanya, suatu saat.

Bagaimana Anda bisa ‘kuat’ kembali, dan kemudian memilih terjun total bersama keluarga korban penculikan untuk mencari keadilan? Tanya saya.

“Cara saya menghadapi trauma,” ungkapnya, “bukan dengan menjauhi dunia ini, dari dunia hak asasi manusia, dari para korban”.

“Tapi,” imbuhnya, dengan nada lantang,” saya mengintegrasikan diri saya bersama-sama dengan mereka”.

“Saya menulis, saya berbicara, saya bercerita, itu proses dari penyembuhan psikologi saya,” ungkap Mugi.

(“Saya menuliskan lagi cerita ini dengan jantung berdebar. Saya berusaha melawan trauma, walau sulit. Amat sulit. Saya tidak bisa melupakannya. Saya hanya bisa mengelolanya dan menyimpan memori ini untuk dijadikan energi hidup yang positif,” tulis Mugi dalam situs pribadinya.)
Peradilan HAM adhoc

Upaya pengungkapan kasus penculikan terhadap aktivis pada periode 1997 dan 1998, belum seperti yang diharapkan, demikian kesimpulan para pegiat HAM.
Para pegiat HAM menyatakan, setidaknya masih ada 13 orang aktivis yang diculik pada periode itu yang masih belum jelas nasibnya.

Pelaku utama yang diduga bertanggungjawab dalam kasus penculikan juga dianggap belum tersentuh sama-sekali.

Tuntutan pembentukan Peradilan HAM adhoc untuk mengungkap kasus-kasus kekerasan tidak juga direalisasikan oleh pemerintah, sementara Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang semula diharapkan kini menguap begitu saja.

Tetapi, harapan Mugiyanto dan keluarga korban penculikan sempat berbinar, ketika terdengar sayup-sayup bahwa Presiden SBY menyetujui pembentukan Pengadilan HAM adhoc kasus penculikan 1997-1998.

Isyarat ini ditangkap oleh Dewan Pertimbangan Presiden, Albert Hasibuan, Selasa, 19 Maret 2013 lalu, yang kemudian dia utarakan kepada media.

“Waktu itu presiden mengatakan diadakan persiapan-persiapan pada para menteri untuk mendirikan pengadilan HAM ad hoc," kata Albert.

Informasi penting ini, tentu saja, agak melegakan Mugiyanto, ketika kali pertama mendengarnya.

“Kami sudah senang, dan mengharap itu direalisasikan,” kata Mugi, yang masih dipercaya sebagai Ketua IKOHI, Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia.

Belakangan, informasi itu dibantah oleh Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Djoko Suyanto. Dia mengatakan, Albert Hasibuan salah menafsirkan pernyataan Presiden.

Menurutnya, Presiden SBY meminta agar kasus dugaan pelanggaran HAM masa lalu diselesaikan secara komprehensif, secara total dan keseluruhan.

Djoko Suyanto juga menyatakan, peradilan HAM adhoc belum bisa digelar, karena Komnas HAM menurutnya belum menyebut siapa pihak yang bertanggungjawab.

“Bukan hanya institusi (yang disebut), melainkan orang… Komnas HAM belum sampai ke situ,” kata Djoko, Kamis, 21 Maret 2013 lalu.
Tidak boleh terulang

Kejaksaan Agung sejauh ini telah berulangkali mengembalikan berkas penyelidikan yang dimajukan Komnas HAM sejak 2006 lalu.

Alasannya, pengadilan HAM ad hoc belum terbentuk dan telah digelarnya pengadilan militer untuk kasus ini (yaitu terhadap 11 orang pelaku lapangan yang tergabung dalam Tim Mawar, yang merupakan tim kecil bentukan Kopassus, TNI Angkatan Darat).

Hasil penyelidikan Komnas HAM, yang digelar sekitar enam tahun silam (2005-2006), menyatakan, sudah ada bukti permulaan yang cukup untuk menyimpulkan terjadinya kejahatan terhadap kemanusiaan.

Ketua Komnas HAM saat itu, Abdul Hakim Garuda Nusantara menyatakan, ada bukti permulaan pelanggaran HAM berat dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998.

Menindaklanjuti rekomendasi Komnas HAM ini, DPR pada September 2009 kemudian meminta Presiden Yudhoyono memerintahkan Jaksa Agung melakukan penyelidikan atas kasus ini.

Menurut Mugi, apa yang dilakukan Komnas HAM dan sikap DPR ini merupakan upaya kemajuan dalam penyelidikan kasus penculikan.

Tetapi, menurutnya, “kemajuan-kemajuan tersebut tidak kemudian ‘ditutup’, tidak kemudian disimpulkan oleh pemerintahan SBY”.

“Padahal,” lanjutnya, “ini tinggal sedikit (langkah penuntasannya).”

“Sehingga sekarang semua menjadi menggantung,” kata Mugi, agak masygul.

Tetapi, apa pentingnya pembentukan peradilan HAM adhoc ini? Tanya saya lagi.

Dengan nada tegas, Mugi menyatakan, peradilan ini sangatlah penting.

“Peradilan HAM adhoc itu hanyalah salah-satu cara yang seharusnya diambil pemerintah, tetapi dia sangat penting,” tegas Mugiyanto, yang kini meneruskan kuliah di Universitas Kristen Indonesia, UKI.

“Selain memberi punishment (hukuman) kepada para pelaku dan mereka yang bertanggungjawab, adalah juga untuk memberi pesan kepada masyarakat Indonesia, kepada siapapun yang berkuasa ke depan, bahwa tindakan menghilangkan orang secara paksa, itu tidak boleh ditolerir, tidak boleh terulang,” tandasnya.
Diselidiki bertahap

“Tapi dia (pengadilan HAM adhoc) bukan satu-satunya jalan,” imbuh Mugi cepat-cepat.

Menurutnya, ada cara lain yang juga harus dilakukan untuk melengkapi proses peradilan.

“Kita mengenalnya sebagai mekanisme non judicial,” katanya.

Inilah Komisi Kebenaran, kata Mugi, yang dipusatkan kepada para korban.

“Jadi korban menjadi perhatian utama untuk didengarkan keterangannya, untuk dipulihkan hak-haknya, dan sebagainya,” kata pria kelahiran Jepara, Jawa Tengah, ini.

Faktanya sekarang, peradilan HAM adhoc belum dibentuk dan Komisi Kebenaran tidak jelas rimbanya, menyusul keputusan MK yang membatalkannya? Tanya saya.

“Sampai saat ini memang jalan di tempat,” aku Mugi, menyusul keputusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan Undang-undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi.

Sejauh ini, pemerintah dan DPR belum menyiapkan UU KKR yang baru, walaupun dua tahun silam, draf RUU yang baru telah diserahkan ke Sekretariat Negara, pada pertengahan September 2010 lalu.

Namun demikian, menurut Mugi, penyelesaian kasus penghilangan paksa aktivis 1997-1998 “bisa dilakukan secara bertahap”.

“Mulai dari apa yang paling diharapkan oleh keluarga korban, (yaitu) supaya mereka mengetahui apakah orang-orang yang mereka kasihi, anak-anak mereka sayangi, suami mereka, masih hidup atau sudah meninggal. Mereka ingin kepastian itu,” tegasnya.
Saling menguatkan

Bagaimanapun, Mugi, IKOHI dan lembaga lain seperti Kontras, terus melakukan berbagai upaya untuk mendesak agar kasus penculikan aktivis 1997-1998 dituntaskan.

Selain berupa aksi-aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka ( melalui “Aksi Kamisan”), Mugi dan kawan-kawan juga melakukan berbagai upaya melalui lobi di DPR (yang pernah membuahkan rekomendasi DPR agar pemerintah menyelesaikan kasus penculikan, pada 2009 lalu) hingga kampanye di luar negeri.

Ke depan, menurutnya, pihaknya juga terus melakukan komunikasi dengan Menkopolhukam, dan orang-orang di sekitar Presiden SBY.

“Kalau kami tidak bisa bertemu Presiden SBY, kami akan temui orang-orang dekatnya,” katanya dalam sebuah wawancara.

Tetapi, bagaimana Anda dan keluarga korban bisa mampu menjaga energi, sehingga mampu menjaga stamina untuk terus mendesak penyelesaian kasus ini?

Rupanya, semenjak mereka mendirikan IKOHI sekitar lima belas tahun silam, diantara keluarga korban kasus penculikan, melakukan apa yang disebut Mugiyanto sebagai upaya “saling menguatkan”.

“Ya , karena dengan kata menguatkan itulah, yang kemudian melandasi berdirinya IKOHI,” kata Mugi, yang baru saja dikaruniai anak kedua, Minggu, 14 April 2013 lalu.

“Karena,” kata Mugi, “dari saling menguatkan, timbul semangat atau pengetahuan kesadaran bahwa kita tidak sendiri, bahwa yang menjadi korban tidak sendiri, dan karena yang menjadi korban tidak sendiri, maka yang berjuang tidak sendiri.”

Menurut Mugi, salah-satu cara paling sederhana yang terus dilakukan adalah “bertelepon dan berkirim surat”.

“Itu menjadi elemen yang luar biasa untuk menguatkan korban,” ungkap Mugi yang mengaku hobi berkebun di halaman depan rumahnya.
Didukung keluarga

Secara khusus Mugi menyebut ayah dan ibunya, sebagai dua sosok penting dalam perjalanan hidupnya.

“Mereka dua orang yang luar biasa, yang mendukung apa yang saya lakukan selama ini,” ungkapnya.

Dia kemudian mengungkapkan sebuah momen tidak terlupakan, yaitu ketika ayahnya menemuinya di tahanan Polda Metro Jaya, setelah kelompok penculiknya menyerahkannya kepada aparat kepolisian.

Dia mengaku, saat itu merasakan kesedihan luar biasa, saat ayahnya dan kakaknya menjenguknya di ruang tahanan.

Sang ayah, menurutnya, tetap mendukung apa yang dilakukannya.

Restu orang tua ini pula yang menjadi pendorongnya untuk tetap yakin atas pilihan perjuangannya.

Mugiyanto kemudian menyebut istrinya, Mutiara Taripar Pulo, serta anak pertamanya, Binar Mentari Malahayati, sebagai dua orang yang mampu membuatnya tetap bersemangat dalam memperjuangkan korban kasus penculikan.

“Anak saya, masih berusia 12 tahun, tapi dia inspirasi luar biasa buat saya,” ungkap Mugi, seraya menambahkan bahwa anaknya mengetahui bahwa dirinya pernah menjadi korban penculikan.

“Dan dia bangga,” tambah Mugi. “Dia bercerita kepada teman-teman sekolahnya”.

Dia memberikan sebuah contoh, ketika anaknya ikut membagikan buku yang diterbitkan IKOHI seputar kasus penculikan, kepada teman-temannya.

“Bagaimana dia dengan bangga membagikan buku itu kepada teman-temannya,” kata Mugi, yang saat ini berambisi menulis buku tentang apa yang pernah dia alami.

“Itu menurut saya, juga sumber dari kekuatan, motivasi yang saya dapatkan dari orang-orang terdekat saya,” papar Mugi.
Mau memaafkan?

“Saya bisa memaafkan, tapi ada syaratnya,” kata Mugiyanto, ketika saya tanya, apakah suatu saat dia dapat memaafkan pelaku utama penculikan atas dirinya.

“Syarat-syaratnya, tentu saja, dia harus mengakui bersalah,” tegasnya.

“Tapi ini secara personal”, katanya, menambahkan cepat-cepat.

“Kalau secara publik, lain lagi ya”.

Menurutnya, aksi penculikan yang kemudian disertai penyiksaan atas dirinya, merupakan tindakan kejahatan yang di luar batas-batas kemanusiaan.

“Tetapi toh sebagai pribadi, saya masih membuka pintu permaafan, tapi dengan syarat-syaratnya,” tandasnya.

“Ya mengakui bahwa itu tindakan yang salah, kemudian minta maaf, kemudian dia harus memperjelas mengapa dia melakukan itu.

“Dan lebih dari itu,” tambahnya, “bagaimana dengan orang-orang yang saat itu bersama saya (yang kemudian tidak kembali), itu ada di mana?”

“Setelah semuanya clear, saya pikir secara personal, saya bisa memaafkan,” tegas Mugi, yang mengaku belakangan membaca sejumlah buku karya Michael Sandel, ahli filsafat politik dan guru besar di Universitas Harvard, AS.

Menanggapi sejumlah korban penculikan yang memilih terjun ke politik dan bergabung dengan partai politik yang didirikan mantan jenderal yang diduga terlibat penculikan, Mugiyanto mengaku “kecewa”.

“Apa yang saya terima dari senior-senior kami, itu bukan yang seperti itu, bukan yang kemudian berpihak pada orang yang melakukan kekerasan kepada kami, bukan orang yang melakukan tindakan represi kepada kami,” jelasnya.

“Tapi kemudian, saya lebih reseptif, bahwa ‘ya sudah memang itulah pilihan dia',” kata Mugiyanto, yang mengisi waktu luangnya antara lain dengan menonton Liga Primer Inggris, sekaligus menutup wawancara yang berlangsung sore di kantor BBC Jakarta.
ane pernah dgr gosip ini
wah ane kagak tau gan....
no comment ah ntar di tembak sama pak prabowo
Quote:Original Posted By salable
Sebelomnya sorry ya gan klo pertanyaan gw sedikit extreme ga ada niat menjelek-jelekan pihak tertentu...

Ane pernah denger dari beberapa org klo prabowo subianto tu pernah dikebiri oleh frtetilin sewaktu beliu bertugas di timtim bener ga si sebenernya?

Mohon maap, ane nanya ini cuma untuk mengobati rasa penasaran ane gan ga ada niat buat menjelek2x kan pihak tertentu yah


sumber darimana gan?

ane ga berani komen, takut diciduk!
jgn pernah percaya sesuatu yg dari mulut ke mulut kecuali ada sumberjangan2 TS nya ni sumber nya
Hehe.. Calon HT nih kayaknya


Ane rate aaaaahhh
mang knp d kbiri gan?
ga tau gan mungkin bawah ane tau
ane ga tw gan
dpat rumor drmn ?

Talking ckckck

MAYAN nongkrong di pekiwan

nyang bokir gan ????
nyang di kebiri paannya gan????
Quote:Original Posted By irengbiru
ane pernah dgr gosip ini


sama gan, tp ane percaya ga percaya sih...
wah masalah dikebiri apa ngga, ane ga tau gan maaf
menurut pengakuan oom ane yang skrang udah pensi dari TNI dan dulunya juga prnah ditugaskan diTIMTIM, kalo prabowo itu sbnarnya smpat trjebak dihutan TIMTIM selama 1 bulan. dan tidak ada kabar sama sekali. bhkan mertua dia aka soeharto sndiri sudah memerintahkan sluruh jajaran elite TNI untuk mencarinya. tpi tetep aja kagak ktemu. skitar 1 bulan steah kehilangan beliau, ini msih pengakuan oom ane yang udah pensi ye..., dia dan team elite yang dipimpinnya sndiri muncul dengan membawa banyak pemberontak. disitu oom ane juga bilang diantara prajurit eite2 lainnya prabowolah yang paling bnyak menangkap para pemberontakan diTIMTIM.

oom ane juga bilang, kalo dia sempet makan siang bareng ma prabowo wktu dia kmbali dari hutan.....
jadi gak mungkin keknya dia dikebiri....
untungnya buat kita apa?



Posted with kaskusBetaQR
saya dari jaman tahun 2009 adalah pendukung prabowo, salut kalo denger cerita keheroikan dia di timtim. mudah2 an pemilu yg akan datang prabowo bisa menang deh, bodo amat dia mau wakil atau presiden. pokoknya di jajaran elit ada dia, biar di berantas premanisme di indonesia sama dia.
Orang tegas.
ga spt yg sekarang.
bayar 10 juta ke ane kasih jawaban ane fakta dari ane...dengan syarat setelah transfer dan dpt jawabannya gak boleh nuntut dlm bentuk apapun
duh linu dengernya ane gan...kasian banget gan kalo beneran tuh gan...,,,
dah gbsa kimpoi