Suatu hari, di hari yang membosankan seperti biasa, seekor burung hinggap di bibir jendela. Burung dengan bulu berwarna coklat, dan putih, dengan paruh berwarna hitam. Hal tersebut merupakan yang pertama kali bagiku, seorang (tepatnya seekor) tamu berkunjung padaku. Maka kusambut dia dengan gembira, kutawarkan tamu pertamaku senyum terbaikku dan sepotong roti yang sebagian sudah dimakan olehku. Burung tersebut memakan remah-remah roti yang aku sodorkan dengan tanganku yang kotor. Aku memutuskan untuk mengajaknya berbincang. Teman bicara pertamaku sejak aku dikurung di sini ternyata seekor burung! Pikirku dalam hati dengan perasaan berbunga-bunga.
Burung kecil yang manis, selamat siang Aku menyapanya dan betapa terkejutnya aku saat dia menjawab.
Selamat siang juga, penghuni ruangan dalam menara tinggi. Burung tersebut menjawab dengan suara yang penuh kelembutan dan kesopanan, dan terdengar manis di telingaku. Aku tidak menyangka bahwa burung mempunyai tata krama dan suara yang merdu dan merasuk ke hati. Aku harus memperlakukannya dengan sopan.
Ada apa gerangan tuan burung yang manis sudi mampir di tempatku ini?
Sering sekali aku melihatmu, menatap keluar jendela dengan wajah yang murung, maka datanglah aku ke sini untuk menghiburmu
Senangnya aku mendengar perkataan burung kecil yang mulia tersebut. Akhirnya perasaanku tersampaikan! Ada yang datang untuk menghiburku, menyapu kebosanan yang mengotori diriku. Hari ini adalah hari pertama aku bertemu dengannya, dan merupakan hari paling penting bagiku.
\tMaka, setiap hari burung tersebut akan datang kepadaku, bertengger di pinggir jendela. Dia akan bercerita tentang berbagai hal yang membuatku terkagum-kagum. Dia bercerita tentang indahnya gunung di timur, yang mengeluarkan warna keemasan di saat petang tiba. Dia bercerita tentang kota yang setiap harinya ramai, karena penduduk selalu berpesta pora, menari dengan riangnya, ditemani berbagai macam jus buah. Dia bercerita tentang pelaut yang mengarungi laut, menghadapi berbagai bahaya,untuk mendapatkan ikan raksasa yang menjadi legenda. Kisah petualangan, kisah drama, kisah keindahan, semua diceritakan burung tersebut untukku. Pada awalnya aku terhibur, akan tetapi, kisah tersebut justru membuatku semakin ingin keluar.
\tMaka suatu hari, ketika burung tersebut bercerita tentang pengembara yang mengembara bersama dengan motor yang bisa bicara, dia menyadari kemurungan di wajahku. Dengan khawatir dia bertanya kepadaku.
Ada apa wahai temanku? Mengapa bermuram durja? Apakah ceritaku membosankan?
Tidak tuan burung yang mulia,tidak membosankan, malah cerita tersebut sangat menarik, hanya saja...
Burung tersebut mendekatkan dirinya kepadaku, menanti jawabanku. Maka dengan satu tarikan nafas panjang, aku mengatakannya kepadanya, apa yang mengganjal di hatiku.
Aku ingin keluar tuan burung! Setiap ceritamu memang membuatku senang, tapi itu hanya pemuas telinga aku menumpahkan perasaanku dengan segenap jiwa.
Aku juga ingin keluar, ingin berpetualang, aku ingin melihat sendiri gunung berwarna emas, aku ingin melaut bersama pelaut gagah berani, memburu ikan raksasa, aku ingin berpesta pora semalaman bersama penduduk, meminum berbagai jus, aku ingin datang ke taman yang penuh dengan berbagai bunga, menciumi bunga satu persatu, aku ingin
,aku ingin
,aku ingin
. Segalanya tertumpah, aku tidak bisa menghentikannya. Emosi yang terbendung membludak keluar seperti bendungan yang runtuh, sehingga airnya meluap tanpa henti.
Begitu selesai, aku terengah-rengah, nafasku memburu, keringat membasahi wajahku, air mata mengalir dengan derasnya, hidungku penuh dengan ingus, bibirku terasa perih, karena beberapa kali tanpa sengaja aku menggigit bibirku sendiri. Aku duduk di kasur yang lapuk, mengelap mukaku dengan punggung tanganku, sambil sesekali tersedu sedan. Malu aku malu, menangis dan meledak begitu saja. menumpahkan semuanya ke tuan burung, ke temanku satu-satunya. Jika ada lubang, maka aku akan masuk ke lubang tersebut dan tidak keluar lagi. Aku menyembunyikan wajahku dengan tanganku, aku tidak ingin tuan burung melihatnya.
Maafkan aku tuan burung, aku sungguh minta maaf, bukan bermaksud marah kepadamu, hanya saja... Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku melihat tuan burung tersenyum, setidaknya menurut penglihatanku yang kabur akibat air mata. AKu tidak tahu kalau burung bisa tersenyum.
Tidak apa-apa temanku, kau sudah sekian lama terperangkap di tempat ini, sudah sewajarnya kau ingin keluar, ingin bebas, ingin merasakan kehidupan di luar sana, jika ada yang harus disalahkan, maka salahkanlah aku, yang menceritakan dunia luar kepadamu, tanpa tahu perasaanmu
Tidak! Tuan burung, kau sama sekali tidak salah! Akulah yang tidak tahu syukur, padahal kau sudah menyempatkan diri untuk datang ke tempatku, menghiburku yang terkurung dengan berbagai cerita! Tuan burung, aku berterima kasih kepadamu tuang burung! Kataku di tengah sedu sedanku yang sudah tidak terkendali laig.
Temanku
maka tuang burung hinggap di pundakku, mendekatkan dirinya ke wajahku, dan mengecup pipiku. Aku mengelusnya dengan tanganku, sambil tetap menangis.
sudah temanku berhentilah menangis
Aku mengangguk, Aku hapus air mata yang tersisa dengan punggung tangan.
Kemudian kami berdua hanya terdiam, tidak ada suara ataupun gerakan dari kami. Hanya diam membisu di ruangan yang gelap ini, sementara matahari di luar terlihat tenggelam di cakralawa, dan malam telah tiba.
Setelah beberapa lama terdiam, tuan burung memecah keheningan ini
Temanku, apakah kau begitu inginnya keluar? Dia bertanya kepadaku, dengan segala kelembutannya.
ya, tuan burung, aku ingin keluar dari tempat ini, tapi apa daya, aku tidak bisa membuka pintu yang terkunci, dan aku tidak bisa melompat keluar dari jendela, karena aku tidak memiliki sayap seperti milikmu tuan burung aku mengatakannya sambil sedikit bergurau, berharap bisa mencairkan suasana yang dingin ini.
Jika kau punya sayap, maka kau akan keluar, terbang dari tempat ini? tanya tuan burung kepadaku.
Tentu saja tuan burung, aku akan keluar dari tempat ini, mengunjungi tempat yang kau ceritakan kepadaku jawabku kepadanya.
kalau begitu, akan kuberikan sayapku kepadamu katanya kepadaku
Ah, tuan burung ini bercanda saja, masa manusia punya sayap? Bisa terbalik langit dan dunia kataku sambil tertawa kecil.
Aku serius wahai temanku, sekian lama kau terkurung di tempat ini, sudah saatnya kau keluar, terbang bebaskata tuan burung dengan serius
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tuan burung ternyata serius, dia benar-benar akan memberikan sayapnya kepadaku.
Tutup matamu, bayangkan dirimu memiliki sayap
Maka aku tutup mataku, dan membayangkan diriku memiliki sayap yang sama dengan yang dimiliki tuan burung, sayap berwarna coklat, dengan bulu yang lembut. Aku merasakan ada kehangatan yang menyelimuti tubuhku. Punggungku terasa gatal, kemudian sesuatu seperti tumbuh dari punggungku, menyobek kulit punggungku.Anehnya, aku tidak merasa sakit, tidak sama sekali,aku hanya merasa geli.
Buka matamu temanku
Perlahan aku membuka mataku, dan aku segera menengok ke punggungku, dan aku melihatnya sayap berwarna coklat, aku mengelusnya dengan tanganku, dan kurasakan bulu yang lembut. Sayap tersebut menyatu dengan tubuhku, menjadi bagian dari tubuhku. Aku berkonsentrasi untuk menggunakannya, kemudian kedua sayap mulai mengepak, walaupun gerakannya terlihat aneh karena aku belum terbiasa. Aku senang bukan main.
Terima kasih tuan burung, ini hadiah yang luar biasa, entah apa yang bisa kulakukan
dan aku melihatnya, tuan burung yang terkapar dengan lemah. Sayap yang dimilikinya menghilang dari tubuhnya. Aku segera menggendong tubuhnya yang kecil dengan tanganku.
Tuan burung!? Tuan Burung!? Apa yang terjadi denganmu!?
Wahai
temanku
suaranya lemah sekali, aku menitikkan air mata melihat kondisinya
Sayap yang kuberikan padamu
adalah nyawaku
. Bisik tuan burung.
Kenapa!? Kenapa kau berikan sayapmu, nyawamu, untukku!? tangisanku semakin keras.
Sekian lama kau terkurung di tempat ini, sekian lama aku sudah menjelajahi dunia, sungguh adil jika kita bertukar tempat
.
Tapi, tapi, kalau kau mati, apa gunanya aku punya sayap?! Apa gunanya aku bebas jika temanku satu-satunya meninggalkanku !? pintaku kepadanya
Wahai temanku, aku tidak akan meninggalkanmu, sayapku yang juga nyawaku, akan selalu menemanimu, aku akan menemanimu, baik di langit cerah, maupun ditengah badai sekalipun sekali lagi aku melihat tuan burung tersenyum, walaupun terlihat tidak jelas akibat air mata mengaburkan pandanganku.
Pergilah temanku, perjalananmu akan dimulai sekarang, pergilah sebagai manusia bebas
dan tuan burung menghembuskan nafas terakhirnya, tubuhnya bercahaya terang, dan pecah menjadi sekian banyak serpihan cahaya yang menerangi ruangan yang gelap ini.
Jendela menaraku terbuka lebar, dan angin malam yang dingin menusuk memasuki ruangan ini. Serpihan cahaya yang menerangi ruangan ini terbawa keluar, dan akupun berlari, berlari mengikuti serpihan cahaya. Aku menjejakkan kakiku di pinggir jendela, kemudian melompat sekuat tenaga, menyambut langit kebebasan.
Aku mengepakkan kedua sayapku sekuat tenaga, tapi aku tetap terjatuh, ditarik oleh gravitasi bumi. Apakah memang tidak mungkin seorang manusia untuk terbang? Saat kupikir aku akan menghantam tanah, angin kencang berhembus dengan kuatnya, mengangkat tubuhku. Saat itulah aku mengembangkan sayapku selebar mungkin, dan angin mengangkat tubuhku ke atas. Aku meluncur di udara dengan bantuan angin. Aku mengepakkan sayapku, dan akupun terbang dengan bebas di atas langit malam.
Perjalananku di langit kebebasan dimulai, bersama dengan sayap milik sahabatku, aku akan hidup dengan kebanggaan, dan menjelajahi dunia ini dengan bebas tanpa kekangan.