KASKUS

Pencak Silat Sunda Maenpo Cikalong

Salam.

Mohon maaf sebelumnya. Saya pribadi bukanlah praktisi Cikalong, malah bukan praktisi Silat sama sekali.

Jujur di sini saya memang memasang topik ini demi menggali informasi tentang Maenpo Cikalong yg saya kagumi dari dulu namun sampai sekarang belum berkesempatan utnuk menimba ilmunya.

Jadi silahkan akang2 yg lebih mengenali Maenpo Cikalong untuk sharing di sini. Saya akan sangat berterima kasih sekali.

Salam hormat.

Quote:Sejarah Maenpo Cikalong

Menurut tuturan Raden Memed bin Raden Obing Ibrahim yang lahir di Cianjur pada tahun 1919. Pada tahun 1994 (Usia 75 tahun) ia bertutur bahwa aliran Maenpo ini berasal dari Ciptaan Juragan Haji Ibrahim Cikalong.

Cikalong adalah nama sebuah tempat di Cianjur yang digunakan untuk penamaan aliran yang lahir ditempat ini. Berdasarkan tradisi lisan atau cerita para sesepuh yang mengalami atau yang mengetahui sejarah lahirnya dan tersebarnya bela diri Cikalong ini adalah yang menjadi murid-murid utama, yakni Raden Ibrahim atau Raden Djajaperbata dan termasuk anak cucunya sendiri yang merupakan keturunan Dalem Aria Cikalong.

Karena pada saat itu yang pertama kali menyebarkan Bela Diri Maenpo ini adalah keluarga besar atau keturunan Dalem Aria Cikalong. Kesimpulannya Maenpo sebelumnya adalah bersifat rahasia dan hanya dipelajari oleh lingkungan Dalem Aria Cikalong (golongan Ningrat). Raden Memed juga menuturkan kalau ingin memiliki Maenpo yang ideal adalah perlu adanya ketekunan serta rajin dalam mempelajarinya, antara lain ia berkata: "Kita dapat menjalankan Maenpo yang sesungguhnya hanya apabila kita sudah betah, sudah merasa jadi kulit dan jadi daging bersatu dalam badan kita".

Dalam Tuturannya Raden Memed juga menerangkan bahwa Maenpo Cikalong tidak dikhususkan untuk bentuk tubuh dan ukuran tenaga tertentu, melainkan untuk siapapun baik yang bertubuh tinggi maupun bertubuh pendek, baik yang bertenaga kuat maupun yang bertenaga lemah. Orang yang bertubuh kecil dalam menghadapi orang yang bertubuh besar tentu mencari akal dan menjalankan siasat agar dapat melawan dengan tenaga yang kecil, sebab manusia dapat menambah tubuhnya dengan akal.

Bagi manusia kuat jangan dilawan dengan kuat, kuat hendaknya dilawan dengan lemah, yang berat harus dilawan dengan ringan, yang cepat harus dilawan dengan yang lambat. Hal ini menyimpang dari kebiasaan seolah-olah tidak masuk akal, karena itu Maenpo harus direnungkan dan dipelajari dengan rajin. Tanpa mempelajarinya dengan rajin kita tidak akan memilikinya. Hakikat Bela Diri Maenpo adalah mampu mengatasi atau menaklukkan lawan dengan tidak mengandalkan kekuatan jasmani artinya harus mengandalkan tekhnis metode ilmu bela diri dengan sempurna dan tepat, sehingga semua selamat tidak ada yang mendapat malapetaka, baik diri kita sendiri maupun lawan.

Raden Abad salah seorang dari kalangan Pendekar di Cianjur mengatakan bahwa dalam perilaku Maenpo setiap tindak dan gerak itu mengandung maksud untuk menjauhkan orang yang akan berbuat kerusakan, menolak orang yang hendak berkhianat dengan memperlakukan kekasaran pada diri kita (Serangan fisik).

Satu lagi keistimewaan Raden H. Ibrahim adalah dalam penerimaan murid. Beliau tidak memiliki murid yang banyak karena beliau berpikir setiap murid harus punya waktu khusus dengan beliau. Satu waktu latihan untuk satu murid. Dan juga beliau sangat berhati-hati dalam memilihnya, karena apa yang beliau pelajari dan ajarkan bisa menjadi sangat berbahaya kalau ada di tangan yang salah.

Dengan jalan begitu beliau betul-betul mengenal karakter setiap murid dan juga kelebihan serta kekurangan masing-masing. Beliau tidak akan begitu saja misalnya mengajarkan “Peupeuhan” kalau murid itu punya kelebihannya di “Ulin Tangtung”, begitu sebaliknya. Tetapi ada juga murid-murid yang sangat berbakat, misal Rd. Obing (yang akhirnya dikenal dengan nama Rd. Obing Ibrahim, nama Ibrahim diberikan oleh Rd. H. Ibrahim sendiri karena sangat sayang dengannya). Rd. Obing Ibrahim adalah contoh murid yang diajarkan semuanya.

Dari semuanya itu, yang sangat penting di Maenpo Cikalong adalah “Olah Rasa”, yang dilakukan melalui “Ulin Tapel”. Jadi murid-murid baik itu yang pelajar Peupeuhan, Ulin Tangtung, Ulin Puhu, dsb… pada akhirnya semua belajar Ulin Tapel. Ulin Tapel (olah rasa) sendiri dilakukan dalam tahapan:

1. Rasa Napel
2. Rasa Anggang
3. Rasa Sinar

1. Rasa Napel (Napel = Menempel)
Ini adalah tahap pertama dalam olah rasa, dilakukan dengan menempelkan kedua lengan dengan lawan. Untuk murid dengan “rasa” yang sudah sangat halus dan tajam, mereka melakukannya dengan tidak melihat (menunduk atau menutup mata dengan kain), tetapi bisa merasakan pergerakan lawan maupun arah tenaga dan sumber tenaga lawan.

2. Rasa Anggang (Anggang = “terdapat jarak”)
Tahapan kedua adalah “rasa anggang”, yang dilakukan tanpa menempelkan tangan, dan mencoba membaca tenaga, arah serangan, sumber tenaga dan pergerakan lawan. Ini seperti “rasa napel” yang diberi jarak. Seperti juga dalam “rasa napel”, murid-murid expert bisa melakukannya dengan mata tertutup.

3. Rasa Sinar
Ini mungkin terdengar dan terlihat seperti “utopia”, seperti mimpi… seperti khayalan. Tetapi kalau sudah melihat seorang pelaku Maenpo Cikalong melakukannya mungkin akan percaya. Hal ini tidak berhubungan dengan ilmu ghaib. Rasa Sinar sendiri bisa diartikan latihan intuisi dan eksistensi. Mungkin salah satu contoh penerapannya kita bisa mengetahui orang yang datang mendekati kita itu punya niat baik atau jahat. Sesuai dengan namanya, merasakan dari “sinar” orang.

Ketiga “Olah Rasa” tersebut bertujuan untuk mencari “kesempurnaan rasa” dalam Maenpo Cikalong yang disebut “rasa sajeroning rasa”, artinya “rasa di dalam rasa”. Sebuah wujud ketenangan dan kematangan dalam ber-Maenpo.






Cool...!!! Reminds me of Aikido. Two thumbs up...!!!

PERTAMAX!!!
Bisa tolong di kasih penjelasan apa yang sebenarnya terjadi di video ke-2 dan video ke-3 itu,
karena dari pengmatan saya itu sepertinya hampir di katakan tidak menyentuh sama sekali, dan orang itu sudah terlempar ada juga yang menyentuh terlalu lembut, yang menurut saya sebagai manusia awam, impossible in real situation.
, sebagai manusia awam Saya bingung dan kaget melihat kemampuan dalam video itu, saya tunggu responnya makasih.

Thumbs up Kejadiannya asyik juga loh...

Kalau dalam terminologi aikido, penggunaan musubi dan atemi yang mumpuni.

Saya bukan praktisi Cikalong, namun mendapat kesempatan untuk merasakan sendiri ilmu ini dari tangan pertama, yaitu kedua orang guru yang ditampilkan di acara tersebut.

Saya menulis pengalaman saya dikerjai oleh para guru Cikalong di sahabatsilat pada Bulan Oktober 2008,

Quote:Hari Sabtu kemarin seusai latihan Cingkrik saya ngintip demo kecil-kecilan yang diadakan Pak Haji Azis dan Uda Parewa buat teman-teman dari TVone (kalo gak salah??)

Penasaran, saya minta ijin pingin ngerasain dan alhamdulillah diterima dengan baik oleh Pak Haji Azis sendiri.

To my surprise, saya ditekuk oleh Pak Haji Azis tanpa bisa melawan. Kadang saya merasa seperti tenaga saya tersedot dan hilang keseimbangan, kadang badan saya terasa kaku, dan ada pula kejadian saya jatuh oleh sentuhan ujung telunjuk Pak Haji. Tidak beda seperti menghadapi seorang Sensei Aikido yang mumpuni (hehehe, soalnya pengalaman serupa hanya pernah saya rasakan waktu berhadapan dengan Sensei Shigekoshi Satoru bertahun-tahun lalu).

Pak Haji sama sekali tidak pernah melakukan grabbing, beliau hanya menyambut tangan saya dengan sentuhan halus telapak atau punggung tangan beliau, sesudah itu saya tinggal pasrah saja rubuh ke tanah sambil clingukan tanpa tahu sebabnya.

Saya bolak-balik jadi tertawaan hadirin (yang tertawa paling keras adalah sejenis kampret yang lupa kalo dia mustinya keluar malem, bukan siang-siang kayak waktu itu >)

Usai buka jurus, kami melakukan dialog dan Pak Haji Azis dengan murah hati memaparkan rahasia dibalik 'ilmu sihir' yang beliau gunakan. Setelah beberapa saat, saya tertawa terbahak-bahak. Ternyata sama sekali tidak ada sihir, tenaga dalam, Ki atau sejenisnya. Yang ada murni merupakan pengetahuan yang amat dalam tentang anatomi dan kejiwaan (psikologi) manusia. Saya dipermainkan oleh tubuh dan persepsi saya sendiri, bukan oleh sejenis Ki atau tenaga misterius lainnya.

Saya tidak habis-habisnya kagum dengan pengetahuan ilmiah yang dimiliki oleh para leluhur kita sehingga bisa menciptakan silat semacam Cikalong. Tidak kalah mengagumkan saya adalah kerendahan hati Pak Haji Azis dalam menerangkan kepada saya prinsip-prinsip ilmunya. Beliau tidak menjadikan saya bahan tertawaan dan sesudah itu menutup diri dibalik tenaga dalam atau misteri-misteri sejenisnya, tapi justru memberikan saya bahan berharga untuk direnungkan dan dimanfaatkan dalam latihan saya sendiri.

Kami berpisah sesudah sholat Dzuhur berjamaah. Saya berharap dalam hati agar beladiri tradisional seperti Cikalong ini akan terus lestari dan berkembang. Sungguh negeri kita sendiri banyak menyimpan kebijaksanaan lokal yang mengagumkan.


Sedangkan di bawah ini komentar saya tentang tayangan di atas, yang juga saya tulis di sahabatsilat.

Quote:Mengamati lagi usikan di menit-menit terakhir video, kalau bukan saya sendiri pernah mengalami dibegitukan pastilah saya akan berkomentar seperti komentar saya waktu nonton latihan aikido bertahun-tahun lalu "ah, itu 'mah sudah diatur, keduanya kerjasama tuh."

Hihihihi... mencoba mengamati sambil merujuk pada keterangan Aki Sija beberapa waktu lalu, dan penjabaran dari Kang One di atas, sekarang saya sadar bahwa harus see beyond the obvious.

Dari beberapa gerakan yang ditunjukkan, tampak bahwa sebenarnya kuncinya terletak pada membuat satu sisi lawan menjadi tegang (isi?) dan sisi lain menjadi lunglai (kosong?), yang dicapai dengan menggunakan gerakan nyaris tidak terlihat di tangan (atau bagian badan lain) yang perannya terlihat minor. Misalnya kalau tangan kanan kita menyerang kening lawan, sesungguhnya tangan kiri kita sedang mengerjai keseimbangan lawan dengan cara tertentu. Akibatnya sekilas terlihat seperti lawan terpelanting oleh belaian ringan tangan kanan, padahal lontaran yang paling besar datang dari tangan kiri.


Adapun soal serangan yang lembut... ya, serangan saya waktu itu juga menjadi lembut... seperti kehabisan momentum, dan saya samasekali tidak mampu membalikkan atau mengarahkan tenaga saya ke tempat lain... kalau Pak Haji Azis tidak melanjutkan gerakannya, saya cuma berdiri terbengong-bengong sambil berpegangan tangan dengan beliau

Tentunya penjelasan ini tidak bisa memuaskan... selain karena saya bukan anak murid Cikalong, pemahaman yang paling yahud tentu kalau mencoba dan mengalami sendiri.:
Quote:Original Posted By 4ntara


Adapun soal serangan yang lembut... ya, serangan saya waktu itu juga menjadi lembut... seperti kehabisan momentum, dan saya samasekali tidak mampu membalikkan atau mengarahkan tenaga saya ke tempat lain... kalau Pak Haji Azis tidak melanjutkan gerakannya, saya cuma berdiri terbengong-bengong sambil berpegangan tangan dengan beliau

Tentunya penjelasan ini tidak bisa memuaskan... selain karena saya bukan anak murid Cikalong, pemahaman yang paling yahud tentu kalau mencoba dan mengalami sendiri.:


ow, apakah itu bisa dilakukan pada orang yang full resist , maksud saya melakukan perlawanan penuh dgn segenap kemampuannya?
Itulah yang ingin saya lakukan tapi tidak bisa...

Apa artinya resistensi? Kita mengeluarkan tenaga dengan vektor yang berlawanan dengan tenaga lawan.

Apa syarat kita bisa resisten? Ada tenaga yang lebih dulu dikeluarkan oleh lawan... ada arah tenaga yang bisa kita kenali.

pengalaman dengan Cikalong,
Ketika saya menyerang, momentum tenaga saya diterima dengan lembut, sama sekali tidak memberi isyarat apapun pada indra saya untuk bisa bereaksi.

Mungkin gambarannya, pukulan saya diterima oleh telapak tangan yang bergerak searah dan dengan kecepatan yang persis sama. Boleh dicoba, bila dilakukan oleh orang yang mahir, trik ini akan menimbulkan rasa seperti disedot. Atau dalam kasus pukulan lurus yang terkontrol, kita akan merasa seperti beku di puncak pukulan itu karena kita kehilangan benturan yang harusnya kita antisipasi. Bagaimana melawan tenaga yang justru bekerjasama dengan tenaga kita?

Pernah coba permainan anak-anak menekan kedua telapak tangan satu sama lain dengan kekuatan penuh selama satu menit? Yang ketika tekanan dilepaskan, kedua telapak tangan kita seolah punya kecenderungan untuk menempel terus? Nampaknya efek seperti itulah yang dimanfaatkan, walau kali ini momentumnya lebih bersifat persepsi ketimbang fisik.

Dalam kasus clinch, kaidah yang sama berlaku pula. Nampaknya teman-teman kita dari Cikalong mengembangkan kepekaan rasa sedemikian rupa sehingga bisa merasakan dan mengikuti momentum tenaga kita, dus kita tidak punya stimuli apapun untuk dilawan. Rasanya seperti bergulat dengan angin.

Itulah kenapa istilah yang digunakan adalah "usik".
Dalam Bahasa Indonesia sendiri, usik, mengusik, menunjukkan kegiatan yang skalanya kecil atau halus. Jadi kepekaan untuk merasakan sentuhan-sentuhan atau tenaga-tenaga yang kecil sekali dan mengikutinya sedemikian rupa sehingga kita tidak punya bahan untuk dilawan.

Saya sendiri terbiasa melawan genggaman tangan dengan teknik-teknik lepasan yang standar, dan waktu itu berniat mengenggam tangan Pak Haji Azis sekuat tenaga agar beliau tidak bisa mengeluarkan teknik-teknik lepasan semacam itu... nyatanya, genggaman saya malah membuat saya tersedot, kaku, atau kehilangan keseimbangan

Sekali lagi, ini cuma persepsi saya sebagai orang luar... penjelasan yang paling baik tentu datang dari praktisi Cikalong sendiri.
Quote:Original Posted By 4ntara

Apa artinya resistensi? Kita mengeluarkan tenaga dengan vektor yang berlawanan dengan tenaga lawan.

Apa syarat kita bisa resisten? Ada tenaga yang lebih dulu dikeluarkan oleh lawan... ada arah tenaga yang bisa kita kenali.


orang yg di suruh mencengkeram keras tapi dapat dengam mudah di lepas itu karena yang mencengkeram hanya melakukan 1 aksi , mencengkeram saja, dan tentu saja bisa di lepas, dan pada waktu dtangannya di lepas dia tidak melakukan rangkaian aksi berikut untuk melakukan perlawanan., tentu saja 1 cengkeraman bisa di lepas karena persendian manusia itu bisa di puter, ini basic sekali.
berbeda dgn full resist dia melakukan cengkeraman dan serangan2 beruntun dgn fuull power , pkul, grapple dll<-- ini yg saya maksud,. 1 pukulan tentu saja bisa di dengan mudah di atasi tapi bagaimana dengan serangkaian serangan dari orangyg cukup kuat.
yang di atas ini yang saya maksud dgn Full-resist.



seperti teknik2 halus yang saya liat di situ, IMHO
contoh yg bagian cewek itu di ajari teknik itu, apa kah orang beneran akan jatuh terpelanting sampe tertidur ditanah, spt itu, sedangkan secara alamiah, manusia akan mundur sembari menundukkan kepala, . <--taijutsu

orang yg di pegang tangannya secara alamiah akan menarik tanagnnya di dekatkan ke tubuhnya, itu sudah reaksi alamiah, untuk melepaskan diri,.
Quote:Original Posted By Ninjamaniac
orang yg di suruh mencengkeram keras tapi dapat dengam mudah di lepas itu karena yang mencengkeram hanya melakukan 1 aksi , mencengkeram saja, dan tentu saja bisa di lepas, dan pada waktu dtangannya di lepas dia tidak melakukan rangkaian aksi berikut untuk melakukan perlawanan., tentu saja 1 cengkeraman bisa di lepas karena persendian manusia itu bisa di puter, ini basic sekali.
berbeda dgn full resist dia melakukan cengkeraman dan serangan2 beruntun dgn fuull power , pkul, grapple dll<-- ini yg saya maksud,. 1 pukulan tentu saja bisa di dengan mudah di atasi tapi bagaimana dengan serangkaian serangan dari orangyg cukup kuat.
yang di atas ini yang saya maksud dgn Full-resist.



seperti teknik2 halus yang saya liat di situ, IMHO
contoh yg bagian cewek itu di ajari teknik itu, apa kah orang beneran akan jatuh terpelanting sampe tertidur ditanah, spt itu, sedangkan secara alamiah, manusia akan mundur sembari menundukkan kepala, . <--taijutsu

orang yg di pegang tangannya secara alamiah akan menarik tanagnnya di dekatkan ke tubuhnya, itu sudah reaksi alamiah, untuk melepaskan diri,.


anda bener,
apa yang ada di video2 di atas adalah tayangan untuk konsumsi publik, tentu nya aksi-reaksi dibatasi smp dgn terjadi satu ending. bayangkan kalo aksi-reaksi gak dibatasi, yang terjadi mgkn salah satu pihak bisa celaka, dan ga akan muncul video2 di atas.

apa yang diceritakan bro antara adalah suatu proses untuk "mengenali" dan "merasakan". that's it. dalam maenpo cikalong itu disebut "kejadian". pada keadaan sesungguh nya, seorang praktisi maenpo cikalong tentu tidak mau menyerahkan begitu saja tangannya dicengkeram, leher dicekik, atau badan di grap.

praktisi maenpo akan bisa mengetahui dan bereaksi thd seseorang dengan "mengenali" apakah ybs sekedar ingin tau dan merasakan, ataukah ingin "menundukkan". reaksi atas dua aksi itu akan aboslutely berbeda.

tambahan, video2 di atas adalah maenpo cikalong paguron pancerbumi dari linegage RH.O Soleh (gan uweh) pasar baru, cianjur. tentu maenpo cikalong dari lineage yang lain masih banyak lagi dengan gaya dan ke khas-an masing2.

untuk mengenal lebih jauh maenpo cikalong, silakan liat di sini http://sahabatsilat.com/forum/aliran...enpo-cikalong/ dan http://sahabatsilat.com/forum/aliran...baru-cianjur)/
Wah, jadi bedah ilmu menurut kaidah aliveness nih... hehehehe...

saya paham yang dimaksud dengan full resistance, bang Ninja, bahkan paham pula dari mana datangnya pertanyaan, Abang, tapi ada tiga hal yang perlu kita pertimbangkan di sini, dengan masih memperlakukan utasan ini dalam kerangka mengenal permainan Cikalong ...

  1. Saya menyadari posisi saya sebagai tamu di Cikalong Pabuci asuhan Haji Aceng dan Haji Azis, sehingga memilih bertindak selayaknya tamu yang baik, meski itu berarti saya tidak bisa menggali ilmu tersebut lebih dalam lagi (yang untuk itu tentu saja kita perlu menjadi murid). Akibatnya memang saya tidak bisa memberi banyak keterangan di sini.

  2. Pada proses belajar, atau proses berkenalan dengan permainan orang lain, sopan santun yang perlu dikedepankan adalah mengikuti standar pelatihan permainan sang tuan rumah. Saya memberikan umpan sesuai dengan kaidah teknik yang diminta, dengan begitu saya bisa belajar latar belakang penggunaan teknik tersebut. Resistensi yang diberikan tentu sesuai dengan pola ajar yang diberikan.

  3. Pada randori, ketika kita bebas mengganti reaksi sesuka kita, pola pelajaran yang diberikan sudah berada pada tingkat lanjut. Selain tidak sopan bila kita langsung melangkah sejauh itu, pada tahap semacam ini si pemberi materi juga bebas mengganti teknik sesuai dengan tuntutan keadaan. Akhirnya yang terjadi adalah unjuk kemampuan.


Bukannya ini tidak saya lakukan, saya memohon ijin Pak Haji Azis untuk mengganti gerakan sesuai kepekaan saya sendiri, dan beliau mampu mengikuti dengan baik. Masalahnya, saya menyadari bahwa pada tataran itu yang terjadi adalah kemampuan tai-sabaki saya melawan kemampuan usik Pak Haji, bukan lagi proses pembelajaran ilmu usik Cikalong. Bila bertindak lebih jauh lagi dari situ, saya akan melangkahi batas tata krama dan Pak Haji sendiri mungkin tidak perlu lagi berpegangan pada usik, beliau bisa saja mengeluarkan Kari atau Madi Cikalong yang wataknya lebih mematikan.

Lebih lanjut,
melihat tayangan beladiri di TV atau media hiburan lainnya, kita layak bersikap rendah hati, menyadari bahwa tayangan tersebut bersifat informasi dasar, kalau bukan malah samasekali hiburan. Jika ketika kita melihat suatu teknik pasti bisa dicounter dengan teknik lain, atau tidak mungkin berhasil bila lawannya resist, itu memang benar, apalagi di mata orang-orang yang setiap hari berurusan dengan beladiri. Tapi saya pribadi lebih memilih memandang kepada proses apa yang sedang ditekuni di situ, dan kaidah apa saja yang diterapkan, bukan bagaimana saya bisa mengalahkan ilmu itu.

Bukannya menggurui loh Bang Ninja,

Hanya saja yang bisa saya ungkapkan dari interaksi saya dengan mereka, bahwa permainan usik Cikalong ini absah adanya, bukan tipuan dan bukan pula kepicikan, seperti kadang kita temui beberapa praktisi beladiri tradisional yang merasa sudah mumpuni padahal belum pernah menjajal ilmu mereka dengan kaidah aliveness.

Saya bersyukur bisa mengenal dan bersahabat dengan kelompok Cikalong Pabuci, tanpa perlu mengetahui siapa yang lebih mampu atau lebih tau, sebagai bagian dari pengamalan pepatah lama, "badan pesilat mencari kawan, jiwa pesilat mencari Tuhan".

Jadi maaf kalau analisis keilmuan yang biasanya merupakan hobi saya tidak saya terapkan di sini
Waduh, ternyata sudah ada Bang Suporter... habis saya ngetiknya kelamaan

* Menjura sambil mundur tiga langkah dan duduk hikmat...*
Quote:Original Posted By 4ntara
Waduh, ternyata sudah ada Bang Suporter... habis saya ngetiknya kelamaan

* Menjura sambil mundur tiga langkah dan duduk hikmat...*

hahaha...penjelasan ente udah jauh lebih dari cukup, boss...

ane malah nunggu TS ngasih pencerahan yg pasti lebih lihai dan faham ttg maenpo cikalong..
Quote:Original Posted By suporterss
hahaha...penjelasan ente udah jauh lebih dari cukup, boss...

ane malah nunggu TS ngasih pencerahan yg pasti lebih lihai dan faham ttg maenpo cikalong..


Salam.

Mohon maaf sebelumnya. Saya pribadi bukanlah praktisi Cikalong, malah bukan praktisi Silat sama sekali.

Jujur di sini saya memang memasang topik ini demi menggali informasi tentang Maenpo Cikalong yg saya kagumi dari dulu namun sampai sekarang belum berkesempatan utnuk menimba ilmunya.

Jadi silahkan akang2 yg lebih mengenali Maenpo Cikalong untuk sharing di sini. Saya akan sangat berterima kasih sekali.

Salam hormat.
Quote:Original Posted By 4ntara

  1. Saya menyadari posisi saya sebagai tamu di Cikalong Pabuci asuhan Haji Aceng dan Haji Azis, sehingga memilih bertindak selayaknya tamu yang baik, meski itu berarti saya tidak bisa menggali ilmu tersebut lebih dalam lagi (yang untuk itu tentu saja kita perlu menjadi murid). Akibatnya memang saya tidak bisa memberi banyak keterangan di sini.

  2. Pada proses belajar, atau proses berkenalan dengan permainan orang lain, sopan santun yang perlu dikedepankan adalah mengikuti standar pelatihan permainan sang tuan rumah. Saya memberikan umpan sesuai dengan kaidah teknik yang diminta, dengan begitu saya bisa belajar latar belakang penggunaan teknik tersebut. Resistensi yang diberikan tentu sesuai dengan pola ajar yang diberikan.

  3. Pada randori, ketika kita bebas mengganti reaksi sesuka kita, pola pelajaran yang diberikan sudah berada pada tingkat lanjut. Selain tidak sopan bila kita langsung melangkah sejauh itu, pada tahap semacam ini si pemberi materi juga bebas mengganti teknik sesuai dengan tuntutan keadaan. Akhirnya yang terjadi adalah unjuk kemampuan.


Bukannya ini tidak saya lakukan, saya memohon ijin Pak Haji Azis untuk mengganti gerakan sesuai kepekaan saya sendiri, dan beliau mampu mengikuti dengan baik. Masalahnya, saya menyadari bahwa pada tataran itu yang terjadi adalah kemampuan tai-sabaki saya melawan kemampuan usik Pak Haji, bukan lagi proses pembelajaran ilmu usik Cikalong. Bila bertindak lebih jauh lagi dari situ, saya akan melangkahi batas tata krama dan Pak Haji sendiri mungkin tidak perlu lagi berpegangan pada usik, beliau bisa saja mengeluarkan Kari atau Madi Cikalong yang wataknya lebih mematikan.

Lebih lanjut,
melihat tayangan beladiri di TV atau media hiburan lainnya, kita layak bersikap rendah hati, menyadari bahwa tayangan tersebut bersifat informasi dasar, kalau bukan malah samasekali hiburan. Jika ketika kita melihat suatu teknik pasti bisa dicounter dengan teknik lain, atau tidak mungkin berhasil bila lawannya resist, itu memang benar, apalagi di mata orang-orang yang setiap hari berurusan dengan beladiri. Tapi saya pribadi lebih memilih memandang kepada proses apa yang sedang ditekuni di situ, dan kaidah apa saja yang diterapkan, bukan bagaimana saya bisa mengalahkan ilmu itu.

Hanya saja yang bisa saya ungkapkan dari interaksi saya dengan mereka, bahwa permainan usik Cikalong ini absah adanya, bukan tipuan dan bukan pula kepicikan, seperti kadang kita temui beberapa praktisi beladiri tradisional yang merasa sudah mumpuni padahal belum pernah menjajal ilmu mereka dengan kaidah aliveness.



Saya sepakat sekali dengan pernyataan2 di atas.
Quote:Original Posted By ells
Salam.

Mohon maaf sebelumnya. Saya pribadi bukanlah praktisi Cikalong, malah bukan praktisi Silat sama sekali.

Jujur di sini saya memang memasang topik ini demi menggali informasi tentang Maenpo Cikalong yg saya kagumi dari dulu namun sampai sekarang belum berkesempatan utnuk menimba ilmunya.

Jadi silahkan akang2 yg lebih mengenali Maenpo Cikalong untuk sharing di sini. Saya akan sangat berterima kasih sekali.

Salam hormat.

hahaha....
ini namanya bikin soal tp orang lain yg disuruh nyeleseinnya alias lempar batu sembunyi tangan. saya pikir seorang TS kudu udah siap dengan jawaban2 dari pertanyaan2 yang mungkin bakalan timbul dari tret nya.
atau paling tidak pernyataan itu dikemukakan di atas/awal tret.

kalo cuma pengen tau ttg apa dan bagaimana maenpo cikalong silakan menuju ke sini :
http://sahabatsilat.com/forum/aliran...enpo-cikalong/ dan
http://sahabatsilat.com/forum/aliran...baru-cianjur)/

rantict

Quote:Original Posted By suporterss
anda bener,
apa yang ada di video2 di atas adalah tayangan untuk konsumsi publik, tentu nya aksi-reaksi dibatasi smp dgn terjadi satu ending. bayangkan kalo aksi-reaksi gak dibatasi, yang terjadi mgkn salah satu pihak bisa celaka, dan ga akan muncul video2 di atas.

apa yang diceritakan bro antara adalah suatu proses untuk "mengenali" dan "merasakan". that's it. dalam maenpo cikalong itu disebut "kejadian". pada keadaan sesungguh nya, seorang praktisi maenpo cikalong tentu tidak mau menyerahkan begitu saja tangannya dicengkeram, leher dicekik, atau badan di grap.

praktisi maenpo akan bisa mengetahui dan bereaksi thd seseorang dengan "mengenali" apakah ybs sekedar ingin tau dan merasakan, ataukah ingin "menundukkan". reaksi atas dua aksi itu akan aboslutely berbeda.

ow begitu, saya setuju dengan penjelasan anda, terima kasih sudah menanggapi pertanyaan saya.
Quote:Original Posted By 4ntara
Wah, jadi bedah ilmu menurut kaidah aliveness nih... hehehehe...
... dlL


santai aja mas Antara, jangan berpikiran negatif dgn pertanyaan saya, justru pertanyaan saya itu yg sudah di jawab dengan baik oleh anda dan mas suporterrs, justru tujuannya biar orang yang membaca thread ini menjadi jelas, sehingga waktu melihat video itu di tambah dengan penjelasan anda berdua, orang jadi mengerti dengan apa yg terjadi dalam video itu dan tidak menganngap itu Hoax. Sedangkan tanpa penjelasan orang bisa berasumsui lain, bukan begitu mas Antara ? Seandainya tidak ada penjelasan , / tidak ada orang yang berani bertanya, maka mereka akan menyimpan asumsi lain setelah melihta video itu, bukan begitu Mas antara ?

Talking Tjotjok....

Heheheh... betul begitu, Bang Ninja :... makanya dengan senang hati saya jawab... meski saya sendiri bukan praktisi Cikalong. Cuman kalau sampai kaidah yang sangat mendalam, apalagi kalau sampai kaidah Henka dan Oyo, sebaiknya kita serahkan pada ahlinya... berkumis maupun tidak

* itu image verification kok susah banget sih tulisannyah *
Quote:Original Posted By suporterss
hahaha....
ini namanya bikin soal tp orang lain yg disuruh nyeleseinnya alias lempar batu sembunyi tangan. saya pikir seorang TS kudu udah siap dengan jawaban2 dari pertanyaan2 yang mungkin bakalan timbul dari tret nya.
atau paling tidak pernyataan itu dikemukakan di atas/awal tret.



Mohon maaf kalau begitu adanya
Masalah praktek emang susah klo ga ktemu gan,g tanya teori aja.perna baca tiap perg cikalong,jumlah jurus n fokus nya bisa beda ya,bner ga? Apa bedanya n knapa bisa berbeda?
soal manipulasi tenaga, relevan gak agan2 pengertian saya yang masih dangkal ini menyimpulkan pake contoh, misalnya pas main tarik tambang, pas kita dah narik sekenceng2nya sekuat tenaga, trus lawan lepasin talinya tiba2 dan kemungkinan besar kita jatuh. Ini mungkin baru salah satu contoh. Tentu aplikasi pas main usik lebih banyak lagi variasinya