[share] TRADISI ZIARAH MAKAM LELUHUR PADA MASYARAKAT JAWA

Bagi masyarakat Jawa makam merupakan tempat yang dianggap suci dan pantas dihormati. Makam sebagai tempat peristirahatan bagi arwah nenek moyang dan keluarga yang telah meninggal. Keberadaan makam dari tokoh tertentu menimbulkan daya tarik bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas ziarah dengan berbagai motivasi. Kunjungan ke makam pada dasarnya merupakan tradisi agama Hindu yang pada masa lampau berupa pemujaan terhadap roh leluhur. Candi pada awalnya adalah tempat abu jenazah raja raja masa lampau dan para generasi penerus mengadakan pemujaan di tempat itu. Makam, terutama makam tokoh sejarah, tokoh mitos, atau tokoh agama, juga merupakan tujuan wisata rohani yang banyak dikunjungi wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri.

Ziarah makam merupakan satu dari sekian tradisi yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Jawa. Berbagai maksud dan tujuan maupun motivasi selalu menyertai aktivitas ziarah. Ziarah kubur yang dilakukan oleh orang Jawa ke makam yang dianggap keramat sebenarnya akibat pengaruh masa Jawa-Hindu. Pada masa itu, kedudukan raja masih dianggap sebagai titising dewa sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan seorang raja masih dianggap keramat termasuk makam, petilasan, maupun benda-benda peninggalan lainnya.
Kepercayaan masyarakat pada masa Jawa-Hindu masih terbawa hingga saat ini. Banyak orang beranggapan bahwa dengan berziarah ke makam leluhur atau tokoh – tokoh magis tertentu dapat menimbulkan pengaruh tertentu. Kisah keunggulan atau keistimewaan tokoh yang dimakamkan merupakan daya tarik bagi masyarakat untuk mewujudkan keinginannya. Misalnya dengan mengunjungi atau berziarah ke makam tokoh yang berpangkat tinggi, maka akan mendapatkan berkah berupa pangkat yang tinggi pula.
Bagi masyarakat Jawa, ziarah secara umum dilakukan pada pertengahan sampai akhir bulan Ruwah menjelang Ramadhan. Pada saat itu masyarakat biasanya secara bersama-sama satu dusun atau satu desa maupun perorangan dengan keluarga terdekat melakukan tradisi ziarah ke makam leluhur. Kegiatan ziarah ini secara umum disebut nyadran. Kata nyadran berarti slametan (sesaji) ing papan kang kramat.

Selamatan (memberi sesaji) di tempat yang angker /keramat.

Kata nyadran juga memiliki pengertian lain yaitu slametan ing sasi Ruwah nylameti para leluwur (kang lumrah ana ing kuburan utawa papan sing kramat ngiras reresik tuwin ngirim kembang) selamatan di bulan Ruwah menghormati para leluhur (biasanya di makam atau tempat yang keramat sekaligus membersihkan dan mengirim bunga).
Di daerah-daerah yang mempunyai tempat bersejarah, agak berbau angker, pantai-pantai, goa-goa, yang punya kisah tersendiri biasanya mempunyai upacara adat yang disebut nyadran. Tak ubahnya dengan makna upacara-upacara adat yang lain, nyadran ini juga mengandung makna religius. Ada yang dengan jalan memasang sesaji di tempat itu selama tiga hari berturut turut, ada yang dengan cara melabuh makanan yang telah ‘diramu’ dengan berbagai macam kembang. Ada pula yang mengadakan kenduri dengan makanan makanan yang enak, lalu diadakan pertunjukan besar-besaran dan sebagainya.
Kebiasaan mengunjungi makam sebenarnya merupakan pengaruh dari kebiasaan mengunjungi candi atau tempat suci lainnya di masa dahulu dengan tujuan melakukan pemujaan terhadap roh nenek moyang. Kebiasaan ini semakin mendalam jika yang dikunjungi adalah tokoh yang mempunyai kharisma tertentu, mempunyai kedudukan tertentu seperti raja, ulama, pemuka agama, tokoh mistik, dan sebagainya.
Dengan berkembangnya jaman, berkembang pula pemahaman manusia tentang ziarah, bahkan muncul berbagai maksud, tujuan, motivasi maupun daya tarik dari aktivitas ziarah ini.

Ziarah Sebagai Ungkapan Doa Bagi Arwah Leluhur

Secara umum ziarah yang dilakukan menjelang bulan Ramadhan bagi masyarakat Jawa mempunyai maksud untuk mendoakan arwah leluhur mereka. Masyarakat biasanya secara bersama-sama mengadakan kerja bakti membersihkan makam desa atau dusun dengan segala tradisi dan adat kebiasaan yang berlaku secara turun temurun. Ada juga yang dilengkapi dengan mengadakan kenduri bersama di makam, atau di rumah kepala dusun mereka. Pada umumnya mereka mengadakan sesaji dengan tidak lupa membuat kolak dan apem. Tradisi ini biasa disebut ruwahan, sesuai dengan bulan diadakannya yaitu bulan Ruwah.
Bagi keluarga-keluarga tertentu biasanya telah diadakan kesepakatan untuk nyadran pada hari ke berapa dalam bulan Ruwah tersebut. Mereka yang berada jauh dari makam selalu menyempatkan diri untuk dapat bersama-sama mengunjungi makam keluarga mereka. Pada waktu ziarah tidak lupa mereka juga membawa bunga tabor untuk ditaburkan ke pusara makam keluarga mereka. Setiap keluarga biasanya mengajak serta anggota keluarga supaya mereka mengetahui dan mengenal para leluhur yang telah dimakamkan di situ. Adanya tradisi nyadran ini menimbulkan berbagai aktivitas yang muncul hanya pada saat tertentu yaitu hari-hari menjelang masyarakat melakukan kegiatan nyadran.
Aktivitas yang dapat dikatakan insidental ini seperti misalnya penjualan bunga tabur yang meningkat tajam pada hari-hari sejak pertengahan bulan Ruwah. Hal ini dikarenakan masyarakat yang nyadran sudah dipastikan akan memerlukan bunga tabor untuk nyekar di makam leluhur mereka.

Karenanya tidak aneh apabila pada saat-saat itu penjual bunga mulai marak, baik penjual yang memang biasanya sehari-hari berjualan bunga ataupun penjual bunga tiban, mereka hanya berjualan bunga pada saat-saat hari ramai nyekar.
Terkait dengan tradisi nyekar atau nyadran ini muncul pula aktivitas lain berupa jasa tenaga membersihkan makam. Di berbagai makam muncul para penyedia jasa untuk membersihkan makam keluarga tertentu dengan sedikit imbalan. Mereka biasanya berada di sekitar makam dan membersihkan makam bagi keluarga yang datang untuk ziarah.
Dalam hal ini tradisi ziarah mempunyai fungsi untuk mengingatkan kita yang masih hidup bahwa suatu saat kematian akan kita alami. Selain itu juga seperti telah disebutkan dalam uraian di atas, bahwa ziarah
makam akan menimbulkan ikatan batin antara yang masih hidup dengan leluhur yang telah meninggal.
-lanjutan-

Berbagai Motivasi Bagi Peziarah Tokoh Mitos

Secara umum tujuan ziarah selain sebagai ungkapan doa dan pengenalan akan sejarah nenek moyang, masih ada motivasi ziarah yang berkembang dalam masyarakat.
Contoh yang dapat disebutkan di sini adalah adanya tradisi nyadran makam di kompleks Makam Sewu di Desa Wijirejo, Pandak, Bantul. Di kompleks makam ini dimakamkan juga tokoh terkenal yang biasa disebut Panembahan Bodo. Di Makam Sewu pada hari-hari tertentu ramai dikunjungi peziarah yaitu pada hari Selasa Kliwon dan Senin Pon.
Panembahan Bodo adalah tokoh penyebar agama Islam, teguh dalam belajar agama Islam, mempunyai sifat rendah hati, tidak mau mengunggulkan diri sendiri.
Walaupun ia telah berguru agama Islam hingga mengharuskan dirinya masuk pondok pesantren, namun ia tetap menganggap dirinya bodoh. Karenanya ia diberi julukan Panembahan Bodo.
Para peziarah datang dengan berbagai tujuan atau motivasi; ngalap berkah, untuk memperoleh kekuatan, popularitas, stabilitas pribadi, umur panjang, mencari rejeki, maupun mencari kebahagiaan bagi anak
cucu atau keselamatan hidup. Hal-hal ini biasanya yang paling umum diharapkan orang apabila berziarah ke makam tokoh mitos terkenal.

Secara umum motivasi berziarah dapat digolongkan dalam empat hal meliputi taktyarasa: berziarah dengan tujuan memperoleh berkah dan keteguhan hidup (ngalap berkah); gorowasi: (berziarah ke makam legendaris untuk memperoleh kekuatan, popularitas, stabilitas pribadi, serta umur panjang, mencari ketenangan batin; widiginong: (berziarah dengan tujuan mencari kekayaan dunia maupun jabatan duniawi atau mencari rejeki; samaptadanu: upaya mencari kebahagiaan anak cucu agar selamat atau untuk mencari keselamatan.

Tempat ziarah yang lain dapat disebutkan di sini yaitu di makam KRA Sosronagoro yang terletak di daerah Manang, Grogol, Sukoharjo. KRA Sosronagoro adalah patih Kraton Surakarta Hadiningrat pada masa Paku Buwono X. Beliau semasa hidupnya adalah seorang patih yang terkenal, bijaksana, dan berpengetahuan luas serta dalam. Karenanya sampai sekarang beliau masih sangat dihormati oleh anak cucunya. Pada hari-hari tertentu biasanya malam Jumat dan Selasa Kliwon banyak peziarah datang dari berbagai daerah. Mereka berziarah dan tirakat ngalap berkah dengan berbagai tujuan atau permohonan. Pada umumnya mereka yang datang menginginkan pangkat yang tinggi, ingin naik pangkat, atau menginginkan kedudukan tertentu. Semua itu karena kharisma tokoh yang dimakamkan yaitu KRA Sosronagoro. Semasa hidup beliau sebagai seorang tokoh negara yang kuat bertapa, sifat soleh dan bijak membuatnya lebih dari manusia biasa. Hidupnya penuh dengan keprihatinan dan kesungguhan dalam mengabdi di kraton pada masa mudanya. Bahkan cita-citanya ditempuh dengan tapa kungkum di Sungai Pepe.
Ketokohannya, bahkan setelah beliau wafat pun masih sangat dihormati dan disegani oleh masyarakat terbukti makamnya masih selalu ramai dikunjungi para peziarah. Para peziarah datang dengan berbagai harapan dan keinginan, rejeki, jodoh, pangkat, kedudukan, ketenteraman batin, dan sebagainya.

Bagi para peziarah yang bertirakat di sana kadangkala juga melihat atau mengalami hal-hal yang aneh, di luar akal sehat. Misalnya ada peziarah dari Jakarta yang pada waktu tirakat melihat lampu banyak sekali, ternyata itu merupakan pertanda keinginannya tercapai, yaitu ingin menjadi pedagang yang sukses. Ada pula yang melihat harimau putih, yang konon merupakan penjaga (mbaureksa) makam.
Bagi mereka yang keinginannya terkabul juga sering mengadakan tahlilan, yasinan, atau selamatan di makam tersebut.

Tokoh mitos lain yang terkenal dan menjadi tujuan ziarah adalah Sunan Drajat, yang dimakamkan di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan. Mengapa dinamakan Sunan Drajat? Pada masa mudanya beliau bernama Raden Qosim, putra Sunan Ampel dengan Dewi Candrawati. Beliau ditugaskan untuk berdakwah di bagian barat dari Surabaya, lalu membuka pesantren di daerah Jelag (termasuk wilayah Desa Banjarwati), Kecamatan Paciran. Setahun kemudian Raden Qosim pindah ke arah selatan, sekitar satu kilometer, sesuai petunjuk yang diperolehnya, lalu mendirikan langgar yang digunakan untuk berdakwah. Langgar yang didirikan terletak di bukit yang agak tinggi sehingga dinamakan Desa Drajat.

Masyarakat sangat menghormati dan segan terhadap Raden Qosim yang sangat tinggi ilmunya. Sampai meninggalnya beliau dimakamkan di Desa Drajat tersebut.
Masyarakat lalu mengaitkan antara harta, derajat, dan pangkat, serta beranggapan bahwa setiap orang akan dihormati dan dihargai apabila ziarah ke makam Sunan Drajat. Karena itu banyak orang yang berziarah ke makam Sunan Drajat dengan maksud agar keinginannya tercapai. Dengan melakukan tata cara seperti umumnya orang berziarah, berdzikir serta mendoakan arwah yang dimakamkan di situ, sebagai imbalannya Yang Maha Kuasa akan mengabulkan keinginannya.

Tekanan hidup dan kemiskinan juga mendorong orang untuk melakukan tindakan ritual dengan berziarah ke makam tokoh mitos terkenal, seperti yang terjadi di makam Eyang Seloning di sebelah utara Parang Wedang, Parangtritis, Bantul. Ada peziarah yang mempunyai keinginan memiliki rumah karena ia dan keluarganya selama ini tidak mempunyai rumah yang layak. Dengan bertirakat dan berdoa disertai usaha gigih akhirnya peziarah itu berhasil memiliki rumah yang layak bagi keluarganya. Tirakat yang dilakukan sangat berat seperti pasa ngebleng (tidak makan minum sama sekali), pasa nyirik uyah (puasa tidak makan garam), dan lain-lain.

Masyarakat Jawa mempunyai anggapan bahwa keberadaan makam leluhur harus dihormati dengan alasan makam adalah tempat peristirahatan terakhir bagi manusia khususnya leluhur yang telah meninggal.

Leluhur itulah yang diyakini dapat memberikan kekuatan atau berkah tertentu. Oleh karena itu masyarakat mengaktualisasikan dengan perlakuan khusus terhadap makam leluhur. Hal ini akan semakin tampak nyata pada makam para tokoh yang dianggap mempunyai kekuatan lebih pada masa hidupnya. Kisah kehebatan dan luar biasanya para tokoh yang diziarahi memberikan motivasi para peziarah untuk bertirakat mengharapkan keberuntungan. Dengan demikian, mereka beranggapan makam dapat memberikan berkah bagi pengunjungnya atau peziarahnya yang melaksanakan tirakat dengan khusuk dan ikhlas.

Candi Sebagai Persemayaman Tokoh Mitos

Perilaku religius berkaitan dengan ziarah makam masih banyak lagi di berbagai makam keramat yang lain. Candi sebagai salah satu tempat keramat bagi pemeluk Hindu Budha merupakan tempat ziarah yang selalu dikunjungi pada hari-hari atau peristiwa tertentu. Candi tak ubahnya makam, merupakan tempat persemayaman raja-raja pada masa lampau.

Asal mula istilah candi berasal dari kata Candika, yaitu sebutan bagi Dewi Durga sesudah mati. Istilah candi juga terdapat di Pulau Sumatra, yaitu Candi Japara di Lampung dan Candi Bangsu di kompleks Muara Takus. Di Kalimantan Timur juga ada yaitu Candi Agung. Masyarakat Jawa Timur lebih senang menyebut dengan istilah cungkup, di Sumatra Utara biasa disebut biara.

Dalam paham Hindu, candi merupakan gambaran Gunung Mahameru, tempat para dewa-dewi, bidadara dan bidadari. Puncak gunung yang tinggi menggambarkan alam “kehutanan” yang penuh dengan aneka
satwa dan tumbuhan. Di kahyangan atau alam kadewan roh manusia akan menjelma kembali ke dalam wujud berbagai binatang, seimbang dengan perbuatannya semasa hidup di dunia yang penuh dengan godaan dan hawa nafsu. Hal ini disebut reinkarnasi (kehidupan kedua). Puncak Gunung Mahameru menggambarkan puncak kesucian. Karenanya candi pada umumnya dibangun di atas bukit atau tanah yang letaknya lebih tinggi daripada sekitarnya.

Candi Prambanan lebih dikenal dengan nama Candi Rara Jonggrang. Dalam prasasti 856 M disebutkan susunan dan konstruksi bangunan candi Roro Jonggrang dan raja yang membangunnya, yaitu Raja Rakai Pikatan dari dinasti Sanjaya. Dinasti Sanjaya mempunyai aliran kepercayaan agama Siwa atau Hindu. Dalam kepercayaan Hindu orang yang meninggal jenazahnya tidak dikubur tetapi dibakar.
Pada masa itu Candi Jonggrang digunakan untuk menyimpan abu jenazah Raja Kayuwangi. Hal ini sesuai dengan bentuk konstruksi candi yang berupa lingga dan yoni. Abu jenazah disimpan dalam yoni dan ditutup dengan lingga. Lingga dan yoni juga sebagai simbol laki laki dan wanita.
-lanjutan-

Makam Tokoh Mitos dan Upacara Adat

Berkaitan dengan ziarah ke makam tidak lepas dari peran tokoh mitos yang sering pula menjadi cikal bakal suatu desa atau daerah tertentu. Banyak upacara adat desa tertentu yang mengaitkan dengan tokoh tertentu yang dimakamkan di sekitar daerah yang bersangkutan. Contoh yang dapat disebutkan di sini misalnya upacara adat Ki Ageng Tunggul Wulung yang setiap tahun diadakan di Dusun Dukuhan, Desa Sendang Agung, Minggir, Sleman. Upacara adat ini selalu diadakan pada hari Jumat Pon dan pada intinya untuk memuliakan dan menghormati jasa-jasa Eyang Tunggul Wulung.

Siapakah Eyang Tunggul Wulung itu? Beliau adalah seorang tokoh yang sakti mandraguna, masih kerabat Kraton Majapahit. Konon pada waktu Majapahit kalah para kerabat dan sentana Majapahit bubar melarikan diri ke berbagai daerah menyelamatkan diri. Satu di antaranya adalah Ki Ageng Tunggul Wulung yang melarikan diri ke arah barat sampai di Dusun Beji atau Diro sebelah timur Sungai Progo.

Menurut cerita dari mulut ke mulut, perjalanan Ki Ageng Tunggul Wulung disertai isterinya yang bernama Raden Ayu Gadung Mlati dengan tujuh orang punggawa dan beberapa abdi terpercaya. Juga membawa pusaka kerajaan yang menurut perintah Raja Brawijaya harus diserahkan kepada calon raja pengganti yang berhak. Pusaka yang dibawa antara lain tombak Tunggul Wasesa, Keris Pulang Geni, Bendera Tunggul Wulung. Sampai di Dusun Dukuhan bertempat tinggal di sana, sampai akhirnya mereka semua mukswa (meninggal dan hilang bersama raganya). Tempat hilangnya lalu diberi tanda dengan batu nisan seperti umumnya makam, dan dianggap sebagai tempat keramat. Oleh karena itu banyak orang yang berziarah ke tempat itu. Makam Ki Ageng Tunggul Wulung berada di Dusun Dukuhan di lahan dekat tepi Sungai Progo.

Setiap pelaksanaan upacara disertai dengan pergelaran wayang kulit semalam suntuk dan tarian tayub. Sebab diyakini pada masa hidupnya Ki Ageng Tunggul Wulung senang dengan kedua jenis kesenian tersebut.

Konon pernah suatu saat ada seorang ledhek tayub yang ingin hidupnya lebih baik melakukan tirakat di makam Tunggul Wulung. Tanpa ada sebab yang jelas ledhek itu menghilang. Karena peristiwa itu masyarakat menganggap bahwa Eyang Tunggul Wulung memang senang dengan kesenian itu dan mengajak ledhek tayub tersebut.
Sampai sekarang Ki Ageng Tunggul Wulung diyakini oleh masyarakat Dusun Dukuhan sebagai cikal bakal mereka dan yang memberikan perlindungan terhadap warga dusun mereka. Terbukti dengan adanya ubarampe upacara adat yang berupa sesaji dan jodhang berisi hasil bumi yang pada saatnya diperebutkan. Masyarakat meyakini hasil bumi yang diperebutkan itu akan membawa berkah bagi mereka.

Hal serupa juga terjadi di daerah Gunung Kidul, tepatnya di Dusun Ngenep, Desa Dadapayu, Kecamatan Semanu, Gunung Kidul. Tokoh mitos yang mereka segani adalah Ki Mentokuwoso, seorang tokoh penyiar agama Islam di daerah itu.

Karena jasa-jasanya terhadap kraton pada waktu dulu beliau ditawari untuk minta hadiah yang diinginkan. Beliau hanya minta agar daerahnya dibebaskan dari kewajiban membayar upeti dan diperbolehkan mengadakan upacara Garebeg Maulud seperti di kraton, dan permintaan itu dikabulkan oleh raja. Sebagai tokoh yang sakti dan mempunyai ilmu yang tinggi, konon beliau juga menciptakan masjid tiban sebagai pelengkap Upacara Grebeg. Masjid itu sekaligus juga menjadi sarana dan tempat dakwah yang dilakukan oleh Ki Mentokuwoso.

Dalam kaitannya dengan asal mula Grebeg Ngenep, tokoh Ki Mentokuwoso menghubungkan dunia nyata dengan dunia gaib bagi masyarakat Ngenep. Bagi orang orang yang tinggal di Desa Dadapayu dan sekitarnya Upacara Grebeg Ngenep merupakan peristiwa yang selalu ditunggu tunggu untuk ikut berpartisipasi. Bahkan masyarakat secara antusias ikut berebut hasil pertanian (wulu wetu) yang dibentuk dalam wujud gunungan yang memang diperebutkan setelah acara doa bersama. Nama Ki Mentokuwoso dan saudara-saudaranya juga selalu dikenang bahkan makamnya sering diziarahi. Menurut Kadus Sembuku, makam Kyai Bayi, salah satu saudara Ki Mentokuwoso,sering dijadikan tempat nenepi orang-orang dari luar Ngenep. Biasanya orang yang nenepi atau ziarah mempunyai keinginan agar dapat naik pangkat.

Makam Sebagai Objek Wisata Spiritual

Sebagai tempat yang dianggap suci, makam juga merupakan tempat wisata yang pantas untuk dikunjungi. Makam raja-raja di Imogiri, misalnya, menjadi tujuan wisata yang selalu ramai dikunjungi. Selain sebagai
tempat yang disucikan, makam raja-raja di Imogiri memang sebagai kompleks makam yang cukup besar, dengan letaknya di atas bukit yang tinggi, dilengkapi dengan berbagai fasilitas bagi para pengunjung.

Demikian pula makam keluarga Pakualaman di Girigondo, hampir sama dengan makam raja-raja Imogiri. Demikian pula di Makam Sewu (Makam Panembahan Bodo), Makam Sunan Ampel, makam para Walisanga, dan sebagainya. Masih banyak pula makam tokoh-tokoh terkenal yang sekaligus sebagai objek wisata.

Kedatangan pengunjung dari berbagai daerah, apalagi yang jauh atau bahkan dari mancanegara, menimbulkan dampak pula bagi masyarakat sekitar. Selain pada hari hari tertentu yang berkaitan dengan ziarah ritual seperti malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon, pada hari-hari libur nasional bahkan lebih ramai oleh kunjungan para wisatawan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Pada waktu banyak pengunjung dipastikan akan banyak para pedagang tiban atau asongan yang menjajakan berbagai barang dagangan kepada pengunjung. Hal ini juga membawa perubahan ekonomi pada masyarakat sekitar makam yang menjadi objek wisata tersebut.

Penutup

Tak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan masyarakat Jawa ada saat di mana manusia akan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan makam atau ziarah ke makam. Makam dan segala aktivitas yang berkaitan dengan ziarah akan mengingatkan manusia bahwa setelah kehidupan akan ada kematian, sehingga manusia akan sadar untuk biasa melakukan perbuatan baik sebagai bekal dalam menghadapi alam arwah. Aktivitas ziarah oleh banyak fihak juga dimanfaatkan untuk kepentingankepentingan tertentu, misalnya mencari ketenangan, mencari rejeki, keberuntungan, dan sebagainya, sesuai dengan kharisma dan kisah keistimewaan tokoh yang dimakamkan.


Daftar Pustaka

Ariani, Christriyati. “Motivasi Peziarah di Makam Panembahan Bodo Desa Wijirejo,
Pandak, Kabupaten Bantul”, dalam Patra-Widya. Vol. 3 No. 1, Maret 2002.
Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.

Isdiharto, Muladi.“Achmad Syarkoni Sawise Diwenehi Manuk Klakon Bisa Mbangun
Omah”, Djaka Lodang. No. 20. Sabtu Pon, 14 Oktober 2000. Taun XXX.

Mumfangati, Titi. “Pengaruh Mitos Ki Mentotruno (Mentokuwoso) Bagi Masyarakat
Pendukungnya”, Patra-Widya. Vol. 3 No. 1, Maret 2002. Yogyakarta: Balai Kajian
Sejarah dan Nilai Tradisional.

Poerwadarminta, WJS., 1939. Baoesastra Djawa. Batavia: JB Wolters Uitgegevers
Maatschappij.

Rini W. “Candi Prambanan Makame Rakai Kayuwangi Pacaran ing Candi Prambanan,
bisa Pedhot”, Djaka Lodang. No. 10. Sabtu Pon 5 Agustus2000. Taun XXX.

Riyana, Es.“Ziarah Menyang Makam KRA Sosronagoro Kanggo Nggayuh Undhaking
Kalungguhan”, Djaka Lodang. No. 10. Sabtu Pon 5 Agustus 2000. Taun XXX.

Subroto, FX. “Upacara Adat Ki Ageng Tunggul Wulung”, Djaka Lodang. No. 15. Sabtu
Pon 9 September 2000. Taun XXX

Sudiro, Yusan Roes. “Makna Religius Upacara Adat di Kalangan Orang Jawa”, Bernas.
Sabtu 25 Januari 1986.

Sumarno, 2004. “Makam Sunan Ampel di Surabaya (Pengkajian Terhadap Persepsi dan
Motivasi Pengunjung)”, Patra-Widya. Vol. 5 No. 1, Maret 2004. Yogyakarta:
Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional
YESS !!! PERTAMAX...


ijin menyimak.... sip...

bentar lage Suro yo mas... siap nyekar eyang ki...
Absend lagi di thread kakang zeth semoga lebih berani lagi mengusung budaya tradisional jawa, jangan sungkan2 monggo di lanjutken...ane bukanya takut mengangkat tapi gak punya bahan
Quote:Original Posted By tathun
YESS !!! PERTAMAX...


ijin menyimak.... sip...

bentar lage Suro yo mas... siap nyekar eyang ki...


Iya,ik..bentar lagi suro..nyekar dimana,mas?

Quote:Original Posted By thoni_goal
Absend lagi di thread kakang zeth semoga lebih berani lagi mengusung budaya tradisional jawa, jangan sungkan2 monggo di lanjutken...ane bukanya takut mengangkat tapi gak punya bahan


Siap..makasih atas apresiasinya ,mas Thon.
Heheh..angkat tradisi dugderan,dong..masih ada gak ya..warak ngendog di jaman sekarang?

Quote:Original Posted By zeth
Iya,ik..bentar lagi suro..nyekar dimana,mas?



Siap..makasih atas apresiasinya ,mas Thon.
Heheh..angkat tradisi dugderan,dong..masih ada gak ya..warak ngendog di jaman sekarang?



tuh dia masalahnya mas....saya gak punya bahannya...ntar klo gak valid yah gmn gtu loh, trus klo ditanya ama sesepuh sini malah repot ntar..
masih kok mas...malah sempat di pindah di masjid agung tapi gak seru, trus balek lagi ke pasar johar, maksudnya di pindah sih biar gak macet, tapi wong sudah biasa di johar mau dipindah juga gak laku...
Quote:Original Posted By thoni_goal
tuh dia masalahnya mas....saya gak punya bahannya...ntar klo gak valid yah gmn gtu loh, trus klo ditanya ama sesepuh sini malah repot ntar..
masih kok mas...malah sempat di pindah di masjid agung tapi gak seru, trus balek lagi ke pasar johar, maksudnya di pindah sih biar gak macet, tapi wong sudah biasa di johar mau dipindah juga gak laku...


Lah..namanya juga pembahasan..di diskusikan oleh sesama pecinta budaya..lak malah gayeng.
hueheueh.

Weleh, di mesjid agung ya kejauhan,to..yo. Udah tradisinya di Pasar Johar, soal macetnya ..lha, namanya dugderan kan memang bikin macet.

Suk golek warak ngendog,ah.
Back to topic mas nggih...
klo ziarah Insya Aloh tradisi mingguan keluarga saya ke makam Al marhum bapak, tapi klo ke makam2 para waliulloh, seperti yang anda sebut di atas, ibu saya yang sering tiap ruwah, hampir di katakan rutin, dulu saya waktu masih legan juga seneng mas ziarah, yang belum saya jamah tuh daerah barat...Dari jateng , jatim sampe meduro alhamdulillah pernah nglaksanake meskipun gak tepung , untuk wali songo sendiri hanya sunan gunung jati yang belum, dulu klo ziarah tak niati mas 3 hari mulai dari semarang ,demak, kadilangu, kudus trus ke pati, giri kusumo sampai jatim mulai sunan bonang, s.drajat kemudian nyebrang ke madura pulangnya lewat SBY sunan ampel dan biasane mampir dolo ke jombor kediri dan sekitarnya, baru pulang lewat solo....
Quote:Original Posted By thoni_goal
Back to topic mas nggih...
klo ziarah Insya Aloh tradisi mingguan keluarga saya ke makam Al marhum bapak, tapi klo ke makam2 para waliulloh, seperti yang anda sebut di atas, ibu saya yang sering tiap ruwah, hampir di katakan rutin, dulu saya waktu masih legan juga seneng mas ziarah, yang belum saya jamah tuh daerah barat...Dari jateng , jatim sampe meduro alhamdulillah pernah nglaksanake meskipun gak tepung , untuk wali songo sendiri hanya sunan gunung jati yang belum, dulu klo ziarah tak niati mas 3 hari mulai dari semarang ,demak, kadilangu, kudus trus ke pati, giri kusumo sampai jatim mulai sunan bonang, s.drajat kemudian nyebrang ke madura pulangnya lewat SBY sunan ampel dan biasane mampir dolo ke jombor kediri dan sekitarnya, baru pulang lewat solo....


walah wes meh katam kui mas....pernah mampir ke makam sunan padangaran/sunan tembayat di bayat klaten belum mas? iku desaku
Quote:Original Posted By thoni_goal
Back to topic mas nggih...
klo ziarah Insya Aloh tradisi mingguan keluarga saya ke makam Al marhum bapak, tapi klo ke makam2 para waliulloh, seperti yang anda sebut di atas, ibu saya yang sering tiap ruwah, hampir di katakan rutin, dulu saya waktu masih legan juga seneng mas ziarah, yang belum saya jamah tuh daerah barat...Dari jateng , jatim sampe meduro alhamdulillah pernah nglaksanake meskipun gak tepung , untuk wali songo sendiri hanya sunan gunung jati yang belum, dulu klo ziarah tak niati mas 3 hari mulai dari semarang ,demak, kadilangu, kudus trus ke pati, giri kusumo sampai jatim mulai sunan bonang, s.drajat kemudian nyebrang ke madura pulangnya lewat SBY sunan ampel dan biasane mampir dolo ke jombor kediri dan sekitarnya, baru pulang lewat solo....


Wah..komplit plit.
Ziarah ke makam wali, saya malah hanya ke Sunan Gunung Jati, karena kebetulan saya pas ada di Cirebon ke rumah kakak (jaman dia di tugaskan disana).

Selebihnya hanya ke makam nenek moyang sendiri,mas.
Karena kemudian saya punya prinsip, ngapain saya ziarah ke makam2 dan mendoakan mereka2 yg bukan keluarga atau nenek moyang sendiri.

kalo saya malah pengen ke candi candi seluruh jawa

hehehee
Quote:Original Posted By prabuanom
kalo saya malah pengen ke candi candi seluruh jawa

hehehee


Wah..itu juga hobby saya,mas. Motretin candi2 di Jawa.

nyekar ning deso Ngawen, Muntilan mas.. tempat eyang.. hehehehe
buat kang TS

ma kasih atas pembabaran nya kang..

uhm...jadi pengen ziarah-ziarah lagi
Quote:Original Posted By zeth
Iya,ik..bentar lagi suro..nyekar dimana,mas?



Siap..makasih atas apresiasinya ,mas Thon.
Heheh..angkat tradisi dugderan,dong..masih ada gak ya..warak ngendog di jaman sekarang?



Mbah Zeth..
1 Suro-nya kapan ya? Apa rabu pon?
Bingung saya.., diutus pulkam ini suronan, tapi mau mastiin tanggal dulu.., soalnya kata Biyung saja rada beda kalender jawanya..

cmiiw, nuwun..
Quote:Original Posted By zeth
Wah..itu juga hobby saya,mas. Motretin candi2 di Jawa.




kalo saya sekalian menyempatkans emadi sejenak disana mengenang leluhur kita dahulu mas...
lanjut mas :
Quote:Original Posted By andrea7
Mbah Zeth..
1 Suro-nya kapan ya? Apa rabu pon?
Bingung saya.., diutus pulkam ini suronan, tapi mau mastiin tanggal dulu.., soalnya kata Biyung saja rada beda kalender jawanya..

cmiiw, nuwun..


tanggal berapa ya gan?1 suro bulan ini?bisa dong dishare, saya ga punya tanggalan neh
Quote:Original Posted By prabuanom
tanggal berapa ya gan?1 suro bulan ini?bisa dong dishare, saya ga punya tanggalan neh


nggih sami Mas.., mulane niki tanglet mbah Zeth.. wkwkwk..
Lha bukannya panjenengan pernah membahas semacam penanggalan Jawa di thread sebelah ya? Mbok bilih ngertos, kulo nyuwun diparingi pirso..

salim dulu :
Quote:Original Posted By andrea7
Mbah Zeth..
1 Suro-nya kapan ya? Apa rabu pon?
Bingung saya.., diutus pulkam ini suronan, tapi mau mastiin tanggal dulu.., soalnya kata Biyung saja rada beda kalender jawanya..

cmiiw, nuwun..


Quote:Original Posted By prabuanom
tanggal berapa ya gan?1 suro bulan ini?bisa dong dishare, saya ga punya tanggalan neh


Quote:Original Posted By andrea7
nggih sami Mas.., mulane niki tanglet mbah Zeth.. wkwkwk..
Lha bukannya panjenengan pernah membahas semacam penanggalan Jawa di thread sebelah ya? Mbok bilih ngertos, kulo nyuwun diparingi pirso..

salim dulu :


Menurut tanggalan nasional sih jatuh pada tanggal 7 Desember, Selasa Wage