Smile ----------------------------------------Budaya-suku-karo-----------------------------




Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
Spoiler for BAJU ADAT KARO:



Eksistensi Kerajaan Haru-Karo


Kerajaan Haru-Karo (Kerajaan Aru) mulai menjadi kerajaan besar di Sumatera, namun tidak diketahui secara pasti kapan berdirinya. Namun demikian, Brahma Putra, dalam bukunya "Karo dari Zaman ke Zaman" mengatakan bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang rajanya bernama "Pa Lagan". Menilik dari nama itu merupakan bahasa yang berasal dari suku Karo. Mungkinkah pada masa itu kerajaan haru sudah ada?, hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.(Darman Prinst, SH :2004)

Kerajaan Haru-Karo diketahui tumbuh dan berkembang bersamaan waktunya dengan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Johor, Malaka dan Aceh. Terbukti karena kerajaan Haru pernah berperang dengan kerajaan-kerajaan tersebut.

Kerajaan Haru pada masa keemasannya, pengaruhnya tersebar mulai dari Aceh Besar hingga ke sungai Siak di Riau.


Terdapat suku Karo di Aceh Besar yang dalam logat Aceh disebut Karee. Keberadaan suku Haru-Karo di Aceh ini diakui oleh H. Muhammad Said dalam bukunya "Aceh Sepanjang Abad", (1981). Ia menekankan bahwa penduduk asli Aceh Besar adalah keturunan mirip Batak. Namun tidak dijelaskan keturunan dari batak mana penduduk asli tersebut. Sementara itu, H. M. Zainuddin dalam bukunya "Tarikh Aceh dan Nusantara" (1961) dikatakan bahwa di lembah Aceh Besar disamping Kerajaan Islam ada kerajaan Karo. Selanjunya disebutkan bahwa penduduk asli atau bumi putera dari Ke-20 Mukim bercampur dengan suku Karo yang dalam bahasa Aceh disebut Karee. Brahma Putra, dalam bukunya "Karo Sepanjang Zaman" mengatakan bahwa raja terakhir suku Karo di Aceh Besar adalah Manang Ginting Suka.

Kelompok karo di Aceh kemudian berubah nama menjadi "Kaum Lhee Reutoih" atau kaum tiga ratus. Penamaan demikian terkait dengan peristiwa perselisihan antara suku Karo dengan suku Hindu di sana yang disepakati diselesaikan dengan perang tanding. Sebanyak tiga ratus (300) orang suku Karo akan berkelahi dengan empat ratus (400) orang suku Hindu di suatu lapangan terbuka. Perang tanding ini dapat didamaikan dan sejak saat itu suku Karo disebut sebagai kaum tiga ratus dan kaum Hindu disebut kaum empat ratus.

Dikemudian hari terjadi pencampuran antar suku Karo dengan suku Hindu dan mereka disebut sebagai kaum Jasandang. Golongan lainnya adalah Kaum Imam Pewet dan Kaum Tok Batee yang merupakan campuran suku pendatang, seperti: Kaum Hindu, Arab, Persia, dan lainnya.

Wilayah Pengaruh Suku Karo

Sering terjadi kekeliruan dalam percakapan sehari-hari di masyarakat bahwa Taneh Karo diidentikkan dengan Kabupaten Karo. Padahal, Taneh Karo jauh lebih luas daripada Kabupaten Karo karena meliputi:
1. Kabupaten Tanah Karo
Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi Tanah Karo. Kota yang terkenal dengan di wilayah ini adalah Brastagi dan Kabanjahe. Brastagi merupakan salah satu kota turis di Sumatera Utara yang sangat terkenal dengan produk pertaniannya yang unggul. Salah satunya adalah buah jeruk dan produk minuman yang terkenal yaitu sebagai penghasil Markisa Jus yang terkenal hingga seluruh nusantara. Mayoritas suku Karo bermukim di daerah pegunungan ini, tepatnya di daerah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang sering disebut sebagai atau "Taneh Karo Simalem". Banyak keunikan-keunikan terdapat pada masyarakat Karo, baik dari geografis, alam, maupun bentuk masakan. Masakan Karo, salah satu yang unik adalah disebut trites.Trites ini disajikan pada saat pesta budaya, seperti pesta pernikahan, pesta memasuki rumah baru, dan pesta tahunan yang dinamakan -kerja tahun-. Trites ini bahannya diambil dari isilambung sapi/kerbau, yang belum dikeluarkan sebagai kotoran.Bahan inilah yang diolah sedemikian rupa dicampur dengan bahan rempah-rempah sehingga aroma tajam pada isi lambung berkurang dan dapat dinikmati. Masakan ini merupakan makanan favorit yang suguhan pertama diberikan kepada yang dihormati.

2 Kota Medan
Pendiri kota Medan adalah seorang putra Karo yaitu Guru Patimpus Sembiring Pelawi.

3 Kota Binjai
Kota Binjai merupakan daerah yang memiliki interaksi paling kuat dengan kota Medan disebabkan oleh jaraknya yang relatif sangat dekat dari kota Medan sebagai Ibu kota provinsi Sumatera Utara.

4 Kabupaten Dairi
Wilayah kabupaten Dairi pada umumnya sangat subur dengan kemakmuran masyarakatnya melalui perkebunan kopinya yang sangat berkualitas. Sebagian kabupaten Dairi yang merupakan Taneh Karo:

* Kecamatan Taneh Pinem
* Kecamatan Tiga Lingga
* Kecamatan Gunung Sitember

5 Kabupaten Aceh Tenggara

Taneh Karo di kabupaten Aceh Tenggara meliputi:

* Kecamatan Lau Sigala-gala (Desa Lau Deski, Lau Perbunga, Lau Kinga)
* Kecamatan Simpang Simadam

Quote:[CENTER]INDEX
>>>>SEJARAH DAN SEBARAN WILAYAH<<<<

>>>IKATAN KELUARGA DAN SENI TULISAN<<<

>>>>NAMA MERGA<<<<

>>>>ALAT MUSIK<<<<

>>>SEKILAS INFO<<<

>ASAL MULA GUNDALA GUNDALA(GURDA GURDI)<

>PROFESI ORANG KARO JAMAN DULU<

>Sistem Penanggalan Suku Karo<

>Silat Karo (ndikkar)<

>Gelar Rurun Kalak Karo<

>>>>>>Obat Tradisional Karo ( Tambar )<<<<<

>Tari Tradisional Karo <

>Prosesi kremasi di karo jaman dulu<


>d'tradisi lagu karo<

>kamus-karo-online]<


>radio karo (cara pake winamp gan saat perintah open with dan save langsung pilih open with winamp aja gan)<

>"radio karo cara 2 berkunjung ke website nya ada playernya di situ"<








Quote:info tambahan video... dsb...
1 video arsitektur karo......................................page 3
2 gambar alat musik tradisional dan video ndikkar..page 3
3 objek wisata susuk .......................................page 5
4 objek wisata sipiso-piso.................................page 6


Rakut Sitelu
Hal lain yang penting dalam susunan masyarakat Karo adalah rakut sitelu atau daliken sitelu (artinya secara metaforik adalah tungku nan tiga), yang berarti ikatan yang tiga. Arti rakut sitelu tersebut adalah sangkep nggeluh (kelengkapan hidup) bagi orang Karo. Kelengkapan yang dimaksud adalah lembaga sosial yang terdapat dalam masyarakat Karo yang terdiri dari tiga kelompok, yaitu:

1. kalimbubu
2. anak beru
3. senina

Kalimbubu dapat didefinisikan sebagai keluarga pemberi isteri, anak beru keluarga yang mengambil atau menerima isteri, dan senina keluarga satu galur keturunan merga atau keluarga inti.

Tutur Siwaluh
Tutur siwaluh adalah konsep kekerabatan masyarakat Karo, yang berhubungan dengan penuturan, yaitu terdiri dari delapan golongan:

1. puang kalimbubu
2. kalimbubu
3. senina
4. sembuyak
5. senina sipemeren
6. senina sepengalon/sedalanen
7. anak beru
8. anak beru menteri

Dalam pelaksanaan upacara adat, tutur siwaluh ini masih dapat dibagi lagi dalam kelompok-kelompok lebih khusus sesuai dengan keperluan dalam pelaksanaan upacara yang dilaksanakan, yaitu sebagai berikut:

1. Puang kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu seseorang
2. Kalimbubu adalah kelompok pemberi isteri kepada keluarga tertentu, kalimbubu ini dapat dikelompokkan lagi menjadi:
* Kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua, yaitu kelompok pemberiisteri kepada kelompok tertentu yang dianggap sebagai kelompok pemberi isteri adal dari keluarga tersebut. Misalnya A bermerga Sembiring bere-bere Tarigan, maka Tarigan adalah kalimbubu Si A. Jika A mempunyai anak, maka merga Tarigan adalah kalimbubu bena-bena/kalimbubu tua dari anak A. Jadi kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua adalah kalimbubu dari ayah kandung.
* Kalimbubu simada dareh adalah berasal dari ibu kandung seseorang. Kalimbubu simada dareh adalah saudara laki-laki dari ibu kandung seseorang. Disebut kalimbubu simada dareh karena merekalah yang dianggap mempunyai darah, karena dianggap darah merekalah yang terdapat dalam diri keponakannya.
* Kalimbubu iperdemui, berarti kalimbubu yang dijadikan kalimbubu oleh karena seseorang mengawini putri dari satu keluarga untuk pertama kalinya. Jadi seseorang itu menjadi kalimbubu adalah berdasarkan perkimpoian.
3. Senina, yaitu mereka yang bersadara karena mempunyai merga dan submerga yang sama.
4. Sembuyak, secara harfiah se artinya satu dan mbuyak artinya kandungan, jadi artinya adalah orang-orang yang lahir dari kandungan atau rahim yang sama. Namun dalam masyarakat Karo istilah ini digunakan untuk senina yang berlainan submerga juga, dalam bahasa Karo disebut sindauh ipedeher (yang jauh menjadi dekat).
5. Sipemeren, yaitu orang-orang yang ibu-ibu mereka bersaudara kandung. Bagian ini didukung lagi oleh pihak siparibanen, yaitu orang-orang yang mempunyai isteri yang bersaudara.
6. Senina Sepengalon atau Sendalanen, yaitu orang yang bersaudara karena mempunyai anak-anak yang memperisteri dari beru yang sama.
7. Anak beru, berarti pihak yang mengambil isteri dari suatu keluarga tertentu untuk diperistri. Anak beru dapat terjadi secara langsung karena mengawini wanita keluarga tertentu, dan secara tidak langsung melalui perantaraan orang lain, seperti anak beru menteri dan anak beru singikuri.Anak beru ini terdiri lagi atas:
* anak beru tua, adalah anak beru dalam satu keluarga turun temurun. Paling tidak tiga generasi telah mengambil isteri dari keluarga tertentu (kalimbubunya). Anak beru tua adalah anak beru yang utama, karena tanpa kehadirannya dalam suatu upacara adat yang dibuat oleh pihak kalimbubunya, maka upacara tersebut tidak dapat dimulai. Anak beru tua juga berfungsi sebagai anak beru singerana (sebagai pembicara), karena fungsinya dalam upacara adat sebagai pembicara dan pemimpin keluarga dalam keluarga kalimbubu dalam konteks upacara adat.
* Anak beru cekoh baka tutup, yaitu anak beru yang secara langsung dapat mengetahui segala sesuatu di dalam keluarga kalimbubunya. Anak beru sekoh baka tutup adalah anak saudara perempuan dari seorang kepala keluarga. Misalnya Si A seorang laki-laki, mempunyai saudara perempuan Si B, maka anak Si B adalah anak beru cekoh baka tutup dari Si A. Dalam panggilan sehari-hari anak beru disebut juga bere-bere mama.
8. Anak beru menteri, yaitu anak berunya anak beru. Asal kata menteri adalah dari kata minteri yang berarti meluruskan. Jadi anak beru minteri mempunyai pengertian yang lebih luas sebagai petunjuk, mengawasi serta membantu tugas kalimbubunya dalam suatu kewajiban dalam upacara adat. Ada pula yang disebut anak beru singkuri, yaitu anak berunya anak beru menteri. Anak beru ini mempersiapkan hidangan dalam konteks upacara adat.

Aksara

Aksara Karo ini adalah aksara kuno yang dipergunakan oleh masyarakat Karo, akan tetapi pada saat ini penggunaannya sangat terbatas sekali bahkan hampir tidak pernah digunakan lagi.guna melengkapi cara penulisan perlu dilengkapi dengan anak huruf seperti o= ketolongen, x= sikurun, ketelengen dan pemantek
Tari tradisional

Suku Karo mempunyai beberapa tari tradisional, di antaranya:

* Piso Surit
* Lima Serangkai
* Terang Bulan

Kegiatan Budaya

* Merdang merdem = "kerja tahun" yang disertai "Gendang guro-guro aron".
* Mahpah = "kerja tahun" yang disertai "Gendang guro-guro aron".
* Mengket Rumah Mbaru - Pesta memasuki rumah (adat - ibadat) baru.
* Mbesur-mbesuri - "Ngerires" - membuat lemang waktu padi mulai bunting.
* Ndilo Udan - memanggil hujan.
* Rebu-rebu - mirip pesta "kerja tahun".
* Ngumbung - hari jeda "aron" (kumpulan pekerja di desa).
* Erpangir Ku Lau - penyucian diri (untuk membuang sial).
* Raleng Tendi - "Ngicik Tendi" = memanggil jiwa setelah seseorang kurang tenang karena terkejut secara suatu kejadian yang tidak disangka-sangka.
* Motong Rambai - Pesta kecil keluarga - handai taulan untuk memanggkas habis rambut bayi (balita) yang terjalin dan tidak rapi.
* Ngaloken Cincin Upah Tendi - Upacara keluarga pemberian cincin permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere atau dari Bibi ke Permain).
* Ngaloken Rawit - Upacara keluarga pemberian pisau (tumbuk lada) atau belati atau celurit kecil yang berupa permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere) - keponakan laki-laki.
boleh mampir ya gan
kebetulan nenek saya orang Karo dan waktu puasa kemaren sempet kesana
trus ada yang pengen saya tanya nich gan
pertama tentang kuburan atau makam, sepertinya disana tidak aneh ya makam terletak di ladang sendiri atau di rumah/tanah sendiri,bisa dijelaskan kenapa?
kedua tentang marga, klo ga salah marga nenek saya Beru Lingga, itu termasuk sub marga ya mana ya?
itu aja dulu deh
biasanya sih agar mudah dikunjungi (di jiarahin)
klo lingga itu termasuk sub marga karo-karo gan atau nama lainyya itu sinulingga
berikut ini pembagian merga di suku karo dan tempat mayoritas suku itu tinggal

Marga
Suku Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan nama merga silima, tutur siwaluh, dan rakut sitelu. Masyarakat Karo mempunyai sistem marga (klan). Marga atau dalam bahasa Karo disebut merga tersebut disebut untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan yang disebut beru. Merga atau beru ini disandang di belakang nama seseorang. Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok, yang disebut dengan merga silima, yang berarti marga yang lima. Kelima merga tersebut adalah:

1. Karo-karo
2. Tarigan
3. Ginting
4. Sembiring
5. Perangin-angin

Kelima merga ini masih mempunyai submerga masing-masing. Setiap orang Karo mempunyai salah satu dari merga tersebut. Merga diperoleh secara otomatis dari ayah. Merga ayah juga merga anak. Orang yang mempunyai merga atau beru yang sama, dianggap bersaudara dalam arti mempunyai nenek moyang yang sama. Kalau laki-laki bermarga sama, maka mereka disebut (b)ersenina, demikian juga antara perempuan dengan perempuan yang mempunyai beru sama, maka mereka disebut juga (b)ersenina. Namun antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bermerga sama, mereka disebut erturang, sehingga dilarang melakukan perkimpoian, kecuali pada merga Sembiring dan Peranginangin ada yang dapat menikah diantara mereka.

Merga Karo-karo dan cabang-cabangnya
Karo-karo Sinulingga di Lingga, Bintang Meriah, dan Gunung Merlawan.
Karo-karo Surbakti di Surbakti dan Gajah.
Karo-karo Kacaribu di Kutagerat dan Kerapat
Karo-karo Sinukaban di Pernantin, Kabantua, Bintang Meriah, Buluh Naman, dan L. Lingga.
Karo-karo Barus di Barus Jahe, Pitu Kuta.
Karo-karo Simbulan di Bulanjulu dan Bulanjahe.
Karo-karo Jung di Kutanangka, Kalang, Perbesi, dan Batukarang.
Karo-karo Purba di Kabanjahe, Berastagi, dan Lau Cih (Deli Hulu).
Karo-karo Ketaren di Raya, Ketaren Sibolangit, dan Pertampilen.
Karo-karo Gurusinga di Gurusinga dan Rajaberneh.
Karo-karo Kaban di Kaban dan Sumbul.
Karo-karo Sinuhaji di Ajisiempat.
Karo-karo Sekali di Seberaya.
Karo-karo Kemit di Kuta Bale.
Karo-karo Bukit di Bukit dan Buluh Awar.
Karo-karo Sinuraya di Bunuraya, Singgamanik, dan Kandibata.
Karo-karo Samura di Samura.
Karo-karo Sitepu di Naman dan Sukanalu

Merga Ginting dan cabang-cabangnya
Ginting Munte di Kutabangun, Ajinembah, Kubu, Dokan, Tanggung, Munte, Rajatengah, dan Bulan Jahe.
Ginting Babo di Gurubenua, Munte, dan Kutagerat.
Ginting Sugihen di Sugihen, Juhar, dan Kutagunung.
Ginting Gurupatih di Buluh Naman, Sarimunte, Naga, dan Lau Kapur.
Ginting Ajartambun di Rajamerahe.
Ginting Capah di Bukit dan Kalang.
Ginting Beras di Laupetundal.
Ginting Garamata di (Simarmata) Raja Tengah, Tengging.
Ginting Jadibata di Juhar.
Ginting Suka Ajartambun di Rajamerahe.
Ginting Manik di Tengging dan Lingga.
Ginting Sinusinga di Singa.
Ginting Jawak di Cingkes (?)
Ginting Seragih di Lingga Julu.
Ginting Tumangger di Kidupen dan Kemkem.
Ginting Pase di …. (lenyap?)

Merga Tarigan dan Cabang-cabangnya
Tarigan Sibero di Juhar, Kutaraja, Keriahen, Munte, Tanjung Beringin, Selakar, dan Lingga.
Tarigan Tambak di Kebayaken dan Sukanalu.
Tarigan Silangit di Gunung Meriah.
Tarigan Tua di Pergendangen.
Tarigan Tegur di Suka.
Tarigan Gersang di Nagasaribu dan Berastepu.
Tarigan Gerneng di Cingkes (Simalungun).
Tarigan Gana-gana di Batukarang.
Tarigan Jampang di Pergendangen.
Tarigan Tambun di Rakutbesi, Binangara, Sinaman dll.
Tarigan Bondong di Lingga.
Tarigan Pekan (Cabang dari Tambak) di Sukanalu
Tarigan Purba di Purba (Simalungun)

Merga Sembiring dan Cabang-cabangnya
I. Sembiring Siman biang (Tidak biasa kimpoi campur darah dengan cabang Sembiring lainnya, artinya: tidak diperbolehkan perkimpoian dengan sesama merga Sembiring).
Sembiring Kembaren di Samperaya dan hampir di seluruh urung Liang Melas.
Sembiring Sinulaki di Silalahi.
Sembiring Keloko di Pergendangen.
Sembiring Sinupayung di Juma Raja dan Negeri
II. Sembiring Simantangken biang (ada dilakukan perkimpoian antara cabang merga Sembiring)
Sembiring Colia di Kubucolia dan Seberaya.
Sembiring Pandia di Seberaya, Payung, dan Beganding.
Sembiring Gurukinayan di Gurukinayan.
Sembiring Berahmana di Kabanjahe, Perbesi, dan Limang.
Sembiring Meliala di Sarinembah, Munte Rajaberneh, Kedupen, Kabanjahe, Naman, Berastepu, dan Biaknampe.
Sembiring Pande Bayang di Buluh Naman dan Gurusinga.
Sembiring Tekang di Kaban.
Sembiring Muham di Susuk dan Perbesi.
Sembiring Depari di Seberaya, Perbesi, dan Munte.
Sembiring Pelawi di Ajijahe, Perbaji, Kandibata, dan Hamparan Perak (Deli).
Sembiring Busuk di Kidupen dan Lau Perimbon.
Sembiring Sinukapar di Pertumbuken, Sidikalang(?) Sarintono.
Sembiring Keling di Juhar dan Rajatengah.
Sembiring Bunuh Aji di Sukatepu, Kutatonggal, dan Beganding
Sembiring Maha tiga binanga

Merga Peranginangin dan cabang-cabangnya
Peranginangin Namohaji di Kutabuluh.
Peranginangin Sukatendel di Sukatendel.
Peranginangin Mano di Pergendangen.
Peranginangin Sebayang di Perbesi, Kuala, gunung dan Kuta Gerat.
Peranginangin Pencawan di Perbesi.
Peranginangin Sinurat di Kerenda.
Peranginangin Perbesi di Seberaya.
Peranginangin Ulunjandi di Juhar.
Peranginangin Penggarus di Susuk.
Peranginangin Pinem di Serintono (Sidikalang).
Peranginangin Uwir di Singgamanik.
Peranginangin Laksa di Juhar.
Peranginangin Singarimbun di Mardinding , Kutambaru dan Temburun.
Peranginangin Keliat di Mardinding.
Peranginangin Kacinambun di Kacinambun.
Peranginangin Bangun di Batukarang.
Peranginangin Tanjung di Penampen dan Berastepu.
Peranginangin Benjerang di Batukarang
pandia absen dulu...
Quote:saya bersedia memberikan kontribusi berupa good reputation untuk kawan-kawan kaskuser yang turut aktif berdiskusi dan menambahkan info budaya suku karo di thread ini.




Quote:
note untuk posting
-untuk image/gambar mohon di spoiler
-untuk isi tulisan mohon diberikan spasi antar paragraf.
-untuk Judul post agar lebih menarik dapat di Bold atau berwarna dengan size sedikit lebih besar.

semua demi kenyamanan kaskuser menyimak info budaya suku karo di thread ini..
bujur ras mejuah-juah.



salam kenal.
tigan bre karo
Quote:Original Posted By mongkipiggy
masih ada thread yg lama dibuat impal ta turang..kam atur lah biar rapi..
batak karo inside

salam kenal.
tigan bre karo


siap gan...
melanjutkan perjuangan

alat musik suku karo

suku karo mempunya alat alat musik yang terdiri dari
1 Sarune, alat musik ini adalah sebagai pembawa melodi dalam ensambel gendang lima sidalanen atau ensambel gendang sarune. Alat musik ini dapat diklasifikasikan ke dalam golongan aerofon reed ganda berbentuk konis. Sarune ini terbuat dari bahan kayu mahoni (Swetenia mahagoni) atau yang sejenisnya. Sarune ini secara taksonomis (struktrual) terdiri dari:

* Anak-anak sarune, terbuat dari daun kelapa dan embulu-embulu (pipa kecil) diameter 1 mm dan panjang 3-4 mm. Daun kelapa dipilih yang sudah tua dan kering. Daun dibentuk triangel sebanyak dua lembar. Salah satu sudut dari kedua lembaran daun yang dibentuk diikatkan pada embulu-embulu, dengan posisi kedua sudut daun tersebut.
* tongkeh sarune, bagian ini berguna untuk menghubungkan anak-anak sarune. Biasanya dibuat dari timah, panjangnya sama dengan jarak antara satu lobang nada dengan nada yang lain pada lobang sarune,
* ampang-ampang sarune, bagian ini ditempatkan pada embulu-embulu sarune yang berguna untuk penampung bibir pada saat meniup sarune. Bentuknya melingkar dnegan diameter 3 cm dan ketebalan 2 mm. Dibuat dari bahan tulang (hewan), tempurung, atau perak,
* batang sarune, bagian ini adalah tempat lobang nada sarune, bentuknya konis baik bagian dalam maupun luar. Sarune mempunyai delapan buah lobang nada. Tujuh di sisi atas dan satu di belakang. Jarak lobang 1 ke lobang adalah 4,6 cm dan jarak lobang VII ke ujung sarune 5,6 cm. Jarak antara tiap-tiap lobang nada adalah 2 cm, dan jarak lubang bagian belakang ke lempengan 5,6 cm.
* gundal sarune, letaknya pada bagian bawah batang sarune. Gundal sarune terbuat dari bahan yang sama dengan batang sarune. Bentuk bagian dalamnya barel, sedangkan bentuk bagian luarnya konis. ukuran panjang gundal sarune tergantung panjang batang sarune yaitu 5/9.

2 Gendang, alat musik gendang adalah berfungsi membawa ritme variasi. Alat ini dapat diklasifikasi ke dalam kelompok membranofon konis ganda yang dipukul dengan dua stik. Dalam budaya musik Karo gendang ini terdiri dari dua jenis yaitu gendang singanaki (anak) dan gendang singindung (induk). Gendang singanaki di tambahi bagian gerantung. Bagian-bagian gendang anak dan induk adalah sama, yang berbeda adalah ukuran dan fungsi estetis akustiknya. Bagian-bagian gendang itu adalah:

* Tutup gendang, yaitu bagian ujung konis atas. Tutup gendang ini terbuat dari kulit napuh (kancil). Kulit napuh inidipasang ke bingkai bibir penampang endang. Bingkainya terbuat dari bambu,
* Tali gendang lazim disebut dengan tarik gendang terbuat dari kayu nangka(Artocarpus integra sp). Salah satu sampel contoh ukuran untuk bagian atas gendang anak adalah 5 cm, diameter bagian bawah 4 cm dan keseluruhan 44 cm. ukuran gendang kecil yang dilekatkan pada gendang anak, diameter bagian atas 4 cm, diameter bagian bawah 3cm, dan panjang keseluruhan 11,5 cm. Alat pukulnya (stik) terbuat dari kayu jeruk purut. Alat pukul gendang keduanya sama besar dan bentuknya. Panjangnya 14cm dan penampang dan penampung relatif 2 cm. Untuk gendang indung, diameter bagian atas 5,5 cm, bagian bawah 4,5 cm, panjang keseluruhan 45,5 cm. Bahan alat pukulnya juga terbuat dari kayu jerukpurut. Ukuran alat pukul ini berbeda yaitu yang kanan penampangnya lebih besardari yang kiri, yaitu 2 cm untuk kanan dan 0,6 cm untuk kiri. Panjang keduanyasama 14 cm.

3. Gung dan penganak, yaitu pengatur ritme musik tradisional Karo. Gung ini diklasifikasikan ke dalam kategori idiofon yang terbuat dari logam yang cara memainkannya digantung. Gung terbuat dari tembaga, berbentuk bundar mempunyai pencu. Gung dalam musik tradisional Karo terbagi dua yaitu gung penganak dan gung. Salah satu contoh ukuran gung penganak diameternya 15,6 cm dengan pencu 4 cm dan ketebalan sisi lingkarannya 2,8 cm. Pemukulnya terbuat dari kayu dan dilapis dengan karet. Gung mempunyai diameter 65 cm dengan pencu berdiameter 15cm dan tebal sisi lingkarannya 10 cm. Pemukulnya terbuat dari kayu dan dilapisi karet.

Alat musik tradisional suku Karo adalah Gendang Karo. Biasanya disebut Gendang “Lima Sedalinen” yang artinya seperangkat gendang tari yang terdiri dari lima unsur. Unsur disini bisa kita lihat dari beberapa alat musik tradisional Karo seperti Kulcapi, Balobat, Surdam, Keteng-keteng, Murhab, Serune, Gendang si ngindungi, Gendang si nganaki, Penganak dan Gung. Alat tradisional ini sering digunakan untuk menari, menyanyi dan berbagai ritus tradisi. Jadi Gendang Karo sudah lengkap (lima sedalinen) jika sudah ada Serune, Gendang si ngindungi, Gendang si nganaki, Penganak dan Gung dalam mengiringi sebuah upacara atau pesta. Tapi banyak tertulis dalam artikel di situs-situs tentang kesenian gendang karo sekarang perkembangan musik Karo sudah terkontaminasi dengan alat modern semacam keyboard. Era masuknya musik keyboard ke dalam kesenian Karo sekitar tahun 1990an. Musik keyboard sudah mendominasi kesenian Karo, sehingga timbul kesimpulan jika tidak ada Keyboard maka gendang Karo itu tidak ramai


selain itu ada juga alat musik yang disebut kulcapi yang merupakan alat musik petik
^
mantab..dalam proses donlot..
ikuten ateku sada ngomnen yahh...
yg tinggal di medan dan sekitarnya.kasih pencerahan kita2 ini yg besar dijakarta tentang suku karo dong.

mw coba kasih bahan nih.ada yg tau makna gambar cicak/kadal dan kepala kerbau dirumah adat karo..
bujur, krn kam udah memperkenalkan suku karo sama kaskuser !
kebetulan ane kalak karo juga ...
aku merga ginting manik
ATAS ANE MAHO!!:maho:maho:maho:maho
walaupun ane bukan dari suku karo-karo..
tapi info ini bermanfaat untuk mengetahui suku-suku tetangga di Indonesia tercinta..


punya temen bermarga purba, katanya sih orang karo
dari medan ya gan?
Quote:Original Posted By rmpaw_adi
dari medan ya gan?


kabanjahe gan
Quote:Original Posted By mongkipiggy
yg tinggal di medan dan sekitarnya.kasih pencerahan kita2 ini yg besar dijakarta tentang suku karo dong.

mw coba kasih bahan nih.ada yg tau makna gambar cicak/kadal dan kepala kerbau dirumah adat karo..


klo cicak itu kaya nya anti racun gan ama sihir