Fakta terbunuhnya ita martadinata haryono

di bawah ini adalah copy percakapan dari dr.kissnade dan jasmine chew tentang terbunuhnya seorang aktifis yang tewas dalam pembunuhan pada tahun 1998

ita martadinata haryono :

Spoiler for pic:


Spoiler for source:


From: "Kissnade ." <kissnade@hotmail.com>
To: apakabar@radix.net
Subject: Jasmine Chew
Date: Sat, 01 Dec 2001 13:35:03 +0000
Saya mau mengomentari sedikit tulisan sdri Jasmine Chew.

JC
Tulisan Dr. Kissnade yang mengejek etnis minoritas Cina korban pemerkosaan
Mei 1998 sangat tidak pantas dan patut disesalkan. Saran beliau agar etnis
Cina Indonesia mengikuti jejak para teroris menegakkan "keadilan" jelas
hanya satu lelucon murahan yang bertujuan mengolok-olok korban pemerkosaan
massal Mei 1998 khususnya dan etnis Cina umumnya. Intinya beliau hanya
menginginkan agar warga negara Indonesia khususnya etnis Cina tutup mulut,
melupakan peristiwa tersebut.
Kissnade:
Sikap saya terhadap kasus perkosaan dan kerusuhan 98 terwakili oleh kedua
tulisan saya “Komentar seputar peristiwa 98” dan “Jatuh Terkulai”. Saya
nggak melayani pelintiran berita. Juga nggak takut pelintiran berita
membelokkan message yang yang saya sampaikan. Karena saya percaya sidang
pembaca tentu mempunyai inteligensi yang cukup untuk mempunyai penilaian
sendiri dalam membaca artikel.

JC
Tidak jelas apa yang mendorong Kissnade membuat tulisan tersebut. Tetapi
saya menduga kemungkinan besar, sama seperti Usman, beliau ini merasa
gerah dan terganggu karena ada yang mengungkit-ngungkit peristiwa Mei 98
kembali seolah-olah beliau ini terlibat secara langsung maupun tidak
langsung dengan kejahatan tersebut. Ini mengingatkan saya atas usaha kaum
ultra nasionalis di Jepang yang mencoba merevisi buku pelajaran sejarah di
sekolah yang bertujuan mengelabui dan menutup-nutupi kejahatan Jepang masa
lalu. Atau juga kaum Neo Nazi yang mengatakan bahwa peristiwa holocaust di
mana 6 juta orang Yahudi di Eropa dibantai dan dikamar-gaskan, tidak
pernah terjadi?

Kissnade:
Sekali lagi saya terwakili oleh kedua tulisan saya. Sudah saya baca lagi,
keduanya mencakup banyak sisi yang ingin saya sampaikan. Saya juga tengah
memikirkan sebuah sisi lain kerusuhan 98 tersebut.
Yang saya coba berikan adalah alternatif lain dari cara meng-cure kepedihan.
Do something!. Ngedumel, memaki-maki, apalagi membawa dendam sepanjang
hidup bukanlah pilihan yang bijaksana. Life is too short (and too beautiful)
untuk dibiarkan terus digelendoti beban semacam itu.

JC
Peristiwa kejahatan negara Mei 1998, terutama pemerkosaan massal tersebut,
yang sampai saat ini tidak pernah diusut tuntas memang sangat patut
disesali. Para korban, para sukarelawan, dan saksi mata diancam dan
diteror. Yang tidak takut, lalu dibunuh dengan keji seperti apa yang
terjadi dengan Almarhum Ita Martadinata Haryono.
Dibawah ini adalah berita atas penyelidikan oleh PBB yang mudah-mudahan
membantu membuka mata hati mereka yang melihat tetapi pura-pura tidak
melihat: ---------

Kissnade.
Untuk memberikan berita yang berimbang, saya lampirkan artikel yang ditulis
Suara Pembaruan. Khususnya membantu anda memahami bahwa sebuah berita tak
bisa diarahkan menjadi “one single case yang hitam putih”. Bahwa
"terbunuhnya mendiang Ita berkaitan dengan kerusuhan Mei 98". Anda percaya
atau tidak dengan apa yang dikemukakan oleh pakar forensik Dr Munim Idries,
itu soal lain. Yang penting adalah menyadari bahwa pendapat itu ada. Kalau
sikap ini bisa anda hayati, mudah mudahan anda bisa jadi reporter yang
handal. Sebenarnya anda tinggal selangkah lagi.

(bersambung)
halo gan
wah faktanya terungkap ya gan
ijin nyimak dulu gan...
kayaknya serius nih....
ita itu sapa ya gan
Quote:Original Posted By Marbeha
halo gan
wah faktanya terungkap ya gan



waw..
siapanya marbela nie
Kok bingung bacanya, ada link sumbernya gak, biar bisa ngikutin storynya
Dr Kissnade

SUARA PEMBARUAN DAILY
Human Rights Watch:
Pemerintah Didesak Lebih Melindungi Tim Relawan


Jakarta, Pembaruan
Sebuah kelompok hak asasi manusia bermarkas di New York hari Senin (12/10)
mendesak kepada pemerintah Indonesia untuk melindungi para anggota tim
relawan yang membantu para korban perkosaan kerusuhan Mei, berkaitan dengan
pembunuhan atas Ita Martadinata.
Human Rights Watch, kelompok yang bermarkas di New York, menyatakan
Pemerintah Indonesia harus menyediakan ''perlindungan lebih baik'' bagi para
anggota tim relawan itu.
Dikatakan, pemerintah ''wajib untuk melakukan pengusutan yang sepenuhnya
transparan'' guna mengungkap kasus pembunuhan itu dan juga mengusut
serangkaian ancaman terhadap para aktivis dan konselor korban perkosaan.
Sejumlah aktivis, termasuk ibu kandung Ita, Ny. Wiwin Haryono, menerima
ancaman akan dibunuh oleh orang-orang tak dikenal yang menuntut agar mereka
berhenti melayani konseling para korban perkosaan serta menghentikan
pengusutan kasus-kasus perkosaan tersebut.
Kelompok-kelompok pembela hak asasi manusia melaporkan sedikitnya 168
wanita, yang kebanyakan warga etnis Cina, diperkosa dalam kerusuhan 13-14
Mei itu.

Pemerintah telah mengakui terjadinya perkosaan-perkosaan, namun tidak
menyebutkan angka. Pihak polisi dan militer berulangkali mengatakan tidak
ada bukti kuat terjadi perkosaan dalam jumlah yang besar.

Periksa Bercak
Seperti diberitakan, jenazah Ita, siswi kelas III SMA Paskalis berusia 17
tahun, anggota tim Relawan untuk Kemanusiaan, ditemukan di rumahnya Jumat
(9/10) malam. Korban tewas akibat sejumlah tusukan benda tajam dan leher digorok.

Polisi telah menangkap seorang pria, U, berusia 20 tahun, tetangga korban,
yang dituduh membunuh Ita karena ke-pergok mau mencuri.
Tim Forensik FKUI-RSCM Senin (12/10) pagi memeriksa bercak yang ada pada
baju almarhumah Martadinata (18) guna memastikan apakah bercak tersebut
sperma atau bukan.
Ahli forensik, dr Munim Idries, yang mengotopsi korban, mengatakan,
pemeriksaan pertama Jumat malam lalu menunjukkan bahwa bercak tersebut ada kemungkinan sperma atau zat lain. "Dari tahapan pemeriksaan ultraviolet
bercak tersebut mengalami flourosence sehingga bisa kesimpulan sementara,
kemungkinan sperma. Namun, bisa jadi zat lain juga," katanya kepada
Pembaruan, Senin (12/10) pagi. Diharapkan dari pemeriksaan ini dapat
diketahui apakah pelaku sempat memperkosa korban atau tidak, kendati
tersangka Su mengaku tidak melakukan pemerkosaan.

Menurut Munim, berdasarkan pemeriksaannya pada dubur terdapat bekas analseks dan selaput dara sudah robek sejak lama. "Perlu diteliti siapa pelaku
analseks tersebut, sebab menurut pemeriksaan kegiatan analseks terjadi sejak
lama, bahkan sebelum bulan Mei dan telah berulangkali," katanya. Dengan
demikian, diharapkan dapat diketahui apakah pembunuhan ini ada kaitannya
dengan peristiwa Mei lalu atau bukan.

Sementara itu, petugas Polda Metro Jaya dan Tim Gegana berhasil menemukan
sejumlah barang bukti, Minggu (11/10) siang, menyusul penangkapan dan
pengakuan tersangka Su alias Otong pelaku pembunuhan terhadap Martadinata.

Barang bukti berupa kunci kamar korban ditemukan di got. Senjata tajam
ditemukan di sungai, tidak jauh dari tempat kejadian. Demikian juga BH,
obeng, kaus serta tabung pewangi ruangan yang ditimbun tanah di dekat rumah
tersangka.
Sementara itu, Kapolda Metro Jaya, Mayjen Pol Drs Noegroho Djajusman
menegaskan lagi Minggu (11/10) malam bahwa penangkapan tersangka dalam waktu relatif singkat bukan rekayasa, melainkan murni karena kerja profesional
petugas.

Penegasan tersebut disampaikan, menyusul adanya banyak komentar yang
menyangsikan soal penangkapan tersangka yang demikian cepat serta dugaan
bahwa pembunuhan itu ada kaitannya dengan aktivitas keluarga korban sebagai relawan untuk kemanusiaan.

Tersangka Otong, anak kelima dari tujuh bersaudara itu Minggu siang bersama
petugas serse menunjukkan tempatnya menghilangkan barang bukti. "Pisau serta BB (barang bukti) lain telah ditemukan dan anak kuncinya yang ditemukan juga cocok dengan pintu kamar korban," kata Kaditserse Polda Metro Jaya, Kol Pol Drs Gories Mere di tempat penemuan BB.

Puluhan warga Sumur Batu menyaksikan Otong, selalu duduk di dalam mobil
minibus Kijang polisi. Warga menyatakan kaget, bahwa tersangka pelakunya
adalah Su yang sehari-hari dikenal rajin dan suka membantu orang lain itu.
Menurut Kapolda, kronologis peristiwa pembunuhan sadis itu diawali dari
Otong memasuki rumah korban yang tidak terkunci, sekitar pukul 16.30 dengan
membawa obeng dan belati. Kedatangan pemuda berkulit gelap ini adalah untuk mencuri, sebab membutuhkan uang untuk keperluan keluarganya. "Dengar-dengar rumah mereka mau dijual bapaknya," kata Samiran tetangga tersangka.

Karena kepergok oleh korban, Otong langsung mengejarnya menuju kamar korban.

Dalam menghabisi nyawa korbannya, Otong menggunakan tiga senjata tajam,
masing-masing pisau kecil tumpul yang akhirnya patah, belati dan pisau
daging. Tusukan dan pukulan ternyata tidak membuat Martadinata alias Ita
berhenti meronta. Bahkan, tangan Otong sempat digigit korban.
Guna melumpuhkannya, Otong sempat mengambil BH untuk menyumbat mulut dan menyemprotkan pengharum ruangan ke muka korban kemudian menusuknya. Ketika korban sudah tak berdaya dalam posisi tergolek, Otong menggorok leher siswi kelas III SMA Paskalis itu dari arah belakang hingga tewas. Sejumlah barang bukti itu dibungkus kaosnya berwarna kuning, kemudian Otong melarikan diri setelah mengambil dua kotak perhiasan milik korban.

Otong yang ditemui Minggu siang saat menunjukan BB mengatakan, dirinya
sempat menginap di Stasiun Sawahbesar pada malam kejadian. Anak pasangan
Sunarji dan Ny Enok ini mengaku bingung. Adiknya, Eneng mengatakan, kakaknya pergi ke Bogor tempat saudaranya. Tak jelas apa yang dilakukannya di sana.

Namun sekembali dari bepergian itu, Otong ditangkap polisi.
Samiran (34) dan Ngatmi (53), pemilik warung yang berdempetan dengan rumah Otong tidak menyangka bahwa Otong adalah tersangka pelaku. Menurut keduanya, Otong sama sekali tidak menampakkan gelagat aneh. Rumah Otong terletak menjorok ke dalam, menempel di antara rumah Samiran dengan rumah korban.

Memprihatinkan
Sementara itu, Direktur Eksekutif Mitra Perempuan, Rita Serena Kalibonso
dalam pernyataan terbuka yang diterima Pembaruan, hari Senin (12/10)
menegaskan, peristiwa penyerangan terhadap seorang perempuan Indonesia di
wilayah Jakarta Pusat pada hari Jumat (9/10) membuktikan situasi keamanan
dan perlindungan terhadap hak asasi manusia, khususnya hak perempuan di
negara ini masih memprihatinkan. ''Tampaknya, keselamatan perempuan di
Indonesia semakin tidak terjamin dan kami menuntut agar aparat keamanan dan pemerintah serta masyarakat luas, tidak gegabah dalam mengungkap kasus kejahatan terhadap kemanusiaan ini. Kami menentang berlangsungnya kekerasan negara (state violence) di manapun terjadinya,'' ujar Rita Serena yang juga menyampaikan pernyataan duka yang mendalam atas peristiwa hari Jumat (9/10) itu.

Budayawan dan pengamat sosial, Dr Ikranegara menilai
gerakan politik kekerasan yang berbau kriminal seperti yang dialami tim
relawan kemanusiaan dan kasus Banyuwangi harus ditanggapi secara cermat oleh aparat keamanan, sejauh mana kandungan politiknya agar ABRI tidak lagi
terpojok akibat opini publik yang seolah ABRI membiarkan kekerasan politik
terjadi. Sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang mengadvokasi masalah kekerasan terhadap perempuan, juga meminta agar pemerintah segera mengambil tindakan lebih jelas dan transparan dengan jaminan keamanan kepada para korban.

Direktur LBH APIK, Nursyahbani Katjasungkana, SH menegaskan terlepas dari
motif yang ada dibalik peristiwa pembunuhan tersebut, pihaknya melihat kasus
Ita merupakan bentuk teror dan kekerasan terhadap para aktivis hak asasi
manusia khususnya para aktivis hak azasi perempuan.
Pernyataan senada juga diungkapkan oleh Solidaritas Perempuan yang
dikirimkan kepada Pembaruan dan ditanda-tangani oleh Yuniyanti Chuzalfah dan Wahyu Susilo. Sedangkan pernyataan Gerakan Sarjana Jakarta ditanda-tangani

oleh Ketua GSJ, Gede dan Sekjennya, Vivian Idris. (AP/J-5/A-15/E-5)
----- End of forwarded message from Kissnade . -----
pejiwan oe . . than inp0nya gan mantap
Quote:Original Posted By Marbeha
halo gan
wah faktanya terungkap ya gan


Marbeha, embahnyaMarbela. ada2 aja lu gan
selamat

emg udah lama ya gan
Ita Martadinata Haryono

Ita Martadinata Haryono (lahir 1980, wafat di Jakarta Pusat, 9 Oktober 1998 pada usia 18 tahun) adalah seorang aktivis HAM Indonesia yang tewas dibunuh secara misterius.

Nama sesungguhnya adalah Martadinata Haryono, namun ia lebih dikenal dengan panggilan Ita Martadinata. Siswi kelas III SMA Paskalis berusia 18 tahun ini ditemukan mati dibunuh pada tanggal 9 Oktober 1998 di kamarnya di Jakarta Pusat.

Perutnya, dada dan lengan kanannya ditikam hingga sepuluh kali, sementara lehernya disayat. Hal ini terjadi hanya tiga hari setelah Tim Relawan untuk Kemanusiaan dan beberapa organisasi hak-hak asasi manusia lainnya mengadakan konferensi pers, dan menjelaskan bahwa beberapa orang dari anggota tim ini telah menerima ancaman akan dibunuh apabila mereka tidak segera menghentikan bantuan mereka terhadap investigasi internasional atas perkosaan, pembunuhan, dan pembakaran atas sejumlah gadis dan perempuan Tionghoa dalam kaitan dengan Kerusuhan Mei 1998.

Pihak yang berwajib mengumumkan bahwa kematian Ita hanyalah suatu kejahatan biasa, yang dilakukan oleh seorang pecandu obat bius yang ingin merampok rumah Ita, namun tertangkap basah, sehingga kemudian ia membunuh gadis itu. Namun banyak pihak yang meragukan pernyataan ini. Apalagi menurut rencana Ita dan ibunya, Wiwin Haryono, akan segera berangkat ke Amerika Serikat dengan empat korban Kerusuhan Mei 1998 sebagai bagian dari Tim Relawan untuk Kemanusiaan, untuk memberikan kesaksian kepada Kongres Amerika Serikat tentang tragedi itu. Ita dan ibunya diketahui cukup banyak terlibat dalam memberikan konseling kepada para korban kerusuhan tersebut.

Karena itu Tim Relawan berpendapat bahwa peristiwa ini sesungguhnya dimaksudkan sebagai ancaman kepada mereka yang terlibat di dalam aktivitas kemanusiaan ini untuk menghentikan kegiatan mereka.
@lautin indonesia
iya mmg sudah lama tapi tadi saya dapat dokumentasi email dari dr forensik yang memeriksa jenazah ita makanya saya posting disini
jadi maksudnya apa ya? another conspiracy theory kah?
Date: Fri, 30 Nov 2001 19:58:12 -0800 (PST)
From: Jasmine Chew <jasminec@rocketmail.com>
Subject: JASMINE - Aku tidak perduli...
To: apakabar@saltmine.radix.net

"Ketika mereka membantai komunis Indonesia, aku tidak perduli karena aku
bukan komunis…
Ketika mereka mengorbankan etnis Cina di Indonesia, aku mendukung, karena
aku iri pada Cina…
Ketika mereka membantai and memperkosa rakyat Aceh dan Timor Timur, aku
membisu, karena aku bukan orang Aceh ataupun orang Timor Timur…
Ketika mereka menghancurkan Ambon, aku pura-pura tidak melihat karena aku
bukan orang Ambon…
Ketika mereka mensweeping orang-orang Barat, aku biarkan saja, karena aku
memang bukan orang Barat…
Ketika mereka membakar gereja dan menyerang orang Kristen, aku angkat
bahu, karena aku bukan Kristen…
Ketika mereka mulai membantai golonganku, aku akhirnya sadar bahwa aku
selama ini salah dan seharusnya perduli dan membela kaum yang lemah dari
awal…"

Tulisan diatas ini adalah adaptasi bebas versi saya dari sebuah tulisan
seorang uskup di Eropa atas kejahatan Jerman Nazi pada masa Perang Dunia
II. Inti pesan tersebut adalah bahwa apabila kita, suatu masyarakat,
terus-menerus membiarkan suatu kelompok menjadi korban ketidak-adilan dan
kesewenang-wenangan , maka pada akhirnya kita semua jugalah yang akan
menanggung akibat dan menjadi korban ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan tersebut.

Dibawah ini saya sertakan cuplikan berita bulan Desember 98 untuk
mengingatkan kita semua akan ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan yang masih tidak terselesaikan sampai detik ini. Pengorbanan pihak relawan yang membela korban pemerkosaan dan kekerasan seksuil masal atas etnis Cina, mudah-mudahan tidak tersia-siakan dan saya doakan agar mereka mendapat pahala dari Tuhan.
-----------------

26 Desember 1998

Perkosaan Mei Dilakukan Aparat

detikcom. Jakarta. Saksi ahli Ita F Nadia dari Tim Relawan menegaskan
kembali, bahwa telah terjadi perkosaan massal pada peristiwa 13-15 Mei
1998 lalu. Akibatnya sebanyak 152 korban kekerasan seksual.

"Memang perkosaan itu ada dan pelakunya adalah aparat," kata Ita F Nadia
dalam kesaksiannya di Sidang yang berlangsung di PN Jakarta Pusat, Kamis
(24/12). Pernyataan itu dikuatkan Ita dengan laporan dari pelapor khusus
PBB yang telah bertemu saksi-saksi korban. "Kesimpulan pelapor PBB itu
menyebutkan bahwa ada suatu gerakan yang bergerak cepat secara
berkelompok, dengan menggunakan alat HT (handy talkie). Jadi mereka itu
terorganisir dan sistematis," tambah Ita.

Ita menyatakan demikian dalam sidang gugatan Komite Pembela Anti
Diskiriminasi Ras dan Anti Kekerasan (Kpadrak) terhadap pemerintah
berkaitan dengan kasus Kerusuhan Mei lalu, di PN Jakarta Pusat, Kamis
(24/12). Kpadrak adalah organisasi yang terdiri dari lima LSM yaitu PBHI,
ISJ, Solidaritas Nusa Bangsa, Elsam, dan Serikat Pengacara Indonesia yang
menggugat Presiden RI, Pangab, Kapolri, Kapolda Metro Jaya, Kapolda
Jateng.

Dalam sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua Iman Purnomo SH, didampingi
hakim Jalil Ahmad SH, dan hakim Abbas Sumantri SH, Ita menegaskan bahwa
secara keseluruhan jumlah korban kekerasan seksual yang sesuai dengan
Deklarasi Internasional sebanyak 103 kasus. Dari jumlah itu 26 diantaranya
korban penganiayaan yang membuat 9 mati. Juga ada 14 orang yang menjadi
korban kekerasan seksual dengan alat.

Menurut Ita, korban pertama yang ditemuinya adalah pada 15 Mei di daerah
Angke, Pangeran Jayakarta, dan Sunter dan Jakarta Barat. Korban itu
mengalami tekanan psikologis dan fisik. Dicontohkan, ada dua korban yang
dipotong kuping dan payudaranya, umurnya 18 tahun dan 19 tahun.

"Mereka korban yang tak bisa diajak bicara, karena sukar menerima orang
lain, dan ingin bunuh diri. Ini merupakan simptom gejala wajar dari korban
perkosaan," kata Ita yang juga aktivis perempuan itu.

Kegiatan Ita itu bukan tanpa risiko. "Saya mendapatkan teror memalui
telepon oleh seseorang. Mereka meminta saya menghentikan tindakan saya
kalau ingin dua anak saya selamat. Dan penelpon itu tahu dengan detil nama
dan seragam, sekolah anak-anak saya. Anak saya pun beberapa kali diikuti
dua laki-laki naik motor yang tak bisa dilacak. Mereka memang
terorganisasi," tambah Ita.

Meski sudah mengetahui bahwa Presiden BJ Habibie - salah satu tergugat -
pernah menyatakan minta maaf atas kejadian Mei lalu, tapi menurut Ita
tidak konsisten. "Buktinya justru Pangab, Kapolri, dan Kejaksaan tidak
mengakui adanya perkosaan," tambahnya.

Kpadrak dimotori penasehat hukum Hotma Timbul Hutapea SH. Rencana sidang
selanjutnya adalah 29 Desember dengan menghadirkan saksi ahli lainnya, T
Mulya Lubis dan Romo Sandyawan Sumardi.
----- End of forwarded message from Jasmine Chew -----
coba kalo ane punya kekuatan super bisa baca isi pikiran sekaligus mengendalikannya, kayak profesor X di X-Men... tak buru satu2 bajingan2 di indonesia
ah yg boneng gan?
bener gan bukan hoax bisa di cek di sini gan

http://www.hamline.edu/apakabar/basi...ta/2001/12/01/
ane dah lulus STM tuch pas kejadian gan
Semoga Ita damai di alam sana
jadi ane buat kesimpulan bahwa yang bunuh ita itu ternyata aparat kepolisian
semoga keadilan di negri ini bisa semakin diperatikan dengan terbuktinya kasus Ita