KASKUS

[ASK] Syarat Membuat KK

mau numpang tanya ya gan, maapkeun kalo salah thread.
Syarat bikin KK itu apa aja ya gan, sebagai ilustrasinya. saya (istri) berasal dari daerah A sedangkan suami berasal dari dearah B. Dan sekarang kami tinggal berdomisili di daerah C. Apa harus mengurus surat2 dari daerah asal kami masing-masing (A & B) lalu kemudian baru diurus ke daerah domisili kami sekarang (C)? Untuk informasi, KTP kami masih KTP daerah asal kami. Terimakasiih


Quote:Original Posted By sotorcen
mau numpang tanya ya gan, maapkeun kalo salah thread.
Syarat bikin KK itu apa aja ya gan, sebagai ilustrasinya. saya (istri) berasal dari daerah A sedangkan suami berasal dari dearah B. Dan sekarang kami tinggal berdomisili di daerah C. Apa harus mengurus surat2 dari daerah asal kami masing-masing (A & B) lalu kemudian baru diurus ke daerah domisili kami sekarang (C)? Untuk informasi, KTP kami masih KTP daerah asal kami. Terimakasiih


iya
thankyou gan infonya
satu lagi. apa untuk membuat KK wajib menyertakan tanda bukti pembayaran PBB terkahir? karena saya dan suami statusnya masih kontrak rumah, jadi belum punya semacem sertifikat/surat PBB. Kabarnya bisa juga melampirkan bukti pembayaran rumah kontrak minimal 1 tahun. Terimakasi
agan ini surat surat administrasi pernikahan kira kira di buat berapa lama sebelum hari H ya?

terima kasih infonya ...

Quote:Original Posted By nikinuki
All credit to Sei
MARRIAGE ADMINISTRATION

FOR DUMMIES


Buat yang belum ngerti urusan administrasi pernikahan maka anda dapat melihat panduannya di sini.

Frequently Asked Question [FAQ] 01: Aku dan pasanganku sudah merasa cocok dan siap untuk menikah, tapi kami tidak tahu tentang administrasi pernikahan?

Mengutip UU 1 Tahun 1974 tentang Perk a w i nan yang berlaku di Republik Indonesia, Pasal 2:
(1). Perk a w i nan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.
(2). Tiap-tiap perk a w i nan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Di Indonesia tidak berlaku nikah sipil!

Anda akan dicatatkan di Kantor Catatan Sipil setempat apabila telah melangsungkan pernikahan sah secara agama.

Jadi prosesnya : Nikah agama ====> Catatan Sipil

Administrasi Penikahan Agama

Saat anda melangsungkan proses pernikahan secara agama, maka instituisi agama tersebut akan mengeluarkan sebuah surat yang akan dipergunakan untuk pencatatan sipil. Surat tersebut merupakan bukti hukum yang sah bahwa anda telah melakukan pernikahan sah secara agama.

Pernikahan agama akan kita bahas lebih dahulu menurut agamanya masing-masing:

Spoiler for Pernikahan Islam:


Spoiler for Pernikahan Katholik:


Spoiler for Pernikahan Kristen:


Spoiler for Pernikahan Buddha:




Spoiler for Pernikahan Kong Hu Chu:


Ini semua hanyalah gambaran tentang administrasi apa yang harus anda siapkan sebelum menikah. Karena di Indonesia setiap daerah terkadang terdapat perbedaan sistem, sebaiknya anda menghubungi institusi agama terkait tempat anda akan melangsungkan pernikahan.
Ikut nyimak gan, ane mau nikah 11 Th lagi nih

Cool 

ane mau nikah ni gann..
tapi kan sekarang udah musim e-ktp,kebetulan ktp ane di daerah serpong tangerang selatan.
ane ikut kk dari bokap ane,soalnya bokap ma nyokap udah lama pisah juga dan anak-anaknya dari sd ikut bokap.
sekarang ane pingin melakukan salah satu ibadah yaitu menikah.
tapi ane nikah di rangkas di tempat ibu ane,karena banyak alasan yang ga memungkinkan ane buat nikah di serpong makanya kata bokap nikah di tempat ibu aja di rangkas.
yang ane bingung ni apakah ane harus pindah ktp cuma karena pingin nikah disana aja atau bisa pake surat numpang nikah,soalnya ibu ane pernah tanya katanya penghulunya ga mau kalo bukan pake ktp rangkas.padahal udah pake sistem e-ktp,dan yang ane tau e-ktp tu bersifat nasional dan online,jadi kenapa harus pake pindah ktp??
sebenarnya ane ga mau pindah ktp,soalnya jauh dari mana-mana di rangkas sana,ane ma calon suami juga kerja di tangerang.
apakah bisa pake surat numpang nikah?ataukah surat numpang nikah hanya untuk calon pria aja??
mohon bantuanya gan..
pusing ane...

MOHON BANTUANNYA

Para sepuh2 disini,ane mohon bantuannya ni..

ane mau nikah beberapa bln lagi..
nah tmpat akad nikah ane beda dgn tmpt tinggal ane jadi harus ngurus surat numpang nikah..bgtu pula dgn calon istri ane...

nah yg jadi pertanyaan apa aja yg surat2 yg hrs ane dan calon istri urus?
apakah sama dengan yg di page one?


terima kasih sebelumnya para sepuh2 disini...
Quote:Original Posted By mutee
ane mau nikah ni gann..
tapi kan sekarang udah musim e-ktp,kebetulan ktp ane di daerah serpong tangerang selatan.
ane ikut kk dari bokap ane,soalnya bokap ma nyokap udah lama pisah juga dan anak-anaknya dari sd ikut bokap.
sekarang ane pingin melakukan salah satu ibadah yaitu menikah.
tapi ane nikah di rangkas di tempat ibu ane,karena banyak alasan yang ga memungkinkan ane buat nikah di serpong makanya kata bokap nikah di tempat ibu aja di rangkas.
yang ane bingung ni apakah ane harus pindah ktp cuma karena pingin nikah disana aja atau bisa pake surat numpang nikah,soalnya ibu ane pernah tanya katanya penghulunya ga mau kalo bukan pake ktp rangkas.padahal udah pake sistem e-ktp,dan yang ane tau e-ktp tu bersifat nasional dan online,jadi kenapa harus pake pindah ktp??
sebenarnya ane ga mau pindah ktp,soalnya jauh dari mana-mana di rangkas sana,ane ma calon suami juga kerja di tangerang.
apakah bisa pake surat numpang nikah?ataukah surat numpang nikah hanya untuk calon pria aja??
mohon bantuanya gan..
pusing ane...


waduh sist
ane g tau klo msalah administrasi yg kaya gt gmn

mren si ane dari pamulang-tangerang selatan bikin surat keterangan nikah untuk di Bekasi (tempat calon)..

smoga ada yg bantu jelasin
NUMPANG PROMOSI YA GAN :

Ane nawarin gan paket Wedding Organizer murah dengan Rp. 30jutaan
selengkapnya cek disni
Mau tambahin tata cara pernikahan di Gereja HKBP pada umumnya dan khususnya di tempat tugas ane di HKBP Kebayoran Selatan - Jakarta Selatan.

1. Diusahakan jauh-jauh hari (minimal 6 bulan sebelumnya) untuk datang ke sekretariat Gereja agar memberitahukan ke sekretariat gereja bahwa akan ada pemberkatan pernikahan pada tgl. .... bulan .... tahun .... pkl. ....

2. Diharuskan orangtua yang datang ke sekretariat Gereja.

3. Diminta kepada Sekretariat Gereja formulir untuk perjanjian nikah. untuk jemaat HKBP yang ingin menikah / pemberkatan nikah di HKBP diharuskan melalui tahapan yang namanya Perjanjian Nikah dan biasanya sudah ditentukan juga kapan tanggalnya yang sesuai. untuk Perjanjian nikah sudah menjadi kewajiban tanggalnya yaitu 2 Minggu sebelum tanggal pernikahan.

4. Setelah menerima formulir diharuskan konsultasi pertama untuk konseling pra nikah kepada Pimpinan Jemaat (kami menyebutnya Uluan ni Huria atau di tingkat lebih tinggi yaitu Pendeta Ressort).

5. Koseling pra nikah tergantung kesepakatan antara calon pengantin dengan Pendeta yang akan melayani tersebut.

6. Jika gereja yang mengurus / tidak mau repot ke petugas catatan sipil untuk menyerahkan berkas yang sudah selesai maka diminta kepada bagian sekretariat gereja persyaratan catatan sipil..

7. Adapun persyaratan catatan sipil yang selama ini saya tangani adalah sbb.:
7.1. N1, N2, N4 dan PM1 yang didapat dari kantor kelurahan (1 x fotocopy).
7.2. Fotocopy KK (mesti yang terbaru ya gan) dan KTP yang dilegalisir di kelurahan (2 x fotocopy)
7. 3. Fotocopy Akte lahir yang terbaru bukan surat kenal lahir (2 x fotocopy). jika masih kenal lahir secepatnya diurus ke kantor catatan sipil.
7.4. Fotocopy akte baptis dan sidi (2 x fotocopy)
7.5. Pasphoto berdampingan berwarna ukuran 4 x 6 (melebar kesamping ya gan..) backgroundnya warna cerah dan diharuskan pakaian Rapi dan sopan gan soalnya pasphoto tersebut untuk akte nikah dari Gereja dan akte nikah dari catatan sipil.
7.6. Jika anda anggota polri atau ABRI maka harus ada surat persetujuan dari komandan.
7.7. Jika bercerai maka diharuskan melampirkan akte cerai yang asli.
7.8. Biaya: tergantung dari kesepakatan si pengurus dan agan.

8. Setelah pertemuan pertama maka diharuskan orangtua atau calon pengantin datang ke gereja (sebulan s/d. 2 minggu sebelum hari perjanjian nikah) untuk:
8.1. Menyerahkan berkas perjanjian nikah yang sudah diisi tanpa tandatangan sebab formulir tersebut akan disalin ke Buku Perjanjian nikah dan disitulah akan ditandatangani oleh yang bersangkutan.
8.2. Meminta buku acara Perjanjian nikah (Perjanjian nikah dalam bahasa batak kami menyebutnya: "PARTUMPOLON"), biasanya akan ditanya memakai bahasa Batak / Bahasa Indonesia / Bahasa Inggris (jika menikah dengan WNA).
8.3. Akan ditanya apakah ada pemusik dan pemandu pujian (song leader) dari pihak keluarga??? jika memang tidak ada dari pihak keluarga maka pemusik dan song leader diatur oleh gereja dan itu sudah menjadi kewajiban gereja untuk menyediakannya.
8.4. Akan ditanya apakah ada tukar cincin atau tidak??? Tukar cincin seharusnya diadakan pada perjanjian pernikahan sebab cincin itulah tanda ikatan sebuah perjanjian pernikahan. jika ada HKBP yang melaksanakannya selain pada saat perjanjian nikah itu bukan pertukaran cincin tapi penyematan cincin pernikahan sebab di HKBP tidak mengenal cincin pernikahan.
8.5. Akan ditanya tanggal dan waktu untuk gladi bersih perjanjian nikah yang biasanya dilaksanakan oleh Penatua di lingkungan sektor dimana jemaat itu tinggal.
8.6. Jika perjanjian nikah dilaksanakan di HKBP / Gereja lain maka seharusnya diminta kepada sekretariat gereja surat keterangan jemaat untuk melengkapi persyaratan perjanjian nikah dan biasanya dilampirkan fotocopy akte sidi.
8.7. Jika perjanjian nikah dilaksanakan di gereja hkbp dimana jemaat itu tinggal maka pihak calon yang tidak satu jemaat (istilahnya diluar hkbp itu sendiri misalnya satu di gereja hkbp kebayoran selatan satu lagi di gereja hkbp lain / gereja lain) maka wajib untuk meminta kepada gereja asal untuk surat keterangan jemaat.
8.8. Jika tidak ada salah satu dari pihak calon menjadi anggota jemaat di hkbp tersebut wajib meminta kepada sekretariat masing-masing untuk pelayanan sepenuhnya pada gereja yang dituju.

9. persiapan hari pemberkatan nikah diharuskan datang ke sekretariat gereja untuk:
9.1. Akan ditanya apakah ada pemusik dan pemandu pujian (song leader) dari pihak keluarga??? jika memang tidak ada dari pihak keluarga maka pemusik dan song leader diatur oleh gereja dan itu sudah menjadi kewajiban gereja untuk menyediakannya.
9.2. Meminta buku acara pemberkatan nikah (pemberkatan nikah dalam bahasa batak kami menyebutnya: "PAMASUMASUON PARBOGASON"), biasanya akan ditanya memakai bahasa Batak / Bahasa Indonesia / Bahasa Inggris (jika menikah dengan WNA)
9.3. Akan ditanya tanggal dan waktu untuk gladi bersih pemberkatan nikah yang biasanya dilaksanakan oleh Pendeta yang dihunjuk oleh Pimpinan jemaat / pendeta ressort.
9.6. Jika pemberkatan nikah dilaksanakan di HKBP / Gereja lain maka seharusnya telah diberikan salinan / ketikan perjanjian nikah untuk pemberitahuan ke gereja diminta kepada sekretariat gereja surat keterangan jemaat untuk melengkapi persyaratan perjanjian nikah dan biasanya dilampirkan fotocopy akte sidi.

Tambahan: biasanya setelah perjanjian nikah ada acara keluarga sehingga diperlukan gedung serbaguna untuk dipakai maka seharusnya meminta ijin pemakaian kepada sekretariat gereja.

Sekian dari ane kalo ada yang kurang jelas boleh pm atau tanya disini...
Gan, mau nanya nih,

Gw sama tunangan gw mau nikah tahun depan. Casenya:
1.gw katolik dan tunangan gw buddha
2.Gw sama tunangan gw tinggal n kerja di luar indo and beda negara (gw cukup jauh, sekitar 9 jam penerbangan)
3.Pekerjaan gw sangat susah untuk ngurus2 hal2 perkimpoian karena gw di remote area and gw balik indo 2x setaun

Rencananya sih gw nikah sipil gitu di singapore awal taun (tunangan gw kerja di sg). Pertimbangannya sih:
1. nikah di sg ga ribet
2. ga perlu ke pengadilan segala karena beda agama (gw baru tau kalo beda agama harus ke pengadilan dulu dari forum ini)
3. ada kepentingan schedule waktu gw and tunangan gw

And nikah gereja, resepsi etc gitu akhir taun

nah pertanyaannya seputar plus minusnya sih di indo, masalah pengesahan di indo, apa gw tetep harus ke pengadilan, terus nanti kalo bikin kk susah/dipersulit ga ya, and apakah nanti certificate of marriage gw diakui di indo, apa nanti perlu buat lagi, laporan, etc, etc,

Mohon bantuannya

Kind Regards
Quote:Original Posted By Soccerer
Gan, mau nanya nih,

Gw sama tunangan gw mau nikah tahun depan. Casenya:
1.gw katolik dan tunangan gw buddha
2.Gw sama tunangan gw tinggal n kerja di luar indo and beda negara (gw cukup jauh, sekitar 9 jam penerbangan)
3.Pekerjaan gw sangat susah untuk ngurus2 hal2 perkimpoian karena gw di remote area and gw balik indo 2x setaun

Rencananya sih gw nikah sipil gitu di singapore awal taun (tunangan gw kerja di sg). Pertimbangannya sih:
1. nikah di sg ga ribet
2. ga perlu ke pengadilan segala karena beda agama (gw baru tau kalo beda agama harus ke pengadilan dulu dari forum ini)
3. ada kepentingan schedule waktu gw and tunangan gw

And nikah gereja, resepsi etc gitu akhir taun

nah pertanyaannya seputar plus minusnya sih di indo, masalah pengesahan di indo, apa gw tetep harus ke pengadilan, terus nanti kalo bikin kk susah/dipersulit ga ya, and apakah nanti certificate of marriage gw diakui di indo, apa nanti perlu buat lagi, laporan, etc, etc,

Mohon bantuannya

Kind Regards



mirip sama yang ini ya:

Quote:Sahkah Pernikahan Beda Agama di Catatan Sipil?
Saya (Katolik) dan pasangan (Budha) berencana menikah dengan tetap pada agama masing-masing. Apakah bisa menikah lewat Catatan Sipil dan sah secara hukum? Jika ya, bagaimana proses pengurusan dan lewat mana? Jika pasangan memiliki aset (rumah) telah diproses KPR sebelum kami menikah. Jika terjadi sesuatu yang tidak kami inginkan pada pasangan ketika kami menikah. Apakah aset (rumah) tersebut bisa dituntut oleh pihak keluarga karena status ketika proses KPR dan kepemilikan rumah adalah status belum menikah. Mohon info dan saran.

SOLETHA


Quote:Jawaban:
FLORA DIANTI, S.H., M.H.

Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkimpoian (“UU 1/1974”) menyatakan bahwa perkimpoian adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Dan pada Pasal 10 PP No. 9 Tahun 1975 dinyatakan bahwa perkimpoian baru sah jika dilakukan di hadapan pegawai pencatat dan dihadiri dua orang saksi. Dan tata cara perkimpoian dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Jadi, UU 1/1974 tidak mengenal perkimpoian beda agama, sehingga perkimpoian antar agama tidak dapat dilakukan.

Adapun Mahkamah Agung dalam yurisprudensinya tanggal 20 Januari 1989 Nomor: 1400 K/Pdt/1986, memberikan solusi hukum bagi perkimpoian antar-agama adalah bahwa perkimpoian antar-agama dapat diterima permohonannya di Kantor Catatan Sipil sebagai satu-satunya instansi yang berwenang untuk melangsungkan permohonan perkimpoian beda agama. Dalam proses perkimpoian antar-agama maka permohonan untuk melangsungkan perkimpoian antar-agama dapat diajukan kepada Kantor Catatan Sipil.

Bentuk lain untuk melakukan perkimpoian antar agama dapat dilakukan dengan cara melakukan perkimpoian bagi pasangan yang berbeda agama tersebut di luar negeri. Berdasarkan pada Pasal 56 UU 1/1974 yang mengatur perkimpoian di luar negeri, dapat dilakukan oleh sesama warga negara Indonesia, dan perkimpoian antar pasangan yang berbeda agama tersebut adalah sah bila dilakukan menurut hukum yang berlaku di negara di mana perkimpoian itu berlangsung. Setelah suami isteri itu kembali di wilayah Indonesia, paling tidak dalam jangka waktu satu tahun surat bukti perkimpoian dapat didaftarkan di kantor pencatatan perkimpoian tempat tinggal mereka. Artinya, perkimpoian antar-agama yang dilakukan oleh pasangan suami isteri yang berbeda agama tersebut adalah sah karena dapat diberikan akta perkimpoian (Soedharyo Soimin, “Hukum Orang dan Keluarga”, Jakarta: Sinar Grafika, 2002, dan “Himpunan Yurisprudensi Tentang Hukum Perdata”, Jakarta: Sinar Grafika, 1996).

Jika pasangan memiliki aset (rumah) telah diproses KPR sebelum menikah, maka aset tidak termasuk dalam harta bersama, tetapi merupakan harta bawaan salah satu pihak (bergantung aset tercatat atas nama siapa). Berdasarkan hukum waris perdata, maka harta bawaan menjadi harta warisan, berarti aset (rumah) tersebut bisa dituntut oleh pihak keluarga karena status ketika proses KPR dan kepemilikan rumah adalah status belum menikah.

Dasar hukum:
1. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkimpoian
2. Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkimpoian

Undang-undang No. 1 tahun 1974

sumber: [url]www.hukumonline.com[/url]

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERkimpoiAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang: bahwa sesuai dengan falsafah Pancasila serta cita-cita untuk pembinaan hukum nasional, perlu adanya Undang-undang tentang Perkimpoian yang berlaku bagi semua warga negara.

Mengingat:
1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945;
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor IV/MPR/1973. Dengan Persetujuan: DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

MEMUTUSKAN: Menetapkan:
UNDANG-UNDANG TENTANG PERkimpoiAN
BAB I DASAR PERkimpoiAN
Pasal 1

Perkimpoian ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha esa.

Pasal 2
1. Perkimpoian adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.
2. Tiap-tiap perkimpoian dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 3
1. Pada azasnya dalam suatu perkimpoian seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri. Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami.
2. Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.

Pasal 4
1. Dalam hal seorang suami akan beristeri lebih dari seorang,sebagaimana tersebut dalam Pasal 3 ayat (2) Undang-undang ini, maka ia wajib mengajukan permohonan kepada Pengadilan di daerah tempat tinggalnya. Pengadilan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila:
a. isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri;
b. isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan; c. isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

Pasal 5
1. Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan,sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-undang ini, harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri;
b. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup isteriisteri dan anak-anak mereka;
c. adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka.
2. Persetujuan yang dimaksud pada ayat (1) huruf a pasal ini tidak diperlukan bagi seorang suami apabila isteri/isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari isterinya selama sekurangkurangnya 2 (dua) tahun, atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian dari Hakim Pengadilan.

BAB II
SYARAT-SYARAT PERkimpoiAN


Pasal 6
1. Perkimpoian harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.
2. Untuk melangsungkan perkimpoian seorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua.
3. Dalam hal salah seorang dari kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin dimaksud ayat (2) pasal ini cukup diperoleh dari orang tua yang masih hidup atau dari orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya.
4. Dalam hal kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu untuk menyatakan kehendaknya, maka izin diperoleh dari wali, orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus ke atas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan dapat menyatakan kehendaknya.
5. Dalam hal ada perbedaan pendapat antara orang-orang yang disebut dalam ayat (2), (3) dan (4) pasal ini, atau salah seorang atau lebih diantara mereka tidak menyatakan pendapatnya, maka Pengadilan dalam daerah hukum tempat tinggal orang yang akan melangsungkan perkimpoian atas permintaan orang tersebut dapat memberikan izin setelah lebih dahulu mendengar orang-orang tersebut dalam ayat (2), (3) dan (4) pasal ini.
6. Ketentuan tersebut ayat (1) sampai dengan ayat (5) pasal ini berlaku sepanjang hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain.

Pasal 7
1. Perkimpoian hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.
2. Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan atau Pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun pihak wanita.
3. Ketentuan-ketentuan mengenai keadaan salah seorang atau kedua orang tua tersebut dalam Pasal 6 ayat (3) dan (4) Undang-undang ini, berlaku juga dalam hal permintaan dispensasi tersebut ayat (2) pasal ini dengan tidak mengurangi yang dimaksud dalam Pasal 6 ayat (6).

Pasal 8
1. Perkimpoian dilarang antara dua orang yang:
a. berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah ataupun ke atas; b. berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya;
c. berhubungan semenda, yaitu mertua,anak tiri menantu dan ibu/bapak tiri; d. berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara susuan dan bibi/paman susuan;
e. berhubungan saudara dengan isteri atau sebagai bibi atau kemenakan dari isteri, dalam hal seorang suami beristeri lebih dari seorang;
f. mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kimpoi.

Pasal 9
1. Seorang yang masih terikat tali perkimpoian dengan orang lain tidak dapat kimpoi lagi, kecuali dalam hal yang tersebut pada Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 Undang-undang ini.

Pasal 10
1. Apabila suami dan isteri yang telah cerai kimpoi lagi satu dengan yang lain dan bercerai lagi untuk kedua kalinya, maka diantara mereka tidak boleh dilangsungkan perkimpoian lagi,sepanjang hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain.

Pasal 11
1. Bagi seorang wanita yang putus perkimpoiannya berlaku jangka waktu tunggu.
2. Tenggang waktu jangka waktu tunggu tersebut ayat (1) akan diatur dalam Peraturan Pemerintah lebih lanjut.

Pasal 12
1. Tatacara pelaksanaan perkimpoian diatur dalam peraturan perundang-undangan tersendiri.

BAB III
PENCEGAHAN PERkimpoiAN

Pasal 13
1. Perkimpoian dapat dicegah, apabila ada pihak yang tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkimpoian.

Pasal 14
1. Yang dapat mencegah perkimpoian ialah para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dan ke bawah, saudara, wali nikah, wali, pengampu dari salah seorang calon mempelai dan pihak-pihak yang berkepentingan.
2. Mereka yang tersebut pada ayat (1) pasal ini berhak juga mencegah berlangsungnya perkimpoian apabila salah seorang dari calon mempelai berada di bawah pengampuan, sehingga dengan perkimpoian tersebut nyata-nyata mengakibatkan kesengsaraan bagi calon mempelai yang lainnya, yang mempunyai hubungan dengan orang-orang seperti tersebut dalam ayat (1) pasal ini.

Pasal 15
1. Barang siapa karena perkimpoian dirinya masih terikat dengan salah satu dari kedua belah pihak dan atas dasar masih adanya perkimpoian, dapat mencegah perkimpoian yang baru, dengan tidak mengurangi ketentuan Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 Undang-undang ini.

Pasal 16
1. Pejabat yang ditunjuk berkewajiban mencegah berlangsungnya perkimpoian apabila ketentuan-ketentuan dalam Pasal 7 ayat (1), Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 dan Pasal 12 Undang-undang ini tidak dipenuhi.
2. Mengenai Pejabat yang ditunjuk sebagaimana tersebut pada ayat (1) pasal ini diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan.

Pasal 17
1. Pencegahan perkimpoian diajukan kepada Pengadilan dalam daerah hukum dimana perkimpoian akan dilangsungkan dengan memberitahukan juga kepada pegawai pencatat perkimpoian.
2. Kepada calon-calon mempelai diberi tahukan mengenai permohonan pencegahan perkimpoian dimaksud dalam ayat (1) pasal ini oleh pegawai pencatat perkimpoian.

Pasal 18
1. Pencegahan perkimpoian dapat dicabut dengan putusan Pengadilan atau dengan menarik kembali permohonan pencegahan pada Pengadilan oleh yang mencegah.

Pasal 19
1. Perkimpoian tidak dapat dilangsungkan apabila pencegahan belum dicabut.

Pasal 20
1. Pegawai pencatat perkimpoian tidak diperbolehkan melangsungkan atau membantu melangsungkan perkimpoian bila ia mengetahui adanya pelanggaran dari ketentuan dalam Pasal 7 ayat (1), Pasal 8,Pasal 9, Pasal 10 dan Pasal 12 Undang-undang ini meskipun tidak ada pencegahan perkimpoian.




lanjutan dibawah / di posting berikutnya

Undang-undang No. 1 tahun 1974 part-2

Pasal 21
1. Jika pegawai pencatat perkimpoian berpendapat bahwa terhadap perkimpoian tersebut ada larangan menurut Undang-undang ini, maka ia akan menolak melangsungkan perkimpoian.
2. Di dalam hal penolakan, maka permintaan salah satu pihak yang ingin melangsungkan perkimpoian oleh pegawai pencatat perkimpoian akan diberikan suatu keterangan tertulis dari penolakan tersebut disertai dengan alasan-alasan penolakannya.
3. Para pihak yang perkimpoiannya ditolak berhak mengajukan permohonan kepada pengadilan di dalam wilayah mana pegawai pencatat perkimpoian yang mengadakan penolakan berkedudukan untuk memberikan keputusan, dengan menyerahkan surat keterangan penolakan tersebut di atas.
4. Pengadilan akan memeriksa perkaranya dengan acara singkat dan akan memberikan ketetapan, apakah ia akan menguatkan penolakan tersebut ataukah memerintahkan, agar supaya perkimpoian dilangsungkan.
5. Ketetapan ini hilang kekuatannya, jika rintangan-rintangan yang mengakibatkan penolakan tersebut hilang dan para pihak yang ingin kimpoi dapat mengulangi pemberitahuan tentang maksud mereka.

BAB IV
BATALNYA PERkimpoiAN

Pasal 22

1. Perkimpoian dapat dibatalkan,apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkimpoian.

Pasal 23
1. Yang dapat mengajukan pembatalan perkimpoian yaitu:
a. Para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dari suami atau isteri;
b. Suami atau isteri;
c. Pejabat yang berwenang hanya selama perkimpoian belum diputuskan;
d. Pejabat yang ditunjuk tersebut ayat (2) Pasal 16 Undang-undang ini dan setiap orang yang mempunyai kepentingan hukum secara langsung terhadap perkimpoian tersebut, tetapi hanya setelah perkimpoian itu putus.

Pasal 24
1. Barang siapa karena perkimpoian masih terikat dirinya dengan salah satu dari kedua belah pihak dan atas dasar masih adanya perkimpoian dapat mengajukan pembatalan perkimpoian yang baru dengan tidak mengurangi ketentuan Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 Undang-undang ini.

Pasal 25
Permohonan pembatalan perkimpoian diajukan kepada Pengadilan dalam daerah hukum dimana perkimpoian dilangsungkan atau di tempat tinggal kedua suami isteri, suami atau isteri.

Pasal 26
1. Perkimpoian yang dilangsungkan dimuka pegawai pencatat perkimpoian yang tidak berwenang, wali nikah yang tidak sah atau yang dilangsungkan tanpa dihadiri oleh 2 (dua) orang saksi dapat dimintakan pembatalannya oleh para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dari suami atau isteri, jaksa dan suami atau isteri.
2. Hak untuk membatalkan oleh suami atau isteri berdasarkan alasan dalam ayat (1) pasal ini gugur apabila mereka telah hidup bersama sebagai suami isteri dan dapat memperlihatkan akta perkimpoian yang dibuat pegawai pencatat perkimpoian yang tidak berwenang dan perkimpoian harus diperbaharui supaya sah.

Pasal 27
1. Seorang suami atau isteri dapat mengajukan permohonan pembatalan perkimpoian apabila perkimpoian dilangsungkan di bawah ancaman yang melanggar hukum.
2. Seorang suami atau isteri dapat mengajukan permohonan pembatalan perkimpoian apabila pada waktu berlangsungnya perkimpoian terjadi salah sangka mengenai diri suami atau isteri.
3. Apabila ancaman telah berhenti, atau yang bersalah sangka itu menyadari keadaannya, dan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah itu masih tetap hidup sebagai suami isteri, dan tidak mempergunakan haknya untuk mengajukan permohonan pembatalan, maka haknya gugur.

Pasal 28
1. Batalnya suatu perkimpoian dimulai setelah keputusan Pengadilan mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan berlaku sejak saat berlangsungnya perkimpoian.
2. Keputusan tidak berlaku surut terhadap:
a. Anak-anak yang dilahirkan dari perkimpoian tersebut;
b. Suami atau isteri yang bertindak dengan iktikad baik, kecuali terhadap harta bersama, bila pembatalan perkimpoian didasarkan atas adanya perkimpoian lain yang lebih dahulu;
c. Orang-orang ketiga lainnya tidak termasuk dalam a dan b sepanjang mereka memperoleh hak-hak dengan iktikad baik sebelum keputusan tentang pembatalan mempunyai kekuatan hukum tetap.

BAB V
PERJANJIAN PERkimpoiAN

Pasal 29
1. Pada waktu atau sebelum perkimpoian dilangsungkan, kedua pihak atas persetujuan bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh Pegawai pencatat perkimpoian, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut.
2. Perjanjian tersebut tidak dapat disahkan bilamana melanggar batas-batas hukum, agama dan kesusilaan.
3. Perjanjian tersebut mulai berlaku sejak perkimpoian dilangsungkan.
4. Selama perkimpoian berlangsung perjanjian tersebut tidak dapat dirubah, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk merubah dan perubahan tidak merugikan pihak ketiga.

BAB VI
HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTERI

Pasal 30
1. Suami isteri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.

Pasal 31
1. Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat.
2. Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum.
3. Suami adalah kepala keluarga dan isteri ibu rumah tangga.

Pasal 32
1. Suami isteri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap.
2. Rumah tempat kediaman yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini ditentukan oleh suami isteri bersama.

Pasal 33
1. Suami isteri wajib saling cinta-mencintai hormat-menghormati, setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain.

Pasal 34
1. Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya.
2. Isteri wajib mengatur urusan rumahtangga sebaik-baiknya.
3. Jika suami atau isteri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan.

BAB VII
HARTA BENDA DALAM PERkimpoiAN

Pasal 35

1. Harta benda yang diperoleh selama perkimpoian menjadi harta bersama.
2. Harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah di bawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.

Pasal 36
1. Mengenai harta bersama, suami atau isteri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak.
2. Mengenai harta bawaan masing-masing, suami dan isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya.

Pasal 37
1. Bila perkimpoian putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing.

BAB VIII
PUTUSNYA PERkimpoiAN SERTA AKIBATNYA

Pasal 38

1. Perkimpoian dapat putus karena:
a. kematian,
b. perceraian dan
c. atas keputusan Pengadilan.

Pasal 39
1. Perceraian hanya dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
2. Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami isteri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami isteri.
3. Tatacara perceraian di depan sidang Pengadilan diatur dalam peraturan perundangan tersendiri.

Pasal 40
1. Gugatan perceraian diajukan kepada Pengadilan.
2. Tatacara mengajukan gugatan tersebut pada ayat (1) pasal ini diatur dalam peraturan perundangan tersendiri.

Pasal 41
1. Akibat putusnya perkimpoian karena perceraian ialah:
a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, sematamata berdasarkan kepentingan anak; bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, Pengadilan memberi keputusannya;
b. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu; bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut;
c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas isteri.


sambungan selanjutnya ada di post berikutnya...

Undang-undang No. 1 tahun 1974 part-3

BAB IX
KEDUDUKAN ANAK

Pasal 42

1. Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkimpoian yang sah.

Pasal 43
1. Anak yang dilahirkan di luar perkimpoian hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya.
2. Kedudukan anak tersebut ayat (1) di atas selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal 44
1. Seorang suami dapat menyangkal sahnya anak yang dilahirkan oleh isterinya, bilamana ia dapat membuktikan bahwa isterinya telah berzina dan anak itu akibat daripada perzinaan tersebut.
2. Pengadilan memberikan keputusan tentang sah/tidaknya anak atas permintaan pihak yang berkepentingan.

BAB X
HAK DAN KEWAJIBAN ANTARA ORANG TUA DAN ANAK

Pasal 45

1. Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya.
2. Kewajiban orang tua yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku sampai anak itu kimpoi atau dapat berdiri sendiri, kewajiban mana berlaku terus meskipun perkimpoian antara kedua orang tua putus.

Pasal 46
1. Anak wajib menghormati orang tua dan mentaati kehendak mereka yang baik.
2. Jika anak telah dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuannya, orang tua dan keluarga dalam garis lurus ke atas, bila mereka itu memerlukan bantuannya.

Pasal 47
1. Anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkimpoian ada di bawah kekuasaan orang tuanya selama mereka tidak dicabut dari kekuasaannya Orang tua mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan di luar Pengadilan.

Pasal 48
1. Orang tua tidak diperbolehkan memindahkan hak atau menggadaikan barang-barang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkimpoian, kecuali apabila kepentingan anak itu menghendakinya.

Pasal 49
1. Salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaannya terhadap seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua yang lain, keluarga anak dalam garis lurus ke atas dan saudara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang, dengan keputusan Pengadilan dalam hal-hal:
a. la sangat melalaikan kewajibannya terhadap anaknya;
b. la berkelakuan buruk sekali.
2. Meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, mereka masih tetap berkewajiban untuk memberi biaya pemeliharaan kepada anak tersebut.

BAB XI
PERWALIAN

Pasal 50

1. Anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkimpoian, yang tidak berada di bawah kekuasaan orang tua, berada di bawah kekuasaan wali.
2. Perwalian itu mengenai pribadi anak yang bersangkutan maupun harta bendanya.

Pasal 51
1. Wali dapat ditunjuk oleh satu orang tua yang menjalankan kekuasaan orang tua, sebelum ia meninggal, dengan surat wasiat atau dengan lisan di hadapan 2 (dua) orang saksi.
2. Wali sedapat-dapatnya diambil dari keluarga anak tersebut atau orang lain yang sudah dewasa, berpikiran sehat, adil, jujur dan berkelakuan baik.
3. Wali wajib mengurus anak yang di bawah penguasaannya dan harta bendanya sebaikbaiknya, dengan menghormati agama dan kepercayaan anak itu.
4. Wali wajib membuat daftar harta benda anak yang berada di bawah kekuasaannya pada waktu memulai jabatannya dan mencatat semua perubahan-perubahan harta benda anak atau anak-anak itu.
5. Wali bertanggung jawab tentang harta benda anak yang berada di bawah perwaliannya serta kerugian yang ditimbulkan karena kesalahan atau kelalaiannya.

Pasal 52
1. Terhadap wali berlaku juga Pasal 48 Undang-undang ini.

Pasal 53
1. Wali dapat dicabut dari kekuasaannya, dalam hal-hal yang tersebut dalam Pasal 49 Undangundang ini.
2. Dalam hal kekuasaan seorang wali dicabut, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, oleh Pengadilan ditunjuk orang lain sebagai wali.

Pasal 54
1. Wali yang telah menyebabkan kerugian kepada harta benda anak yang di bawah kekuasaannya, atas tuntutan anak atau keluarga anak tersebut dengan Keputusan Pengadilan, yang bersangkutan dapat diwajibkan untuk mengganti kerugian tersebut.

BAB XII
KETENTUAN-KETENTUAN LAIN

Bagian Pertama
Pembuktian asal-usul anak


Pasal 55
1. Asal-usul seorang anak hanya dapat dibuktikan dengan akta kelahiran yang autentik, yang dikeluarkan oleh Pejabat yang berwenang.
2. Bila akta kelahiran tersebut dalam ayat (1) pasal ini tidak ada, maka Pengadilan dapat mengeluarkan penetapan tentang asal-usul seorang anak setelah diadakan pemeriksaan yang teliti berdasarkan bukti-bukti yang memenuhi syarat.
3. Atas dasar ketentuan Pengadilan tersebut ayat (2) pasal ini, maka instansi pencatat kelahiran yang ada dalam daerah hukum Pengadilan yang bersangkutan mengeluarkan akta kelahiran bagi anak yang bersangkutan.

Bagian Kedua
Perkimpoian di Luar Indonesia


Pasal 56
1. Perkimpoian yang dilangsungkan di luar Indonesia antara dua orang warganegara Indonesia atau seorang warganegara Indonesia dengan warganegara Asing adalah sah bilamana dilakukan menurut hukum yang berlaku di negara dimana perkimpoian itu dilangsungkan dan bagi warganegara Indonesia tidak melanggar ketentuan-ketentuan Undang-undang ini.
2. Dalam waktu 1 (satu) tahun setelah suami isteri itu kembali di wilayah Indonesia, surat bukti perkimpoian mereka harus didaftarkan di Kantor Pencatatan Perkimpoian tempat tinggal mereka.

Bagian Ketiga
Perkimpoian Campuran

Pasal 57

1. Yang dimaksud dengan perkimpoian campuran dalam Undang-undang ini ialah perkimpoian antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.

Pasal 58
1. Bagi orang-orang yang berlainan kewarganegaraan yang melakukan perkimpoian campuran, dapat memperoleh kewarganegaraan dari suami/isterinya dan dapat pula kehilangan kewarganegaraannya, menurut сага-сага yang telah ditentukan dalam Undang-undang kewarganegaraan Republik Indonesia yang berlaku.

Pasal 59
1. Kewarganegaraan yang diperoleh sebagai akibat perkimpoian atau putusnya perkimpoian menentukan hukum yang berlaku, baik mengenai hukum publik maupun mengenai hukum perdata.
2. Perkimpoian campuran yang dilangsungkan di Indonesia dilakukan menurut Undang-undang Perkimpoian ini.

Pasal 60
1. Perkimpoian campuran tidak dapat dilangsungkan sebelum terbukti bahwa syarat-syarat perkimpoian yang ditentukan oleh hukum yang berlaku bagi pihak masing-masing telah dipenuhi.
2. Untuk membuktikan bahwa syarat-syarat tersebut dalam ayat (1)telah dipenuhi dan karena itu tidak ada rintangan untuk melangsungkan perkimpoian campuran, maka oleh mereka yang menurut hukum yang berlaku bagi pihak masing-masing berwenang mencatat perkimpoian, diberikan surat keterangan bahwa syarat-syarat telah dipenuhi.
3. Jika pejabat yang bersangkutan menolak untuk memberikan surat keterangan itu, maka atas permintaan yang berkepentingan, Pengadilan memberikan keputusan dengan tidak beracara serta tidak boleh dimintakan banding lagi tentang soal apakah penolakan pemberian surat keterangan itu beralasan atau tidak.
4. Jika Pengadilan memutuskan bahwa penolakan tidak beralasan, maka keputusan itu menjadi pengganti keterangan yang tersebut ayat (3).
5. Surat keterangan atau keputusan pengganti keterangan tidak mempunyai kekuatan lagi jika perkimpoian itu tidak dilangsungkan dalam masa 6 (enam) bulan sesudah keterangan itu diberikan.

Pasal 61
1. Perkimpoian campuran dicatat oleh pegawai pencatat yang berwenang.
2. Barang siapa melangsungkan perkimpoian campuran tanpa memperlihatkan lebih dahulu kepada pegawai pencatat yang berwenang surat keterangan atau keputusan pengganti keterangan yang disebut dalam Pasal 60 ayat (4) Undang-undang ini dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya 1 (satu) bulan.
2. Pegawai pencatat perkimpoian yang mencatat perkimpoian sedangkan ia mengetahui bahwa keterangan atau keputusan pengganti keterangan tidak ada, dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan dan dihukum jabatan.

Pasal 62
1. Dalam perkimpoian campuran kedudukan anak diatur sesuai dengan Pasal 59 ayat (1) Undang-undang ini.

Bagian Keempat
Pengadilan

Pasal 63

1. Yang dimaksud dengan Pengadilan dalam Undang-undang ini ialah:
a. Pengadilan Agama bagi mereka yang beragama Islam;
b. Pengadilan Umum bagi lainnya.
2. Setiap Keputusan Pengadilan Agama dikukuhkan oleh Pengadilan Umum.

bersambung gan ke posting selanjutnya....

Undang-undang No. 1 tahun 1974 part-4

BAB XIII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 64

1. Untuk perkimpoian dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkimpoian yang terjadi sebelum Undang-undang ini berlaku yang dijalankan menurut peraturan-peraturan lama, adalah sah.

Pasal 65
1. Dalam hal seorang suami beristeri lebih dari seorang baik berdasarkan hukum lama maupun berdasarkan Pasal 3 ayat (2) Undang-undang ini maka berlakulah ketentuan-ketentuan berikut:
a. Suami wajib memberi jaminan hidup yang sama kepada semua isteri dan anaknya;
b. Isteri yang kedua dan seterusnya tidak mempunyai hak atas harta bersama yang telah ada sebelum perkimpoian dengan isteri kedua atau berikutnya itu terjadi;
c. Semua isteri mempunyai hak yang sama atas harta bersama yang terjadi sejak perkimpoiannya masing-masing.
2. Jika Pengadilan yang memberi izin untuk beristeri lebih dari seorang menurut Undang-undang ini tidak menentukan lain, maka berlakulah ketentuan-ketentuan ayat (1) pasal ini.

BAB XIV
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 66

1. Untuk perkimpoian dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkimpoian berdasarkan atas Undang-undang ini, maka dengan berlakunya Undang-undang ini ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek), Ordonansi Perkimpoian Indonesia Kristen (Huwelijks Ordonantie Christen Indonesiers S.1933 No. 74), Peraturan Perkimpoian Campuran (Regeling op de gemengde Huwelijken S. 1898 No. 158), dan peraturan-peraturan lain yang mengatur tentang perkimpoian sejauh telah diatur dalam Undang-undang ini, dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 67
1. Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkannya, yang pelaksanaannya secara efektif lebih lanjut akan diatur dengan Peraturan Pemerintah.
2. Hal-hal dalam Undang-undang ini yang memerlukan pengaturan pelaksanaan, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
3. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

selesai gan....
bookmark dulu, baru kemaren mau ngurus surat2 buat nikah eh ke stuck sama kartu kk calon suami yang bermasalah, jadinya nunggu2 lagi deh, huhu
halo agan2, ikutan nimbrung yah..

ane akhir taun rencana married nih dan sekarang lagi ngurus surat2 nyah..
ane jakarta n calon ane kabupaten temanggung jawa tengah.. pemberkatan gereja rencana di temanggung, dan sekalian catatan sipil disana.

untuk syarat2 nya, apakah memang perlu pakai fotocopy yang dilegalisir? karena kalau saya baca2 kok bisa pakai fotocopy saja (sperti KTP, KK, dan akta lahir)..

karena untuk mengurus legalisir ini yang agak susah, domisili skg di serpong sedangkan untuk ngurus mesti ke daerah cakung (hampir bekasi). belum lagi akta kelahiran ane terbitan jakarta barat.

apakah emang di semua catatan sipil begitu? untuk dokumen yang bukan asli harus fotocopy legalisir?

thanks
Sharing Pengalaman, Nyokap Ane pas ngurusin NIkahan KAKA gw

Setelah bayar berbagai macam biaya administrasi, nyokap dipanggil ke penghulunya, Penghulunya bilang: Kalau Menikah di rumah tarif beliau 600rebu, kalau di gedung di kali 3 aja, tapi biar gampang di genapin aja 2 juta!!!

Kampret memang tu penghulu, Oknum Maksudnya, pake masang tarif segala....
Itulah PUNGLI oleh seseorang yang ngerti Agama....