KASKUS

Tempat-tempat keramat, petilasan, ziarah di Malang dan sekitarnya

merujuk hasil kumpul2(gath perdana) forsup malang, ijinkanlah saya yang masih newbie ini untuk memperkenalkan tempat2 dan petilasan dikota malang yang mempunyai unsur mistis di kota malang. karena saya masih newbie, jika ada kekurangan informasi mohon dimaafkan dan mohon kpd para sesepuh yg lebih tahu untuk melengkapi.

ane mulai dari tempat2 wisata dikota malang:
Gunung Kawi, terletak di wilayah Kecamatan Wonosari. Terkenal sebagai tempat wisata spiritual.
Gunung Arjuno-Welirang, sering dipakai untuk pendakian dengan rute Junggo, Cangar, Singosari, Lawang, Purwosari, atau Pandaan.
Pos Jemplang - Desa Ngadas Bromo lewat Gubuk Klakah - Kecamatan Poncokusumo.
Waduk Selorejo, terletak di Kecamatan Ngantang (di tepi jalan raya Malang-Jombang)
Bendungan Sutami, terletak di Kecamatan Sumberpucung.
Taman Ria Sengkaling, terletak di tepi jalan raya Malang-Batu, terdapat kolam renang dan taman bermain.
Wendit Water Park, terletak di jalan raya Mangliawan Pakis. Sebuah tempat wisata yang baru saja di renovasi. Obyek wisata ini terkenal dengan sumber airnya dan kera-nya.
Air terjun Coban Rondo, terletak di Kecamatan Pujon.
Air terjun Coban Talun, Coban Rais.
Air terjun Coban Pelangi, terletak di Kecamatan Poncokusumo.
Air terjun Coban Glothak, terletak di Kecamatan Wagir.
Pemandian Dewi Sri, terletak di Kecamatan Pujon, menyajikan wisata pemandian air pegunungan. Wisata ini berada di dekat Pasar Pujon sebagai sentra pemasaran buah dan sayur mayur (Terminal Agribisnis Mantung).
Pemandian Ken Dedes, terletak di Kecamatan Singosari
Candi Singosari dan arca Dwarapala, terletak di [[Singosari, Malang|Kecamatan Singosari], Candi Jago di [[kecamatan Jabung]] serta candi Kidal di kecamatan Tumpang semua candi di kabupaten malang sebagian besar adalah peninggalan sejarah kerajaan Singhasari.
Pantai Ngliyep, Bajulmati, Sipelot, Sendangbiru, dan Balekambang di pantai selatan.
Pulau Sempu, pulau ini berada di wilayah Pantai Sendangbiru. Pulau ini memiliki pesona keindahan alam yang masih alami. Serta Pulau Wisanggeni di Pantai Balekambang yang di atasnya berdiri sebuah Pura dengan panorama mirip Tanah Lot Bali.
Kasembon Rafting, merupakan obyek wisata bagi pencinta olahraga arung jeram, terletak di kecamatan Kasembon (70 km barat kota Malang).
Kebun Teh PTPN Wonosari di kecamatan Lawang, terdapat agrowisata serta cottage yang dapat disewa jika ingin berlibur.
Pemandian Umbulan,merupakan pemandian bernuansa pegunungan terletak di Kecamatan Dampit tepatnya di Des Ubalan.

Tempat2 yg mempunyai unsur mistis/supranatural di kodya malang:

1. Petilasan/Makam Ki Ageng Gribig.
Makam ini terletak pada perbatasan antara kec. kedungkandang(desa madyopuro) dng kecamatan tumpang dan kecamatan tajinan. Ki Ageng Gribig dipercaya sebagai orang linuwih yg menumbali/memagari kota malang. ditempat ini energi positif terasa begitu kuat. ketika kita bersemedi ato berdzikir ditempat ini, tak jarang cahaya kebiru-biruan terlihat disekitar makam. para pelaku supranatural sering melakukan olah laku ataupun menarik benda pusaka di tempat ini. meskipun tempat ini mempunyai energi positif, namun tak jarang para pelaku supranatural di ganggu oleh jin2 jail disekitar tempat ini.
Pada Peringatan malam 1 syuro, Bpk walikota/bupati selalu mengadakan pertunjukan wayang kulit di tempat ini. menurut pengamatan ts ditempat ini terdapat satu pusaka yg tertancap didalam pohon yg belum diambil/ditarik oleh para pelaku spiritual, entah mengapa..ane jg ga tahu.

2. Komplek Universitas brawijaya
ditempat para mahasiswa/wi menuntut ilmu ini, dpt dirasakan energi yg begitu kuat. konon pada jaman dahulu (era kehancuran majapahit), tempat ini adalah sebuah benteng kerajaan majapahit. ketika kerajaan majapahit terdesak oleh pasukan kerajaan demak, para pemuka dan pengikut kerajaan majapahit hijrah dari satu tempat ke tempat yang lain dan komplek universitas brawijaya dipercaya sbg tempat pertama yg mereka singgahi, dan kemudian mereka membuat sebuah pusat kota yg lebih cocok disebut benteng di komplek ini. Bagi anda yg kuat mata bathinnya, ketika anda memasuki komplek ini lewat pintu utama, beberapa meter setelah melewati pos satpan. InsyaAllah anda akan melihat sebuah simbol diangkasa yg merupakan simbol kebesaran kerajaan majapahit. ketika berkonsentrasi melihat isi bumi(bwh tanah) jika beruntung anda juga akan melihat beberap petilasan(candi) dibawah komplek ini. TS berharap rekan2 tidak mengambil benda apapun dr tempat ini demi kenyamanan para penuntut ilmu pengetahuan di universitas brawijaya.

(TS dlm kompleks Unibraw).

3. Kali Metro.
Kali metro terletak di sepanjang kecamatan suku, namun tempat yg energinya terasa kuat berada di dsn. bebekan ds. bandulan kec sukun. pada malam2 tertentu terutama pada bulan syuro, kita bisa menjumpai para pelaku supranatural yg melakukan tapa kungkum untuk menyucikan diri dan untuk menambah ato memperoleh kekuatan supranatural. mereka yg melakukan tapa kungkum tidak hanya bangsa manusia namun juga bangsa jin(pada malam 1 s/d malam 10 syuro). di desa bebekan terdapat seorang linuwih yg beraliran kejawen yg dikenal dng nama "Eyang Pipo" beliau berumur kurang lebih antara 55-63th. TS sempat mampir bersilaturahmi ke rumah Eyang Pipo, Ts merasakan energi yg begitu kuat pada Beliau yg sengaja ditutup-tutupi (dikunci agar orang lain tidak tahu). beliau mempunyai beberapa murid dr berbagai kota. murid2 ini berkumpul 1 th sekali yaitu pada malam 1 syuro ato pada tgl 1 syuro(malam hari).
pertamax
nice inpo gan......:maho
fotonya kok ga ada
gunung kimpoiya bagus om
memang ternyata pesugihan itu cuma salah satu saja aspek dr gunung kawi
karena selain pesugihan yg dibicarakan banyak orang
disana adalah tempat untuk menenangkan diri dan juga merenung yg baik

dua makam yg terkenal ternyata berasa dr keraton yogya dan surakarta
yaitu panembahan jugo dan kyai imam ya kalo ga salah? (lupa)
mereka adalah salah satu pengikut pangeran diponegoro yang menghabiskan waktu untuk ebrdakwah setelah perlawanan pangeran diponegoro dipatahkan secara licik oleh belanda.

ada suatu misteri besar, bahwa hampir diseluruh kota di jawa terdapat petilasan para pengikut pangeran diponegoro.
bahas soal singosari donk om
dan juga peninggalan serta khadam khadam dr era kerajaan yang merubah sejarah jawa tersebut
lanjut om
nanya dan request dong tetang majsid kuno tempat para bupati malang di makamkan
Quote:Original Posted By prabuanom
lanjut om
nanya dan request dong tetang majsid kuno tempat para bupati malang di makamkan


nunggu giliran ya om...
2.Candi Singosari/ Candi Kendedes
Cara pembuatan candi Singhasari ini dengan sistem menumpuk batu andhesit hingga ketinggian tertentu selanjutnya diteruskan dengan mengukir dari atas baru turun ke bawah. (Bukan seperti membangun rumah seperti saat ini).Candi ini berlokasi di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, (sekitar 10km dari Kota Malang) terletak pada lembah di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna di ketinggian 512m dari permukaan laut.

Berdasarkan penyebutannya pada Kitab Negarakertagama pupuh 37:7 dan 38:3 serta Prasasti Gajah Mada bertanggal 1351 Masehi di halaman komplek candi, candi ini merupakan tempat "pendharmaan" bagi raja Singasari terakhir, Sang Kertanegara, yang mangkat pada tahun 1292 akibat istana diserang tentara Kediri. Kuat dugaan, candi ini tidak pernah selesai dibangun.
Candi Singosari atau yang sering disebut dengan nama Candi Ken Dedes. Candi Singosari merupakan tempat dimakamkannya Raja Kertanegara ( 1268 - 1292 ) sebagai Bhirawa atau dewa Syiwa dalam bentuk ganas.

Komplek percandian menempati areal 200m×400m dan terdiri dari beberapa candi. Di sisi barat laut komplek terdapat sepasang arca raksasa besar (tinggi hampir 4m, disebut dwarapala) dan posisi Gada (Senjata ) menghadap kebawah, ini menunjukkan meskipun penjaganya raksasi "RAKSASA" tapi masih ada rasa kasih sayang terhadap semua mahkluk hidup dan ungkapan selamat datang bagi semuanya. Dan posisi arca ini hanya ada di Singhasari, tidak ada di tempat ataupun kerajaan lainnya. Dan di dekatnya arca Dwarapala terdapat alun-alun. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa candi terletak di komplek pusat kerajaan. Letak candi Singhasari yang dekat dengan kedua arca dwarapala menjadi menarik ketika dikaitkan dengan ajaran Saiwa yang mengatakan bahwa dewa Siwa bersemayam di puncak Kailasa dalam wujud lingga, batas Timur terdapat gerbang dengan Ganesha atau Ganapati sebagai penjaganya, gerbang Barat dijaga oleh Kala dan Amungkala, gerbang Selatan dijaga oleh Resi Agastya, gerbang Utara dijaga oleh Batari Gori. Karena letak candi Singhasari yang sangat dekat dengan kedua arca tersebut yang terdapat pada jalan menuju ke gunung Arjuna, penggunaan candi ini diperkirakan tidak terlepas dari keberadaan gunung Arjuna dan para pertapa yang bersemayam di puncak gunung ini pada waktu itu.

Bangunan candi utama dibuat dari batu andesit, menghadap ke barat, berdiri pada alas bujursangkar berukuran 14m×14m dan tinggi candi 15m. Candi ini kaya akan ornamen ukiran, arca, dan relief. Di dalam ruang utama terdapat lingga dan yoni. Terdapat pula bilik-bilik lain: di utara (dulu berisi arca Durga yang sudah hilang), timur yang dulu berisi arca Ganesha, serta sisi selatan yang berisi arca Siwa-Guru (Resi Agastya). Di komplek candi ini juga berdiri arca Prajnaparamita, dewi kebijaksanaan, yang sekarang ditempatkan di Museum Nasional, Jakarta. Arca-arca lain berada di Institut Tropika Kerajaan, Leiden, Belanda, kecuali arca Agastya.

Tak jauh dari candi ini terdapat sebuah kolam sumber air yg dipercaya sebagai tempat mandi Ratu Ken Dedes. Tempat ini mempunyai aura pengasihan yg kuat. Beberapa orang percaya Jika kita mandi/kungkum pd malam2 tertentu dan dng ritual tertentu, maka akan membuat kita Nampak cantik/ganteng dan awet muda.

Lokasi
Kecamatan Singosari
Malang



3.Candi Sumberawan.
Candi Sumber awan terletak di kaki bukit gunung Arjuno. Lokasinya sekitar 1 km dari candi singosari/candi kendedes. Candi ini salah satu candi budha/beraliran agama budha. Candi ini dipercaya sbg candi peribadatan Raja Hayam Wuruk
Pengunjung dapat mengikuti mengikuti putaran doa, mulai putaran pertama dan memulai dari awal lagi , dengan memetik bunga disekeliling candi berwarna hitam kemudian letakkan dengan harapan bahwa……(tujuan anda), ulangi putaran untuk keuda kalinya,mungkin anda biisa beruntung dihinggapi berbagai kupu2 yg dipercaya bahwa doa tersampaikan.

Lokasi
Kecamatan Singosari
Malang





4.Pemandian Watu Gedhe
Konon Pemandian Watugede merupakan tempat pemandian bagi Raja - raja Singosari. Yang cukup menarik dari obyek wisata ini adalah sumber airnya yang tersebar disisi pemandian dengan debit air yang cukup tinggi.
Ritual Kungkum pada malam2 tertentu di tempat ini, dipercaya berguna untuk meningkatkan kharisma dan wibawa seorang laki-laki

Lokasi
Kecamatan Singosari
Malang

Quote:Original Posted By mandevu
nunggu giliran ya om...

sips om
maaf triple gara gara kaskus eror
1. Pesarean Gunung Kawi
Gunung Kawi terletak pada ketinggian 2.860 meter dari permukaan laut,
terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, tepatnya di Kecamatan
Wonosari, sekitar 40 km sebelah barat Kota Malang. Dulu daerah ini
disebut Ngajum. Namanya berubah menjadi Wonosari karena di tempat ini
terdapat obyek wisata spiritual. Wono diartikan sebagai hutan,
sedangkan Sari berarti inti. Namun bagi warga setempat, Wonosari
dimaksudkan sebagai pusat atau tempat yang mendatangkan rezeki.
Kecamatan Wonosari memiliki luas hampir 67 kilometer persegi, dengan
jumlah penduduk 43 ribu jiwa. Tempat ini berkembang menjadi daerah
tujuan wisata ziarah sejak tahun 1980-an.

Sebenarnya bukanlah Gunung Kawi-nya yang membuat tempat ini terkenal,
tetapi adanya sebuah kompleks pemakaman di lereng selatan yang
dikeramatkan, yaitu makam Eyang Kyai Zakaria alias Eyang Jugo, dan
Raden Mas Imam Sujono, alias Eyang Sujo. Penduduk setempat menyebut
area pemakaman tersebut dengan nama "Pesarean Gunung Kawi". Pesarean
yang terletak di ketinggian sekitar 800 m ini walaupun berada di
lereng gunung, namun mudah dijangkau, karena selain jalannya bagus,
banyak angkutan umum yang menuju ke sana. Dari terminal Desa
Wonosari, perjalanan diteruskan dengan berjalan mendaki menyusuri
jalan bertangga semen yang berjarak kira-kira 750 m. Sepanjang
perjalanan mendaki ini dapat dijumpai restoran, hotel, kios souvenir
dan lapak-lapak yang menjual perlengkapan ritual. Setelah melewati
beberapa gerbang, di ujung jalan didapati sebuah gapura, pintu masuk
makam keramat. Makam yang menjadi pusat dari kompleks Pesarean Gunung
Kawi. Makam yang menjadi magnet untuk menarik puluhan ribu orang
datang setiap tahunnya.


Mitos Pesugihan


Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari kekayaan
(pesugihan). Konon, barang siapa melakukan ritual dengan rasa
kepasrahan dan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul
permintaanya, terutama menyangkut tentang kekayaan.

Mitos ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah
merasakan "berkah" berziarah ke Gunung Kawi. Namun bagi kalangan
rasionalis-positivis, hal ini merupakan isapan jempol belaka.

Mitos dalam bahasa sehari-hari diartikan sebagai cerita bohong, kepalsuan,
dan hal-hal yang berbau dongeng (tahayul). Dalam bahasa Inggris, myth
yang mengadopsi bahasa Latin mythus berarti penuturan khayali belaka.
Antropolog memandang mitos sebagai sesuatu yang diperlukan manusia
untuk menjelaskan alam lingkungan di sekitarnya, dan juga sejarah
masa lampaunya. Dalam hal ini, mitos dianggap sebagai semacam
pelukisan atas kenyataan dalam bentuk yang disederhanakan sehingga
dipahami oleh awam (Ruslani, 2006: 5). Namun mitos, bagi kalangan
penganut strukturalisme-fungsional juga dianggap penting karena
berfungsi sebagai penyedia rasa makna hidup yang membuat orang yang
bersangkutan tidak menjadi sia-sia hidupnya. Perasaan bahwa hidup ini
berguna dan bertujuan lebih tinggi daripada pengalaman keseharian
merupakan unsur penting dalam kebahagiaan.

Biasanya lonjakan masyarakat yang melakukan ritual terjadi pada hari
Jumat Legi ( hari pemakaman Eyang Jugo) dan tanggal 12 bulan Suro
(memperingati wafatnya Eyang Sujo). Ritual dilakukan dengan
meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam,
berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan.

Di dalam bangunan makam, pengunjung tidak boleh memikirkan sesuatu
yang tidak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa
di depan makam. Hal ini menunjukkan simbol bahwa pengunjung harus
suci lahir dan batin sebelum berdoa.

Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat
tempat-tempat lain yang dikunjungi karena 'dikeramatkan' dan
dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk mendatangakan keberuntungan,
antara lain:

1. Rumah Padepokan Eyang Sujo

Rumah padepokan ini semula dikuasakan kepada pengikut terdekat Eyang
Sujo yang bernama Ki Maridun. Di tempat ini terdapat berbagai
peninggalan yang dikeramatkan milik Eyang Sujo, antara lain adalah
bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa, serta tombak
pusaka semasa perang Diponegoro.

2. Guci Kuno

Dua buah guci kuno merupakan peninggalan Eyang Jugo. Pada jaman dulu
guci kuno ini dipakai untuk menyimpan air suci untuk pengobatan.
Masyarakat sering menyebutnya dengan nama 'janjam'. Mungkin ingin
menganalogkan dengan air zamzam dari Padang Arafah yang memiliki
aneka khasiat. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri
pesarean. Masyarakat meyakini bahwa dengan meminum air dari guci ini
akan membikin seseorang menjadi awet muda.

3. Pohon Dewandaru

Di area pesarean, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan
keberuntungan. Pohon ini disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran.
Pohon yang termasuk jenis cereme Belanda ini oleh orang Tionghoa
disebut sebagai shian-to atau pohon dewa. Eyang Jugo dan Eyang Sujo
menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman. Untuk
mendapat 'simbol perantara kekayaan', para peziarah menunggu dahan,
buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka
langsung berebut. Untuk memanfaatkannya sebagai azimat, biasanya daun
itu dibungkus dengan selembar uang kemudian disimpan ke dalam dompet.
Namun, untuk mendapatkan daun dan buah dewandaru diperlukan
kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan
berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan
datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran.

Pejuang Diponegoro

Siapakah sesungguhnya Eyang Jugo dan Eyang Sujo, yang dimakamkan
dalam satu liang lahat di pesarean Gunung Kawi ini? Menurut
Soeryowidagdo (1989), Eyang Jugo atau Kyai Zakaria II dan Eyang Sujo
atau Raden Mas Iman Sudjono adalah bhayangkara terdekat Pangeran
Diponegoro. Pada tahun 1830 saat perjuangan terpecah belah oleh
siasat kompeni, dan Pangeran Diponegoro tertangkap kemudian
diasingkan ke Makasar, Eyang Jugo dan Eyang Sujo mengasingkan diri ke
wilayah Gunung Kawi ini.

Semenjak itu mereka berdua tidak lagi berjuang dengan mengangkat
senjata, tetapi mengubah perjuangan melalui pendidikan. Kedua mantan
bhayangkara balatentara Pangeran Diponegoro ini, selain berdakwah
agama islam dan mengajarkan ajaran moral kejawen, juga mengajarkan
cara bercocok tanam, pengobatan, olah kanuragan serta ketrampilan
lain yang berguna bagi penduduk setempat. Perbuatan dan karya mereka
sangat dihargai oleh penduduk di daerah tersebut, sehingga banyak
masyarakat dari daerah kabupaten Malang dan Blitar datang ke
padepokan mereka untuk menjadi murid atau pengikutnya.

Setelah Eyang Jugo meninggal tahun 1871, dan menyusul Eyang Iman Sujo
tahun 1876, para murid dan pengikutnya tetap menghormatinya. Setiap
tahun, para keturunan, pengikut dan juga para peziarah lain datang ke
makam mereka melakukan peringatan. Setiap malam Jumat Legi, malam
meninggalnya Eyang Jugo, dan juga peringatan wafatnya Eyang Sujo
setiap tanggal 1 bulan Suro (muharram), di tempat ini selalu diadakan
perayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya. Upacara ini
biasanya dipimpin oleh juru kunci makam yang masih merupakan para
keturunan Eyang Sujo.

Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya
membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun
para peziarah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji,
semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam
keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja, mereka
berjalan dengan lutut.

Hingga dewasa ini pesarean tersebut telah banyak dikunjungi oleh
berbagai kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka bukan saja
berasal dari daerah Malang, Surabaya, atau daerah lain yang
berdekatan dengan lokasi pesarean, tetapi juga dari berbagai penjuru
tanah air. Heterogenitas pengunjung seperti ini mengindikasikan bahwa
sosok kedua tokoh ini adalah tokoh yang kharismatik dan populis.

Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini
pun sangat beragam pula. Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan
leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum adalah
kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul.


Ritual dalam Komodifikasi Budaya

Pada setiap malam Satu Suro (Muharram), area Pesarean Gunung Kawi
dikunjungi oleh ribuan orang peziarah dari berbagai kota dan daerah
telah berdatangan sejak sore hari. Mereka memenuhi penginapan-
penginapan yang memang banyak terdapat di daerah sekitar pesarean
(makam). Sambil beristirahat, mereka menunggu saat datangnya tengah
malam di mana berbagai upacara ritual akan diselenggarakan. Para
pedagang bunga, kemenyan, lilin, hio (dupa) dan perlengkapan sesaji
lainnya sibuk melayani para peziarah. Sementara itu beberapa ibu-ibu
menggoreng ratusan ekor ayam utuh yang dipesan para peziarah untuk
upacara sesaji malam harinya.

Seiring dengan itu pada keesokan harinya diadakan kirab sesaji dan
pembakaran patung simbol sangkala (Bathara Kala). Bencana yang terus
menerus melanda bumi Indonesia membuat masyarakat prihatin. Sikap
prihatin inipun diungkapkan dalam prosesi kirab sesaji di pesarean
Eyang Jugo dan Eyang Sujo melalui upacara pembakaran patung sangkala
atau ogoh-ogoh. Patung sangkala atau ogoh-ogoh, dikenal sebagai
simbol keangkaramurkaan dan malapetaka. Dengan dibakarnya patung ini,
diharapkan sifat keangkaramurkaan dan malapetaka bisa lenyap dari
bumi pertiwi. Prosesi kirab ini diikuti oleh seluruh elemen
masyarakat Wonosari, diawali dengan kirab sesaji dari lapangan desa
setempat kemudian diarak berjalan menuju ke pesarean. Di akhir
prosesi, patung sangkala dibakar oleh Kepala Desa Wonosari, sementara
pengusung patung, yang memakai pakaian serba hitam, menari-nari
layaknya kesetanan.

Melihat potret suasana tersebut, Pesarean Gunung Kawi lebih mirip
pasar raya dari pada sebuah kompleks pemakaman. Pertunjukan wayang
kulit, musik dangdut, serta barongsai pun ikut meramaikan suasana.
Kesan seram, angker, dan tempat mencari kekayaan yang seperti yang
dibayangkan, pada saat itu seolah tenggelam oleh hingar-bingar para
pengunjung.

Ketika zaman berubah, motif spiritual juga terus bergeser. Dengan
dalih estetika, nampaknya pihak pemerintah daerah setempat merasa
perubahan `tampilan' upacara ritual sudah merupakan kebutuhan. Dengan
diciptakannya upacara ritual yang semakin meriah. Banyak yang
bernilai jual di sana-sini. Fungsi latennya sudah bisa ditebak, yaitu
agar upacara ritual bisa lebih enak ditonton, berselera pasar, dan
selanjutnya bisa mendongkrak pendapatan daerah (marketable). Tak
peduli apakah kreasi ini meninggalkan sisi nilai-nilai ritual atau
mengabaikan makna bagi komunitas pemiliknya. Kondisi semacam ini
menurut Theodore Adorno dan Horkheimer bisa disebut sebagai
komodifikasi budaya (Agger, 2006: 179). Kedua tokoh aliran sosiologi
kritis asal Jerman ini melihat bahwa budaya di era kapital serta
industrialisasi ini telah menjelma sebagai sebuah komoditas. Artinya,
suatu fenomena budaya akan diproduksi terus menerus dan dimodifikasi
untuk memperoleh keuntungan.

Etnis Tionghoa dan Pesan Multikultural

Dengan berjalannya waktu, sekarang boleh dibilang lebih banyak
masyarakat Tionghoa yang datang berziarah daripada masyarakat Jawa
sendiri. Bahkan dalam hari-hari tertentu, seperti hari raya Imlek dan
Tahun Baru Islam, jumlah masyarakat Tionghoa yang datang berziarah
jauh lebih banyak daripada masyarakat Jawa sendiri.

Keikutsertaan warga Tionghoa dalam lingkungan perziarahan di Pesarean
Gunung Kawi sebenarnya dimulai dari seorang yang bernama Tan Kie Lam.
Pada waktu itu ia sempat diobati dan disembuhkan oleh Eyang Sujo
berkat air guci wasiat peninggalan Eyang Jugo. Kemudian, Tan Kie Lam
pun ikut berguru di padepokan gunung kawi dan tinggal di sana.
Sebagai seorang Tionghoa, ia mungkin merasa kurang pas dengan ikut
cara ritual masyarakat Jawa. Akhirnya, ia mendirikan
sebuah "kelenteng kecil"-nya sendiri untuk bersembahyang dan untuk
menghormati kedua almarhum gurunya.

Tetapi yang membuat Pesarean Gunung Kawi ini terkenal adalah seorang
Tionghoa yang kemudian menjadi pediri perusahaan rokok Bentoel -
sebuah perusahaan rokok besar yang pernah berdiri di Malang. Konon,
sang pendiri PT. Bentoel ini, ketika itu datang untuk berguru olah-
kanuragan di padepokan Gunung Kawi. Tetapi oleh sang juru kunci niat
itu ditolak dengan alasan bahwa ia tidak pantas menjadi seorang
pendekar, tetapi lebih cocok menjadi pedagang saja. Sang juru kunci
lantas menyarankan ia pulang saja, sambil membekalinya dua batang
bentoel (umbi-umbian).

Sesampai di rumah, ia berpikir bahwa oleh-oleh dua batang bentoel ini pasti
punya arti. Akhirnya, ia menggunakan Cap Bentoel sebagai merk
usahanya. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya, perusahan rokok Cap
Bentoel maju pesat. Dan sebagai tanda terima kasih dan baktinya
terhadap Eyang Jugo dan Eyang Sudjo, ia membagun jalan dan prasarana-
prasarana di kompleks Pesarean Gunung Kawi tersebut.

Rupanya, kabar hubungan antara kesuksesan Rokok Bentoel dan pesarean
Gunung Kawi dengan cepat menyebar luas di kalangan masyarakat
Tionghoa. Akibatnya banyak masyarakat Tionghoa berbondong-bondong
datang ke sana. Selain mengikuti upacara ritual standar Islam-Kejawen
yang dilakukan oleh para juru kunci makam, para peziarah Tionghoa
juga melakukan ritual tionghoanya. Segera saja klenteng kecil buatan
Tan Kie Lam dirasa tak bisa lagi menampung membanjirnya kaum Tionghoa
yang ingin bersembahyang. Untuk itu dibangunlah tiga buah kelenteng
kecil yang letaknya lebih dekat lagi dengan makam. Di ketiga
kelenteng ini diisi oleh Dewa Bumi Ti Kong, Dewi Kwan Im, dan
kelenteng khusus untuk Ciam-si (ramalan). Sering terlihat lilin-lilin
merah besar yang tingginya 2m atau lebih berjejalan memenuhi
kelenteng ini. Di atas sampul plastik lilin-lilin tersebut biasanya
tertulis permohonan dari perusahaan atau keluarga tertentu. Sedangkan
di areal pesarean dibangun sebuah masjid yang cukup megah, yang
menurut petugas pemandu merupakan sumbangan seorang konglomerat di
Indonesia.

Memang, kecuali dalam pendopo makam, di hampir semua tempat di
kompleks makam yang dikeramatkan oleh masyarakat Jawa, seperti
Padepokan Eyang Iman Sujono, bekas rumah tinggal Tan Kie Lam, dan
pemandian Sumber Manggis, semuanya juga diletakkan altar ritulal khas
Tionghoa. Bahkan kedua Eyang mendapat julukan dalam bahasa Tionghoa.
Eyang Djego disebut Taw Low She atau Guru Besar Pertama, sedangkan
Djie Low She atau Guru Besar Kedua adalah sebutan untuk Eyang Iman
Sujo.

Hasil akhirnya, sekarang kompleks pesarean Gunung Kawi menjadi tempat
percampuran budaya dan ritual khas Jawa dan Tionghoa. Bagi mereka
yang pertama kali datang ke gunung kawi pastilah akan mengkerutkan
dahi melihat apa yang terjadi di sini.

Adalah menjadi pemandangan rutin di kelenteng Gunung Kawi bila
melihat seorang Jawa bersarung dan bertopi haji dengan khitmatnya
bersoja dengan hio di tangan, sementara di sampingnya seorang ibu
berkerudung sedang dengan penuh konsentrasi mengocok bambu ramalan
(ciam-si). Dan kalau diperhatikan, ternyata para `petugas kelenteng'
gunung Kawi ini pun ternyata kebanyakan adalah warga Jawa.

Pada setiap upacara perayaan ritual, setelah lepas malam, para
peziarah Jawa dan Tionghoa larut dalam kegiatannya. Mereka berjalan
berlawanan arah jarum jam mengelilingi pendopo sebanyak tujuh kali,
dengan setiap saat berhenti di depan pintu sisi utara, timur, selatan
dan barat, sambil menghormat ke dalam makam.

Sementara itu, di dalam pendopo makam dipenuhi para peziarah Jawa dan
Tionghoa yang memiliki niatan khusus. Sambil membawa bunga dan
kemenyan, mereka dengan sabar menunggu giliran didoakan di depan
nisan oleh para asisten juru kunci. Setelah doa dalam bahasa Jawa dan
Arab digumamkan, biasanya para peziarah akan mendapat "bunga layon"
(bunga layu) yang sudah ditaburkan dari makam. Khabarnya bunga
tersebut memiliki khasiat pembawa rezeki dan pengobatan. Uniknya,
banyak peziarah yang menempatkan bunga tersebut di kantong merah dan
kuning yang bergambar lambang Pakua dan bertuliskan huruf Tionghoa.
Yang merah cocok untuk ditempatkan di tempat usaha, sedangkan yang
kuning di bawa pulang untuk digantung di dalam rumah.

Berbaurnya unsur budaya dalam sebuah ritual antara budaya Jawa dan
Tionghoa ini terlihat mencolok lagi pada peringatan Malam Satu Suro
lalu. Dalam kompleks pemakaman tersebut, tempat pertunjukan wayang
kulit dengan lakon tertentu sering dipesan oleh warga Tionghoa
sebagai hajat nadarnya. Sedangkan pada acara yang sama beberapa warga
masyarakat Jawa berpartisipasi memberikan angpau atau malah menjadi
bagian dari penari barongsai yang sedang beraksi.

Dalam kacamata budaya, ada hal yang menarik dalam fenomena ini.
Mayoritas pelaku ritual adalah penduduk asli yang berpakaian adat
Jawa Timuran sambil membawa tandu-tandu berisisi aneka sesembahan,
namun di tengah iring-iringan warga Jawa dan Tionghoa yang juga
diiringi tarian Jawa ini menyelip juga barongsai, tarian singa khas
Tionghoa. Entah apakah peristiwa semacam ini pernah terlintas di
benak oleh Eyang Jugo dan Eyang Iman Sujo semasa hidupnya. Tapi yang
jelas, upacara semacam ini dapat menjadi pemersatu antaretnis yang
membawa pesan multikultural, yakni kerukunan dan perdamaian

5.Candi Jago/Jajaghu
Candi jago dibangun pada kisaran tahun 1275 – 1300. Candi ini dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir Raja wisnuwardhana, Raja ke empat kerajaan singosari. Ornamen di candi ini mempunyai persamaan dng ormanen yg ada di Candi Penataran Kota Blitar

Lokasi
Kecamatan Tumpang/malang bag timur (22km)
Malang





6.Candi Kidal
Candi ini terletak di Desa Rejo Kidal kec. Tumpang(malang bagian timur), sekitar 24 km dari kota malang. Ukuran Candi ini sebenarnya 17 m, tapi sekarang ini tinggal 12,4 m sebagai akibat dari pergerakan tanah dan beberapa bencana. Pintu Masuk candi ini berada di sebelah barat candi, diantara pintu masuk terdapat kepala butho kala dan singa. Ornament/relief pada candi ini mengisahkan bagian dari kisah Mahabarata. Merasakan suasana di sekitar candi, mungkin pada zaman dahulu candi ini digunakan sebagai tempat sembahyang/pemujaan.

Lokasi
Kecamatan Tumpang/malang bag timur (24km)
Malang



Beberapa orang (terutama penduduk kec. Tumpang) mempercayai bahwa abu jenazah Mpu Sendok di makamkan disalah satu tempat di kec. Tumpang, namun sayang TS tidak mengetahui lokasi tempat tsb. Beberapa Candi seperti candi Jago, Candi Kidal dan Candi Singosari/ken dedes telah menjadi obyek wisata bagi turis mancanegara dan turis local, namun aura supranatural masih dapat dirasakan di candi2 tsb, sayangnya beberapa candi (kidal, jago,sumberawan) perjalan ke candi tsb tidak dapat dilakukan pada malam hari, hal ini dikarenakan lokasi yg jauh dan pedalaman membuat rawan akan perampasan sepeda motor dan tindak kriminal lainnya.
Quote:Original Posted By prabuanom
bahas soal singosari donk om
dan juga peninggalan serta khadam khadam dr era kerajaan yang merubah sejarah jawa tersebut


khodam/danyang singosari bisa dipanggil kapan dan dmn saja, terutama jika kita berada dlm wilayah kec singosari dan malang kota. sosok Beliau tinggi besar dng memakai busana kerajaan dan mahkota yg berwarna kuning emas.
Quote:Original Posted By mandevu
khodam/danyang singosari bisa dipanggil kapan dan dmn saja, terutama jika kita berada dlm wilayah kec singosari dan malang kota. sosok Beliau tinggi besar dng memakai busana kerajaan dan mahkota yg berwarna kuning emas.

trims mas
apakah ada tanda logo macan atau singa emas?
di pakaian kerajaanya?

ohya cek cp ya mas
cendol terkirim
Gunung Arjuno

Gunung arjuno masuk dalam jajaran Pegunungan Tengger, rute yg bisa dilewati untuk masuk wilayah gunung ini, lewat kec lawang ato lewat desa karangploso/pasar karang ploso. Perjalanan menuju puncak gunung arjuno, pendaki akan melewati 2 hutan yg terkenal yaoitu hutan Pronojiwo dan hutan Lali jiwo. hutan lalijiwo mempunyai bentuk tumbu-tumbuhan yg model dan tingginya sama, beberapa lokasi dihutan ini juga mempunyai kesamaan, tak jarang orang sering tersesat dlm hutan ini. Mitos yg timbul yaitu "ketika kita memasuki hutan lali jiwo, kita dilarang berbicara kotor. jika hal itu dilanggar maka penunggu hutan akan membuat kita tersesat dlm hutan tsb.
Jika kita beruntung, dlm 2 hutan ini (khususnya lali jiwo), kita bisa menjumpai makhluk kerdir/hobbit, manusia setengah kijang dan butho/raksasa.

sebelum mencapai puncak gunung, kita bisa menemukan petilasan pertapa, yg sekarang msh sering digunakan oleh para pelaku supranatural untuk menggembelng ilmu mereka. konon jaman jaman dahulu, tempat ini adalah salah satu tempat dimana Ken Arok digembleng oleh gurunya sebelum mengadi ke singosari.

Beberapa pengamat supranatural mengatakan bahwa di gunung inilah Butho Locoyo bersemayam(untuk saat ini)
Butho locaya berasal dari gunung wilis, pada taon 2002 dia pindah ke Gunung Semeru dan sekarang dia tinggal di Gunung Arjuno. Menurut mereka digunung ini masih terdapat banyak pusaka dlm berbagai tingkatan dan berbagai bentuk. mulai dari tingkat RT sampai Tingkat Gubernur bahkan mungkin tingkat raja juga ada.


Gunung Gedhe

Gunung Gedhe lertelak dalam perbukitan arjuno/anak gunung arjuno. terletak diantara jalan utama kediri-malang lewat kota batu.
penguasa gunung ini berhati baik namun pantang jika diganggu. Beliau dikenal dng nama Mbah Singo. berambut panjang nan bening seperti krital dng sorban/udeng dikepala.

Pegunungan Putri tidur

Pegunungan ini jika dilihat dari kejauhan(dr kota malang) akan nampak seperti seorang wanita yg sedang tidur terlentang. Penunggu gunung ini mempunyai sifat yg sensitif. perasaan yg begitu sensitif membuat Beliau mudah tersinggung.
Quote:Original Posted By prabuanom
trims mas
apakah ada tanda logo macan atau singa emas?
di pakaian kerajaanya?

ohya cek cp ya mas
cendol terkirim


pengkihatan ane kurang begitu jelas gan, maklum msh newbie, setahu ane busananya berwarna kuning(busana di perut), celana coklat muda dan selendang dipinggang kombinasi kuning hijau
Quote:Original Posted By mandevu
pengkihatan ane kurang begitu jelas gan, maklum msh newbie, setahu ane busananya berwarna kuning(busana di perut), celana coklat muda dan selendang dipinggang kombinasi kuning hijau

ooo makasih mas

nanya lagi mas, dr jatim kebanyakan berpakaian hitam hitam ala warok gitukah khodamnya?
Quote:Original Posted By prabuanom
ooo makasih mas

nanya lagi mas, dr jatim kebanyakan berpakaian hitam hitam ala warok gitukah khodamnya?


memang banyak khodam yg berpakaian hitam2 dan udeng/ikat kepala hitam, terutama penganut kanjeng sunan kalijogo tapi pada malam jum'at mereka memakai pakaian putih lengkap dng sorbannya,tapi kalo pakaian ala warok, setahu ane cuma khodam dr ponorogo dan sebagian madiun dan magetan(daerah pinggiran)
Quote:Original Posted By mandevu
memang banyak khodam yg berpakaian hitam2 dan udeng/ikat kepala hitam, terutama penganut kanjeng sunan kalijogo tapi pada malam jum'at mereka memakai pakaian putih lengkap dng sorbannya,tapi kalo pakaian ala warok, setahu ane cuma khodam dr ponorogo dan sebagian madiun dan magetan(daerah pinggiran)

kalo daerah madura dan penduduk yg berbasis madura?
kadang banyak ditemukan yang berpakaian hitam hitam
ssst boleh pm ga saya mas
hehehehe mau nanya sesuatu
Quote:Original Posted By prabuanom
kalo daerah madura dan penduduk yg berbasis madura?
kadang banyak ditemukan yang berpakaian hitam hitam
ssst boleh pm ga saya mas
hehehehe mau nanya sesuatu


boleh PM gan tpi dijawab ntar malam, saya off dulu mo sholat magrid dulu gan..
×