KASKUS

maaf ya kalo misalnya ane repost, soalnya ane ga mungkin cek page satu per satu

kaskus id : soulfrost

kategori : pahlawan dan tokoh nasional

bentuk karya : artikel + gambar

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Zainal_Mustafa

Spoiler for kh zaenal mustofa:


KH Zaenal Mustofa

K.H. Zainal Mustafa (lahir di Bageur, Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya, 1899 - Jakarta, 28 Maret 1944) adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya.

Zaenal Mustofa adalah pemimpin sebuah pesantren di Tasikmalaya dan pejuang Islam pertama dari Jawa Barat yang mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan Jepang. Nama kecilnya Hudaeni. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Ny. Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna (kini termasuk wilayah Desa Sukarapih Kecamatan Sukarame) Kabupaten Tasikmalaya (ada yang menyebut ia lahir tahun 1901 dan Ensiklopedia Islam menyebutnya tahun 1907, sementara tahun yang tertera di atas diperoleh dari catatan Nina Herlina Lubis, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat). Namanya menjadi Zaenal Mustofa setelah ia menunaikan ibadah haji pada tahun 1927.

Hudaeni memperoleh pendidikan formal di Sekolah Rakyat. Dalam bidang agama, ia belajar mengaji dari guru agama di kampungnya. Kemampuan ekonomis keluarga memungkinkannya untuk menuntut ilmu agama lebih banyak lagi. Pertama kali ia melanjutkan pendidikannya ke pesantren di Gunung Pari di bawah bimbingan Dimyati, kakak sepupunya, yang dikenal dengan nama KH. Zainal Muhsin. Dari Gunung Pari, ia kemudian mondok di Pesantren Cilenga, Leuwisari, dan di Pesantren Sukamiskin, Bandung. Selama kurang lebih 17 tahun ia terus menggeluti ilmu agama dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Karena itulah ia mahir berbahasa Arab dan memiliki pengetahuan keagamaan yang luas.

Lewat ibadah haji, ia berkenalan dengan ulama-ulama terkemuka. Ia pun mengadakan tukar pikiran soal keagamaan dan berkesempatan melihat pusat pendidikan keagamaan di Tanah Suci. Kontak dengan dunia luar itu mendorongnya untuk mendirikan sebuah pesantren. Maka sekembalinya dari ibadah haji, tahun 1927, ia mendirikan pesantren di Kampung Cikembang dengan nama Sukamanah. Sebelumnya, di Kampung Bageur tahun 1922 telah berdiri pula Pesantren Sukahideng yang didirikan KH. Zainal Muhsin. Melalui pesantren ini ia menyebarluaskan agama Islam, terutama paham Syafi’i yang dianut oleh masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam Jawa Barat pada khususnya.

Di samping itu, ia juga mengadakan beberapa kegiatan keagamaan ke pelosok-pelosok desa di Tasikmalaya dengan cara mengadakan ceramah-ceramah agama. Maka sebutan kiai pun menjadi melekat dengan namanya. KH. Zaenal Mustofa terus tumbuh menjadi pemimpin dan anutan yang karismatik, patriotik, dan berpandangan jauh ke depan. Tahun 1933, ia masuk Jamiyyah Nahdhatul Ulama (NU) dan diangkat sebagai wakil ro’is Syuriah NU Cabang Tasikmalaya.
tambahan

Perlawanan kepada penjajah

Sejak tahun 1940, KH. Zaenal Mustofa secara terang-terangan mengadakan kegiatan yang membangkitkan semangat kebangsaan dan sikap perlawanan terhadap pendudukan penjajah. Ia selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda yang kerap disampaikannya dalam ceramah dan khutbah-khutbahnya. Atas perbuatannya ini, ia selalu mendapat peringatan, dan bahkan, tak jarang diturunkan paksa dari mimbar oleh kiai yang pro Belanda.

Setelah Perang Dunia II, tepatnya pada 17 November 1941, KH. Zaenal Mustofa bersama KH. Ruhiat (dari Pesantren Cipasung), Haji Syirod, dan Hambali Syafei ditangkap Belanda dengan tuduhan telah menghasut rakyat untuk memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mereka ditahan di Penjara Tasikmalaya dan sehari kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung, dan baru bebas 10 Januari 1942.

Kendati sudah pernah ditahan, aktivitas perlawanannya terhadap penjajah tidak surut. Akhir Februari 1942, KH. Zaenal Mustofa bersama Kiai Rukhiyat kembali ditangkap dan dimasukkan ke penjara Ciamis. Kedua ulama ini menghadapi tuduhan yang sama dengan penangkapannya yang pertama. Hingga pada waktu Belanda menyerah kepada Jepang, ia masih mendekam di penjara.

Pada tanggal 8 Maret 1942 kekuasaan Hindia Belanda berakhir dan Indonesia diduduki Pemerintah Militer Jepang. Oleh penjajah yang baru ini, KH. Zaenal Mustofa dibebaskan dari penjara, dengan harapan ia akan mau membantu Jepang dalam mewujudkan ambisi fasisnya, yaitu menciptakan Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Akan tetapi, apa yang menjadi harapan Jepang tidak pernah terwujud karena KH. Zaenal Mustofa dengan tegas menolaknya. Dalam pidato singkatnya, pada upacara penyambutan kembali di Pesantren, ia memperingatkan para pengikut dan santrinya agar tetap percaya pada diri sendiri dan tidak mudah termakan oleh propaganda asing. Ia malah memperingatkan bahwa fasisme Jepang itu lebih berbahaya dari imperialisme Belanda.

Pasca perpindahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, sikap dan pandangannya itu tidak pernah berubah. Bahkan, kebenciannya semakin memuncak saja manakala menyaksikan sendiri kezaliman penjajah terhadap rakyat.

Pada masa pemerintahan Jepang ini, ia menentang pelaksanaan seikeirei, cara memberi hormat kepada kaisar Jepang dengan menundukkan badan ke arah Tokyo. Ia menganggap perbuatan itu bertentangan dengan ajaran Islam dan merusak tauhid karena telah mengubah arah kiblat. Sikap ini pernah ia tunjukkan secara terang-terangan di muka Jepang. Pada waktu itu, semua alim ulama Singaparna harus berkumpul di alun-alun dan semua diwajibkan melakukan seikerei. Di bawah todongan senjata, semua ulama terpaksa melakukan perintah itu, hanya KH. Zaenal Mustofa yang tetap membangkang. Ia juga mengatakan kepada Kiai Rukhiyat, yang hadir pada waktu itu, bahwa perbuatan tersebut termasuk musyrik.

Menurutnya, orang-orang musyrik itu tidak perlu ditakuti, apalagi diikuti perintahnya. Sebaliknya, mereka justeru harus diperangi dan dimusnahkan dari muka bumi. Ia yakin bahwa dalam Islam hanya Allah Swt lah yang patut ditakuti dan dituruti; Allah Swt selalu bersama-sama orang yang mau dekat kepada-Nya dan selalu memberikan pertolongan dan kekuatan kepada orang-orang yang mau berjuang membela agamanya. Ia berprinsip lebih baik mati ketimbang menuruti perintah Jepang. Keyakinan seperti ini senantiasa ditanamkan kepada para santrinya dan masyarakat Islam sekitarnya. Ia juga menentang dan mengecam romusha, pengerahan tenaga rakyat untuk bekerja dengan paksa.

Dengan semangat jihad membela kebenaran agama dan memperjuangkan bangsa, KH. Zaenal Mustofa merencanakan akan mengadakan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 25 Pebruari 1944 (1 Maulud 1363 H). Mula-mula ia akan menculik para pembesar Jepang di Tasikmalaya, kemudian melakukan sabotase, memutuskan kawat-kawat telepon sehingga militer Jepang tidak dapat berkomunikasi, dan terakhir, membebaskan tahanan-tahanan politik. Untuk melaksanakan rencana ini, KH. Zaenal Mustofa meminta para santrinya mempersiapkan persenjataan berupa bambu runcing dan golok yang terbuat dari bambu, serta berlatih pencak silat. Kiai juga memberikan latihan spiritual (tarekat) seperti mengurangi makan, tidur, dan membaca wirid-wirid untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Persiapan para santri ini tercium Jepang. Segera mereka mengirim camat Singaparna disertai 11 orang staf dan dikawal oleh beberapa anggota polisi untuk melakukan penangkapan. Usaha ini tidak berhasil. Mereka malah ditahan di rumah KH. Zaenal Mustofa. Keesokan harinya, pukul 8 pagi tanggal 25 Februari 1944, mereka dilepaskan dan hanya senjatanya yang dirampas.

Tiba-tiba, sekitar pukul 13.00, datang empat orang opsir Jepang meminta agar KH. Zaenal Mustofa menghadap pemerintah Jepang di Tasikmalaya. Perintah tersebut ditolak tegas sehingga terjadilah keributan. Hasilnya, tiga opsir itu tewas dan satu orang dibiarkan hidup. Yang satu orang ini kemudian disuruh pulang dengan membawa ultimatum. Dalam ultimatum itu, pemerintah Jepang dituntut untuk memerdekakan Pulau Jawa terhitung mulai 25 Pebruari 1944. Dalam insiden itu, tercatat pula salah seorang santri bernama Nur menjadi korban, karena terkena tembakan salah seorang opsir. Setelah kejadian tersebut, menjelang waktu salat Asar (sekitar pukul 16.00) datang beberapa buah truk mendekati garis depan pertahanan Sukamanah. Suara takbir mulai terdengar, pasukan Sukamanah sangat terkejut setelah tampak dengan jelas bahwa yang berhadapan dengan mereka adalah bangsa sendiri. Rupanya Jepang telah mempergunakan taktik adu domba. Melihat yang datang menyerang adalah bangsa sendiri, Zaenal Mustofa memerintahkan para santrinya untuk tidak melakukan perlawanan sebelum musuh masuk jarak perkelahian. Setelah musuh mendekat, barulah para santri menjawab serangan mereka. Namun, dengan jumlah kekuatan lebih besar, ditambah peralatan lebih lengkap, akhirnya pasukan Jepang berhasil menerobos dan memorak-porandakan pasukan Sukamanah. Peristiwa ini dikenal dengan Pemberontakan Singaparna.

Para santri yang gugur dalam pertempuran itu berjumlah 86 orang. Meninggal di Singaparna karena disiksa sebanyak 4 orang. Meninggal di penjara Tasikmalaya karena disiksa sebanyak 2 orang. Meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung sebanyak 38 orang, dan yang mengalami cacat (kehilangan mata atau ingatan) sebanyak 10 orang.

Pun, sehari setelah peristiwa itu, antara 700-900 orang ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Tasikmalaya. Sementara itu, KH. Zaenal Mustofa sempat memberi instruksi secara rahasia kepada para santri dan seluruh pengikutnya yang ditahan agar tidak mengaku terlibat dalam pertempuran melawan Jepang, termasuk dalam kematian para opsir Jepang, dan pertanggungjawaban tentang pemberontakan Singaparna dipikul sepenuhnya oleh KH. Zaenal Mustofa. Akibatnya, sebanyak 23 orang yang dianggap bersalah, termasuk KH. Zaenal Mustofa sendiri, dibawa ke Jakarta untuk diadili. Namun mereka hilang tak tentu rimbanya.

Besarnya pengaruh KH Zaenal Mustofa dalam pembentukan mental para santri dan masyarakat serta peranan pesantrennya sebagai lembaga pendidikan dan pembinaan umat membuat pemerintah Jepang merasa tidak bebas jika membiarkan pesantren ini tetap berjalan. Maka, setelah peristiwa pemberontakan tersebut, pesantren ini ditutup oleh Jepang dan tidak diperbolehkan melakukan kegiatan apapun.

Belakangan, Kepala Erevele Belanda Ancol, Jakarta memberi kabar bahwa KH. Zaenal Mustofa telah dieksekusi pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol, Jakarta. Melalui penelusuran salah seorang santrinya, Kolonel Syarif Hidayat, pada tahun 1973 keberadaan makamnya itu ditemukan di daerah Ancol, Jakarta Utara, bersama makam-makam para santrinya yang berada di antara makam-makam tentara Belanda. Lalu, pada 25 Agustus 1973, semua makam itu dipindahkan ke Sukamanah, Tasikmalaya.
[sunting] Diangkat menjadi pahlawan

Pada tanggal 6 Nopember 1972, KH. Zaenal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.
kaskus ID : verditch

kategori : Pahlawan dan Tokoh Nasional

bentuk karya : Artikel + Gambar

sumber : http://www.tokohindonesia.com

keterangan : melengkapi postingan no.103


Spoiler for :
kaskus ID : verditch

kategori : Pahlawan dan Tokoh Nasional

bentuk karya : Artikel + Gambar

sumber : [url]www.tokohindonesia.com[/url]

keterangan : Siapa bilang orang Papua tidak ada yang jadi Pahlawan Nasional ??


Spoiler for :

Daan Mogot

Kaskus ID : Darmagasa3o

Kategori : Pahlawan dan Tokoh Nasional

Bentuk karya : Artikel + Gambar

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Daan_Mogot

Keterangan :
Daan Mogot



Biodata singkat

* Nama : Elias Daniel Mogot;
* Nama populer : Mayor Daan Mogot;
* Tempat/tgl lahir : Manado, 28 Desember 1928;
* Tempat/tgl meninggal : Tangerang, 25 Januari 1946;
* Keluarga: Ayah : Nicolaas Mogot (Nico);
Ibu : Emilia Inkiriwang (Mien);
Saudara : Kakak: Evert, Lilly, Hetty, Eddy;
Adik : Fietje, Tilly;

Pengalaman:

* 1942-1943 Anggota Seinen Dojo angkatan pertama;
* 1943 Anggota Pembela Tanah Air (PETA) angkatan ke-1;
* 1943-1944 Shodancho PETA di Bali;
* 1944-1945 Staf Markas PETA (Gyugun Sidobu) di Jakarta;
* 1945 Perwira pada Resimen IV/Tangerang (pangkat Mayor);
* 1945-1946 Pendiri/Direktur pertama Akademi Militer Tangerang (MAT)


Daan Mogot (lahir di Manado, 28 Desember 1928 – meninggal di Lengkong, Tangerang, 25 Januari 1946 pada umur 17 tahun) adalah seorang pejuang dan pelatih anggota PETA di Bali dan Jakarta pada tahun 1942. Setelah Perang Dunia ke-2 selesai, ia menjadi Komandan TKR di Jakarta dengan pangkat Mayor. Bulan November 1945 menjadi pendiri sekaligus Direktur Pertama Akademi Militer Tangerang (MAT) dalam usia 17 tahun. Ia gugur di Hutan Lengkong bersama 36 orang lainnya dalam pertempuran melawan tentara Jepang saat hendak melucuti senjata mereka di Hutan Lengkong di Tangerang.

Daan Mogot lahir di Manado pada tanggal 28 Desember 1928 dari pasangan Nicolaas Mogot dan Emilia Inkiriwang (Mien) dengan nama Elias Daniel Mogot. Ayahnya ketika itu adalah Hukum Besar Ratahan. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara. Saudara sepupunya antara lain Kolonel Alex E. Kawilarang (Panglima Siliwangi, serta Panglima Besar Permesta) dan Irjen. Pol. A. Gordon Mogot (mantan Kapolda Sulut).

Pada tahun 1939, yaitu ketika ia berumur 11 tahun, keluarganya pindah dari Manado ke Batavia (Jakarta sekarang) dan menempati rumah di jalan yang sekarang bernama Jalan Cut Meutiah – Jakarta Pusat. Di Batavia, ayahnya diangkat menjadi anggota VOLKSRAAD (Dewan Rakyat masa Hindia-Belanda). Kemudian ayahnya diangkat sebagai Kepala Penjara Cipinang.

Pada masa Pendudukan Jepang, ia masuk dalam organisasi militer pribumi bentukan Jepang di Jawa, yaitu Pembela Tanah Air atau PETA. Waktu itu tahun 1942, ia menjadi anggota PETA angkatan pertama. Sebenarnya usia Daan Mogot belum memenuhi syarat yang ditentukan pihak Jepang yakni 18 tahun. Waktu itu ia berumur 14 tahun.

Karena prestasinya, ia diangkat menjadi pelatih anggota PETA di Bali, kemudian dipindahkan di Jakarta. Semasa di Bali, ia mendapatkan dua sahabat sejati yaitu Kemal Idris dan Zulkifli Lubis.

Mereka yang berasal dari Seinen Dojo oleh instruktur Jepang diangkat sebagi Instruktur Pembantu. Sebab, latihan yang akan diberikan kepada mereka jauh lebih ringan dari latihan yang pernah diterima pada masa Seinen Dojo di Tangerang. Pendidikan dan latihan itu dapat terlaksana sampai empat angkatan. Angkatan pertama mulai bulan Desember 1943 dan angkatan keempat, terakhir selesai bulan Juli 1945, sebelum Jepang takluk pada Sekutu tanggal 15 Agustus 1945.

Ada 50 orang yang diambil dari peserta latihan angkatan pertama untuk mengikuti pendidikan “guerilla warfare” di bawah pimpinan Kapten Yanagawa. Di antara mereka yang ikut latihan khusus itu adalah Daan Mogot, Kemal Idris, Zulkifli Lubis, Kusno Wibowo, Sabirin Mukhtar, Syatibi dan Effendi. Jenis latihan yang diberikan antara lain bagaimana cara memelihara burung merpati, karena burung itu dapat dipergunakan untuk alat komunikasi. Di samping itu mereka dilatih bagaimana menggunakan senjata yang baik untuk menghadapi lawan.

Setelah ke-50 orang itu dilantik menjadi perwira, mereka tidak lagi bertugas sebagai Instruktur Pembantu, melainkan menjadi Shodancho.

Setelah dilantik menjadi perwira PETA, masing-masing perwira dikembalikan ke daerah asalnya. Di Bali, Daan Mogot, Zulkifli Lubis dan Kemal Idris bersama beberapa perwira PETA lainnya mendirikan serta melatih para calon PETA di sana. Alasan Jepang mendirikan PETA di Bali, karena Bali dianggap merupakan daerah pertahanan dan tempat pendaratan. Untuk itu kekuatan dipersiapkan, terutama di daerah Nagara dan Klungkung. Jepang memberikan kepercayaan kepada Daan Mogot melatih di Tabanan, Kemal Idris di Nagara dan Zulkifli Lubis di Klungkung. Sekalipun ketiga sahabat itu terpisah-pisah tempat tugasnya, namun mereka selalu mengadakan kontak, baik membicarakan hal yang berhubungan dengan latihan maupun tentang nasib rakyat yang sedang menderita di bawah telapak penjajah. Kegiatan latihan yang spesifik saat itu ialah mempersiapkan pertahanan guna menghadapi serangan musuh di pantai. Selama setahun para Shodancho di Bali menjalankan tugas dengan baik. Tahun selanjutnya mereka harus berpisah. Empat orang Shodancho harus kembali ke Jawa, sedangkan Daan Mogot, Zulkifli Lubis, dan Kemal Idris yang tetap tinggal. Mereka bertindak sebagai instruktur PETA, memberikan latihan kepada calon-calon perwira hingga mereka mahir dalam berbagai bidang ketentaraan.

Pada tahun 1945 ketika Republik Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, Daan Mogot menjadi salah seorang tokoh pemimpin Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dengan pangkat Mayor. Ini suatu keunikan pada masa itu, Mayor Daan Mogot baru berusia 16 tahun!

Di sana Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang dibentuk pada tanggal 23 Agustus 1945 mendirikan markasnya di Jalan Cilacap No. 5 untuk daerah Keresidenan Jakarta, empat hari sesudah pembentukannya. Moefreini Moe’min, seorang bekas syodancho dari Jakarta Daidan I ditunjuk sebagai pimpinannya. Sejumlah perwira yang bergerak di situ adalah Singgih, Daan Yahya, Kemal Idris, Daan Mogot, Islam Salim, Jopie Bolang, Oetardjo, Sadikin (Resimen Cikampek), Darsono (Resimen Cikampek), dan lain-lain.

Daan Mogot memang terkenal dalam sejarah zaman revolusi perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada pertempuran di hutan Lengkong-Serpong Tangerang Banten, ketika Taruna Akademi Militer Tangerang yang dipimpinnya berusaha merebut senjata dari pihak tentara Jepang tanggal 25 Januari 1946.

Ironisnya, sementara ia berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia bahkan rela gugur di medan pertempuran, ayahnya tewas dibunuh para perampok yang menganggap ”orang Manado” (orang Minahasa) sebagai londoh-londoh (antek-antek) Belanda.

Suatu ketika, Mayor Daan Mogot bertemu dengan sepupunya Alex Kawilarang. Dengan mengenakan peci hijau, ia menuruni sepeda motornya. Pemuda berusia 17 tahun itu kemudian dijemput oleh Alex di pinggir jalan, dan ia pun menunjukkan muka gembira. Pertemuan yang hangat terjadi. Kemudian mereka mengobrol di dalam rumah. Daan Mogot bercerita bahwa ia sekarang tinggal di Jalan Asem Baru, menumpang pada keluarga Singgih. Segera disambungnya cerita mengenai perjuangan. Tentang serangan di Pondok Gede. Ia juga cerita tentang ayahnya yang baru saja dibunuh, tidak diketahui dengan pasti oleh siapa. “Banyak benar anarki terjadi di sini,” kata Alex. “Memang, itu yang mesti torang bereskan. Oleh karena itu, senjata harus berada di torang pe tangan” sambung Daan. Katanya lagi kepada Alex, “Torang, orang Manado, jangan berbuat yang bukan-bukan. Awas, hati-hati! Torang musti benar-benar menunjukkan, di pihak mana kita berada.”

Lalu Daan bercerita pula mengenai pemikirannya tentang sebuah perguruan untuk mendidik para pemuda yang mau menjadi tentara, yang kemudian ternyata terlaksana, ialah didirikannya “militer akademi” (akademi militer) pada tanggal 18 November 1945 di Tangerang.


Sebagai sponsor terwujudnya gagasan mendirikan sekolah akademi militer, maka tanggal 18 November 1945 ia dilantik menjadi Direktur Militer Akademi Tangerang (MAT) pada waktu ia berusia 17 tahun. Sebenarnya di Yogyakarta juga berdiri Militer Akademi Yogya (MA Yogya) hampir bersamaan, yaitu tanggal 5 November 1945. Ide mendirikan sebuah akademi militer ini memang seperti yang diangan-angankan oleh Daan Mogot.
Ide pendirian Militer Akademi Tangerang itu datang dari empat orang: Daan Mogot, Kemal Idris, Daan Yahya dan Taswin.

Pada tahap awal ada 180 orang Calon Taruna pertama yang dilatih. Di antara mereka terdapat mahasiswa yang berasal dari Sekolah Kedokteran Ika Daigaku Jakarta. Ada di antara mereka yang menjadi komandan peleton, komandan kompi bahkan komandan batalyon. Sejumlah perwira dan bintara yang menjadi pelatih/instruktur MAT antara lain Kapten Taswin, Kapten Tommy Prawirasuta, Kapten Rukman, Kapten Kemal Idris, Kapten Oscar (Otje) Mochtan, Kapten Jopie Bolang, Kapten Endjon Djajaroekmantara, Sersan Bahruddin, Sersan Sirodz. Di Resimen Tangerang Taswin bertugas di staf sedangkan Kemal Idris di pasukan.

Pada tanggal 24 Januari 1946 Mayor Daan Yahya menerima informasi bahwa pasukan NICA Belanda sudah menduduki Parung dan akan melakukan gerakan merebut depot senjata tentara Jepang di depot Lengkong (belakangan diketahui bahwa Parung baru diduduki NICA bulan Maret 1946). Tindakan-tindakan provokatif NICA Belanda itu akan mengancam kedudukan Resimen IV Tangerang dan Akademi Militer Tangerang secara serius. Sebab itu pihak Resimen IV Tangerang mengadakan tindakan pengamanan. Mayor Daan Yahya selaku Kepala Staf Resimen, segera memanggil Mayor Daan Mogot dan Mayor Wibowo, perwira penghubung yang diperbantukan kepada Resimen IV Tangerang.

Tanggal 25 Januari 1946 lewat tengah hari sekitar pukul 14.00, setelah melapor kepada komandan Resimen IV Tangerang Letkol Singgih, berangkatlah pasukan TKR dibawah pimpinan Mayor Daan Mogot dengan berkekuatan 70 taruna MA Tangerang (MAT) dan delapan tentara Gurkha. Selain taruna, dalam pasukan itu terdapat beberapa orang perwira yaitu Mayor Wibowo, Letnan Soebianto Djojohadikoesoemo dan Letnan Soetopo. Kedua Perwira Pertama ini adalah perwira polisi tentara (Corps Polisi Militer/CPM sekarang). Ini dilakukan untuk mendahului jangan sampai senjata Jepang yang sudah menyerah kepada sekutu diserahkan kepada KNIL-NICA Belanda yang waktu itu sudah sampai di Sukabumi menuju Jakarta.

Setelah melalui perjalanan yang berat karena jalannya rusak dan penuh lubang-lubang perangkap tank, serta penuh barikade-barikade, pasukan TKR tersebut tiba di markas Jepang di Lengkong sekitar pukul 16.00. Pada jarak yang tidak seberapa jauh dari gerbang markas, truk diberhentikan dan pasukan TKR turun. Mereka memasuki markas tentara Jepang dalam formasi biasa. Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo dan taruna Alex Sajoeti berjalan di muka dan mereka bertiga kemudian masuk ke kantor Kapten Abe. Pasukan Taruna MAT diserahkan kepada Letnan Soebianto dan Letnan Soetopo untuk menunggu di luar.

Gerakan pertama ini berhasil dengan baik dan mengesankan pihak Jepang. Di dalam kantor markas Jepang ini Mayor Daan Mogot menjelaskan maksud kedatangannya. Akan tetapi Kapten Abe meminta waktu untuk menghubungi atasannya di Jakarta, karena ia mengatakan belum mendapat perintah atasannya tentang perlucutan senjata. Ketika perundingan berjalan, rupanya Lettu Soebianto dan Lettu Soetopo sudah mengerahkan para taruna memasuki sejumlah barak dan melucuti senjata yang ada di sana dengan kerelaan dari anak buah Kapten Abe. Sekitar 40 orang Jepang disuruh berkumpul di lapangan.

Kemudian secara tiba-tiba terdengar bunyi tembakan, yang tidak diketahui dari mana datangnnya. Bunyi tersebut segera disusul oleh rentetan tembakan dari tiga pos penjagaan bersenjatakan mitraliur yang tersembunyi yang diarahkan kepada pasukan taruna yang terjebak. Serdadu Jepang lainnya yang semula sudah menyerahkan senjatanya, tentara Jepang lainnya yang berbaris di lapangan berhamburan merebut kembali sebagian senjata mereka yang belum sempat dimuat ke dalam truk.

Dalam waktu yang amat singkat berkobarlah pertempuran yang tidak seimbang antara pihak Indonesia dengan Jepang, Pengalaman tempur yang cukup lama, ditunjang dengan persenjataan yang lebih lengkap, menyebabkan Taruna MAT menjadi sasaran empuk. Selain senapan mesin yang digunakan pihak Jepang, juga terjadi pelemparan granat serta perkelahian sangkur seorang lawan seorang.

Tindakan Mayor Daan Mogot yang segera berlari keluar meninggalkan meja perundingan dan berupaya menghentikan pertempuran namun upaya itu tidak berhasil. Dikatakan bahwa Mayor Daan Mogot bersama rombongan dan anak buahnya Taruna Akademi Militer Tangerang, meninggalkan asrama tentara Jepang, mengundurkan diri ke hutan karet yang disebut hutan Lengkong.

Taruna MAT yang berhasil lolos menyelamatkan diri di antara pohon-pohon karet. Mereka mengalami kesulitan menggunakan karaben Terni yang dimiliki. Sering peluru yang dimasukkan ke kamar-kamarnya tidak pas karena ukuran berbeda atau sering macet. Pertempuran tidak berlangsung lama, karena pasukan itu bertempur di dalam perbentengan Jepang dengan peralatan persenjataan dan persediaan pelurunya amat terbatas.

Dalam pertempuran, Mayor Daan Mogot terkena peluru pada paha kanan dan dada. Tapi ketika melihat anak buahnya yang memegang senjata mesin mati tertembak, ia kemudian mengambil senapan mesin tersebut dan menembaki lawan sampai ia sendiri dihujani peluru tentara Jepang dari berbagai penjuru.

Akhirnya 33 taruna dan 3 perwira gugur dan 10 taruna luka berat serta Mayor Wibowo bersama 20 taruna ditawan, sedangkan 3 taruna, yaitu Soedarno, Menod, Oesman Sjarief berhasil meloloskan diri pada 26 Januari dan tiba di Markas Komando Resimen TKR Tangerang pada pagi hari. Para perwira dan taruna Akademi Militer Tangerang (MAT) yang gugur pada peristiwa itu adalah sebagai berikut:


Pasukan Jepang bertindak dengan penuh kebengisan, mereka yang telah luka terkena peluru dan masih hidup dihabisi dengan tusukan bayonet. Ada yang tertangkap sesudah keluar dari tempat perlindungan, lalu diserahkan kepada Kempetai Bogor. Beberapa orang yang masih hidup menjadi tawanan Jepang dan dipaksa untuk menggali kubur bagi teman-temannya. Sungguh suatu kisah yang pilu bagi yang masih hidup tersebut. Dalam keadaan terluka, ditawan, masih dipaksa menggali kuburan untuk para rekan-rekannya sedangkan nasib mereka masih belum jelas mau diapakan.

Tanggal 29 Januari 1946 di Tangerang diselenggarakan pemakaman kembali 36 jenasah yang gugur dalam peristiwa Lengkong disusul seorang taruna Soekardi yang luka berat namun akhirnya meninggal di RS Tangerang. Mereka dikuburkan di dekat penjara anak-anak atau sekarang lebih di kenal TMP Taruna Tangerang. Selain para perwira dari Tangerang, Akademi Militer Tangerang, kantor Penghubung Tentara, hadir pula pada upacara tersebut Perdana Menteri RI Sutan Sjahrir, Wakil Menlu RI Haji Agoes Salim yang puteranya Sjewket Salim ikut gugur dalam peristiwa tersebut beserta para anggota keluarga taruna yang gugur. Pacar Mayor Daan Mogot, Hadjari Singgih memotong rambutnya yang panjang mencapai pinggang dan menanam rambut itu bersama jenasah Daan Mogot. Setelah itu rambutnya tak pernah dibiarkan panjang lagi.

nubie ijin gabung

Kaskus ID : celanaman

Kategori : Pahlawan dan Pejuang Nusantara

Bentuk karya : Artikel + Gambar

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tjilik_Riwut -- Pahlawan dan Pejuang Nusantara

Keterangan :
TJILIEK RIWUT




Cilik Riwut [Tjiliek Riwut] dilahirkan di Kasongan, Kalimantan Tengah, 2 Februari 1918. Sekalipun ia lebih banyak berada di Pulau Jawa, namun Cilik Riwut selalu berjuang demi bangsa dan juga daerahnya. Untuk memajukan masyarakat daerahnya, ia pernah membentuk organisasi Pakat Dayak dan juga menjadi pemimpin redaksi Suara Rakyat yang didirikan kaum muda Dayak di tanah perantauan.

Ia berkiprah dalam dunia militer dengan bergabung dalam TKR Jawatan Penerbangan dan berpangkat mayor ketika Indonesia merdeka. Ia menggerakkan perlawanan terhadap Belanda di Kalimantan dan juga membentuk kekuatan bersenjata guna melawan Belanda dengan siasat perang gerilya. Ia pernah pula mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Kalimantan ketika Belanda melakukan agresi.

Nama Cilik Riwut tidak bisa dilepaskan dari peristiwa penerjunan pasukan TNI di Kotawaringin, Kalimantan Tengah bagian selatan, pada tanggal 17 Oktober 1947. Ketika itu ia ditunjuk sebagai ahli siasat serta penunjuk jalan bagi para penerjun.

Cilik Riwut menjabat Gubernur Kalimantan Tengah dalam 2 masa periode, yakni dari tahun 1957 hingga 1966. Ia berhasil membangun Kalimantan Tengah pada umumnya dan kota Palangkaraya pada khususnya. Kiprah perjuangannya setelah Indonesia merdeka terus berlanjut. Ia pernah ditunjuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan juga Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Cilik Riwut wafat pada tanggal 17 Agustus 1987 di Palangkaraya. Karena jasa dan pengabdiannya yang luar biasa bagi TNI AU, ia dianugerahi pangkat Marsekal Pertama Kehormatan. Pemerintah Indonesia juga mengangkat Cilik Riwut sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1998.

Spoiler for Versi Wiki:
Kaskus ID : celanaman

Kategori : Pahlawan dan Pejuang Nusantara

Bentuk karya : Artikel + Gambar

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Frans_Kaisiepo -- Pahlawan dan Pejuang Nusantara

Keterangan : melengkapi keterangan #129

FRANS KAISIEPO



Frans Kaisiepo dilahirkan di Biak, 10 Oktober 1921. Jiwa nasionalismenya tumbuh mekar ketika ia berkenalan dengan Sugoro Atmoprasojo, mantan guru pada Perguruan Taman Siswa, yang diasingkan di Boven Digul akibat kiprah politik nasionalisnya.

Frans Kaisiepo menggagas berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) di Biak, setahun setelah Indonesia merdeka. Ia juga menjadi salah seorang anggota delegasi Papua (Nederlands Nieuwe Guinea) pada Konferensi Malino, Sulawesi Selatan, yang diprakarsai Belanda. Konferensi itu membahas perihal pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT). Pada konferensi tersebut ia secara tegas menolak rencana penggabungan Papua ke dalam Negara Indonesia Timur. Menurutnya, Papua adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena penolakan Frans, Negara Indonesia Timur akhirnya hanya beranggotakan Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku. Ia juga mengganti nama Papua (Nederlands Nieuwe Guinea) menjadi IRIAN yang merupakan singkatan dari Ikut Republik Indonesia Anti Netherlands.

Frans terus bersikap anti Belanda. Ia menggalang kekuatan di Biak guna menentang kehadiran Belanda di sana. Ia juga menolak dengan tegas pengangkatan dirinya menjadi anggota delegasi Belanda pada Konferensi Meja Bundar (KMB) yang diselenggarakan di Den Haag, Belanda. Sikap keras Frans membuat Belanda kemudian mengasingkannya ke tempat-tempat terpencil.

Berlarut-larutnya masalah Irian Barat menyebabkan Indonesia menempuh jalan konfrontasi. Presiden Sukarno mengomandokan Trikora (Tri Komando Rakyat) untuk membebaskan Irian Barat. Frans berperan besar dalam masalah ini dengan memberikan bantuannya agar TNI bisa mendarat di Irian Barat. Frans yang ditunjuk menjadi gubernur Irian Barat juga berperan besar ketika dilaksanakannya Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) pada tahun 1969. Rakyat Irian Barat bersepakat bulat untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Frans Kaisiepo wafat di Irian Jaya, 10 April 1979. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Irian Jaya. Pemerintah Indonesia mengangkat pejuang Irian Jaya itu sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1993.
Kaskus ID : celanaman

Kategori : Pahlawan dan Pejuang Nusantara

Bentuk karya : Artikel + Gambar

Sumber : Pahlawan dan Pejuang Nusantara

Keterangan : melengkapi keterangan #131

HARUN BIN SAID




Harun bin Said alias Thohir lahir pada tanggal 14 April 1947 di Kepulauan Bawean. Setelah lulus SMA ia memasuki dunia militer pada Korps Komando Angkatan Laut (KKO) pada bulan Juni 1964. Harun dinilai selaku prajurit yang tegas, disiplin dan mampu mengemban tugas yang dipercayakan padanya. Beberapa bulan menjadi anggota KKO, 10 Maret 1965, ia mendapat tugas rahasia yang amat berat : menyusup ke Singapura dan membuat sabotase di sana. Bersama Usman bin Muhammad Ali dan Gani bin Arup, ia menerima tugas itu dengan penuh tanggung jawab.

Sesuai dengan waktu yang ditentukan, ketiganya berhasil menyusup masuk ke Singapura. Bangunan McDonald Singapura yang menjadi sasaran target sabotase berhasil mereka ledakkan. Mereka pun bergegas meninggalkan wilayah Singapura.

Sayang, kapal boat yang mereka tumpangi mendadak rusak hingga Harun bin Said dan Usman bin Muhammad Ali ditangkap pasukan khusus Australia di pelabuhan Singapura. Harun bin Said dipenjara. Setelah diajukan ke muka persidangan, hakim Singapura memutuskan Harun bin Said bersalah dan divonis hukuman mati. Meskipun pemerintah Indonesia telah menempuh berbagai cara untuk membebaskan Harun bin Said, namun semua usaha itu gagal. Harun bin Said tetap harus menjalani hukuman mati.

Riwayat hidup Harun bin Said berakhir di tiang gantungan dalam penjara Changi, Singapura, pada tanggal 17 Oktober 1968. Harun bin Said telah mempersembahkan jiwa dan raganya untuk tanah air tercintanya. Jenazah Harun bin Said kemudian dikembalikan ke Indonesia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pemerintah Indonesia mengangkat Harun bin Said sebagai Pahlawan Pembela Kebenaran.
Kaskus ID : celanaman

Kategori : Pahlawan Revolusi

Bentuk karya : Artikel + Gambar

Sumber : Pahlawan dan Pejuang Nusantara

Keterangan :

KAREL SATSUIT TUBUN




Karel Satsuit Tubun dilahirkan di Tual, Maluku Tenggara tanggal 14 Oktober 1928. Setamat SD pada tahun 1941, Karel langsung mendaftarkan diri di Kepolisian Ambon. Setamat mengikuti pendidikan kepolisian, Karel diangkat menjadi polisi dengan pangkat AIP (Agen Polisi Tingkat) II dan kemudian ditempatkan dalam kesatuan Brigade Mobil (Brimob) di Ambon.

Karel sering berpindah-pindah tempat tugas. Ia pernah bertugas di Sulawesi pada tahun 1958 dan juga di Sumatera Barat ketika meletus pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Karel kemudian dipindahtugaskan ke Jakarta dan dinaikkan pangkatnya menjadi Brigadir Polisi.

Karel menjadi korban Gerakan 30 September 1965 yang akan menculik Jenderal Nasution. Ketika itu ia tengah bertugas menjaga rumah Wakil Perdana Menteri II Dr. Y. Leimena yang berdekatan dengan rumah Jenderal Nasution. Karel gugur sebagai kusuma bangsa. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Pemerintah Indonesia mengangkat Karel Satsuit Tubun sebagai Pahlawan Revolusi pada tanggal 5 Oktober 1965.

Spoiler for Versi Wiki:
Kaskus ID : celanaman

Kategori : Pahlawan Nasional [Pejuang Papua]

Bentuk karya : Artikel

Sumber : Pahlawan dan Pejuang Nusantara

Keterangan :

MARTHEN INDEY


Marthen Indey dilahirkan di Doromena, Irian Jaya, tanggal 14 Maret 1912. Ia termasuk sedikit dari segelintir putra Papua asli yang berhasil menjadi anggota polisi Belanda. Pendidikan kepolisiannya diselesaikan di Sukabumi. Ia lantas mendapat tugas mengawasi para tahanan politik di Boven Digul. Salah seorang tahanan politik yang akhirnya membuka jiwa kebangsaannya adalah Sugoro Atmoprasojo. Ia menjadi mengerti dan memahami, para tawanan politik yang dijaganya itu sesungguhnya saudara-saudara sebangsanya. Musuhnya yang sesungguhnya adalah Belanda

Marthen Indey lantas menggalang kekuatan untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Belanda yang telah mencium rencana Marthen lalu menangkap Marthen dan mengasingkannya ke hulu sungai Digul. Semangat berjuang Marthen tetap membara. Marthen malah berencana mengupayakan pembebasan Papua dari penjajahan Belanda. Ia kemudian bergabung dengan Partai Indonesia Merdeka (PIM) dan ditunjuk selaku ketua. Ia juga aktif berhubungan dengan tokoh-tokoh pejuang Papua dan juga orang-orang Maluku untuk mengusahakan terbebasnya negeri tumpah darahnya dari cengkeraman penjajah Belanda. Kegiatan Marthen Indey ini diketahui Belanda yang lantas menangkapnya dan memenjarakannya selama 3 tahun. Selepasnya dari penjara Marthen Indey tetap berjuang demi cita-cita luhurnya.

Ketika dilangsungkan operasi militer Trikora, Marthen Indey terlibat aktif bersama pejuang-pejuang Papua lainnya guna membantu pendaratan pasukuan TNI di Papua. Bersama-sama dengan para pejuang Papua lainnya, Marthen juga aktif menggelorakan tuntutan agar wilayah Papua tergabung ke dalam NKRI. Tuntutan Marthen dan para pejuang Papua lainnya menjadi kenyataan setelah dalam Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA), rakyat Papua memilih bergabung dengan Negara Indonesia. Setelah Papua kembali bergabung dalam NKRI, Marthen Indey menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara mewakili tanah kelahirannya pada periode 1963-1968.

Pada tanggal 17 Juli 1986, Marthen Indey wafat di Doromena. Untuk menghormati jasa dan pengabdiannya, Pemerintah Indonesia mengangkat Marthen Indey selaku Pahlawan Nasional pada tahun 1993.
Kaskus ID : celanaman

Kategori : Pahlawan Nasional [Pejuang Papua]

Bentuk karya : Artikel + Gambar

Sumber : Pahlawan dan Pejuang Nusantara

Keterangan :

SILAS PAPARE




Silas Papare dilahirkan di Serui pada tanggal 18 Desember 1918. Setamat dari pendidikannya di Sekolah Juru Rawat, Silas bekerja menjadi pegawai pemerintah Belanda. Suatu ketika ia berkenalan dengan Sam Ratulangi yang sedang diasingkan Belanda. dari Sam Ratulangi ia memahami jika dirinya adalah orang Indonesia. Tanah tumpah darahnya, Irian Jaya, adalah bagian tak terpisahkan dari NKRI. Kesadaran akan kebangsaan itulah yang membuat bangkitnya semangat Silas untuk memperjuangkan Irian Jaya agar terlepas dari belenggu penjajah Belanda dan bergabung dengan Indonesia.

Belanda yang mengetahui kegiatan Silas kemudian menangkap dan memenjarakannya. Selepas dari penjara, Silas tetap menggelorakan rakyat Irian agar mengusir penjajah Belanda dari tanah kelahiran mereka.

Silas Papare mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Kegiatan politik Silas ini dibalas Belanda dengan memenjarakannya di Biak. Tak lama kemudian ia berhasil meloloskan diri dan selanjutnya menuju Yogyakarta. Di Yogyakarta Silas membentuk Badan Perjuangan Irian yang berusaha keras untuk memasukkan wilayah Irian Jaya ke dalam negara Indonesia.

Silas Papare ditunjuk menjadi salah seorang delegasi Indonesia dalam Perjanjian New York pada tanggal 15 Agustus 1962 yang mengakhiri perseteruan antara Indonesia dan Belanda perihal Irian Barat. Perjanjian itu ditindaklanjuti dengan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) pada tahun 1969 di mana rakyat Irian Jaya memilih bergabung dengan NKRI.

Silas Papare wafat dan dimakamkan di Serui pada tanggal 7 Maret 1978. Atas jasa dan pengorbanannya, pemerintah mengangkat Silas Papare selaku Pahlawan Nasional pada tahun 1993.
Kaskus ID : celanaman

Kategori : Pahlawan Kemerdekaan Indonesia

Bentuk karya : Artikel + Gambar

Sumber : Pahlawan dan Pejuang Nusantara

Keterangan : melengkapi keterangan #66

ROBERT WOLTER MONGINSIDI




Robert Wolter Monginsidi lahir di desa Mamalayang, Manado, tanggal 14 Februari 1925. Bote, begitu biasa ia dipanggil, sejak kecil dikenal sebagai anak yang pemberani dan kukuh dalam memegang prinsip kebenaran.

Selesai menamatkan Hollandsche Inlandsche School (HIS), ia melanjutkan pendidikannya di MULO Flater. Ia baru duduk di kelas 2 ketika pecah perang Pasifik. Ia lalu melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Calon Pegawai dan guru bahasa Jepang di Tomohon. Selepas dari pendidikannya, Bote mengajar bahasa Jepang di berbagai tempat. Semula ia berada di Liwutung, kemudian pindah ke Luwuk, dan terakhir ke Makassar.

Ia bergabung dengan LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi) yang dipimpin Ranggong daeng Romo di Polobangkeng ketika Indonesia merdeka. Ketika pasukan NICA yang ditunggangi Belanda memasuki Sulawesi Selatan, mereka kerap melancarkan serangan pada Belanda dengan taktik perang gerilya dan menimbulkan kerugian yang sangat besar di pihak Belanda.

NICA lantas melancarkan operasi besar-besaran pada tanggal 28 Februari 1947. Bote tertangkap dalam operasi ini dan dipenjara. Sekitar 8 bulan kemudian ia dapat meloloskan diri dari penjara. Pengejaran besar-besaran pun dilakukan Belanda untuk menangkapnya kembali. Bote tertangkap kembali setelah 9 hari kabur dari penjara.

Karena Bote tidak mau diajak kerja sama, Belanda kemudian mengajukannya ke persidangan. Vonis hukuman mati pun dijatuhkan padanya. Tanggal eksekusi mati untuk Robert Wolter Monginsidi telah ditetapkan, 5 September 1949. Lokasinya di Pacinang.

Bote menghadapi eksekusi matinya dengan tabah. Tanpa sedikitpun membayang ketakutan di wajahnya. Bahkan, ia menolak matanya untuk ditutup. Pekik merdekanya menggelegar sebelum akhirnya timah-timah panas menghujam keras tubuhnya. Robert Wolter Monginsidi gugur sebagai kusuma bangsa. Ia rela memberikan nyawanya demi negeri Indonesia tercinta.

Jenazahnya semula dimakamkan di tempat yang tak jauh dari tempat eksekusi matinya sebelum dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Pacinang Ujung Pandang. Pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 6 November 1973.
Kaskus ID : celanaman

Kategori : Pahlawan Nasional

Bentuk karya : Artikel + Gambar

Sumber : Pahlawan dan Pejuang Nusantara

Keterangan :

TUANKU TAMBUSAI




Nama aslinya adalah Muhammad Saleh. Dilahirkan di Kampar, Riau, pada tanggal 5 November 1784. Ia adalah putra seorang pejabat tinggi agama di kerajaan Tambusai. Ketika ia menuntut ilmu agama di Minangkabau, ia berkenalan dengan Tuanku Imam Bonjol. Ia kemudian menjadi salah seorang pemimpin kaum Paderi dan digelari Tuanku Tambusai.

Kepemimpinan Tuanku Tambusai dimulai saat Tuanku Rao, salah seorang pemimpin Kaum Paderi lainnya, gugur dalam pertempuran di Air Bengis pada tahun 1832. Benteng Rao dapat dikuasai sepenuhnya oleh pasukan Belanda pada bulan September 1832. Tuanku Tambusai lantas membawa anggota pasukan Kaum Paderi yang tersisa menuju arah utara dan kemudian mendirikan benteng pertahanan di Dalu-dalu. Dari benteng ini pulalah Tuanku Tambusai mengorganisir segenap anggota pasukannya untuk menyerang pasukan Belanda melalui taktik perang gerilya.

Pasukan Belanda yang berusaha keras merebut Bonjol sering kali dibuat pecah konsentrasinya akibat serangan kaum Paderi pimpinan Tuanku Tambusai. Oleh karena itu meski telah mengerahkan 14.000 anggota pasukannya untuk mengepung Bonjol, pasukan Belanda membutuhkan waktu sekitar 3 tahun sebelum akhirnya mampu menguasai Bonjol pada 16 Agustus 1837.

Meskipun Tuanku Imam Bonjol akhirnya tertangkap, namun Kaum Paderi tetap gigih melancarkan serangan-serangannya dengan dipimpin oleh Tuanku Tambusai. Usaha pasukan Belanda merebut benteng Dalu-dalu senantiasa kandas mengingat kuat dan kokohnya benteng pertahanan kaum Paderi tersebut. Baru setelah setahun melakukan pengepungan dan penyerangan secara besar-besaran, 28 Desember 1838 benteng Dalu-dalu jatuh. Tuanku Tambusai meloloskan diri menuju Negeri Sembilan, Malaysia. Ia terus berada di Negeri Sembilan hingga akhirnya wafat pada tanggal 12 November 1882.

Pemerintah Indonesia mengangkat Tuanku Tambusai sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1995.

Spoiler for Versi Wiki:
Kaskus ID : celanaman

Kategori : Pahlawan Pembela Kemerdekaan

Bentuk karya : Artikel

Sumber : Pahlawan dan Pejuang Nusantara

Keterangan :

WILHELMUS ZAKARIA JOHANNES



Wilhelmus Zakaria Johannes dilahirkan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, pada tanggal 17 Juli 1895. Sejak kecil telah nampak kecerdasannya. Berulang-ulang ia menamatkan sekolahnya lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Begitupun dengan pendidikannya di STOVIA Jakarta yang mampu diselesaikannya lebih cepat. Selepas pendidikan, dokter Wilhelmus lalu bekerja di Sekolah Dokter Hindia Belanda (NIAS -- Nederland Indische Artsen School) Surabaya sebagai dosen. Ia kemudian dipindahtugaskan menjadi dokter di berbagai rumah sakit di pulau Sumatera pada tahun 1921 hingga 1930. Ia tercatat pernah bertugas di Bengkulu, Muara Aman, Mana, Kayu Agung dan juga Palembang.

Pada tahun 1939 Wilhelmus diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mewakili masyarakat Karesidenan Timor. Pada masa pendudukan Jepang, ia dan dr. Sam Ratulangi mendirikan Badan Persiapan Persatuan Kristen (BPPK) yang kemudian berubah menjadi Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Wilhelmus tercatat secara aktif dalam organisasi yang dibentuknya tersebut serta dalam Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ia mengundurkan diri dari jabatannya setelah menderita sakit lumpuh. Setelah sembuh, Wilhelmus bertugas di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Jakarta untuk merawat para pejuang Indonesia yang cidera dalam pertempuran. Selain digunakan untuk perawatan, RSUP Jakarta ketika itu juga digunakan untuk tempat penampungan para pejuang selama berada di Jakarta.

Pada bulan Maret 1952, ia dipercaya menjadi rektor Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Sebulan kemudian, April 1952, ia mendapat tugas negara untuk berangkat ke beberapa negara Eropa serta Asia Tenggara untuk mendalami perkembangan rontgen serta mempelajari sistem organisasi rumah sakit di negara-negara yang akan ditinjaunya. Rencananya, tugas negara itu akan dilakukannya selama 5 bulan.

Ketika Wilhelmus berada di Den Haag, Belanda, ia wafat, pada tanggal 4 September 1952. Jenazahnya dibawa ke Indonesia untuk seterusnya dimakamkan di Pemakaman Jati Petamburan, Jakarta. Pemerintah mengangkatnya selaku Pahlawan Pembela Kemerdekaan pada tahun 1968.

Spoiler for tambahan dari Wiki:
Kaskus ID : celanaman

Kategori : Pejuang Hukum Indonesia

Bentuk karya : Artikel + Gambar

Sumber : Pahlawan dan Pejuang Nusantara

Keterangan :

YAP THIAM HIEN




Yap Thiam Hien, biasa dipanggil John oleh orang-orang terdekatnya, dilahirkan di Kutaraja, Banda Aceh pada tanggal 25 Mei 1913. Sejak kecil ia sangat membenci penindasan dan kesewenang-wenangan manusia atas manusia. Terlebih-lebih ia kemudian mengalami sendiri 'ketidaknyamanannya' selaku orang Indonesia keturunan China.

Yap menamatkan pendidikannya di Europese Lagere School (ELS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Banda Aceh, Algemeene Middlebare School (AMS) bagian A-II (Sastra Barat) di Yogyakarta, dan Chineesche Kweekschool (Sekolah Guru Belanda untuk orang Cina) di Jakarta. Ia lalu menjadi guru dan juga bekerja sambilan sebagai tenaga pencari pelanggan telepon. Karena ia tertarik dengan bidang hukum, ia lalu berangkat ke Belanda dan belajar di Leiden hingga akhirnya ia lulus dan menyandang gelar Meester de Rechten (Mr). Ia lalu memutuskan menjadi advokat pada tahun 1949. Keputusannya itu yang membuat namanya kemudian dikenal selaku pengacara handal di Indonesia.

Sebagai pengacara, ia dikenal keras kepala, kaku dan sangat idealis. Ia juga dikenal bertemperamen tinggi dan pemarah. Kebenaran yang diyakininya akan dipertahankannya dengan sekuat tenaganya. Sikap tegas, keras, dan idealisme tingginya membuat tidak sedikit orang yang menyebutnya arogan. Namun tak sedikit pula orang yang gemetar ketakutan jika harus berhadapan dengannya di dalam persidangan.

Bersama-sama dengan John Karwin, Mochtar Kusumaatmaja dan Komar, Yap membentuk kantor pengacara pada tahun 1950-1953. Ia kemudian bergabung dengan Tan Po Goan, Lie Hwee Yoe dan Oei Tjat Tat dalam kantor pengacara selama 17 tahun. Ia juga mendirikan Lembaga Bantuan Hukum bersama dengan Adnan Buyung Nasution. Ia lantas mendirikan kantor pengacaranya sendiri pada tahun 1970.

Dalam sidang Konstituante pada tanggal 12 Mei 1959, Yap adalah satu-satunya anggota Konstituante yang secara terbuka dan tegas berani menentang gagasan Presiden Sukarno. Ia juga berani melontarkan kritiknya atas penahanan Sutan Syahrir, Mohammad Roem, Mohammad Natsir, Mochtar Lubis, Subadio Sastrosatomo dan Princen pada masa Orde Lama.

Pada masa Orde Baru, ia tampil selaku pengacara yang gigih membela para tersangka Komando Jihad dan Peristiwa Tanjung Priok yang oleh penguasa Orde Baru dicap sebagai 'Islam Radikal'. Ia juga mendesak Peradin (Persatuan Advokat Indonesia) untuk mengeluarkan pernyataan tegas pada pemerintah pada masalah pembebasan tahanan politik PKI di pulau Buru yang kebanyakan dari mereka ditahan bertahun-tahun tanpa didahului proses pengadilan.

Yap Thiam Hien berulang-ulang mendekam dalam tahanan berkenaan dengan sepak terjangnya selaku pengacara. Ia pernah dipenjara karena dituduh menghina jaksa yang telah memeras klien yang dibelanya. Ia kembali dibui saat membela Dr. Subandrio dengan tuduhan terlibat dalam Gerakan 30 September PKI. Dalam peristiwa Malari tahun 1974, ia kembali ditahan karena dituduh terlibat dalam peristiwa yang sangat mengguncangkan Indonesia di awal tahun 1974 tersebut. Meskipun berulang-ulang dipenjara, ia tidak pernah merasa jera. Penjara bukan penghalang baginya dalam menyuarakan kebenaran dan berlandaskan hukum.

Yap Thiam Hien wafat 24 April 1989 di Rumah Sakit Santo Agustinus. 'Pendekar Hukum' yang tetap konsisten menunjukkan pembelaannya bagi orang-orang yang tertindas dan dilanggar hak asasi kemanusiaannya itu telah berpulang selama-lamanya dengan meninggalkan sejuta kenangan bagi bangsa besar ini.

dari Wiki

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Yap_Thiam_Hien

Yap Thiam Hien (lahir di Koeta Radja, Aceh, 25 Mei 1913–meninggal di Brusel, Belgia, 25 April 1989) adalah seorang pengacara Indonesia keturunan Tionghoa. Ia mengabdikan seluruh hidupnya berjuang demi menegakkan keadilan dan HAM. Namanya diabadikan sebagai nama sebuah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang berjasa besar bagi penegakan hak asasi manusia di Indonesia.

Biografi
Yap Thiam Hien, adalah anak sulung dari tiga bersaudara dari Yap Sin Eng dan Hwan Tjing Nio. Kakek buyutnya adalah seorang Luitenant yang bermigrasi dari provinsi Guangdong di Tiongkok ke Bangka, namun kemudian pindah ke Aceh. Ketika monopoli opium di Hindia Belanda dihapuskan, kehidupan keluarga Yap dan banyak tokoh masyarakat Tionghoa saat itu merosot. Ditambah lagi oleh kekeliruan investasi di Aceh berupa kebun kelapa yang ternyata tidak memberikan hasil yang menguntungkan. Pada tahun 1920 kedudukan keluarga Yap digantikan oleh keluarga Han, yang datang dari Jawa Timur.

Thiam Hien dibesarkan dalam lingkungan perkebunan yang sangat feodalistik. Kondisi lingkungan feodalistik ini telah menempa pribadi cucu Kapitan Yap Hun Han ini sejak kecil bersifat memberontak dan membenci segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan.

Pada usia 9 tahun, ibunda Thiam Hien meninggal dunia. Ia dan kedua orang adiknya kemudian dibesarkan oleh Sato Nakashima, seorang perempuan Jepang yang merupakan gundik kakeknya. Sato ternyata memainkan peranan besar dalam kehidupan Thiam Hien, memberikan kemesraan keluarga yang biasanya tidak ditemukan dalam keluarga Tionghoa serta rasa etis yang kuat yang kelak menjiwai kehidupan Thiam Hien di masa dewasa.

Yap Sin Eng, ayah Thiam Hien, ternyata adalah figur yang lemah. Namun Sin Eng ikut membentuk kehidupan anak-anaknya, karena ia memutuskan untuk memohon status hukum disamakan (gelijkstelling) dengan bangsa Eropa. Hal ini memungkinkan anak-anaknya memperoleh pendidikan Eropa, meskipun mereka telah kehilangan status sebagai tokoh masyarakat.


Pindah ke Jawa
Thiam Hien belajar di Europesche Lagere School, Banda Aceh. Kemudian melanjut ke MULO di Banda Aceh. Pada tahun 1920-an, Yap Sin Eng membawa Thiam Hien dan adiknya Thiam Bong pindah ke Batavia. Thiam Hien pun pindah sekolah ke MULO di Batavia, lalu meneruskan ke AMS A-II dengan program bahasa-bahasa Barat di Bandung dan Yogyakarta dan lulus pada 1933. Ia sangat tertarik akan sejarah dan fasih dalam bahasa-bahasa Barat, yaitu bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Inggris, bahasa Prancis, dan bahasa Latin.

Pada 1938, Yap memeluk agama Kristen, setelah selama beberapa tahun mempelajarinya dan berkenalan lewat sebuah keluarga Indonesia, tempat ia kos di Yogyakarta.


Menjadi guru
Selesai dari AMS, dunia pada saat itu dilanda depresi ekonomi, dan Yap tidak dapat memperoleh pekerjaan. Karena itu ia pindah ke Batavia, dan masuk ke Chineesche Kweekschool (HCK), di Meester Cornelis. HCK adalah sekolah pendidikan guru yang berlangsung satu tahun, yang memberikan kesempatan kepada para pemuda peranakan yang ingin menempuh pendidikan profesional, namun tidak mempunyai biaya untuk masuk ke universitas. Setamat dari HCK, Yap menjadi guru selama empat tahun di wilde scholen (sekolah-sekolah yang tidak diakui pemerintah Belanda) Chinese Zendingschool, Cirebon. Berikutnya menjadi guru di Tionghwa Hwee Kwan Holl, China School di Rembang dan Christelijke School di Batavia. Lalu, sejak 1938, Yap yang pernah menjadi pencari langganan telepon, bekerja di kantor asuransi Jakarta dan di Balai Harta Peninggalan Departemen Kehakiman pada 1943 serta mendaftar di Rechsthogeschool (Sekolah Tinggi Hukum).


Berangkat ke Belanda
Pada awal 1946, Yap mendapatkan kesempatan untuk bekerja pada sebuah kapal pemulangan orang-orang Belanda yang mengantarkannya ke Belanda untuk menyelesaikan studi hukumnya di Universitas Leiden. Dari sana ia meraih gelar Meester in de Rechten. Sementara belajar di Leiden, Yap tinggal di Zendingshuis, pusat Gereja Reformasi Belanda di Oegsgeest. Selama tinggal di Zendingshuis, Yap banyak membaca buku-buku teologi Protestan dan berdiskusi dengan para mahasiswa Belanda yang mempersiapkan diri untuk menjadi misionaris. Yap semakin tertarik akan pelayanan gereja, dan Gereja Reformasi Belanda kemudian menawarkan kesempatan kepada Yap untuk belajar di Selly Oak College di Inggris, dengan syarat ia kelak mengabdikan hidupnya bagi pelayanan gereja di Indonesia. Yap setuju dan sekembalinya dari Eropa ia menjadi pemimpin organisasi pemuda Kristen Tjeng Lian Hwee di Jakarta pada akhir 1940-an. Selama di Belanda, Yap berkembang menjadi seorang sosialis demokrat melalui pergaulannya dengan banyak mahasiswa Indonesia lainnya yang terkait dengan Partij van de Arbeid (Partai Buruh) di Belanda.


Menjadi pengacara
Sekembalinya ke tanah air pada 1948, Yap menikah. Ayahnya, Yap Sin Eng dan Sato Nakashima meninggal pada 1949. Yap mulai bekerja di gereja. Ia pun kemudian mulai berkiprah sebagai seorang pengacara warga untuk warga keturunan Tionghoa di Jakarta. Belakangan ia bergabung dengan sebuah biro hukum kecil namun cukup terkemuka dengan rekan-rekannya yang semuanya terlibat dalam masalah yang jauh lebih luas daripada sekadar masalah Tionghoa. Rekan seniornya pada waktu itu antara lain adalah Lie Hwee Yoe, pendiri biro hukum itu pada tahun 1930-an, Tan Po Goan, seorang pendukung aktif revolusi dan kemudian menjadi anggota Partai Sosialis Indonesia, dan Oei Tjoe Tat yang jauh lebih muda, seorang aktivis Sin Ming Hui dan belakangan aktif di Baperki dan Partindo.

Setelah lebih berpengalaman, Yap bersama John Karwin, Mochtar Kusumaatmadja dan Komar membuka kantor pengacara pada 1950. Sampai kemudian, Yap membuka kantor pengacara sendiri sejak tahun 1970 dan kemudian memelopori berdirinya Peradin (Persatuan Advokat Indonesia) dan kemudian menjadi pimpinan asosiasi advokat itu.

Dalam rangka memperkuat perlawanannya terhadap penindasan dan tindakan diskriminatif yang dialami keturunan Tionghoa, Yap ikut mendirikan Baperki, suatu organisasi massa yang mulanya didirikan untuk memperjuangkan kepentingan politik orang-orang Tionghoa. Lalu, pada Pemilihan Umum 1955, ia menjadi anggota Konstituante. Namun Yap berbeda paham politik dengan Siauw Giok Tjhan, salah satu tokoh Baperki saat itu. Ia menentang politik Siauw yang cenderung kekiri-kirian. Karena itu Yap kemudian keluar dari organisasi itu.

Nama Yap muncul ke permukaan setelah ia terlibat dalam perdebatan di Konstituante pada 1959. Ketika itu, sebagai seorang anggota DPR dan Konstituante keturunan Tionghoa, ia menolak kebijakan fraksinya yang mendapat tekanan dari pemerintah. Ia satu-satunya anggota Konstituante yang menentang UUD 1945 karena keberadaan Pasal 6 yang diskriminatif dan konsep kepresidenan yang terlalu kuat.

Perjalanan karier dan perjuangannya juga ditopang dengan kuat oleh istrinya, Tan Gien Khing Nio, yang berprofesi guru. Mereka dikaruniai dua anak, Yap Hong Gie dan Yap Hong Ai, serta empat cucu. Yap, yang diberi penghargaan gelar doctor honoris causa dikenal sebagai pengabdi hukum sejati.
Dalam perjalanan tugas menghadiri konferensi internasional Lembaga Donor untuk Indonesia di Brussel, Belgia, Yap menderita pendarahan usus. Setelah dua hari dirawat di Rumah Sakit Santo Agustinus, Brussel, Yap menghembuskan napas yang terakhir pada 25 April 1989. Jenazahnya diterbangkan ke Jakarta. Lima hari kemudian, diiringi ribuan pelayat, jenazahnya dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta.

Selama hidupnya, Yap dikenal sebagai seorang Kristen yang saleh, dan aktif dalam kegiatan gereja. Ia ikut mendirikan Universitas Kristen Indonesia dan pernah duduk dalam salah satu komisi dari Dewan Gereja-gereja se-Dunia dan International Commission of Jurists. Arief Budiman pernah menjuluki Yap sebagai seorang "triple minority" di Indonesia, yaitu Tionghoa, Kristen, dan jujur.


Kegiatan
Selama menjadi pengacara, Yap pernah membela pedagang di Pasar Senen yang tempat usahanya tergusur oleh pemilik gedung. Yap juga menjadi salah seorang pendiri Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Pada era Bung Karno, Yap menulis artikel yang mengimbau presiden agar membebaskan sejumlah tahanan politik, seperti Mohammad Natsir, Mohammad Roem, Mochtar Lubis, Subadio, Syahrir, dan Princen.

Begitu pula ketika terjadinya Peristiwa G30S, Yap, yang dikenal sebagai pribadi yang antikomunis, juga berani membela para tersangka G30S seperti Abdul Latief, Asep Suryawan, dan Oei Tjoe Tat. Yap bersama H.J.C Princen, Aisyah Aminy, Dr Halim, Wiratmo Sukito, dan Dr Tambunan yang tergabung dalam Lembaga Pembela Hak-hak Asasi Manusia (LPHAM) yang mereka dirikan 29 April 1966 dan sekaligus mewakili Amnesty International di Indonesia, meminta supaya para tapol PKI dibebaskan.

Ia juga membuktikan nasionalisme tidak dapat dikaitkan dengan nama yang disandang seseorang. Ini dibuktikannya dengan tidak mengganti nama Tionghoa yang ia sandang sampai akhir hayatnya walaupun ada himbauan dari pemerintah Orde Baru kepada orang Tionghoa di Indonesia untuk mengganti nama Tionghoa mereka.

Ia juga membela Soebandrio, bekas perdana menteri, yang menjadi sasaran cacian massa pada awal Orde Baru itu. Pembelaan Yap yang serius dan teliti kepada Soebandrio itu sempat membuat hakim-hakim militer di Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa) bingung dan kesal.
Yap juga seorang tokoh yang antikorupsi. Ia bahkan sempat ditahan selama seminggu pada tahun 1968 sebagai akibat kegigihannya menentang korupsi di lembaga pemerintah.

Pada Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) 1974, Yap juga tampil teguh memosisikan diri membela para aktivis mahasiswa. Ia pun ditahan tanpa proses peradilan. Ia dianggap menghasut mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran. Begitu pula ketika terjadi Peristiwa Tanjung Priok pada 1984, Yap maju ke depan membela para tersangka.
Kaskus ID : celanaman

Kategori : Pejuang dan Politikus

Bentuk karya : Artikel + Gambar

Sumber : Pahlawan dan Pejuang Nusantara

Keterangan :

CHAERUL SALEH




Chaerul Saleh dilahirkan di Sawah Lunto, Sumatera Barat, pada tanggal 13 September 1916. Pendidikan awalnya adalah ELS dan dilanjutkannya di HBS (Hoge Burgerlijke School) bagian B di Medan. Agustus 1934 Chaerul pindah ke Jakarta dan meneruskan sekolah di Koning Willem Drie (KW III) yang sering disebut pula HBS 5 tahun. Tahun 1937 ia melanjutkan pendidikannya ke Rechts Hoge School (Sekolah Tinggi Hukum).

Chaerul yang terkenal pemberani, militan, dan radikal itu bergabung dengan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) dan menjabat selaku Sekertaris I serta akhirnya menjadi Ketua. Secara tegas Chaerul menyebutkan tujuan PPPI adalah Indonesia merdeka. Oleh karena itu ketika Jepang menyatakan takluk kepada Sekutu, Chaerul dan Sukarni mendesak Sukarno-Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia setelah sebelumnya 'menculik' Dwi Tunggal itu ke Rengas Dengklok.

Ketika Belanda melancarkan agresi II, Chaerul Saleh keluar dari Yogyakarta dan kemudian melakukan perang gerilya di daerah Sanggabuana, Jawa Barat bersama Laskar Rakyat.

Meski Chaerul kemudian berhasil menyusup masuk ke Jakarta, ia ditangkap pihak berwajib karena penghianatan bekas anak buahnya. Chaerul ditahan di penjara Paledang (Bogor), kemudian dipindahkan ke berbagai rumah tahanan lainnya, seperti penjara Gang Tengah, Glodok, Banceuy (Bandung) sebelum akhirnya dipindahkan ke Nusa Kambangan. Karena campur tangan Mr. Mohammad Yamin yang menjabat Menteri Kehakiman, Chaerul dibebaskan dan kemudian dikirim ke Bern, Swiss, dengan dalih 'tugas belajar' selama 4 tahun (1952-1956). Di luar negeri ia tetap berjuang dengan mendirikan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Bonn (Jerman Barat).

Sepulangnya kembali ke tanah air, Chaerul mengupayakan perbaikan nasib bagi bekas anak buahnya hingga terbentuklah Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Ia kemudian diangkat menjadi Menteri Urusan Veteran dan dianugerahi pangkat Jenderal Kehormatan. Berbagai jabatan penting yang pernah disandangnya adalah menjadi Menteri Perindustrian dan Menko Pembangunan, Wakil Perdana Menteri III, dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara.

Sekalipun Chaerul dikenal sangat anti komunis, namun ia dicurigai terlibat G30S/PKI. Ia juga dituduh melakukan tindak korupsi 5 juta US$ pada proyek Petro Kimia Gresik. Karena kecurigaan itu, ia dikenakan tahanan rumah dan selanjutnya ditahan di Rumah Tahanan Militer (RTM) Jakarta hingga akhirnya wafat 8 Februari 1967. Jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet, Jakarta.

Sepeninggalnya, Presiden Suharto menyatakan dalam surat bela sungkawanya, bahwa Chaerul Saleh tidak terlibat G30S/PKI namun yang masih perlu dijelaskan adalah pertanggungjawaban masalah 'ekonomi'. Perkara 'ekonomi' itupun akhirnya ditutup oleh pemerintah pada tanggal 29 April 1967.

Spoiler for dari Wiki:
Kaskus ID : celanaman

Kategori : Pejuang dan Sastrawan

Bentuk karya : Artikel + Gambar

Sumber : Pahlawan dan Pejuang Nusantara

Keterangan :

ABDOEL MOEIS




Abdoel Moeis dilahirkan di Sungai Puar, Sumatera Barat, tanggal 3 Juli 1883. Ia pernah belajar di Sekolah Dokter Bumiputera (STOVIA) namun tidak sampai lulus. Dengan berbagai cara, ia berjuang sekuat tenaga agar negerinya terbebas dari penjajahan yang menyengsarakan.

Melalui kepiawaiannya menulis, ia tidak hanya dikenal sebagai wartawan handal, namun juga sastrawan besar Indonesia. Salah Asuhan dan Surapati merupakan buah karyanya yang melegenda. Dalam dunia jurnalistik, ia tercatat bekerja pada surat kabar Preanger Bode Bandung, harian De Expres, harian Kaoem Moeda dan juga Neraca. Dalam kancah organisasi kebangsaan, ia bergabung dengan organisasi Sarekat Islam hingga diangkat menjadi anggota pengurus besar. Ia pernah diajak memboikot perayaan seratus tahun terbebasnya Belanda dari penjajahan Perancis. Akibatnya, ia harus berhadapan dengan pengadilan yang mengadilinya.

Di setiap kesempatan, Abdul Muis selalu memanfaatkannya untuk kepentingan negeri tercintanya. Ketika ia dikirim ke negeri Belanda pada tahun 1917 atas nama Komite Ketahanan Hindia Belanda (Indie Weerbaar), ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mempengaruhi tokoh-tokoh politik Belanda guna mendirikan Sekolah Teknologi Tinggi (Technische Hooge School) di Indonesia. Perjuangannya berhasil, sekolah itu akhirnya didirikan di Indonesia dan sekarang terkenal dengan nama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Abdul Muis bersama dengan Umar Said Cokroaminoto yang mewakili Sarekat Islam dalam Volkstraad (Dewan Rakyat) pada tanggal 25 November 1918 pernah mengajukan mosi terhadap pemerintah Kolonial Belanda agar membentuk parlemen yang anggota-anggotanya dipilih sendiri oleh rakyat.

Ia juga memimpin pemogokan massal para buruh di Yogyakarta pada tahun 1922. Karena perlawanan yang ditunjukkannya, pemerintah Kolonial Belanda akhirnya menangkap dan mengasingkan Abdul Muis ke Garut, Jawa Barat, pada tahun 1927. Di Garut, Abdul Muis membentuk Persatuan Perjuangan Priangan untuk membantu perjuangan para pejuang dalam rangka melawan penjajah. Ia seperti tidak kehabisan akal dan cara untuk menunjukkan perjuangannya melawan penjajah.

Pejuang dan sastrawan besar ini wafat pada tanggal 17 Juni 1959 di Bandung. Jenazahnya dimakamkan pula di Kota Kembang itu. Pemerintah Indonesia mengangkatnya sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional pada tahun 1959.
Kaskus ID : celanaman

Kategori : Pahlawan Revolusi

Bentuk karya : Artikel + Gambar

Sumber : Pahlawan dan Pejuang Nusantara

Keterangan :

KATAMSO DHARMOKUSUMO




Katamso Dharmokusumo dilahirkan di Sragen, tanggal 5 Februari 1923. Pendidikan terakhirnya adalah Sekolah Menengah. Ketika Jepang menduduki Indonesia, ia mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air (PETA).

Dalam kiprah militernya, ia terlibat aktif dalam penumpasan berbagai pemberontakan yang mencoba mengguncang keutuhan Indonesia, seperti pemberontakan Batalyon 426 di Jawa Tengah dan PRRI di Sumatera Barat.

Karir militer Katamso terus naik. Berbagai jabatan kemiliteran pernah disandangnya, diantaranya sebagai Kepala Resimen Team Pertempuran (RTP) II Diponegoro di Bukit Tinggi, Komandan pada Komando Pendidikan dan Latihan (Koplat) dan merangkap sebagai Komandan Pusat Pendidikan Infantri (Pusdiktif) di Bandung. Jabatan terakhir yang disandangnya adalah Komandan Komando Resort Militer (Korem) 072 Komando Daerah Militer (Kodam) VII Diponegoro di Yogyakarta dengan pangkat kolonel.

Mengikuti pola Gerakan 30 September di Jakarta, anggota PKI di Yogyakarta berhasil 'menjemput' Kolonel Katamso untuk dibawa ke Kentungan, sebelah utara Yogyakarta. Di tempat itulah Kolonel Katamso Dharmokusumo gugur selaku kusuma bangsa di tangan PKI. Jazadnya dibuang di daerah Kentungan itu pula hingga akhirnya ditemukan tanggal 22 Oktober 1965 untuk selanjutnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Pemerintah Indonesia mengangkat Katamso Dharmokusumo menjadi Pahlawan Revolusi pada tahun 1965 dan menganugrahinya pangkat Brigadir Jenderal Anumerta.
×