KASKUS

udah lama ngak ada lanjutannya lagi nih.....
masih sabar menunggu
wuih serem ya....
cuma gara2 kesalahan kecil aja sampe meluas kayak gitu....
Fuih....
Seru
Izin nyimak gan
lajoootin dung sesepuh ... :
seru bener neh ... :
nice info gan :
gan bisa diliat kerusuhan sipil di negara kita sebnernya cm gara-gara salah paham sama provokasi yang (mungkin) dilakukan pihak asing..

negara kita kaya akan agama,suku dan bahasa mari kita cintai negeri kita ini..

btw nice thread for TS...
numpang baca gan serem2 bgt yaa damai ajh deh gk ush ribut2
Quote:Original Posted By caul_neh
numpang baca gan serem2 bgt yaa damai ajh deh gk ush ribut2


yg di ambon ..yg adudomba jelas tuh..
klo bukan RMS sapa lagi...
Quote:Original Posted By LekTukir
yg di ambon ..yg adudomba jelas tuh..
klo bukan RMS sapa lagi...

yup betul..pasti RMS tuh yg ngadu domba,,en RMS itu dapet bantuan sapa lagi kalo bukan bekas penjajah kita dolo
Quote:Original Posted By LekTukir
yg di ambon ..yg adudomba jelas tuh..
klo bukan RMS sapa lagi...


Quote:Original Posted By ozawa bin laden
yup betul..pasti RMS tuh yg ngadu domba,,en RMS itu dapet bantuan sapa lagi kalo bukan bekas penjajah kita dolo


Udah baca yg diposting TS dan yg lain belum? Ga cuma RMS yang main di Ambon, tapi juga kelompok preman Jakarta dan petinggi2 politik. Zaman kacau kan itu. Zaman orang Indonesia mulai diadu satu sama lain dengan memanfaatkan agama.
dahsyat sekali postingan ini...
kapan2 saya akan mampir lagi..
menunggu lanjutan fakta yang tercecer..

mungkin kerusuhan sipil vs sipil bisa disebut PERANG SIPIL

yang di tasikmalaya mana gan, posting juga dong
itu loh yang 7 gereja dibakarin kalo gak salah
Quote:Original Posted By LekTukir
yg di ambon ..yg adudomba jelas tuh..
klo bukan RMS sapa lagi...


WOI JANGAN FITNAH LO :
dulu saya ditengah2 kerusuhan 98 itu, ingin menyelamatkan seorang gadis setelah melewati berbagai bakar2an dan penghadangan ternyata gadis tersebut sudah ada di rumahnya dengan selamat, akhirnya balik kanan melalui bangkai2 manusia dan kendaraan
KERUSUHAN POSO






Sebenarnya lbh layak disebut perang daripada kerusuhan. Semoga agan2 seklain cukup dewasa dalam mencerna bahasan ini.



Periode I: 25-28 Desember 1998 s/d Pertemuan Malino, 20- 21 Desember 2001:

Konflik antar komunitas ini sering diberi label sederhana, yakni “konflik
agama”, dengan mengacu pada satu karakteristik dari komunitas-komunitas yang bertikai. Memang, pada awalnya konflik ini tercetus oleh perkelahian di antara dua orang pemuda yang berbeda agama, kemudian berkembang menjadi perkelahian di antara komunitas kampung-kampung Muslim dan Kristen, di mana selama gelombang kerusuhan pertama (Desember 1998) dan kedua (April 1998).



Illustrasi


Pada tanggal 25 Desember 1998 terjadi perkelahian pribadi antara dua pemuda yaitu Roy Bisalemba (Kristen) dengan Akhmad Ridwan (Islam) yang diprovokasi menjadi persoalan agama. Roy memakai parang membacok Akhmad. Pemuda Kristen tersebut diproses secara hukum oleh kepolisian setempat. Isu yang beredar bahwa pemuda Kristen tersebut menyerang seorang pemuda Islam di dalam Mesjid. Faktanya perkelahian tersebut terjadi di jalan.

Pada tanggal 27 Desember 1998, penyerangan dilakukan oleh kelompok Muslim terhadap rumah-rumah orang Kristen. Pada waktu itu belum ada tempat ibadah yang diserang. Di beberapa tempat ada tulisan-tulisan yang melecehkan umat Kristen, misalnya: “****s babi…” dan sebagainya.

Selanjutnya, sejak bulan Mei 2000 mulai berlangsung serangan-serangan balasan dari milisi Kristen yang terbentuk dari kalangan pengungsi Kristen di Tentena, yang terutama dipimpin oleh tokoh-tokoh yang berasal dari kelompok Ondae di Kecamatan Pamona Timur. Kelompok sub-etnis Pamona ini adalah yang paling akhir memeluk agama Kristen, dan masih punya budaya perang – dan mengayau – yang baru satu generasi tertekan ke bawah permukaan. Serangan balasan milisi pimpinan tokoh-tokoh masyarakat Ondae ini dibantu oleh relawan dari Lembah Napu (Kecamatan Lore Utara), yang tersinggung oleh pelanggaran adat yang dilakukan oleh orang-orang Parigi yang melintasi wilayah kekuasaan orang Napu di Poso Pesisir ketika membantu serangan komunitas Muslim di kota Poso. Selain itu, ada juga dukun-dukun dari suku Da’a (Kabupaten Donggala, Sulteng) dan Toraja (Sulsel) yang ikut membantu milisi Ondae dan Napu, termotivasi
oleh semangat ‘membantu saudara seiman’, sama seperti motivasi orang Tojo dan Parigimembantu komunitas Muslim di kota Poso.


Ternyata, serangan balasan milisi-milisi suku-suku asli yang dominan Kristen ke kota Poso, kecamatan Lage dan kecamatan Poso Pesisir, yang semula dimaksudkan hanya untuk menangkap para provokator kerusuhan Poso gelombang I dan II, berkembang menjadi penghancuran kampung-kampung yang mayoritas berpenduduk Muslim di Kecamatan Lage dan Poso Pesisir.




Ini terjadi setelah tewasnya Ir. Adven Lateka, pejabat asal Ondae yang memimpin serangan pertama yang gagal menangkap dan menculik para provokator, dan setelah kelompok-kelompok milisi penduduk asli yang mulai bermunculan secara spontan mendapat pengarahan dari seorang pensiunan
militer asal Toraja, Tungkanan. Dampak serangan balasan yang paling sering disorot adalah hancurnya kompleks pesantren di Km 9, selatan kota Poso, yang terkenal dengan sebutan Pesantren Walisongo.

Peristiwa inilah kemudian di-blow up oleh sejumlah media Islam bergaris keras untuk menjustifikasi deployment lasykar-lasykar mujahidin dari Jawa,
Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, bahkan Sumatera Utara
, membantu lasykar mujahidin lokal pimpinan Ustadz Adnan Arsal, seorang pegawai Departemen Agama Kabupaten Poso asal Sulawesi Selatan. Kebebasan bergerak berbagai kelompok mujahidin dari luar – termasuk yang kemudian diidentifikasi sebagai Jamaah Islamiah -- dijamin sepenuhnya oleh sejumlah
pejabat pemerintah di Palu (provinsi) dan Poso (kabupaten). Sebelumnya telah beredar petunjuk-petunjuk perakitan senjata api di antara kedua komunitas agama di sana, yang serta merta menumbuhkan industri perakitan senjata di kedua komunitas. Hal ini dibarengi penyebaran amunisi ke kedua komunitas yang berasal dari sumber utama senjata dan amunisi Angkatan Darat, yakni PT Pindad. Namun dukungan yang lebih terbuka, yang sesungguhnya sudah dirintis oleh sejumlah perwira polisi dan tentara sejak pertengahan 2000.

Maka sempurnalah eskalasi konflik di antara kedua komunitas menjadi konflik
bersenjata api, di mana komunitas Muslim berada di atas angin. Ini terbukti dari kehebatan serangan kilat ke lima desa di Kecamatan Poso Pesisir tanggal 27 s/d 29 November 2001, di mana serangan milisi Muslim mendapat dukungan sejumlah kendaraan dan alat-alat berat milik dinas-dinas di lingkungan Pemerintah Daerah Poso.Peristiwa ini yang kemudian mengundang tekanan internasional, yang akhirnya mendorong Menko Kesra Yusuf Kalla memprakarsai pertemuan di kota dingin, Malino, 19-20 Desember 2001





Side story

Quote:

Sekitar pukul 21.00 – 02.00 wita, pada tanggal 1 dan 2 Desember 2001, Desa Batugencu dan Desa Sepe Kecamatan Lage, Poso diserang oleh salah satu kelompok yang bertikai saat konflik di Poso. Saat terjadi kontak senjata antara pihak penyerang dan anggota TNI dari Kompi B 711 Raksatama yang menghalau massa penyerang namun karena kewalahan membendung serangan massa penyerang hingga akhirnya rumah-rumah warga di Desa Batugencu dan Sepe serta pos penjagaan TNI/Polri dibakar dan harta benda warga dijarah. Saat kontak senjata itu, tiga anggota TNI yang berpos di Desa perbatasan Desa Sepe dan batugencu mengalami luka tembak.

Namun, dini hari pada tanggal 2 Desember 2001, dua truk anggota TNI Kompi B 711 Raksatama melakukan penyirisan ke desa-desa yang diduga sebagai penyerang, salah satunya Desa Toyado. Saat penyirisan dilakukan, delapan orang warga desa Toyado yang sementara ronda menjelang sahur di pos masyarakat langsung diciduk oknum TNI dengan menggunakan truck dan dibawa ke sebuah rumah di Kelurahan Tagolu, sekitar 10 Km dari arah selatan Kota Poso.

Dari kejadian itu, diketahui enam orang warga Desa Toyado masing-masing, Syuaib Lamarati (16), Latif (25) Imran La Curu (32) Hasyim Toana (50) Azwad Lawaratu alias Awal (18) dan Riyadi ditemukan sudah tidak bernyawa lagi dengan kondisi tubuh mengenaskan tiga hari setelah kejadian. Lima orang diantaranya ditemukan jasadnya di sebuah lubang pembuangan sampah di Kelurahan Tagolu dan seorang lainnya dihanyutkan jasadnya di sungai Poso. Sedangkan dua diantaranya masing-masing Saharuddin alias Kede (26) dan Iwan Ronti (18) berhasil meloloskan diri dengan selamat.

Dengan lolosnya dua orang korban tersebut, akhirnya kasus penculikan ini terungkap.

Pada Bulan Desember 2001, keluarga korban telah melaporkan kepada Kepolisian Resort Poso dan Komnas HAM saat melakukan kunjungan kerja di Poso. Tim Komnas HAM tersebut dipimpin oleh Albert Hasibuan., namun respon Komnas HAM atas kasus ini hanya berupa rekomendasi penyelidikan kepada Den POM VII/2 Wirabuana. Sedangkan pihak kepolisian tidak melakukan usaha penyelidikan.

Pada tahun 2002, Kodam VII Wirabuana memberikan kompensasi berupa dana kerohiman kepada korban dan keluarga korban yang hilang dan meninggal dunia.

Bulan Januari-Mei 2002, POM VII/2 Wirabuana memeriksa sekitar 100 saksi dari masyarakat dan anggota TNI terkait kasus penculikan warga Toyado. Selain memeriksa saksi, POM VII/2 juga menyita sejumlah barang bukti diantaranya, dua pucuk senjata organik, tiga pucuk senjata rakitan, serta puluhan butir amunisi yang masih aktif. Semua barang bukti yang diamankan merupakan milik beberapa anggota TNI yang terlibat dalam kasus tersebut.

Pada bulan Juni 2002, Polisi Militer VII/2 Wirabuana menetapkan dua oknum Perwira Pertama TNI dan delapan Tamtama dari dari Kompi B Yonif 711 Raksatama menjadi tersangka dalam kasus penculikan warga Desa Toyado.

Sejak tahun 2002, berkas perkara 10 tersangka penculikan warga Toyado dilimpahkan ke Oditur Militer di Manado, Sulawesi Utara. Saat ini pengadilan militer di Manado sementara memeriksa kasus ini dalam persidangan tanpa menghadirkan saksi warga dan korban yang selamat.







Periode II: pasca Deklarasi Malino s/d penyerangan terhadap empat desa Kristen di Morowali dan Poso:





Sementara sepuluh butir kesepakatan Deklarasi Malino mulai disosialisasikan,
gangguan keamanan di Kabupaten Poso dan Morowali, yang telah dimekarkan dari kabupaten induknya, mulai berubah bentuk. Baku serang di antara kedua komunitas praktis sudah tidak terjadi, dan gangguan keamanan berubah bentuk menjadi teror dari ‘kelompok-kelompok yang tidak teridentifikasi’ terhadap rakyat di kedua kabupaten itu. Dari silih bergantinya sasaran teror tersebut, tampaknya teror itu bertujuan memprovokasi konflik antar komunitas kembali. Namun kenyataannya, kedua komunitas tidak terprovokasi.



Penembak Misterius


Ada tiga bentuk teror yang dialami penduduk di kedua kabupaten itu. Bentuk
teror pertama yang paling sering terjadi adalah ancaman dan ledakan bom.

bersambung
Bentuk teror yang kedua yang sedikit lebih rendah frekuensinya adalah penembakan oleh penembak profesional yang tidak teridentifikasi jati dirinya (‘penembak misterius’). Sedangkan bentuk teror yang ketiga, yang lebih jarang terjadi adalah serangan kilat oleh perusuh terlatih bersenjata otomatis di saat fajar atau tengah malam, pada saat penduduk sedang terlelap.


Periode III: Medio Oktober 2003
Spiral kekerasan tercetus kembali dengan serangan ‘pasukan terlatih bersenjata’ ke Desa Beteleme di Kabupaten Morowali, tanggal 10 Oktober 2003, yang disusul dengan serangan ke tiga desa di Kecamatan Poso Pesisir, dua hari berikutnya. Operasi keamanan gabungan TNI dan Polri yang segera dilansir setelah penyerangan beruntun di Morowali dan Poso itu mendapat sorotan media nasional dan internasional.

Penyidikan lebih jauh tentang siapa yang mengorganisir mereka,
menemukan jalan buntu dengan terbunuhnya tokoh yang dianggap pemimpin
penyerangan ke Beteleme, yakni Muhamadong alias Madong. Akibat kecerobohan aparat keamanan gabungan itu, bukan hanya Madong yang
tertembak mati, melainkan juga sejumlah aktivis Muslim lain yang berasal dari Poso,Ampana dan Poso Pesisir. Kecerobohan itu dampaknya bagaikan menyiram bensin ke api. Seperti mengelu-elukan para pejuang intifada di Palestina, penguburan aktivis-aktivis Muslim yang ditembak mati oleh aparat menjadi ajang mobiliasi semangat jihad baru, tidak hanya jihad melawan komunitas Kristen tapi juga jihad terhadap aparat
Polri. Memang, pada saat arak-arakan keliling kota Poso mengantar jenazah Aswan, salah seorang di antara enam tersangka penyerang Desa Beteleme, beredar selebaran berisi lima butir imbauan berjihad. Begitu pula, setelah Hamid tertembak oleh Brimob di Poso Pesisir, jenazahnya juga diarak oleh massa Muslim sebelum dikuburkan dipekuburan Muslim di Kelurahan Lawanga di kota Poso (Kedaulatan Rakyat, 17 Nov. 2003; Manado Post, 17 Nov. 2003; Komentar, 17 & 22 Nov. 2003).

Ribuan warga Muslim yang berdemonstrasi di depan Markas
Polres Poso pada hari Minggu, 16 November, memprotes penembakan Hamid dan menuntut pembebasan dua orang kawannya, Irwan bin Rais dan Sukri. Mereka melampiaskan kemarahan mereka kepada Deny Lingkuwa (22), seorang warga Desa Wawopada, Kabupaten Morowali yang baru saja lulus dari testing calon pegawai negeri sipil di Departemen Agama Poso. Pemuda malang berambut cepak itu tewas dianiaya massa yang keliru menyangka dia intel polisi. Motor Yamaha Shogun yang korban kendarai hangus dibakar massa. Begitu pula sebuah motor sumbangan Menko Kesra Jusuf Kalla yang diparkir di depan Markas Kompi IV Pelopor Brimob Polda Sulteng di
Kelurahan Mo-engko di pinggiran barat kota Poso (RKP News, 16 Nov. 2003; Radar Sulteng, 16 Nov. 2003; Suara Pembaruan, Kedaulatan Rakyat, Komentar & Manado Post, 17Nov. 2003; sumber-sumber lain).

side story

Quote:

Sabtu (29/10/05), tiga siswi Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Poso tewas dibunuh orang tak dikenal. Warga menemukan, kepala ketiga pelajar perempuan itu terpisah dari tubuhnya dengan jarak 8-15 kilometer dari lokasi kejadian.

Ketiga korban tewas yaitu Theresia Morangki (17), Ida Yarni Sambuaga (15), dan Alfitha Poliwo. Mereka adalah Siswi Kelas I SMA Kristen Poso yang tinggal di Kelurahan Bukit Bambu, Kecamatan Poso Kota, Poso.

Dalam peristiwa pembunuhan itu, seorang siswi lainnya yang bernama Noviana Malewa (16) yang juga merupakan siswi kelas III SMA Kristen Poso selamat. Namun, ia mengalami luka bacok yang cukup serius di bagian muka dan belakang leher. Noviana menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Poso.

Berdasarkan keterangan sejumlah warga, sekitar pukul 07.00 Wita, tiga tubuh korban tewas ditemukan di Dusun Bukit Bambu, Kelurahan Sayo, Kecamatan Poso Kota. Disana juga Noviana ditemukan dalam kondisi sekarat. Semua tubuh korban ditemukan masih mengenakan pakaian Pramuka, seragam yang digunakan setiap hari Sabtu.

Tidak lama berselang, warga lainnya menemukan dua kepala manusia diantara ruas Jalan Kelurahan Tagolu dan Desa Sintuwulemba, Kilometer Sembilan, Kecamatan Lage yang jaraknya sekitar delapan kilometer dari lokasi ditemukannya tubuh korban. Saat itu warga menjadi sangat panik dan ketakutan.

Sekitar pukul 08.00 Wita, warga lainnya juga menemukan sebuah kepala manusia di depan gereja Pantekosta Poso Pesisir, Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir, jaraknya sekitar 15 kilometer dari lokasi ditemukannnya tubuh korban.

Keterangan saksi lainnya di tempat peristiwa, biasanya, pelajar dari dusun itu berjalan kaki terlebih dahulu ke jalan raya sekitar 30 menit untuk mendapatkan angkutan kota yang selanjutnya membawa mereka ke sekolah. Dalam perjalan kaki itulah diperkirakan keempat korban ditebas pelaku. Sejumlah warga memperkirakan, pelaku menggunakan sepeda motor dan setelah membantai korban langsung melarikan diri.

Aksi kekerasan lainnya pernah terjadi di Kelurahan Bukit Bambu, saat perayaan Idul Fitri tahun 2003. Saat itu, rumah-rumah warga diberondong dengan tembakan oleh orang tidak dikenal.

Sekitar pukul 09.00 Wita, ratusan warga Tentena, Ibukota Kecamatan Pamona Utara, Poso, mendatangi Kantor Polisi Sektor Pamona Utara. Kedatangan warga itu awalnya karena mengira sebuah mobil dengan nomor polisi DD (Nopol Sulawesi Selatan-Red) yang ditahan polisi adalah mobil pelaku pembunuhan siswi diatas. Warga juga memprotes polisi yang tidak mampu memberikan rasa aman bagi warga Poso

Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah sesaat setelah mendapatkan laporan dari warga langsung menuju kelokasi kejadian. Sejumlah saksi di lapangan diperiksa untuk dimintai keterangannya sebagai saksi dan beberapa barang bukti di TKP berupa pin yang bertulis FPI dan ransel berwarna hijau diamankan oleh kepolisian

Keesokan harinnya (30/10), Kepala Kepolisian RI, Sutanto bersama dengan Kepala BIN, Syamsir Siregar berada di Poso dan melakukan dialog dengan pimpinan agama di rumah jabatan bupati. Untuk menindak lanjuti Inpres No. 14 Tahun 2005, Kepala Polri langsung membentuk Satuan Tugas Poso yang dipimpin oleh Brigjen Pol Bambang Suedi. Salah satu tugas utama dari Satgas Poso ini adalah mempercepat pengungkapan motif dan menangkap pelaku mutilasi tiga siswi SMA Kristen Poso.

Pada pertengahan Mei 2006, enam orang ditangkap di Kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah, tiga diantaranya dijadikan tersangka oleh polisi sebagai pelaku mutilasi tiga siswi Poso. Mereka adalah Hasanudin alias Slamet Rahardjo, Lilik Purnomo dan Irwanto Irano.

Ketiga tersangka pelaku mutilasi itu diperiksa oleh Reskrim Mabes Polri di Jakarta dan selanjutnya disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Oleh Jaksa Penuntut Umum ketiga terdakwa dikenakan pasal 1 UU No. 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Selain pembunuhan, ketiga terdakwa itu juga didakwa dalam tindak pidana terorisme karena membuat keresahan yang bersifat massal. Keresahan itu terjadi karena setelah melakukan aksi mutilasi, kepala korban diletakkan di perkampungan penduduk. Di kantung plastik yang berisi kepala korban itu juga terdapat secarik kertas yang bertuliskan kata-kata ancaman





Dalam pembukaan Simposium Refleksi 10 Tahun Perdamaian Poso, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan, pascakerusuhan, Poso berpotensi memasuki fase ketiga, yakni dijadikan lokasi pelatihan dan perekrutan anggota teroris.
"Banyak dari luar yang datang untuk pelatihan. Bagaimana Noordin M Top datang ke Poso untuk dijadikan tempat pelatihan? Karena itu jangan pernah ada konflik agar jangan jadi ajang rekrutmen dan pelatihan," ungkap Wapres di hadapan peserta simposium di Hotel Swiss Bel, Palu, Sulawesi Tengah,Senin (10/11/2009).
Untuk itu, Wapres mengingatkan, semua pihak harus belajar dari kasus Poso agar kejadian yang sama tidak terulang lagi. Karena konflik berpotensi menyisakan peluang bagi para teoris untuk menyusup dan mempengaruhi warga setempat untuk dilatih menjadi bagian dari mereka.
"Di Poso, anak-anak dengan Rp50 ribu tidak tahu dibawa ke mana, tahu-tahu menyerang. Mungkin anak-anak yang pernah dilatih bikin bom, meninggalkan aksi teror di mana-mana. Untuk mengatasi ini, kita harus betul-betul di tengah-tengah," tegasnya




This is COOL.
Keragaman etnik penduduk kota Poso, merupakan suatu keadaan yang sejak awal ditolerir oleh Raja Talasa Tua (Nduwa Talasa ), penguasa adat terakhir kota Poso. Kata sang raja dalam maklumatnya yang dibacakan di kantor raja Poso di kota Poso, tanggal 11 Mei 1947, jam 10 pagi:


Laut/Teluk Tomini tidak ada pagarnya
Laut/Teluk Tomini tidak ada pagarnya
Hai kamu orang Arab
Hai kamu orang Tionghoa
Hai kamu orang Jawa
Hai kamu orang Manado
Hai kamu orang Gorontalo
Hai kamu orang Parigi
Hai kamu orang Kaili
Hai kamu orang Tojo
Hai kamu orang Ampana
Hai kamu orang Bungku
Hai kamu orang Bugis – orang Wotu
Hai kamu orang Makassar
Jika kamu tidak menaati perintahku kamu boleh pulang baik-baik ke kampung
halamanmu karena Tana Poso tidak boleh dikotori dengan darah.


(Damanik 2003: 41)
kebanyakan kisah kerusuhann...yang paling paree..yg jadi "kompor mledugh-nye" (niat bener ngomporin roang")... Pare bet dah... Mari di lanjut bang TS info"nye biar ay jadi, ga gampang di komporin.!

ada hikmahnya jg baca beginian
gan soceripoy,mo nanya,terus gimana dengan kuburan2 masal yang ada diposo? apa masih nambah mayat yang ketemu?secara mayat muslim yang berhamburan di sungai sampai pantai kan banyak tuh?terus juga penanganan senjata2 yang dipake perosnil kelelawar merah(kristen) macam tameng yang dibuat dari karet mentah,senjata mesin yang ditaksir jumlahnya sampe ribuan terus gak jelas juntrungannya?selain vabianus tibo,dominggus,marianus riwi,tau gak kelanjutan orang2 dibawah ini :

1.tungkanan(purn.tni)
2.limpadeli(pens.pns)
3.ladue(purn.tni)
4.erik rombot(pns kehutanan)
5.theo manjayo(purn.tni)
6.edy bungkundapu(pns pemda tk.2 poso)
7.yahya patiro(pns pemda tk.2 poso)
8.sigilipu h.x
9.obed tampai(peg.perhub.laj)
10.ruagadi son(pns guru sd)
11.yanis simangunsong
12.vence angkou
13.angky tungkanan
14.herry banibi
15.sarjun alias gode
16.guntur tarinje

diatas adalah petinggi2 milisi kristen macam kelelawar merah yang melakukan aksi pembantaian di km.9 sintuwelemba,kelurahan lawanga.etc

tambahan slogan2 yang ditemukan ditulis didinding rumah penduduk muslim
1.pamona poso
tanah kelahiranku
poso asli
bersatu

2.merdeka kristen

3.muslim
harus tinggalkan
tanah poso

http://myhome.asia1.com/home/p/poso

http://geocities.com/tragediposo
Quote:Original Posted By gogogk
gan soceripoy,mo nanya,terus gimana dengan kuburan2 masal yang ada diposo? apa masih nambah mayat yang ketemu?secara mayat muslim yang berhamburan di sungai sampai pantai kan banyak tuh?terus juga penanganan senjata2 yang dipake perosnil kelelawar merah(kristen) macam tameng yang dibuat dari karet mentah,senjata mesin yang ditaksir jumlahnya sampe ribuan terus gak jelas juntrungannya?selain vabianus tibo,dominggus,marianus riwi,tau gak kelanjutan orang2 dibawah ini :

1.tungkanan(purn.tni)
2.limpadeli(pens.pns)
3.ladue(purn.tni)
4.erik rombot(pns kehutanan)
5.theo manjayo(purn.tni)
6.edy bungkundapu(pns pemda tk.2 poso)
7.yahya patiro(pns pemda tk.2 poso)
8.sigilipu h.x
9.obed tampai(peg.perhub.laj)
10.ruagadi son(pns guru sd)
11.yanis simangunsong
12.vence angkou
13.angky tungkanan
14.herry banibi
15.sarjun alias gode
16.guntur tarinje

diatas adalah petinggi2 milisi kristen macam kelelawar merah yang melakukan aksi pembantaian di km.9 sintuwelemba,kelurahan lawanga.etc

tambahan slogan2 yang ditemukan ditulis didinding rumah penduduk muslim
1.pamona poso
tanah kelahiranku
poso asli
bersatu

2.merdeka kristen

3.muslim
harus tinggalkan
tanah poso

http://myhome.asia1.com/home/p/poso

http://geocities.com/tragediposo


pertama
link yg ada berikan tidak muncul apa2

kedua
data yang anda berikan memojokkan satu pihak tanpa cross check terlebih dahulu

ketiga
dari kalimat yang Anda paparkan bermaksud menimbulkan kebencian kepada suatu pihak

keempat
saya tidak mau menulis dari satu sisi pandang (Islam atau Kristen)
Islam bilang dengan hiperbolisasi,hasutan dan propaganda Kristen yg salah,kejam dll
Kristen bilang dengan hiperbolisasi,hasutan dan propaganda Islam yg salah, kejam dll
saya lihat dr sisi netralnya

klo mao dibeberkan disini ya itu jadi bias krn hiperbolisasi,hasutan dan propaganda

sekali2 agan cek dari sudut pandang LSM , pengamat sosial ato peneliti atau bahkan dari pihak agama lain ( jgn berpaku pada 1 agama saja)