KASKUS

Quote:Original Posted By kbudayan
Trims gan untuk infonya. Boleh nanggap ya? Kalau pernah baca-baca sedikit ke-4 putri Kertanegara dikimpoi setelah Singhasari jatuh. Jadi memang Dara Petak memang istri pertama Raden Wijaya. Perkimpoian ke-4 puteri Singhasari itu, kalau dilihat dari cara dan wujudnya, boleh dibilang pro-forma. Toh Raden Wijaya tidak melanjutkan dinasti Singhasari.
Jadi pertanyaannya : kenapa Raden Wijaya mempermuliakan Dara Petak yang merupakan puteri Melayu?
Tabik gan.


karena itulah jayanegara anak dara petak ahirnya dianggap sebagai raja yang "mursal" dan aneh sipatnya. no offense banyak yg menganggap ini kesalahan raden wijaya karena justru mengangkat dara petak sebagai istri yg dituakan. dan hal ini ahirnya dikembalikan dengan berjayanya tribuana tungga dewi dan rajadewi yang memang keturunan "singasari"
Quote:Original Posted By kbudayan
Mohon maaf gan mau nanggap sedikit mengenai Expedisi Pamalayu. Saya kira selama ini kita terlalu terpengaruh dengan hipotesa Slamet Mulyana, yang dalam salah satu bukunya menerangkan Amoghapasa. Saya kira hipotesa ini kurang jujur, karena tidak mempertimbangkan konteks waktu dan situasi.
Pada kurun abad ke-13, Sriwijaya masih sedang jaya-jayanya walau agak berkurang dari abad-abad sebelumnya. Sebenarnya ada satu kerajaan lagi yang kurang disebut dan sekarang sudah mulai digali, yaitu Melayupura. Jadi konteks Pamalayu sebenarnya adalah menjalin hubungan dengan Melayupura, dan bukan penaklukan Sumatera. Hal ini juga diragukan oleh Uli Kozok dalam bukunya tentang Naskah Tanjung Tanah itu.
Pertanyaannya : seberapa besar nilai hubungan itu ? Kayaknya kita harus melihat tingkat kemajuan peradaban pada masa itu. Sriwijaya dan Melayupura sudah memiliki hubungan diplomasi dengan berbagai kerajaan besar sejak jauh sebelum masa itu, terutama dengan Cina dan India. Kita melihat hubungan Majapahit dengan Cina baru terbangun melalui Adityawarman (Kresna Duta?)yang putera Melayu. Dengan kata lain, kondisi di Sumatera pada masa itu jauh lebih maju dibandingkan dengan Jawa yang masih disibukkan dengan masalah internal.
Mohon dicatat juga, pada sekitar tahun 1260an ada utusan dari Jambi yang bertamu ke Cina.
Masalah pengerahan tentara ke Sumatera, saya kira tidak ya, mungkin sebaliknya.
Sehingga pertanyaan selanjutnya :
a. Urusan dan keuntungan apa Singhasari mau menaklukkan Sumatera, ataukah mau minta perlindungan (joint military) dari Melayu dari suatu ancaman tertentu ?
b. Nilai hubungan ini mohon dilihat dari kurun waktu 1275-1297, jadi ada lebih 20 tahunan. Jarak pelayaran Melayu-Singhasari hanya 1-2 minggu untuk musim-musim tertentu. Mungkinkah banyak kejadian pada masa itu?
Mohon maaf untuk tanggapan ini, atau ada pandangan lain gan?
Tabik.


sebenernya ini jadi berbau bau pertarungan kepentingan dan rasa ujub daerah masing masing. bro kebudayaan jelas memihak sumatera dan merasa ga terima dengan penjelasan sejarah yg menyatakan ada ekspedisi pamalayu. dalam penjabaran penjabaran selanjutnya menggiring pada sebuah pemahaman bahwa ada sesuatu yg aneh dengan ekspedisi pamalayu. menurut saya sih wajar wajar saja. perkara apakah waktu itu pamalayu berhasil atau tidak memang kayanya sebagian pasukan dari singasari keluar sehingga mudah diserbu dari belakang oleh jayakatwang. nah siapa menguasai siapa ini masti kita rekonstruksi. apakah bener bahwa penguasaan dalam kamus leluhur kita dahulu adalah kolonialisasi seperti pemahaman eropa?atau cukup dengan mengadakan perjanjian maka malayu dan jawa sama sama merasa memiliki tanah pijakan?. jika dibilang singasari takut atas serangan china liwat malayu mungkin juga benar. kalo ada perjanjian militer mungkin saja bener. yang jelas toh china ga menyerang jawa dari sumatera. dan sampai ahir majapahit sendiri ahirnya ga ada serangan dari china. kalo sekedar ada ekspedisi china seperti laksamana cheng ho tentu sangat biasa saja toh. walo dikatakan bahwa sebenernya dinasti demak dibantu china
Quote:Original Posted By kbudayan
Trims gan untuk infonya. Boleh nanggap ya? Kalau pernah baca-baca sedikit ke-4 putri Kertanegara dikimpoi setelah Singhasari jatuh. Jadi memang Dara Petak memang istri pertama Raden Wijaya. Perkimpoian ke-4 puteri Singhasari itu, kalau dilihat dari cara dan wujudnya, boleh dibilang pro-forma. Toh Raden Wijaya tidak melanjutkan dinasti Singhasari.
Jadi pertanyaannya : kenapa Raden Wijaya mempermuliakan Dara Petak yang merupakan puteri Melayu?
Tabik gan.


raden wijaya meneruskan tahta singasari gan. tapi menggunakan nama majapahit. dalam budaya jawa jika sebuah keraton sudah jatuh maka nama kerajaanya akan dirubah. dara petak bukan istri pertama. tapi diangkat sebagai istri yang dituakan. sapa yang berhak mengangkat?ya raja lah. jadi bukan didasarkan pada urut urutan. itu cuma berupa gelar saja. sebaiknya jika ingin mempelajari sejarah kerajaan jawa, pelajarilah pula kebudayaanya jadi ga rancu kenapa ada kejadian begini begitu.
Quote:Original Posted By kbudayan
Sedikit lagi gan sambil mancing yang laen :
1. Hmm ...
Tahun lalu saya dapat telpon dari teman. Katanya baru ketemu titisannya Raden Wijaya, dan katanya dia itu orang Palembang. Senyum aja gan.

2. Monggo sepuh...

3.

4. Selain itu, sebenarnya saya pengen nunjukin kalau lokasi Tarik itu ada hubungannya dengan Melayu dan Sriwijaya, serta beberapa tempat lain.

5. Ya asumsi sekelebatan saja gan. Jadi gini, dari hasil expedisi Pamalayu akhirnya terjalin bantuan kerjasama militer ke Singhasari. Tujuannya emang memprotek Singhasari. Saya curiga sebagian pasukan itu ada yang ditempatkan di Madura. Sebagian lagi jadi pasukan inti ibukota (garnizun). Jadi ya gitu deh.

Sementara itu dulu ya gan. Kita tunggu yang laen. Trims sekali lagi gan. Sori menyori deh.
Tabek.


ada misteri yang terbentuk disini. bukan lagi pada perkataan bahwa ada bantuan dari sumatera. tapi emang tentara sumatera adalah tentara majapahit juga. demikian juga tentara tentara dari pulau pulau yang lain. saya pernah baca sebuah tulisan bahwa dalam melakukan penaklukan bali ada bantuan dari pasukan sunda dan pasukan dari tanah sumatera. tentu ini mengherankan saya karena ada apa yang disebut "bubat" kemudian. saya sih lebih melihat bahwa tentara majapahit itu bukan murni tentara dari tanah jawa saja yang dibawa kemana mana menyeberang pulao. tapi tentara dari berbagai suku yang saling membantu dan digunakan untuk posisi tawar menawr. penaklukan majapahit bukan ekspansi kolonialistik tapi merupakan sebuah perlebaran wilayan dengan cara "pengakuan". cukup "mengakui" maka cukup dianggap jd wilayan majapahit tanpa harus mengganti raja dan tata pemerintahan. hal ini dpt dilihat dr struktur majapahit sendiri di jawa yg emang terdiri dari banyak kerajaan yg dipimpin raja raja kecil. misal arya wiraraja yang menjadi raja di lumajang. ga salah dong jika kemudian penerapan itu dilakukan ke luar?.

Thumbs up 

mantaph gan.. info sejarah yang luar biasa..

Talking 

Arya Wiraraja nama lainnya Banyak Wide dan dia berkuasa di Sumenep bukan
Lumajang...

from wikipedia...

Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya mengisahkan Arya Wiraraja semula menjabat sebagai rakryan demung pada masa pemerintahan Kertanagara di Singhasari. Namun karena sikapnya menentang politik luar negeri raja, ia pun dipindahkan menjadi bupati Sumenep.

Wiraraja merasa sakit hati. Ia mengetahui kalau Jayakatwang bupati Gelang-Gelang berniat memberontak, untuk membalas kekalahan leluhurnya, yaitu Kertajaya raja terakhir Kadiri yang digulingkan oleh Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel atau Singhasari. Wiraraja pun mengirim surat melalui putranya yang bernama Wirondaya, yang berisi saran supaya Jayakatwang segera melaksanakan niatnya, karena saat itu sebagian besar tentara Singhasari sedang berada di luar Jawa.
Quote:Original Posted By frenchblue
Arya Wiraraja nama lainnya Banyak Wide dan dia berkuasa di Sumenep bukan
Lumajang...

from wikipedia...

Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya mengisahkan Arya Wiraraja semula menjabat sebagai rakryan demung pada masa pemerintahan Kertanagara di Singhasari. Namun karena sikapnya menentang politik luar negeri raja, ia pun dipindahkan menjadi bupati Sumenep.

Wiraraja merasa sakit hati. Ia mengetahui kalau Jayakatwang bupati Gelang-Gelang berniat memberontak, untuk membalas kekalahan leluhurnya, yaitu Kertajaya raja terakhir Kadiri yang digulingkan oleh Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel atau Singhasari. Wiraraja pun mengirim surat melalui putranya yang bernama Wirondaya, yang berisi saran supaya Jayakatwang segera melaksanakan niatnya, karena saat itu sebagian besar tentara Singhasari sedang berada di luar Jawa.


ketika pemerintahan singasari kertanegara mengasingkan arya wiraraja ke sumenep. kemudian arya wiraraja merencanakan pemberontakan bersama jayakatwang karena merasa sakit hati. setelah kertanegara jatuh raden wijaya mengungsi ke sumenep. arya wiraraja kemudian membantu raden wijaya menjadi raja majapahit dan membantu mengalahkan jayakatwang. setelah anaknya ronggolawe memberontak arya wiraraja menagih janji raden wijaya yang akan memberikan daerah di lumajang. arya wiraraja menjadi raja di lumajang yg dikenal sebagai majapahit timur.
Aria Wiraraja atau Banyak Wide adalah tokoh pengatur siasat Raden Wijaya dalam usaha penaklukan Kadiri tahun 1293 dan pendirian Kerajaan Majapahit. Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya mengisahkan Arya Wiraraja semula menjabat sebagai rakryan demung pada masa pemerintahan Kertanagara di Singasari. Namun karena sikapnya menentang politik luar negeri raja, ia pun dipindahkan menjadi Bupati Sumenep.

Wiraraja merasa sakit hati. Ia mengetahui kalau Jayakatwang, Bupati Gelang-Gelang, berniat memberontak. Jayakatwang ingin membalas kekalahan leluhurnya, yaitu Kertajaya raja terakhir Kadiri yang digulingkan oleh Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel (Singasari). Wiraraja pun mengirim surat melalui putranya yang bernama Wirondaya, yang berisi saran supaya Jayakatwang segera melaksanakan niatnya, karena saat itu sebagian besar tentara Singasari sedang berada di luar Jawa. Maka pada tahun 1292, terjadilah serangan pasukan Gelang-Gelang terhadap ibukota Singasari. Kertanagara tewas di istana. Jayakatwang lalu membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu Kadiri dan menjadi raja di sana.

Persekutuan Aria Wiraraja dengan Raden Wijaya
Menantu Kertanagara yang bernama Nararya Sanggramawijaya (dikenal Raden Wijaya) mengungsi ke Sumenep, Pulau Madura, meminta perlindungan Aria Wiraraja. Semasa muda, Wiraraja pernah mengabdi pada Narasingamurti, kakek Raden Wijaya. Maka, ia pun bersedia membantu sang pangeran untuk menggulingkan Jayakatwang. Raden Wijaya bersumpah jika ia berhasil merebut kembali takhta mertuanya, maka kekuasaannya akan dibagi dua, yaitu untuk dirinya dan untuk Wiraraja.

Mula-mula Wiraraja menyarankan agar Raden Wijaya pura-pura menyerah ke Kadiri. Atas jaminan darinya, Raden Wijaya dapat diterima dengan baik oleh Jayakatwang. Sebagai bukti takluk, Raden Wijaya siap membuka Hutan Tarik, di sekitar Sidoarjo, menjadi kawasan wisata bagi Jayakatwang yang gemar berburu. Jayakatwang mengabulkannya. Raden Wijaya dibantu orang-orang Madura kiriman Wiraraja membuka hutan tersebut, dan mendirikan desa Majapahit di dalamnya.

Pada tahun 1293 datang tentara Mongol untuk menghukum Kertanagara yang berani menyakiti utusan Kubilai Khan tahun 1289. Raden Wijaya selaku ahli waris Kertanagara siap menyerahkan diri asalkan ia terlebih dahulu dibantu oleh pasukan Mongol untuk memerdekakan diri dari Jayakatwang. Maka bergabunglah pasukan Mongol dan Majapahit menyerbu ibukota Kadiri. Setelah Jayakatwang kalah, pihak Majapahit ganti mengusir pasukan Mongol dari tanah Jawa.

Menurut Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya, pasukan Mongol diundang oleh Wiraraja untuk membantu Raden Wijaya mengalahkan Kadiri, dengan imbalan dua orang putri untuk diperistri Kaisar Mongol Kublai Khan.

Jabatan Aria Wiraraja di Majapahit
Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit yang merdeka tahun 1293. Dari Prasasti Kudadu (1294) diketahui jabatan Aria Wiraraja adalah sebagai pasangguhan dengan gelar Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka. Pada prasasti Penanggungan (1296) nama Wiraraja sudah tidak lagi dijumpai. Penyebabnya ialah pada tahun 1295 salah satu putra Wiraraja yang bernama Ranggalawe melakukan pemberontakan dan menemui kematiannya. Peristiwa itu membuat Wiraraja sakit hati dan mengundurkan diri dari jabatannya. Ia lalu menuntut janji Raden Wijaya, yaitu setengah wilayah Majapahit. Raden Wijaya mengabulkannya. Wiraraja akhirnya mendapatkan Majapahit sebelah timur dengan ibukota di Lumajang.

Akhir Kemerdekaan Majapahit Timur
Pararaton menyebutkan pada tahun 1316 terjadi “pemberontakan” Nambi di Lumajang terhadap Jayanagara, raja kedua Majapahit. Ketika itu Nambi menjabat sebagai patih amangkubhumi Majapahit.Kidung Sorandaka mengisahkan pemberontakan tersebut terjadi setelah kematian ayah Nambi yang bernama Pranaraja. Sedangkan, Pararaton dan Kidung Harsawijaya menyebut Nambi adalah putra Wiraraja, padahal lebih tepat sebagai adik Wiraraja adn paman Ranggalawe.

Berdasarkan analisis Slamet Muljana dengan menggunakan bukti Prasasti Kudadu dan Prasasti Penanggungan (2006), Wiraraja lebih tepat sebagai ayah Ranggalawe. Tidak diketahui dengan pasti apakah Wiraraja masih hidup pada tahun 1316. Yang jelas, setelah kekalahan Nambi, daerah Lumajang kembali bersatu dengan Majapahit bagian barat. Ini berarti penguasa Majapahit Timur saat itu (entah dikuasai Wiraraja atau penggantinya) bergabung dengan Nambi yang terbunuh oleh serangan pasukan Majapahit Barat.

Kepustakaan
Muljana, Slamet. 2006. Menuju Puncak Kemegahan. Yogyakarta: LKiS.
_____ . 2005. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Yogyakarta: LKiS

http://www.wacananusantara.org/5/24/...dc0567c0cb50da

http://id.wikipedia.org/wiki/Aria_Wiraraja
Quote:Original Posted By adipatianom
karena itulah jayanegara anak dara petak ahirnya dianggap sebagai raja yang "mursal" dan aneh sipatnya. no offense banyak yg menganggap ini kesalahan raden wijaya karena justru mengangkat dara petak sebagai istri yg dituakan. dan hal ini ahirnya dikembalikan dengan berjayanya tribuana tungga dewi dan rajadewi yang memang keturunan "singasari"


Trims gan untuk komennya. Penilaian "mursal" sudah menjadi stigma dan stereotype untuk orang2 non Jawa, dan tersosialisasi baik hingga saat ini.
Oleh karena itu sejak era Raden Wijaya dibentuk pasukan khusus yang terdiri dari perwira2 pilihan dari Sumatera yang mempunyai tugas khusus melindungi wangsa Kuru, diberi nama Bhayangkara.
Quote:Original Posted By kbudayan
Nyambung dikit ya gan :
1. Memang lemah tapi masih disegani termasuk pada era Majapahit. Satu-satunya kekuatan yang bisa menghantam memang dari Cola itu.

2. Sebagai gambaran aja gan. Termasuk raja Sriwijaya terakhir pindah ke Tumasik (1400?) berada dalam perlindungan Raja Cina dan Thailand.

3. Trims infonya gan.

4. Trims infonya gan.
Namun kurang setuju gan masalah Sriwijaya bergeser ke Jambi, yang pasti ke Tumasik. Ada yang selama ini luput dari catatan sejarah yaitu pada masa itu ada kerajaan besar lagi di hulu Batang Hari, yang pindah ke Muaro Jambi, dan kemudian pindah ke Dharmasraya, dan kemudian pindah lagi ke Pagaruyung dan berada dalam perlindungan Minangkabau (lihat buku Uli Kozok). Sisa2nya tersebar ke sepanjang pantai timur Sumatera, termasuk ke Pulau Penyengat. Nanti saya jelasin lagi deh sebarannya.
Melayupura dan Sriwijaya ini dari dulu seteru, termasuk dapat dilihat dari catatan prasasti Sriwijaya, kalau pasukan2 Sriwijaya sering ditugaskan ke "perbatasan" untuk mencegah infiltrasi. Tapi memang kedua kerajaan ini tidak pernah perang terbuka.

5.

6. Syukurlah, mudah2an ada bukti sejarah tentang hal itu.
Sebagai tambahan catatan, pada masa itu selain Melayupura dan Sriwijaya yang memiliki hubungan global, satu lagi adalah Kesultanan Ternate, berdiri tahun 1232, saya kira oleh migran2 dari Timur Tengah.

7.

Trims sharing infonya. Sorry saya bukan sejarahwan, hanya peminat saja, dan kurang bisa ngasih literatur. Tapi diskusi ini sangat berharga dan saya tunggu2 sejak 5 tahun yang lalu.
Tabek.


Hmmmm ....

1. Kerajaan Chola memang tercatat pernah menyerang Sriwijaya ...

2. Owh ... Yang Prameswara ya....

3. Sama-sama

4. Sama-sama

5. -

6. Ternate ? mmmm .... thread ini topiknya tentang Singosari dan Majapahit. Kalo semua kerajaan Nusantara dibahas ntar malah out of the topic....

7. -

Sama-sama... Saya kan juga bukan sejarahwan .... cuma pernah dapat pelajaran sejarah pas SD, SMP dan SMA saja.

Quote:Original Posted By kbudayan
Sedikit lagi gan sambil mancing yang laen :
1. Hmm ...
Tahun lalu saya dapat telpon dari teman. Katanya baru ketemu titisannya Raden Wijaya, dan katanya dia itu orang Palembang. Senyum aja gan.

2. Monggo sepuh...

3.

4. Selain itu, sebenarnya saya pengen nunjukin kalau lokasi Tarik itu ada hubungannya dengan Melayu dan Sriwijaya, serta beberapa tempat lain.

5. Ya asumsi sekelebatan saja gan. Jadi gini, dari hasil expedisi Pamalayu akhirnya terjalin bantuan kerjasama militer ke Singhasari. Tujuannya emang memprotek Singhasari. Saya curiga sebagian pasukan itu ada yang ditempatkan di Madura. Sebagian lagi jadi pasukan inti ibukota (garnizun). Jadi ya gitu deh.

Sementara itu dulu ya gan. Kita tunggu yang laen. Trims sekali lagi gan. Sori menyori deh.
Tabek.


Hmmm .....

1. titisan ya ? ..... hi hi hi ..... saya juga pernah ketemu ama titisan nya Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi (menurut pengakuan dia yah) beberapa waktu lalu ..... no commet ah, urusan beginian bukan konsumsi umum.

2. -

3. -

4. Hutan Tarik hubungannya apa ama lokasi Sriwijaya dan Melayu ? Ijin nyimak nehh

5. Menurut saya ekspedisi Pamalayu pas pulang membawa 2 putri Sumatra, sebagian aja yang pulang ke Jawa, kan sebagian pasukannya ditinggal di Sumatra untuk mengkontrol di sana. Dan apa maksudnya kalimat "memprotek Singosari" ? Singosari itu melaunching ekpsedisi Pamalayu buat menjadikan Sumatra sebagai barrier Singosari . Just it....

Tentang penempatan pasukan Pamalayu di Madura sepertinya kagak ada bukti literaturnya ..... Pake logika aja, itu Pasukan Singosari yang dikirim sebagai Expedisi Pamalayu begitu tahu Raja Kertanegara udah tewas, siapa yang mereka hormati ? Otomatis putri-putrinya Kertanegara dunkkkk ... Jadi mereka pasti tinggal melindungi putri raja Kertanegara... Kalo di Madura, mereka mau ngapain ? Melindungi Arya Wiraraja ? kagak dehhh .... Arya Wiraraja kan orangnya lihai pasti lebih mengandalkan pasukannya sendiri buat melindungi dia dan keluarganya....

CMIIW, please....

Quote:Original Posted By adipatianom
sebenernya ini jadi berbau bau pertarungan kepentingan dan rasa ujub daerah masing masing. bro kebudayaan jelas memihak sumatera dan merasa ga terima dengan penjelasan sejarah yg menyatakan ada ekspedisi pamalayu. dalam penjabaran penjabaran selanjutnya menggiring pada sebuah pemahaman bahwa ada sesuatu yg aneh dengan ekspedisi pamalayu. menurut saya sih wajar wajar saja. perkara apakah waktu itu pamalayu berhasil atau tidak memang kayanya sebagian pasukan dari singasari keluar sehingga mudah diserbu dari belakang oleh jayakatwang. nah siapa menguasai siapa ini masti kita rekonstruksi. apakah bener bahwa penguasaan dalam kamus leluhur kita dahulu adalah kolonialisasi seperti pemahaman eropa?atau cukup dengan mengadakan perjanjian maka malayu dan jawa sama sama merasa memiliki tanah pijakan?. jika dibilang singasari takut atas serangan china liwat malayu mungkin juga benar. kalo ada perjanjian militer mungkin saja bener. yang jelas toh china ga menyerang jawa dari sumatera. dan sampai ahir majapahit sendiri ahirnya ga ada serangan dari china. kalo sekedar ada ekspedisi china seperti laksamana cheng ho tentu sangat biasa saja toh. walo dikatakan bahwa sebenernya dinasti demak dibantu china


Trims gan. Sebelumnya karena kita sudah memasuki bulan Ramadhan, saya mohon maaf kalau ada kesalahan.
Sambil nunggu taraweh, tak nanggap dulu. Mungkin agan benar, sebenarnya ada koreksi2 yang perlu dilakukan dalam pembelajaran sejarah2 kita dan belum dilakukan selama ini, yaitu : konteks dan konstelasi regional ketika sejarah itu berlangsung, dan cross check terhadap sejarah serupa yang dituturkan di tempat lain. Disamping tentunya juga analisa antropologi dan geomorfologi.
Masalah Pamalayu, kita berarti menganalisa kekuatan dan strategi militer, kita sesuaikan dengan kondisi pada masa dulu.
Sebagai gambaran saja, Uli Kozok kelihatannya bingung waktu mengetahui teknologi kertas sudah ada di Melayu pada waktu itu, sementara pada era yang sama Singhasari masih menggunakan daun lontar.
Juga analisa kekuatan apa yang bisa mengalahkan suatu kerajaan besar.
Karena disebutkan mengenai tentara Singhasari berada di "luar" pada waktu penyerangan Jayakatwang, mungkin saya coba kasih analisa.
Sebenarnya ada satu pakem yang dilanggar oleh Raden Wijaya sewaktu masih menjadi kumendan garnizun, yaitu beliau membawa pasukannya ke luar kota untuk mengejar pasukan Jayakatwang. Padahal doktrin pasukan garnizun adalah pertahanan kota. Jadi mohon sama-sama kita analisa hal ini.
Sementara itu gan.
Tabik.
Quote:Original Posted By adipatianom
ada misteri yang terbentuk disini. bukan lagi pada perkataan bahwa ada bantuan dari sumatera. tapi emang tentara sumatera adalah tentara majapahit juga. demikian juga tentara tentara dari pulau pulau yang lain. saya pernah baca sebuah tulisan bahwa dalam melakukan penaklukan bali ada bantuan dari pasukan sunda dan pasukan dari tanah sumatera. tentu ini mengherankan saya karena ada apa yang disebut "bubat" kemudian. saya sih lebih melihat bahwa tentara majapahit itu bukan murni tentara dari tanah jawa saja yang dibawa kemana mana menyeberang pulao. tapi tentara dari berbagai suku yang saling membantu dan digunakan untuk posisi tawar menawr. penaklukan majapahit bukan ekspansi kolonialistik tapi merupakan sebuah perlebaran wilayan dengan cara "pengakuan". cukup "mengakui" maka cukup dianggap jd wilayan majapahit tanpa harus mengganti raja dan tata pemerintahan. hal ini dpt dilihat dr struktur majapahit sendiri di jawa yg emang terdiri dari banyak kerajaan yg dipimpin raja raja kecil. misal arya wiraraja yang menjadi raja di lumajang. ga salah dong jika kemudian penerapan itu dilakukan ke luar?.


Memang misteri ini coba kita sibak pelan-pelan gan. Sebagai tambahan gambaran, Panglima Perang Majapahit pada masa itu bernama Adityawarman, yang merupakan cucu raja Melayu. Sumpah Palapa dilakukan ketika akumulasi tentara Melayu sudah berada dalam keadaan puncak di Majapahit. Jadi saya meragukan kalau ada masuk pasukan dari daerah lain. Apalagi serangan ke Bali (Pabali) adalah serangan pertama setelah Sumpah Palapa, jadi belum ada akumulasi pasukan dari daerah2 lain.
Itu dulu gan.
Tabik.
Quote:Original Posted By kbudayan
Trims gan untuk komennya. Penilaian "mursal" sudah menjadi stigma dan stereotype untuk orang2 non Jawa, dan tersosialisasi baik hingga saat ini.
Oleh karena itu sejak era Raden Wijaya dibentuk pasukan khusus yang terdiri dari perwira2 pilihan dari Sumatera yang mempunyai tugas khusus melindungi wangsa Kuru, diberi nama Bhayangkara.


sebenernya justru bhayangkara nantinya yang mengadakan pembubaran terhadap pemerintahan jayanegara bukan?walo sebenernya bhayangkara telah menyelamatkan sang prabu. mursal ini bukan karena beliau dr darah melayu tapi karena perbuatan beliau sang jayanegara yang ingin melanggengkan kekuasaanya dengan menikahi saudari mereka sendiri tribuana dan rajadewi. nah hal ini konon yang membuat pemberontakan kuti terjadi. tetapi bhayangkara melindungi sang prabu. nah ada teori bahwa tanca sengaja diberikan waktu agar jayanegara terbunuh ketika diobati, tapi entahlah. karena jayanegara juga ahirnya ta memiliki putra keturunan dan pemerintahan dilanjutkan oleh duet putri rajadewi dan tribuwanatunggadewi.
Quote:Original Posted By kbudayan
Trims gan. Sebelumnya karena kita sudah memasuki bulan Ramadhan, saya mohon maaf kalau ada kesalahan.
Sambil nunggu taraweh, tak nanggap dulu. Mungkin agan benar, sebenarnya ada koreksi2 yang perlu dilakukan dalam pembelajaran sejarah2 kita dan belum dilakukan selama ini, yaitu : konteks dan konstelasi regional ketika sejarah itu berlangsung, dan cross check terhadap sejarah serupa yang dituturkan di tempat lain. Disamping tentunya juga analisa antropologi dan geomorfologi.
Masalah Pamalayu, kita berarti menganalisa kekuatan dan strategi militer, kita sesuaikan dengan kondisi pada masa dulu.
Sebagai gambaran saja, Uli Kozok kelihatannya bingung waktu mengetahui teknologi kertas sudah ada di Melayu pada waktu itu, sementara pada era yang sama Singhasari masih menggunakan daun lontar.
Juga analisa kekuatan apa yang bisa mengalahkan suatu kerajaan besar.
Karena disebutkan mengenai tentara Singhasari berada di "luar" pada waktu penyerangan Jayakatwang, mungkin saya coba kasih analisa.
Sebenarnya ada satu pakem yang dilanggar oleh Raden Wijaya sewaktu masih menjadi kumendan garnizun, yaitu beliau membawa pasukannya ke luar kota untuk mengejar pasukan Jayakatwang. Padahal doktrin pasukan garnizun adalah pertahanan kota. Jadi mohon sama-sama kita analisa hal ini.
Sementara itu gan.
Tabik.


memang benar pasukan raden wijaya keluar mengejar pasukan jayakatwang. tetapi itu karena perintah raja kertanegara sendiri. jadi apakah berani seorang komandan pasukan melawan perintah dari sang prabu sendiri?. tentara selebihnya memang dikirimkan keluar. karena untuk mendukung ekspedisi yang disebut pamalayu tadi. atau mungkin sedang bersiap menghadang tentara mongol. kemajuan teknologi tidaklah suatu yg dielu elukan dijawa. jadi perkara tidak digunakanya kertas bukan sebuah pertanda bahwa jawa lemah dan ketinggalan. tetapi lebih karena bagaimana lebih menyenangkanya untuk memelihara suatu yang sakral. lihat sampe sekarang tak ada usaha penyalinan dari sebuah "karya suci" di seluruh jawa atau bali utamanya yang digunakan untuk upacara suci. mereka tetap menggunakan lontar sebagai bentuk aslinya. padahal kertas sudah ada dimana mana. karena makna penyalinan akan mengurangi kesakralanya. kecuali hanya digunakan sebagai pustaka.
Asyik..............
Makin hot diskusinya....

Memang "Dialog" hanya bisa tercipta dari sudut pandang yang berbeda... selama ini hanya "Monolog" berbicara tentang DINASTI TANAH JAWA dari kaca mata "mas karyo" saja, sehingga fakta-fakta yang tercecer dan terbaca sama "bang Tagor" (dari sumatra) atau "kang udin" (dari tatar sunda) dianggap kurang afdol...

Silahkan dilanjut... TOP
Quote:Original Posted By kbudayan
Memang misteri ini coba kita sibak pelan-pelan gan. Sebagai tambahan gambaran, Panglima Perang Majapahit pada masa itu bernama Adityawarman, yang merupakan cucu raja Melayu. Sumpah Palapa dilakukan ketika akumulasi tentara Melayu sudah berada dalam keadaan puncak di Majapahit. Jadi saya meragukan kalau ada masuk pasukan dari daerah lain. Apalagi serangan ke Bali (Pabali) adalah serangan pertama setelah Sumpah Palapa, jadi belum ada akumulasi pasukan dari daerah2 lain.
Itu dulu gan.
Tabik.


mungkin saja benar. dan memang ada tentara dari luar yang membantu majapahit. jadi tidak cuma sekadar tentara dari jawa. jadi ya bagaimanapun memang tentara majapahit dibantu oleh tentara dari luar. nah pertanyaanya adalah darimana dan dari sisi mana kita akan melihat hal ini?. saya merasa pertanyaan dan pernyataan saudara menuju kepada sebuah perkataan bahwa majapahit dan singasari bisa jaya karena bantuan tentara sumatera?memang benar apalagi ada adityawarman yang menjadi panglimanya. tapi saya juga mempertayakan kepada anda. kenapa tentara melayu ga menjadikan jawa sebagai jajahanya saja jika memang tentara melayu menganggap pemerintahan jawa lemah?sebenernya ada suatu yang agak aneh sejak pemerintahan sriwijaya yaitu mengapa sriwijaya tidak berusaha menguasai pulau sebelahnya yang kecil bernama jawa. apalagi sriwijaya sudah mendapat pengakuan dari pasundan dan juga berhasil menguasai dinasti sailendra di mataram kuno, juga konon mendalangi serangan wurai wari. tetapi sejak itu sejak airlangga, panjalu jenggala, sampe singasari dan majapahit tak ada usaha kembali untuk menguasai daerah jawa timur. tentu sangat mudah bukan untuk melumatkan jawa apalagi tentara sriwijaya waktu itu terdiri dari 20.000 pasukan yang sangat besar sehingga mampu berperang dilaut dengan kerajaan cola. sebagai peperangan yang amat legendaris. tetapi kenapa usaha penundukan daerah timur jawa yg kecil itu tidak dilakukan?.
bukankah jawabanya kemungkinan ada hubungan darah?atau ada hubungan kusus?atau pertimbangan lainya?kenapa juga adityawarman mau untuk diperintah oleh majapahit?. apa untungnya buat beliau yang memiliki kekuatan besar disumatera?. kenapa tidak meluaskan kekuasaan negeri beliau sendiri dibawah payung bendera beliau sendiri?.kenapa harus membantu jawa?. negeri kecil yg menurut anda tidak memiliki kekuatan itu?
Quote:Original Posted By klonengan_ku
Asyik..............
Makin hot diskusinya....

Memang "Dialog" hanya bisa tercipta dari sudut pandang yang berbeda... selama ini hanya "Monolog" berbicara tentang DINASTI TANAH JAWA dari kaca mata "mas karyo" saja, sehingga fakta-fakta yang tercecer dan terbaca sama "bang Tagor" (dari sumatra) atau "kang udin" (dari tatar sunda) dianggap kurang afdol...

Silahkan dilanjut... TOP


bukan masalah jawa luar jawa. masalahnya salah persepsi. majapahit mungkin saat itu memang diakui seluruh daerah yg disebutkan. tapi majapahit tak pernah kemudian mengganti raja suatu daerah dengan orang jawa lalu mendatangkan pasukan pendudukan yang membudaki orang pribumi. pemikiran ekspansi dikotori oleh pemikiran tentang ekspansinya dan kolonialisme belanda. jadi dipikir bahwa ahirnya orang jawa memperbudak orang luar jawa. itu salah lah. yang ada adalah saling jaga. mengakui kekuasaan kerajaan yang lebih besar tidak merubah apa apa. raja daerah tetap pasukan juga tetap kecuali ditambahnya perlindungan dari kerajaan yang diakui itu. just that, mungkin juga upeti. tapi apalah arti upeti?upeti jaman dahulu bukan seperti pengerukan kekayaan alam oleh bangsa belanda. upeti cuma diserahkan ke kota raja untuk rajanya. bukan upeti untuk seluruh negara seperti yang dilakukan belanda dengan mengeruk kekayaan indonesia. pikiran kita telah diindoktrinasi oleh "ketakutan" bahwa "haga diri direndahkan" jika kita membaca sejarah.
Quote:Original Posted By adi6510
Hmmmm ....

1. Kerajaan Chola memang tercatat pernah menyerang Sriwijaya ...

2. Owh ... Yang Prameswara ya....

3. Sama-sama

4. Sama-sama

5. -

6. Ternate ? mmmm .... thread ini topiknya tentang Singosari dan Majapahit. Kalo semua kerajaan Nusantara dibahas ntar malah out of the topic....

7. -

Sama-sama... Saya kan juga bukan sejarahwan .... cuma pernah dapat pelajaran sejarah pas SD, SMP dan SMA saja.



Dear gan,
7. Sekedar menunjukkan bahwa pada masa itu hanya daerah pantai timur Sumatera dan Maluku yang memiliki hubungan secara intens dengan dunia luar. Hubungan luar negeri ini sangat penting karena akan terjadi transformasi budaya, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Transformasi menciptakan keunggulan peradaban. Keunggulan peradaban adalah argumentasi terpenting untuk melakukan ekspansi ke berbagai daerah (baca Arnold Toynbee: Study of History).
Majapahit berjaya hanya ketika mereka sudah mengenal teknologi maritim dan persenjataan.
Tabik.
Quote:Original Posted By adi6510
Hmmm .....

1. titisan ya ? ..... hi hi hi ..... saya juga pernah ketemu ama titisan nya Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi (menurut pengakuan dia yah) beberapa waktu lalu ..... no commet ah, urusan beginian bukan konsumsi umum.

2. -

3. -

4. Hutan Tarik hubungannya apa ama lokasi Sriwijaya dan Melayu ? Ijin nyimak nehh

5. Menurut saya ekspedisi Pamalayu pas pulang membawa 2 putri Sumatra, sebagian aja yang pulang ke Jawa, kan sebagian pasukannya ditinggal di Sumatra untuk mengkontrol di sana. Dan apa maksudnya kalimat "memprotek Singosari" ? Singosari itu melaunching ekpsedisi Pamalayu buat menjadikan Sumatra sebagai barrier Singosari . Just it....

Tentang penempatan pasukan Pamalayu di Madura sepertinya kagak ada bukti literaturnya ..... Pake logika aja, itu Pasukan Singosari yang dikirim sebagai Expedisi Pamalayu begitu tahu Raja Kertanegara udah tewas, siapa yang mereka hormati ? Otomatis putri-putrinya Kertanegara dunkkkk ... Jadi mereka pasti tinggal melindungi putri raja Kertanegara... Kalo di Madura, mereka mau ngapain ? Melindungi Arya Wiraraja ? kagak dehhh .... Arya Wiraraja kan orangnya lihai pasti lebih mengandalkan pasukannya sendiri buat melindungi dia dan keluarganya....

CMIIW, please....



Dear gan,
4. Mungkin nanti disampaikan gan.
5. Argumentasi ini yang paling lemah gan. Expedisi dimulai tahun 1275, mosok baru kembali tahun 1293? Udah tuek2 dong.
Masalah barrier, kembali kita analisa strategi militer gan. Ancaman terbesar Singhasari pada masa itu adalah Syailendra atawa Sriwijaya. Kalau mau barrier tentunya paling tidak di Banten dong, atau kalau tidak sekitar Tuban. Atau langsung menyerang Sriwijaya.
Kertanegara mengambil aliansi dengan Melayu, karena hampir satu ideologi : Hindu/Tantra. Diharap aliansi ini memperkuat posisi politik.
Singhasari hampir tidak mengira bila ancaman datang dari Cina, karena Jawa bukan destination hanya lintasan saja ke negeri rempah (Maluku). Hal yang sama juga dipikirkan Portugis, Spanyol, Belanda, dll. Satu abad Jawa dilewatin begitu saja, karena tujuannya memang Maluku.
Itu dulu gan.
Tabek.
×