KASKUS


nambah lagi wawasanku disini tentang sejarah bangsakoe....



lanjut gan.....
ndeprok menyimak om
Quote:Original Posted By anonkw
Jika Anda sempat jalan-jalan ke Buton. Datanglah ke Museum Kebudayaan Wolio di kota Bau-bau disitu terdapat pakaian perang kebesaran kerajaan Mongol yang dulu sempat dipakai oleh Kau Hsing (Dungku Cangia). Masih ada loh disana...

Selain itu Anda juga dapat menikmati wisata sejarah lain yaitu:
1. Benteng Keraton Buton (mendapat rekor Muri sebagai benteng terluas)
2. Masjid keraton Buton (masjid tertua)
3. Goa tempat persembunyian Arung Pallaka
4. Goa Lakasa
5. dll.

thanks brother, ternyata sejarah bangsa ini mulai terungkap satu persatu....

monggo pak'e dilajoetken.....
kekuatan singasari dan majapahit itu sangat luar biasa, terutama majapahit sehingga mencapai kekuasaan yang diakui dunia. dari tradisi dahulu lagi sampai sekarang , yang menjadi pemimpin di nusantara ini tetap dari turunan turunan mereka. dari singasari ke majapahit merupakan turunan darah dari mereka, dari majaphit sampai kekerajaan berikutnya tetap turunan mereka , walaupun banyak jg dari turunan selir , karena dari turunan resmi langsung sudah g ada karena mungkin pengaruh sumpahnya empu gandring kepada ken arok sewaktu ken arok mengambil keris empu gandring dan membunuhnya.dari presiden presiden kita percaya lah mereka tetap ada darah keturunan , walau bukan dari langsung dari presiden tapi dari istrinya presiden , contoh : ibu tien yg merupakan turunan keraton , ibu ani SBY juga... ingat kenapa ken arok merebut ken dedes ? karena dipercaya kendedes itu turunan yang sapa suaminya akan menjadi raja.


Kendedes tumurun saking padati,
Katuwon pagewening widhi kengis wentisira
Kengkap tekeng rahasyanira
Neberkaton murub denira ken arok
…………………
Langira danghyang Lohgawe :
Yen hana stri mangkana iku stri nariswari arane
Yadnyaningwong papa angalapa ring wong wadon iku
Dadi ratu anakrawati …. (Pararaton)

Ketika Kendedes turun dari keretanya
Ada angin semilir hingga membuat betisnya terlihat
Terbuka hingga ke rahasianya
Dan terlihat menyala oleh Ken Arok
…………….
Dijawab oleh pendeta Lohgawe
Jika ada wanita dengan nyala seperti itu disebut nariswari
Jika ada orang bisa mengawininya, walaupun dia berdosa,
Kelak dia akan menjadi raja besar


Demikian titik pangkal munculnya kerajaan besar Singosari bermula dari “terlihatnya rahasia” Kendedes. Sejak saat itu Ken Arok berupaya sekuat tenaga untuk memujudkan impiannya menjadi raja. Dimulai dari pembuatan keris sakti (dari Mpu Gandring), menyingkirkan Tunggul Ametung (raja berkuasa), mengesahkan status ke-raja-annya dengan gelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi, dan terakhir mengalahkan raja Kediri Jayakatwang untuk menjadikanya sebagai raja mutlak atas tanah Jawa. Selanjutnya raja-raja Singosari adalah garis keturunan dari Kendedes, bahkan hingga sampai ke dinasti Majapahit.

Singosari muncul dipermukaan sejarah awal abad ke-13 dilembah sungai Brantas sekitar kota Malang. Walaupun diselingi oleh periode “berdarah-darah” antara para keturunan Kendedes dengan Ken Umang (istri lain Ken Arok) pada awal perjalanannya, kerajaan ini mencapai puncaknya pada pemerintahan raja terakhirnya Kretanegara. Saat itu wilayah kerajaan Singosari tidak hanya meliputi sebagian besar Jawa, tetapi juga semenanjung Sumatera. Bahkan Raja Kretanegara juga berani menolak dan menghina utusan kaisar Mongol yang ingin menaklukkan tanah Jawa karena menganggap diriya setara dengan sang kaisar sebagai raja besar dari timur (jna Aksobhya).
Kerajaan Singosari meninggalkan sejumlah bangunan candi dan patung yang indah dan megah. Sebagian besar candi-candi ini sudah dapat direkonstruksi kembali untuk dapat dinikmati dan dirasakan kebesarannya dimasa lalu serta dihayati makna dibalik pendiriannya. Candi-candi yang masih dapat ditelusuri antara lain candi Kidal (untuk Anusapati), Jago (untuk Wisnuwardhana), Singosari dan Jawi (Kretanegara). Sedangkan beberapa candi tidak dapat ditemukan lagi keberadaannya seperti Kagenengan (Ken Arok), dan Katanglumbang (Tohjaya). Untuk seni patung, terdapat patung raksasa Dwarapala yang merupakan patung terbesar dan terberat yang pernah ditemukan di Indonesia (23 ton) dan terletak disebelah barat candi Singosari. Sedangkan puncak kebesaran seni patung Singosari terwujud pada patung Pradnyaparamitha yng indah sekali. Patung yang umumnya disebut patung Kendedes ini sempat disimpan di musium Leiden – Belanda setelah penemuannya sekitar 1820-an dan baru dikembalikan ke pemerintah Indonesia tahun 1978 dan sekarang disimpan di musium nasional Jakarta sebagai salah satu koleksi paling berharga.

original post by: Irsam Soetarto
ikutan nyumbang data ya mbah mbah semua.....


Prasasti Kudadu (1294 M)

Mengenai pengalaman Raden Wijaya sebelum menjadi Raja Majapahit yang telah ditolong oleh Rama Kudadu dari kejaran balatentara Yayakatwang setelah Raden Wijaya menjadi raja dan bergelar Krtajaya Jayawardhana Anantawikramottunggadewa, penduduk desa Kudadu dan Kepaa desanya (Rama) diberi hadiah tanah sima.


Prasasti Sukamerta (1296 M) dan Prasasti Balawi (1305 M)

Mengenai Raden Wijaya yang telah memperisteri keempat putri Kertanegara yaitu Sri Paduka Parameswari Dyah Sri Tribhuwaneswari, Sri Paduka Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, Sri Paduka Jayendradewi Dyah Dewi Prajnaparamita, dan Sri Paduka Rajapadmi Dyah Dewi Gayatri, serta menyebutkan anaknya dari permaisuri bernama Sri Jayanegara yang dijadikan raja muda di Daha.


Prasasti Wingun Pitu (1447 M)

Mengungkapkan bentuk pemerintahan dan sistem birokrasi Kerajaan Majapahit yang terdiri dari 14 kerajaan bawahan yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre, yaitu Bhre Daha, Kahuripan, Pajang, Werngker, Wirabumi, Matahun, Tumapel, Jagaraga, Tanjungpura, Kembang Jenar, Kabalan, Singhapura, Keling, dan Kelinggapura.


Prasasti Canggu (1358 M)

Mengenai pengaturan tempat-tempat penyeberangan di Bengawan Solo.
Prasasti Biluluk (1366 M0, Biluluk II (1393 M), Biluluk III (1395 M).
Menyebutkan tentang pengaturan sumber air asin untuk keperluan pembuatan garam dan ketentuan pajaknya.


Prasasti Karang Bogem (1387 M)

Menyebutkan tentang pembukaan daerah perikanan di Karang Bogem.


Prasasti Marahi Manuk (tt) dan Prasasti Parung (tt)

Mengenai sengketa tanah. Persengketaan ini diputuskan oleh pejabat kehakiman yang menguasai kitab-kitab hukum adata setempat.


Prasasti Katiden I (1392 M)

Menyebutkan tentang pembebasan daerah bagi penduduk desa Katiden yang meliputi 11 wilayah desa. Pembebasan pajak ini karena mereka mempunyai tugas berat, yaitu menjaga dan memelihara hutan alang-alang di daerah Gunung Lejar.


Prasasti Alasantan (939 M)

Menyebutkan bahwa pada tanggal 6 September 939 M, Sri Maharaja Rakai Halu Dyah Sindok Sri Isanawikrama memerintahkan agar tanah di Alasantan dijadikan sima milik Rakryan Kabayan.


Prasasti Kamban (941 M)

Meyebutkan bahwa apada tanggal 19 Maret 941 M, Sri Maharaja Rake Hino Sri Isanawikrama Dyah Matanggadewa meresmikan desa Kamban menjadi daerah perdikan.


Prasasti Hara-hara (Trowulan VI) (966 M).

Menyebutkan bahwa pada tanggal 12 Agustus 966 M, mpu Mano menyerahkan tanah yang menjadi haknya secara turun temurun kepada Mpungku Susuk Pager dan Mpungku Nairanjana untuk dipergunakan membiayai sebuah rumah doa (Kuti).


Prasasti Wurare (1289 M)

Menyebutkan bahwa pada tanggal 21 September 1289 Sri Jnamasiwabajra, raja yang berhasil mempersatukan Janggala dan Panjalu, menahbiskan arca Mahaksobhya di Wurane. Gelar raja itu ialaha Krtanagara setelah ditahbiskan sebagai Jina (dhyani Buddha).


Prasasti Maribong (Trowulan II) (1264 M)

Menyebutkan bahwa pada tanggal 28 Agustus 1264 M Wisnuwardhana memberi tanda pemberian hak perdikan bagi desa Maribong.


Prasasti Canggu (Trowulan I)

Mengenai aturan dan ketentuan kedudukan hukum desa-desa di tepi sungai Brantas dan Solo yang menjadi tempat penyeberangan. Desa-desa itu diberi kedudukan perdikan dan bebas dari kewajiban membayar pajak, tetapi diwajibkan memberi semacam sumbangan untuk kepentingan upacara keagamaan dan diatur oleh Panji Margabhaya Ki Ajaran Rata, penguasa tempat penyeberangan di Canggu, dan Panji Angrak saji Ki Ajaran Ragi, penguasa tempat penyeberangan di Terung.

Hanya Jawa & Mesir yang mampu mengalahkan Mongol


Pasukan infantri mongol


Tak banyak bangsa yang dapat menahan atau bahkan mengalahkan serbuan buas tentara Mongol di era kejayaan para Khan-nya. Tidak juga Rusia, termasuk juga kesultanan-kesultanan Islam, banyak diantaranya tersungkur bersimbah darah di ujung panah dan pedang tentara Mongol.

Kekejaman tentara Mongol dalam menyerbu dan menjarah kerajaan-kerajaan yang di kalahkannya menjadi dongeng kelam kehancuran moralitas dan kemanusiaan.
Selain tidak menghargai nyawa manusia, mereka juga telah menghancurkan peradaban umat manusia dengan membakari gedung-gedung perpustakaan milik kerajaan yang dikalahkannya.
Ketika kesultanan Islam di Baghdad ditaklukan oleh tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulegu Khan, konon kekejaman hanya dapat ditandingi oleh Hitler.
Dalam suatu kisah pasukan Mongol mendirikan "piramid" dengan bahan baku penggalan kepala manusia, sebagai bukti kemenangannya terhadap Kesultanan Abasiyah pimpinan al-Mutashim di tahun 1258 Masehi.

Yang menyedihkan selain banyaknya korban yang tewas, mereka membakari perpustakan kesultanan yang konon pada saat itu memiliki koleksi terbesar di dunia.
Saking brutalnya penghancuran kota Baghdad oleh Hulegu Khan, dikisahkan sungai Tigris dan Eufrat yang membelah kota Bagdad berubah warnanya menjadi merah kehitam-hitaman selama beberapa hari.
Warna ini berasal dari darah penduduk kota Bagdad yang tewas dibantai
tanpa prikemanusiaan, dan hitamnya merupakan tinta yang luntur
dari buku-buku yang dibuang tentara Mongol ke sungai tsb.

Ketika itu Khubilai Khan berhasil menyatukan daratan cina dalam genggamannya.
Dan melirik ke wilayah-wilayah laut sekitarnya sebagai batas baru penaklukannya.
Tapi pengalaman perang tentara Mongol menjadi sangat tidak berarti manakala mereka dihadapkan pada perang laut dan perang rimba yang berkepanjangan.

Ketika Khubilai Khan mulai mengembangkan ototnya ke daratan seberang, nyatalah kelemahan tentara Mongol. Mereka yang terbiasa berperang di stepa-stepa kering Asia Tengah, tak dapat mempertahankan diri dalam medan laut yang ganas, dan kondisi iklim tropis yang terik dan lembab.
Selain tentunya keletihan yang amat sangat dalam kampanye perang yang tidak berkesudahan.

Kegagalan Mongol -mungkin- bisa jadi juga diakibatkan telah dicabutnya mandat dari langit untuk berkuasa, suatu kepercayaan yang kental melekat di benak penguasa daratan chung kuo. Bahwa kekaisaran bisa berjaya
karena adanya mandat dari langit.
Boleh jadi mandat itu berakhir di tangan Khubilai Khan.

Bersama Mesir dan Jepang, Jawa merupakan salah satu kekuatan besar regional yang mampu tidak hanya menahan tapi juga
melumpuhkan kekuatan tentara Mongol.

Bahkan secara pribadi saya lebih suka merujuk pada Mesir dan Jawa yang berhasil secara militer menaklukan tentara Mongol, dibandingkan Jepang
yang menang karena kebetulan dimana Tentara Mongol yang menyerbu habis tersapu dalam badai bahkan dalam 2 ekspedisi yang berbeda waktunya! Mesir yang ketika itu berada dalam kekuasaan dinasti Mameluk berhasil untuk pertamakalinya dalam sejarah menaklukan tentara Mongol dalam perang terbuka di tahun 1260 sehingga memaksa Mongol menarik diri dari Mesir dan
Palestina.

Keberhasilan Mameluk menaklukan tentara Mongol tidak hanya disebabkan oleh kehebatan tentaranya yang memang sama-sama keterunan penakluk dari Asia Tengah, tapi juga karena koordinasi yang sinergis serta cepatnya informasi melalui sinyal api yang merentang dari Iraq ke Mesir
menyebabkan Mameluk dengan sigap dapat mengumpulkan tentaranya
menghantam Mongol.

Namun dalam literatur-literatur mengenai Mongol, kekalahan Mongol oleh Mesir dan Jepang-lah yang acapkali disebut. Sedangkan kehancuran Mongol di Jawa kadang tidak disebutkan secara eksplisit.
Kecuali dengan pernyataan sederhana bahwa Mongol mengirimkan ekspedisi ke Jawa dan gagal tanpa penjelasan yang spesifik di mana leta kegagalannya. Sialnya dalam buku "Genghis Khan and The Mongol Conquests 1190 - 1400" Stephen Turnbull meyebutkan bahwa kegagalan ekspedisi Mongol di Asia Tenggara lebih disebabkan oleh faktor iklim dan cuaca yang tidak bersahabat bagi Tentara Mongol.
Memang itu adalah faktor yang menentukan dalam kegagalan ekspedisi Mongol ke Jepang.

Namun dalam kasus ekspedisi ke Jawa, kekuatan Mongol benar-benar hebat khususnya dalam melumat kerajaan Kediri pimpinan Jayakatwang yang berhasil mengalahkan Kertanegara.
Jadi faktor iklim dan cuaca menjadi hal yang nonsense dalam kasus ekpedisi ke Jawa.
Kekalahan Mongol akibat serbuan mendadak tentara Raden Wijaya pada saat pesta kemenangan terhadap Kediri, tetaplah suatu keberhasilan militer. Dalam perang aspek pendadakan serta upaya menimbulkan korban yang besar di pihak lawan melalui tipu muslihat adalah hal biasa dan tidak mengurangi kredit Raden Wijaya dan tentaranya dalam mengalahkan tentara Mongol di tahun 1292 Masehi.

Memang dalam kacamata sejarawan barat, kemenangan tentara Jawa kurang prestisius dibandingkan keberhasilan dinasti Mameluk, tapi setidaknya masih jauh lebih hebat dibandingkan Jepang yang semata-mata berhasil menahan
serbuan Mongol karena bantuan cuaca.

original post by: Irwan
21 Agustus 2007
silahken diterima cendolnya bli
Quote:Original Posted By anonkw
Jika Anda sempat jalan-jalan ke Buton. Datanglah ke Museum Kebudayaan Wolio di kota Bau-bau disitu terdapat pakaian perang kebesaran kerajaan Mongol yang dulu sempat dipakai oleh Kau Hsing (Dungku Cangia). Masih ada loh disana...

Selain itu Anda juga dapat menikmati wisata sejarah lain yaitu:
1. Benteng Keraton Buton (mendapat rekor Muri sebagai benteng terluas)
2. Masjid keraton Buton (masjid tertua)
3. Goa tempat persembunyian Arung Pallaka
4. Goa Lakasa
5. dll.


arung palaka adalah seorang yang agung, bersama kapiten jonker mereka berkeliling nusantara dan mampu menundukan banyak perlawanan daerah. mereka berdua adalah panglima yang luar biasa. hal ini banyak dilupakan. seolah belanda yang mengalahkan banyak perlawanan. padahal tanpa bantuan bala tentara bugis dan ambn dari arung palaka dan kapiten jonker sesungguhnya belanda itu sudah lama akan keok di nusantara.
Quote:Original Posted By Masagung
silahken diterima cendolnya bli


matur sembah suwun mas.... sueguer rek
naik yuk ah yuk
wuih ternyata Jawa pernah mengalahkan Mongol, mantabs bli
Quote:Original Posted By Suzaku Musha
wuih ternyata Jawa pernah mengalahkan Mongol, mantabs bli

Yang lebih hebat lagi... jauh sebelum perang tersebut kita malah nantangin Mongol loh...

artikelnya disini
copas bagian menarik dari kelahiran Majapahit dan hubungannya dengan kerajaan di tatar Sunda

[quote=]
......Rakeyan Jayadarma salah seorang pangeran kerajaan Sunda dinikahkan dengan putri Mahisa Campaka dari Tumapel Jawa Timur, bernama Dyah Lembu Tal. Dari pernikahan Rakeyan Jayadarma, ia mempunyai seorang anak yang diberi nama Sang Nararya Sanggramawijaya atau sering disebut Raden Wijaya. Namun karena Jayadarma wafat pada usia muda, sehingga Dyah Lembu Tal memohon ijin untuk tinggal di Tumapel bersama putranya.

Raden Wijaya setelah dewasa ia menjadi senapati Singasari, pada waktu itu diperintah oleh Kertanegara, hingga pada suatu ketika ia mampu mendirikan negara Majapahit. Raden Wijaya didalam Babad Tanah Jawi dikenal juga dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran, karena ia memang lahir di Pakuan.

Dalam Pustaka Nusantara III dijelaskan, bahwa Darmasiksa masih menyaksikan Raden Wijaya, cucunya mengalahkan Jayakatwang, raja Singasari. Kemudian dengan taktis ia mampu menyergap dan mengusir laskar Kublay Khan dari Jawa Timur. Kemudian empat hari pasca pengusiran pasukan Cina, atau pada 1293 M, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Wilwatika dengan gelar Kertarajasa Jayawardana.

Peristiwa yang juga direkam didalam Pustaka Nusantara III tentang Darmariksa memberikan nasehat kepada Raden Wijaya, cucunya. Ketika itu Raden Wijaya berkunjung ke Pakuan dan mempersembahkan hadiah kepada kakeknya, sebagai berikut :

Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlahanyang ngku wus angemasi.
Hetunya nagaramu wus agheng jaya santosa wruh ngawang kottaman ri puyut katisayan mwang jayacatrum, ngke pinaka mahaprabu.
Ika hana ta daksina sakeng Hyang Tunggal mwang dumadi seratanya.

Ikang Sayogyanya rajya Jawa lawan rajya Sunda paraspasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur. Yatanyan tan pratibandeng nyakrawati rajya sowangsowang. Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda duh kantara, wilwatika sakopayana maweh carana ; mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatika.


(Janganlah hendaknya kamu menggangu, menyerang dan merebut Bumi Sunda karena telah diwariskan kepada Saudaramu bila kelak aku telah tiada. Sekalipun negaramu telah menjadi besar dan jaya serta sentosa, aku maklum akan keutamaan, keluar biasaan dan keperkasaan mu kelak sebagai raja besar. Ini adalah anugrah dari Yang Maha Esa dan menjadi suratan-Nya.

Sudah selayaknya kerajaan Jawa dengan kerajaan Sunda saling membantu, bekerjasama dan saling mengasihi antara anggota keluarga. Karena itu janganlah beselisih dalam memerintah kerajaan masing-masing. Bila demikian akan menjadi keselamatan dankebahagiaan yang sempurna. Bila kerajaan Sunda mendapat kesusahan, Majapahit hendaknya berupaya sungguh-sungguh memberikan bantuan ; demikian pula halnya Kerajaan Sunda kepada Majapahit).
[/quote]
....

Monggo dilanjut
tak terbayangkan dulu hebatnya gitu, beda sama sekarang ck ck ck..


:
huehehhehee raden wijaya sendiri kan keturunan sunda. saat itu banyak puteri singasari dikirimkan untuk dinikahkan dengan banyak sekali pangeran negeri negeri di nusantara maupun di luar nusnatara.
"Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring
Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring
Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa".

Sama masa sumpah ini jauh ya sejarahnya...???
hehehhe kan akan ada jamanya bangkit
sabdopalon dah berjanji
Prabu KERTANEGARA bapak Proklamator NUSANTARA pertama....
aduh, jadi inget sandiwara radio tutur tinular
saktinya kamandanu, gagahnya ranggalawe, bijaksananya lembu sora, plus liciknya mahapati
×