Terima kasih pada Momod Semar tempat saya nguping sudah dibuka kembali ..... :::
Quote:Original Posted By chairmanmohamet
Terima kasih pada Momod Semar tempat saya nguping sudah dibuka kembali ..... :::


Matur Suksema khususnya buat Koh Chairman yang sudah berupaya nyariin kunci gembok thread ini...

Quote:Original Posted By Putuputu
ikut menyimak paparan sesepuh dari bali....

salam kenal bli-bli sekalian....
pis arjuna memang top....yang palsu saja berkhasiat apalagi yang asli....tapi jarang yang punya... cewek bisa datang sendiri ke rumah...tapi harus pintar rayu juga.....kalao ndak ya lari lagi...


nyumbang pendapat atu..

y bner tu...
walau punya pis arjuna, kl g bs ngrayu sm jg bo'ong...
rugi..
apalagi pis arjuna palsu
tp, walau palsu, msh bisa di pasupati
plus pake pengater mantranya..

ok, skian dl
thx
Quote:Original Posted By ta mo
kalo ilmu bali hebat, gak mungkin ampe di bom 2 kali... no sara.. thanks...yg paling hebat tu di thailand dan di arab saudi ilmu gaibnya...


bukannya gitu bro...

bukannya ilmu bali aja, ilmu laen jg g hebat..

yg hebat tu orangnya yg bisa make anugrah Tuhan YME

trus emangnya arab pny ilmu??
g kan?

yg pny tu orgnya gt bro..

Kulkul Alat Komunikasi Tradisional Masyarakat Bali

Masyarakat Bali terkenal sebagai masyarakat yang kaya akan warisan budaya. Mereka menerima warisan budaya secara tradisional. Artinya, antara satu generasi ke generasi berikutnya tetap terjalin hubungan yang erat dari sejak dahulu hingga sekarang ini. Hubungan itu pula yang pada akhirnya membentuk suatu wadah berupa organisasi tradisional seperti pura, banjar, dan subak.

Lazimnya sebuah organisasi tradisional di Bali memiliki sebuah Kulkul. Apabila terdengar suara kulkul maka hal itu sebagai pertanda panggilan kepada warga untuk berkumpul. Panggilan tersebut bisa karena kesepakatan sebelumnya atau karena situasi mendadak.

Kulkul adalah alat bunyian yang merupakan umumnya terbuat dari kayu dan benda peninggalan para leluhur. Selain di Bali Kulkul yang lazimnya disebut dengan kentongan hampir terdapat di seluruh pelosok kepulauan Indonesia.

Kulkul dijadikan alat komunikasi tradisional oleh masyarakat Indonesia. Pada masa pemerintahan Belanda di Indonesia, kulkul lebih populer dengan nama Tongtong. Oleh para ahli sejarah Eropa dianggap sebagai replika dari Slit-drum yaitu berupa tabuhan dengan lubang memanjang yang terbuat dari bahan perunggu peninggal era perunggu.


Pada masyarakat Bali, istilah kulkul ditemukan dalam syair Jawa-Hindu Sudamala.
Beberapa lontar Bali juga menyebutkan keberadaan kulkul seperti Awig-awig Desa Sarwaada, Markandeya Purana, dan Siwa Karma. Keempat naskah kuno Bali ini mengungkapkan pentingnya kayu bermakna pikiran dalam kehidupan manusia yang biasa disebut dengan kulkul. Kayu erat hubungannya dengan manusia, sementara kayu adalah bahan dasar dari kulkul.

Untuk menyebutkan suatu keadaan, umat Hindu Bali menggunakan istilah "ala ayuning dewasa" artinya dewasa yang baik dan dewasa yang kurang baik. Kedua hal ini sulit dipisahkan bahkan selalu berdampingan.

Demikian pula dalam pembuatan sebuah kulkul dari kayu biasa menjadi sebuah alat bunyian bernilai sakral dan keramat, harus mengalami pemrosesan yang cukup panjang. Dimulai dari mencari bahan, menebang kayu sampai kepada proses pembuatannya harus melalui serentetan upacara. Para pembuat kulkul harus melakukan tahap-tahap upacara guna mencari dewasa yang baik dan menghindari dewasa yang kurang baik, dari awal hingga akhir pembuatan kulkul. Sampai kepada tahap melepaskan sebuah kulkul juga harus melalui sebuah upacara. Apabila tahapan upacara sudah dilaksanakan maka kulkul telah memiliki kekuatan magis dan dianggap sebagai benda suci serta keramat.


Ada empat jenis kulkul yang dikenal masyarakat Bali yaitu:
Kulkul Dewa
adalah kulkul yang digunakan saat upacara Dewa Yadnya, dibunyikan apabila akan memanggil para dewa dengan ritme yang sangat lambat dengan dua nata yaitu tung.... tit.... tung.... tit.... tung.... tit dan seterusnya.

Kulkul Bhuta

adalah kulkul yang digunakan saat upacara Bhuta Yadnya. Kulkul Bhuta dibunyikan apabila akan memanggil para Bhuta Kala guna menetralisir alam semesta sehingga keadaan alam menjadi aman dan tenteram.

Kulkul Manusa

adalah kulkul yang digunakan untuk kegiatan manusia, baik itu rutin maupun mendadak.
Kulkul Manusa terbagi atas tiga yaitu Kulkul Tempekan, Kulkul Sekeha-sekeha, dan Kulkul Siskamling.
Ritme yang dibunyikan kulkul manusa lambat dan pendek, sedangkan pada kegiatan mendadak terdengar cepat dan panjang.

Kulkul Hiasan

disebut demikian karena kulkul ini diberi hiasan-hiasan untuk menambah keindahannya. Biasanya kulkul ini dianggap sebagai barang antik oleh wisatawan yang datang ke pulau Bali, sering dijadikan oleh-oleh. Kulkul biasa banyak dijual di toko-toko, di pasar dengan harga relatif murah.


Nilai sakral sebuah kulkul ini didukung sepenuhnya oleh agama Hindu Bali , terutama kulkul yang tersimpan di Pura-pura besar di Bali dianggap sebagai wujud nyata beryadnya sehingga apabila terjadi penyimpangan dalam penggunaannya maka segera upacara penyucian dilakukan.

Sebuah kulkul layaknya diletakkan pada sebuah bangunan yang disebut Bale Kulkul, tepatnya berada pada sudut depan pekarangan pura atau banjar dengan cara menggantungkannya.



Fungsi kulkul berkaitan erat dengan kegiatan Banjar.

Banjar-banjar di Bali umumnya melakukan pertemuan rutin warga sebulan sekali. Menjelang hari pertemuan, didahului dengan memukul kulkul dengan sebuah alat pemukul dari kayu. Suara kulkul akan terdengar sampai ke pelosok banjar. Suara tersebut merupakan panggilan kepada warga untuk segera berkumpul di tempat yang sudah disepakati bersama.

Selain untuk pertemuan rutin, bunyi kulkul juga mengandung arti untuk pengerahan tenaga kerja. Ada pengerahan tenaga kerja yang sudah direncanakan, dan ada pula yang sifatnya mendadak. Gotong royong membersihkan desa, mempersiapkan upacara di pura, dan mencuci barang-barang suci adalah bentuk-bentuk pengerahan tenaga kerja yang sudah direncanakan. Diawali dengan terdengarnya suara kulkul, warga pun segera berkumpul dan bersama-sama melakukan aktivitas membersihkan desa.

Sedangkan pengerahan tenaga kerja yang sifatnya mendadak umumnya menanggulangi kejadian yang tiba-tiba menimpa banjar. Kejadian itu dapat berupa kebakaran, banjir, orang mengamuk, dan pencuri. Bunyi kulkul terdengar cepat dan panjang. Ini sebagai isyarat supaya warga segera datang atau berjaga-jaga karena ada bahaya mengancam.

Terjadinya gejala alam seperti gerhana bulan akan disambut oleh seluruh banjar dengan membunyikan kulkul. Masyarakat Bali berkeyakinan bahwa gerhana bulan terjadi karena bulan dimangsa oleh Kalarau. Bunyi kulkul yang menggema di seluruh Bali akan menghilangkan konsentrasi Kalarau sehingga ia akan melepaskan bulan kembali.

Contoh-contoh yang telah disebutkan menunjukkan warga patuh terhadap aturan banjar. Kepatuhan warga terhadap aturan banjar menunjukkan azas kebersamaan dan kekeluargaan. Di dalamnya terkandung nilai semangat gotong royong yang mendorong warga untuk menciptakan keharmonisan dan keselarasan dalam lingkungan banjar.

Hal tersebut terkait erat dengan peranan kulkul dalam masyarakat Bali. Dapat dikatakan hampir seluruh kegiatan yang dilakukan masyarakat Bali mengikutsertakan kulkul. Bahkan dalam pemanggilan para Dewa dan Bhuta Kala didahului dengan membunyikan kulkul. Kulkul diyakini mengandung kekuatan magis dan dianggap keramat oleh pendukungnya. Kulkul adalah alat komunikasi tradisional, antara manusia dengan dewa, manusia dengan penguasa alam, dan manusia dengan sesamanya. Kulkul diyakini juga dapat meningkatkan rasa kesatuan dan persatuan. Hal ini terlihat dari rasa kebersamaan dan kekeluargaan seluruh warga ketika mendengar bunyi kulkul. Oleh sebab itu, keberadaan kulkul pada masyarakat Bali perlu dilestarikan karena sangat membantu jalannya pelaksanaan pembangunan.


Sumber:
Dahlia Silvana (Dir Tradisi & Kepercayaan/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)
www.hupelita.com
kalo kulkul bulus tuh maksudnya apa yah?
Quote:Original Posted By jaygoodman
kalo kulkul bulus tuh maksudnya apa yah?


kalo ada tanda bahaya broo (bencana alam, maling, tsunami, kebakaran dll)
Quote:Original Posted By black-lotus
kalo ada tanda bahaya broo (bencana alam, maling, tsunami, kebakaran dll)


okh gitu toh....
ijin nyimak ya,,menarik juga nih
Dharipada shepi..



[flash]http://www.youtube.com/v/zD4CDXMVfkw&hl=en&fs=1&[/flash]

Link unthuk dhikunjungi jhika video thidak therlihat dhisini :
http://www.youtube.com/watch?v=zD4CDXMVfkw

The rehearsal was recorded few days before the group from Sanggar Çudamani (Pengosekan, Bali) flew to USA and Canada to present it's acclaimed production "Odalan Bali: An Offering of Music and Dance". The performance features a stellar array of 26 artists including choreography and composition by I Dewa Putu Berata. The artistic director was born into a family of musicians and painters and studied under his father I Dewa Nyoman Sura. He is the founding member of Çudamani comprised of 60 members and has directed numerous gamelan ensembles and works on various international projects throughout the world. I Nyoman Cerita, choreographer, learned dance at age 6 from his grandfather I Made Kenyir. He is recipient of numerous awards as well as from Titane Spectacles/Le Jardin Des Poiries in Paris. Emiko Saraswati Susilo, was one of Çudamani's founding members. She began her formal studies in Javanese and Balinese dance under the direction of KRT Sasmintadipura and Ni Made Wiratini. She has studied Javanese singing from Tri Haryanto and Midiyanto. I Dewa Ketut Alit studied drumming with his father and began performing at age 11. Wayne Vitale (creator of ambient soundscapes) is a composer, performer, scholar, teacher and director of Gamelan Sekar Jaya, a California-based ensemble.
Çudamani's Odalan Bali (an odalan is the Balinese temple ceremony), features 26 of Balis finest dancers and musicians. The Odalan is a quintessential Balinese experience. Every Balinese belongs to a temple. Following the lunar calendar, every temple has an Odalan on its anniversary, which occurs every 210 days. On the video from second 0:13 we see the female dancer Dewa Ayu Eka Putri, standing besides her mother, Dewa Ayu is wearing blue shirt. At this moment Dewa Ayu is one of the greatest dancers in Bali. Despite her youth (when the video was recorded she was only 16) Dewa Ayu dances Taruna Gandrung or whatever virtuously, simply magisterially.




[flash]http://www.youtube.com/v/LbppBcJ0vZE&hl=en&fs=1&[/flash]

Link unthuk dhikunjungi jhika video thidak therlihat dhisini :
http://www.youtube.com/watch?v=LbppBcJ0vZE

The group from "sanggar" Suara Kanti are getting ready before performing Barong and Kris dances. They dress and make up behind the stage of Agung Rai Museum of Arts, in Pengosekan, Ubud. The group comes from the village of Abasan, close to Singapadu, a few km south of Ubud. Throughout the island they are well known for the excellence of their work. We have the chance to see the artists while preparing the performance. Maybe even more interesting than watching is to listen them talking in the Balinese language. Nowadays Balinese is fading little by little. The language of the island is vanishing faster than their tradition and dances. In some way their tradition and dances are supported by tourism but not so the language. Foreigners come to Bali to experience the difference. Unfortunatley only the visual differences. Most foreigners visiting Bali don't care about what is behind the scenes. They come attracted by the beauty of the island and the colourful religious ceremonies. Few come to Bali with deeper interest. Language is the house where the soul lives. If the soul shelter is spoiled we'll loose the spirit and the heritage left to us by our ancestors. By neglecting the heritage we also neglect the forefathers' memory. Most foreigners living in Bali, or coming often to the island, don't care about the most essential part of its culture: the language. By talking to and addressing to Balinese people in Bahasa Indonesia they fail to respect the essence of Bali. These foreigners support the ones willing to convert the island into a huge theme park for tourists, people who want to convert Bali into a gorgeous scenario without a soul. The artists we see on the video speak Balinese but sometimes they include some words in Bahasa Indonesia. Balinese is not seriously taught in the schools on the island. That's why many young Balinese speak Indonesian among themselves, specially in Denpasar and other towns scattered around the island. It's sad but is true. Please help the culture of Bali and respect it fully. Don't forget the backstage, it is like the unseen kitchen where the most delicious, creative and genuine food is cooked. And it is where the hot coals are.




Dharipada thambah shepi..




[flash]http://www.youtube.com/v/r3i6wz0IwDc&hl=en&fs=1&[/flash]

Link unthuk dhikunjungi jhika video thidak therlihat dhisini :
http://www.youtube.com/watch?v=r3i6wz0IwDc
Gambuh
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Gambuh adalah tarian dramatari Bali yang dianggap paling tinggi mutunya dan merupakan dramatari klasik Bali yang paling kaya akan gerak-gerak tari sehingga dianggap sebagai sumber segala jenis tari klasik Bali.
Diperkirakan Gambuh ini muncul sekitar abad ke-15 yang lakonnya bersumber pada cerita Panji. Gambuh berbentuk total theater karena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, seni drama & tari, seni rupa, seni sastra, dan lainnya.
Pementasannya dalam upacara-upacara Dewa Yadnya seperti odalan, upacara Manusa Yadnya seperti perkimpoian keluarga bangsawan, upacara Pitra Yadnya (ngaben) dan lain sebagainya.
Diiringi dengan gamelan Penggambuhan yang berlaras pelog Saih Pitu. Tokoh-tokoh yang biasa ditampilkan adalah Condong, Kakan-kakan, Putri, Arya / Kadean-kadean, Panji (Patih Manis), Prabangsa (Patih Keras), Demang, Temenggung, Turas, Panasar dan Prabu. Dalam memainkan tokoh-tokoh tersebut semua penari berdialog, umumnya bahasa Kawi, kecuali tokoh Turas, Panasar dan Condong yang berbahasa Bali, baik halus, madya dan kasar.
Gambuh yang masih aktif hingga kini terdapat di desa:
Batuan (Gianyar)
Padang Aji dan Budakeling (Karangasem)
Tumbak Bayuh (Badung)
Pedungan (Denpasar)
Apit Yeh (Tabanan)
Anturan dan Naga Sepeha (Buleleng).




Tari Khas Gambuh Sebagai Culture Warisan
Posted by http://ibasbali.blogspot.com On 5:04 PM

Di Bali tepatnya, banyak kita ketahui tentang Budaya yang kita warisi dari nenek moyang kita. Mulai dari cara hidup didesa dengan mengembangkan sistem pertanian tradisional, alat2 pertukangan tradisional seperti yang telah dimuseumkan di Kerta Gosa Klungkung yang berupa alat2 membajak sawah (baca:tengalan), dan masih banyak lagi lainnya. Nah yang menarik perhatian saya adalah tarian tradisional yang mengiringi suatu acara adat / upacara adat seperti Tari Jangkang dari Pelilit - Nusa Penida, Tari Gambuh dari Br. Watas Desa Tanglad - Nusa Penida.
Sedikit konsultasi dengan warga setempat, tari gambuh biasanya dipentaskan pada saat Hari Raya Galungan dalam rangka mengiringi serangkaian upacara pada Hari Raya Galungan tersebut selain itu juga dipergunakan pada saat orang setempat melaksanakan acara pernikahan, selain itu juga banyak dicari/diundang oleh desa tetangga dalam rangka mengiringi upacara yadnya juga, orang setempat menyebutnya Nunas Tirta Gambuh. Pada hari Raya Galungan, Tari Gambuh ini dipentaskan pada sore/malam hari H. Tokoh - tokoh dalam tari Gambuh tersebut lumayan banyak juga. Awalnya tari Gambuh ini dimulai dengan mementaskan 2 penari dengan tokoh "Condong dan Galuh" biasanya disebut Condong saja yang biasanya diperankan oleh 2 orang laki - laki yang dipilih oleh krama yang bersangkutan. Bahasa yang digunakan rada2 menyerupai bahasa Kawi Kuna, seperti "lahya Kakang di Semar, Ange Ngawas Pedandangin su.!!" (mungkin salah pada ejaannya) , dst .
Setelah tokoh Condong dan Galuh ini selesai dipentaskan, kemudian diikuti dengan Tari Gambuh sesungguhnya. Jenis Tokoh yang diperankan kira2 berjumlah 10 jenis tokoh. Ceritanya mengambil sebuah sejarah disuatu kerajaan jaman Kuna. Salah satu sisi Tokoh tersebut, mengambil tokoh seorang raja manis yang diberi gelar Panji, dan sebagai tokoh bersebrangannya/antagonis diberi gelar Raden Prabangsa/ Raja Keras. Kedua tokoh ini diikuti oleh Parekannya seperti Paman Megatik, Wijil, dan Penasar. Tokoh2 sebagai Parekan ini mungkin lebih bersifat Lelucon pada saat pertama mereka menari di panggung, namun pada saat Raja2 mereka datang, suasana seperti dikerajaanpun di munculkan.
Singkat cerita, kedua Tokoh raja ini kemudian berperang adu kesaktian dengan menghunus keris mereka, dan pertunjukanpun selesai dengan ending "Para Raja masih dalam keadaan bertarung". yang ada dibenak saya adalah bahwa tarian gambuh itu sudah selesai/tamat ceritanya., namun selang beberapa waktu, muncul lagi tokoh yang lebih menyeramkan yang diperankan oleh dua orang dengan memakai topeng "Tapol" orang lokal menyebutnya. Yang satunya busananya menyerupai Tokoh Hanuman dengan pakaian serba Putih dengan ciri khasnya berekor putih. Kemudian tokoh yang lain dengan Postur tubuh lebih tinggi, berbusana serba merah yang dikenal dengan Tokoh Ditya, mirip dengan karakternya Rahwana. Setelah usut diusut, ternyata pertarungan antara Raja-raja tadi (Panji dan Raden Prabangsa) diteruskan sampai ke tingkat perubahan wujud yang lebih tinggi (Hanuman dan Ditya) yang merupakan sesuunan masyarakat local. Pertarungan ditingkat tinggi pun terjadi sengit, sehingga menyebabkan beberapa penonton ikut andil didalamnya karena tidak kuat dengan suasana yang terjadi dalam tarian itu, orang setempat menyebutnya Nadi/Kerauhan yang disebabkan oleh suasana dari kedua Tokoh tingkat tinggi tersebut, suasana pun menjadi histeris. Di pertengahan pertarungan, tiba2 muncul sesosok tokoh Bhagawan yang diperankan oleh warga setempat biasanya diperankan oleh Pemangku didesa setempat. Dengan busana yang serba Putih, Sang Bhagawanpun memberikan ceramah kepada kedua tokoh yang bertarung tadi. bersambung...





Bli bli sekalian, izin nyimak...
Mau tanya, bentuk kebudayaan dan kepercayaan di Bali pra-Hindu itu seperti apa ya?
Kalo gak salah ada dewa-dewi yang dicitrakan dari kelamin laki-perempuan CMIIW...
Mohon penjelasan...

Thumbs up 

sik aktip bae wong iki.....hehehehe:maho
Quote:Original Posted By ryung027
Bli bli sekalian, izin nyimak...
Mau tanya, bentuk kebudayaan dan kepercayaan di Bali pra-Hindu itu seperti apa ya?
Kalo gak salah ada dewa-dewi yang dicitrakan dari kelamin laki-perempuan CMIIW...
Mohon penjelasan...

Choba lhihat-lhihat lhagi dhi hhalaman bhelakang.
Yhang jhelas, shangat mhirip dhengan khebudayaan Nusantara dhi khepulauan yhang lhainnya.



Tambahan :



Pura Penataran Sasih
http://ceritahindu.blogspot.com/2009/06/pura-penataran-sasih.html

Pura Penataran Sasih merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat atau pura utama penting di Bali. Pura ini memiliki jejak sejarah yang sangat panjang. Beberapa ahli menyebutkan Pura Penataran Sasih adalah pura tertua di Bali yang merupakan pusat kerajaan pada zaman Bali Kuno. Dari hasil penelitian terhadap peninggalan benda-benda kuno di areal pura, diduga Pura Penataran Sasih telah ada sebelum pengaruh Hindu masuk ke Bali, satu era dan zaman Dongson di China, sekitar 300 tahun Sebelum Masehi. Jauh sebelum Hindu masuk ke Bali sekitar abad ke-8 Masehi.

Di pura yang terletak di Desa Pejeng ini terdapat nekara perunggu berukuran 186,5 cm. Nekara ini mengandung nilai simbolis yang sangat tinggi. Pada nekara tersebut terdapat hiasan kodok muka sebagai sarana penghormatan pada leluhur. Konon, nekara ini juga dijadikan media untuk memohon hujan oleh masyarakat pada masa itu.

Di samping nekara perunggu, di Pura Penataran Sasih juga terdapat peninggalan berupa pecahan prasasti yang ditulis pada batu padas. Hanya saja, tulisan berbahasa Kawi dan Sansekerta itu tidak bisa dibaca karena termakan usia. Namun, dari hasil penelitian, ada kemungkinan pecahan prasasti tersebut berasal dari abad ke-9 atau permulaan abad ke-10. Di pura ini juga tersimpan beberapa peninggalan masa Hindu seperti prasasti batu yang berlokasi di jeroan bagian selatan. Prasasti tersebut berkarakter huruf dari abad ke-10. Di bagian jaba pura, di sebelah tenggara ada fragmen atau bekas bangunan memuat prasasti beraksara kediri kwadrat (segi empat) yang menyebutkan Parad Sang Hyang Dharma yang artinya bangunan suci.

Di samping, sebagai pura yang menyimpan benda-benda purbakala, Pura Penataran Sasih juga terkenal dengan tarian sakralnya yakni tarian Sang Hyang Jaran. Tapi tarian tersebut hanya dipentaskan jika ada upacara besar di pura tersebut. Tarian ini biasanya dibawakan oleh empat penari yang ditunjuk seketika di sekitar arena. Kalau misalnya kamu yang ditunjuk, tanpa kamu sadari tubuhmu akan bergerak sendiri di luar kesadaranmu. Tapi, biasanya yang terkena tunjuk adalah warga setempat arau orang luar yang memang berniat bersembahyang.

Akses
Sangat mudah untuk mencari Pura Penataran Sasih. Pura ini berada di pinggir jalan utama menuju Tampaksiring.



Spoiler for Bacaan tambahan:
Quote:Original Posted By dharmawyadha
wah lama tak jumpa semeton bali skalian...Om swastiasthu...lagi mbahas ape nih?

Bhahas apha ajha dheh blhi
Quote:Original Posted By andreaspaskarah
izin liat2 aja ya bro


Quote:Original Posted By sendy_shine
ijin nyimak ya,,menarik juga nih

Shilahkan.. Shilahkan
Quote:Original Posted By modernprimate
sik aktip bae wong iki.....hehehehe:maho


Dharipada bhengong mhas

Shekedar mhenaikkan thread shelagi adha whaktu rhenggang.

gabung dong, aku suka sekali trit bali ini, aku tinggal di denpasar

Three Worlds Of Bali
film dokumenter tahun 1979

Spoiler for bagian 1:

Spoiler for bagian 2:

Spoiler for bagian 3:

Spoiler for bagian 4:

Spoiler for bagian 5:

Spoiler for bagian 6:



Quote:Original Posted By WitGedhangMabur







wew yg ini cantik2x bro...

jd pengen qe bali lg neh :
Quote:Original Posted By cocomaroco
wew yg ini cantik2x bro...

jd pengen qe bali lg neh :


Lha bok iya kesana Mas ........... nanti bisa kenalan
Quote:Original Posted By pixelfreax
gabung dong, aku suka sekali trit bali ini, aku tinggal di denpasar

Shilahkan bli
Quote:Original Posted By cocomaroco
wew yg ini cantik2x bro...

jd pengen qe bali lg neh :


Quote:Original Posted By patec
Lha bok iya kesana Mas ........... nanti bisa kenalan


Lha, khok mhalah nghomongin chewe?
Yha shudah, jhudul thread-nya dhiganti shaja mhenjadi "Menguak Misteri Kembang Desa Bali"

Nghomong2, shaya khok jhadi inghat..

Spoiler for cerita:


Yhaa, shemoga phara bhujang dhisini bhisa mhenemukan shosok lhangka shepertinya