Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

uliyatisAvatar border
TS
uliyatis
Tumbal


Sebuah senyuman misterius muncul di
wajah cantiknya, membuat seluruh bulu kudukku berdiri. Meniupkan perasaan takut di hati. Malam sudah tiba ketika aku mencoba menghindar dari pandangan tajam pemilik wajah cantik itu.

Senyum penuh misteri itu masih bertengger, menghias bibir ranumnya. Entah apa yang membawa perempuan berdarah indo itu ke tempat tinggal kami.

Tubuh semampai, kulit putih, hidung mancung dengan rambut setengah ikal, membuat ia menjadi primadona di kampung kami. Dipuja dan dikejar-kejar banyak pemuda. Bukan hanya yang berasal dari sekitar tempat tinggal kami saja. Tapi, juga berasal dari tempat lain.

Bulu romaku semakin merinding, tidak tahan melawan hawa dingin yang mengalir dari raganya. Meski cahaya lampu tepat berada di atas kepala, hawa dingin itu masih tetap memancar dari tubuhnya.

"Ris, boleh aku masuk?"

Walau rasa takut itu masih ada, aku berusaha menepisnya. Tidak enak dengan Mbak Lastri, nama wanita misterius itu. Aku pun mengangguk
dan mempersilahkan dia untuk masuk.

"Sendirian?"

Seketika aku terkesiap mendengar pertanyaannya. Ada debaran aneh mengganggu irama jantungku. Cukup lama, aku memandangi wajah cantiknya, mencoba menerka apa arti senyuman di balik pertanyaannya tadi.

"Ada Mas Endro, lagi di belakang."

Senyumannya seketika menghilang saat aku mengucapkan nama Mas Endro. Aneh. Wajah Mbak Lastri pun tidak terlihat secantik tadi. Ada apa ini? Berkali-kali aku mengucap istighfar dalam hati.

Wajah Mbak Lastri juga berubah semakin pias. Tangannya gemetaran, tidak mampu menjangkau perutku yang sedang membuncit. Aku sedang mengandung anak pertama. Sepertinya ia bermaksud mengusap perutku.

"Ada apa, Mbak?"

Dia menggeleng. Ada kecemasan terpancar dari sorot matanya. Buru-buru Mbak Lastri pamit. Seperti ada sesuatu yang membuatnya ketakutan. Aku bisa melihat keringat sebesar biji jagung membasahi dahinya yang mulus.

Tanpa berbasa-basi dia meninggalkanku sendiri. Bingung akan tindak-tindaknya yang aneh. Tidak seperti biasanya, ujarku lirih.

Meski diliputi misteri, aku membiarkan saja Mbak Lastri pergi. Usai kepergian dia, udara tidak lagi sedingin tadi. Suasana pun tidak begitu mencekam lagi. Semua kembali seperti biasa.

Aku lantas menggeleng, tidak mengerti fenomena apa yang terjadi. Sementara bayangan Mbak Lastri telah menghilang.

Tepukan Mas Endro di pundak, membuatku tersadar dari lamunan. Entah sudah berlama aku berdiri sambil menatap ke arah jalan.

"Ada apa, Ris? Tidak baik malam-malam termenung. Nanti bisa kesambat lho," tegur Mas Endro. Aku mengangguk saja. Tertunduk-tidak berani mengatakan yang sebenarnya.

"Ayo, tutup pintunya. Kamu harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Banyak hal-hal misterius yang terjadi akhir-akhir ini." Kembali Mas Endro menasehatiku.

Memang benar kata Mas Endro tadi. Beberapa hari lalu, Surti tetangga di ujung kampung, tiba-tiba ditemukan dalam keadaan meninggal. Bayi dalam kandungannya pun raib.

Entah apa penyebabnya. Tidak ada yang berani mereka-reka. Apalagi, menuding siapa pelakunya. Beberapa tetangga terdengar kasak-kusuk, menceritakan peristiwa ganjil itu.

Bukan hanya sekali itu saja. Warga kampung sebelah pun ada yang mengalami hal yang serupa. Menurut sesepuh kampung, ada orang yang sedang menuntut ilmu. Jadi membutuhkan banyak tumbal untuk menyempurnakan ilmu yang sedang dipelajarinya itu.

Bulu kudukku terus merinding, teringat perkataan mereka. Siapa yang tega menjadikan nyawa manusia sebagai tumbal atas ilmu-ilmu tersebut?

Aku menarik napas panjang. Menahannya sebentar dan mengeluarkannya perlahan dari mulut. Di kejauhan, terlihat Mbak Lastri mondar-mondar di salah satu tetanggaku yang juga sedang hamil tua.
Untuk apa ya Mbak Lastri mondar-mondir di sana? Kan Mbak Lastri tidak terlalu mengenal mereka. Jangan-jangan ada sesuatu dengan Mbak Lastri?

Kecurigaan sontak kuarahkan kepada perempuan cantik itu. Tidak biasanya dia berada di sana. Aku terus saja memperhatikan tingkah Mbak Lastri. Khawatir terjadi sesuatu pada penghuni rumah yang tengah dikunjungi secara diam-diam.

Rasa penasaranku pun membuncah. Membuat tidak ingin beranjak, meski sudah lumayan lama memperhatikan ia. Tapi, entah mengapa tiba-tiba saja diserang kantuk yang luar biasa. Aku sendiri bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba ingin merebahkan diri.

Akhirnya aku tertidur di atas sofa. Tidak sanggup lagi mengawasi gerak-gerik Mbak Lastri. Tidak mampu lagi memperhatikan setiap tingkahnya yang mencurigakan.

Suara adzan ashar membangunkanku dari tidur. Astagfrullah ...! Ternyata lumayan lama juga tertidur tadi. Beruntung Mas Endro belum pulang dari bengkel. Kalau tidak, pasti tidak enak rasanya.

Sesaat, aku memandang ke arah rumah tetangga tadi. Mbak Lastri sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya. Pasti dia sudah minggat dari tempat itu.

Suara adzan telah usai, aku segera berjalan menuju kamar mandi. Mandi, mengambil air wudhu dan bersiap menunaikan sholat ashar.

Belum lama menyelesaikan rakaat terakhir, suara jeritan terdengar dari arah sana. Isak tangis bercampur kemarahan terdengar jelas. Suara makian pun terdengar dari salah satu mulut mereka.

Rumah yang memiliki jarak kurang lebih 100 meter itu kini mulai ramai dikunjungi tetangga lain. Ibu-ibu, bapak-bapak, tua , muda berlomba menuju ke situ.

Semua penasaran ingin menyaksikan apa yang sesungguhnya terjadi. Aku juga ingin pergi ke sana. Tapi , berkali-kali Mas Endro sudah wanti-wanti untuk tidak sembarangan keluar rumah. Bau tubuhmu sekarang sedang wangi-wangina di penciuman mereka, Ris. Itu kata Mas Endro kemarin.

Antara percaya dan tidak, aku menanggapi perkataan Mas Endro kemarin. Namun, kejadian barusan mau tidak mau membuatku percaya pada akhirnya. Bahwa memang ada orang yang bersekutu dengan makhluk penghuni alam kegelapan.

Suara ketukan terdengar bertubi-tubi. Mas Endro yang melakukannya. Mukanya terlihat pucat saat menatapku. Dia benar-benar sangat cemas. Aku diperhatikan dari ujung ramput sampai ujung kaki, memeriksa apakah aku baik- baik saja atau tidak.


'Aku ndak apa-apa, Mas. Jangan terlalu cemas!'

Mas Endro sepertinya benar-benar khawatir dengan teror yang menimpa perempuan hamil di kampung kami. Wajahnya terlihat memucat, memendam kegelisahan. Segera kugenggam sepasang tangan kekar Mas Endro. Sekedar mengurangi kegelisahan yang terpendam.

"Mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati ya,Ris. Jangan terlalu percaya dengan orang asing!"

"Iya, Mas," ujarku lemah.

"Oh ya, Mas. Tadi siang aku melihat Mbak Lastri berdiri cukup lama di rumah tetangga kita itu. Entah apa yang dilakukan Mbak Lastri? Padahal dia kan tidak terlalu mengenal mereka."

Mas Endro terbelalak mendengar perkataanku barusan. Keningnya terlihat berkerut dengan alis terangkat. Apa sebenarnya yang dilakukan perempuan itu? Terdengar olehku desisan lirih Mas Endro.

Cukup lama dia terlihat seperti orang yang berpikir keras, jemari tangannya sesekali ditekuk dan ditautkan satu demi satu.


'Dari sekarang, jangan dekati Mbak Lastri lagi,Ris. Kalau tidak ada Mas, jangan pernah mau membuka pintu buat siapa pun.'

Aku tidak ingin terlalu banyak berkomentar dan mengiyakan saja perkataan mas Endro.Mungkin memang ada baiknya kalau lebih berhati-hati.

Tidak terasa waktu berlalu, sudah menginjak 2 minggu sejak peristiwa. mengerikan itu. Berkali-kali Mbak Lastri mencoba mendekatiku. Namun, aku selalu menemukan alasan untuk menghindarinya.

Di setiap sudut rumah pun, Mas Endro menempel rajah berisi beberapa ayat suci Al-Quran seperti ayat kursi, untuk melidungi dari sesuatu yang berasal dari alam gaib.

Aku menjadi lebih tenang saat ditinggal Mas Endro bekerja di bengkel. Memang jarak antara tempat tinggal kami dengan bengkel tidak terlalu jauh. Paling hanya sekitar 500 meter saja.

Hampir setiap saat , Mas Endro meluangkan waktu memeriksa keadaanku. Untuk berjaga-jaga saja, karena usia kandunganku sudah melebihi 9 bulan. Beberapa hari lagi, saat kelahiran bayi kami akan tiba.

Pagi ini, Mas Endro juga tidak ingin berangkat kerja. Kurang enak badan, katanya. Bisa saja, karena terkadang Mas Endro harus lembur menyelesaikan pekerjaan dari beberapa pelanggan yang minta agar kendaraan mereka segera bisa dipakai.

'Mas, udara pagi ini, dingin sekali, ya?'

Mas Endro tersenyum kecil menanggapi ucapanku. Laki-laki sederhana, berpenampilan apa adanya itu memberikan segelas air putih yang telah didoakan olehnya usai sholat subuh tadi.

"Minumlah, Ris! Semoga Gusti Allah melindungimu dari godaan makhlus astral," ucapnya seraya menyodorkan segelas air putih.

Aku pun segera menyeruput air putih itu. Rasa segar segera merasuk ke seluruh tubuhku. Pikiran pun kembali jernih, tidak lagi dikejar-kejar ketakutan.

"Apa sebaiknya Mas istirahat di rumah dulu hari ini."

"Sepertinya begitu, Ris. Badan Mas pegal-pegal semua."

Aku mengangguk-bahagia karena hari ini ada Mas Endro di rumah. Bisa mengurangi sedikit ketakutan akibat teror yag melanda akhir-akhir ini.


Sebuah seruan, menghentikanku yang sedang asyik mendengar beberapa potong ayat suci Al-Quran dari ponsel milik Mas Endro. Suara yang tidak asing lagi-Mbak Lastri yang mencoba untuk terus memanggil.

"Jangan hiraukan,Ris! Terus saja fokus pada Murotal itu." Suara Mas Endro, mengalahkan suara Mbak Lastri yang terus menggoda.

Aku menguatkan diri untuk tidak membalas panggilan perempuan cantik itu. Sementara langkah Mas Endro sudah tiba di depan pintu. Dari balik tirai jendela aku mengintip percakapan antara mereka berdua.

Mbak Lastri menatap Mas Endro dengan geram. Ada kemarahan terpancar dari netranya. Lututku tiba-tiba gemetar, melihat pemandangan di luar. Aku bisa merasakan ada juga kekesalan dari raut wajah Mas Endro.

Setelah menemui Mbak Lastri, Mas Endro bergegas masuk rumah. Sementara perempuan itu memandang nyalang ke dalam rumah, seolah tahu aku sedang bersembunyi di balik jendela.

"Ris, sepertinya benar dugaan Mas, kalau ada sesuatu yang janggal dengan sikap Mbak Lastri akhir-akhir ini."

Ucapan Mas Endro membuat lututku semakin gemetaran. Perasaan takut pun kian kuat menghantui. Kutelan air ludah yang terasa seperti menelan jamu pahit.

"Tidak apa-apa. Tidak usah ketakutan seperti itu. Nanti kita cari solusi secepatnyanya." Perkataan Mas Endro barusan membuatku dapat bernapas lega. Semoga saja kami bisa melewati teror dari Mbak Lastri ini.

Hari persalinan tinggal dua hari lagi. Mbak Lastri semakin sering saja lalu-lalang di depan rumah. Beberapa kali aku mendengar teguran dari tetangga sebelah dari dalam rumah, tapi Mbak Lastri begitu lihai berkilah. Berbagai macam alasan bisa ia utarakan.

Malam hari pun, entah mengapa aku menjadi sering mengigau. Mbak Lastri benar-benar bagai mimpi buruk buatku. Entah apa yang dilakukannya hingga tega meneror warga yang sedang hamil tua. Anehnya, kenapa warga sekitar tidak ada yang curiga. Apa karena wajahnya yang cantik dengan tutur bahasa lemah lembut. Sehingga tidak ada seorang pun yang percaya, kalau Mbak Lastrilah penyebab banyak kematian wanita hamil di tempat ini.

Seperti yang aku alami malam ini. Mas Endro sudah lama tertidur, saat sebuah lemparan cukup keras menghantam pintu. Membuat Jantungku berdetak sangat kencang. Untuk sepersekian detik aku hanya bisa mematung, tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Perlahan sekali, aku mengguncang-guncang tubuh Mas Endro agar ia segera bangun. Suamiku itu kaget dengan guncangan yang ternyata cukup keras itu.

"Ada apa sih, Ris! Ini masih jam 2 malam, lho. Mas, masih mengantuk."

"Tadi ada yang melempar pintu, Mas. Keras sekali!"

Sambil mengucek mata, Mas Endro turun dari tempat tidur. Sepertinya hendak memeriksa pintu depan. Aku beringsut membuntuti seraya memegang ujung kaos Mas Endro,


"Mas, hati-hati!" aku mengingatkan suamiku.

Dia hanya tersenyum sambil terus berjalan menuju jendela. Lampu di ruang tamu masih tetap mati. Sengaja tidak dihidupkan agar tidak terlihat dari luar.

Di depan jendela, kami berusaha mengintip siapa yang iseng malam-malam mengedor pintu rumah kami. Kakiku seketika gemetar saat melihat siapa yang tengah berdiri di depan pagar. Mbak Lastri! Tapi penampilannya benar-benar berubah. Rambut berantakan, wajahnya pun penuh bopeng, tidak cantik seperti yang kukenal.

"Mas ...," desisku lirih. Takut kedengaran perempuan itu.

"Tidak apa-apa. Tidak usah takut. Dia tidak akan berani masuk!"

Penjelasan Mas Endro sedikit mengurangi rasa takutku. Bagaimana pun, ini pengalaman yang mengerikan bagiku.

Aku tidak pernah menyangka, perempuan seperti Mbak Lastri bisa berpenampilan mengerikan seperti itu.

"Mas, apa yang terjadi dengan Mbak Lastri?" tanyaku ingin tahu.

"Sepertinya dia sedang menuntut ilmu hitam, yang membuatnya untuk tetap cantik dan muda."

Aku tertegun mendengar penuturan Mas Endro. Benarkah itu? Tidak pernah terbayang olehku.

"Apa Mbak Lastri bukan penduduk asli kampung kita, Mas?"tanyaku lagi. Benar-benar penasaran.

Mas Endro terdiam sejenak. Kemudian ia menceritakan seluruh kisah hidup Mbak Lastri. Di mana dulu dia dan keluarganya disingkirkan warga karena dianggap keluarga dukun yang berbahaya. Bisa menyantet dan menyebabkan banyak orang celaka.

Beruntung akhirnya Mbak Lastri bisa selamat dari amukan warga, meski kondisi tubuhnya dalam keadaan luka parah. Dia ditampung di salah satu warga yang merasa kasihan. Setelah beberapa waktu, Mbak Lastri ikut warga itu ke kota dan baru kembali kurang lebih 2 atau 3 tahun yang lalu.

Saat pulang kondisi fisiknya sudah berubah menjadi lebih cantik. Penampilannya pun tidak mencerminkan kalau dia adalah anak seorang dukun yang pernah diamuk massa.

Warga juga sudah melupakan peristiwa itu dan menerima kedatangan Mbak Lastri kembali. Tapi anehnya, setelah kepulangan Mbak Lastri, banyak perempuan hamil di sekitar kampung tewas dengan keadaan mengenaskan. Bayi yang dikandung pun ikut raib.

Aku tidak mampu bergerak, usai mendengar penjelasan Mas Endro. Sementara di luar Mbak Lastri seperti menggila, bolak-balik. Wajahnya menjadi semakin beringas. Tangannya mencoba pintu pagar. Tapi segera ditarik kembali.

Keputusasaan melanda dirinya kini. Kulit wajah mulus itu kini semakin menjijikkan. Penuh bekas luka. Membuat perutku tiba-tiba terasa mual.

Mas Endro memejamkan mata, seperti membaca sesuatu. Mataku tak berkedip memandang kejadian di luar. Tampak Mbak Lastri kian gencar membuka pintu pagar. Matanya semakin memerah, seperti biji saga. Kuku tajam mulai tersembul, membuat ia tampak seperti makhluk yang bersekutu dengan iblis.

Dadaku berdegup kencang. Ternyata ilmu Mbak Lastri lumayan tinggi. Dia berhasil melewati pintu pagar. Beruntung bunyi lantunan ayat suci Al-Quran dari musholla segera menghentikan langkahnya.

Tidak terasa subuh sudah menjelang. Hampir 2 jam lamanya Mbak Lastri bergumul, mencoba masuk. Sambil berteriak histeris, perempuan itu berlari menerjam rinai yang baru turun.

Perempuan yang dilanda dendam kesumat, menjadikan dirinya alat pemuas iblis. Memanfaatkan rasa sakit hatinya, sehingga rela mencari tumbal untuk sebuah keserakahan. Itu yang kudengar dari Mas Endro.

Aku semakin tercenung, menyaksikan peristiwa itu. Sementara semakin banyak warga mulai lewat menuju musholla. Sebentar lagi waktu subuh akan tiba, aku dan Mas Endro juga bersiap-siap melaksanakan sholat.

Pagi harinya banyak tetangga tidak menyadari drama yang terjadi tengah malam tadi. Semua seperti tersihir, terlelap dalam tidur. Bahkan teriakan histeris Mbak Lastri pun tidak terdengar. Mereka hanya sibuk kasak-kusuk mempertanyakan kebenaran cerita pada Mas Endro. Sementara keberadaan Mbak Lastri tidak ada yang tahu. Ia seperti lenyap di telan bumi.


Beberapa hari kemudian dari beberapa kerabat jauhnya diperoleh informasi kalau Mbak Lastri telah ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Tubuhnya penuh luka cabikan, seperti terkena goresan benda-benda tajam. Akhirnya ia menjadi tumbal atas persekutuannya dengan iblis, akibat tidak bisa menyediakan tumbal berupa perempuan hamil.

Penuh rasa syukur, aku memandang langit yang mulai terang. Matahari telah lama berada di singgasananya. Panas teriknya telah menyusup ke seluruh penjuru, bersama ketenangan yang kini mengalir.

Aku tidak lagi diteror peristiwa misterius itu. Bahkan proses persalinan pun berjalan lancar. Satu hal yang membuatku bertambah yakin adalah bahwa Allah akan menjaga seluruh hamba-hamba-Nya yang tetap percaya dan berlindung pada-Nya.

Udara pagi menerpa lembut kulit tubuhku. Membuat buah cinta kami tergolek pulas. Kelahiran yang telah lama ditunggu akhirnya tiba jua. Meski pernah dilanda teror menakutkan. Aku bisa melewatinya dan berhasil lolos dari tumbal Mbak Lastri.


Curup, 12 Oktober 2019

Sumber foto: pixabay.com
https://pixabay.com/id/photos/fantas...gurun-2925212/
Diubah oleh uliyatis 05-02-2020 09:35
jenggalasunyi
cheria021
bejo.gathel
bejo.gathel dan 95 lainnya memberi reputasi
96
28.5K
382
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
uliyatisAvatar border
TS
uliyatis
#281
Pengasihan Penari Ronggeng Part Dua


Pixabay.com


Penampilan Sira sebagai penari ronggeng semakin bersinar. Banyak laki-laki berkantong tebal yang jatuh ke dalam pelukannya. Silih berganti mereka menggelontorkan uang demi bisa bersama Sira. Sementara kang Sugi, suaminya tak mampu berbuat apa-apa. Sama seperti hari-hari sebelumnya, hanya diam dan menurut saja apa mau Sira.

“Mbak Sira dari hari ke hari bertambah cantik saja,” puji Mira, saat memperhatikan wajah Sira sebelum pertunjukan ronggeng dimulai. Sebuah senyum lebar mewarnai wajah wanita bertubuh sintal itu. Bibir merahnya merekah, terus menerus menyunggingkan senyum, mengumbar kecantikannya yang seolah tak pernah luntur.

“Ah … masa iya, Mir. Mbak merasa biasa saja.”

“Beneran, Mbak. Kalau Mira boleh tau, apa sih rahasianya?” Amira mencoba mengorek keterangan dari Sira.

“Kamu mau tau beneran, Mir?” Sira tak langsung menjawab pertanyaan Mira. Perempuan cantik itu malah balik bertanya.

“Mbak Sira mau kasih tau, apa resepnya bisa menjadi secantik ini?” Mira terus mendesak Sira secara halus.

“Seharusnya, sebagai penari ronggeng, kau sudah harus tau rahasia-rahasia seperti ini, Mir!” ucap Sira dengan wajah serius. Kali ini, dia memang ingin agar Mira mau mengikuti jejaknya, memasang susuk, pengasihan yang biasa dipakai penari ronggeng.

Mira, menunduk, berusaha menghindar padangan tajam Sira. Gadis ini tak ingin terpengaruh bujukan Sira untuk memakai susuk.

“Nanti saja, Mbak. Mira pikir-pikir dulu!” tolaknya halus. Dari awal, Mira memang tak berhasrat memasang susuk, pengasihan menarik banyak pria untuk lebih tertarik pada goyangannya saat menari.

Sira melengos, saat mendengar penolakan halus Mira. Perempuan molek ini merasa sedikit jengkel karena belum bisa membujuk Mira. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia meninggalkan Amira, masuk ke tengah pertunjukan dengan sambutan begitu meriah oleh para lelaki hidung belang yang selalu setia menunggu penampilannya yang menggoda.

Sementara Mira mengikuti dari belakang. Di saat itulah, ia melihat di belakang Sira sesosok bayangan perempuan sangat cantik mengikuti perempuan yang sedang melenggang gemulai itu. Perempuan cantik itu menatap Mira dengan tajam, memperlihatkan seringai yang sangat menakutkan.

Apa ini bentuk pengasihan yang dikatakan mbak Sira tadi? bisiknya lirih. Apa pengasihan yang dimaksud adalah bersekutu dengan makhluk-makhluk dari dimensi lain?

Amira bertambah bimbang. Dia menari tanpa fokus, di lain sisi, Sira sangat menikmati permainannya dalam pertunjukan tari ronggeng ini. Dia seperti sebuah magnet raksasa, menarik setiap mata lelaki yang berada di sana untuk menari bersamanya. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya.

Mira, akhirnya menepi, tak kuat melihat perempuan berwajah cantik yang ikut menari di belakang Sira. Aroma perempuan berwajah cantik dan bertaring itu sangat wangi. Mampu menyihir dan memabukkan laki-laki yang menari dengan Sira.

“Kenapa berhenti, Mira?” Sari, salah satu penari ronggeng yang usianya hampir sepantaran bertanya.

“Ndak apa-apa, Sari. Entah kenapa, kepalaku kok sakit sekali. Ndak sanggup rasanya menari malam ini.”

“Kalo gitu, kamu istirahat saja. Nanti, biar aku kasih tau Bu Siswo!” Sari membawa Mira sedikit menepI dari keramaian. Setelah itu, gadis itu kembali ke tengah pertunjukan. Aneh, sekali, di belakang Sari, tak terlihat perempuan cantik mengikutinya. Hanya, satu sosok perempuan biasa, cantik tapi tak sebanding dengan perempuan cantik yang bersama Sira tadi.

Apa semua penari ronggeng memang memasang susuk atau pengasihan, agar mereka selalu ramai ditanggap atau diajak menari okeh banyak lelaki?Kenapa juga baru sekarang ia bisa melihat penampakan sosok-sosok yang berada di belakang penari ronggeng lainnya? Apa sebenarnya yang terjadi?

Amira benar-benar bingung. Tak bisa menduga atau menerka jawaban dari semua pertanyaan tadi. Mengapa baru sekarang makhluk-makhluk itu memperlihatkan diri mereka? Apa mungkin mereka mengincar dirinya sebagai korban berikutnya. Kepala Mira bertambah pusing, tak menduga akan mengalami peristiwa ini.

Keringat dingin mulai bercucuran, saat melihat sosok-sosok yang berada di belakang para penari itu mulai mendekati semua lelaki yang menari dengan Sira, Sari dan lainnya yang memakai pengasihan, susuk dari akik Joyo. Para lelaki itu tak menyadari kalau ada sosok halus yang membayangi mereka saat menari. Sosok itu bergerak liar di sekitar para pria itu, menebar aroma mereka yang wangi, membuat mereka seolah tak mau berhenti menari.

Rupiah demi rupiah dikeluarkan pria hidung belang itu. Bukan sekedar ribuan atau puluhan ribu, tapi sudah mencapai angka ratusan bahkan jutaan. Semuanya berlomba memberikan saweran yang banyak. Terlebih pada Sira.

“Sira, terimalah ini!”ucap seorang lelaki yang dikenal sebagai salah satu pengusaha sukses. Beberapa lembaran merah disisipkannya di jemari Sira yang lentik.

Sebuah senyum manis diberikan Sira, membalas saweran yang tadi diselipkan di jarinya. Amira melihat, perempuan cantik itu bergerak lembut menuju laki-laki itu, meniup sesuatu di wajah pria itu. Sepertinya, sosok itu menandai pria itu. Mungkinkah, dia akan dijadikan tumbal berikutnya?

Mira menggeleng, menepis banyak tanda tanya yang kini memenuhi benaknya. Kenapa juga, sosok-sosok itu menampakkan dirinya. Apa karena, dia selalu menolak dipasangi sususk? Ah, entahlah! Mira, akhirnya meninggalkan panggung pertunjukan, pulang ke rumah.

Melihat dirinya pulang masih menggunakan busana menari, ibu Amira heran dan bertanya.

“Mir, kok, masih pake pakaian tari? Apa pertunjukan tari ronggengnya udah selesai?”

“Belum, Bu. Mira bingung. Tadi, di sana, Mira melihat ada beberapa sosok perempuan cantik mengikuti penari ronggeng, seperti Sari dan mbak Sira.”

Mira mulai menguraikan ceritanya. Ibunya, hanya memperhatikan ekspresi Mira, saat bercerita. Perempuan separuh baya itu bisa melihat ketakutan dari sorot mata puteri semata wayangnya itu.

Gadis itu perlahan menceritakan bagamana pengasihan yang dipergunakan rekan-rekannya bisa membuat penari-penari ronggeng jatuh dalam pengaruh mistis. Susuk yang sangat mengerikan.

Amira semakin terperangah, saat ibunya berkomentar, bahwa dia memang menjadi incaran makhluk tersebut. Bulu kuduknya meremang, tak sanggup membayangkan kalau dia menjadi salah satu sekutu, pengabdi iblis hanya untuk mencari kenikmatan sesaat.

“Mira ndak mau, Bu. Lebih baik, Mira berhenti menari saja!” akhirnya, Mira mengambil keputusan untuk berhenti menjadi penari ronggeng. Namun, ternyata keputusan Amira itu tak sepenuhnya betul. Makhluk-makhluk Itu tak berhenti menerornya.

Bahkan ketika melayat, di rumah Sari, perempuan itu kembali menampakkan wujudnya. Kali ini, makhluk itu menampakkan dirinya sebagaimana aslinya. Separuh manusia dan ular. Lidahnya yang bercabang, tampak menjilati seluruh tubuh Sari.

“Bu, kenapa, mayat Sari dijilati makhluk setengah ular itu?” bisik Mira, sesaat meninggalkan rumah Sari.

“Apa …? Apa yang Mira katakan tadi?” Ibu Amira menggoncang tubuh Sari.

“Miratadi lihat, kalo seluruh tubuh Sari dijilati oleh makhluk perempuan setengah ular, Bu!” Mira berkata cukup keras, tapi tak sampai terdengar oleh orang lain, karena situasi di sekitar mereka sedang lengang.

“Kamu harus hati-hati, Mira! Sepertinya, memang makhluk-makhluk itu mengintaimu, untuk dijadikan sasaran berikutnya. Menjadi sekutu dan pengikut mereka.”

Sari makin melongo, terkejut mendengar uraian ibunya. Penjelasan sang ibu, membuat dirinya ketakutan.

“Bu, Mira ndak mau, bersekutu dengan mereka. Apa yang harus, Mira lakukan?” Amira kini merengek, mencoba memnta bantuan dari ibunya. Penuh welas kasih, akhrnya, ibunya memberi solusi, akan mengirimkan Mira ke rumah pamannya, yang memiliki ilmu supranatural dan dulu juga pernah melepaskannya dari pengaruh mahkhluk seperti itu.

Melihat situasi yang mulai mengkhawatirkan, Mira mengungsi sementara di rumah pamannya, menghindar dari kejaran makhluk pemilik pengasihan ronggeng tersebut. Sementara, kematian Sari tak membuat para penari lain merasa ketakutan. Mereka berpikir, bahwa itu sudah menjadi konsokuensi yang harus mereka pikul jika tak mampu memberikan tumbal.

Kang Sugi yang menjadi tameng Sira, akhirnya pun tak luput dari kematian. Dia dinikahi Sira, memang untuk ditumbalkan menjadi santapan pemilik pengasihan, permpuan cantik, bertaring. Amira mendengar kematian kang sugi dari ibunya.

Suasana semakin mencekam. Makhluk mengerikan itu semakin berkeliaran, mencari tumbal dan mangsa baru, penari-penari baru yang haus popularitas dan kekayaan.

“Bu, bagaimana keadaan di sana?” Suatu hari, Amira menelphon ibunya, mencari informasi tentang suasana di kampung, tempat tinggalnya. Sudah lebih dari seminggu dia berada di rumah pamannya. Beberapa bekal, berupa beberapa bacaan dan amalan pun sudah ia peroleh dari pamannya.

“Masih belum membaik, Mir. Sebaiknya, tunda saja dulu kepulanganmu, sampai Kau benar-benar sudah siap, menghadapi makhluk-makhluk seperti mereka itu!” Ibunya pun melarang Amira untuk pulang saat ini. Takut terjadi hal-hal yang kurang diinginkan pada diri putri semata wayangnya itu.

“Kalo itu,baik Bu. Mira tinggal saja dulu di rumah paman. Nanti, kalo sudah punya bekal cukup, Mira pulang.”

Sejak percakapan itu, Amira pun tak menghubungi ibunya lagi. Paling, kalau ada hal yang penting, atau Mira sedang rindu, baru ia menelphon ibunya. Sedangkan Sira, tampak semakin lupa daratan. Perempuan bertubh sintal dan berwajah cantik itu dengan mudahnya mendapatkan laki-laki untuk dikuras isi kantongnya.

Seseorang pengusaha dari kota, berhasil mempersuntingnya. Tanpa banyak proses, akhirnya pria tu pun menjadi suami sah Sira. Kejadian berulang kembali lagi. Persis seperti apa yang dialami kang Sugi.

Genap satu bulan, Amira pergi dari kempung, perubahan pun terjadi di kelompok penari tersebut. Sira, kini yang menjadi pemimpin rombongan tari ronggeng yang dulu diikuti Amira. Kedudukannya pun sangat diperhitungkan oleh keloompok penari ronggeng lainnya.

“Ibu …!” teriak Amira sembari memeluk ibunya, saat memasuki rumah. Sekarang,dia sudah siap menghadapi makhluk-makhluk yang memburunya untuk diajak bersekutu.

‘Mira …, anakku!” seru ibunya pula, menyonggong sang putri dan segera memeluknya dengan penuh kerinduan.

“Ibu, sehat aja kan? Mira, rindu, Bu!” seru Mira kembali. Ibu dan anak itu tak menyadari kalau sepasang mata menatap mereka dengan tajam dan seringai jahat. Pemilik pengasihan itu telah mencium keberadaan Amira.

“Iya, sehat. Ayuk, cepat masuk! Situasi kurang aman sekarang,” ucap ibu Amira, seolah menyadari kalau ada sepasang mata sedang memperhatikan pertemuan mereka.

Amira pun tak lagi mendesak sang ibu, dan ikut masuk. Sepertinya, gadis ini pun menyadari kalau ada makhluk yang sedang mengintai dirinya.makhluk.

“Bu, sepertinya ada seseorang sedang memperhatikan keadaan kita,” ucap Mira, sembari ikut masuk rumah.

“Sit …, jangan keras-keras. Nanti makhluk itu akan dengar!” larang ibunya. Beruntung, merek segera masuk, kalau tidak pasti sudah dihadang oleh makhluk perempuan cantik, berambut panjang dan bertring itu. Di samping itu, ada juga makhluk pemilik pengasihan lain yang berbentuk setengah ular seperti yang menjilati mayat Sari tempo hari.
Mira tak lagi berkata-kata. Gadis ini sibuk mengulang beberapa bacaan yang diberikan pamannya untuk menangkal gangguan makhluk halus. Makhluk itu pun tertahan di depan pintu rumah ibu Amira, tak berani masuk.

Semenjak kepulangan Amira, ada beberapa kali Sira mengunjungi Amira, tapi, yang membuat gadis itu heran adalah Sira tak berani masuk ke dalam rumah, perempuan itu hanya menunggu di halaman rumah saja.

“Ayo, Mbak,masuk! Ndak enak ngobrol di halaman kayak gini.” Amira setengah memaksa mengajak Sira masuk.

“Nggak apa-apa, Mir. Mbak di sini saja. Lagi pula, nggak lama, kok. Mbak Cuma mastikan apa kamu benar-benar sudah nggak mau nari lagi?”

Mata Amira menyipit, mendengar pertanyaan Sira. Dalm hati kecilnya, dia sudah menduga, kedatangan mbak Sira nya kali ini pasti menanyakan statusnya.

“Mbak, untuk saat ini, Mira mau istirahat dulu. Ntar, kalo udah siap nari lagi, pasti Mira khabarin.”

Sira mengangguk lemah, tak berdaya mendengar jawaban Mira. Gadis satu ini memang lain dari yang lain, batinnya menahan rasa dongkol. Sangat susah untuk dibujuk.

“Ya, udah, kalo gitu. Mbak, pulang dulu. Ntar, kalo Mira emang udah siap, khabarin Mbak!”

Amira mengangguk, tersenyum kecil. Mata indahnya mengantar kepergian Sira hingga hilang dari pandangan. Sebenarnya, Mira memang sudah rindu untuk menari, tapi, menurut pamannya, dia harus menunggu saat yang tepat. Waktu di mana mamkhluk itu berada dalam titik lemahnya.

Berarti masih harus menunggu beberapa bulan lagi, sampai menjelang purnama keenam, ketika, makhluk itu akan menikmati tumbal yang telah dijanjikan oleh Sira.

Sira tak pernah putus asa mengajak Amira menari, segala upaya dilakukannya. Mulai dengan membujuk secara halus dan melakukan teror, menakuti ibunya Amira, agar gadis itu mau menari. Tak jarang pula, makhluk itu tiba-tiba saja mengikuti dan menampakkan wajahnya pada ibu Amira, mengikuti, bahkan masuk ke raga ibunya, membujuk Amira untuk menjadi sekutunya.

Keadaan ini, membuat Mira gelisah, sedikit merasa takut. Apalagi melihat ibunya bertambah sering kerasukan makhluk pemilik pengasihan itu. Ahirnya, Amira pun nekat. Amalan yang telah ia pelajari dari sang paman, satu per satu mulai ia praktekkan. Termasuk ketika menghadapi makhluk perempuan cantik bertaring yang merasuki tubuh ibunya.

“Keluarlah kau, dari tubuh ibuku, hai makhluk terkutuk!” Suara Amira terdengar tegas meski sedikit bergetar.

“He … he …, aku tak akan keluar sebelum kau mau menjadi sekutuku, meanri ronggeng lagi!” Tawa nyaring, sedikit serak keluar dari mulut ibunya.

Amira mulai merinding, tapi, dia mencoba menkan rasa takutnya, dengan membaca amalan dan beberapa ayat suci yang yang ia pelajari selama berada di rumah pamannya. Makhluk itu terlihat gelisah, ketika Amira mulai membaca amalan. Tubuhnya bergerak tak menentu, menahan hawa panas akibat bacaan tersebut.

“He … he … kau belum bisa mengalahakanku Amira. Sekarang, ikutlah denganku, atau tubuh ibumu ini akan hancur berkeping-keping!”

“Apa yang akan kau lakukan pada ibuku?”

Amira menjerit kencang, sembari terus membaca amalan dan ayat yang biasa ia baca. Gerakan ibunya tampak semakin liar, menjerit sambil mengacak-acak rambutnya, meronta, ingin membebaskan diri dari bacaan Amira.

“He … he … hentikan bacaan itu dan ikutlah denganku, anak manis, atau kau akan kehilangan ibumu!”

Makhluk itu mulai mengancam. Amira memandang penuh amarah pada makhluk yang berada dalam ! tubuh ibunya. Dia tak berdaya, takut melakukan tindakan yang bisa membahayakan nyawa ibunya.

Di saat itu lah, Amira terdiam, tapi dalam hati dia masih terus membaca amalan, zikir yang ia pelajari dari pamannya. Penuh kepsrahan, ia membaca salah satu amalan yang paling susah dihapal dan ternyata sangat anjur untuk mengusir makhluk pemilik pengasihan itu.

“Panas …! Awas, ku, Amira, tunggu saja pembalasanku!” Bersamaan dengan itu, tubuh ibunya melorot, jatuh ke lantai. Bersyukur, Amira segera menangkap tubuh ibunya.

Setelah peristiwa itu, Mira lebih ketat menjaga ibunya agar tak lagi dirasuki makhluk pengawasihan itu. Sementara Sira masih terus menari dan akan menumbalkan suami barunya sebagai bayaran atas pengasihan yang ia terima.

Tepat pada hari pemberian tumbal, Amira mengunjungi Sira dan mengatakan ingin menari. Wajah perempuan cantik itu sumringah, mendengar keinginan Amira. Merasa senang, akhirnya Amira mau juga menari lagi lagi.

Pada malam harinya, Sira memandang Amira yang sudah berdandan rapi, siap menuju panggung. Kali ini, Amira tersenyum sangat manis, sengaja, agar Sira tak menaruh curiga, kalau gadis itu memang sengaja menari untuk melihat keadaan makhluk itu.

“Kau cantik sekali, Mir!” seru Sira senang.

Amira hanya mengangguk, menggulirkan kembali senyum manisnya. Bahkan sampai saat pertunjukan, dia masih tersenyum. Di belakang Sira, makhluk itu memandang Mira dengan tajam. Kondisnya terlihat lemah, meski masih mengiringi dan mendampingi Sira menari. Ini lah saatnya, desis Amira.

Perlahan, Amira mendekati suami Sira, mengajaknya menari dan menjauh dari arena pertunjukan. Melihat suaminya sudah tak ada lagi, Sira ketakutan. Malam ini adalah saatnya menumbalkan sang suami. Amira menyembunyikan suami Sira di suatu tempat yang tak bisa dijngkau Sira dan makhluk itu.

Menjelang tengah malam, saat pertunjukan telah berakhir, Sira bersama makhluk itu berlari menuju tempat di mana mereka biasa mengadakan ritiual. Sira menangis, menjerit karena tak berhasil menemukan suaminya. Sementara, makhluk pemilik pengasihan sudah tak sabar, ingin menyantap tumbal, karena kekuatannya sudah sangat lemah.

“Mana tumbalmu, Sira? Aku sudah sangat lemah!” bentak makhluk itu, marah.

“Sebentar lagi, Nyai! Sira mulai gemetar kini.

“Tumbalmu sudah tak ada, hai, makhluk terkutuk!” seru Amira, keluar dari persembunyiannya. Mata Sira membulat, merasa terselamatkan karena memiliki tumbal baru.

“He … he … beruntung kau ada di sini, Mir. Kau ke mana kan suamiku?”

Amira tersenyum lembut, membentengi tubuhnya dengan amalan, berjalan perlahan menuju Sira.

“Cobalah, kalau makhluk itu berani menyantapku!” Amira menantang.

Makhluk itu ternyata tak berani mendatangi Amira, memutar langkahnya menuju Sira. Tubuh perempuan cantik, primadona ronggeng yang selalu dielu-elukan kehadirannya, kini menjadi mangsa makhluk gaib itu.

Tubuhnya hancur dikoyak taring panjang milik perempuancantik itu. Amira tak sempat mencegah. Nasib Sira berakhir tragis, menjadi tumbal pengasihan miliknya sendiri. Makhluk itu memandan Amira puas.

“Pergilah, Kau! Aku tak akan mengganggumu lagi!” jerit makhluk itu sebelum menghilang dari pandangan.

Amira memandang kepergian perempuan cantik yang membawa serta tubuh Sira bersamanya. Ternyata, keputusan ibunya berhenti menggunakan pengasihan sangat tepat. Kalau tidak, dia sudah kehilangan sang ibu, sejak dulu.

Udara malam bertambah dingin, Amira berjalan tergesa, pulang. Malam ini, tak akan pernah terlupakan olehnya sepanjang hidup. Memang benar, kata pamannya, iblis akan masuk dan mengganggu manusia yang berhati lemah. Dan Amira tak mau menjadi salah satu dari golongan itu.
Diubah oleh uliyatis 17-10-2020 22:57
miniadila
banditos69
banditos69 dan miniadila memberi reputasi
2
Tutup