bismillahirrohmanirrohim,
reportase pagi kali ini tadinya mau tentang relaxasi sebagai dasaran ke kondisi hening/meditatif. tapi berhubung perkembangan trit ini kok masih beraroma mewekisme dan andai-isme, materi tadi dipending dulu lah yaaw.. tapi jika pemaparan dan pembahasan saya sebelumnya memang belum mengena, mungkin memang itulah keterbatasan saya sebagai manusia.
tidak ada yang terlalu susah, kecuali anda yang membuat susah..
tidak akan menjadi terlalu mustahil, kecuali anda tak mau berusaha..
tidak akan tersesat, kecuali memang anda mau tersesat..
tidak akan jadi korban, kecuali...
saya akan menunjukkan metafora menggunakan teknik self-defense dalam melucuti senjata penyerang. jika (mudah2an tidak sampai terjadi) suatu saat anda bertemu dengan penjahat dijalan dan menodongkan pisau, entah bagaimana caranya kemudian anda berhasil memegang tangan penjahat yang menggenggam pisau. anda ingin melucuti pisau tersebut agar perkelahian menjadi seimbang (tangan kosong) atau minimal si penjahat kabur tanpa melukai anda yang teriak2 manggil warga.

bagaimana cara melepaskan genggaman terhadap sesuatu??
anda bisa coba dengan mengajak pasangan/teman/saudara anda untuk menggenggam benda (hp/spidol/cincin/) sekuat2nya. biar semangat, bilang kalo bisa mempertahankan itu benda selama 15 detik, anda akan kasih dia duit 50rebu. tapi kalo berhasil benda itu terlepas, dia musti bayar 10rebu.
peraturannya: tidak boleh melukai si penggenggam. jadi tidak boleh dijedotin, diplintir,dibakar,dsb..umumnya orang akan mencoba satu-persatu menarik jari-jari si penggenggam. sudah pasti ada perlawanan yang kuat dari si penggenggam untuk melindungi apa yang dianggap menguntungkan untuk dipertahankan.

dengan cara ini, anda mungkin berhasil, mungkin juga gagal (karena ada batas waktu). jika anda tidak culas milih lawan anak TK, umumnya anda harus mengerahkan tenaga extra besar. menjaga jari yang sudah terbuka agar tidak tertutup lagi, dsb.
sekarang anda coba cara berikut: genggam punggung telapak tangan si penggenggam, lalu dengan lembut tapi tegas dan mantap, dorong punggung tangan tadi ke arah dalam. lihat apa yang terjadi..
(..sebelum nyobain ke orang lain, coba ke diri dulu biar keukur berapa tenaga yang diperlukan..)
mana yang lebih mudah, lebih cepat, lebih pasti? cara pertama atau cara kedua?
demikian pula halnya dalam berdamai dan memahami diri sendiri untuk melepas kemelekatan/genggaman pada emosi, dendam, benci, kecewa, minder, marah...
anda bisa melakukan secara frontal melalui pemaksaan, penyangkalan (denial), menyalahkan orang/kondisi (projection), bahkan menyalahkan Tuhan (naudzubillah enih maah) sebagaimana anda mencoba membuka genggaman dengan memaksa jari-jari satu persatu terlepas. capek... tambah keringetan tambah licin..
atau ketika kalah anda sibuk beralasan (rasionalisasi) dia lebih gede lah, belum siap lah, kesalahan teknis lah.. menimpakan kesalahan pada diri sendiri (retrojection)..
atau anda main kasar, ngamuk, ngobrak-ngabrik, ngelabrak, bubarin ajah (termasuk bunuh diri), nyantet, tebar fitnah pembunuhan karakter, seperti orang yang gak kuat buka genggaman, trus tangan penggenggam ditonjokin, dipentogin, dibakar, dikasih ingus iler dan upil biar kebuka..
atau anda mengenal, mengakui dan menyadari struktur dan cara kerja tubuh, hati, dan pikiran anda, dengan lembut tetapi mantap anda arahkan sesuai dengan kodrat dan batasannya agar melepaskan apa yang bukan diri anda. sebagaimana cara kedua dalam melepaskan genggaman menggunakan pengetahuan anatomi persendian telapak tangan.
penderitaan bersumber pada identifikasi/kemelekatan anda terhadap apa yang bukan anda.
saya bahagia hanya bersama Nina
saya sukses dengan menjadi pegawai kantoran diruang AC
saya memiliki pekerjaan nyaman dengan menjadi PNS
saya memiliki cinta dengan pasangan saya yang seiya sekata
saya bahagia mendapatkan jodoh terbaik saya
saya sedih dan menderita karena Rina tidak mau bicara lagi dengan saya
saya kecewa karena posting saya hasil copas sono-sini dianggap posting rendahan, nubitol, idiot..
dapatkah anda melihat bagaimana kemelekatan tersebut semuanya tergantung pada faktor2 external, relatif, nisbi, temporer, subyektif, bahkan khayali???
itulah gunanya ajaran agama mengajarkan hanya dengan bersandar dan berserah diri pada Sang Mutlak saja anda dapat selamat bahagia dunia akhirat. tapi orang yang tidak paham ini atau hidupnya baru secuil atau cuma katak burig dalam tempurung ajaran agama dianggap cuma teori, doktrin, dan dogma yang omong kosong dan gak nyambung dalam kehidupan nyata. masya Allah.
itulah gunanya ilmu spiritual untuk melakukan pencarian kedalam. itulah gunanya ilmu supra untuk mampu merasa, memahami batasan dan kodrat tubuh. semuanya agar hidup dan mati dengan damai dan bahagia.
selama hidup saya, saya mengamati orang2 yang mewek dan mengeluh terus, basicnya cuma begini2 aje:
dia tidak mau mengolah jiwa dan hidup dengan kuat untuk menjadi pemenang, tapi daripada menjadi pihak yang kalah, lebih nyaman (baca: lebih menguntungkan) menjadi korban. sibuk mencari pembenaran terhadap keluhan2nya (ngumpul dah dia bersama gang arisan "yang tersakiti society") dibandingkan mencari kebenaran tentang apa yang dapat menjadi solusi bagi hidupnya.
apakah sedemikian menguntungkannya menjadi "korban kehidupan", "korban lelaki durjana", "korban retaknya rumah tangga", "korban outsourcing" dibandingkan menjadi pemenang kehidupan??
jika ada yang perlu diperhatikan sepenuh kasih setiap saat oleh anda, maka itu adalah hati anda. apa yang anda tempatkan disitu? pantaskah ia berada disitu? terawanglah hati anda terlebih dahulu.. agar anda tidak tersesat dan tertipu ketika menerawang orang lain.
"maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Quote:
bagi yang kenyang sama pahit-getir kehidupan namun belum dapet benang merahnya, bisa coba baca pelan2 sambil ngeteh di pagi hari kitab "Ashtavakra Gita" versi PDF-nya http://www.messagefrommasters.com/Eb...vakra-Gita.pdf .
anak kuliahan, anak sekolahan, tukang debat, tukang nyetempel jidat orang, masih kaku tapi berasa paling bener, sama yang masih doyan mewek DILARANG baca inih. gak bakal ngerti.
semoga dapat memperjelas apa yang kurang jelas.
semoga dapat menghimpun apa yang terserak.
semoga menghidupkan apa yang mati.
semoga dapat mengembalikan keindahan apa yang sedari dulu selalu indah.
maap rada2 keras tulisannya. lagi laper.. hekekekekek.

salim dan salam. semoga perjumpaan kita menjadi keberkahan dalam hidup.


