Talking Satpol PP Perlu Belajar ke Solo



SOLO--Kerusuhan yang terjadi di makam Mbah Priok bisa jadi menambah citra buruk Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Namun, sebenarnya tidak semua satpol PP menggunakan cara kekerasan dalam penertiban. Seperti di Solo, Satpol PP tak pernah dibekali senjata seperti pentungan setiap kali ada aksi penertiban.

''Kami tak punya pentungan, kami hanya punya buku pedoman operasional Satpol PP,'' ujar Hasta Gunawan, Kepala Satpol PP Solo, ketika ditemui di kawasan Balaikota Solo, Kamis (15/4).



Selain buku itu, ujar dia, Satpol PP hanya membawa topi dan baret selama di lapangan. Sembari menunjukkan buku tersebut, Hasta mengatakan, tak adanya pentungan di kantornya lantaran benda tersebut dinilai tidak perlu. Alat di lapangan, ujar dia, adalah komunikasi, kesabaran, konsistensi, dan keadilan. ''Yang paling penting mengkomunikasikan, koordinasi, dan membantu cari solusi karena masyarakat adalah orang-orang yang dilayani Satpol PP,'' imbuhnya.

Dalam buku tersebut, ujar dia, memang tidak ada larangan bagi Satpol PP untuk bertindak represif terhadap massa. Menurutnya, tindakan di lapangan sebenarnya adalah hasil koordinasi dengan pihak-pihak berwenang yang terkait. Buku tersebut, ujar dia, memuat jenis-jenis pelanggaran yang sering dilanggar masyarakat. ''Memang masyarakat yang kami layani, tapi juga harus disampaikan ada perilaku yang merugikan,'' jelasnya.

Hasta menambahkan, pihaknya tidak pernah menerima perintah untuk menggunakan alat dalam prosedur penertiban. Pasalnya, ujar dia, aksi penertiban merupakan hasil titik temu dari koordinasi dan komunikasi dengan masyarakat. ''Kalau di Solo, masyarakat ditunggu sampai membongkar sendiri,'' katanya.

Diakuinya, proses tersebut membutuhkan waktu yang lebih panjang. Namun, menurutnya hal tersebut tidak menjadi masalah. Hasta pun menyayangkan kerusuhan antara Satpol PP dan masyarakat di Koja, Jakarta Utara. ''Seharusnya itu tidak terjadi. Kami ikut prihatin dengan kejadian itu,'' ujarnya.

Satpol PP Perlu Belajar ke Solo