Spoilerfor Tips Kedua Part1:
SEPULUH KEAJAIBAN YANG DI LAKUKAN PEMULA
Kita sudah mengenal sepeda gunung bahkan sekarang sepeda yang kita pergunakan sehar-hari2 adalah dari jenis sepeda gunung bukan lagi sepeda balap atau sepeda onta seperti dulu. Mungkin dikarenakan kebiasaan bersepeda pada saat yang lampau dan hanya di kendarai di jalan raya, maka setelah kita memang benar-benar ingin serius berolah raga sepeda gunung di alam bebas (bukan jalan beraspal) kita masi dapati banyak pemula yang melakukan kesalahan-kesalahan (dikarenakan mereka belum mengetahui teknik2 bersepeda gunung yang sebenarnya). Mengendrai sepeda gunung pada jalur / medan yang berbeda (tanah kering, berbatu-batu, becek, dll) kita tidak akan mungkin bisa benar-benar ahli, walaupan kita sudah sangat terbiasa atau terlatih pun. Untungnya, para pencinta sepeda gunung kebanyakan juga pencinta alam yang lebih senang bersepeda didaerah alam bebas (pedesaan, pegunungan, dll), dan walaupun harus melalui jalur yang sulit dan menantang semua itu akan dilaluinya dengan semangat (bias menjadi rekreasi). Dalam artikel ini penulis hanya ingin mengulas hal-hal / kesalahan yang sangat mendasar untuk bersepeda gunung dialam terbuka. Selanjutnya apa bila anda dapat secepatnya menyadari / menemukan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat, maka akan lebih cepat pula anda mahir bersepeda gunung dimedan sesulit apapun.
Keajaiban # 1: Sadel atau seatpost kependekan
pasti anda sering menjumpai pemula mengendarai sepedanya dengan posisi sadel yang sangat rendah, keliatanya seperti kurang luwes, dan MTB kan bukan BMX. Para pengendara sepeda MTB dapat dikatakan bahwa mereka itu sebetulnya dapat dikatakan pengendara juga, dan mesin juga (separo-separo). Bersepeda dengan sadel rendah akan mengurangi sebagian tenaga mesin kita (otot kaki) ! Kita akan sulit untuk mengendalikan sepeda dengan luwes, dan makin kita menggunakan tenaga dengan kuat lutut kitapun semakin menderita. Aturlah tinggi sadel dengan ketinggian yang cukup ( bisamenjadi patokan ialah antara jarak telapak kaki bersepatu dengan selangkangan anda pada posisi berdiri lalu dikalikan 0,883 = jarak as batang pedal / crank ke sisi atas sadel ), sehingga pada saat kita mengayuh pedal posisi lutut akan tertekuk sedikit pada saat telapak kaki kita berada pada posisi pedal terendah, kita boleh merendahkan sadel tidak lebih dari 1,5 cm dari patokan tersebut diatas. Perlu diingat untuk berjalan kaki kedua telapak kaki kita memang harus berada di jalan, tetapi itu tidak berlaku bagi pengendara sepeda gunung
Keajaiban # 2: Mesralah dengan kedua tuas rem (brake levers)
Tempatkan hanya kedua jari kita pada tuas rem, jangan keseluruhannya. Pemula biasanya akan panik atau gugup pada saat pertama kali menjumpai lintasan yang sulit, mereka langsung mencengkram tuas rem dengan seluruh jarinya. Disamping letak tuas rem berada pada stang sepeda (handlebars) dan harus dilakukan bergantian (simultan) untuk melakukan pengereman dan pengendalian sepeda, dan sekali saja seluruh jari anda terlanjur mencengkram tuas rem, anda akan sulit untuk mengedalikan setang sepeda pada saat anda harus memilih mengendalikan tekanan pada rem dan juga harus melakukan manufer2 dilintasan. Gunakan jari kelingking dan jarimanis kita untuk memegang stang speda, dan kendalikan tuas remnya dengan sisa jari anda yang terbebas (jari telunjuk dan jari tengah)
Keajaiban # 3 Main prosotan
Jangan percaya bila ada yang mengatakan bahwa menggunakan rem depan itu berbahaya. Jangan bergantung hanya pada rem belakang untuk memperlambat dan menghindari nyerosot atau mengimbangi pengendalian sepeda anda. Rem depan memegang peranan utama dalam lintasan tak beraspal. Pada saat pengereman dan menuruni bukit semua beban pada sepeda akan diteruskan ke roda depan. Mulai berlatihlah menggunakan kedua rem depan dan belakang bersamaan. Anda dapat menghindari dari kepanikan pengereman dalam situasi bahaya dengan cara meletakan satu jari pada tuas rem depan dan dua jari pada tuas rem belakang. Perhatikan suara gesekan roda, pada saat roda mulai agak merosot / terkunci kendorkan sedikit supaya roda dapat berputar. Tak apa-apa menjadi lambat sedikit, selama roda sepeda anda tetap berputar anda akan lebih mudah mengendalikan sepeda anda. Roda yang terkunci dan merosot akan selalu meluncur lurus kedepan dan tidak dapat dibelokan arahnya.
Keajaiban # 4 TTB (tuntun bike) juga tidak dimarahin
Anda pasti akan menjumpai lintasan-lintasan yang sulit dilakukan mengingat kemampuan teknik anada yang terbatas pada saat sekarang. Jangan malu-malu untuk turun dari sepeda dan menuntunnya bahkan memanggulnya bila perlu. Pada kenyataannya semua pengendara sepeda gunung banyak melakukan hal ini, dan bahkan ada yang memasang busa pada bagian top tubenya (palang paling atas pada rangka sepeda) agar nyaman memanggul sepedanya. Tidak apa-apa untuk menuntun sepeda pada lintasan-lintasan sulit selama kemampuan teknik anda masih terbatas . Apabila kemampuan teknik sudah lebih baik cobalah lintasan-lintasan sulit tersebut satu-persatu sampai anda benar-benar dapat menguasainya. Orang yang sudah terlanjur trauma karena pernah terjadi kecelakaan pada suatu lintasan akan selalu takut dan enggan untuk mencobanya lagi.
Keajaiban # 5 Munduran sedikit pak !
Kebanyakan penyebab kecelakaan yang dialami oleh para pengendara di lintasan turunan yang tinggi dan curam adalah tiba2 ditengah lintasan mereka menyadari bahaw lintasan yang sedang dilaluinya sangat menyeramkan, (menjadi ragu-ragu) dan mereka memutuskan untuk merubah posisi duduknya kedepan sadel bergantung pada top tube (palang atas sepeda). Sipengendara akan segera mencengkram kedua tuas rem kuat-kuat, kakinya menimpa handlebar, roda depan yang terkunci dan nancep ditanah menyebabkan sepeda terpelanting dan pengendara terjun bebas. Pada saat kita mulai sadar akan bahaya (ngeri) mengehadapi turunan yang curam dan apa bila mau mencoba juga, maka segera lepaskan sebelah kaki dari pedal (untuk berjaga2), dan mundurkan posisi kita kebelakang sadel (memindahkan berat badan kebelakang) agar bila roda depan terkena hambatan pengaruhnya akan berkurang, kita dapat menggunakan sadel sebagai penyangga tubuh dengan meletakkan perut pada sadel, dan kaki sebelahnya lagi tetap pada pedal, kedua tangan tetap siap pada stang untuk pengendalian, wuuihh !! ampir aja. Untuk sementara anda dapat mengulangi hal tersebut daiatas dan meluncur dengan tenang.
Bersambung Part II karena gak cukup batas karakter per post nya..
