Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

jempolkumantapAvatar border
TS
jempolkumantap
Wisata Kampung Kumuh di Jakarta
Sebelumnya
Spoiler for no repost:


Selamat pagi agan dan aganwati semua emoticon-Kiss (S)
Langsung aja ya gan...

Melihat sedang maraknya pemberitaan tentang Walang bin Kilon (54) sang "Pengemis Tajir" TS jadi mikir, gaji 25jt/15 hari waaauuu banget...
TS aja untuk mendapatkan segitu butuh berbulan-bulan emoticon-Mad (S)

Terkait hal tersebut, tadi malam TS liat acara berita di TV terkait kemiskinan di Jakarta, dan salah satunya tentang Wisata Lingkungan Kumuh.

Mungkin agak aneh dan belum familiar dengan wisata yang satu ini, tapi nyatanya ada dan banyak turis asing yang ikut program ini. Siapa tahu program ini bisa menjadi solusi pemberdayaan urban di Jakarta




Di Jakarta, Kemiskinan Bisa Jadi Obyek Wisata
Puluhan pelajar dari Norwegia antusias mengikuti tur wisata kawasan kumuh di Jakarta.

VIVAnews - Pakaian yang mereka kenakan bergaya kasual, T-shirt dan celana pendek. Satu-dua orang membawa tas punggung dan minuman dan mengunyah-mguyah permen karet. Semua persis seperti orang yang akan berkunjung ke tempat wisata, Sabtu 7 November 2009.

Mereka adalah 31 mahasiswa Hogskolen Norwegia yang akan memulai tur pertama mereka di Jakarta. Mahasiswa dari dua jurusan, Hogskolen I Telemak dan Hogskolen Soga Og Fjordane menghabiskan waktu seharian mengikuti program wisata bertajuk "Jakarta Hidden City."



Beranjak siang, tur di tiga tempat wisata dimulai. Tujuan mereka bukan tempat wisata yang normal.

Wilayah yang mereka kunjungi adalah kawasan pemukiman kumuh di sekitar rel kereta api Galur,Senen, Perumahan Padat penduduk di sekitar Sungai Ciliwung dan pelabuhan nelayan di Luar Batang Pelabuhan Sunda Kelapa tujuan wisata kali ini.

Jumlah rombongan yang besar memaksa panitia membagi dalam dua kelompok yang akan bergantian menelusuri tiga rute Jakarta Hidden City.

Lepas dari jalan besar, wajah lain Jakarta mulai menampakkan diri. Kemacetan dan tumpah ruah pasar dengan aktivitasnya menyambut mahasiswa menuju perhentian pertama, Kampung Pulo di kawasan Senen.

Perkampungan yang sebagian besar berdiri di atas salahsatu aliran sungai Ciliwung. Belasan anak kecil mulai mengerumuni kami. Daya tarik 'bule' sangat besar bagi mereka. "Bule, bule kita mau difoto," seru anak-anak yang tak beralas kaki itu. Rupanya mereka sudah sering dikunjungi.

Aroma campur-campur langsung menyergap begitu kami memasuki perumahan padat dan selalu tampak temaram. Minim cahaya disana. Meski tak mengerti bahasa Inggris, para penghuni langung merespon.

Ibu-ibu yang berkumpul mencoba menyapa, "Mister, welcome, come here," kata seseorang yang disambut cekikikan tetangga lain. Beberapa lainnya menawarkan makanan yang sedang mereka buat di udara terbuka.

Mahasiswi bule pun menanggapi. Banyak foto di buat disini. Sebagian besar objek anak-anak yang tampak girang bersama mahasiswa.



Tak ketinggalan juga kunjungan ke usaha rumahan tempe, nasi goreng gerobak. Hampir satu jam kami menyusuuri lorong-lorong sempit diatas kali dengan kesibukan akhir pekannya. Sesekali, lengkingan tangis balita terdengar di tengah keriuhan dengan para wisatawan muda ini.

Pemandu tur, Ronni Poluan, mengatakan biasanya tur hanya diikuti dua-tiga orang. "Tapi sekarang banyak, jadi agak susah mengatur," katanya yang sudah membawa puluhan turis asing sejak awal tahun ini.

Perjalanan dilanjutkan ke pasar gaplok Senen yang berada di seputar rel kereta api. Di tempat ini, mahasiswa melihat ratusan tenda-tenda yang berfungsi sebagai rumah.



Dengan bahasa Inggris yang juga terbata, mahasiswa dan warga penghuni rel berkomunikasi. "I can't imagine we could live here," celetuk salah seorang mahasiwi dengan temannya sementara kami berjalan mengitari perkampungan rel.

Ronni dalam penjelasannya mengatakan pasar Gaplok adalah pasar termurah yang ada di sekitar daerah itu. Tapi dengan pertaruhan nyawa karena 15 menit sekali kereta api akan melewati tempat itu.

Ivar Schou, pemimpin rombongan dengan santai mengobrol dengan warga sekitar rel. Lelaki yang menjadi penanggungjawab Hogskol Norwegia di Bali ini bercakap dalam bahasa Indonesia.

Dia berbicara cukup fasih, sebab dia cukup lama di Indonesia. Kali ini merupakan kunjungannya yang ketiga ke kawasan rel kereta tersebut. "Kami ingin memberikan sesuatu yang berbeda bagi mahasiswa kami dalam tur mereka ke Indonesia," kata Ivar.



Kunjungan ini sedikit berbeda dengan kunjungan di kota lain, seperti Yogjakarta dan Denpasar. Kebanyakan mereka disajikan keindahan alam. "Perbedaan budaya inilah yang akan kami harap menjadi pelajaran bagi pelajar," Ivar menjelaskan.

Sejak Agustus lalu, dia telah memboyong 75 orang siswa untuk tur di Jakarta Hidden City. "Kami berharap dari sini juga mahasiswa kami bisa tergerak untuk memberikan bantuan yang dibutuhkan," katanya.


Spoiler for Wisata Lingkungan Kumuh, Solusi Pemberdayaan Urban:


Spoiler for video:


[spoiler[/youtube]
sumber1
sumber2
google
[/spoiler]

Komentar agan kaskuser yang top
Spoiler for komen agan:



Semoga bermanfaat gan dan silakan tinggalkan komeng dan jika berkenan ane gak nolak ditimpuk emoticon-Blue Guy Cendol (L) tapi jangan emoticon-Blue Guy Bata (L)
Diubah oleh jempolkumantap 01-12-2013 23:57
0
13.5K
40
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Komunitas Pilihan