KASKUS

Quote:Original Posted By RightDeve
Menurut pemahaman ane terhadap hitung2an TS, dia menganggap bahwa USD ($ Dolar Amerika) seolah2 adalah STANDAR PERMANEN mata uang dunia yang TIDAK PERNAH MENGALAMI INFLASI. DIA MENGANGGAP DOLAR AMERIKA SEPERTI EMAS & LOGAM MULIA.

Ane muter2 mikirnya tetep gak nemu dari mana TS bisa menghasilkan angka Rp 19.550 per liter di tahun 2013 karena dia sama sekali tidak menjelaskan proses perhitungannya. Tapi satu hal jelas, bahwa TS menganggap nilai US Dolar SELALU STABIL dari tahun ke tahun.

Seharusnya TS juga memasukkan faktor inflasi dari US Dollar itu sendiri, bukan hanya inflasi Rupiah, agar perhitungannya realistis dan adil:

Silahkan masuk ke situs ini (untuk meng-konversi nilai dolar pada tahun 1993 ke 2013):

http://www.coinnews.net/tools/cpi-in...on-calculator/

-Langkah pertama, tentukan nilai tukar rupiah terhadap USD pada tahun 1993. Diketahui 1 USD = Rp 2100 (BUKAN Rp 1800 seperti kata TS. SILAHKAN dilihat di arsip sini: http://www.ortax.org/ortax/?mod=atur...e=show&id=1012). Dengan kata lain, harga satu liter BBM pada tahun 1993 adalah USD 0.3 (Rp 700/Rp 2100).

-Masukkan nilai USD 0.3 tersebut pada field konversi untuk mengetahui berapa nilai dolar actual (nilai sebenarnya) pada tahun 2013. Diketahui, bahwa USD 0.3 pada tahun 1993 adalah sama dengan USD 0.48 pada tahun 2013.

-Dari situ sudah dapat diketahui, berapa harga BBM tahun 1993 jika di-Rupiahkan berdasarkan nilai rupiah tahun 2013. USD 0.48 = Rp 4.560 jika mengacu kurs dolar sekarang 1 USD = Rp 9500).

Jadi harga BBM Rp 700 pada 1993 SAMA DENGAN Rp 4.500 pada 2013.

TS taroh PEJWAN kalo berani biar jadi bahan diskusi.


gan itu harga minyak per barel udah d hitung?
harga daya beli masyarakat juga?
pendapatan perkapitanya ?
setuju ane gannnn, berbeda jaman emang udah
perhitungan yg cerdas!
salut buat TS
Quote:Original Posted By cornerjerseybdg
sama aja mahal gan
kan nilai rupiah dulu sm skg beda


memang beda gan
itu udh ane bandingin
engga di baca ya ?
pemerintah dan DPR seharusnya bisa menyiasati dengan menolak kenaikan harga.
pengangguran semakin banyak, harga bbm pun naik. gimana jadinya indonesia ?
Spoiler for panjaaaang:


Ente tau kenapa SUHARTO bersifat tangan besi terhadap orang2 yang suka menggoyang kestabilan pemerintahan, contohnya orang2 kayak ente aktivis kampus, contohnya lagi orang2 barisan merah, atau orang2 separatis? KARENA DIA INGIN KONDISI POLITIK STABIL. JIKA KONDISI POILITIK STABIL, MAKA ITU MENJADI FONDASI UTAMA UNTUK PERKEMBANGAN BANGSA. KALAU SETIAP ORANG DIBERIKAN KEBEBASAN SEBEBAS2NYA UNTUK KOAR2 DAN ANARKIS SEPERTI ZAMAN SEKARANG INI, TENTU PEMERINTAH AKAN KEWALAHAN MENANGANI PERKEMBANGAN EKONOMI BANGSA, KARENA PEMERINTAH HARUS MENSTABILKAN KONDISI POLITIK DARI GOYANGAN2 KAUM MENYIMPANG SEPERTI ENTE.

COBA BAYANGKAN, JIKA ORANG SOSIALIS KOMUNIS DIBERIKAN HAK SEBEBAS2NYA UNTUK ANARKI, ORANG2 SEPARATIS & GARIS KERAS JUGA SAMA, dan PREMAN2 JALANAN MERAJALELA, TENTU NEGARA TIDAK AKAN STABIL DAN AKHIRNYA PROGRAM2 PEMBANGUNAN NEGARA TIDAK BERJALAN!

Ane juga hidup di zaman Suharto gan! Dan se-pengalaman ane, orang2 yang diculik & disekap ("digebug", jika mencuplik istilah Suharto), adalah orang2 menyimpang dan preman, seperti begal & preman jalanan, orang2 separatis (OPM/GPK di Irian Jaya, dan Fretelin di Timtim), orang2 garis keras, dan aktivis mahasiswa sosialis/komunis seperti ente. Justru orang2 masyarakat kebanyakan merasa aman dan tentram dengan "tangan besi" Suharto, karena dia bisa bersikap tegas terhadap orang2 yang mengganggu stabilitas masyarakat!!! Gak kayak sekarang, bahkan preman2 pun dibeking pemerintah!!! Dulu, ada preman langsung ditembak mati sama operasi PETRUS!!

Ane pengalaman sendiri, bagaimana setelah Suharto lengser, kaum2 separatis di Irian tiba2 jadi berani dan petantang petenteng dan kulminasinya pada tahun 2000 terjadi pembantaian besar2an trhadap warga kota Wamena, orang2 dibantai, digorok, ibu hamil dibacok perutnya, ANE PENGALAMAN SENDIRI waktu itu.. bayangkan pada tahun2 Suharto, bahkan OPM pun namanya bukan "Organisasi Papua Merdeka" yang terdengar menghormati, tapi "GERAKAN PEMBERONTAK KEAMANAN / GPK" yang jelas2 TEGAS melabelkan mereka sebagai kaum penghancur.
masih enakan dulu gan harga Rp. 700,- tapi yang ane kuatirin cuma hutang negara jadi tambah banyak.
Quote:Original Posted By asboh0007

gan itu harga minyak per barel udah d hitung?
harga daya beli masyarakat juga?
pendapatan perkapitanya ?


Oke, ane tantang ente coba ente jelaskan terlebih dahulu SECARA RINCI proses perhitungannya agar ketemu nilai Rp 19.500 per liter! Jangan hanya sok menyajikan variabel2 seperti pendapatan per kapita, harga per barel, dll tapi sama sekali tidak dijelaskan proses penghitungannya...

Ane tantang ente jelaskan korelasi antara harga minyak dunia terhadap nilai tukar mata uang sehingga terjadi nilai 19.500 per liter?

Lagipula, variabel2 bullshit kek gitu cuma buang2 waktu dan gak ada gunanya dimasukkan dalam perhitungan, karena kenyataannya, berapapun harga minyak dunia pada saat itu, TETAP saja pemerintah menjual Rp 700 pada rakyat. Rp 700 itu yang kita keluarkan, bukan harga minyak dunia apapun itu.

Dan juga, tidak usah membahas daya beli masyarakat, karena kenyataannya, nilai inflasi sebuah mata uang sudah secara otomatis meng-cover perkiraan daya beli masyarakat terhadap suatu barang. Ente tau kan, setiap ada kenaikan gaji & pendapatan, pasti harga2 juga relatif ikut naik. Lagipula pendapatan per kapita TERLALU subjektif untuk dijadikan acuan harga, karena kita tahu sendiri bagaimana disparitas penghasilan antara si kaya dan si miskin di Indonesia masih terlampau jauh...

jangan cuma ngeluh lah, liat sikon, minyak dunia tuh sekarang udah tipis, gak kaya jaman dulu


ane itung pake Future value of a present sum, maksudnya present tu 1993 jadi menghitung berapa nilai Rp 700 ditahun 2013
satu persatu, karena nilai inflasi tiap tahun berbeda
keterangan Rp 700 di tahun 1993 sama dengan Rp 768.39 di tahun 1994, inflasi menggunakan data 1993,

Rp 5201.28 di tahun 2013 tu maksudnya awal tahun 2013,
yg paling bawah awal juni nilainya udah naik (data baru sampe mei)

ini kalo mau dihitung secara nominal,
jadi Rp 700 di tahun 1993 sama dengan Rp 5319.87 di awal Juni 2013
data dari bps

untuk yg Rp 6500 tahun 2013, bentar ane utak atik dulu
Yg 2013 gan..
Kan yg 700 tahun '93 nilai ekonomisnya sekarang udah jauh gan..kalo mau fair ya sekitar 19rb kalo di Rupiahin sekarang..
Quote:Original Posted By RightDeve




Lagipula, variabel2 bullshit kek gitu cuma buang2 waktu dan gak ada gunanya dimasukkan dalam perhitungan, karena kenyataannya, berapapun harga minyak dunia pada saat itu, TETAP saja pemerintah menjual Rp 700 pada rakyat. Rp 700 itu yang kita keluarkan, bukan harga minyak dunia apapun itu.

.



maaf gan ane potong postnya cuma mau ambil yg dibold
Quote:Original Posted By iqbal19
jujur aja ane cuma baca judulnya aja.

jadi menurut ane, gaya hidup tahun 1993 sama tahun 2013 jauh berbeda gan

contoh : masyarakat belum banyak yang pake hape, internet, kendaraan pribadi dan gaya hidup yang lain-lain.

untuk selebihnya ane juga gak tau mau ngomong apa lagi


Tapi gan masalahnya minyak itu komoditas, dan termasuk seumber daya terbatas, justru semakin banyak permintaan harganya akan semakin mahal.

iya gan ane juga ngerti..

itukan akal akalan nya salah satu partai politik buat menjatuhkan saingannya..
ane setuju ama ts...

ini semua gara2 partainya mbok jamu ama tvnya pak jenggot (if u know what i mean) yang nyebarin berita oposisi mulu...
keren itung itungannya gan
Ane mau komen ampe spechless,,ane nyimak aja gan
mau mahal semahal2nya kek asal kebeli drpada murah tapi gk mampu beli
Quote:Original Posted By RightDeve
Menurut pemahaman ane terhadap hitung2an TS, dia menganggap bahwa USD ($ Dolar Amerika) seolah2 adalah STANDAR PERMANEN mata uang dunia yang TIDAK PERNAH MENGALAMI INFLASI. DIA MENGANGGAP DOLAR AMERIKA SEPERTI EMAS & LOGAM MULIA.

Ane muter2 mikirnya tetep gak nemu dari mana TS bisa menghasilkan angka Rp 19.550 per liter di tahun 2013 karena dia sama sekali tidak menjelaskan proses perhitungannya. Tapi satu hal jelas, bahwa TS menganggap nilai US Dolar SELALU STABIL dari tahun ke tahun.

Seharusnya TS juga memasukkan faktor inflasi dari US Dollar itu sendiri, bukan hanya inflasi Rupiah, agar perhitungannya realistis dan adil:

Silahkan masuk ke situs ini (untuk meng-konversi nilai dolar pada tahun 1993 ke 2013):

http://www.coinnews.net/tools/cpi-in...on-calculator/

-Langkah pertama, tentukan nilai tukar rupiah terhadap USD pada tahun 1993. Diketahui 1 USD = Rp 2100 (BUKAN Rp 1800 seperti kata TS. SILAHKAN dilihat di arsip sini: http://www.ortax.org/ortax/?mod=atur...e=show&id=1012). Dengan kata lain, harga satu liter BBM pada tahun 1993 adalah USD 0.3 (Rp 700/Rp 2100).

-Masukkan nilai USD 0.3 tersebut pada field konversi untuk mengetahui berapa nilai dolar actual (nilai sebenarnya) pada tahun 2013. Diketahui, bahwa USD 0.3 pada tahun 1993 adalah sama dengan USD 0.48 pada tahun 2013.

-Dari situ sudah dapat diketahui, berapa harga BBM tahun 1993 jika di-Rupiahkan berdasarkan nilai rupiah tahun 2013. USD 0.48 = Rp 4.560 jika mengacu kurs dolar sekarang 1 USD = Rp 9500).

Jadi harga BBM Rp 700 pada 1993 SAMA DENGAN Rp 4.500 pada 2013.

TS taroh PEJWAN kalo berani biar jadi bahan diskusi.



Ge pantengin diskusi lo gan, analisa ente sepertinya menarik.
Lagian minyak minyak sendiri kok dijual pake harga minyak dunia.
Sama aja kaya petani yang menjual beras ke anak istrinya dengan harga di pasar.
Pemikiran yang kalo ga lebay ya keblinger
Quote:Original Posted By RightDeve


Oke, ane tantang ente coba ente jelaskan terlebih dahulu SECARA RINCI proses perhitungannya agar ketemu nilai Rp 19.500 per liter! Jangan hanya sok menyajikan variabel2 seperti pendapatan per kapita, harga per barel, dll tapi sama sekali tidak dijelaskan proses penghitungannya...

Ane tantang ente jelaskan korelasi antara harga minyak dunia terhadap nilai tukar mata uang sehingga terjadi nilai 19.500 per liter?

Lagipula, variabel2 bullshit kek gitu cuma buang2 waktu dan gak ada gunanya dimasukkan dalam perhitungan, karena kenyataannya, berapapun harga minyak dunia pada saat itu, TETAP saja pemerintah menjual Rp 700 pada rakyat. Rp 700 itu yang kita keluarkan, bukan harga minyak dunia apapun itu.

Dan juga, tidak usah membahas daya beli masyarakat, karena kenyataannya, nilai inflasi sebuah mata uang sudah secara otomatis meng-cover perkiraan daya beli masyarakat terhadap suatu barang. Ente tau kan, setiap ada kenaikan gaji & pendapatan, pasti harga2 juga relatif ikut naik. Lagipula pendapatan per kapita TERLALU subjektif untuk dijadikan acuan harga, karena kita tahu sendiri bagaimana disparitas penghasilan antara si kaya dan si miskin di Indonesia masih terlampau jauh...



ternyata ilmu ane masih cetek gan
Quote:Original Posted By beckantan


Ge pantengin diskusi lo gan, analisa ente sepertinya menarik.
Lagian minyak minyak sendiri kok dijual pake harga minyak dunia.
Sama aja kaya petani yang menjual beras ke anak istrinya dengan harga di pasar.
Pemikiran yang kalo ga lebay ya keblinger


masalahnya indonesia emang banyak minyak gan, tp itu kan yg d tambang masih dalam bentuk mntah jadi harus d oleh duli. dan pemerintah menjual minyak yg mntah tsb ke pihak asing, lalu pihak asing olah trus jual ke pemerintah
CMIIW