KASKUS

Ruahan Sambas

Quote:

Quote:Sya'ban adalah salah satu bulan yang terdapat dalam kalender Tahun Hijriyah, sebelum Sya'ban adalah bulan Rajab dan setelah Sya'ban adalah bulan suci Ramadhan tentunya, yang mana di bulan suci Ramadhan ini umat islam di seluruh dunia di wajibkan berpuasa selama satu bulan penuh.

Bulan Sya'ban di beberapa tempat biasanya hanya biasa - biasa saja, artinya tidak seperti di bulan suci Ramadhan. Namun di bulan Sya'ban ada juga yang melaksanakan puasa sunah. Namun ada yang berbeda di Kabupaten Sambas, dimana setiap bulan Sya'ban selama satu bulan full akan di adakan acara makan - makan yang di isi dengan tahlilan ( Sedekah Nasi ). Biasanya di hari pertama bulan Sya'ban hanya satu rumah yang mengadakan Tahlilan namun jika mendekati akhir bulan Sya'ban, maka dalam satu hari bisa 2 atau 3 acara tahlilan per RT.

Di bulan Sya'ban ini setiap akan mengadakan acara makan - makan atau sebut saja tahlilan ini sebelum nya harus konsultasi dulu sama Pak Labbai/Bilal ( Orang yang biasanya menjadi panutan di suatu desa dan selalu diminta menjadi imam ketika membacakan do'a ). Pak Labbai/Bilal disini artinya adalah orang yang terpandang di suatu desa, biasanya Bilal ini di panggil untuk menghadiri suatu acara bersifat keagamaan untuk menjadi pemimpin do'a dengan kata lain Pak Labbai/Bilal ini adalah seseorang yang tingkat ketaqwaan dan pengetahuan agamanya boleh di acungi jempol dan jari manis begitu.



Quote:Acara tahlilan ini pelaksanaan nya hampir sama dengan acara " Tepung Tawar " atau acara pernikahan, dimana, yang di jemput hadir itu terbagi menjadi dua :

- Jika saudara atau tetangga dekat ( tetangga di sekitar rumah ) itu di undang satu rumah atau satu keluarga yang menempati rumah tersebut.

- Jika Tetangga yang jarak rumahnya lumayan jauh dari rumah, biasanya yang di undang hanya pihak laki - laki saja dengan arti kata lain hanya ketua keluarga di rumah tersebut, bisa suami atau tidak ada suami bisa anak laki - laki yang mewakili bapak nya.

Karena di Sambas rata - rata jarak antara rumah satu warga dengan warga lain jarak nya maih agak jauh,maka biasanya saudara yang rumah nya masih jauh tetap di undang untuk hadir di acara tahlilan tersebut. Kecuali Saudara yang benar - benar jauh, misalnya jarak tempuh nya bisa mencapai satu jam atau lebih.


Quote:Unik nya acara tahlilan ini bukan lah di sebut tahlilan melainkan " Sedekah Nasi " atau " Ruahan Sya'ban "

Spoiler for Ruahan:


Konon menurut orang tua, bahwa acara " Sedekah Nasi " ini di laksanakan warga untuk bersedekah kepada warga sekitar, dan anggota keluarga mereka yang telah lama meninggal. Sebut saja Ibu nya mereka, adik nya atau suami nya. Sedekah untuk yang telah meninggal ini adalah berupa do'a yang di bacakan atau tahlilan itu.

Seperti biasa, jika acara yang menyangkut makan - makan atau sakral begini tidak luput dari yang namanya " antar pakatan ", yaitu seseorang atau keluarga yang di undang itu membawa beras satu kilo atau lebih dalam suatu wadah, bisa saja baskom yang ada penutup nya atau semacamnya kemudian di atas beras tersebut biasanya di letakan uang seribu atau lebih. Konon nya yang hadir membawa " pakatan " itu juga bersedekah untuk tuan rumah.

Sementara untuk para pria nya juga begitu, setiap salaman ketika memasuki rumah sang empunya acara, juga memberikan uang yang di berikan ketika bersalaman. Bedanya acara " Sedekah Nasi " dengan " Tepung Tawar " " Acara Sunatan " atau " Pernikahan " ini adalah ketika sang tamu yang hadir hanya membawa beras saja tanpa membawa seekor ayam. dan pelaksanaan nya hanya satu hari saja. Satu hari bukan bearti satu hari full hanya saja bisa di pilih pagi atau sore. Kalau pagi biasanya dari Jam 9 atau jam 10 sampai selesai,yang mana jam tersebut menuju jam makan siang. Biasanya acaranya selesai jam 11an saja. Sementara untuk sore hari bisa di pilih jam 3 sore atau jam 5 sampai selesai. Misalkan pilih jam 5 acara selesai pas magrib.


Quote:Nah acara " Sedekah Nasi " ini sudah berlansung sekian tahun lamanya lakukan terus menerus dari generasi kegenerasi selanjutnya. Dan acara " Sedekah Nasi " ini di laksanakan satu bulan full di bulan Sya'ban, ia di lakukan hanya satu rumah satu kali saja. untuk mengadakan acara " Dan acara seperti ini terkesan menjadi " Wajib " padahal di dalam Islam tidak mewajibkan hal tersebut dan mungkin saja tidak ada perintah tersebut. Namun menurut saya pribadi bahwa pemahaman agama masyarakat setempat berbaur dengan adat istiadat sehingga menciptakan adat istiadat yang menurut saya unik dan menarik bahkan bisa di jadikan aset untuk wisata.

http://pecidasase.blogspot.com/2011/...kan-makan.html

Antar Ajung, Budaya Sambas

"ANTAR AJUNG" SIMBOL KEKOMPAKAN PETANI SAMBAS

Quote:


Quote:Setelah lebih dari 50 tahun nyaris tersisih tradisi masyarakat Sambas, ritual "Antar Ajung" atau ritual mengumpulkan roh-roh jahat kini dimunculkan kembali.

Antar Ajung merupakan simbol kekompakan petani dua Kecamatan Paloh dan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas. Pateni di kedua kecamatan itu menganggap roh jahat selalu mengganggu pertanian mereka, oleh karena itu roh harus dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam ajung, yang dilengkapi dengan sesajian oleh seorang dukun atau pawang. Roh-roh jahat itu kemudian dikirim ke laut lepas.

Antar berarti mengantar roh-roh jahat ke laut. Roh itu kemudian dimasukkan ke Ajung, yang berarti sebuah perahu kecil dibuat dari kayu (kayu pelai) yang mudah terapung.

Oleh pembuatnya, ajung dibuat layaknya sebuah perahu layar dilengkapi dengan kemudi, tempat penyimpanan barang beserta padung kayu yang menyerupai seorang nakhoda dan anak buah kapal (ABK).
Ajung dihiasi layaknya perahu layar sungguhan. Ajung tersebut diberi sesajian, seperti beras ratih, beras kuning, cucur daram-daram, buah pinang muda, kelapa muda, berbagai kebutuhan pokok, bahkan anak ayam yang dipercaya sebagai sesajian yang sangat digemari roh-roh.

Setelah semua perlengkapan dimasukkan ke ajung, maka di malam hari sebelum ajung dilepas ke laut lepas --dilakukanlah upacara adat oleh seorang pawang (dukun) yang mempunyai kekuatan ilmu gaib untuk mengumpulkan roh-roh jahat. Roh jahat dipercaya selalu mengganggu tanaman padi sewaktu masa tanam, padi sedang berisi, maupun saat panen.
Sebelum ajung diisi oleh seorang pawang atau beberapa orang yang dianggap mempunyai ilmu gaib, sebelum menjelang magrib, setiap rumah warga disirami air tolak bala yang telah dibacakan mantera oleh dukun-dukun setiap desa.

Tradisi tolak bala dipercaya, agar roh-roh jahat ketika dipanggil atau dikumpulkan oleh para pawang tidak nyasar rumah-rumah warga --- setelah itu warga berkumpul ramai-ramai makan bersama-sama di rumah warga yang ditunjuk sebagai tuan rumah.

Ritual mengumpulkan roh-roh jahat oleh beberapa orang dukun dilakukan mulai tengah malam hingga pagi hari.


Quote:



Quote:Sejarah Antar Ajung

Spoiler for Sejarah Antar Ajung:


Quote:Makna Antar Ajong

Spoiler for Makna Antar Ajong:


Quote:


Quote:Sumber :
http://kebayan-udien.blogspot.com/20...an-petani.html
http://remajapaloh.blogspot.com/2012...oh-sambas.html
Kalbar siap meriahkan Pekan Dayak Nasional 2013
Quote:

Metrotvnews.com, Pontianak: Kontingen Kalimantan Barat (Kalbar) siap tampil dalam Pekan Budaya Dayak Nasional di Jakarta, 27-30 April. Mereka mengutus sekitar 700 anggota delegasi untuk memeriahkan pergelaran yang dijadwalkan dibuka resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Dari Dewan Adat Dayak (DAD) Kalbar ada 200 orang yang ikut, juga DAD di setiap kabupaten dan kota. Selain itu, ada ratusan mahasiswa Kalbar di Jabodetabek dan Yogyakarta yang turut serta," kata Humas Kontingen Kalbar Konstantinus Yusing di Pontianak, Rabu (24/4).

Kontingen di bawah pimpinan Kebing Lyah itu akan menampilkan kesenian dan tradisi khas yang merepresentasikan keragaman etnik Dayak di Kalbar. Di antaranya seni memahat, anyaman manik-manik, menyumpit, dan pembuatan sape (alat musik tradisional sejenis gitar).

"Kami menampilkan kebudayaan Dayak di Kalbar secara umum. Sebab, Dayak di sini terdiri dari ratusan subsuku sehingga tidak mungkin bisa ditampilkan semua," jelas Konstantinus.

Pada pekan budaya ini, kontingen Kalbar juga membuka 17 stan yang menampilkan aneka kerajinan, kuliner dan potensi daerah. Pembukaan stan diharapkan mampu menarik minat wisatawan dan investor ke Kalbar.

Keikutsertaan Kalbar pada pekan budaya Dayak nasional sekaligus menunjukan eksistensi kebudayaan Dayak di provinsi tersebut. Pasalnya, dunia internasional selama ini lebih mengenal kebudayaan Dayak berasal dari Malaysia.

"Padahal, tiga subsuku Dayak terbesar di Malaysia itu asalnya dari Kalimantan di Indonesia. Iban dan Bidayuh dari Kalbar, serta Kayaan-Kenyah dari Kalimantan Timur. Hanya Punan yang aslinya dari Malaysia," jelas bendahara Kontingen Kalbar Michael Jenno.

Meriahnya 'Pekan Dayak 2013' di Istora Senayan


Pameran terbesar budaya dayak ini berlangsung 27-30 April
& diikuti oleh 800 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.




Spoiler for klik gambar :
Quote:Quote: Legenda Sungai Landak

Grup Musik Asal Singkawang Siap Tampil di Borobudur

Quote:

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Singkawang menjadi satu di antara daerah yang diminta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk menampikan kekayaan seni pada seminar dan festival seni pertunjukan kota pusaka kreatif di Lumbini Area Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, 16 Juni 2013.

Rencananya, Grup Musik Fan Fa Fat Jin Pan, pimpinan Chi Nen Shin akan tampil mewakili kota ini. "Karya-karya seni pertunjukan yang bernuansa Buddhis dari beberapa kota yang tergabung dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) akan tampil," ungkap Sekda Singkawang, Syech Bandar, Rabu (12/6/2013).

Enam Kota Pusaka itu Semarang, Palembang, Jakarta Barat, Pangkal Pinang, Surabaya dan Singkawang, yang akan menampilkan karya tari dan musik. Karya-karya tersebut akan ditampilkan secara utuh dalam tema Bodhi Hybridity.

Dia menjelaskan, kegiatan seminar dan festival seni pertunjukan Kota Pusaka ini akan disinergikan dengan kegiatan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yaitu Borobudur International Festival dari tanggal 14 hingga 17 Juni.

(Cerita Rakyat) Sejarah Sungai Landak

Cerita rakyat dari Kalimantan Barat

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang petani dan istrinya di sebuah desa di pinggir hutan. Mereka hidup sederhana dan mereka ingin membantu orang lain, terutama yang berada dalam kesusahan.

Suatu malam, petani dan istrinya sedang beristirahat di rumah mereka. Petani itu duduk di samping istrinya yang sedang tertidur. Tiba-tiba, datanglah kelabang putih dari kepala istrinya. Petani itu terkejut. Dia kemudian mengikuti kelabang itu hingga mencapai kolam kecil yang tidak jauh dari rumah mereka.

Kelabang itu tiba-tiba menghilang. Petani pulang dan menemukan isterinya masih tidur nyenyak. Di pagi hari, sang isteri bercerita kepada suaminya tentang mimpi dia tadi malam. “Saya berjalan melalui lapangan yang luas, dan saya datang ke danau. Saya melihat landak raksasa di danau. Ia marah pada saya, jadi saya berlari keluar. “Setelah dia mendengar cerita mimpi isterinya, petani itu kembali ke kolam kecil. Di kolam, dia melihat sesuatu yang sangat mengkilap. Dia datang ke barang yang mengkilap itu dan mengambil nya.

Ternyata itu adalah sebuah patung landak emas. Bentuknya sangat indah. Matanya dibuat dari berlian. Petani kemudian membawa patung itu ke dalam rumahnya.
Pada malam hari, sang petani pun bermimpi. Seekor landak raksasa datang kepadanya dan berkata, “Izinkanlah aku tinggal di rumah mu. Sebagai gantinya, aku akan memberikan semua yang engkau inginkan. Patung itu hanya cukup dibelai kepalanya lalu mengucapkan mantra.

Ada dua jenis mantra, yang pertama untuk memulai dan yang kedua adalah untuk menghentikan apa yang engkau inginkan. Sekarang hafalkanlah mantra ini. “

Pada hari berikutnya, sang petani bercerita kepada istrinya tentang mimpinya. Mereka benar-benar ingin membuktikan itu. Petani perlahan mengusap kepala patung landak itu. Ia mengucapkan mantra pertama lalu katanya, “aku minta beras”.

Tiba-tiba, beras itu datang dari mulut patung itu. Beras terus menerus keluar dari mulut nya. Petani pun segera membaca mantra kedua untuk menghentikannya. Beras kemudian berhenti keluar dari patung.

Petani dan istrinya kemudian mencobanya untuk hal-hal lain, mereka meminta perhiasan dan hal-hal lain yang mereka butuhkan. Mereka menjadi sangat kaya. Tapi mereka tetap ingin membantu orang lain. Banyak miskin datang kepada mereka untuk dibantu.

Sayangnya, ada seorang pencuri yang menemukan tentang rahasia dari emas patung landak itu. Ia berpura-pura sebagai orang miskin untuk meminta bantuan, tetapi kemudian dia mencuri patung itu dari rumah petani.
Sang pencuri kabur ke wilayah kecamatan Ngabang. Terjadilah ketika itu kekeringan di daerah tersebut. Karena sang pencuri ingin mendapat simpati dari masyarakat, maka ia berkata kepada mereka bahwa ia akan memberi mereka air. Pencuri itu kemudian mengusap kepala patung landak itu dan mengucapkan mantra pertama.

Air pun keluar dari mulut patung. Semua orang sangat senang. Tetapi air terus menerus keluar. Sang pencuri rupanya tidak mengetahui mantra kedua untuk menghentikan apa yang diinginkannya. Orang-orang yang melihat kejadian itu benar-benar menjadi takut. Mereka berlari keluar untuk menghindari air tampaknya air itu mulai menjadi banjir yang sangat besar.

Sang pencuri juga ingin melarikan diri, tetapi ia tidak dapat memindahkan kakinya. Dalam penglihatannya, ada satu landak raksasa sedang memegang kedua kakinya. Air yang berasal dari patung itu terus mengalir dan perlahan-lahan akhirnya menjadi sebuah sungai.

Sang pencuri pun akhirnya tenggelam di sungai itu. Hingga kini, orang-orang menamai sungai itu dengan nama Sungai Landak .

Share!

MOHON BANTUANNYA

Mohon bantuan dukungan buat penyelesaian skripsi S1 bidang Seni Musik Traditional

Quote:" GELAR RESITAL TUGAS AKHIR "
PEMENTASAN MUSIK
SOUND OF BORNEO WEAVING
KARYA :
RICKY HENDRIK LINGGIE
Tgl 22 juni 2013..
Htm: 20.000..
Tempat: Rumah Betang, Jl. Sutoyo pontianak
Pukul : 19.00 WIB

Spoiler for Poster:


Terimakasih
Kegiatan Festifal budaya Paradji’ ke V di laksanana di depan halaman kraton surya Negara yang akan di mulai tangal 26-29 Juni 2013.
Fastival budaya Paradji’ akan menapilkan berbagai kegiatan perlombaan, antara lain, Seluma’ Perahu, Perahu Bidar, Bekayoh Tiga Dayang, festival Dendang Melayu, jepin, Hadrah, Busana Muslim Beregu, lomba bersyair, Bergambus, kue tradisional, gasing dan lomba Speed Boat.
gambar menyusul secara bertahap..
Quote:

100 Stan Pameran Bakal Meriahkan Gawai Dayak Sanggau

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Pagelaran budaya Gawai Dayak tingkat Kabupaten Sanggau bakal meriah dengan diramaikan beraneka stan pameran maupun makanan. Sekitar 100-an stan bakal berdiri di arena Gawai Dayak, yang akan dilaksanakan pada 7-9 Juni, di Rumah Betang Mpulor Sanggau.

Hal itu diungkapkan, Koordinator Seksi Pameran dan Warung Gawai Dayak Sanggau, Bernardus Anggoi, Selasa (25/6). Berbagai kerajinan kebudayaan dan makanan tradisional bakal tersaji di lokasi.

"Selain acara puncak di panggung utama, nanti aka nada berbagai hasil kerajinan kreasi Dayak seperti manik-manik, senjata khas Dayak, pakaian dan barang-barang kreasi lainnya," jelasnya.

Ia berharap dari 40 stan pameran dan sekitar 60 stan makanan dan minuman dapat dimeriahkan dari beberapa kabupaten tetangga maupun dari luar negeri. Ia mencontohkan dari Landak maupun Sekadau, serta dari Malaysia.
Quote:

MEMPAWAH-Datangnya bulan suci Ramadan 1434 Hijriah disambut dengan cara yang cukup unik oleh warga Komplek Bhayangkara Asri, Kelurahan Terusan, Kecamatan Mempawah Hilir. Berbekal alas tikar dan aneka jenis kue, warga RT 41/ RW 08 ini kemudian menggelar saprahan dan doa bersama di jalanan kompleks.

Muhammad Syafrani, Ketua RT 41, mengakui makan saprahan kue dan doa bersama warga menyambut bulan suci Ramadan baru pertama kali dilaksanakan di Kompleks Bhayangkara Asri. “Walau baru pertama, tapi antusias warga disini untuk ikut ambil bagian begitu besar. Buktinya, tanpa dikomando warga berbondong-bondong membawa kue pelbagai jenis,” katanya.

Syafrani mengungkapkan, ide makan saprahan kue bersama ini datangnya dari Yoso Miharjo atau yang akrab disapa Gatot Plastik, warga Kompleks Bhayangkara Asri. “Ide ini kemudian disampaikan kepada warga. Alhamdulillah, gayung bersambut warga komplek menyambut baik dan mendukung penuh kegiatan kita ini,” ujar dia.

Syafrani berharap, makan seprahan kue dan doa bersama ini semakin mempererat kebersamaan dan jalinan silahturahim antar warga Kompleks Bhayangkara Asri. “Melalui kegiatan ini juga, saya berharap antara satu warga dengan yang lain bisa saling mengenal, mengingat sebagian besar warga kompleks di sini berasal dari pelbagai daerah,” ucapnya.

Sedangkan Gatot Plastik, mengharapkan berkumpulnya warga tak hanya terjadi saat ibadah salat tarawih maupun hari raya Idul Fitri saja, namun juga bisa melalui kegiatan menyambut datangnya Ramadan seperti ini. “Kita berharap apa yang kita lakukan ini bisa ditiru atau diikuti warga dari daerah lainnya,” pungkas dia. (wah)

sumber
Quote:Sosialisasi Penataan Pasar Tengah
Perpaduan Pasar dan Objek Wisata


Pontianak – Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak terus berbenah, menata pasar-pasar untuk memperindah Kota Pontianak. Termasuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat, tak terkecuali kawasan Pasar Tengah.

Pasar yang berdiri sejak puluhan tahun itu, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri segera di renovasi. Tahap awal pembangunan dimulai di kawasan Jalan Asahan. Bahkan Pemkot Pontianak mulai mengumpulkan para pedagang di rumah jabatan Walikota Pontianak.

Sosialisasi sendiri dilakukan sebagai bentuk pembinaan dan pendampingan Pedagang Kaki Lima (PKL) menuju kawasan pasar tengah yang indah, serasi dan terpelihara arsitektur kotanya.

Walikota Pontianak, H Sutarmidji SH, MHum, menuturkan penataan ulang PKL untuk menjadikan wacana Pasar Tengah dan Pasar Parit Besar menjadi pasar berkonsep kota tua sebagai objek wisata di Kota Pontianak.

“Sehingga pedagang dan pemilik toko yang ada di kawasan itu, bisa saling bersinergi. Agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial antara kedua belah pihak,” ujarnya.

Dia menambahkan, Pemkot mengalokasikan dana sebesar Rp 5 miliar dari APBD Kota Pontianak yang akan dikucurkan secara bertahap dan berkelanjutan dimulai penataan para PKL di Jalan Asahan kemudian disusul para PKL yang berada di belakang Pos Polisi Jalan Tanjungpura.

“Pengerjaan akan dimulai dengan melakukan penancapan tiang penyangga pada malam hari, setelah Idul Fitri tahun ini,” ungkap Midji.

Untuk penataan segmen Jalan Asahan akan menggunakan konsep sheltered pedestrian mall, dimana kawasan di mana terdapat jalur pejalan kaki yang dilengkapi canopy serta berjejer rapi kios-kios PKL di sepanjang jalur tersebut. Tentunya tanpa mengganggu aktivitas ruko-ruko yang ada di kawasan itu. Sehingga memberikan kenyamanan bagi pembeli dan pedagang.

Konsep ini merupakan konsep pedestrianisasi dengan menutup akses jalan lalu lintas kendaraan baik pada sebagian jalan maupun keseluruhan segmen jalan. Konsep ini diharapkan, dapat menciptakan kawasan atau lingkungan jalur pejalan kaki yang dapat dipergunakan untuk berbagai aktivitas seperti kegiatan berbelanja yang lebih dikenal dengan istilah pedestrian mall.

“Dengan konsep ini mendorong orang berjalan kaki dan memberikan keleluasaan serta kenyamanan bagi orang yang berbelanja maupun para pedagang,” tukas Midji.

Secara rinci dijelaskannya, konsep penataan ini nantinya lapak para pedagang akan dibuatkan dengan bahan, dan kualitas yang baik dengan posisi semula yakni lapak milik pedagang, baik di sisi kanan dan kiri jalan tetap menghadap ke jalan.

Sedangkan sepanjang Jalan Asahan akan dibuatkan kanopi lebih tinggi di antara ruko-ruko di kawasan tersebut hal ini untuk menghindari kondisi panas dan hujan dan memberikan kenyamanan masyarakat untuk berbelanja. Sedangkan lapak para pedagang juga akan dipasang canopy yang sama untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.

“Setelah dilakukan penataan, Pemkot akan memberikan Surat Penunjukan Tempat Usaha (SPTU). Agar pedagang mendapatkan kepastian dalam berusaha dan menjadi pedagang formal serta bisa mengembangkan usahanya ke depannya,” pungkasnya. (ton)


sumber : http://www.equator-news.com/pontiana...r-objek-wisata
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Singkawang, H Norman menyampaikan, event Keriang Bandong Singkawang batal dilaksanakan.

Pembatalan event yang sejatinya akan digelar Rabu (31/7/2013) malam ini disebabkan cuaca Singkawang yang kurang kondusif akhir-akhir ini.

"Sesuai petunjuk pimpinan tertinggi dan situasi cuaca Singkawang akhir-akhir ini, maka dengan terpaksa kita batalkan. Kita sampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang sangat antusias atas event budaya ini," papar Norman.

Dia mengungkapkan, Keriang Bandong menggunakan bahan dasar kertas dan lampu lilin atau pelita. Hal ini tentu tak bisa dipasang jika hujan terus menerus mengguyur Singkawang.

Quote:

Belajar Musik Secara Otodidak Sejak Usia Lima Tahun

Quote:

Quote:Muhammad, 65 tahun, menjadi sosok yang unik. Pria ini tidak lulus sekolah menengah pertama, tetapi punya pengetahuan yang luas. Lebih dari itu, pria yang tinggal di Kampung Bugis, Kelurahan Dalam Bugis, Pontianak Timur itu menguasai sedikitnya 14 jenis alat musik. Tak ada guru yang mengajarinya. Ia belajar secara otodidak.

SUARA merdu keluar dari gesekan viola bermerk Antonius Stradivarius Cremonensis yang dimainkan Muhammad siang itu. Itu viola kecil yang sudah tua. Viola sendiri masih satu keluarga dengan biola dan cello. Muhammad sudah lupa kapan persisnya dia memiliki viola itu. “Yang jelas sudah lama sekali,” kata Muhammad saat ditemui di rumahnya, Senin (23/7).

Viola tua itu adalah satu dari sekian banyak alat musik yang dipunyai pria kelahiran 8 Juli 1948 itu. Viola itu menjadi salah satu saksi perjalanan hidupnya dalam menggeluti seni musik selama ini. “Viola ini pemberian seorang teman. Saya lupa tahun berapa. Tetapi sudah lama sekali saya memakainya. Kalau dilihat dari nomornya, viola ini sudah sangat tua,” kata Muhammad sembari menunjukkan nomor 13 yang tertera di dalam viola itu.

Angka ini menurut Muhammad menunjukkan bahwa viola tersebut merupakan viola ke-13 yang diciptakan si pembuat viola itu. Jika dilihat dari bentuknya, viola itu memang sudah sangat tua. Permukaannya sudah terlihat usang. Muhammad harus mengelap permukaan viola itu sebelum menggunakannya. “Maklum sudah lama tidak dipakai,” katanya saat berbincang di depan rumahnya di Kampung Bugis, Kelurahan Dalam Bugis, Pontianak Timur.

Di rumah tua yang sudah ditempatinya selama puluhan tahun itu, Muhammad juga menyimpan sejumlah alat musik, mulai dari gitar, keyboard, drum, saxophone, suling, trombone, hingga tanjidor. Dia sudah mengumpulkan alat-alat musik itu sejak muda. “Kalau ada uang saya cicil satu persatu alat. Akhirnya sampai sekarang terkumpul puluhan alat (musik),” ceritanya.

Muhammad bercerita, sejak kecil dia memang sudah suka bermain alat musik. Alat musik yang pertama dipelajarinya adalah seruling bambu. “Waktu kecil itu kata orang saya ini nakal tangan. Kalau ada alat musik nganggur, saya mainkan. Saya sampai dimarahi orang yang punya karena suka mainkan alat musiknya,” kenangnya.

Setelah menguasai seruling, Muhammad lantas mempelajari musik hadrah. Ini adalah seni musik Islam yang saat itu sangat terkenal. Setelah mahir bermain hadrah, dia mencoba alat-alat musik lain, mulai dari saxophone hingga gitar.

Hampir setiap hari Muhammad mencoba berbagai alat musik itu. Saking bersemangatnya, dia sampai lupa sekolah. Akibatnya dia sampai putus sekolah. “Karena belajar musik itu saya sampai tak lulus sekolah,” ujarnya sembari tersenyum.

Beruntung saat itu masih ada ujian persamaan. Meski tak lulus sekolah umum, dia masih bisa mendapatkan ijazah persamaan. Ijazah itulah yang dipergunakan melamar pegawai negeri sipil. Saat itu ijazah smp memang masih laku untuk melamar PNS. Muhammad lantas bertugas di kantor Wali Kota Pontianak sampai pensiun beberapa tahun lalu.

Meski sudah jadi PNS, Muhammad tetap meneruskan hobi bermusiknya. Dia masih kerap manggung di berbagai tempat. Banyak undangan datang, mulai acara kimpoian, sunatan, hingga acara-acara keagamaan.

Bagi Muhammad, musik adalah sarana untuk mendekatkan diri pada Tuhan. “Yang dikatakan musik itu kan not. Not sendiri itu ada 7. Saya pahami berbagai ciptaan Allah itu rata-rata ada 7, ada 7 lapis langit, 7 lapis bumi, dan lain-lain. Bagi saya mengenal musik adalah upaya mengenal pencipta. Jadi saya tidak setuju kalau ada yang bilang musik itu haram,” katanya.

Jika orang lain harus belajar cukup lama untuk menguasai suatu alat musik, tidak begitu dengan Muhammad. Viola misalnya dipelajarinya hanya dalam waktu seminggu. “Sebenarnya jika sudah menguasai satu alat musik yang paling sulit, alat musik lain yang lebih mudah akan lebih cepat dikuasai,” kata suami dari perempuan bernama Dzahra ini.

Seruling, Viola, dan Saxophone adalah tiga alat musik yang menurutnya tergolong. Karena itu bagi mereka yang mau belajar music disarankan belajar tiga alat musik tersebut. Setelah menguasai ketiga alat musik itu niscaya akan lebih mudah menguasai alat musik yang lain.

Mengisi masa-masa pensiunnya, Muhammad saat ini tetap aktif bermusik. Dia mendirikan orkes melayu bernama Moresta. Dia masih kerap menerima undangan bermain musik di berbagai tempat. Seperti niat awal sebelumnya, musik hanyalah menjadi sarana dalam mendekatkan diri pada Pencipta


sumber

Quote:ini sepuhnye seniman pontianak nih
Quote:


Kesenian hadrah merupakan salah satu kesenian tradisi di kalangan umat Islam yang sudah bertahan selama ratusan tahun. Namun kini, penerus kesenian ini bisa dihitung jari. Kalangan remaja lebih gemar musik pop ketimbang bermain hadrah.

TIDAK banyak orang yang menguasai kesenian hadrah di Pontianak. Satu dari sedikit orang yang menguasai kesenian hadrah itu adalah Ishak M Tahir (50), warga Kampung Dalam, Kelurahan Dalam Bugis, Pontianak Timur.

Ishak sudah puluhan tahun bermain hadrah. Dia tahu betul bagaimana memadukan nyanyian yang diiringi tetabuhan agar lebih indah terdengar. Pagi itu, dia menunjukkan kebolehannya. Sambil menabuh rebana, dia menyanyikan sejumlah bait lagu berbahasa Arab yang menurutnya memiliki arti khusus. “Lagu-lagu ini memang sudah ada kitabnya. Jadi saya tinggal menghafalnya,” katanya seusai bersenandung.

Kitab yang dimaksud adalah Kitab Al-Berzanji, sebuah kitab sastra yang terkenal di kalangan umat Islam yang menceritakan sifat-sifat nabi dan keteladanan akhlaknya. Hadrah biasanya dinyanyikan dengan diiringi tetabuhan rebana, yakni gendang pipih bundar yang dibuat dari tabung kayu pendek dan agak lebar ujungnya yang pada salah satu bagiannya diberi kulit. Selain tetabuhan, kesenian ini juga diiringi tarian.

Menurut sejumlah catatan, kesenian ini dibawa oleh penyebar agama Islam ke Kalimantan Barat sejak zaman Kesultanan Pontianak pada 1771. Kesenian ini sendiri mulai berkembang pada abad ke-19.

Kesenian ini biasanya dimainkan pada berbagai acara, seperti pernikahan, sunatan, hingga acara Maulid Nabi Muhammad. Jumlah personil hadrah biasanya mencapai 15 orang, terdiri pemukul rebana 3 orang, perodat (penari) 12 orang. Pemukul rebana biasanya bisa juga merangkap sebagai penyanyi.

Di Pontianak, mereka yang menguasai kesenian ini sudah tidak banyak lagi. Ishak bercerita, banyak anak muda yang kini tak mau belajar Hadrah. Ishak kerap kesulitan mencari remaja yang mau belajar kesenian ini. “Susah cari anak yang mau latihan. Di kampung ini hanya tiga saja anak yang mau belajar,” keluhnya.

Untuk menarik anak-anak untuk belajar, Ishak, kerap mengikutkan anak-anak itu berbagai perlombaan hadrah, baik di Kota Pontianak, Kubu Raya, maupun di daerah-daerah lain. Dengan mengikuti perlombaan itu anak-anak jadi lebih termotivasi untuk belajar hadrah. “Kalau ada perlombaan biasanya saya libatkan anak-anak. Biar mereka semangat. Kalau sudah semangat mereka bisa lebih mudah diajari hadrah,” katanya.

Kelompok hadrah yang didirikan Ishak kerap mendapatkan juara di berbagai perlombaan Hadrah. Sebut saja Perlombaan Seni Hadrah se-Kalbar di Rumah Melayu tahun 2012. Baru-baru ini mereka juga memenangi perlombaan hadrah yang diadakan di Kubu Raya.

Ishak merasa senang jika ada anak-anak sekolah yang mau belajar hadrah. Ishak rela menjemput anak-anak itu di rumah masing-masing jika mereka mau belajar. “Ada yang dari Jeruju mau belajar, saya jemput. Yang di Tanjung Hulu juga saya jemput ke rumahnya. Pokoknya yang penting ada yang mau belajar, biar jauh saya mau jemputnya,” katanya.

Ishak berharap, kesenian hadrah bisa terus lestari. Sehingga suatu saat, orang masih bisa mengenal apa itu kesenian hadrah. “Kalau tidak ada yang mau belajar, mungkin suatu saat kesenian ini hanya tinggal nama. Karena itu saya terus mendorong anak-anak untuk belajar kesenian ini,” kata pria lima anak itu

sumber : http://www.pontianakpost.com/pro-kal...pontianak.html
Quote:

Pembuatan kain tenun sambas tidak hanya ditemui di daerah asalnya: Sambas. Di Pontianak, puluhan perempuan pengungsi Sambas masih melestarikan tradisi ini. Setiap bulan, ratusan lembar kain tenun sambas diproduksi para perempuan tersebut dari sebuah gang sempit di Pontianak Utara.

Tak banyak yang tahu jika di Pontianak ada sentra pembuatan kain tenun Sambas. Lokasinya memang tidak terkenal. Jaraknya juga cukup jauh dari pusat kota. Warga di sana menamai tempat itu Sambas Mandiri. Ini satu gang yang sempit dengan rumah-rumah yang saling berhimpit.

Pemberian nama gang ini punya sejarah sendiri. Gang yang terletak di Kelurahan Batu Layang, Pontianak Utara itu seluruhnya diisi warga asal Sambas. Lebih tepatnya eks pengungsi kerusuhan Sambas.

Mereka pernah menjalani masa-masa sulit selama berada di pengungsian. Di gang inilah para pengungsi itu memulai hidup baru setelah sebelumnya selama beberapa tahun hidup di pengungsian. Dari hasil bekerja mereka mengumpulkan uang untuk membeli tanah dan membangun rumah di gang itu. Kini setelah beberapa tahun berlalu, warga eks pengungsi itu sudah bisa hidup mandiri. Maka tak sia-sialah mereka memberi nama gang itu Sambas Mandiri.

Meski terlihat biasa, gang ini sebenarnya menyimpan satu cerita yang menarik. Cerita tentang masa lalu yang cukup kelam, masa kini yang harus dihadapi, dan cita-cita tentang masa depan.

Cerita itu misalnya dengan mudah tertangkap pada diri Fatimah, perempuan berusia 47 tahun, yang juga pernah mengalami masa-masa sulit itu. Kecuali kenangan, semua yang dipunyainya sewaktu hidup di Sambas tak bisa dibawanya ke Pontianak. “Yang penting sekarang bagaimana bisa hidup lebih baik saja, Pak,” kata Fatimah.

Fatimah adalah sosok perempuan tangguh. Bayangkan, bersama suaminya, dia harus menghidupi sebelas anak. Maka untuk bertahan hidup, berbagai pekerja bisa dilakoninya, mulai dari bertani hingga berternak.

Beruntung, Fatimah punya keahlian menenun. Dulu, sewaktu masih tinggal di Sambas sebelum terjadi kerusuhan, Fatimah memang sudah pandai menenun. Aktivitas ini sudah dilakoni sejak dia masih remaja. Kini Fatimah mengaku lebih fokus untuk menenun. Setelah dihitung-hitungnya, penghasilan dari menenun ternyata jauh lebih besar dari penghasilan lain.

Fatimah bergabung dengan 30 perempuan lain yang juga kini aktif menenun di Gang Sambas Mandiri. Di sana hampir setiap rumah memiliki alat tenun. Alat tenun itu biasanya diletakkan di dapur atau di ruangan khusus. Mereka biasa mulai menenun setelah pekerjaan rumah tangga selesai dilakukan.

Pagi itu, Fatimah tampak sibuk dengan tenunannya. Tangannya dengan cekatan memasukkan benang-benang ke dalam alat tenun yang dinamakan suri. Sesekali tangannya itu menghentak-hentakan sebuah papan kayu yang persis berada di depannya. Suara hentakan kayu itu terdengar seperti ketukan-ketukan yang berirama. “Di sini hampir semua rumah punya alat tenun. Lumayan untuk nambah-nambah penghasilan,” kata Fatimah.

Kain tenun sambas biasa disebut kain benang emas. Disebut kain benang emas karena benang yang digunakan berwarna kuning emas. Sampai sekarang kain ini masih dikerjakan secara tradisional dengan menggunakan alat tenun dari kayu.

Alat tenun mereka pesan dari Sambas. Di Pontianak alat ini memang sulit ditemui. Awalnya hanya beberapa orang saja membeli alat tenun. Tidak lama kemudian, para tetangga juga ikut-ikutan membeli alat tenun. Sekarang hampir semua perempuan di gang itu punya kegiatan menenun.

Marintan (36), penenun lain, bercerita, dirinya sudah menenun sejak masih masih remaja. Dulu sewaktu masih tinggal di Sambas, dia memang cukup aktif menenun. Tapi aktivitas ini sempat terhenti saat kerusuhan meledak.

Dia dan keluarganya kemudian mengungsi ke Pontianak. Selama beberapa tahun aktivitas menenun itu terhenti. Marintan baru mulai menenun kembali setelah punya rumah di Gang Sambas Mandiri itu. “Saya pernah tinggal di GOR (Pangsuma) beberapa tahun. Di sana mana bisa menenun,” ceritanya.

Aktivitas menenun ini jelas membantu ekonomi keluarga. Kebanyakan warga di sana memang tidak memiliki pekerjaan tetap. Penghasilan para suami kebanyakan adalah bertani dan beternak sapi. Karena itu para perempuan juga harus bekerja untuk menambah penghasilan. “Kalau mengharapkan suami saja tidak cukup,” kata Marintan.

Anak Fatimah, Julia, juga ikut jejak ibunya itu menenun. Julia yang kini sedang mengambil studi di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pontianak di sela-sela waktunya juga aktif menenun. Perempuan muda yang sudah belajar keuangan itu turut membantu tetangga-tetangganya mengelola keuangan. Sehingga uang hasil menenun itu bisa dimaksimalkan.

Kain tenun sambas memiliki harga yang lumayan. Satu set kain dengan panjang dua meter ditambah selembar selendang bisa dihargai Rp800 ribu. Kain-kain tersebut dipasarkan di Sambas. “Di sana memang sudah ada langganan. Seberapun kain yang dibuat pasti dibeli. Jadi kami tidak khawatir ke mana harus memasarkan kain ini,” jelas Julia.

Dari Sambas, kain ini banyak dikirim ke Malaysia, Brunai, atau Singapura. Di sana permintaan akan kain tenun Sambas memang cukup tinggi.

Motif kain ini bermacam-macam, mulai dari motif pucuk rebung, insang, padang tebakar, melati, pakis, hingga enggang gading. Dalam sebulan, seorang penenun bisa menyelesaikan 4-5 lembar kain tenun. Sebulan sekali kain tenun itu akan dikirim ke Sambas. Kain ini biasanya dipergunakan dalam acara perkimpoian, lamaran, sunatan dan acara-acara lain.

Butuh ketelitian dan kesabaran dalam menenun. Karena itu sebagian besar penenun adalah perempuan. Laki-laki dianggap kurang sabar dan kurang teliti. “Kalau perempuan itu kan lebih sabar dan teliti. Perempuan juga lebih punya nilai keindahan,” kata Julia.

Untuk modal awal menenun, warga di sana mendapatkan bantuan dana bergulir dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan. Bantuan ini digunakan untuk membeli benang dan alat tenun. “Sebagian untuk membeli benang, sebagian lagi ada yang membeli alat tenun,” kata Julia.

Para penenun memang harus membeli benang setiap bulannya. Tanpa bahan ini mereka tentu tak bisa menenun. Dana bergulir dari PNPM Mandiri Perkotaan menurut Julia dirasakan sangat membantu para penenun.

Irwin Nuriman, Asisten Koordinator Kota PNPM Mandiri mengatakan, hingga saat ini pihaknya telah menyalurkan sebesar Rp250 juta bantuan dana bergulir bagi masyarakat di sana. Bantuan itu diberikan sejak 2009 lalu. “Pinjaman dalam bentuk kelompok. Satu kelompok itu lima orang. Setiap tahun jumlah pinjamannya terus meningkat. Awalnya hanya Rp1 juta perorang, kemudian meningkat jadi Rp2,5 juta, dan sekarang ada yang dapat Rp5juta perorang,” jelas Irwin.

Kini penghasilan para perempuan penenun di Gang Sambas Mandiri sudah tergolong tinggi. Rata-rata penghasilan bersih mereka mencapai Rp1,6 juta perbulan. “Lumayan lah untuk bantu suami,” kata Fatimah.

Dengan penghasilan itu, Fatimah bisa menyekolahkan anak-anaknya. Bahkan dari penghasilan ini bisa ditabung untuk membantu suami membangun rumah. Pada awal tinggal di sana rumah mereka tergolong sempit, tetapi sekarang mereka sudah mampu membangun rumah yang cukup besar. “Alhamdulillah, sekarang sudah banyak peningkatan. Semoga di masa depan kami bisa lebih maju,” kata Julia

sumber : http://www.pontianakpost.com/pro-kal...pontianak.html
Quote:

Senentang Asal Muasal Nama Sintang
Tunggu Respon Pemerintah Untuk Penetapan Hari Jadi


Terakhir, 10 Mei 2013 lalu Kesultanan Sintang mendeklarasikan Hari Jadi Negeri Sintang di Istana Kesultanan Sintang. Naskah Deklarasi tersebut disampaikan kepada Bupati dan jajaran Forkorpimda. Acara tersebut diketuai GM Fadli . Hingga kini, kerabat Istana masih menunggu respon Pemerintah Daerah terkait Hari Jadi Negeri Sintang agar dapat dituangkan dalam Perda atau diseminarkan jika diperlukan.





ADE Djamadin, mengatakan YU Lontaan dalam buku sejarah, hukum adat dan istiadat Kalimantan Barat tahun 1995 halaman 172-173 menuliskan ketika Dayang Puasa dan suaminya Abang Awal memerintah di Kerajaan Sanggau berpusat di Mengkiang telah bersahabat dengan Raja Sintang Demong Irawan alias Jubair. Beberapa waktu kemudian zaman pemerintahan Sultan Muhammad Jamazudin pusat kerajaan dari Mengkiang dipindahkan ke Sanggau. Ini berarti Sintang lebih tua dari Sanggau.

Untuk diketahui, lanjut Alumnus APDN Angkatan Pertama Kalimantan Barat ini, Demong Irawan I alias Jubair merupakan Raja ke-11 dan dan sebelumnya saat berpusat di Sepauk ada 10 Raja yang memimpin yaitu Aji Melayu raja pertama beristrikan Putung Kempat yang memerintah sekitar abad ke VII, kemudian berurutan Dayang Lengkong, Dayang Randung, Abang Panjang, Demong Karang, Demong Kara, Patih Kara, Demong Minyak, Sanari dan Hasan.

Dia juga menceritakan, dalam berbagai buku sejarah Sintang, baik tulisan Syamsudin Hasan Syahzaman Haris maupun Ade Djamadin dijelaskan bahwa Demong Irawan memindahkan pusat Kerajaan ke Sintang karena mendengar kabar bahwa agama Islam telah berkembang di Sumatera dan di Jawa.

Mantan Camat Tempunak, Kayan Hilir, dan Tanah Pinoh ini juga memaparkan untuk mengetahui tanggal dan bulan kepindahan Demong Irawan ke Sintang dipergunakan kalender tahun pehumaan versi suku Seberuang dari Tempunak Hulu dekat Bukit Kujau. Kemudian dibandingkan juga dengan kalender internasional “Comperative tables of Muhammadan And Christian Dates”.

Saat jadi camat Tempunak, lanjut Sesepuh Istana Kesultanan Sintang ini, dijelaskan Temenggung (75 tahun) mantan Temenggung Desa Serpang dekat Bukit Kujau bahwa kakeknya pernah bercerita Potong Kempat (Junjung Buih) berasal dari Bukit Kujau. Sekitar abad VII kimpoi dengan Aji Melayu yang jadi raja di Nanga Sepauk. Demong Irawan (Jubair) raja ke XI pindah ke hulu (Sintang), karena ada berita agama Islam masuk ke Aceh dan daerah pesisir Sumatera dan Pulau Jawa.

Temenggun Tegi, lanjutnya, juga mengatakan Demong Irawan yang masih Hindu pindah ke Sintang awal musim kemarau ketika rakyat mulai manggul (memilih lokasi) untuk ladang (uma). Saat itu waktu manggul uma kira tanggal 7 sampai 15 Mei tiap tahun. Rombongan berangkat dengan sampan besar berdayung dan menggunakan galah (suar). Tiba di Sintang Demong Irawan memilih tempat pemukiman atau lokasi yang berhadapan dengan sungai. “Karena letak pemukiman yang ditetapkan berhadapan dengan muara sungai Melawi disebutlah Senentang (berhadap-hadapan) yang merupakan asal muasal nama Sintang.”

Selain itu, anak salah satu korban Tragedi Mandor berdarah ini, Temenggung Tegi juga menceritakan keberangkatan rombongan dari Sepauk sekitar 7 Mei dan tiba di Sintang 9 Mei sore hari. Keesokkan harinya 10 Mei, barulah mulai dilaksanakan pembangunan pusat pemerintahan di Senentang. “Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan, Sintang berasal dari kata Senentang dengan tanggal Hari Jadi yaitu 10 Mei 1362, pendiri pertama ialah Demong Irawan alias Jubair,” kata lelaki berusia 72 tahun yang bergelar Pangeran Sepuh Adi Suryanata ini. “Sebagai peringatan didirikan sebuah batu lingga lambang Dewa Syiwa (disebut warga Batu Kundur) yang kini dijadikan cagar budaya dilindungi UU nomor 5 tahun 1992,” timpalnya. (habis)

http://www.pontianakpost.com/pro-kal...a-sintang.html
Mohon maaf, silahkan dihapus jikalau kurang berkenan. Hanya sekedar mensosialisasikan profil para pasangan calon walikota dan wakil walikota Pontianak pada Pemilukada yang akan digelar 19 September 2013 ini.