KASKUS

Quote:Original Posted By Masagung


ya memang sudah di skenario, sudah diatur supaya karebet jadi orang besar.
bahasa halusnya kalau di ketoprak joko tingkir mau 'suwito' atau mengabdi ke demak, kalau ditangkap wantah sepertinya mau mengabdi kpd raja tapi kalau kita artikan di sisi lain bisa jdi dia ingin mengabdi kpd rakyat demak...itu artinya dia direncanakan menjadi raja.

dari awal turun gunung skenaro karebet menuju istana sdh nampak spt menaklukkan 40 bajul, membunuh kerbau, membunuh dadung awuk dan demo di depan sultan demak dongeng2 itu bisa jadi memang fakta tapi bisa juga sebenarnya sanepan yg jelas dgn rentetan peristiwa itu joko tingkir sukses masuk ke dalam lingkaran atas istana demak.


kalo ane simak analisa Masagung diatas...kelihatannya Masagung melihat adanya pihak atau org berpengaruh yg mendukung dan menghendaki serta merencanakan skenario yg Masagung sebutkan diatas. Cmn skrng yg menjadi pertanyaan siapakah pihak / orang berpengaruh yg membuat skenario tersebut utk Joko Tingkir ? apakah mungkin tokoh itu adalah Sunan Kalijogo ? krn konon menurut cerita yg pernah ada bahwa Joko Tingkir pernah bertemu dg seorang yg misterius yg wajahnya tertutupi oleh caping petani yg menyuruh Joko Tingkir utk pergi ke Kotaraja Demak utk mengabdi dan mendaftarkan diri utk masuk ke dlm keprajuritan Kesultanan Demak Bintoro dan konon org misterius itu ciri2nya mirip dg Sunan Kalijaga.

Dan memang keliatannya mempunyai indikasi yg sangat kuat ttg dukungan dan keberpihakan Sunan Kalijogo kpd Joko Tingkir.

Quote:Original Posted By Masagung

membunuh penangsang itu bukan perkara mudah, kesaktian penangsang hanya bisa ditandingi oleh Hadiwijaya sendiri, Penangsang tidak tewas meskipun perutnya robek dan ususnya terburai oleh tombak kyai pleret yg ampuh, bahkan dia masih sanggup berperang dan mengalahkan danang sutawijaya yg masih segar bugar.
Dari situ saja sudah terlihat betapa kesaktian penangsang, jadi saya yakin seandainya 'sayembara' itu ada jg belum tentu ada orang berani melawan penangsang, jangankan melawan, baru dengar namanya saja orang sudah bergidik ketakutan.


ternyata "Tombak Kyai Pleret" hanya mampu melukai & tdk mampu membunuh Aryo Penangsang. Krn yg membuat tewasnya Aryo Penangsang adalah keris pusakanya sendiri yg bernama "Keris Kyai Setan Kober" senjata andalannya Aryo Penangsang.

Dr deskripsi peristiwa diatas bs diambil kesimpulan bahwa senjata pusaka andalan dr Ki Ageng Pamanahan dan Danang Sutawijaya yg brnama "Tombak Kyai Pleret" msh kalah sakti dibandingkan kesaktian yg dipunyai oleh Aryo Penangsang itu sendiri. Dan mungkin hal itu pula yg membuat Danang Sutawijaya / Panembahan Senopati tidak merasa puas dg senjata pusaka andalan yg dipunyainya tersebut sehingga membuat Panembahan Senopati mengincar dan sangat tertarik serta bernafsu utk memiliki & menguasai senjata pusaka andalan dr Joko Tingkir yg konon mempunyai kesaktian yg sama dg "Keris Kyai Setan Kober".

Karena menurut cerita yg pernah ane baca di Wikipedia, ada pernyataan dr Panembahan Senopati yg ketika Pangeran Benowo akhirnya menawarkan dan berniat utk menyerahkan takhta dan keraton Kesultanan Pajang Hadiningrat kepada Panembahan Senopati tetapi ditolaknya dan kemudian Panembahan Senapati hanya tertarik & meminta beberapa pusaka Pajang untuk dirawat di Mataram. ( sumber referensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Panembahan_Senopati ).

Quote:Original Posted By Masagung

1 ,2 dan 3 bisa jadi 'sayembara' itu akal2an dr para penasehat Hadiwijaya untuk mendapatkan wilayah perdikan, spt dlm legenda yg menyebutkan bahwa Ki Ageng Pemanahan mendapatkan wahyu kelak keturunanya akan menjadi raja.
kalau legenda itu ditangkap secara wantah maka kesempatan itu memang dipergunakan untuk mengorbitkan anak Kiageng Pemanahan yaitu Danang Sutawijaya.
Kalau itu cuma sanepan bisa juga para penasehat ini mendapat 'tugas' dari king maker di jaman itu yaitu para wali.


kalo benar "King Maker" yg Masagung indikasikan adalah tertuju ke Wali Songo yg tlh memberikan tugas kpd Ki Ageng Pamanahan dan saudara2nya utk menerima tantangan membunuh Aryo Penangsang dg maksud utk mendptkan tanah perdikan, lalu akan timbul pertanyaan.....siapa sajakah dr para sunan yg ada dlm jajaran Wali Songo yg menjadi "King Maker" sprti yg Masagung maksud diatas ? krn perlu di cermati beberapa hal bahwa Sunan Kudus sbg guru dr Aryo Penangsang dan dpt dipastikan berpihak kpd Aryo Penangsang akan sangat tdk setuju dan akan menentang dg "tugas" utk membunuh murid kesayangannya itu.

Dan perlu jg dianalisa terhadap peristiwa penyerangan dan penguasaan Kotaraja Demak yg dilakukan oleh pengikut Aryo Penangsang dlm usahanya mengkudeta pemerintahan kesultanan Demak yg sah pd waktu itu yg dipegang oleh Sunan Prawoto seperti yg diceritakan dlm Kronik Cina, tentu akan ada indikasi keterlibatan dan restu dr Sunan Kudus dan pengikutnya dlm membantu penyerangan dan penguasaan thdp Kotaraja Demak.



Quote:Original Posted By Masagung

Tapi yg jelas tujuan 'sayembara' itu adalah untuk mendapatkan wilayah perdikan alas mentaok dan pati krn para penasehat Hadiwijaya tdk berterus terang kalau yg disiapkan melawan Penangsang adalah anak angkatnya sendiri.


dr kalimat diatas ane bs mengansumsikan bahwa adanya pihak2 yg sengaja mengusulkan dan membujuk Sultan Hadiwijaya utk mengadakan "sayembara" itu dg tujuan terselubungnya adalah mendptkan wilayah tanah perdikan. Apakah ini strategi dr Ki Ageng Pemanahan utk merealisasikan atau mewujudkan mimpinya yg dianggapnya sbg wahyu bahwa keterununannya kelak akan menjadi raja2 tanah jawa ? krn pd masa itu Ki Ageng Pamanahan dan saudara2nya (Ki Ageng Penjawi & Ki Juru Martani) adalah merupakan salah satu orang yg dekat dan menjadi penasehat bagi Sultan Hadiwijaya.

Quote:Original Posted By Masagung


tapi politik menghendaki lain mas.
Karebet itu putra Kia Ageng Pengging yg punya cacat di mata demak :
1. Ki Ageng Pengging adalah cucu Brawijaya terakhir maka dikhawatirkan nantinya Hadiwijaya akan membangkitkan kerajaan majapahit/ budaya Hindu dan Budha.
2. Ki Ageng Pengging tewas ditangan Sunan Kudus krn dianggap memberontak, bisa jadi ada ketakutan kalau Hadiwijaya jd raja nanti membalas dendam.
3. Ki Ageng Pengging adalah murid Syech Siti Jenar yg juga dihukum oleh wali songo, bisa jadi kekhawatiran sebagai anaknya sedikit banyak Hadiwijaya juga mendapatkan ajaran dari bapaknya.


Dengan melihat latar belakang sejarah keluarga Joko Tingkir dan kemungkinan2 dampak yg akan terjadi terhadap pemerintahan Kesultanan Demak seperti yg akang Masagung uraikan diatas....menurut ane fakta2 yg dijabarin diatas tersebut merupakan ancaman laten yg sangat serius bg kelangsungan kekuasaan Kesultanan Demak dan ane yakin Sultan Trenggono mengetahui dan menyadari betul latar belakang sejarah keluarga Joko Tingkir tsb....tp kemudian banyak pertanyaan yg muncul diotak ane dan bikin ane penasaran yg diantaranya adalah :

knpa Sultan Trenggono mau mengambil resiko yg sangat besar yg dpt mengancam pemerintahan Kesultanan Demak yg dipimpinnya dg mau menerima Joko Tingkir masuk ke dlm kesatuan keprajuritannya bahkan diberikan jabatan yg cukup berpengaruh yaitu sbg Lurah Wiratamtama ?
walaupun Joko Tingkir tlh mampu utk dpt membunuh Kerbau/Banteng yg mengamuk di keramaian Kotaraja Demak tetapi menjadikan kejadian tsb sbg alasan utk menerima Joko Tingkir di dlm kesatuan keprajuritan Demak Bintoro sbg bentuk hadiah atas jasa2nya adalah tetap merupakan suatu resiko yg sangat besar dan tetap tdk bs menghilangkan ancam potensial bg pemerintahan kesultanan Demak dg memperhatikan sejarah masa lalu keluarganya.

Anggap lah ketika kejadian Joko Tingkir dpt membunuh banteng/kerbau yg mengamuk dan kemudian mendptkan hadiah dg diterima sbg prajurit di Demak dan pada waktu itu mngkn Sultan Trenggono msh blm mengetahui dg jelas jatidiri dan silsilah Joko Tingkir yg sebenarnya....tetapi tdk lama kemudian jati diri sebenarnya Joko Tingkir akhirnya dpt diketahui oleh Sultan Trenggono....

dan kenapa sikap Sultan Trenggono msh tetap membiarkan Joko Tingkir utk tetap bertahan di dlm kesatuan keprajuritannya ?

kenapa ketika Sultan Trenggono mengetahui dan menyadari jati diri Joko Tingkir yg mempunyai potensi bs mengancam dan membahayakan Kesultanan Demak Bintoro tidak mengeluarkan langsung Joko Tingkir dr keprajuritan Demak ?

bahkan kenapa malah kemudian Joko Tingkir diberikan jabatan yg berpengaruh di keprajuritan Demak sbg Lurah Wiratamtama ?

Dari banyaknya pertanyaan yg ada dibenak ane dan mencoba memahaminya....ane melihat adanya indikasi yg sangat kuat bahwa ada sosok/tokoh yg sangat berpengaruh di pemerintahan Sultan Trenggono yg bs dan mampu meyakinkan sang sultan utk menerima Joko Tingkir....dan tokoh berpengaruh ini kelihatannya telah mampu pula memberikan jaminan kpd sang sultan bahwa image negatif latar belakang sejarah masa lalu keluarga Joko Tingkir tdk akan mengancam dan menggrogoti kedudukan sang sultan.

Dg uraian tersebut diatas...ane mulai sependapat dg analisa kang Masagung yg menyatakan bahwa adanya indikasi skenario yg dirancang oleh tokoh yg sangat berpengaruh di kesultanan Demak utk mendukung Joko Tingkir masuk ke dalam lingkaran atas istana Demak. cmn masalahnya adalah Siapakah sebenarnya tokoh berpengaruh tersebut ? apakah tokoh berpengaruh tersebut adalah Sunan Kalijogo ?

Baru tahu ane Gan..mantep gan..
Quote:Original Posted By Masagung


mengingat sejarahnya dulu transportasi utama yg dipakai adalah aliran bengawan solo, jadi hubungan antara pajang ke daerah jawa timur waktu itu memang sudah terjalin.
di aliran bengawan solo daerah selatan pajang masih ada bekasnya kok, konon dulu bekas pelabuhan di jaman kerajaan pajang.


ini informasi yg bener2 baru ane denger dr kang Masagung soal adanya bekas pelabuhan dr Kesultanan Pajang Hadiningrat di aliran sungai Bengawan Solo. Dan memang masuk dlm logika juga kalau jaman dulu Kesultanan Pajang Hadiningrat mempunyai pelabuhan kapal di sungai Bengawan Solo krn sungai tersebut memang adalah urat nadi transportasi perekonomian & perdagangan bg Kesultanan Pajang Hadiningrat.

kira2 kang Masagung punya poto2 ttg bekas pelabuhan Kesultanan Pajang itu ga ? kalau ada bs di share di sini dong kang biar menambah informasi dan wawasan sejarah ane dan temen2 yg ada disini.


Quote:Original Posted By rakyat bergitar


asik banyak sesepuh turun rembuk..
salim kang mas agung..
monggo ditunggu lagi pembabarannya, monggo gan wongsokromo.. semakin seru..!


iya kang rakyatbegitar....dg adanya kang Masagung yg ngasih pencerahan dg analisa2-nya yg luar biasa membuat diskusi ini semakin tambah menarik....ane secara pribadi bener2 merasa kagum dan hormat ama akang Masagung....salim jg ah ane buat kang Masagung
Quote:Original Posted By hpseken99
Baru tahu ane Gan..mantep gan..


iya kang hpseken99.....dr diskusi sejarah ini....ane banyak mendptkan pencerahan yg berguna buat menambah wawasan sejarah ane terutama sejarah mengenai Joko Tingkir & Kesultanan Pajang Hadiningrat

Mas Karebet menuju Demak Bintara

salam -salim buat sedulur ,sesepuh dan teman-teman kaskuser semua yang dimari
hemm,ane urun cerita aj nih,ane dapat di blog sebelah, buat nambah warna warni ragam cerita tentang joko tingkir..terlepas dari benar tidaknya,sumonggo diperhatikan secara seksama...

Putra tunggal Ki Ageng Pengging yang diasuh oleh Nyi Ageng Tingkir, telah tumbuh dewasa. Begitu menginjak dewasa, Nyi Ageng Tingkir selalu dibuat was-was dengan tingkah laku keponakannya ini.
Menginjak usia lima belas tahunan, Mas Karebet gemar pergi ke tengah hutan belantara. Hal ini dilakukannya berhari-hari tanpa pulang. Pulang-pulang cuma sebentar, lantas pergi lagi. Wilayah Tingkir yang masih dikelilingi hutan rimba, kini dipegang oleh pejabat baru yang ditunjuk oleh Sultan Demak. Nyi Ageng Tingkir, sebagai seorang janda bekas Adipati, hidup berkecukupan dari hasil bersawah. Nyi Ageng Tingkir tidak memiliki putra. Praktis, Mas Karebet, keponakannya itu, sangat-sangat beliau sayangi.
Namun, kegemaran Mas Karebet yang sangat suka bepergian dari rumah dan sering memasuki hutan belantara, sangat-sangat mencemaskan Nyi Ageng Tingkir. Manakala Mas Karebet pulang, berkali-kali Nyi Ageng Tingkir mengutarakan kecemasannya. Namun setiap kali pula Mas Karebet menjawab :
“Ibu, jangan khawatir. Di hutan saya banyak memiliki teman pertapa Shiwa Buddha. Saya ke hutan tidak hanya sekedar bermain-main, tapi ngangsu kawruh (menimba ilmu) dari beliau-beliau.”
Walau begitu, Nyi Ageng tetap saja mencemaskan keselamatan putra keponakannya yang sudah dianggap sebagai putranya sendiri. Hingga pada suatu ketika, Nyi Ageng memanggil seorang ulama Islam ke kediaman beliau, khusus didatangkan dan diupah untuk mengajar Mas Karebet. Tapi Mas Karebet sama sekali tidak tertarik. Dia tetap meneruskan kegemarannya mengunjungi para pertapa didalam hutan.
Kebiasaan ini terus berlanjut hingga usia Mas Karebet menginjak dua puluh lima tahun. ( Mas Karebet lahir pada tahun 1499 Masehi : Damar Shashangka) Dan pada akhirnya, kesabaran Nyi Ageng Tingkir benar-benar habis. Dia melarang Mas Karebet pergi dari rumah. Nyi Ageng mengutus dua orang pembantu untuk terus mengawasi Mas Karebet. Mas Karebet diperintahkan Nyi Ageng untuk ikut bekerja bersama pembantu-pembantu yang lain disawah!
Mas Karebet mengalah. Setiap hari, kini Mas Karebet bekerja disawah bersama pembantu-pembantu yang lain.
Pada suatu ketika, manakala Mas Karebet tengah melepas lelah disebuah gubug di areal pesawahan, tanpa sengaja Mas Karebet melihat seseorang berpakaian hitam-hitam dengan membawa tongkat tengah berjalan ditengah pematang pesawahan. Orang itu kelihatan sudah sangat sepuh. Namun masih terlihat tegap saat melangkah. Dia sendirian. Berjalan pelahan ditengah sengatan terik mentari. Pematang yang membujur membelah areal pesawahan dan pada ujungnya akan melewati gubug dimana Mas Karebet melepas lelah itu dititinya pelahan.
Mata Mas Karebet tak lepas-lepas memperhatikan orang tersebut. Mas Karebet-pun tengah sendirian. Para pembantu yang lain, masih tampak sibuk bekerja. Dan anehnya, mereka semua seolah tidak melihat adanya orang tua berpakaian hitam-hitam yang tengah berjalan dipematang sawah ini.
Dan, begitu sosok tua ini sedemikian dekatnya dengan Mas Karebet, mendadak dia menghentikan langkahnya. Dia menatap Mas Karebat sambil tersenyum. Wajahnya luar biasa cerah. Mas Karebet tertegun…
“Ngger, Aneng kene dede pakaryanira. Ananging sejatine, pakaryanira aneng Keraton Demak. Wis, ngger, pamita marang ibunira, mangkata suwita marang Kangjeng Sultan Demak. Weruha, ngger. Sira iku bebakale Ratu Tanah Jawa!”
(Anakku, disini bukanlah tempatmu bekerja. Akan tetapi sesungguhnya, pekerjaanmu ada di Keraton Demak. Sudahlah anakku, mohon ijinlah kepada ibumu, berangkatlah mengabdi kepada Kangjeng Sultan Demak. Ketahuilah anakku, kamu adalah calon Raja Tanah Jawa!)
Mas Karebet tersentak. Namun dia tidak bisa berkata apa-apa. Dan orang tua itu segera berlalu. Mata Mas Karebet tak lekang-lekang mengikuti kepergian sosok misterius tersebut. Otaknya berputar, mencerna kata-kata yang barusan didengarnya.
Dan hanya sekejap Mas Karebet melepaskan pandangan matanya pada sosok misterius tersebut, dia sejenak menunduk, mengingat kata-kata orang tua tadi, sedetik kemudian dia menoleh mencoba kembali mengamati sosok aneh yang barus saja berlalu. Tapi aneh! Sosok itu sudah tidak ada! Padahal pematang sawah itu masih panjang jaraknya dari jalan desa! Mas Karebet tercengang! Sontak dia bangkit mencari-cari kemana orang tadi berjalan! Tidak ada! Orang berpakaian hitam-hitam itu benar-benar raib! Hilang begitu saja!
Mas Karebet kelimpungan! Masih terngiang kata-kata orang misterius barusan! Segera Mas Karebet memutuskan untuk pulang kerumah, melaporkan kejadian tersebut kepada ibunya, Nyi Ageng Tingkir!
Mendapati cerita Mas Karebet, Nyi Ageng Tingkir mengernyitkan kening dan bertanya :
“Ngger, bagaimana ciri-ciri orang tersebut?”
Mas Karebet menjawab :
“Angagem sarwa wulung. Busana wulung, iket wulung.”
(Mengenakan pakaian serba hitam. Berjubah hitam dan berikat kepala hitam)

Nyi Ageng Tingkir memekik kaget :
“Itu Kangjeng Sunan Kalijaga! Sudah, ngger, berangkatlah ke Demak. Aku mempunyai seorang kakak kandung yang menjabat sebagai Lurah Kaum ( Kepala pengurus masjid Istana : Damar Shashangka)), namanya Ki Ganjur. Sudahlah, aku kirim kamu kesana. Ikutlah pamanmu di Demak Bintara!”
Nyi Ageng Tingkir begitu gembira. Secepatnya dia mempersiapkan keberangkatan Mas Karebet ke Demak Bintara. Dua orang pembantu diutus mengiringi keberangkatan putra kesayangannya tersebut.
Keesokan harinya, Mas Karebet diantar dua orang pembantu berangkat ke ibu kota Demak.
Di Demak, ketiganya langsung menuju kediaman Ki Ganjur, Lurah Kaum. Setelah menitipkan Mas Karebet, dua orang pembantu tersebut mohon ijin pulang kembali ke Tingkir. Mas Karebet mulai tinggal diibu kota Demak tepat pada tahun 1524 Masehi.
Ki Ganjur tahu siapa Mas Karebet. Sosok pemuda trah Pengging satu-satunya. Trah pewaris tahta Majapahit yang sesungguhnya. Ki Ganjur-pun tahu, Mas Karebet pemeluk Shiwa Buddha. Tapi hal tersebut tidak menjadi masalah bagi Ki Ganjur, karena dia melihat masa depan Mas Karebet sangat cerah dikemudian hari.
Mas Karebet, lantas dikenal dengan sebutan Jaka Tingkir oleh orang-orang dilingkungan Kaum. Jaka Tingkir berarti seorang perjaka dari Tingkir. Tugas Mas Karebet atau Jaka Tingkir setiap hari hanyalah membersihkan areal masjid Demak. Jaka Tingkir melakukan tugas tersebut dengan sepenuh hati. Walau dia tidak ikut menggunakan tempat ibadah itu bagi dirinya, namun bagi Jaka Tingkir, tak ada bedanya membersihkan sebuah tempat ibadah suci umat lain maupun tempat ibadah suci bagi pemeluk Shiwa Buddha.
Tak ada yang berani protes atas kehadiran Jaka Tingkir ditempat itu. Karena Jaka Tingkir adalah keponakan Ki Ganjur sendiri. Berbulan-bulan Jaka Tingkir tinggal ditempat Ki Ganjur. Hingga pada suatu ketika, Ki Ganjur mendapat ide jitu untuk menarik perhatian Sultan Demak.
Ki Ganjur menyarankan Jaka Tingkir untuk menyengaja terlambat saat membersihkan masjid Demak tepat pada hari Jun’at mendatang. Tujuannya, apabila nanti Sultan Trenggana hadir hendak melaksanakan shalat Jum’at seperti biasanya, Sultan Trenggana biar melihat Jaka Tingkir yang masih sibuk membersihkan areal masjid. Dengan cara itu, Sultan Trenggana pasti akan kurang berkenan. Manakala Sultan Demak marah, biar Ki Ganjur yang akan memohonkan ampunan, sekaligus Ki Ganjur akan membuka jati diri Jaka Tingkir dihadapan Sultan Demak.
Ki Ganjur akan meyakinkan Sultan Demak bahwasanya sosok Jaka Tingkir sangat-sangat dibutuhkan oleh Kesultanan. Jaka Tingkir masih putra Ki Ageng Pengging. Sosok yang sangat disegani sisa-sisa bangsawan Majapahit. Dengan memanfaatkan Jaka Tingkir, Sultan Demak bisa menaklukkan kekuatan-kekuatan Shiwa Buddha yang dibeberapa daerah masih juga terus mengadakan perlawanan, baik yang terang-terangan maupun gerilya...

Bersambung...

Lanjutan1 ….


Ki Ganjur dan Jaka Tingkir sepakat.
Pada hari Jum’at yang sudah ditetapkan, pagi-pagi sekali masjid Demak sudah ramai-ramai dibersihkan oleh para Kaum. Sultan Trenggana menjelang siang hari pasti akan hadir untuk melaksanakan shalat Jum’at di sana. Beliau akan hadir beserta para pejabat yang lain. Namun Jakatingkir, tidak terlihat.
Menjelang siang hari, baru Jaka Tingkir muncul. Dia menyibukkan diri membersihkan ruangan dalam masjid. Padahal, waktu dilaksanakannya shalat Jum’at sudah sedemikian dekat. Para Kaum keheranan melihat ulah Jaka Tingkir. Dia diperingatkan bahwasanya rombongan Sultan akan segera hadir. Namun Jaka Tingkir seolah tidak peduli.
Dan benar, sesaat kemudian dihalaman masjid terlihat ramai. Rombongan Sultan Trenggana beserta para pejabat Demak telah hadir! Para Kaum kalang kabut, mereka cepat berlarian keluar menyambut kedatangan rombongan Sultan.
Begitu Sultan Trenggana hendak memasuki ruang dalam masjid, dia melihat didalam masih ada seorang pemuda yang tengah sibuk membenahi ruangan. Sultan Demak keheranan. Siapakah orang yang kurang ajar tidak mau menyambut kehadirannya. Kehadiran seorang Sultan Demak Bintara?
Para Kaum geger!
Sultan Trenggana segera memerintahkan prajurid Demak memanggil Jaka Tingkir! Jaka Tingkir pura-pura kaget dan segera berlari menghampiri Sultan Demak begitu beberapa prajurid dengan kasar menghardik dia. Jaka Tingkir menghaturkan sembah seraya memohon ampunan. Dengan posisi bersila dan kedua tangan tercakup didepan wajah.
Sesaat Sultan Trenggana mengamati sosok pemuda yang bersila didepannya. Tampan dan gagah. Bukan keturunan rakyat biasa. Sultan Trenggana lekat-lekat mengamati sosok pemuda itu, lantas dia bertanya :
“ Kamu siapa? Tidak tahukah sopan santun seorang kawula apabila Gusti-nya datang?”
Jaka Tingkir menjawab :
“Kasinggihan dhawuh, Kangjeng. Saya Jaka Tingkir, putra keponakan Ki Ganjur. Mohon ampun atas ketidak sopanan hamba…”
Sultan Trenggana heran. Kata-kata Jaka Tingkir sangat tertata dan halus. Siapakah gerangan pemuda ini? Dalam hati Sultan Trenggana bertanya-tanya.
(Dalam Babad Tanah Jawa dikisahkan, begitu Sultan Trenggana hadir, Jaka Tingkir melompati kolam masjid Demak dalam posisi membelakangi Sultan. Hal ini membuat Sultan kaget sekaligus tersinggung. Melompati kolam masjid sambil membelakangi Sultan sesungguhnya melambangkan bahwa Jaka Tingkir telah ‘melompati tata aturan tempat suci seorang Sultan’ : Damar Shashangka)
Mendadak seseorang tergopoh-gopoh menghampiri Sultan Demak sambil menyembah dan bersila disamping Jaka Tingkir. Dia adalah Ki Ganjur.
“Kasinggihan dhawuh, Kangjeng. Ini adalah putra keponakan saya yang baru datang dari desa. Mohon ampun atas kelancangannya. Tolong dimaklumi, karena dia masih bodoh dan belum menahami tata krama Keraton.”
Karena waktu shalat Jum’at sudah harus dimulai, Sultan Trenggana-pun lantas berkata :
“Seusai shalat Jum’at, kamu harus menghadap ke Istana!”
Ki Ganjur dan Jaka tingkir menunduk. Umpan mereka telah dimakan. Dan rombongan Sultan Demak-pun memasuki masjid Agung untuk menunaikan shalat Jum’at.
Ki Ganjur sowan ke istana Demak. Seorang kawula yang dipanggil menghadap ke Keraton, biasanya kalau tidak mendapatkan anugerah atau tugas khusus, kemungkinan besar pasti akan mendapatkan murka. Dan Ki Ganjur sudah dapat memperkirakan, dirinya akan mendapatkan murka dari Sultan Demak.
Ki Ganjur menunggu untuk dipanggil menghadap ke Siti hinggil ditempat khusus. Setelah sekian lama menunggu, seorang abdi dalem datang dan menyuruh Ki Ganjur menghadap ke Siti Hinggil.
Setelah bertatap muka dengan Sultan Demak, Ki Ganjur-pun meminta pengampunan kepada Sultan atas kecerobohan yang telah dilakukan oleh Jaka Tingkir. Ternyata, Sultan tidak murka, malahan Sultan menanyakan siapakah pemuda yang kini tinggal di rumah Ki Ganjur. Kesempatan emas ini dimanfaatkan oleh Ki Ganjur. Serta merta Ki Ganjur menyampaikan siapa sesungguhnya Jaka Tingkir. Sultan Trenggana terkejut. Namun, sedemikian pintarnya Ki Ganjur meyakinkan Sultan, pada akhirnya, Sultan Demak-pun berkata :
“Paman Ganjur, jika memang benar apa yang kamu katakan barusan, beranikah Jaka Tingkir aku uji kesaktiannya?”
Ki Ganjur diam. Tapi tak ada jalan lain.
“Jika memang Kangjeng Sultan berkehendak seperti itu, kami hanya bisa pasrah saja. Tapi beribu ampun, Kangjeng. Kalau boleh hamba tahu, Kangjeng hendak menguji anak saya Tingkir dengan cara bagaimana ?”
Kangjeng Sultan tersenyum :
“Seperti halnya menguji calon pasukan pengawal Sultan. Yaitu diadu dengan seekor banteng. Beranikah?”
Ki Ganjur menyutujui.
Dan pada hari yang telah ditentukan, di lapangan tempat pengujian para prajurid, dengan disaksikan oleh Sultan Demak sendiri, beserta beberapa pejabat dan para pasukan pengawal Sultan, Jaka Tingkir, siap diuji kesaktiannya!
Jaka Tingkir yang telah banyak belajar ilmu bela diri, termasuk cara menggunakan berbagai senjata, cara berkuda dan ilmu-ilmu kanoragan dari para pertapa Shiwa Buddha, kini semua yang telah dipelajarinya tersebut, harus ditunjukkan semaksimal mungkin. Karena hari ini adalah hari penentuan bagi masa depan Jaka Tingkir dikemudian hari!
Jaka Tingkir dengan gagahnya menaiki seekor kuda sembari membawa busur panah. Tegang dia menunggu bunyi gong tanda dilepaskannya banteng liar sebagai lawan tandingnya. Manakala dari atas panggung, Kangjeng Sultan Trenggana mengangkat tangan kanannya, maka, gong-pun dipukul nyalang oleh seorang prajurid khusus! Menyusul…seekor banteng liar tiba-tiba masuk ke dalam areal lapangan!
Sorak-sorai terdengar. Jaka Tingkir menggebrak kudanya. Gemuruh suara para prajurid menambah semangat Jaka Tingkir. Untuk beberapa saat, Jaka Tingkir memacu kuda mengelilingi tubuh banteng tersebut. Banteng mendengus. Sesaat belum terpancing. Namun sesaat kemudian, banteng berubah semakin liar!
Banteng menyerang Jaka Tingkir . Jaka Tingkir sigap, kuda berputar indah menghindari serudukan banteng! Gemuruh suara prajurid terdengar melihat gerakan indah cara menghindar yang dipertunjukkan oleh Jaka Tingkir. Sultan Trenggana tersenyum .
Serudukan awal itu luput, banteng memutar badannya, mendengus kencang, lantas kembali mengejar Jaka Tingkir. Aksi kejar-kejaran terjadi. Jaka Tingkir dengan lihai mampu menjaga jarak yang tetap antara kudanya dan banteng yang terus mengejar. Dan….dengan gagahnya, Jaka Tingkir melepaskan tali kekang kuda sembari mengangkat tubuhnya dari pelana. Dengan posisi miring ke arah belakang, Jaka Tingkir melepaskan beberapa anak panah! Tidak terlihat kapan Jaka Tingkir mengambil anak panah dari pundaknya! Anak panah meluncur deras dan tepat mengenai tubuh banteng! Banteng terluka! Serudukannya agak goyah! Gemuruh prajurid riuh rendah melihat ketangkasan Jaka Tingkir yang mampu mengendarai kuda tanpa memegang tali kekang dan sekaligus melepaskan anak panah dengan fokus yang terarah!

Bersambung….. Lanjutan 2

Lanjutan 2..


Banteng mendengus!!! Semakin liar!!

Tiba-tiba, dari arah pinggir, muncul due ekor banteng lain! Keduanya langsung menyerang Jaka Tingkir! Dengan sangat lincah Jaka Tingkir memacu kuda dan mengambil sebatang tombak yang tersedia dipinggir arena. Sekali lagi, Jaka Tingkir bangkit dari pelana kuda, tombak terarah pada salah satu banteng! Sesaat Jaka Tingkir mengarahkan tombaknya! Sesaat kemudian dia melemparkan tombak ditangannya kearah tubuh salah satu banteng! Tepat! Seekor banteng perutnya jebol terkena tombak!
Jaka Tingkir berputar lagi menuju pinggiran arena, dia menyambar sebatang tombak lagi, seperti yang tadi, Jaka Tingkir melemparkan tombak kearah salah satu banteng yang lain. Sekali lagi, seekor banteng terkena bidikan tombaknya!
Jaka Tingkir tidak membuang waktu, dengan tetap memacu kudanya, beberapa kali dilepaskannya anak panah. Bidikan anak panah tak ada yang meleset, mengarah satu persatu ke tubuh ketiga banteng yang kebingungan hendak menyeruduk!
Kondisi ketiga banteng sudah lemah. Jaka Tingkir mendekati salah seekor banteng. Dengan indahnya, dia melompat dari punggung kuda yang dinaikinya, berpindah ke punggung banteng. Banteng melonjak-lonjak! Nampak Jaka Tingkir ikut terayun-ayun. Namun dengan kecepatan yang luar biasa Jaka Tingkir menancapkan sebilah keris dileher banteng yang dinaikinya!
Banteng roboh! Meregang nyawa! Seekor banteng yang lain mendekat! Jaka Tingkir lari menghindar. Tapi, bersamaan dengan itu, cepat keris ditangannya mengarah ke leher banteng yang menyeruduknya…Leher banteng terkoyak! Banteng lari kepinggir…dan roboh meregang nyawa!
Gemuruh sorak sorai prajurid kembali terdengar!
Tinggal seekor lagi……
Sultan Trenggana terlihat bangkit dari duduknya. Dia nampak terpikat dengan ketangkasan Jaka Tingkir!
Sedangkan ditengah arena, Jaka Tingkir berlari menghampiri kudanya. Kembali dia menaiki kuda.Tombak kembali dia raih. Dan tombak meluncur mengarah tubuh banteng! Telak! Banteng mendengus…dan roboh akibat telah banyak luka-luka ditubuhnya! Sorak sorai lebih hebat membahana mengiringi kemenangan Jaka Tingkir.
Dan Sultan Demak-pun puas!

Jaka Tingkir diangkat sebagai Lurah Prajurid Pengawal Sultan Demak.

Berhasil dengan gemilang melewati uji keprajuridan pasukan pengawal Sultan, nama Jaka Tingkir seketika dikenal dan merebak dikalangan istana. Identitas Jaka Tingkir sebagai putra Ki Ageng Pengging pun sudah banyak yang tahu. Banyak para pejabat Demak yang kagum pada ketangkasan Jaka Tingkir, namun disebagian pihak, bergulir pula sebuah kecemasan.
Sunan Kudus, adalah salah seorang yang mencemaskan hal tersebut, dia mengutarakan kecemasannya atas masuknya putra Ki Ageng Pengging dilingkungan istana Demak kepada Sultan Trenggana langsung. Namun, Sultan Trenggana sudah terlanjur menyukai Jaka Tingkir. Kecemasan Sunan Kudus tidak begitu ditanggapi Sultan Demak.
Dan, manakala Sultan Trenggana melantik Jaka Tingkir sebagai Lurah Prajurid Pengawal Sultan Demak, maka gegerlah seluruh pejabat. Ada yang diam-diam menolak dan tidak puas atas keputusan tersebut, namun banyak pula yang bergembira mendengar keputusan Sultan.
Dan masa depan Jaka Tingkir sudah nampak didepan mata.
Kemampuan Jaka Tingkir kerap kali teruji. Sebagai Lurah Prajurid Pengawal Sultan, Jaka Tingkir mampu memberikan rasa aman bagi Sultan Trenggana. Pernah suatu ketika, manakala Sultan Trenggana tengah melakukan perburuan dihutan, Jaka Tingkir berhasil menyelamatkan Sultan Trenggana dari serangan gerombolan gerilyawan Majapahit.
Jaka Tingkir mampu mengusir gerombolan gerilyawan tersebut tanpa pertempuran sama sekali. Pemimpin gerombolan mematuhi perintah Jaka Tingkir, sang putra Ki Ageng Pengging, untuk tidak meneruskan penyerangannya.
Begitu juga suatu ketika, saat Jaka Tingkir mengawal Sultan Trenggana yang tengah berkunjung ke wilayah bagian Demak melalui rute menyeberangi sebuah sungai, Jaka Tingkir mampu mengundurkan gerombolan gerilyawan Majapahit pula yang tengah menyerang secara tiba-tiba rombongan Sultan Trenggana. Jaka Tingkir mengundurkan mereka tanpa pertempuran sama sekali! Sultan Trenggana merasa sangat terlindungi dan aman dengan Jaka Tingkir yang berada disampingnya.
(Dalam Babad Tanah Jawa dikisahkan, manakala Sultan Trenggana tengah berburu, Jaka Tingkir berhasil menangkap seekor harimau yang hendak mengganggu Sultan. Harimau tersebut ditaklukkan dan dipanggul oleh Jaka Tingkir. Ditunjukkan kepada Sultan Demak, lantas dilepaskannya. Dan dilain waktu, manakala Sultan Demak tengah mengadakan kunjungan ke wilayah bagian dengan melewati rute menyeberangi sebuah sungai, tiba-tiba muncul buaya yang besar! Jaka Tingkir terjun ke sungai, dia bergulat dengan buaya. Buaya berhasil ditangkap, diperlihatkan kepada Sultan Trenggana dan lantas dilepaskan : Damar Shashangka)

Jaka Tingkir sangat dekat dengan Sultan Trenggana. Lebih dekat daripada pejabat-pejabat yang lain, seperti Sunan Kudus maupun Fatahillah, Sang Senopati Demak Bintara. Keselamatan Sultan benar-benar terjaga apabila Jaka Tingkir melakukan pengawalan. Seluruh lasykar Majapahit yang masih bergerilya, sangat menghormati dan menyegani putra Ki Ageng Pengging tersebut. Apa yang disampaikan oleh Ki Ganjur, terbukti sudah. Dan Sultan Trenggana semakin menyayangi Jaka Tingkir.
Pada suatu ketika, Sultan Trenggana mengeluarkan maklumat khusus, membuka kesempatan kepada pemuda-pemuda Demak untuk mengabdi sebagai Pasukan pengawal Sultan. Sultan Demak menghendaki jumlah personil pasukan pengawal ditambah dengan mengambil personil baru diluar personil angkatan perang yang sudah ada.
Maklumat istimewa tersebut disambut antusias oleh seluruh pemuda-pemuda Demak. Banyak yang berdatangan ke ibu kota Demak. Mereka mengajukan diri untuk bersedia mengabdi sebagai anggota Pasukan pengawal Sultan.
Setiap pemuda harus melewati ujian-ujian yang tidak mudah. Banyak yang berhasil, tapi lebih banyak pula yang gagal. Jaka Tingkir mendapat tugas melakukan penyeleksian dan pengujian. Konon, seluruh pemuda yang berasal dari padepokan-padepokan di pelosok Tanah Jawa, banyak yang berdatangan. Dengan mengandalkan kesaktian yang telah mereka peroleh dari guru masing-masing, para pemuda ini mencoba peruntungannya di Demak Bintara.


Ane copas sampai sini duluu,mungkin kisah selanjutnya.. ke kisah “Pemberontakan Ki Ageng Sela”
Quote:Original Posted By antoncare
salam -salim buat sedulur ,sesepuh dan teman-teman kaskuser semua yang dimari
hemm,ane urun cerita aj nih,ane dapat di blog sebelah, buat nambah warna warni ragam cerita tentang joko tingkir..terlepas dari benar tidaknya,sumonggo diperhatikan secara seksama...

Putra tunggal Ki Ageng Pengging yang diasuh oleh Nyi Ageng Tingkir, telah tumbuh dewasa. Begitu menginjak dewasa, Nyi Ageng Tingkir selalu dibuat was-was dengan tingkah laku keponakannya ini.
Menginjak usia lima belas tahunan, Mas Karebet gemar pergi ke tengah hutan belantara. Hal ini dilakukannya berhari-hari tanpa pulang. Pulang-pulang cuma sebentar, lantas pergi lagi. Wilayah Tingkir yang masih dikelilingi hutan rimba, kini dipegang oleh pejabat baru yang ditunjuk oleh Sultan Demak. Nyi Ageng Tingkir, sebagai seorang janda bekas Adipati, hidup berkecukupan dari hasil bersawah. Nyi Ageng Tingkir tidak memiliki putra. Praktis, Mas Karebet, keponakannya itu, sangat-sangat beliau sayangi.
Namun, kegemaran Mas Karebet yang sangat suka bepergian dari rumah dan sering memasuki hutan belantara, sangat-sangat mencemaskan Nyi Ageng Tingkir. Manakala Mas Karebet pulang, berkali-kali Nyi Ageng Tingkir mengutarakan kecemasannya. Namun setiap kali pula Mas Karebet menjawab :
“Ibu, jangan khawatir. Di hutan saya banyak memiliki teman pertapa Shiwa Buddha. Saya ke hutan tidak hanya sekedar bermain-main, tapi ngangsu kawruh (menimba ilmu) dari beliau-beliau.”
Walau begitu, Nyi Ageng tetap saja mencemaskan keselamatan putra keponakannya yang sudah dianggap sebagai putranya sendiri. Hingga pada suatu ketika, Nyi Ageng memanggil seorang ulama Islam ke kediaman beliau, khusus didatangkan dan diupah untuk mengajar Mas Karebet. Tapi Mas Karebet sama sekali tidak tertarik. Dia tetap meneruskan kegemarannya mengunjungi para pertapa didalam hutan.
Kebiasaan ini terus berlanjut hingga usia Mas Karebet menginjak dua puluh lima tahun. ( Mas Karebet lahir pada tahun 1499 Masehi : Damar Shashangka) Dan pada akhirnya, kesabaran Nyi Ageng Tingkir benar-benar habis. Dia melarang Mas Karebet pergi dari rumah. Nyi Ageng mengutus dua orang pembantu untuk terus mengawasi Mas Karebet. Mas Karebet diperintahkan Nyi Ageng untuk ikut bekerja bersama pembantu-pembantu yang lain disawah!


akhirnya ane dptin informasi ttg tahun kelahirannya Mas Karebet / Joko Tingkir / Sultan Hadiwijaya....ane dah ngubeg2 di mbah Wiki & mbah gugel ga dpt2 infonya.....dan akhirnya ane dptin info tahun lahirnya Joko Tingkir di dlm cerita yg dishare ama kang antoncare.... btw mksh bnyak kang antoncare buat sharing ceritanya....cukup menarik dan jd penasaran kelanjutannya dr cerita ini, nih.....di lanjut lg copasnya kang....ane mau ngedprok dulu sambil minum kopi dan slalu siap nunggu kelanjutan copasannya dr kang antoncare
ane mau coba buat catatan yg mngkin bs berguna & dijadikan sumber awal utk "merekonstruksi" sejarah ttg figur JOKO TINGKIR & KESULTANAN PAJANG HADININGRAT berdasarkan cerita yg dishare & dicopas ama kang antoncare

Quote:Original Posted By antoncare

Putra tunggal Ki Ageng Pengging yang diasuh oleh Nyi Ageng Tingkir, telah tumbuh dewasa. Begitu menginjak dewasa, Nyi Ageng Tingkir selalu dibuat was-was dengan tingkah laku keponakannya ini.


1. Ki Ageng Pengging hanya mempunyai satu anak yaitu Joko Tingkir.
2. Berarti antara Ki Ageng Pengging dan Ki Ageng Tingkir msh ada hubungan saudara.


Quote:Original Posted By antoncare

Dia tetap meneruskan kegemarannya mengunjungi para pertapa didalam hutan. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga usia Mas Karebet menginjak dua puluh lima tahun. ( Mas Karebet lahir pada tahun 1499 Masehi : Damar Shashangka).


Dari kalimat diatas dpt disimpulkan bahwa ketika Joko Tingkir berusia sekitar 25 tahun, Joko Tingkir belum pergi ke Kotaraja Demak utk mendaftarkan diri menjadi prajurit Demak

Quote:Original Posted By antoncare

Dan, begitu sosok tua ini sedemikian dekatnya dengan Mas Karebet, mendadak dia menghentikan langkahnya. Dia menatap Mas Karebat sambil tersenyum. Wajahnya luar biasa cerah. Mas Karebet tertegun…
“Ngger, Aneng kene dede pakaryanira. Ananging sejatine, pakaryanira aneng Keraton Demak. Wis, ngger, pamita marang ibunira, mangkata suwita marang Kangjeng Sultan Demak. Weruha, ngger. Sira iku bebakale Ratu Tanah Jawa!”
(Anakku, disini bukanlah tempatmu bekerja. Akan tetapi sesungguhnya, pekerjaanmu ada di Keraton Demak. Sudahlah anakku, mohon ijinlah kepada ibumu, berangkatlah mengabdi kepada Kangjeng Sultan Demak. Ketahuilah anakku, kamu adalah calon Raja Tanah Jawa!)
Mas Karebet tersentak. Namun dia tidak bisa berkata apa-apa. Dan orang tua itu segera berlalu. Mata Mas Karebet tak lekang-lekang mengikuti kepergian sosok misterius tersebut. Otaknya berputar, mencerna kata-kata yang barusan didengarnya.
Dan hanya sekejap Mas Karebet melepaskan pandangan matanya pada sosok misterius tersebut, dia sejenak menunduk, mengingat kata-kata orang tua tadi, sedetik kemudian dia menoleh mencoba kembali mengamati sosok aneh yang barus saja berlalu. Tapi aneh! Sosok itu sudah tidak ada! Padahal pematang sawah itu masih panjang jaraknya dari jalan desa! Mas Karebet tercengang! Sontak dia bangkit mencari-cari kemana orang tadi berjalan!
Mas Karebet kelimpungan! Masih terngiang kata-kata orang misterius barusan! Segera Mas Karebet memutuskan untuk pulang kerumah, melaporkan kejadian tersebut kepada ibunya, Nyi Ageng Tingkir!
Mendapati cerita Mas Karebet, Nyi Ageng Tingkir mengernyitkan kening dan bertanya :
“Ngger, bagaimana ciri-ciri orang tersebut?”
Mas Karebet menjawab :
“Angagem sarwa wulung. Busana wulung, iket wulung.”
(Mengenakan pakaian serba hitam. Berjubah hitam dan berikat kepala hitam)

Nyi Ageng Tingkir memekik kaget :
“Itu Kangjeng Sunan Kalijaga! Sudah, ngger, berangkatlah ke Demak. Aku mempunyai seorang kakak kandung yang menjabat sebagai Lurah Kaum ( Kepala pengurus masjid Istana : Damar Shashangka)), namanya Ki Ganjur. Sudahlah, aku kirim kamu kesana. Ikutlah pamanmu di Demak Bintara!”


Memang ada indikasi kuat kalau Sunan Kalijogo adalah tokoh yg mempunyai peranan penting dlm mendukung & membantu karir Joko Tingkir selama mengabdikan diri di Kesultanan Demak Bintoro krn Sunan Kalijogo merupakan salah satu tokoh berpengaruh dan dipercaya oleh Sultan Trenggono. Faktor Sunan Kalijogo tersebut lah yg mungkin menjadi jaminan Sultan Trenggono utk tdk ragu menerima Joko Tingkir menjadi prajurit perang Demak walaupun sejarah masa lalu keluarga Joko Tingkir pernah mempunyai konflik dg Kesultanan Demak yg dpt menjadi ancaman potensial yg serius bagi Kesultanan Demak.

Quote:Original Posted By antoncare

Mas Karebet mulai tinggal diibu kota Demak tepat pada tahun 1524 Masehi.


Berarti Joko Tingkir ketika pergi menuju ke Kotaraja Demak pd usia 25 tahun berdasarkan pd informasi tahun kelahiran Joko Tingkir pd tahun 1499 Masehi

Quote:Original Posted By antoncare

Ki Ganjur akan meyakinkan Sultan Demak bahwasanya sosok Jaka Tingkir sangat-sangat dibutuhkan oleh Kesultanan. Jaka Tingkir masih putra Ki Ageng Pengging. Sosok yang sangat disegani sisa-sisa bangsawan Majapahit. Dengan memanfaatkan Jaka Tingkir, Sultan Demak bisa menaklukkan kekuatan-kekuatan Shiwa Buddha yang dibeberapa daerah masih juga terus mengadakan perlawanan, baik yang terang-terangan maupun gerilya...


Tokoh Ki Ganjur mngkin perlu dianalisa lbh jauh lg....apakah tokoh ini adalah tokoh yg memang benar2 ada atau hanya tokoh fiktif dlm cerita ini....tp mngkin peran dr tokoh Ki Ganjur seperti yg diceritakan dlm cerita ini yg mencoba meyakinkan Sultan Trenggono dg beberapa alasan ttg latar belakang Joko Tingkir tersebut masih kurang mempunyai kekuatan utk bisa meyakinkan sang sultan dg memperhatikan jabatan Ki Ganjur yg hanya sbg Lurah Kaum (Kepala Pengurus Mesjid Istana). Menurut pendpt ane dibutuhkan figur tokoh yg lbh berpengaruh lg utk bs meyakinkan seorang Sultan Trenggono utk mau menerima Joko Tingkir menjadi abdi sang sultan krn latar belakang Joko Tingkir yg disebutkan diatas merupakan hal yg sangat serius utk dijadikan bahan pertimbangan sang sultan. Kemungkinan menurut perkiraan ane, peran Ki Ganjur yg menyakinkan sang sultan dg alasan2 latar belakang yg dipunyai oleh Joko Tingkir seperti dlm cerita itu justru dilakukan oleh Sunan Kalijogo.


Quote:Original Posted By wongsokromo
akhirnya ane dptin informasi ttg tahun kelahirannya Mas Karebet / Joko Tingkir / Sultan Hadiwijaya....ane dah ngubeg2 di mbah Wiki & mbah gugel ga dpt2 infonya.....dan akhirnya ane dptin info tahun lahirnya Joko Tingkir di dlm cerita yg dishare ama kang antoncare.... btw mksh bnyak kang antoncare buat sharing ceritanya....cukup menarik dan jd penasaran kelanjutannya dr cerita ini, nih.....di lanjut lg copasnya kang....ane mau ngedprok dulu sambil minum kopi dan slalu siap nunggu kelanjutan copasannya dr kang antoncare


salim kang antacore, salim kang wongso, salim semua..
sangat menarik mengetahui versi kang antacore ini.
ditunggu lanjutannya...
numpang deprok dipojokan.. monggo kangmas, dilanjut.
Quote:Original Posted By wongsokromo


kalo ane simak analisa Masagung diatas...kelihatannya Masagung melihat adanya pihak atau org berpengaruh yg mendukung dan menghendaki serta merencanakan skenario yg Masagung sebutkan diatas. Cmn skrng yg menjadi pertanyaan siapakah pihak / orang berpengaruh yg membuat skenario tersebut utk Joko Tingkir ? apakah mungkin tokoh itu adalah Sunan Kalijogo ? krn konon menurut cerita yg pernah ada bahwa Joko Tingkir pernah bertemu dg seorang yg misterius yg wajahnya tertutupi oleh caping petani yg menyuruh Joko Tingkir utk pergi ke Kotaraja Demak utk mengabdi dan mendaftarkan diri utk masuk ke dlm keprajuritan Kesultanan Demak Bintoro dan konon org misterius itu ciri2nya mirip dg Sunan Kalijaga.

Dan memang keliatannya mempunyai indikasi yg sangat kuat ttg dukungan dan keberpihakan Sunan Kalijogo kpd Joko Tingkir.



wah saya tidak menuduh siapa2 lho mas
bagaimanapun juga karebet itu titisan dari brawijaya terakhir masih trahing kusuma rembesing madu jadi pasti pendidikan, kebiasaan dan adat maupun tata cara kerajaan majapahit masih terbawa.
bisa jadi karebet memang diharapkan untuk membawa kembali kejayaan majapahit bisa juga untuk meneruskan 'perjuangan' ayahnya.

Quote:Original Posted By wongsokromo


ternyata "Tombak Kyai Pleret" hanya mampu melukai & tdk mampu membunuh Aryo Penangsang. Krn yg membuat tewasnya Aryo Penangsang adalah keris pusakanya sendiri yg bernama "Keris Kyai Setan Kober" senjata andalannya Aryo Penangsang.

Dr deskripsi peristiwa diatas bs diambil kesimpulan bahwa senjata pusaka andalan dr Ki Ageng Pamanahan dan Danang Sutawijaya yg brnama "Tombak Kyai Pleret" msh kalah sakti dibandingkan kesaktian yg dipunyai oleh Aryo Penangsang itu sendiri. Dan mungkin hal itu pula yg membuat Danang Sutawijaya / Panembahan Senopati tidak merasa puas dg senjata pusaka andalan yg dipunyainya tersebut sehingga membuat Panembahan Senopati mengincar dan sangat tertarik serta bernafsu utk memiliki & menguasai senjata pusaka andalan dr Joko Tingkir yg konon mempunyai kesaktian yg sama dg "Keris Kyai Setan Kober".

Karena menurut cerita yg pernah ane baca di Wikipedia, ada pernyataan dr Panembahan Senopati yg ketika Pangeran Benowo akhirnya menawarkan dan berniat utk menyerahkan takhta dan keraton Kesultanan Pajang Hadiningrat kepada Panembahan Senopati tetapi ditolaknya dan kemudian Panembahan Senapati hanya tertarik & meminta beberapa pusaka Pajang untuk dirawat di Mataram. ( sumber referensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Panembahan_Senopati ).



kyai pleret saja tidak bisa membunuh penangsang, jadi kalau benar ada 'sayembara' siapa sih yg punya pusaka lebih ampuh dari kyai pleret ?
terus siapa pula yg punya kesaktian yg bisa menandingi penangsang ?

Quote:Original Posted By wongsokromo


kalo benar "King Maker" yg Masagung indikasikan adalah tertuju ke Wali Songo yg tlh memberikan tugas kpd Ki Ageng Pamanahan dan saudara2nya utk menerima tantangan membunuh Aryo Penangsang dg maksud utk mendptkan tanah perdikan, lalu akan timbul pertanyaan.....siapa sajakah dr para sunan yg ada dlm jajaran Wali Songo yg menjadi "King Maker" sprti yg Masagung maksud diatas ? krn perlu di cermati beberapa hal bahwa Sunan Kudus sbg guru dr Aryo Penangsang dan dpt dipastikan berpihak kpd Aryo Penangsang akan sangat tdk setuju dan akan menentang dg "tugas" utk membunuh murid kesayangannya itu.

Dan perlu jg dianalisa terhadap peristiwa penyerangan dan penguasaan Kotaraja Demak yg dilakukan oleh pengikut Aryo Penangsang dlm usahanya mengkudeta pemerintahan kesultanan Demak yg sah pd waktu itu yg dipegang oleh Sunan Prawoto seperti yg diceritakan dlm Kronik Cina, tentu akan ada indikasi keterlibatan dan restu dr Sunan Kudus dan pengikutnya dlm membantu penyerangan dan penguasaan thdp Kotaraja Demak.





perlu saya luruskan kalau saya sebut walisongo sebagai king maker krn kekuasaan mereka melebihi raja, bahkan punya pengaruh untuk menentukan siapa yg jadi raja, jadi bukan personal salah satu dari walisongo.

mengenai penjelasan anda, sebenarnya diantara walisongo sendiri terjadi perbedaan pendapat dlm menentukan dukungan, Sunan Kudus jelas mendukung penangsang krn dia yg mendidik sejak bayi dan ayah karebet adalah 'musuh' yg tewas ditanganya.
Dalam suatu episode ketika karebet menghadap untuk meminta (atau mengembalikan, saya lupa) setan kober, sunan kudus memasang rajah kalacakra di tempat duduk untuk menetralisir semua ilmu karebet, tapi justru tempat duduk itu yg menempati penangsang.
Ketika terjadi pertemuan penangsang terbakar emosi sampai menghunus setan kober, Sunan Kudus memberi perintah 'Ngger...sarungno !!' mkasudnya memberi restu penangsang untuk menikam karebet tetapi lagi2 penangsang membuat kesalahan dgn menafsirkan itu perintah untuk memasukkan setan kober kedalam sarung (warangka)nya..


Quote:Original Posted By wongsokromo


dr kalimat diatas ane bs mengansumsikan bahwa adanya pihak2 yg sengaja mengusulkan dan membujuk Sultan Hadiwijaya utk mengadakan "sayembara" itu dg tujuan terselubungnya adalah mendptkan wilayah tanah perdikan. Apakah ini strategi dr Ki Ageng Pemanahan utk merealisasikan atau mewujudkan mimpinya yg dianggapnya sbg wahyu bahwa keterununannya kelak akan menjadi raja2 tanah jawa ? krn pd masa itu Ki Ageng Pamanahan dan saudara2nya (Ki Ageng Penjawi & Ki Juru Martani) adalah merupakan salah satu orang yg dekat dan menjadi penasehat bagi Sultan Hadiwijaya.



Demak Bintoro adalah kerajaan Islam kemudian ada kerajaan Pajang yg tidak pernah (atau mungkin saya belum ketemu) informasi apakah pajang itu kerajaan islam atau bukan meskipun rajanya bergelar sultan, kemudian berdirilah kerajaan mataram yg jelas kerajaan islam krn rajanya bergelar 'Sayidin Panatagama Kalifatullah Tanah Jawa'.

Dimasa kerajaan Demak para wali banyak berperan tetapi ketika mataram berdiri dan muncul 'Kalifatullah' peran wali sudah tidak pernah terlihat lagi dalam urusan pemerintahan.

Coba lihat benang merahnya, apakah mataram dibentuk untuk melanjutkan kerajaan islam Demak Bintoro yg gagal krn perang saudara, atau memang era wali memang sudah berakhir krn mereka sudah meninggal dunia.

masalah kemudian mataram pun tidak mencirikan islam itu lain lagi.

Quote:Original Posted By wongsokromo


Dengan melihat latar belakang sejarah keluarga Joko Tingkir dan kemungkinan2 dampak yg akan terjadi terhadap pemerintahan Kesultanan Demak seperti yg akang Masagung uraikan diatas....menurut ane fakta2 yg dijabarin diatas tersebut merupakan ancaman laten yg sangat serius bg kelangsungan kekuasaan Kesultanan Demak dan ane yakin Sultan Trenggono mengetahui dan menyadari betul latar belakang sejarah keluarga Joko Tingkir tsb....tp kemudian banyak pertanyaan yg muncul diotak ane dan bikin ane penasaran yg diantaranya adalah :

knpa Sultan Trenggono mau mengambil resiko yg sangat besar yg dpt mengancam pemerintahan Kesultanan Demak yg dipimpinnya dg mau menerima Joko Tingkir masuk ke dlm kesatuan keprajuritannya bahkan diberikan jabatan yg cukup berpengaruh yaitu sbg Lurah Wiratamtama ?
walaupun Joko Tingkir tlh mampu utk dpt membunuh Kerbau/Banteng yg mengamuk di keramaian Kotaraja Demak tetapi menjadikan kejadian tsb sbg alasan utk menerima Joko Tingkir di dlm kesatuan keprajuritan Demak Bintoro sbg bentuk hadiah atas jasa2nya adalah tetap merupakan suatu resiko yg sangat besar dan tetap tdk bs menghilangkan ancam potensial bg pemerintahan kesultanan Demak dg memperhatikan sejarah masa lalu keluarganya.

Anggap lah ketika kejadian Joko Tingkir dpt membunuh banteng/kerbau yg mengamuk dan kemudian mendptkan hadiah dg diterima sbg prajurit di Demak dan pada waktu itu mngkn Sultan Trenggono msh blm mengetahui dg jelas jatidiri dan silsilah Joko Tingkir yg sebenarnya....tetapi tdk lama kemudian jati diri sebenarnya Joko Tingkir akhirnya dpt diketahui oleh Sultan Trenggono....

dan kenapa sikap Sultan Trenggono msh tetap membiarkan Joko Tingkir utk tetap bertahan di dlm kesatuan keprajuritannya ?

kenapa ketika Sultan Trenggono mengetahui dan menyadari jati diri Joko Tingkir yg mempunyai potensi bs mengancam dan membahayakan Kesultanan Demak Bintoro tidak mengeluarkan langsung Joko Tingkir dr keprajuritan Demak ?

bahkan kenapa malah kemudian Joko Tingkir diberikan jabatan yg berpengaruh di keprajuritan Demak sbg Lurah Wiratamtama ?

Dari banyaknya pertanyaan yg ada dibenak ane dan mencoba memahaminya....ane melihat adanya indikasi yg sangat kuat bahwa ada sosok/tokoh yg sangat berpengaruh di pemerintahan Sultan Trenggono yg bs dan mampu meyakinkan sang sultan utk menerima Joko Tingkir....dan tokoh berpengaruh ini kelihatannya telah mampu pula memberikan jaminan kpd sang sultan bahwa image negatif latar belakang sejarah masa lalu keluarga Joko Tingkir tdk akan mengancam dan menggrogoti kedudukan sang sultan.

Dg uraian tersebut diatas...ane mulai sependapat dg analisa kang Masagung yg menyatakan bahwa adanya indikasi skenario yg dirancang oleh tokoh yg sangat berpengaruh di kesultanan Demak utk mendukung Joko Tingkir masuk ke dalam lingkaran atas istana Demak. cmn masalahnya adalah Siapakah sebenarnya tokoh berpengaruh tersebut ? apakah tokoh berpengaruh tersebut adalah Sunan Kalijogo ?



jangan lupa mereka masih dalam satu ikatan saudara mas, bisa jadi maksudnya untuk rekonsiliasi menyatukan kembali keluarga yg pecah dan menghapus dendam lama.
lagipula dgn diberikan posisi kpd karebet maka akan mencegah pemberontakan2 dari sisa laskar majapahit, mereka akan segan memberontak krn nantinya sama saja melawan karebet.

Quote:Original Posted By wongsokromo


ini informasi yg bener2 baru ane denger dr kang Masagung soal adanya bekas pelabuhan dr Kesultanan Pajang Hadiningrat di aliran sungai Bengawan Solo. Dan memang masuk dlm logika juga kalau jaman dulu Kesultanan Pajang Hadiningrat mempunyai pelabuhan kapal di sungai Bengawan Solo krn sungai tersebut memang adalah urat nadi transportasi perekonomian & perdagangan bg Kesultanan Pajang Hadiningrat.

kira2 kang Masagung punya poto2 ttg bekas pelabuhan Kesultanan Pajang itu ga ? kalau ada bs di share di sini dong kang biar menambah informasi dan wawasan sejarah ane dan temen2 yg ada disini.




kebetulan saya sudah lama gak ke solo, nanti kalau mungkin saya sempatkan untuk mengambil fotonya.
Mentafsirkan Fragmen Joko Tingkir menuju Istana

1. Membunuh kerbau.
ada episode ketika karebet sengaja memasukan tanah (atau serangga?) ke telinga kerbau sehingga mengamuk hingga akhirnya karebet turun tangan dan berhasil membunuhnya.
barangkali ini adalah sanepan kala itu si karebet memprovokasi orang kuat/yg paling disegani. Memasukkan sesuatu ke telinga yg membuat marah bisa saja itu sanepan kata2 yg mengompori/provokasi supaya orang marah.

2. Menaklukan 40 buaya.
Sigro milir
Sang Gethek sinangga bajul
ing ngarso miwah ing pungkur
anepi ing kanan kering
sang gethek lampahnyo alon.

tembang diatas menceritakan kalau rakit joko tingkir digendong buaya dari depan, belakang dan kanan kiri.

bajul itu sebutan untuk penjahat jadi mungkin saja ini sanepan bahwa joko tingkir sudah menaklukan para perompak, preman, jawara dan jagoan yg disegani disepanjang aliran bengawan solo.
itu berarti wilayah pajang sampai jawa timur lho

3. membunuh dadhung awuk
diceritakan karebet kelepasan sampai membunuh komandanya yg arogan, bisa jadi ini siasat supaya dia cepet naik pangkat krn di jaman itu prajurit yg lebih sakti maka kesempatan pangkatnya akan lebih tinggi.

4. melompati kolam sambil tetap menyembah raja.
ada kisah ketika sultan hendak sholat jum'at berpapasan dgn joko tingkir (yg sebenarnya sdh menunggu), krn medanya sempit tidak mungkin kalau bisa lewat kecuali salah satunya bisa tercebur ke kolam, maka dgn cekatan joko tingkir melompati mundur kolam itu sambil tetap menyembah/menghormat raja, dan ini menarik perhatian raja krn tidak sembarangan orang yg mampu melakukanya.

jadi pencitraan itu sudah ada sejak jaman baheula
Quote:Original Posted By rakyat bergitar


salim kang antacore, salim kang wongso, salim semua..
sangat menarik mengetahui versi kang antacore ini.
ditunggu lanjutannya...
numpang deprok dipojokan.. monggo kangmas, dilanjut.


salim jg buat kang mas rakyat bergitar....ane jg lg ngedeprok dipojokan nih kang sambil nuggu kelanjutan cerita yg mau dicopas ama kang mas antoncare....dah abis bergelas2 kopi ane ngedeprok dipojokan ampe perut ane jd kembung nih.....hehehehe....

Quote:Original Posted By Masagung

wah saya tidak menuduh siapa2 lho mas
bagaimanapun juga karebet itu titisan dari brawijaya terakhir masih trahing kusuma rembesing madu jadi pasti pendidikan, kebiasaan dan adat maupun tata cara kerajaan majapahit masih terbawa.
bisa jadi karebet memang diharapkan untuk membawa kembali kejayaan majapahit bisa juga untuk meneruskan 'perjuangan' ayahnya.


iya kang mas...saya mohon maaf kalau kalimat yg saya pakai kurang tepat dlm menafsirkan analisa kang mas....saya jd malu nih ama kang mas.... btw terlepas dr itu semua stlah memperhatikan dan mencoba menganalisa beberapa uraian yg disampaikan oleh teman2 dan juga analisa dr kang masagung yg berpartisipasi dlm diskusi di sini....saya mempunyai kesimpulan adanya indikasi kalau proses Joko Tingkir menuju dan mengabdikan diri ke Demak telah mendptkan arahan & restu serta dukungan dr salah satu tokoh yg sangat berpengaruh di Kesultanan Demak untuk dapat mampu bertahan dlm lingkungan politik di Demak yg sebenarnya justru menganggap latar belakang masa lalu keluarga Joko Tingkir merupakan lawan politik bg pemerintahan yg berkuasa di Demak. Dan sangatlah tidak mungkin apabila Joko Tingkir berjuang sendirian utk bisa masuk dan kemudian akhirnya dpt diterima dlm politik Demak tanpa adanya campur tangan dan bantuan serta dukungan dr tokoh yg sangat berpengaruh dilingkungan istana Demak.

Quote:Original Posted By Masagung

kyai pleret saja tidak bisa membunuh penangsang, jadi kalau benar ada 'sayembara' siapa sih yg punya pusaka lebih ampuh dari kyai pleret ?
terus siapa pula yg punya kesaktian yg bisa menandingi penangsang ?


memang agak sedikit adanya keanehan dan kejanggalan mengenai adanya sebuah "sayembara" dan pemilihan Ki Ageng Pamanahan dan saudara2nya untuk menjadi lawan tanding & membunuh Aryo Penangsang apalagi dg adanya hadiah tanah perdikan padahal seharusnya Sultan Hadiwijaya bisa saja dlm menumpas aksi pemberontakan Aryo Penangsang dan pasukannya yg sebelumnya telah menyerang & mampu menguasai Kotaraja Demak dapat menggunakan prosedur resmi yaitu memerintahkan dan memobilisasi seluruh komponen kekuatan yang ada di Kesultanan Demak & Pajang yaitu masyarakatnya dan juga pasukan perangnya untuk bersatu padu melakukan perang terbuka dlm melawan pasukan pemberontak pimpinan Aryo Penangsang sehingga tuntutan berupa tanah perdikan tidak perlu ada karena perang terbuka utk mempertahankan kedaulatan negara/kerajaan adalah menjadi tanggung jawab seluruh komponen rakyat kesultanan Demak.

Sesakti-saktinya Aryo Penangsang sbg pimpinan pemberontak tidak akan bisa mengalahkan kekuatan seluruh rakyat. Mungkin dengan kesaktian dr Aryo Penangsang bisa memenangkan beberapa pertempuran tp belum tentu bisa memenangkan peperangan secara keseluruhan yg didukung oleh kekuatan rakyat Kesultanan Demak.


Quote:Original Posted By Masagung

perlu saya luruskan kalau saya sebut walisongo sebagai king maker krn kekuasaan mereka melebihi raja, bahkan punya pengaruh untuk menentukan siapa yg jadi raja, jadi bukan personal salah satu dari walisongo.


sekarang saya baru mengerti & paham maksud dr kang masagung ttg "King Maker" dan memang ada rumor bahkan analisa yg menyatakan bahwa Dewan Walisongo yg mempunyai markas komando di Giri Kedaton mempunyai pengaruh yg kuat dan peranan yg sangat vital dlm menentukan serta menyetir hampir semua kebijakan penting yg dilakukan oleh pemerintahan Kesultanan Demak Bintor dan kemudian pengaruh dan peranan Giri Kedaton masih berlanjut ke Kesultanan Pajang Hadiningrat.

Quote:Original Posted By Masagung

mengenai penjelasan anda, sebenarnya diantara walisongo sendiri terjadi perbedaan pendapat dlm menentukan dukungan, Sunan Kudus jelas mendukung penangsang krn dia yg mendidik sejak bayi dan ayah karebet adalah 'musuh' yg tewas ditanganya.


saya pernah baca ada sebuah analisa ttg kekuatan politik pd jaman Kesultanan Demak Bintoro sampai peralihan ke Kesultanan Pajang yg mulai terpecah menjadi 3 kubu :
1. Kubu Giri Kedaton yg mendukung Sultan Trenggono & Prawoto.
2. Kubu Sunan Kudus yg mendukung Aryo Penangsang.
3. Kubu Sunan Kalijogo yg mendukung Mas Karebet / Joko Tingkir


Quote:Original Posted By Masagung

Dalam suatu episode ketika karebet menghadap untuk meminta (atau mengembalikan, saya lupa) setan kober, sunan kudus memasang rajah kalacakra di tempat duduk untuk menetralisir semua ilmu karebet, tapi justru tempat duduk itu yg menempati penangsang.
Ketika terjadi pertemuan penangsang terbakar emosi sampai menghunus setan kober, Sunan Kudus memberi perintah 'Ngger...sarungno !!' mkasudnya memberi restu penangsang untuk menikam karebet tetapi lagi2 penangsang membuat kesalahan dgn menafsirkan itu perintah untuk memasukkan setan kober kedalam sarung (warangka)nya..


Tapi saya juga tdk yakin kalau pun pd waktu itu Aryo Penangsang memahami makna sebenarnya dr perintah Sunan Kudus dan menusukkan Keris Kyai Setan Kober ke badan Joko Tingkir akan membuat Joko Tingkir bisa terbunuh oleh keris pusaka andalannya Aryo Penangsang itu dengan alasan :

1. Joko Tingkir mempunyai ilmu kesaktian yg sangat tinggi bahkan membuat sunan kudus saja merasa khawatir dan meragukan ilmu anak didik kesayangannya Aryo Penangsang dpt mampu mengalahkan kesaktian Joko Tinggkir sehingga membuat Sunan Kudus hrs perlu mempergunakan strategi yg licik dg memasang rajah kalacakra di kursi yg akan diduduki oleh Joko Tingkir untuk menetralisir semua ilmu dr Joko Tingkir, tapi justru kursi itu diduduki oleh Aryo Penangsang.

2. Ilmu kesaktian Aryo Penangsang sendiri pd waktu itu telah ternetralisir oleh rajah kalacakra yg dipasang Sunan Kudus dikursi yg malah diduduki oleh Aryo Penangsang sendiri dan menjadi senjata makan tuan sehingga kalau pun pd waktu itu Aryo Penangsang paham dg makna dr perintah Sunan Kudus serta melaksanakannya menusukkan keris Kyai Setan Kober ke Joko Tingkir pasti lah keampuhan keris pusaka itu sdh tidak akan mampu menembus kesaktian & membunuh Joko Tingkir.

3. Sebelum pertemuan antara Joko Tingkir & Aryo Penangsang serta Sunan Kudus seperti yg diceritakan diatas, pernah Aryo Penangsang menyuruh anak buah pilihannya yg mempunyai ilmu yg dinilai cukup lumayan sakti oleh Aryo Penangsangg yg diharapkan setidak2nya mampu mengimbangi kesaktian Joko Tingkir bahkan dibekali oleh Aryo Penangsang dg Keris Kyai Setan Kober utk melakukan penyusupan & pembunuhan di istana kesultanan Pajang utk membunuh Joko Tingkir. Tetapi usaha itu gagal dan keris Kyai Setan Kober ternyata terbukti tidak mampu menembus bahkan tidak mampu melukai tubuh Joko Tingkir.


Quote:Original Posted By Masagung

Demak Bintoro adalah kerajaan Islam kemudian ada kerajaan Pajang yg tidak pernah (atau mungkin saya belum ketemu) informasi apakah pajang itu kerajaan islam atau bukan meskipun rajanya bergelar sultan, kemudian berdirilah kerajaan mataram yg jelas kerajaan islam krn rajanya bergelar 'Sayidin Panatagama Kalifatullah Tanah Jawa'.

Dimasa kerajaan Demak para wali banyak berperan tetapi ketika mataram berdiri dan muncul 'Kalifatullah' peran wali sudah tidak pernah terlihat lagi dalam urusan pemerintahan.

Coba lihat benang merahnya, apakah mataram dibentuk untuk melanjutkan kerajaan islam Demak Bintoro yg gagal krn perang saudara, atau memang era wali memang sudah berakhir krn mereka sudah meninggal dunia.


masalah kemudian mataram pun tidak mencirikan islam itu lain lagi.



Memang benar Era Wali Songo pd saat jaman berdirinya Kerajaan Mataram (Kesultanan Mataram berdiri pd tahun 1587) sudah berakhir krn hampir semua Sunan2 yg tergabung dlm Dewan Wali Songo sdh wafat :

1. Sunan Gresik sdh wafat pd tahun 1419 Masehi, jauh sblm Kesultanan Demak berdiri (Kesultanan Demak berdiri pd tahun 1475 Masehi).
2. Sunan Ampel wafat pd tahun 1481 Masehi.
3. Sunan Bonang wafat pd tahun 1525 Masehi.
4. Sunan Drajat wafatnya pd tahun 1522 Masehi.
5. Sunan Giri thn wafatnya blm diketahui krn saya blm temukan informasinya.
6. Sunan Kudus wafat pd tahun 1550 Masehi.
7. Sunan Gunung Jati wafat pd tahun 1569 Masehi.
8. Sunan Kalijogo wafat pd tahun 1580 Masehi.
9. Sunan Muria, tahun wafat dan lahirnya blm saya bs ketahui pula tapi beliau adalah anak dr Sunan Kalijogo kemungkinan hanya tinggal beliau lah yg masih hidup ketika Kesultanan Mataram terbentuk. Cmn dr kisah ttg Sunan Muria, beliau lbh menyukai tinggal di tempat yg msh sepi dan jauh dr hiruk pikuk keramaian dan tdk tertarik pd politik kekuasaan.