selain dewa pelindung marga, dikalangan masyarakat tionghoa juga dikenal dewa dewi pelindung suatu daerah, atau dewa dewi yang populer/sangat dihormati di suatu daerah.

di kabupaten nan an, fu jian dewata Kong Tek Cun Ong dianggap sebagai pelindung daerah/masyarakat nan an.

Dewata Hian Tian Siong Tee dipuja hampir diseluruh daerah selatan Tiongkok.

Keberadaan sosok dewata yang sangat dihormati di suatu daerah juga, dan dianggap sebagai pelindung daerah dan masyarakatnya, kalau kita amati juga berlaku di Indonesia. Masyarakat Tionghoa di Bali dan Banyuwangi sangat menghormati dewata Tan Hu Cin Jin, dan Klenteng Tan Hu Cin Jin merupakan klenteng Utama di Banyuwangi. Tan Hu Cin Jin sendiri merupakan dewa lokal, artinya dewa yang berasal dari orang yang pernah hidup di indonesia.

Di Tuban, Dewa Kwan Kong sangat dihormati oleh masyarakat tionghoa maupun masyarakat pribumi setempat. Fenomena yang menarik di Klenteng kwan Kong Tuban, setiap hari kita dapat menemui mayarakat dari berbagai agama berdoa dan memberikan penghormatan di depan altar dewa kwan Kong.

Di Kota Medan Klenteng utamanya adalah klenteng Dewa Kwan Kong yang terletak di Jalan Irian barat Medan.

Di Welahan, Klenteng Utama adalah klenteng Hian Thian Siong Tee.

menarik memang kalo kita amati, di setiap daerah yang ada atau pernah ada masyarakat tionghoa, pasti ada klenteng utama yang sangat populer dan dihormati melebihi klenteng lainnya. Apakah bisa dikatakan dewata di altar utama klenteng tersebut adalah "penguasa" atau "walikota" daerah tersebut? mungkin para sesepuh di sini bisa memberikan pencerahan .....
Riwayat Klenteng Tertua di Jawa Timur dan Bali:

Banyuwangi, - Puluhan lampion berwarna merah tertata meriah di atap altar Klenteng Ho Tong Bio. Seluruh peralatan sembayang dan patung-patung leluhur telah dibersihkan hingga mengkilap.

Mempercantik klenteng menjadi salah satu kegiatan dalam mempersiapkan Hari Raya Imlek yang diperingati Kamis, (3/2) mendatang. Klenteng seluas hampir satu hektare ini, mulai Rabu malam (2/2), akan dipadati ribuan umat Tionghoa untuk bersembahyang.

Klenteng yang terletak di kawasan Pecinan, Kelurahan Karangrejo, atau 5 menit dari kota Banyuwangi ini, dibangun tahun 1784. Orang-orang Tionghoa mendirikan klenteng ini untuk dipersembahkan bagi leluhur mereka: Kongco Tan Hu Cin Jin.

Biokong Klenteng, Sutrisno, menceritakan, Kongco Tan Hu Cin Jin dipercaya sebagai leluhur mereka yang melindungi orang-orang Tionghoa yang bermukim di Blambangan (nama sebelum Banyuwangi) di masa lalu. Karena itu, klenteng ini dinamakan Ho Tong Bio, yang artinya 'Kuil Perlindungan Chinesse'.

Kuil ini juga bisa disebut 'ibu' dari 8 klenteng Tan Hu Cin Jin yang tersebar di Jawa Timur hingga Bali. Diantaranya di Besuki (Situbondo), Probolinggo, Jembrana, Tabanan, Kuta, dan Buleleng. "Klenteng ini yang terbesar sekaligus tertua," cerita Sutrisno atau Li Sin Wed, 74 tahun, yang sudah enam tahun mengabdi untuk klenteng.

Dalam penelitian Claudine Salmon dan Myra Sidharta (2000), diceritakan, bahwa Kongco adalah juragan perahu yang berlayar dari Batavia ke Bali. Namun sebelum sampai Bali, perahunya tenggelam di perairan Blambangan sekitar tahun 1729. Kongco yang memiliki ketrampilan arsitektur diminta untuk membangun istana Kerajaan Blambangan di Macan Putih.

Terkesan dengan keindahan karya Kongco, Raja Mengwi kemudian memanggil Tan Hu Cin Jin untuk membangunkan istana seperti Macan Putih. Istana Mengwi itu masih berdiri sampai sekarang dan dikenal dengan nama Taman Ayun di Tabanan, Bali.

Legenda yang masih hidup di masyarakat Tionghoa saat ini, adalah ketika Kongco menyelamatkan budak-budak Tionghoa yang akan dibawa VOC Belanda ke Batavia menggunakan kapal. Kongco juga dipercaya sebagai seorang tabib yang ramuannya manjur menyembuhkan segala penyakit. Dari jasanya ini, komunitas Tionghoa di Blambangan memutuskan mendirikan rumah penghormatan bagi Tan Hu Cin Jin.

Awalnya rumah penghormatan didirikan di Lateng, Kecamatan Rogojampi, atau sekitar 15 kilometer dari kota Banyuwangi. Namun setelah VOC menguasai Blambangan, rumah penghormatan Kongco ini dipindahkan ke tempat dimana klenteng Ho Tong Bio berdiri saat ini.

Klenteng pemujaan Tan Hu Cin Jin berdiri di 8 daerah lainnya di Jawa Timur dan Bali pada abad-abad berikutnya. Pendirian ini tidak lain karena penyebaran orang-orang Tionghoa yang dulunya bermukim di Blambangan. "Kongco Tan Hu Cin Jin adalah dewa lokal yang tidak ada di negara-negara lain," ujar biokong klenteng, Sutrisno

Klenteng-klenteng cabang tersebut selalu hadir memeriahkan ulang tahun Klenteng ibu mereka, yang diperingati setiap 14 Maret.


sumber: arkeologi.web.id
RIWAYAT KONG TEK CUN ONG:

Diambil dari Buku berjudul “Riwayat Guang Ze Zun Wang” : Sang Dewa Pelindung Masyarakat Nan An.

lsm-guangze-01

Pada masa Dinasti Song, Propinsi Fujian, Kota Quanzhou, di Kabupaten Nan An, dalam keluarga GUO pada tanggal 22 bulan 2 Imlek terlahirlah seorang putra yang diberi nama GUO ZHONG FU / GUO HONG FU. Menurut cerita yang beredar, Guo Zhong Fu ini sejak kecil telah bekerja sebagai pengembala ternak dan sangat berbakti kepada orang tuanya. Dengan penuh ketelatenan dan kesabaran, ia merawat ibundanya yang telah cukup tua, sedangkan ayah tercintanya telah wafat sewaktu Zhung Fu masih kecil.

Zhong Fu kecil dalam bimbingan ibundanya yang baik hati, sejak usia dini telah memiliki sifat rendah hati, rajin bekerja dan berbudi luhur, terbukti dengan riang gembira pagi-pagi ia mengembala ternak yang dipercayakan kepadanya. Sifat mulia yang dimiliki Zhong Fu kecil sangat jelas terlihat, walaupun ia bekerja pada tuan tanah yang kaya raya namun kikir, ia tidak pernah mengeluh dan gusar dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaannya. Bahkan dengan kebijaksanaan serta cinta kasih yang luar biasa, ia membantu seorang ahli Hong Sui tua yang diundang oleh tuannya untuk melihat Feng Shui/susunan tata letak makam orang tua hartawan itu.

Namun karena sifat tuannya yang sangat kikir, dia memberikan makan sangat sedikit dengan lauk pauk yang sangat sederhana kepada sang ahli Feng Shui. Keadaan seperti ini membuat hati Zhong Fu kecil tergerak, tanpa menghiraukan diri sendiri yang juga sering kekurangan makanan, ia memberikan sebagian makanan yang diperolehnya kepada sang ahli Feng Shui.

Sikap bakti dan kerelaan seorang Zhong Fu kecil, yang telah menjadi sahabatnya, membuat sang ahli Feng Shui memberikan petunjuk agar kelak di kemudian hari Zhong Fu sekeluarga dapat hidup lebih baik sebagai ungkapan rasa terima kasih atas perhatian dan bantuannya. Beliau menyuruh Zhong Fu untukmemindahkan makam ayahnya ke suatu tempat yang memiliki perhitungan Feng Shui yang sangat bagus, agar kelak, kebahagiaan dapat diraih dan dirasakan seluruh keluarga Zhong Fu.

Zhong Fu pun mengikuti dengan ijin ibundanya, menggali dan membersihkan tulang-tulang ayahnya sampai bersih, dibungkusnya dengan hati-hati, di masukkan ke dalam periuk dimana nantinya menurut sang ahli Feng SHui, dikubur di suatu tempat dengan nasehat, “Mulai saat ini engkau harus mengembalakan ternakmu disekitar tempat ini, hingga suatu saat nanti akan bertemu seorang lelaki yang berjalan di bawah perut seekor kerbau, saat pertama kali engkau melihatnya, tempat itulah yang paling baik untuk menguburkan tulang-tulang ayahmu”.

Pesan tersebut oleh Zhong Fu selalu diingat dan ditaati, hingga suatu hari nan cerah secara mendadak langit berubah menjadi gelap, petir menyambar-nyambar disertai hujan yang sangat deras. Zhong Fu tidak dapat menggiring ternaknya pulang, ia pun berteduh di bawah pohon yang besar, saat itulah dari arah tikungan, ia melihat seorang lelaki sedang menuntun kerbaunya dengan terburu-buru. Ia menggunakan wajan untuk melindungi kepalanya dan anaknya yang masih kecil berlindung di bawah perut kerbaunya.

Zhong Fu menjadi tertegun, ia teringat kata-kata temannya sang ahli Feng Shui, maka tanpa menghiraukan lagi keadaan saat itu, ia segera menggali tanah dimana ia pertama kali melihat kejadian itu dan menanam periuk berisi tulang ayahnya. Maka terjadilah sesuatu yang sangat aneh saat periuk di masukkan ke dalam lubang, secara perlahan-lahan tanah menutup sendiri. Maka dengan senang hati riang gembira, Zhong Fu segera menggiring ternaknya pulang.

Waktu terus berlalu, suatu saat desa dimana Zhong Fu tinggal diserbu kawanan perampok yang menginginkan harta benda dari hartawan yang sangat kikir itu. Selain merampok, mereka juga membakar kediaman sang hartawan. Oleh karena kobaran api yang sangat hebat sehingga dikhawatirkan akan membakar rumahnya yang bersebelahan, Zhong Fu tanpa pikir panjang meloncat melalui jendela melewati api. Sungguh suatu hal yang sangat aneh, kawanan perampok yang melihat perbuatan Zhong Fu sangat ketakutan dan segera melarikan diri, bahkan api yang sedang berkobarpun semakin mengecil, kemudian padam bagai terguyur oleh air.

Kejadian yang tidak disadari Zhong Fu ini dilihat dengan jelas oleh para penduduk yang berkerumun, merasa takjub serta heran akan kehebatan yang dimiliki Zhong Fu. Sejak kejadian yang luar biasa itu, seluruh penduduk sangat menghormati keluarga Zhong Fu, terutama sang hartawan yang menerima pertolongannya. Ia tidak diperkenankan mengembala lagi, kemudian oleh sang hartawan diberi tunjangan hidup agar Zhong Fu dapat hidup dengan layak bersama sang ibu.

Zhong Fu kian tumbuh menjadi seorang pria dewasa, ia pun menemui sang ibu dan menceritakan apa yang telah dialaminya, yaitu lewat bisikan suci, ia akan mendapat anugrah dari Tuhan menjadi orang suci. Kemudian ia pun beranjak dan membersihkan seluruh tubuhnya, lalu memasuki kamar untuk melaksanakan meditasi. Senja hari, sang ibu sangat khawatir karena sudah seharian sang putra tidak keluar kamar, maka beliau memberanikan diri untuk membuka pintu kamar dan apa yang dilihatnya sangatlah mengejutkan, ia mendapati sang putra mengapung di udara dengan posisi bermeditasi bersama kursinya. Tanpa pikir panjang sang ibu menarik salah satu kakinya ke bawah, namun apa yang dirasakannya ternyata kaki putranya sudah dingin dan kaku. Sekejap kemudian ia pun sadar bahwa putranya telah tiada di dunia ini.

Sejak itu para penduduk memberikan segela penghormatan dan memuja Zhong Fu sebagai orang suci dengan mendirikan Kelenteng. Pada saat terjadi bencana alam, banyak penduduk melihat akan kemunculan Zhong Fu memberikan bantuan serta pertolongan bagi mereka yang tertimpa malapetaka, maka penduduk pun memberi gelar “GUANG ZE ZUN WANG” yang berarti “Raja Mulia yang memberikan berkah berlimpah” (Kwee Seng Ong).
Tags: agama tao, Ajaran TAO, anak berbakti, baik hati, berbudi luhur, dewa dewi, guang ze zun wang, Guo Li Zhu, Guo Ming Liang, Guo Zhong Fu, hemat, jujur, kejujuran, kesabaran, kesempurnaan, lapang dada, Lin Su Niang, manusia sejati, Nan An, rendah hati, siutao, tanpa pamrih, tegar, Thay Shang Men, tulus, Zhong Fu
Malam gan, salam kenal, ane baru nemu thread kek gini, hehehe.. Ane jg skalian mw konsul si.. Ada doa tidak agar org yg pernah menipu kita bisa berubah pikiran mengembalikan uang yg di tipu.. atau plg tdk kta dpt jalan keluar dr masalah seperti .. ?
suhu mau tnya
biasakan di kitab doa" ada 2terjemahan
1 pke bhasa mandarin tpi dg tulisn indo 1 lg pke bahasa indo
klo kita berdoa ato baca kitab itu bs ngk pke terjemahan bhsa indonesia?
klo pke yg mndrin tpi tulisn indo tkut pngucapan nya slh
Quote:Original Posted By clinbks
Malam gan, salam kenal, ane baru nemu thread kek gini, hehehe.. Ane jg skalian mw konsul si.. Ada doa tidak agar org yg pernah menipu kita bisa berubah pikiran mengembalikan uang yg di tipu.. atau plg tdk kta dpt jalan keluar dr masalah seperti .. ?


salam kenal juga bro,

sambil menunggu para sesepuh, saya mencoba memberikan pandangan saya:

sebagai ummat Tri Dharma, doa yang paling mudah, praktis, dan banyak umat yang telah merasakan manfaatnya adalah berdoa kepada Thian Kung. Berdoa kepada Thian Kung bisa dilakukan setiap saat di rumah, tapi biasanya kalau ada masalah khusus, doa dilakukan jam 9 malam dengan 9 batang hio.
Kalau mau doanya lebih mujarab, biasanya umat berdoa sambil berkaul: apabila permohonan saya terkabul saya akan.......(memberikan persembahan atau melakukan suatu kebaikan), tapi saya pribadi tidak menganjurkan hal tersebut, saya lebih memilih membuat suatu kebajikan dahulu sebelum atau pada saat berdoa misalnya memberikan persembahan buah, memberikan sumbangan kepada rumah ibadah dll. Kalau kita berkaul akan melakukan suatu kebajikan setelah doa kita terkabul, sebagai manusia, biasanya kita sering lupa dengan janji kita.....

doa juga bisa dilakukan dengan membaca mantra2, dharani atau doa2 tertentu:
yang paling banyak dijumpai di vihara/klenteng adalah dharani dewi kwan im, misalnya Ta Pei Cou atau Ko Ong Kwan Se Im cing.
cobalah baca mantra berulang2 sesering mungkin sambil meniatkan dalam hati apa permohonan kita.
Ada juga mantra Dewa Bumi: Namo Samanto BuTho Nam Aum Turu Turu Di Wi Sa Po Ho.
masih banyak mantra2/dharani para dewata dan bodhisatva lainnya yang bisa dijumpai di vihara/klenteng, semua mantra/dharani bisa dipakai untuk membantu kita menyelesaikan masalah kita, tinggal niatkan dalam hati apa permohonan kita; misalnya memohon uang yang ditipu orang agar dapat kembali.
mantra mana yang kita pilih dan mana yang lebih cocok tergantung kepada dewata, bodhisatva dan Budha mana biasanya kita beribadah/berdoa, kalo kita biasanya berdoa ke vihara dewi Kwan Im pilihlah mantra dewi Kwan Im, kalo kita biasa ke klenteng Hock Tek Ceng Sin, pilihlah mantra Dewa Bumi.

kalau kita sudah berdoa, membaca mantra/dharani, uang kita juga belum kembali?
saran saya iklaskan saja, mungkin itu adalah bentuk pembayaran karma kita di kehidupan lampau, daripada kita memaksa terus dengan segala cara yang tentunya akan menganggu waktu dan pikiran kita, kalo itu memang bukan pembayaran utang karma kita di masa lampau, uang tersebut adalah rezeki kita yang dirampas, percayalah, uang kita akan kembali dengan berbagai cara, misalnya kita memperoleh rezeki dari usaha yang lain, kadang pengembalian rezeki kita berlangsung tanpa kita sendiri menyadarinya.....

demikian sedikit pandangan dari saya.

Para sesepuh trit kok jarang muncul ya?

gan minta doa dewa bumi donk
Quote:Original Posted By livan73
gan minta doa dewa bumi donk


dikutip dari wihara.com:

aku sering mengajarkan siswa-siswa ku suatu mantra, mantra ini bukan mantra maha cahaya, bukan mantra tiada bandingan, bukan pula mantra tiada tara namun hanya satu mantra kecil.
Mantra ini ada dihampir semua kitab - kitab buddhis, sangat sederhana hingga terlewatkan orang. Mantra itu adalah mantra dewa bumi, bunyi mantra ini sebagai berikut :
NAMO SAMANTO MOTONAM OM TULU TULU TIWEI SOHA
dengan sungguh - sungguh aku memberitahukan kepada kalian semua bahwa mantra ini adalah sebuah ilmu rahasia untuk mengubah nasib. Bukankah itu cuma mantra dewa bumi yang biasa ? Tidak salah, ia mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk mengubah nasib, karena itu tidak boleh dianggap remeh.
Ada orang yang membaca mantra tersebut, maka penyakit kulit yang dideritanya selama sepuluh tahun hilang lenyap.
Ada orang yang bertampang sial, seumur hidup miskin terus, setelah membaca mantra tersebut, lalu sinar kebahagiaan menyoroti wajahnya menjadi bercahaya, dan nasibnya pun berubah total dari miskin menjadi kaya.
Ada orang yang membaca mantra tersebut, kemandulan yang telah diderita selama sepuluh tahun menjadi sembuh.
Ada orang yang membaca mantra tersebut, seumur hidupnya sehat waalfiat.
Ada orang yang membaca mantra tersebut, terus mendapat jodoh bagus mukanya bercahaya kemerah-merahan.
Ada orang yang membaca mantra tersebut lalu urusan-urusan yang tadinya tidak lancar, akhirnya menjadi lancar, tidak ada satupun hal yang membuatnya terhalang.
Ada orang yang membaca mantra tersebut, ia mendapatkan loterai besar. Walau orang lain jarang menganjurkan, aku justru menganjurkan supaya mantra ini banyak dibaca secara rutin dan terus-menerus. Inilah penemuanku : pada suatu meditasi aku merasa disampingku ada seorang tua yang berambut putih dengan wajah kemerah-merahan.
* kamu siapa ? Dewa Bumi.
* di dunia manusia apa yang anda akan lakukan ? Mengikuti orang yang punya rejeki.
* Bagaimana pandangan mu terhadap alam roh ? Lapisan nirwana merupakan kekosongan, lapisan dewa langit jernih dan suci, di lapisan dewa tanah rejeki dan malapetaka datang silih berganti.
* Aku bertanya kepada dewa bumi " bagaimana dengan nasib setiap orang ? " nasib ditentukan oleh karma ( sebab akibat ). Karena itu saling mengali dan bersilang ruwet. Manusia harus sadar bahwa segala sesuatu ditentukan oleh karma.
* Kamu bicara betul, lalu bagaimana cara mengubah nasib ? Apakah minta kepada budha ? Tidak cocok.
* Minta kepada dewa-dewi ? Juga tidak cocok.
* Minta kepada dewa tanah ? Nah itu cocok.
* Bagaimana caranya ? Baca mantra
* Mantra yang mana ? Mantra dewa bumi.

Orang tua lalu membawa ku naik kereta rusak mengarungi angkasa biru dan kami sampai disebuah gunung, ditengah gunung itu ada sebuah kota besar, berkilauan multu manikom, di dalam kota penuh dengan orang-orang yang berambut putih muka kemerah-merahan, ada ribuan bahkan puluhan ribu, mereka tampak sangat sibuk, ada yang baru mendarat, ada pula yang sedang siap-siap berangkat kelihatannya sibuk banget deh.
* Ini negeri apa ? Negeri Dewa Bumi.
* Para dewa bumi itu sedang sibuk apa ? Sedang memberikan bantuan mengatur dan mengubah nasib manusia. Begitulah penemuan ku kenyataan.
Akhirnya aku menyadari suatu kenyataan bahwa melatih diri menjadi buddha tentu bisa mengubah nasib. Melatih menjadi dewa, juga bisa mengubah nasib, tapi dengan langsung membaca mantra Dewa Bumi, perubahan nasib akan lebih langsung. Bila ingin mengubah nasib orang harus mempunyai kunci pembukanya pada prinsipnya, ilmu apapun juga harus disesuaikan dengan situasi dan kondisinya, adanya kehendak benda dan kejanggalan, kejodohan, asalkan membaca mantra dewa bumi sering kali, puluhan kali, ratusan kali, ratusan kali secara sungguh-sungguh, maka sinar dewa bumi akan menyoroti, nasibnya akan berubah ini sungguh-sungguh lho.
" semboyan dewa bumi adalah amal tanpa pamrih "
Quote:Original Posted By livan73
suhu mau tnya
biasakan di kitab doa" ada 2terjemahan
1 pke bhasa mandarin tpi dg tulisn indo 1 lg pke bahasa indo
klo kita berdoa ato baca kitab itu bs ngk pke terjemahan bhsa indonesia?
klo pke yg mndrin tpi tulisn indo tkut pngucapan nya slh


menurut saya sebaiknya dilafalkan dalam bahasa aslinya: mandarin, pali atau sanskerta, tapi diusahakan dimengerti artinya dalam bahasa indonesia.

kebiasaan membaca doa berulang-ulang dalam bahasa mandarin juga sangat membantu kita memahami bahasa mandarin...
gan kalau waktu sembayng pling bgus pagi n sore jam brp?

dan membaca doa dewa bumi tuh lbh baek pagi ato mlm?

makasih y
ngk bs ksh cndol nih jd ksh ini dlucndol abu gsok
Quote:Original Posted By livan73
gan kalau waktu sembayng pling bgus pagi n sore jam brp?

dan membaca doa dewa bumi tuh lbh baek pagi ato mlm?

makasih y
ngk bs ksh cndol nih jd ksh ini dlucndol abu gsok


kalo sembahyang kepada para dewata sebaiknya pada saat matahari naik; pagi hari sampai jam 12 siang, tidak berarti setelah jam 12 siang tidak boleh sembahyang.

pernah dengar seorang sesepuh mengatakan "permohonan kepada para dewata pada jam 12 siang susah untuk ditolak para dewata" .
hari istimewa untuk memohon kepada para dewata;
- hari 1 dan 15 penanggalan imlek
- hari ulangtahun dewata bersangkutan

Kalo sembahyang kepada Thian Kung, Bodhisatva n Budha bisa setiap saat yang penting tidak terburu-buru, sehingga bisa konsentrasi penuh dalam berdoa. Memohon pertolongan Thian Kung untuk masalah penting biasanya dilakukan jam 9 malam, ada juga yang melakukannya jam 12 malam.

membaca doa dewa bumi; lakukanlah setiap saat, karena mantra dewa bumi pendek, jadi gampang diingat bisa dilafalkan setelah bangun pagi, di jalan, di tempat kerja, sebelum tidur, dll, kalo di tempat ramai cukup dilafalkan dalam hati.
slamat siang para sesepuh, bro n sis semua
niubie mohon izin menyimak
gan buku/kitab I ching buku tentang perubahan
klo tahu mnta ebook ato web bwt baca nya gan

sama mantra jwun ti

semua ini pernah saya baca di buku 4 nasehat liao fan
tpi cman bhas dkit dkit doank

makasih
Nice info gan. Ane jadi tw kan dewa dewi nya. Keep posting y gan.
Quote:Original Posted By livan73
gan buku/kitab I ching buku tentang perubahan
klo tahu mnta ebook ato web bwt baca nya gan

sama mantra jwun ti

semua ini pernah saya baca di buku 4 nasehat liao fan
tpi cman bhas dkit dkit doank

makasih


coba baca terjemahan buku Joseph Murphy: Rahasia dibalik kitab I Ching: http://www.scribd.com/doc/66257692/R...-Kitab-I-Ching

Terjemahan langsung buku I Ching ke dalam bahasa indonesia rasanya ada di Gramedia.

Jwun ti?
mungkin maksudnya bodhisatva cundi: http://en.wikipedia.org/wiki/Cundi_(Buddhism)
Quote:Original Posted By kas1mura


coba baca terjemahan buku Joseph Murphy: Rahasia dibalik kitab I Ching: http://www.scribd.com/doc/66257692/R...-Kitab-I-Ching

Terjemahan langsung buku I Ching ke dalam bahasa indonesia rasanya ada di Gramedia.

Jwun ti?
mungkin maksudnya bodhisatva cundi: http://en.wikipedia.org/wiki/Cundi_(Buddhism)


ane jg ngk tahu nih suhu jwun ti sm ngk kya cundi
soalnya saya baca di buku nya jwun ti

suhu ada mantra ato doa dewa/ buddha chi kung ngk?


suhu apa bener org yg bs lok tung ato ta tung itu keturunan?
Quote:Original Posted By livan73


ane jg ngk tahu nih suhu jwun ti sm ngk kya cundi
soalnya saya baca di buku nya jwun ti

suhu ada mantra ato doa dewa/ buddha chi kung ngk?


suhu apa bener org yg bs lok tung ato ta tung itu keturunan?

sy bukan suhu, cuma awam yang kebetulan lewat dan ingin bertukar pikiran saja.

membaca mantra adalah bagus, supaya ada "kontak" dengan para suci pemilik mantra.
tentunya umat yang membaca mantra pasti dengan tujuan, memohon pertolongan dari para suci, baik permohonan yang bersifat duniawi maupun spiritual.

mantra biasanya berisi kata2 yang tidak bisa diartikan.

mantra yang beredar juga banyak sekali, bagaimana kita memastikan mantra mantra tersebut cocok untuk kita lafalkan? dan bermanfaat bagi kita kalau kita lafalkan?
mungkin kita bisa bertanya kepada suhu/sesepuh yang mumpuni.
untuk mantra2 umum, seperti mantra dewa bumi, mantra dewi kwan im, mungkin pengalaman-pengalaman dari para umat bisa menjadi pedoman kita.
Tapi untuk mantra yang tidak umum seperti mantra chikung susah untuk mencari sumber yang membabarkan pengalaman umat dengan mantra chikung.

sepengetahuan saya, yang sering membabarkan, mengadakan ritual chikung, adalah vihara maitreya dan juga kelenteng yg mengadakan ritual lok tung.

vihara maitreya, walaupun namanya vihara tapi tidak mengajarkan Buddha Dharma sebenarnya.
Ritual lok tung, menurut beberapa orang sesepuh, kebanyakan yang memasuki tubuh manusia adalah dari kalangan asura, bukan dari kalangan dewata sesungguhnya.

menurut saya:
melafalkan mantra adalah bagus, apalagi kalau kita berjodoh dengan para suci yang punya mantra tsb,
tapi nienfo, membaca paritta, membaca sutta adalah lebih bagus,
tapi lebih bagus lagi kalau kita bisa menjaga sila dan melakukan samadi/meditasi.

menurut yg saya dengar, orang bisa loktung karena:
1. hasil belajar : karena org tersebut memang ingin bisa lok tung.
2. karena mempunyai tulang dewa: mungkin takdir atau bawaan karma masa lalu.
3.karena ada perjanjian orgtua/leluhur kita dengan sosok yg datang dalam ritual lok tung tsb.

demikian pemahaman saya, mohon koreksi dari para suhu kalau ada yang salah.
LATAR BELAKANG DAN PENGGUNAAN PARITTA

1. Abhaya Paritta
Paritta ini digunakan untuk perlindungan terhadap tanda-tanda jelek, mimpi buruk, dan lain-lain.

2. Aïgulimala Paritta
Paritta ini terdapat di dalam Majjhima Nikàya. Pada suatu hari, Aïgulimala menemui seorang wanita hamil yang mengalami penderitaan melahirkan yang parah. Ia merasa kasihan kepada wanita itu dan menceritakannya kepada Sang Buddha. Sang Buddha mengajari Aïgulimala untuk mengucapkan pernyataan kebenaran agar bisa menolong wanita itu. Kemudian Aïgulimala kembali ke tempat wanita itu, membacakan paritta ini dan penderitaan wanita itupun menjadi berkurang. Ia segera melahirkan anak dengan mudah dan lancar.
Paritta ini digunakan untuk mempermudah kelahiran dan keselamatan ibu yang melahirkan serta anak yang dilahirkan.

3. Atànàtiya Paritta
Paritta ini memberitahu bahwa Mahàrajika (Dewa) Vessavaba (Kuvera) berjumpa dengan Sang Buddha dan mengucapkan paritta ini supaya penganut-penganut Sang Buddha mendapat perlindungan terhadap yakkha dan dewa lain yang jahat.

4. Bojjhaïga Paritta
Terdapat dalam Samyutta Nikàya dan berisikan tentang tujuh faktor untuk mencapai Bodhi (Penerangan Sempurna). Dibacakan untuk menyembuhkan Sang Buddha, Yang Ariya Moggallana dan Yang Ariya Kassapa dari penyakit.
Paritta ini digunakan untuk menyembuhkan penyakit.

5. Buddha Jaya Maïgala Gàthà
Paritta ini dibacakan untuk kejayaan dalam segala usaha.

6. Dhajagga Paritta
Dalam Samyutta Nikàya, Sang Buddha memberitahu penganut-Nya bahwa Dewa-raja Sakka meminta dewa-dewa melihat panjinya atau panji Ketua Dewa Pajapati, Varuna dan Isana, apabila mereka merasa takut sewaktu bertempur dengan asura. Tetapi Sang Buddha menyatakan cara ini mungkin boleh atau tidak boleh membantu mereka karena Dewa-raja Sakka masih segan dan gugup (panik). Sebaliknya, Sang Buddha tak segan dan tidak gugup karena Beliau telah menghapuskan keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kegelapan batin (moha). Oleh karena itu, pengikut Sang Buddha, apabila seorang bhikkhu atau umat merasa takut, gemetar atau bulu roma berdiri, dia patut mengingat kepada Sang Buddha, Dhamma dan Saïgha. Dengan demikian semua perasaan itu akan hilang.
Paritta ini adalah untuk menghapuskan segala ketakutan, gemetar dan bulu roma berdiri.

7. Dukkhappattàdigàthà
Paritta ini adalah untuk menghapuskan penderitaan dan duka cita.

8. Jaya Paritta
Paritta ini dibacakan untuk kejayaan dalam semua usaha dan untuk kesejahteraan.

9. Karaõãyametta Sutta
Paritta ini terdapat dalam Sutta Nipata. Pada suatu ketika, lima ratus orang bhikkhu sampai ke hutan untuk berlatih meditasi. Dewa-dewi yang tinggal di sana, yaitu di atas pohon-pohon merasa terganggu. Mereka terpaksa turun ke tanah untuk menghormati bhikkhu-bhikkhu tersebut (supaya mereka tidak duduk lebih tinggi dari para bhikkhu). Setelah beberapa hari dewa-dewi merasa hampa lalu menjelma sebagai hantu dan memekik untuk menghalau mereka.
Bhikkhu-bhikkhu itu kembali kepada Sang Buddha untuk mendapat nasihat. Sang Buddha mengajarkan mereka sutta ini, lalu mereka kembali ke hutan itu dan mengucapkan sutta ini. Setelah itu, dewa-dewi merasakan kasih sayang yang dipancarkan dan mereka tidak menghalau para bhikkhu lagi.

Paritta kasih sayang ini dibacakan supaya dewa dan hantu tidak membahayakan atau mengganggu kita.

10. Khandha Paritta
Dalam buku Cullavagga (Vinaya-Pitaka) terdapat kisah seorang bhikkhu yang meninggal karena digigit ular. Sang Buddha memberitahu penganut-Nya bahwa bhikkhu patut memancarkan pikiran kasih sayang kepada ular dengan mengajarkan paritta ini kepada mereka untuk mendapatkan perlindungan.

Paritta ini digunakan sebagai suatu perlindungan dari ular dan semua makhluk, terutama saat berada di dalam hutan.

11. Maïgala Sutta
Paritta ini terkenal sekali dan tercantum dalam Sutta Nipata (Khuddaka Nikàya). Pada suatu malam, seorang dewa berjumpa dengan Sang Buddha dan meminta penjelasan mengenai berkah utama supaya dapat hidup dalam keselamatan.
Paritta ini digunakan bukan hanya untuk perlindungan dari segala bahaya, tetapi juga untuk mencapai keputusan dalam semua jenis masalah.

12. Mora Paritta
Dalam kisah Jataka terdapat cerita mengenai seekor burung merak yang selalu mengucapakan paritta ini sebelum ia keluar mencari makanan setiap pagi hari dan pada malam hari apabila ia hendak tidur. Oleh karena itu, ia tidak pernah tertangkap oleh pemburu.

Paritta ini digunakan untuk keselamatan keluarga siang dan malam, untuk perlindungan apabila keluar dari rumah dan juga untuk mendapatkan kebebasan saat ditawan oleh musuh.

13. Ratana Sutta
Pada suatu ketika, kota Vesali mengalami bencana kelaparan (famine) dan wabah penyakit teruk (epidemic). Banyak orang yang meninggal sehingga mayat mereka yang berbau telah menyebabkan hantu-hantu jahat datang ke Vesali. Karena tidak dapat menyelesaikan tiga masalah ini, Raja Vesali memohon bantuan kepada Sang Buddha. Sang Buddha datang dan mengajarkan Ananda untuk membaca paritta ini selama tujuh malam di sekeliling kota Vesali sambil memercikkan air yang ada dalam patta (mangkok) Sang Buddha. Hantu-hantu meninggalkan tempat itu, penyakit-penyakit menjadi sembuh dan masalah pun terselesaikan.
Paritta ini ada dalam Sutta Nipata dan digunakan untuk menghalau hantu jahat atau penyakit.

14. Saccakiriyagàthà
Ini adalah Pernyataan Perkataan Benar (mengenai perlindungan Buddha, Dhamma dan Saïgha) untuk mendapatkan perlindungan dan kesejahteraan.

15. Tiratanànusaranapàñha
Mengingatkan kita pada Buddha, Dhamma dan Saïgha untuk menghapuskan segala jenis ketakutan, gemetar atau bulu roma berdiri.

16. Vaññaka Paritta
Dalam kisah Jataka terdapat cerita mengenai seekor anak burung. Pada suatu ketika terjadi suatu kebakaran besar di dalam hutan. Untuk melindungi diri dari api yang mendekatinya, anak burung itu ingat kepada Sang Buddha dan membuat pernyataan kebenaran. Api tidak dapat mencapai anak burung itu. Paritta yang berisi pernyataan kebenaran ini dibacakan untuk perlindungan dari bahaya api.

semoga bermanfaat,
semoga semua mahluk berbahagia_/\_

ijin nyimak puh

ijin nyimak puh, sekalian mau konsultasi dikit, kalo usaha kita semakin sepi, solusinya apa yaa puh agar usaha kita bisa ramai dan maju, mohon dibantu puh
Quote:Original Posted By dakota123
ijin nyimak puh, sekalian mau konsultasi dikit, kalo usaha kita semakin sepi, solusinya apa yaa puh agar usaha kita bisa ramai dan maju, mohon dibantu puh



sambil menunggu jawaban dari sesepuh trit, sy ikut sharing aja:

rezeki, nasib, jalan hidup kita semua ditentukan oleh karma kita, baik karma di kehidupan lampau maupun di kehidupan saat ini.

kalau usaha lagi sepi ada dua kemungkinan:
1. karma yang menentukan rezeki kita memang cuma segitu.
2. ada kesalahan manajemen.

solusi:
1. Pupuk karma baik sebanyak-banyaknya, dan minta pertolongan kepada dewa dewi di klenteng.

Memupuk karma baik bisa dimulai dari hal kecil, misalnya
memberi makan kepada binatang,
memberi bantuan materi maupun non materi kepada orang2 terdekat kitarangtua, kakak adik, saudara,
memberi bantuan materi maupun non materi kepada lingkungan: tetangga , pengemis, tukang sayur, pemulung dll
memberi bantuan materi maupun non materi kepada rumah ibadah dan para rohaniawan yang menjalani kehidupan suci..

Setelah banyak menanam karma baik, mintalah pertolongan kepada para dewata di klenteng, kunjungi klenteng yang jelas dan sudah dikenal masyarakat, seperti:
kelenteng dewi kwan im Cen Tek Yen di petak IX glodok, banten lama
Klenteng Kwan Kong di gg lamceng psr pagi, Tuban.
Hock tek ceng sin di karet, plered cirebon, bogor.
Hian Thian Siong Tee (specialis gangguan ilmu2 hitam) di welahan.

cara memohon kepada para dewata;
pertama2 tanam karma baik dulu/memberi dulu, seperti memberikan persembahan buah, makanan, minyak kepada para dewata, ataupun memberikan sumbangan kepada kelenteng.
setelah memberi, barulah memohon kepada para dewata, mohon berkah para dewata, mohon petunjuk, mohon dibukakan jalan, mohon dibukakan pintu rezeki, mohon dilancarkan rezeki, mohon usahanya ramai.
tapi yang lebih penting lagi yang utama mohon kesehatan dan keamanan dahulu.

2. Setelah usaha secara spiritual dilakukan, jagan lupa usaha secara ilmiah:
lihat bidang usaha apakah prospeknya masih bagus,
apakah produk yg kita jual sesuai selera pasar,
apakah penataan barang dagangan kita sudah rapi, bagus dan menarik?
apakah posisi/tempat usaha kita stratergis? apakah perlu pindah tempat? daerah?
apakah kita/pegawai kita cukup ramah kepada pelanggan?
dll

demikian sekedar sharing dari saya sambil menunggu para sesepuh.

para sesepuh trik pada kemana ya? kok sepi