KASKUS

manteb2 nih komennya

Quote:Original Posted By dannysebastian
yoi bung..cm kreatif atau tidaknya...seperti kata klien ane..."saya hire kamu beli idenya bukan beli gambarnya"

makanya ane bilang kalau cuma skala rumah dan luas kecil mah anak semester 4 asal feel designnya bagus ya sudah bisa jadi arsitek designer. Bedanya ama yang pengalaman ya soal skala proyek sehingga desainnya bisa bener dan bagus.



sebenernya arsitek itu bukan cuma jual "ide" aja loh. tapi jg pengetahuan teknis dan detail2nya. arsitek itu "seharusnya" jadi "penasihat" bagi klien utk menghadapi kontraktor.
ide seorang mahasiswa (atau seniman) bisa lbh baik dari arsitek pengalaman, tapi blm tentu developmentnya bisa baik. tukang sebaliknya, dia jago bgt di teknis, lbh jago dibanding arsiteknya. tp konsep desainnya kurang (klo ga mo dibilang ga ada). jd desain yg di bikin tukang itu lbh seperti berdasarkan pengalaman. tidak fresh. itu sebabnya arsitek itu penggabungan seni dan teknik. dia di harapkan bisa beri ide segar dan dapat di bangun di lapangan.

Quote:Original Posted By dannysebastian

Awalnya saya cuma geli saja dengan pernyataan yang bilang baru lulus sudah ngaku2 arsitek. Ya terus apa? Lha wong gelarnya aja arsitek (PPars di universitas Jakarta)

ya mungkin di RUU arsitek hal ini bisa dipertegas..pengalaman 2 taun tp lebih kompeten dari yang pengalaman 5 taun kan bisa saja..


masalah gelar, itu teknik marketingnya PT aja. IAI sendiri (setau gw) nolak gelar itu. krn gelar "arsitek" (dalam hal ini keprofesian) cm bisa di keluarkan oleh asosiasi profesi, bukan PT. cm ya itu, PT pd protes, PT uda cape2 ngelulusin mhsw slm 1 thn (PPars) trus mo ngasi gelar apa? tanpa gelar? ga mjual donk, sapa yg mo daftar coba klo ga ada gelar. maka itu sebagian ada menggabungkan PPars sama S2 (jadi total 2 thn) biar pas lulus ada gelar (MT / Mars). *btw klo dokter lulus kuliah keprofesian (yg setelah S1) itu gelarnya apa sih????? enaknya dokter uda nyambung sih. ya kuliah kedokteran pasti lanjut jd dokter, ga kaya arsitektur......

masalah 2 thn bs lbh jago dr 5 thn, ya sangat mungkin. makanya utk bikin SKA di IAI jg kan di tes (uji kompetensi). ga cm bdasarkan pengalaman kerja/apalagi kelulusan aja.

Quote:Original Posted By dannysebastian


soal yg ngaku2 itu kalau penangkapan saya yg lulus s1 arsitek, dari omongannya bung adi.."baru lulus udah ngaku arsitek" bikin rumah dst.. Ya bingung aja terus kalau ga mulai dari rumah harus dari desain pos satpam dlu ya? atau magang ma arsitek rumah lain dengan gaji di bawah gaji tukang? Moga2 sih RUU arsitek juga melindungi arsitek bau kencur kek ane ini. .

PPars emang program profesi 1 tahun bung bernavas. Gelarnya Arsitek.


saya tidak bilang klo baru lulus tidak boleh punya proyek. tp stidaknya ada arsitek yg mendampingi agar hasilnya jg tidak merugikan (baik klien ataupun arsiteknya itu sendiri). krn arsitek seharusnya..... ada di jawaban yg pertama y...... jd si fresh grad itu jd co.ars-nya. pembagian fee ya silahkan diatur.
banyak kok buktinya klo klien suka ngeboongin arsitek, trus klien ngerasa ditipu arsitek. justru itu yg diharapkan diatur oleh UU arsitek.

Quote:Original Posted By berNavas
mungkin maksutnya gini bang

sama kayak kedokteran.
baru lulus kedokteran kan blm bisa jadi dokter(ngaku2 dokter),apalagi buka praktek,meskipun niatnya tulus utk mengobati,menolong orang sakit tp kan tidak bisa begitu aja. lulusan kedokteran masih S.ked setelah coas baru dpt gelar dr. nya

begitu pula di arsitek. arsitek kan profesi,ada banyak aturannya juga kode etiknya.
lulusan arsitektur S1 harusnya juga begitu,sadar klo blm bisa di sebut arsitek, ambil keprofesian dlu PPars dr IAI. magang2 dulu,biar matang kaya pengalaman.
baru layak disebut Arsitek yg berkompeten

kan ada fase2nya gitu,gak instant

ya mudah2an UU arsitek menjawab smuanya biar jls
tp kapan


yak betul itu maksudnya. profesi itu tanggung jawabnya besar loh. kita ngebangun itu utk puluhan tahun. si empunya rumah bakal ada di dalam bangunan yg kita desain itu utk jangka waktu yg lama. harusnya ktk bikin IMB, nama arsitek itu yg ada di kop gbr kerja (bukan orang kelurahan/kecamatan). jadi klo ada apa2, ya sharusnya yg dicari arsiteknya. baru abis itu dicari itu kesalahan siapa.

Quote:Original Posted By dannysebastian
kompetensinya juga harus didefinisikan menurut ane.. jujur aja ane kadang bingung ini kerjaan arsitek atau bukan sih.

karena misal ane nangani skala proyek rumah, arsitek seperti dituntut harus bisa segalanya. Tapi begitu skala proyek besar, urusan kek facade, QS, landscape, lighting, security, drainage dll kadang sudah menjadi urusan konsultan yang lain. Apakah lingkup arsitektur juga akan berbeda tergantung skala pekerjaannya? Kalau gt perlu dibuat juga spesialis kek dokter jg berarti...heheh

Ane cuma berharap ada semacam test yg objektif menilai kemampuan arsitek, semacam ARE di AIA.

Jadi kalau ARE kan ada beberapa tes seperti

yang harapannya kalau emg ga lulus tes artinya tidak berkompeten. Kan ga adil juga kalau kompeten tidaknya hanya dilihat dia sudah pengalaman brp tahun. Saya rasa ada juga yang pengalaman 10 tahun tp mungkin bisa juga tidak lolos dari tes ini. Atau ada yang baru lulus setahun tapi sudah bisa lulus karena memang kompeten.


itu tuntutan ala Indonesia. makanya ada istilah sapu jagat, ato palugada, ato apalah. harusnya utk urusan struktur n ME, uda ada ahlinya. fasade n lighting jg gitu. arsitek itu bikin konsep besarnya. lalu mnyatukan semua itungan para sub bidang itu. kordinator. sama seperti ktk proyek gedung. cm utk rumah, ya itu, klien mikir uda pasti high cost dan ribet, makanya nyuruh arsitek utk semuanya. saya sendiri ktk mngerjakan rumah, ME dan struktur (dan juga atap kuda2) pasti di sub ke yg lain (mcoba idealis), tp memang, keuntungan jadi menipis #eh malah curhat...

IAI sendiri dalam menerbitkan SKA, memang pakai uji kompetensi (ada 13), krn IAI berada di bawah UIA (org arsitek di dunia -macem PBB) dan Arcasia (org arsitek di asia -bentar lg mo kongres di bali). makanya bikin SKA di IAI jauh lbh sulit daripada di asosiasi lain (klo tidak salah ada PATI yg bs nerbitin SKA). jadi apa yg anda katakan itu benar, yg pengalaman 5 thn blm tentu lulus (ini ada byk kok yg ga lulus) dan yg 2 thn lulus. dan ujian ini harus proyek yg sudah terbangun, bukan cm konsep, jd bener sudah teruji. itu sebabnya arsitek pas lulus (selain ikut PPars) harus magang 2 thn. krn di magang itu keterlibatan dia di proyek bs maksimal dan diharapkan dlm 2 thn itu proyeknya (rumah) sdh jadi. itu pertimbangannya pak..

semoga menjelaskan...
InsyaAllah saya bukannya mao mnutup rezeki orang kok. rezeki kan Allah yg ngatur. tapi cm ingin melindungi profesi ini agar mjd lbh dihargai dan bermanfaat bagi masyarakat maupun si arsiteknya itu sendiri.
sepertinya udah jls yg di paparkan bang adi di atas

dimana yg bisa disebut arsitek adlh arsitek yg bersertifikat resmi dikeluarkan IAI krn sebagai asosiasi profesi arsitek di indonesia.


utk menjadi arsitek tidak bisa instant,ada fase2 nya.
buat teman2 yg setelah lulus S1 arsitektur/fresh graduat di sarankan utk ambil PPars yg dr IAI, magang2 dulu di kantor2 arsitek yg tentunya berkualitas utk mendapatkan pengalaman kerja di bidangnya,mengetahui realitanya di proyek sesungguhnya biar gak kaget di lapangan nantinya.
Quote:Original Posted By adi1710
harusnya ktk bikin IMB, nama arsitek itu yg ada di kop gbr kerja (bukan orang kelurahan/kecamatan). jadi klo ada apa2, ya sharusnya yg dicari arsiteknya. baru abis itu dicari itu kesalahan siapa.

soal ini,harusnya IAI mampu kerja sama dengan pemda
utk hal pengurusan keluarnya IMB, harus menyertakan sertifikat arsitek terkait sebagai penanggung jwbnya
Quote:Original Posted By adi1710
manteb2 nih komennya



sebenernya arsitek itu bukan cuma jual "ide" aja loh. tapi jg pengetahuan teknis dan detail2nya. arsitek itu "seharusnya" jadi "penasihat" bagi klien utk menghadapi kontraktor.
ide seorang mahasiswa (atau seniman) bisa lbh baik dari arsitek pengalaman, tapi blm tentu developmentnya bisa baik. tukang sebaliknya, dia jago bgt di teknis, lbh jago dibanding arsiteknya. tp konsep desainnya kurang (klo ga mo dibilang ga ada). jd desain yg di bikin tukang itu lbh seperti berdasarkan pengalaman. tidak fresh. itu sebabnya arsitek itu penggabungan seni dan teknik. dia di harapkan bisa beri ide segar dan dapat di bangun di lapangan.

nah itu yg mjd pertanyaan saya mengenai Arsitek designer dan engineer. Atau memang sbnrnya harusnya menjadi satu kesatuan


masalah gelar, itu teknik marketingnya PT aja. IAI sendiri (setau gw) nolak gelar itu. krn gelar "arsitek" (dalam hal ini keprofesian) cm bisa di keluarkan oleh asosiasi profesi, bukan PT. cm ya itu, PT pd protes, PT uda cape2 ngelulusin mhsw slm 1 thn (PPars) trus mo ngasi gelar apa? tanpa gelar? ga mjual donk, sapa yg mo daftar coba klo ga ada gelar. maka itu sebagian ada menggabungkan PPars sama S2 (jadi total 2 thn) biar pas lulus ada gelar (MT / Mars). *btw klo dokter lulus kuliah keprofesian (yg setelah S1) itu gelarnya apa sih????? enaknya dokter uda nyambung sih. ya kuliah kedokteran pasti lanjut jd dokter, ga kaya arsitektur......

masalah 2 thn bs lbh jago dr 5 thn, ya sangat mungkin. makanya utk bikin SKA di IAI jg kan di tes (uji kompetensi). ga cm bdasarkan pengalaman kerja/apalagi kelulusan aja.



saya tidak bilang klo baru lulus tidak boleh punya proyek. tp stidaknya ada arsitek yg mendampingi agar hasilnya jg tidak merugikan (baik klien ataupun arsiteknya itu sendiri). krn arsitek seharusnya..... ada di jawaban yg pertama y...... jd si fresh grad itu jd co.ars-nya. pembagian fee ya silahkan diatur.
banyak kok buktinya klo klien suka ngeboongin arsitek, trus klien ngerasa ditipu arsitek. justru itu yg diharapkan diatur oleh UU arsitek.

kalau misalkan si klien hanya butuh desain bagaimana? Dan itu tidak dihitung dalam proyek untuk mengajukan ska krn tidak didampingi atau bagaimana?butuh pencerahan nih..hehe


yak betul itu maksudnya. profesi itu tanggung jawabnya besar loh. kita ngebangun itu utk puluhan tahun. si empunya rumah bakal ada di dalam bangunan yg kita desain itu utk jangka waktu yg lama. harusnya ktk bikin IMB, nama arsitek itu yg ada di kop gbr kerja (bukan orang kelurahan/kecamatan). jadi klo ada apa2, ya sharusnya yg dicari arsiteknya. baru abis itu dicari itu kesalahan siapa.

kalau minta klien menunjuk struktur dan me bisa jg kn?jd urusan invoice tetep mereka ke klien lgsg.

itu tuntutan ala Indonesia. makanya ada istilah sapu jagat, ato palugada, ato apalah. harusnya utk urusan struktur n ME, uda ada ahlinya. fasade n lighting jg gitu. arsitek itu bikin konsep besarnya. lalu mnyatukan semua itungan para sub bidang itu. kordinator. sama seperti ktk proyek gedung. cm utk rumah, ya itu, klien mikir uda pasti high cost dan ribet, makanya nyuruh arsitek utk semuanya. saya sendiri ktk mngerjakan rumah, ME dan struktur (dan juga atap kuda2) pasti di sub ke yg lain (mcoba idealis), tp memang, keuntungan jadi menipis #eh malah curhat...


IAI sendiri dalam menerbitkan SKA, memang pakai uji kompetensi (ada 13), krn IAI berada di bawah UIA (org arsitek di dunia -macem PBB) dan Arcasia (org arsitek di asia -bentar lg mo kongres di bali). makanya bikin SKA di IAI jauh lbh sulit daripada di asosiasi lain (klo tidak salah ada PATI yg bs nerbitin SKA). jadi apa yg anda katakan itu benar, yg pengalaman 5 thn blm tentu lulus (ini ada byk kok yg ga lulus) dan yg 2 thn lulus. dan ujian ini harus proyek yg sudah terbangun, bukan cm konsep, jd bener sudah teruji. itu sebabnya arsitek pas lulus (selain ikut PPars) harus magang 2 thn. krn di magang itu keterlibatan dia di proyek bs maksimal dan diharapkan dlm 2 thn itu proyeknya (rumah) sdh jadi. itu pertimbangannya pak..

semoga menjelaskan...
InsyaAllah saya bukannya mao mnutup rezeki orang kok. rezeki kan Allah yg ngatur. tapi cm ingin melindungi profesi ini agar mjd lbh dihargai dan bermanfaat bagi masyarakat maupun si arsiteknya itu sendiri.


Ane dukung kok gan selama tidak ada yg dirugikan..hehe
Quote:Original Posted By berNavas
soal ini,harusnya IAI mampu kerja sama dengan pemda
utk hal pengurusan keluarnya IMB, harus menyertakan sertifikat arsitek terkait sebagai penanggung jwbnya


klo di jakarta itu sebenernya uda, yg mo bikin IPTB itu harus ada SKA. CUUUMMMAAAA masalahnya adalah, ktk mngajukan IMB, gambar yg di bikin arsitek itu "biasanya" digambar ulang sama drafter sana, trus di tanda tangan arsitek sono. dan penggambaran ulang itu diminta duit... dan desainpun ada perubahan di gbr perijinan, misal, yg tadinya pake dak, jadi ada atepnya. klo protes, di bilang "biar diijinin". klien manggut2 aja. ya sudah lah.... paling klo mo renovasi ntar ada pertanyaan, kok gbr ijin beda sama yg dilapangan? trus keluar duit lagi deh. ya selamat aja deh.... hehe.. *capek!!!

Quote:Original Posted By dannysebastian
Ane dukung kok gan selama tidak ada yg dirugikan..hehe


hayah pak, ndak bisa di quote nih.. (tpaksa ngopi pasta dah).

>>> nah itu yg mjd pertanyaan saya mengenai Arsitek designer dan engineer. Atau memang sbnrnya harusnya menjadi satu kesatuan

jawab: arsitek harus mengusai semuanya. disitu peran arsitek sebagai pemimpin. tapi mengusai bukan berarti ahli dalam arti harus bisa nukang/motong kayu (wlo sebenernya bisa, tp paling ga rapi aja). dan seperti layaknya dokter, arsitek "biasa" itu seperti dokter umum. tapi nantinya tentu akan ada spesialisasi. ada arsitek yg ahli dalam detail teknik bangunan tinggi, atau bandara atau RS. seharusnya seperti itu.

>>> kalau misalkan si klien hanya butuh desain bagaimana? Dan itu tidak dihitung dalam proyek untuk mengajukan ska krn tidak didampingi atau bagaimana?butuh pencerahan nih..hehe

justru itu mas. itu yg bikin saya geleng2. mayoritas klien (dari pngalaman saya) minta gambar cm sampe tahap preliminary (utk urusan IMB), abis itu arsitek tidak di libatkan lagi. klien nerusin konstruksi dgn konsultasi sama kontraktor (yg blm tentu arsitek pula). sukur2 kontraktor, sering jg sama tukang. hasilnya? ya jelas konsep desain jelas akan berbeda dengan kenyataan di lapangan. tidak terlihat detail2 cerdas hasil pemikiran arsitek. kualitas ruang yg "standart".

masalahnya : paradigma yg bilang mending ngeluarin belasan/puluhan juta utk semen daripada bayar arsitek.

>>>kalau minta klien menunjuk struktur dan me bisa jg kn?jd urusan invoice tetep mereka ke klien lgsg.

justru masalahnya disini. klien nyuru arsitek utk sapu jagad, harus bisa segalanya, dari desain arsitektur, ME, struktur hingga konstruksi. mereka ga mo ribet harus terlibat dgn byk pihak. trutama utk proyek skala kecil y. klo yg besar (bahkan rumah, tp besar), klien selain sewa arsitek, jg bisa nyewa konsultan lain (ME atau struktur minimal) dan kontraktor sendiri.

>>>Ane dukung kok gan selama tidak ada yg dirugikan..hehe

dirugikan InsyaAllah ngga, tapi merepotkan sangat mungkin. misal, bikin SKA itu salah satunya. (saya pribadi) dengan membuat SKA yg harus mngisi 13 kompetensi itu berasa ngejelimet bin puyeng alias jungkir balik (berasa ngerjain skripsi lg). apalagi nantinya akan ada wawancara segala (jadi kaya ujian skripsi).. tapi bukankah itu demi keprofesian kita jg? demi menjaga kualitas? demi menjaga klien dan arsitek?

note: mungkin ada jg sih yg dirugikan, para arsitek2an (bisa dari mahasiswa, tukang, seniman, ataupun S1 arsitektur yg tidak mau ribet) yg merasa nyaman dengan sistem yg bisa lepas tanggung jawab seperti skrg. klien mo nuntut pun ga bisa kan? apa buktinya? hehe..
ogut masih menunggu gebrakan dari IAI.
Arsitektur Indonesia mengalami stagnasi.
Singkat saja…

Spoiler for Danny:


Quote:Original Posted By archilest
ogut masih menunggu gebrakan dari IAI.
Arsitektur Indonesia mengalami stagnasi.


gebrakan yg kaya gimana y? hehe..
@hexadead
daripada gw tmbh bingung sendiri. Gw cuma mau bilang arsitek designer yang dibeli idenya. Mau mahasiswa atau anak sma asalkan idenya kuat harga jualnya tinggi. Arsitek Engineer jualan pengalaman. Kalau AE tipikalnya travertine owner minta ya dikasi tp AD kalau tidak sesuai design dy ya owner mau minta pun ga bakal diturutin.

DCM itu Duta Cermat Mandiri alias Denton Corker Marshall yg punya Budiman Hendropurnomo.

PTI itu Prada Tata Internasional alias Peddle Thorb Indonesia yang punya Doddy Tjahjadi. Ini yang ngerjain Summarecon Serpong.

2 perusahaan ini AD>AE. Karena gw pernah di salah satunya.

Gw cuma mau ngelurusin aja. Arsitek itu ciri khasnya ada di idenya. Pantes aja gambar arsitek ada yang dihargai 10.000/m2 karena ga ada idenya. Itu bukan arsitek tapi tukang gambar. dan menurut gw pribadi AE = tukang gambar.

Sekuriti itu yang ngurusin masalah keamanan gedung xray lah terus harus ada dinding tahan bom atau facade harus kaca anti bom dll..cek www.kroll.com

Terus traffic konsultant itu bangsanya Parmintory dkk...cek Pamintory.com

Jadi tugas arsitek itu adalah menciptakan ruang (kata Norman Foster). Sesimpel itu yang mau gw bilang. Arsitek = AD

Thank you

Spoiler for DS:


i'm just an ordinary people
Quote:Original Posted By hexadead
Spoiler for DS:


i'm just an ordinary people

@hexadead
udah gw ga mau memperpanjang.

Intinya emang gw membela arsitek yang baru lulus. Karena gw baru lulus dan tau penderitaannya.

Bung hexa sudah mungkin sudah buka biro dan hire orang gw ga tau. Tapi sepemahaman gw seperti itu dari baca2 komen.

Di salah satu post gw pernah inget bung hexa bilang baru lulus digaji 3jt bisa bikin bung hexa bangkrut dll. Saya tinggal di Jakarta merantau dan kalau saya makan indomie terus mungkin bisa nabung sebulan 1jt ya. Tapi kalau makan sehat. 3jt itu abis bis.

Saya cm mau RUU arsitek nantinya balance antara pemilik usaha biro dan karyawan. jangan sampai melindungi salah satu pihak. Banyak cerita tentang arsitek junior yang jadi drafter kemudian jantunglah, atau mati karena kebanykan lembur lah.

Soal job desk jg. Mahasiswa baru lulus s1 Arsitek ga jelas kompetensi yang harus dikembangkan apa untuk jadi arsitek. Dlu baru lulus saya bingung apa harus belajar QS, harus belajar gambar CAD, dll.

Saya hanya mau menyampaikan suara dari pihak yang baru lulus. Banyak temen cerita dan mengeluh seperti itu. Saya termasuk beruntung karena dapat lebih. Banyak teman saya yang merasa dijadikan sapi perah. Saya rasa kita semua ingin yang terbaik bagi semua orang.

Saya rasa bila jadi karyawan arsitek kesejahteraan terjamin. Maka istilah kami objekan atau asongan tidak akan ada. Saya akui itu, saya banyak mengobjek karena kesempatan berarsitek tidak ada (dijadikan drafter, 3d modeler tanpa dimentori dll) dan bagi teman lain adalah kesejahteraan yang kurang.

misi sesepuh,ogut ikutan


Quote:Original Posted By dannysebastian

DCM itu Duta Cermat Mandiri alias Denton Corker Marshall yg punya Budiman Hendropurnomo.

misi ya sesepuh,ogut ikutan

DCM = http://www.dentoncorkermarshall.com/contact/
kenapa ada DCM di indonesia,karena dulu ada orang indonesia yang mau magang dulu di Ausi,kemudian waktu DCM mau buka cabang di asia(jakarta) maka di tunjuklah orang yg magang tersebut buat memegangnya krn udah di percaya.
gitu critanya

Quote:Original Posted By dannysebastian
@hexadead
udah gw ga mau memperpanjang.

Intinya emang gw membela arsitek yang baru lulus. Karena gw baru lulus dan tau penderitaannya.

Bung hexa sudah mungkin sudah buka biro dan hire orang gw ga tau. Tapi sepemahaman gw seperti itu dari baca2 komen.

Di salah satu post gw pernah inget bung hexa bilang baru lulus digaji 3jt bisa bikin bung hexa bangkrut dll. Saya tinggal di Jakarta merantau dan kalau saya makan indomie terus mungkin bisa nabung sebulan 1jt ya. Tapi kalau makan sehat. 3jt itu abis bis.

Saya cm mau RUU arsitek nantinya balance antara pemilik usaha biro dan karyawan. jangan sampai melindungi salah satu pihak. Banyak cerita tentang arsitek junior yang jadi drafter kemudian jantunglah, atau mati karena kebanykan lembur lah.

Soal job desk jg. Mahasiswa baru lulus s1 Arsitek ga jelas kompetensi yang harus dikembangkan apa untuk jadi arsitek. Dlu baru lulus saya bingung apa harus belajar QS, harus belajar gambar CAD, dll.

Saya hanya mau menyampaikan suara dari pihak yang baru lulus. Banyak temen cerita dan mengeluh seperti itu. Saya termasuk beruntung karena dapat lebih. Banyak teman saya yang merasa dijadikan sapi perah. Saya rasa kita semua ingin yang terbaik bagi semua orang.

Saya rasa bila jadi karyawan arsitek kesejahteraan terjamin. Maka istilah kami objekan atau asongan tidak akan ada. Saya akui itu, saya banyak mengobjek karena kesempatan berarsitek tidak ada (dijadikan drafter, 3d modeler tanpa dimentori dll) dan bagi teman lain adalah kesejahteraan yang kurang.


ini yg salah IAI
kenapa,karena IAI kurang berperan ke seluruh lapisan.hanya mikirin anggotanya saja. salahin IAI saja.

Quote:Original Posted By adi1710
gebrakan yg kaya gimana y? hehe..

IAI harusnya mengakomodir mahasiswa arsitektur,merangkul,menginformasikan klo jadi arsitek tu gini-gini-gini... yg penting buat mahasiswa dulu,biar ndak bingung.
bertanggung jwb IAI. kalo seperti ini,mending bikin asosiasi lagi aja buat mengakomodir lulusan arsitek (ALAI - Asosiasi Lulusan Arsitektur Indonesia ) biar ada 2 mirip PSSI,trjadi dualisme. jadinya biar di dengar apresiasinya.
apa IAI tdk takut kalo sistem sprti itu anggotanya bisa habis.
buat apa ada acara ACRASIA tp tidak menghasilkan apa2. hasilnya apa? contoh dong negara lain kemudian di terapin di sini.
yg penting UU dulu lah di tegakkan,biar jelas. kalo perlu utk UU minta bantuan para mahasiswa/lulusan arsitek buat demo,di bantu lo.
IAI kurang mendengar "prudent".

bisa2 UU keperawatan gol lebih dulu nantinya dr pada UU arsitek.



tiap ogut buka kaskus,pasti kaskus lagi ndak bersahabat
Spoiler for eh ?:

santai ajalah…..semuanya ada prosesnya….
Curhatnya udah selesai ‘kan ya ?



mmm bung danny n hexadead itu ngebahas di trit ini atao trit yg laen y? kok pd quote dalam quote y?

Quote:Original Posted By dannysebastian


Intinya emang gw membela arsitek yang baru lulus. Karena gw baru lulus dan tau penderitaannya.

Di salah satu post gw pernah inget bung hexa bilang baru lulus digaji 3jt bisa bikin bung hexa bangkrut dll. Saya tinggal di Jakarta merantau dan kalau saya makan indomie terus mungkin bisa nabung sebulan 1jt ya. Tapi kalau makan sehat. 3jt itu abis bis.

Saya cm mau RUU arsitek nantinya balance antara pemilik usaha biro dan karyawan. jangan sampai melindungi salah satu pihak. Banyak cerita tentang arsitek junior yang jadi drafter kemudian jantunglah, atau mati karena kebanykan lembur lah.

Soal job desk jg. Mahasiswa baru lulus s1 Arsitek ga jelas kompetensi yang harus dikembangkan apa untuk jadi arsitek. Dlu baru lulus saya bingung apa harus belajar QS, harus belajar gambar CAD, dll.

Saya hanya mau menyampaikan suara dari pihak yang baru lulus. Banyak temen cerita dan mengeluh seperti itu. Saya termasuk beruntung karena dapat lebih. Banyak teman saya yang merasa dijadikan sapi perah. Saya rasa kita semua ingin yang terbaik bagi semua orang.

Saya rasa bila jadi karyawan arsitek kesejahteraan terjamin. Maka istilah kami objekan atau asongan tidak akan ada. Saya akui itu, saya banyak mengobjek karena kesempatan berarsitek tidak ada (dijadikan drafter, 3d modeler tanpa dimentori dll) dan bagi teman lain adalah kesejahteraan yang kurang.


berhubung yg bisa di quote cm ini, saya ikut nimbrung yg ini aja deh.

bung danny, kegundahan yg anda (para fresh grad) alami itu bukan cm monopoli para fresh grad aja loh.. para senior pun sama. klo ga percaya, coba liat sekitar anda, adakah arsitek yg bergelimang harta? bahkan arsitek selebritis (seperti djuju, aang, mamo) sekalipun. mereka (arsitek selebritis) cukup berduit, tapi coba bandingkan dengan profesi lainnya seperti dokter atau (apalagi) pengacara misalnya, jauh lah. bahkan klo mo fair2an, anda merasa gaji 3jt bilang tidak cukup, sedangkan saya yg sdh malang melintang 7 thn saja gajinya msh dibawah 5 loh. dan temen saya yg kerja di konsultan terkenal (10 besar di Indonesia) itu gajinya jg sama loh sama saya. ya bos gmn mo bayar gajinya tinggi klo dia di bayar owner aja seadanya? klopun tinggi, tp ngerjainnya bertahun2. ya abis buat operasional. nah itu artinya apa? bahwa profesi arsitek itu belum dianggap "berharga" di luar sana.

arsitek pd ribut ini salah satu alasan knp RUU ga terbit2, selain krn emang dasar angg DPR periode ini butut, ya krn para arsitek2 yg ada itu pd ga kompak, pd saling sikut, banting2an harga. klo harga sudah dibanting2, hasilnya kualitas pun jauh turun. klo kualitas turun, akhirnya AE hanya mengeluarkan detail2 yg diulang2. cuma ide yg bisa keluar, knp bisa ide keluar? krn itu proposal biar dapet proyek. tp pas proyek sdh ditangan, demi efisiensi proyek (biar cepet) akhirnya byk copas. trus hasilnya seadanya pula krn kontraktor jg asal ngerjainnya n arsiteknya ga ngawasin krn ga di bayar layak. abis itu klien males bayar arsitek lagi krn sama aja aya nge bayar tukang. krn klien byk yg males bayar arsitek, arsitek2 pun lgsg banting harga lg. daaannnnn tteerruuuuussss berulang. ini lingkaran setan bukan?

itu sebabnya saya sangat berharap UU arsitek bisa keluar. harapan saya jg seperti yg bung denny katakan (yg saya bold), tp mungkin pas UU keluar pun (saya yakin) jg ga akan sesuai keinginan. arsitek akan repot sesuai komen saya sebelumnya. tapi setidaknya itu satu tahap. satu tahap ke arah profesi arsitek utk mendapatkan tempat yg layak. klo profesi kita sudah dianggap layak , baru mari kita bahas salary.

Quote:Original Posted By archilest


misi ya sesepuh,ogut ikutan


ini yg salah IAI
kenapa,karena IAI kurang berperan ke seluruh lapisan.hanya mikirin anggotanya saja. salahin IAI saja.


IAI harusnya mengakomodir mahasiswa arsitektur,merangkul,menginformasikan klo jadi arsitek tu gini-gini-gini... yg penting buat mahasiswa dulu,biar ndak bingung.
bertanggung jwb IAI. kalo seperti ini,mending bikin asosiasi lagi aja buat mengakomodir lulusan arsitek (ALAI - Asosiasi Lulusan Arsitektur Indonesia ) biar ada 2 mirip PSSI,trjadi dualisme. jadinya biar di dengar apresiasinya.
apa IAI tdk takut kalo sistem sprti itu anggotanya bisa habis.
buat apa ada acara ACRASIA tp tidak menghasilkan apa2. hasilnya apa? contoh dong negara lain kemudian di terapin di sini.
yg penting UU dulu lah di tegakkan,biar jelas. kalo perlu utk UU minta bantuan para mahasiswa/lulusan arsitek buat demo,di bantu lo.
IAI kurang mendengar "prudent".

bisa2 UU keperawatan gol lebih dulu nantinya dr pada UU arsitek.



tiap ogut buka kaskus,pasti kaskus lagi ndak bersahabat


utk masalah kaskus, setuju nih. trutama sejak jd "new" kaskus.

utk masalah IAI, saya pribadi setuju dgn anda. IAI kurang menjangkau selain "profesional". pd dasarnya, IAI memang tujuannya buat ngurusin arsitek (profesional), bukan arsitek non arsitek ataupun mahasiswa. namun menurut saya berhubung mahasiswa dan arsitek non arsitek itu akan menjadi arsitek, wajib bagi IAI utk turut memperhatikan mereka. sayangnya byk yg kurang setuju dgn ide itu, krn itu hanya akan menambah beban IAI. krn utk ngurus arsitek aja uda cukup berat (apalagi Indonesia msh blm punya UU arsitek) apalagi klo urus mahasiswa. makanya skrg sdh tdk ada angg mahasiswa di IAI. nunggu mereka lulus dulu, baru di urus... halah... krn arsitek non arsitek msh di urus kok sama IAI. makanya msh ada anggota biasa selain anggota profesional. jd blm perlu bikin "alai" lah.

btw kayanya UU keperawatan bisa lbh dulu loh, UU pramuka sama TKI aja uda duluan.. arsitek ga penting, msh bisa lgsg dikerjain sama tukang..



@ pak hexadead, jgn tlalu keras pak. mereka cuma shock melihat dunia arsitektur ternyata tidak sesuai dgn nama besarnya. ternyata arsitektur cm indah di telinga, tp bukan di kantong.. hehe.. *salam dari arsitek yg ga punya rumah sendiri. #yanasib......
Quote:
@ pak hexadead, jgn tlalu keras pak. mereka cuma shock melihat dunia arsitektur ternyata tidak sesuai dgn nama besarnya. ternyata arsitektur cm indah di telinga, tp bukan di kantong.. hehe.. *salam dari arsitek yg ga punya rumah sendiri. #yanasib......


gak keras kok, saya coba mematahkan Doktrin mereka selama bertahun2 di akademis. semuanya memiliki proses....gak ada yg instan...

Spoiler for senyum arsitek:
dopost

Grin 

gan,mohon pencerahaannya, ane adalah sarjana arsitektur, cuma ane sekarangn bekerja di perbangkan, tapi ane ingin menjadi anggota IAI, apakah ane bisa menjadi anggota IAI sedangkan bidang pekerjaan ane tidak berhubungan sama sekali dengan dunia arsitektur.
makasih buat agan agan yang sudah bersedia membantu ane.
Quote:Original Posted By hexadead


gak keras kok, saya coba mematahkan Doktrin mereka selama bertahun2 di akademis. semuanya memiliki proses....gak ada yg instan...



klo gw pikir, sebenernya bukan salah mereka jg. tp pola pendidikan kita jg yg (bisa jadi) salah. pendidikan kita itu lulus PT = siap berkembang, BUKAN siap bekerja. pdhl mahasiswa (n orang tuanya) merasa klo mereka lulus maka mereka akan lgsg ktm dunia kerja. dulu saya aja shock pas KP (harus magang 3 bulan, kerja full senin-jumat, 8-17+lembur) di salah satu konsultan top, baru nemu namanya dunia kerja. (loh malah curcol). siap berkembang artinya abis lulus, silahkan belajar lg, terserah mo jd apa, dari arsitektur msh boleh kerja di perbankan ato dimanapun..

andai pendidikan S1 arsitektur (sbenernya yg laen jg) itu kontinyu dgn PPars trus lanjut ke magang (klo kita kiblat ke kedokteran), maka pas lulus S1, mereka sadar blm bisa berpraktek.

Quote:Original Posted By bandhikaf
gan,mohon pencerahaannya, ane adalah sarjana arsitektur, cuma ane sekarangn bekerja di perbangkan, tapi ane ingin menjadi anggota IAI, apakah ane bisa menjadi anggota IAI sedangkan bidang pekerjaan ane tidak berhubungan sama sekali dengan dunia arsitektur.
makasih buat agan agan yang sudah bersedia membantu ane.


tidak masalah. utk jadi ANGGOTA BIASA IAI, cukup S1 arsitektur. klo anggota PROFESIONAL , baru harus memiliki proyek (dan syarat2 lainnya). cara daftarnya silahkan menghubungi ke seketariat IAI di daerah masing2.
note: tidak ada ketentuan daftar anggota harus sesuai KTP ato apa. jd klo tinggal (KTP) di aceh, kerja di Jakarta, daftar IAI di Papua juga boleh kok. sah2 aja. silahkan.
info dll ttg IAI, bisa diliat di www.iai.or.id. . detail link (baik syarat2 ataupun lokasi seketariat) ada di post 1. semoga membantu
soal kaskus lupain aja pak adi,ikut yang punya forum mau di apain terserah yg punya.namanya juga nebeng,di nikmati aja. hahaha....
habis di forum iai juga sepi,blm tentu dapat tanggapan. hehehehe,,,,,

kembali ke leptop,,, ini zaman serba digital,
kalo sistemnya IAI demikian seperti ada monopoli sendiri di tubuh tersebut,ogut rasa mau kapanpun juga ndak akan lahir itu yang namanya UU arsitek. alasan blm adanya uu,memang hal itu sangat mengganggu profesi arsitek ogut setuju.
tp berdalih krna tidak punya UU arsitek,kemudian IAI acuh tak acuh terhadap dunia arsitektur indonesia ogut tdk setuju.
yg terjadi,,,persepsi tukang bisa menggantikan arsitek. orang yg bisa software arsitektur pun bisa menggantikan peran arsitek(silahkan klo buat konsumsi sendiri tp tidak menjual jasanya),bos2 yg punya duit mikir lebih murah menggaji orang tersebut dari pada membayar arsitek. jasa2 arsitek jalanan(abal-abal) yg ndak jelas ilmu arsitekturnya dari mana semakin liar di negri ini. dan kita harus bersaing dengan orang2 ndak jelas seperti itu,ini kan tidak sehat.
lama2 profesi arsitek ini tersisihkan di masyarakat,bahkan tinggal sebutan aja. di anggap perlu tp tidak penting. ada tp tidak nyata,maksutnya masyarakat tdk bisa merasakan hasil dari buah karya empunya arsitek. yg ada arsitek luar yg mengubah wajah negri kita,menciptakan trend di negri ini meskipun tidak cocok dengan iklim dan budaya kita sendiri hadir di masyarakat. sunggung ironi.

mahasiswa arsitektur yg berjuang mati2an buat lulus,dengan beban mata kuliah yg berat dan biaya kuliah terbilang mahal,ndak berguna lagi. di akhir2 studinya mengalami kegundahan yg mendalam.mau kemana?
kemudian buat apa lagi ada jurusan arsitektur di indonesia?klo sitemnya buruk di negri ini. yg ndak mengenyam kuliah arsi aja bisa praktek.
tidak ada yg bisa bertanggung jawab dan tidak ada yg mau di salahkan dalam hal itu.

yg ogut khawatirkan disitu,bukan masalah kantong(yg namanya rejeki sudah ada yg ngatur dan memberi. apalagi soal fres grad,ogut rasa sama saja kok smua.mau kedokteran atau apa,klo soal itu tergantung orangnya mau berproses apa ndak) yg penting sistemnya baik dulu di perbaiki,pasti bisa lebih baik nantinya dan hasilnya juga sepadan.

sedangkan IAI tidak mau menggebrak,bikin trobosan2 merangkul smua lapisan,mendengar "prudent" tadi,aset2nya(bakal calon arsitek) juga bakal hilang,krn IAI merasa malah menjadi beban. kita lihat saja dah kapan UU arsitek terwujud dan bisa membuat kita para arsitek/lulusan arsitektur(bakal calon arsitek) bisa tidur nyenyak.

sementara profesi yg lain berbicara salary kita masih berbicara sikut menyikut.
lalalalalaaa.....


Quote:Original Posted By adi1710
klo gw pikir, sebenernya bukan salah mereka jg. tp pola pendidikan kita jg yg (bisa jadi) salah. pendidikan kita itu lulus PT = siap berkembang, BUKAN siap bekerja. pdhl mahasiswa (n orang tuanya) merasa klo mereka lulus maka mereka akan lgsg ktm dunia kerja. dulu saya aja shock pas KP (harus magang 3 bulan, kerja full senin-jumat, 8-17+lembur) di salah satu konsultan top, baru nemu namanya dunia kerja. (loh malah curcol). siap berkembang artinya abis lulus, silahkan belajar lg, terserah mo jd apa, dari arsitektur msh boleh kerja di perbankan ato dimanapun..

andai pendidikan S1 arsitektur (sbenernya yg laen jg) itu kontinyu dgn PPars trus lanjut ke magang (klo kita kiblat ke kedokteran), maka pas lulus S1, mereka sadar blm bisa berpraktek.

tugasnya IAI harusnya,membenahi sistem,bekerjasama dengan pihak2 terkait,utk memperbaikinya.



sebenernya etis gak si,bicara ginian di publik. bisa jadi konsumsi publik.
maaf ya senior,sesepuh,ogut edit dah klo gak etis.