Keempat belas: AHLUS SUNNAH MENETAPKAN ISTIWA' (BERSEMAYAM)

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


Termasuk iman kepada Allah adalah iman kepada apa yang diturunkan Allah Azza wa Jalla dalam Al-Qur-an yang telah diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam serta yang telah disepakati oleh generasi pertama dari ummat ini (para Sahabat Radhiyallahu anhum) bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas semua langit[1], bersemayam di atas ‘Arsy[3], Mahatinggi di atas segala makhluk-Nya, Allah tetap bersama mereka dimana saja mereka berada, yaitu Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” [Al-A’raaf: 54]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “...Pandangan yang kami ikuti berkenaan dengan masalah ini adalah pandangan Salafush Shalih seperti Imam Malik, al-Auza’i, ats-Tsauri, al-Laits bin Sa’ad, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan Imam-Imam lainnya sejak dahulu hingga sekarang, yaitu mem-biarkannya seperti apa adanya, tanpa takyif (mempersoalkan kaifiyahnya/hakikatnya), tanpa tasybih (penyerupaan) dan tanpa ta’thil (penolakan). Dan setiap makna zhahir yang terlintas pada benak orang yang menganut faham musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluk), maka makna tersebut sangat jauh dari Allah, karena tidak ada sesuatu pun dari ciptaan Allah yang menyerupai-Nya. Seperti yang difirmankan-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’ [Asy-Syuuraa: 11]

Tetapi persoalannya adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh para Imam, di antaranya adalah Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i -guru Imam al-Bukhari-, ia mengatakan: ‘Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia kafir. Dan barangsiapa yang mengingkari sifat yang telah Allah berikan untuk Diri-Nya sendiri, berarti ia juga telah kafir.’ Tidaklah apa-apa yang telah disifatkan Allah bagi Diri-Nya sendiri dan oleh Rasul-Nya merupakan suatu bentuk penyerupaan. Barangsiapa yang menetapkan bagi Allah Azza wa Jalla setiap apa yang disebutkan pada ayat-ayat Al-Qur-an yang jelas dan hadits-hadits yang shahih, dengan pengertian yang sesuai dengan kebesaran Allah, serta menafikan segala kekurangan dari Diri-Nya, berarti ia telah me-nempuh jalan hidayah (petunjuk).” [3]

Firman Allah al-Aziiz:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“(Yaitu) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [Thaahaa: 5]

Ketika Imam Malik (wafat th. 179 H) rahimahullah ditanya tentang istiwa’ Allah, maka beliau menjawab:

َاْلإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَاْلإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَمَا أَرَاكَ إِلاَّ ضَالاًّ.

“Istiwa’-nya Allah ma’lum (sudah diketahui maknanya), dan kaifiyatnya tidak dapat dicapai nalar (tidak diketahui), dan beriman kepadanya wajib, bertanya tentang hal tersebut adalah perkara bid’ah, dan aku tidak melihatmu kecuali da-lam kesesatan.”

Kemudian Imam Malik rahimahullah menyuruh orang tersebut pergi dari majelisnya.[4]

Imam Abu Hanifah (hidup pada tahun 80-150 H) rahimahullah berkata:

مَنْ اَنْكَرَ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي السَّمَاءِ فَقَدْ كَفَرَ.

“Barangsiapa yang mengingkari bahwa Allah Azza wa Jalla berada di atas langit, maka ia telah kafir.” [5]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
Quote:
[1]. Dalil-dalil Allah berada di atas langit: QS. Al-Mulk: 16-17, al-An’aam: 18, 61, an-Nahl: 50, al-Mu’min: 36-37 dan Faathir: 10.
[2]. Dalil-dalil tentang Istiwa’ Allah di atas ‘Arsy-Nya disebut di tujuh tempat: QS. Al-A’raaf: 54, Yunus: 3, ar-Ra’d: 2, Thaahaa: 5, al-Furqaan: 59, as-Sajdah: 4 dan al-Hadiid: 4.
[3]. Lihat Tafsiir Ibni Katsiir (II/246-247), cet. Daarus Salaam, th. 1413 H.
[4]. Lihat Syarhus Sunnah lil Imaam al-Baghawi (I/171), Mukhtasharul ‘Uluw lil Imaam adz-Dzahabi (hal. 141), cet. Al-Maktab al-Islami, tahqiq Syaikh al-Albani.
[5]. Lihat Mukhtashar al-‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghaffaar (hal. 137, no. 119) tahqiq Syaikh al-Albani dan Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 386-387) takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki.

Kelima belas: AHLUS SUNNAH MENETAPKAN MA'IYYAH (KEBERSAMAAN ALLAH)

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا

“Dan tidaklah terjadi pembicaraan yang rahasia antara tiga orang, melainkan Allah yang keempatnya, dan tidak terjadi pembicaraan antara lima orang, melainkan Allah yang keenamnya, dan tidak pula pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada...” [Al-Mujaadilah: 7]

Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap bersama mereka di mana saja mereka berada, yaitu Allah Mahamengetahui apa yang mereka perbuat.

Ma’iyyah ada dua macam:

Pertama: Ma‘iyyah khusus.
Yaitu kebersamaan Allah dengan sebagian makhluk-Nya yang kita tidak tahu tentang kaifiyatnya, kecuali Allah, seperti seluruh Sifat-Sifat-Nya. Ma’iyyah ini mengandung makna bahwa Allah meliputi hamba-Nya yang dicintai, menolongnya, memberikan taufiq, menjaganya dari kebinasaan dan lainnya sebagaimana diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang bertaqwa dan berbuat baik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” [An-Nahl: 128]

Kedua: Ma‘iyyah umum.
Yaitu kebersamaan Allah dengan seluruh makhluk-Nya, di mana Allah mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya dan Allah mengetahui semua keadaan mereka, mengetahui tindak-tanduk mereka yang lahir maupun bathin, dan yang seperti ini tidak berarti Allah bersatu dengan hamba-Nya, karena Allah tidak dapat diqiyaskan dengan hamba-Nya. Dan tingginya Allah di atas makhluk-Nya tidak menafikan (meniadakan) kebersamaan Allah dengan hamba-hamba-Nya, berbeda dengan makhluk-Nya, karena keberadaan makhluk di satu tempat (arah), pasti dia tidak tahu tempat (arah) yang lainnya. Allah tidak sama dengan sesuatu apa pun karena kesempurnaan ilmu dan kekuasaan-Nya.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia istiwa’ (bersemayam) di atas Arsy. Dia menge-tahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari-padanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke-padanya. Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al-Hadiid: 4]

Pengertian هُوَ مَعَكُمْ “Allah bersamamu,” bukanlah berarti Allah Subhanahu wa Ta’ala bersatu, bercampur atau bergabung dengan makhluk-Nya, karena hal ini tidak dibenarkan secara bahasa serta menyalahi ijma’ Salafush Shalih, dan hal ini bertentangan dengan fitrah manusia. Bahkan bulan sebagai satu tanda dari tanda-tanda (kebesaran dan ketinggian) Ilahi, yang termasuk di antara makhluk-Nya yang terkecil yang terletak di langit, ia (bulan) dikatakan bersama musafir di mana saja musafir itu berada meskipun ia berada di ketinggian sana.

Allah bersemayam di atas ‘Arsy dan Allah tetap mengawasi makhluk-Nya, mengamati (gerak-gerik) mereka, serta mengintai (memperhatikan) perbuatan mereka.

Termasuk dalam hal ini adalah mengimani bahwa Allah itu dekat dan Dia mengabulkan (setiap do’a hamba-Nya).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a kepada-Ku.” [Al-Baqarah: 186]

Apa yang telah dituturkan Al-Qur-an dan As-Sunnah, bahwa Allah dekat dan bersama makhluk-Nya, tidaklah bertentangan dengan yang Allah firmankan, bahwa Allah Mahatinggi dan bersemayam di atas ‘Arsy, karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala Sifat-Sifat-Nya. Dia Mahatinggi dalam kedekatan-Nya, tetapi dekat dalam ketinggian-Nya.[1]

Hal ini disebutkan dalam sabda Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam:

...إِنَّ الَّذِيْ تَدْعُوْنَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ.

“... Sesungguhnya Allah Yang engkau berdo’a kepada-Nya, lebih dekat kepada seseorang di antara kamu daripada leher binatang tunggangannya.” [2]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]

Quote:[1]. Lihat at-Tanbiihaatul Lathiifah (hal. 63-66) oleh Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di dan Syarah ‘Aqiidah al-Waasithiyyah (hal. 167) oleh Khalil Hirras.
[2]. HR. Al-Bukhari (no. 2992, 4202, 6384, 6409, 6610), Muslim (no. 2704 (46)) dan Ahmad dalam Musnadnya (IV/402), dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu. Lafazh hadits ini milik Ahmad.

Sifat Dua Tangan Allah (يد الله)

[Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkata : ]

وأن له يدين بلا كيف كما قال : { خَلَقْتُ بِيَدَيَّ } [ سورة ص ، الآية : 75 ] .

وكما قال : { بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ } [ سورة المائدة ، الآية : 64 ] .

“Bahwasannya Allah mempunyai dua tangan tanpa perlu ditanyakan bagaimananya (kaifiyah-nya), sebagaimana firman-Nya : ‘Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku’, dan juga sebagaimana firman-Nya : ‘Akan tetapi kedua tangan-Nya terbuka”.

Makna Bahasa :

[بلا كيف] : Tanpa menggambarkan bagaimananya secara spesifik bagi sifat Allah tersebut.

Penjelasan :

Penetapan sifat dua tangan terdapat dalam beberapa tempat dalam Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dalil dari Kitabullah, telah disebutkan muallif (Abul-Hasan Al-Asy’ariy) sebagian di antaranya. Adapun dalil dari sunnah, Al-Bukhariy rahimahullah telah memuatnya dalam kitab Shahih-nya, bab : qaulullaahu ta’ala : limaa khalaqtu bi-yadaiy (Bab : Firman Allah ta’ala : ‘kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku’), yang merupakan bagian dari Kitaab At-Tauhiid. Ia (Al-Bukhaariy) membawakan sejumlah hadits shahih yang kesemuanya menetapkan sifat dua tangan Allah ta’ala. Di antaranya adalah hadits Anas bin Maalik secara marfu’ tentang asy-syafaa’atul-‘udhmaa, yang padanya terdapat perkataan :

« يجتمع المؤمنون يوم القيامة فيقولون : لو استشفعنا إلى ربنا يُرِحْنا من مكاننا هذا ، فيأتون آدم فيقولون : يا آدم ، أما ترى الناس ؟ خلقك الله بيده وأسجد لك ملائكته وعلمك أسماء كل شيء ، اشفع لنا إلى ربك »

“Pada hari kiamat Allah mengumpulkan orang-orang mukmin. Lalu mereka berkata : 'Seandainya saja kita meminta syafaat kepada Rabb kita sehingga Dia bisa menjadikan kita merasa aman dari tempat kita sekarang ini ?’. Kemudian mereka menemui Adam dan berkata : ‘Wahai Adam, bukankah engkau menyaksikan (keadaan) manusia ? Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya, menjadikan para malaikat sujud kepadamu, dan mengajarkan kepadamu nama-nama segala sesuatu. Oleh karena itu, berikanlah syafa’at kepada kami kepada Rabb-mu”.[1]

Dan juga hadits Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa yang padanya terdapat perkataan :

« إن الله يقبض يوم القيامة الأرض وتكون السماوات بيمينه ثم يقول : أنا الملك »

“Sesungguhnya Allah akan menggenggam bumi pada hari kiamat dan langit-langit berada di tangan kanan-Nya, lalu berfirman : ‘Aku adalah Raja”.[2]

Dan juga hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, yang di dalamnya terdapat sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

« يد الله ملأى لا يغيضها نفقة سحَّاء الليل والنهار »

“Tangan Allah selalu penuh, tidak kurang karena memberi nafkah, dan selalu dermawan baik malam maupun siang".[3]

Nash-nash yang telah disebutkan di atas merupakan dalil penetapan (sifat) dua tangan bagi Allah subhaanahu wa ta’ala, tidak boleh di-ta’wil sedikitpun. Tidak mungkin memahami dua tangan kecuali dengan (makna) hakekatnya. Barangsiapa yang tidak membawa makna sifat dua tangan sesuai hakekatnya, maka ia seorang mu’aththil (orang yang menafikkan sifat Allah) terhadap sifat tersebut. Al-Imam Abu Haniifah rahimahullah secara jelas mengatakan bahwa siapa saja yang tidak membawa nash-nash sesuai dengan (makna) hakekatnya, serta men-ta’wil-kan sifat dua tangan dengan kekuasaan (al-qudrah) atau nikmat (an-ni’mah), sungguh ia telah mengingkari sifat itu sendiri.

Beliau (Abu Hanifah) telah berkata :

ولا يقال إن يده قدرته أو نعمته لأن فيه إبطال الصفة ، وهو قول أهل القدر والاعتزال ، ولكن يده صفة بلا كيف

“Tidak boleh untuk dikatakan : Sesungguhnya (makna) tangan-Nya adalah kekuasaan-Nya atau nikmat-Nya, karena di dalamnya mengandung pengingkaran terhadap sifat (Allah). Ia adalah perkataan orang-orang Qadariyyah dan Mu’tazillah. Akan tetapi tangan-Nya adalah sifat yang tidak boleh ditanyakan bagaimananya (kaifiyah-nya)”.[4]

Ibnu Baththaal berkata saat memberikan bantahan terhadap orang yang menta’wilkan sifat dua tangan dengan kekuasaan atau nikmat :

ويكفي في الرد على من زعم أنهما بمعنى القدرة أنهم أجمعوا على أن له قدرة واحدة في قول المثبتة ولا قدرة له في قول النفاة . . ويدل على أن اليدين ليستا بمعنى القدرة أن قوله تعالى لإبليس : { مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ } [ سورة ص ، الآية : 75 ] إشارة إلى المعنى الذي أوجب السجود ، فلو كانت بمعنى القدرة لم يكن بين آدم وإبليس فرق لتشاركهما فيما خلق كل منهما به وهي قدرته ، ولقال إبليس : وأي فضيلة له عليَّ وأنا خلقتني بقدرتك ، كما خلقته بقدرتك فلما قال : { خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ } [ سورة ص ، الآية : 76 ] دل على اختصاص آدم بأن الله خلقه بيديه قال : ولا جائز أن يراد باليدين النعمتان لاستحالة خلق المخلوق بمخلوق لأن النعم مخلوقة
“Cukuplah bantahan bagi orang yang berkata tangan Allah bermakna kekuasaan, bahwasannya mereka sepakat Allah mempunyai kekuasaan yang satu menurut pendapat yang menetapkan, dan tidak mempunyai kekuasaan menurut pendapat yang menafikkannya…. Dan hal yang menunjukkan Allah mempunyai dua tangan yang tidak bermakna kekuasaan adalah firman Allah ta’ala kepada Iblis : ‘Apa yang menghalangimu untuk bersujud kepada manusia yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku ?’ (QS. Shaad : 75); sebagai isyarat kepada makna yang mewajibkan syaithan untuk sujud (kepada Adam). Seandainya tangan itu bermakna kekuasaan, niscaya tidak akan ada bedanya antara Adam dan Iblis karena persamaan antara keduanya dalam penciptaan, yaitu karena kekuasaan-Nya. Dan niscaya Iblis akan berkata : ‘Kelebihan apa yang ia (Adam) punya di atas diriku padahal aku Engkau ciptakan dengan kekuasaan-Mu sebagaimana ia Engkau ciptakan dengan kekuasaan-Mu pula ?’. Ketika Iblis berkata : ‘Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah’ (QS. Shaad : 76) menunjukkan kekhususan Adam bahwasannya Allah telah menciptakannya dengan kedua tangan-Nya. Tidak boleh juga dikatakan dua tangan maknanya adalah dua nikmat, karena mustahil Allah menciptakan makhluk dengan makhluk – yaitu karena nikmat itu sendiri adalah makhluk”.[5]

Salaf telah ber-ijma’ tentang hal ini.

Al-Asy’ariy berkata :

أجمعوا على أنه عز وجل يسمع ويرى ، وأن له تعالى يدين مبسوطتين ، وأن الأرض جميعا قبضته يوم القيامة والسماوات مطويات بيمينه

“Mereka telah berijma’ bahwasannya Allah ‘azza wa jalla mendengar dan melihat. Ia mempunyai dua tangan yang terbuka. Bumi akan digenggam-Nya pada hari kiamat dan langit akan dilipat dengan tangan kanan-Nya”.[6]
Al-Ismaa’iliy juga menyatakannyanya dalam kitab ‘Aqiidah Ahlil-Hadiits, saat ia berkata :

وخلق آدم عليه السلام بيده ، ويداه مبسوطتان ينفق كيف يشاء بلا اعتقاد كيف يداه إذ لم ينطق كتاب الله تعالى فيه بكيف

“Allah menciptakan Adam ‘alaihis-salaam dengan tangan-Nya, dan kedua tangan-Nya terbuka memberikan (karunia kepada makhluk) sebagaimana yang Ia kehendaki, tanpa disertai keyakinan penentuan kaifiyah kedua tangan-Nya; yaitu ketika tidak ada penjelasan di dalam Kitabullah tentang kaifiyah tersebut”.[7]

Oleh karena itu, Anda dapat melihat Asy’ariyyah menyelisihi imam mereka (yaitu Abul-Hasan Al-Asy’ariy) dengan men-tafwidl sifat ini sebagaimana tafwidl yang dilakukan orang-orang bodoh dan membodohkan (ahlul-jahl wat-tajhiil), atau men-ta’wil-nya dengan ta’wil-an para penyeleweng dan pengingkar (ahlut-tahriif wat-ta’thiil).

[Diambil dari buku I’tiqaad Ahlis-Sunnah Syarh Ashhaabil-Hadiits oleh Dr. Muhammad Al-Khumais, hal. 24-28; Wizaaratusy-Syu’uun Al-Islaamiyyah wal-Auqaaf wad-Da’wah wal-Irsyaad, Cet. 1/1419 ].

link

Quote:[1] Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy (13/403) no. 7410 dalam Kitaab At-Tauhiid, Bab : Firman Allah ta’ala : ‘Kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku’; dari hadits Qataadah, dari Anas secara marfu’.
[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy (13/404) no. 7411 dalam Kitaab At-Tauhiid, Bab : Firman Allah ta’ala : ‘Kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku’; dari hadits Naafi’, dari Ibnu ‘Umar secara marfu’.
[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy (13/404) no. 7412 dalam Kitaab At-Tauhiid, Bab : Firman Allah ta’ala : ‘Kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku’; dari hadits Al-A’raj, dari Abu Hurairah secara marfu’.
[4] Al-Fiqhul-Akbar, hal. 302.
[5] Fathul-Baariy, 13/393-394.
[6] Risaalah ilaa Ahlits-Tsaghr, hal. 72.
[7] Hal. 51.
serem banget nih tread ada yg mengatakan Allah punya 2 tangan
Syarah AQIDAH Ahlul Copy wal Paste (Manhaj Salaf)
bikin pengunjung trit jadi









































murid2nya mbah gugel
Quote:Original Posted By modmodol
serem banget nih tread ada yg mengatakan Allah punya 2 tangan


Kenapa musti serem gan Allah mensifati diri-Nya dengan dua tangan.

Allah mensifati diri-Nya memiliki dua tangan jangan dibayangkan dua tangan Allah sama dengan dua tangan mahluk-Nya, dan jangan juga menta'wil dengan merubah maknanya dengan yang lain.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [QS. Asy-Syuuraa : 11].

Quote:Salah satu prinsip Ahlus-Sunnah dalam perkara sifat-sifat Allah adalah beriman kepada sifat-sifat (Allah) tersebut sebagaimana yang terdapat dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam tanpa tahrif (penyelewengan makna), ta’thil (meniadakannya), takyif (menanyakan bagaimana/kaifiyyah), dan tamtsil (mempermisalkannya/menyamakannya dengan makhluk); dan mengimani bahwa Allah subhaanahu wa ta’ala tidak serupa dengan sesuatu apapun, Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Mereka (Ahlus-Sunnah) tidak menafikkan dari-Nya apa-apa yang Allah sifatkan bagi diri-Nya, tidak menyelewengkan kalimat dari makna asalnya, dan tidak pula berbuat ilhad (menentang) terhadap nama-nama dan ayat-ayat Allah, dan tidak pula menanyakan bagaimana (kaifiyah) dan menyamakan sifat-sifat-Nya dengan sifat-sifat makhluk-Nya [sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyyah dalam kitab Al-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah – melalui At-Ta’liiqaatuz-Zakiyyah ‘alal-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah oleh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahmaan Al-Jibriin, 1/81-88; Daarul-Wathaan, Cet. 1/1419].
Quote:Original Posted By mudznib
Syarah AQIDAH Ahlul Copy wal Paste (Manhaj Salaf)
bikin pengunjung trit jadi




murid2nya mbah gugel


sudah baca ini dihalaman depan..?

Quote:Dan disini ana juga perlu tekankan, ana bukan seorang ustad apalagi ulama atau mujtahid. Jadi isi tulisan ana ini bukanlah hasil dari pemikiran dan Ijtihad ana sendiri. sekali lagi ana katakan, tulisan ini merupakan tulisan ulang dan kopasan dari buku Syarah Aqidah Ahlul Sunnah Wal Jamaah penulis Al Ustadz Yazid bin Abdur Qadir Jawas dan juga dari sumber lainnya..

tulis ulang dari kitabnya disini dengan kopas dari google emang apa bedanya..?

toh yang dikopas juga bisa ana pahami dan sesuai dengan pemahaman dan dapatkan keIlmuannya dari para ustad yang ana hadiri majelis ilmu-nya

kalau agan mujtahid atau ulama ya silahkan aja buat pendapat sendiri langsung tafsirkan dan syarah haditsnya sendiri, tapi kalau cuma tulis ulang isi kitab ulama, ustadz, kyia atau habib agan disini jadi sama aja dengan kopas. bedanya yang satu ketik ulang satu persatu huruf dan kata perkata dari isi kitab-nya dan yang satu lagi ambil jalan mudah dengan pencet kontrol C dan V. jadi ngak usah blagu atau sok pintar kalau ujung-ujungnya juga kutip dari kitab ulama juga bukan menafsirkan ayat dan mensyarah haditsnya langsung atau minimal men-Tahqiq dan men-Takhrij kitab ulama yang dapat menghasilkan Ijtihad sendiri

jadi ana karena masih bodoh ngak mau blagu apalagi sok pintar, bisa ana baru sebatas menulis ulang atau kopas penjelasan dan tulisan Ustadz yang ana ambil keIlmuannya..

suka ngak suka terserah urusan agan. yang ana minta cuma satu. kalau tidak suka jangan rusuh di Thread. Tapi jika mengenai isi Thread-nya ada yang agan tidak suka silahkan bantah dengan baik.

Sifat Mata Bagi Allah (bantahan Salafi Wahhabi aqidah mujassimah)

Tanya :

Saya membaca di banyak media internet, salah satu keyakinan Wahabi adalah Allah mempunyai mata, dan ini adalah aqidah mujassimah. Menurut saudara, apakah benar pernyataan seperti ini ?

Jawab :


Statement yang Anda sebutkan itu ada benarnya, namun ada pula salahnya. Sisi benarnya adalah Allah ta’ala memang mempunyai mata; sedangkan sisi salahnya adalah anggapan ‘aqidah itu adalah ‘aqidah mujassimah. Yang benar, penetapan Allah ta’ala mempunyai mata merupakan bagian dari ‘aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah yang shahih, dulu dan sekarang. Banyak dalil yang menetapkannya, di antaranya :

Allah ta’ala berfirman :

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ


“Dan buatlah bahtera itu dengan (pengawasan) mata-mata dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang yang lalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan” [QS. Huud : 37].

حدثنا محمد بن عبد الأعلى قال ، حدثنا محمد بن ثور، عن معمر، عن قتادة في قولهبأعيننا ووحينا) ، قال: بعين الله ووحيه.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdil-A’laa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Tsaur, dari Ma’mar, dari Qataadah tentang firman-Nya : ‘dengan (pengawasan) mata-mata dan petunjuk wahyu Kami’, ia berkata : “Dengan mata Allah dan wahyu-Nya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Jariir dalam Tafsir-nya, 15/309 no. 18131; shahih].

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan mata-mata Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri” [QS. Ath-Thuur : 48].

حدثنا موسى بن إسماعيل: حدثنا جويرية، عن نافع، عن عبد الله قال: ذكر الدجال عند النبي صلى الله عليه وسلم، فقال: (إن الله لا يخفى عليكم، إن الله ليس بأعور - وأشار بيده إلى عينه - وإن المسيح الدجال أعور العين اليمنى، كأن عينه عنبة طافية).

Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami Juwairiyyah, dari Naafi’, dari ‘Abdullah (bin ‘Umar), ia berkata : Disebutkan Dajjaal di sisi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak tersembunyi dari kalian. Sesungguhnya Allah itu tidak buta sebelah matanya – lalu beliau berisyarat dengan tangannya ke matanya - . Dan bahwasannya Al-Masiih Ad-Dajjaal itu buta sebelah matanya yang kanan seakan-akan matanya itu seperti buah anggur yang mengapung (menonjol keluar)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7407].

حدثنا علي بن نصر ومحمد بن يونس النسائي المعنى قالا ثنا عبد الله بن يزيد المقرئ ثنا حرملة يعني بن عمران حدثني أبو يونس سليم بن جبير مولى أبي هريرة قال سمعت أبا هريرة يقرأ هذه الآية إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمانات إلى أهلها إلى قوله تعالى سميعا بصيرا قال : رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يضع إبهامه على أذنه والتي تليها على عينه قال أبو هريرة رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرؤها ويضع إصبعيه قال بن يونس قال المقرئ يعني إن الله سميع بصير يعني أن لله سمعا وبصرا
قال أبو داود وهذا رد على الجهمية


Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Nashr dan Muhammad bin Yuunus An-Nasaa’iy secara makna, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yaziid Al-Muqri’ : Telah menceritakan kepada kami Harmalah, yaitu Ibnu ‘Imraan : Telah menceritakan kepadaku Abu Yuunus Sulaim bin Jubair maulaa Abu Hurairah, ia berkata : Aku mendengar Abu Hurairah membaca ayat ini : ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya’ hingga firman-Nya ta’ala : ‘Maha Mendengar lagi Maha Melihat’ (QS. An-Nisaa’ : 58). Ia (Abu Hurairah) berkata : “Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam meletakkan ibu jarinya pada telinganya, dan jari telunjuknya ke matanya”. Abu Hurairah berkata : “Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat itu seraya meletakkan kedua jarinya tersebut”. Ibnu Yuunus berkata : Berkata Al-Muqri’ : “Yaitu, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, yaitu Allah mempunyai pendengaran dan penglihatan”.
Abu Daawud berkata : “Hadits ini merupakan bantahan terhadap sekte Jahmiyyah” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4728; dishahihkan sanadnya oleh Al-Albaaniy dalam Shahih Sunan Abi Daawud 3/156].

Hadits di atas merupakan penunjukkan yang jelas dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (dan juga para perawi hadits dari kalangan shahabat dan ulama setelahnya) bahwasannya Allah ta’ala benar-benar mempunyai mata secara hakiki, bukan dalam arti majaz seperti persangkaan sebagian orang. Adapun perkataan Abu Daawud bahwa hadits tersebut merupakan bantahan terhadap sekte Jahmiyyah, hal itu dikarenakan mereka menafikkan sifat dzaatiyyah ini dari Allah ta’ala.

Di antara perkataan para imam Ahlus-Sunnah tentang penetapan mata bagi Allah ta’ala :

Ibnu Khuzaimah rahimahullah berkata :

فواجب على كل مؤمن أن يثبت الخالقه وبارئه ما ثبّت الخالق البارئ لنفسه، من العين، غير مؤمن : من ينفي عن الله تبارك وتعالى ما قد ثبته الله في محكم تنزيله، ببيان النبي صلى الله عليه وسلم الذي جعله الله مبينًا عنه، عز وجل، في قوله : (وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم)، فبين النبي صلى الله عليه وسلم أن الله عينين، فكان بيانه موافقًا لبيان محكم التنزيل، الذي هو مسطور بين الدفتين، مقروء في المحاريب الكتاتيب.

“Maka, wajib bagi setiap mukmin untuk menetapkan bagi Al-Khaaliq Al-Baari (Allah) apa-apa yang telah ditetapkan oleh Al-Khaaliq Al-Baari bagi diri-Nya, yaitu sifat ‘ain (mata). Sebaliknya, bukan termasuk golongan mukmin orang yang menafikkan dari Allah tabaaraka wa ta’ala apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah di dalam Muhkam At-Tanzil-Nya (Al-Qur’an) dan ditambah penjelasan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang memang dijadikan Allah sebagai juru penerang untuk setiap khabar yang berasal dari-Nya, melalui firman-Nya : ‘Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka’ (QS. An-Nahl : 44). Maka, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun menjelaskan bahwa bagi Allah itu mempunyai dua mata, dan penjelasannya itu sejalan dengan penjelasan Muhkam At-Tanzil (Al-Qur’an) yang tertera di antara lembaran-lembaran yang dibaca di mihrab-mihrab ataupun di tempat-tempat pengajian” [Kitaabut-Tauhiid wa Itsbaati Shifaatir-Rabb ‘Azza wa Jalla, hal. 97, tahqiq : Dr. ‘Abdul-‘Aziiz bin Ibrahim Asy-Syahwaan; Daar Ar-Rusyd, Cet. 1/1408 H].

Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkata :

وأن له سبحانه عينين بلا كيف، كما قال سبحانه: (تجري بأعيننا)..

“Bahwasannya Allah subhaanahu wa ta’ala mempunyai dua mata tanpa perlu ditanyakan bagaimananya (kaifiyah-nya),
sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman : ‘Yang berlayar dengan pemeliharaan (pengawasan mata) Kami” (QS. Al-Qamar : 14)” [Al-Ibaanah, hal. 9; Daar Ibni Zaiduun, Cet. 1].

Al-Laalikaa’iy rahimahullah membuat satu bab dalam kitab ‘aqidahnya :

سياق ما دل من كتاب الله عز وجل وسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم على أن صفات الله عز وجل الوجه والعينين واليدين

“Konteks apa-apa yang ditunjukkan dari Kitabullah ‘azza wa jalla dan sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya di antara sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla adalah wajah, dua mata, dan dua tangan” [Syarh Ushuulil-I’tiqaad, 3/412, tahqiq : Ahmad bin Mas’uud Al-Hamdaan]

Abu Ismaa’iil Al-Harawiy rahimahullah membuat satu bab dalam kitabnya Al-Arba’uun fii Dalaailit-Tauhiid : Baab Istbaatil-‘Ainain lahu ta’alaa (Bab Penetapan Dua Mata Bagi Allah ta’ala) [3/1].

Abu ‘Amru Ad-Daaniy rahimahullah setelah menyebutkan hadits Dajjaal di atas berkata :

فأثبت له العينين


“Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menetapkan dua mata bagi Allah ta’ala” [Ar-Risaalah Al-Waafiyyah, hal. 123].

Inilah ‘aqidah yang shahih, walau banyak orang bodoh tidak menyukainya.
Walaupun begitu, sifat mata yang dimiliki Allah ta’ala berbeda dengan makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya ta’ala :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [QS. Asy-Syuuraa : 11].

Adapun Asyaa’irah – walau mereka mengaku Ahlus-Sunnah – maka kenyataannya mereka bukanlah pengamal sunnah. Mereka menafikkan apa-apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya serta menyelisihi perkataan salaf.


Wallaahu a’lam.

Penjelasan lainnya juga ada disini
Quote:Original Posted By jual.buku.islam
Kenapa musti serem gan Allah mensifati diri-Nya dengan dua tangan.

Allah mensifati diri-Nya memiliki dua tangan jangan dibayangkan dua tangan Allah sama dengan dua tangan mahluk-Nya, dan jangan juga menta'wil dengan merubah maknanya dengan yang lain.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [QS. Asy-Syuuraa : 11].


tangan terdiri dari yg namanya :

1. lengan

2. siku

3. jari jemari yg terdiri dari jempol, telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking.

suatu pernyataan yg kontradiksi bila dikatakan punya tangan tapi bukan tangan..

innalillahi..

disinilah letak kehati-hatian dari asy-ariyah golongan mutaakhirin...beliau2 menta'wilkan ayat2 yg berhubungan dengan dzat untuk menghindari yg namanya menyerupakan dengan makhluknya meskipun mereka yg mengatakan tangan bukan tangan selalu berlindung di balik ayat laisa kamislihi syay'un.
Quote:Original Posted By modmodol
tangan terdiri dari yg namanya :

1. lengan

2. siku

3. jari jemari yg terdiri dari jempol, telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking.

suatu pernyataan yg kontradiksi bila dikatakan punya tangan tapi bukan tangan..

innalillahi..

disinilah letak kehati-hatian dari asy-ariyah golongan mutaakhirin...beliau2 menta'wilkan ayat2 yg berhubungan dengan dzat untuk menghindari yg namanya menyerupakan dengan makhluknya meskipun mereka yg mengatakan tangan bukan tangan selalu berlindung di balik ayat laisa kamislihi syay'un.


Berarti aganlah yang beraqidah tasybih yang menyamankan tangan Allah dengan tangan mahluk.

dan satu lagi sayang aqidah asy-ariyah yang mengaku Ahlul Sunnah dibantah sendiri oleh Imam mereka.

Al-Asy’ariy berkata :

أجمعوا على أنه عز وجل يسمع ويرى ، وأن له تعالى يدين مبسوطتين ، وأن الأرض جميعا قبضته يوم القيامة والسماوات مطويات بيمينه

“Mereka telah berijma’ bahwasannya Allah ‘azza wa jalla mendengar dan melihat. Ia mempunyai dua tangan yang terbuka. Bumi akan digenggam-Nya pada hari kiamat dan langit akan dilipat dengan tangan kanan-Nya”.

dan juga

Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkata :

وأن له سبحانه عينين بلا كيف، كما قال سبحانه: (تجري بأعيننا.

“Bahwasannya Allah subhaanahu wa ta’ala mempunyai dua mata tanpa perlu ditanyakan bagaimananya (kaifiyah-nya), sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman : ‘Yang berlayar dengan pemeliharaan (pengawasan mata) Kami” (QS. Al-Qamar : 14)” [Al-Ibaanah, hal. 9; Daar Ibni Zaiduun, Cet. 1]

sesuai apa yang dipahami Nabi Shalallahu alaihi wa sallam dan sahabat serta ulama salaf.

Quote:حدثنا موسى بن إسماعيل: حدثنا جويرية، عن نافع، عن عبد الله قال: ذكر الدجال عند النبي صلى الله عليه وسلم، فقال: (إن الله لا يخفى عليكم، إن الله ليس بأعور - وأشار بيده إلى عينه - وإن المسيح الدجال أعور العين اليمنى، كأن عينه عنبة طافية.

Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami Juwairiyyah, dari Naafi’, dari ‘Abdullah (bin ‘Umar), ia berkata : Disebutkan Dajjaal di sisi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak tersembunyi dari kalian. Sesungguhnya Allah itu tidak buta sebelah matanya – lalu beliau berisyarat dengan tangannya ke matanya - . Dan bahwasannya Al-Masiih Ad-Dajjaal itu buta sebelah matanya yang kanan seakan-akan matanya itu seperti buah anggur yang mengapung (menonjol keluar)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7407].

حدثنا علي بن نصر ومحمد بن يونس النسائي المعنى قالا ثنا عبد الله بن يزيد المقرئ ثنا حرملة يعني بن عمران حدثني أبو يونس سليم بن جبير مولى أبي هريرة قال سمعت أبا هريرة يقرأ هذه الآية إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمانات إلى أهلها إلى قوله تعالى سميعا بصيرا قال : رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يضع إبهامه على أذنه والتي تليها على عينه قال أبو هريرة رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرؤها ويضع إصبعيه قال بن يونس قال المقرئ يعني إن الله سميع بصير يعني أن لله سمعا وبصرا
قال أبو داود وهذا رد على الجهمية


Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Nashr dan Muhammad bin Yuunus An-Nasaa’iy secara makna, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yaziid Al-Muqri’ : Telah menceritakan kepada kami Harmalah, yaitu Ibnu ‘Imraan : Telah menceritakan kepadaku Abu Yuunus Sulaim bin Jubair maulaa Abu Hurairah, ia berkata : Aku mendengar Abu Hurairah membaca ayat ini : ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya’ hingga firman-Nya ta’ala : ‘Maha Mendengar lagi Maha Melihat’ (QS. An-Nisaa’ : 58). Ia (Abu Hurairah) berkata : “Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam meletakkan ibu jarinya pada telinganya, dan jari telunjuknya ke matanya”. Abu Hurairah berkata : “Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat itu seraya meletakkan kedua jarinya tersebut”. Ibnu Yuunus berkata : Berkata Al-Muqri’ : “Yaitu, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, yaitu Allah mempunyai pendengaran dan penglihatan”.


baca juga At-Tafwidl dan Makna Hakiki
Quote:Original Posted By jual.buku.islam
Berarti aganlah yang beraqidah tasybih yang menyamankan tangan Allah dengan tangan mahluk.


Loh kok jadi saya yg dituduh berakidah tasybih ? Bukankah sampean sebelumnya yg mengatakan bahwa Allah itu punya tangan berjumlah 2 ?

Coba lihat di kamus arab, yg namanya tangan terdiri dari lengan, siku, dan jari jemari yg berjumlah 5 bisa juga diartikan kekuasaan.

Sungguh suatu pernyataan kontradiksi bila mengatakan Allah punya tangan akan tetapi bukan tangan..

Akidah yg mengatakan mempunyai tangan tapi bukan tangan ini baru muncul di jaman Ibnu Taymiah yg mana mengaku dirinya bermadzhab hanbali secara fiqh akan tetapi secara akidah berbeda jauh dari pendahulunya yaitu Ibnu Jauzi..

Sesekali bacalah Fiqhul Akbar dari Imam Hanafi juga.
Quote:Original Posted By modmodol
Loh kok jadi saya yg dituduh berakidah tasybih ? Bukankah sampean sebelumnya yg mengatakan bahwa Allah itu punya tangan berjumlah 2 ?


Bukan ana yang mengatakan gan, Tapi Allah sendiri yang mensifati diri-Nya

Quote:[38:75] Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.

Ana mengatakan agan beraqidah tasybih karena menyakan tangan Allah dengan tangan mahluk-Nya.

Quote:Original Posted By modmodol
Coba lihat di kamus arab, yg namanya tangan terdiri dari lengan, siku, dan jari jemari yg berjumlah 5 bisa juga diartikan kekuasaan.


agan beranggapan seperti itu karena agan menyamakan tangan Allah dengan tangan mahluk-Nya

Paham agan yang menta'wilkan 2 tangan Allah dengan kekuasaan-Nya seperti pahamnya Mu'tazillah, paham dimana Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah sebelum tobat, baiknya agan juga tobat seperti pendahulu agan. dan ana bantu dengan do'a.

Spoiler for ...:


Quote:Original Posted By modmodol
Sungguh suatu pernyataan kontradiksi bila mengatakan Allah punya tangan akan tetapi bukan tangan..


kontradiksi karena agan meyakini Allah sama seperti mahkluknya. pahadal Allah befriman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [QS. Asy-Syuuraa : 11].

Apakah agan juga meyakini kalau Allah maha melihat lantas membayangkan mata Allah sama seperti mata mahluk-Nya yang ada alisnya, ada pupilnya ada kornea dan bola matanya..?

atau Allah maha mendengar dan berkeyakinan Allah punya daun telinga dan bagian lainnya..?

Quote:Original Posted By modmodol
Akidah yg mengatakan mempunyai tangan tapi bukan tangan ini baru muncul di jaman Ibnu Taymiah yg mana mengaku dirinya bermadzhab hanbali secara fiqh akan tetapi secara akidah berbeda jauh dari pendahulunya yaitu Ibnu Jauzi..

Sesekali bacalah Fiqhul Akbar dari Imam Hanafi juga.


Jangan cuma bisa nyuruh orang lain baca tapi agan sendiri tidak membaca postingan ana diatas. apakah aqidah menetapkan sifat Allah sesuai makna hakiki itu benar baru ada semasa syaikhul islam ibnu taimiyah atau sudah ada pada masa generasi salaf bahkan sahabat.

yang ada justru sebaliknya aqidah yang agan pegang baru ada pada generasi mutaakhirin.

mengenai Imam hanafi, sudah ada tuh beberapa berkataan beliau diatas. makanya baca, jangan cuma bisa nyuruh orang lain baca

Thumbs up 'Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah dalam Sifat Allah ta'ala

Allah ta’ala berfirman :

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ

“Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu” [QS. Al-Maaidah : 64].

وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ


“Dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya” [QS. Az-Zumar : 67].

Setelah menyebutkan dua ayat tersebut, Al-Imam Al-Humaidiy rahimahullah (guru dari Al-Imam Al-Bukhariy rahimahullah) berkata :

وما أشبه هذا من القرآن والحديث، لا نزيد فيه ولا نفسره. نقف على ما وقف عليه القرآن والسنة. ونقول : (الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى، ومن زعم غير هذا فهو معطل جهمي.

“Dan ayat-ayat serta hadits-hadits yang serupa dengan ini, maka kami tidak menambah-nambahi dan tidak pula menafsirkannya (menta’wilkannya). Kami berhenti atas apa-apa yang Al-Qur’an dan As-Sunah berhenti padanya. Dan kami berkata : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy’ (QS. Thaha : 5). Barangsiapa yang berpendapat selain itu, maka ia seorang Mu’aththil Jahmiy” [Ushuulus-Sunnah oleh Al-Humaidiy, hal. 42, tahqiq : Misy’aal Muhammad Al-Haddaadiy; Daar Ibn Al-Atsiir, Cet. 1/1418].

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata :

وقال بشر بن موسى: ثنا الحميدي، وذكر حديث " إن الله خلق آدم على صورته " .
فقال: لا تقول غير هذا على التسليم والرضا بما جاء القرآن والحديث. لا تستوحش أن تقول كما القرآن والحديث
.

“Dan telah berkata Bisyr bin Musa : Telah menceritakan kepada kami Al-Humaidiy, dan ia (Al-Humaidiy) menyebutkan hadits : ‘Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya’.[1] Beliau berkata : ‘Kami tidak mengatakan yang lain selain ini dikarenakan sikap taslim (berserah diri) dan ridla dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dan tidak merasa berat untuk mengatakan sebagaimana yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits” [Taariikhul-Islaam, juz 7; Maktabah Ruuhil-Islaam].

Al-Qadli Abu Ya’la rahimahullah meriwayatkan dengan sanad yang sampai kepada Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah bahwa beliau berkata :

وأن له يدين بقوله (بل يداه مبسوطتان وأن له يميناً بقوله (والسموات مطويات بيمينه , وإن له وجهاً بقوله (كل شيء هالك إلا وجهه, وقوله (ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام وأن له قدماً بقول النبي صلى الله عليه وسلم (حتى يضع الرب عز وجل فيها قدمه يعني جهنم ...

“Dan bahwasannya Allah mempunyai dua tangan dengan dalil firman-Nya : “Tetapi kedua tangan Allah itu terbuka” (QS. Al-Maaidah : 64). Dia juga memiliki wajah dengan dalil firman Allah : “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali (wajah) Allah” (QS. Al-Qashaash : 88) dan juga firman-Nya : “Dan tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (QS. Ar-Rahmaan : 27). Dia juga mempunyai kaki dengan dalil sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Hingga Rabb (Allah) ‘azza wa jalla meletakkan kaki-Nya padanya…” (HR. Bukhari dan Muslim) yaitu pada neraka” [Thabaqat Al-Hanabilah oleh Al-Qaadliy Abu Ya’la Al-Farraa’, 2/269, tahqiq : Dr. ‘Abdurrahman bin Sulaiman Al-‘Utsaimin; Cet. Tahun. 1419].

Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ary rahimahullah berkata :

وأن له سبحانه وجها بلا كيف، كما قال: (ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام. وأن له سبحانه يدين بلا كيف، كما قال سبحانه: (خلقت بيدي، وكما قال: (بل يداه مبسوطتان. وأن له سبحانه عينين بلا كيف، كما قال سبحانه: (تجري بأعيننا.

“Dan bahwasannya Allah mempunyai wajah sebagaimana firman-Nya : ‘Dan tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan’ (QS. Ar-Rahman : 27). Dia jga mempunyai dua tangan tanpa menanyakan ‘bagaimananya’, sebagaimana firman-Nya : “Yang telah Ku-ciptakan dengan dua tangan-Ku” (QS. Shaad : 75) dan firman-Nya : “…..tetapi kedua tangan Allah itu terbuka” (QS. Al-Maaidah : 64). Dan Dia subhaanahu juga mempunyai dua mata tanpa menanyakan ‘bagaimananya’, dengan dalil firman Allah subhaanahu : “Yang berlayar dengan pemeliharaan (pengawasan mata) Kami” (QS. Al-Qamar : 14) [Al-Ibaanah ‘an Ushuulid-Diyaanah oleh Abul-Hasan Al-Asy’ariy, hal. 9; Daar Ibni Zaiduun, Cet. 1].

Syaikhul-Islam Abu ‘Utsman Ash-Shabuni rahimahullah berkata :

ولا يعتقدون تشبيهاً لصفاته بصفات خلقه ، فيقولون: إنه خلق آدم بيديه ، كما نص سبحانه عليه في قوله عزّ من قائل: قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ، ولا يحرفون الكلم عن مواضعه ، بحمل اليدين على النعمتين أو القوتين ، تحريف المعتزلة والجهمية أهلكهم الله ولا يكيفونهما بكيف، أو يشبهونهما بأيدي المخلوقين، تشبيه المشبهة خذلهم الله

“Mereka (Ahlul-Hadits) tidak meyakini sifat-sifat itu dengan cara menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk. Mereka mengatakan bahwa Allah ta’ala telah menciptakan Adam ‘alaihis-salaam dengan dua tangan-Nya, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an : “Allah berfirman : ‘Hai Iblis, apa yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (QS. Shaad : 75). Mereka (Ahlul-Hadits) juga tidak menyimpangkan Kalamullah dari pengertian yang sebenarnya, dengan mengartikan kedua tangan Allah sebagai dua kenikmatan atau dua kekuatan sebagaimana yang dilakukan oleh Mu’tazillah dan Jahmiyyah – semoga Allah membinasakan mereka - . Mereka (Ahlul-Hadits) juga tidak me-reka-reka bentuknya dan menyerupakannya dengan tangan makhluk-makhluk, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Musyabbihah – semoga Allah menghinakan mereka –“ [‘Aqidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits oleh Abu ‘Utsman Ash-Shabuni, hal. 26, tahqiq : Badr bin ‘Abdillah Al-Badr; Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah, Cet. 2/1415. Dapat juga dilihat syarahnya yang ditulis oleh Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih yang dapat didownload dari www.Almoshaiqeh.com].

Al-Imam Juwaini (ayah Imam Al-Haramain) rahimahumallah, penulis kitab Al-Jauharah, pada akhir hayatnya, beliau kembali kepada aqidah shahihah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah setelah tenggelam dalam aqidah Asy’ariyyah yang menyimpang. Beliau mengatakan dalam pendahuluan risalahnya : Al-Istiwaa’ wal-Fauqiyyah setelah beliau menetapkan sifat Allah seperti mendengar, melihat, berbicara, dua tangan, dan menarik sebagai berikut :

استوى على عرشه فبان من خلفه لا يخفى عليه منهم خافية علمه بهم محيط وبصره بهم نافذ وهو في ذاته وصفاته لا يشبهه شيء من مخلوقاته ولا يمثل بشيء من جوارح مبتدعاته . هي صفات لائقة بجلاله وعظمته لا تتخيل كيفيتها الظنون ولا ترها في الدنيا العيون . بل نؤمن بحقائقها وثبوتها واتصاف الرب تعالى بها وننفي عنها تأويل المتأولين وتعطيل الجاحدين وتمثيل المشبهين تبارك الله أحسن الخالقين فبهذا الرب نؤمن وإياه نعبد وله نصلي ونسجد . فمن قصد بعبادته إلى إله ليست له هذه الصفات فإنما يعبد غير الله وليس معبوده ذلك بإله

“Dia (Allah) bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dengan makhluk-Nya, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya, ilmu-Nya melingkupi mereka, dan penglihatan terhadap mereka terbukti. Dalam Dzat dan sifat-Nya, Dia tidak menyerupai makhluk-Nya. Tidak juga dimisalkan dengan sesuatu dari anggota-anggota badan makhluk-Nya. Ini adalah sifat-sifat yang sesuai dengan keagungan dan keluhuran-Nya. Bagaimananya tidak bisa dibayangkan, dan tidak ada mata yang dapat melihat-Nya di dunia. Tapi kita harus meyakini kebenaran dan ketetapannya, serta menyifati Tuhan dengan sifat-sifat tersebut. Kita (harus) menafikkan penakwilan dari orang-orang muta’awwiliin, penolakan dari orang-orang yang ingkar, dan permisalan dari orang-orang musyabbihiin. Maha Suci Allah dan Ia adalah sebaik-baik pencipta. Kepada Tuhan ini kita beriman, menyembah, shalat, dan bersujud. Oleh karena itu, orang yang sengaja beribadah kepada Tuhan yang tidak memiliki sifat-sifat ini, maka sesungguhnya ia menyembah kepada selain Allah, karena yang disembahnya itu bukanlah Tuhan” [Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 56-57].

'Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah dalam Sifat Allah ta'ala

‘Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dalam sifat-sifat Allah ta’ala adalah beriman kepada sifat-sifat-Nya sebagaimana yang terdapat dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam tanpa tahrif (ta’wil), ta’thil, takyif, dan tamtsil, serta mengimani bahwa Allah itu tidak serupa dengan sesuatu apapun. Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka mereka tidak menafikkan dari-Nya sifat-sifat yang Allah tetapkan buat diri-Nya dan tidak menyelewengkan kalimat dari lafadh/makna aslinya, dan tidak membuat ilhad (penentangan/penyelewengan) nama-nama Allah, tidak men-takyif (menanyakan bagaimana bentuknya) serta tidak men-tamtsil (menyerupakan) sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya, karena tidak ada yang sama bagi-Nya dan tidak boleh diqiyaskan dengan makhluk-Nya. Dan Allah lebih mengetahui tentang diri-Nya dan tentang yang lainnya (dari makhlukNya). ‘Aqidah ini merupakan kesepakatan para ulama salaf Ahlus-Sunnah mutaqaddimiin (terdahulu).

Al-Imam Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibaniy rahimahullah berkata :

اتفق الفقهاء كلهم من المشرق إلى المغرب (على الإيمان بالقرآن والأحاديث التي جاء بها الثقات عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في صفة الرب عزّ وجلّ من غير تغيير ولا وصف ولا تشبيه، فمن فسر اليوم شيئًا من ذلك فقد خرج مما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وفارق الجماعة فإنهم لم يصفوا ولم يفسروا لكن أفتوا بما في الكتاب والسنة ثم سكتوا. فمن قال بقول جهم فقد فارق الجماعة لأنه قد وصف بصفة لا شيء.

“Para fuqahaa’ semuanya dari wilayah timur sampai barat telah sepakat untuk beriman kepada Al-Qur’an dan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para perawi tsiqah dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hal shifat Rabb ‘azza wa jalla tanpa mengubah (ta’wil/tahrif), menyebutkan kaifiyah sifat-Nya, dan menyerupakan dengan makhluk-Nya. Barangsiapa menafsirkannya pada hari ini tentang sifat-sifat Allah tersebut, sungguh ia telah keluar dari apa-apa yang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berada di atasnya dan memisahkan diri dengan jama’ah. Sesungguhnya mereka (para fuqahaa) tidak menafsirkan (tentang sifat Allah), namun mereka berfatwa dengan apa-apa yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan kemudian diam. Barangsiapa yang berkata dengan perkataan orang Jahmiyyah, berarti ia telah memisahkan diri dengan jama’ah, karena ia telah mensifatkan Allah dengan sifat yang tidak ada” [Syarh Ushuul I’tiqad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah oleh Al-Laalika’iy, hal. 432-433 no. 740, tahqiq Ahmad bin Mas’ud Al-Hamdaan; Desertasi S3 Universitas Ummul-Qurra’].

Al-Haafidh Ibnu ‘Abdil-Barr Al-Andalusy rahimahullah berkata :

أهل السنة مجمعون على الإقرار بالصفات الواردة في الكتاب والسنة وحملها على الحقيقة لا على المجاز إلا أنهم لم يكيفوا شيئا من ذلك . وأما الجهمية والمعتزلة والخوارج فكلهم ينكرها ولا يحمل منها شيئا على الحقيقة ويزعمون أن من أقر بها مشبه وهم عند من أقر بها نافون للمعبود

“Ahlus-Sunah bersepakat tentang pengakuan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al-Kitab dan As-Sunnah dengan membawa penafsirannya pada hakikatnya, bukan pada makna majaz. Hanya saja mereka tidak menanyakan “bagaimana” (kaifiyah) atas sifat-sifat tersebut. Adapun golongan Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan Khawarij; mereka semua mengingkarinya dan tidak memberikan pengertian pada makna hakikatnya. Mereka (Jahmiyyah, Mu’tazillah, dan Khawarij) menganggap orang-orang yang menyepakati hal tersebut (yaitu Ahlus-Sunnah) sebagai golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Adapun mereka (yang mengingkari sifat-sifat Allah) di sisi Ahlus-Sunnah adalah golongan orang yang meniadakan Dzat yang disembah” [Mukhtashar Al-‘Ulluw lidz-Dzahabi oleh Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 39; Al-Maktab Al-Islamy, Cet. 1/1401].

Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy rahimahullah berkata :

وعلى هذا دَرَجَ السَّلَفُ وأَئِمَّةُ الخَلَفِ، كُلُّهُمْ مُتَّفِقُونَ على الإقْرارِ، والإمْرارِ والإثْباتِ لما وَرَدَ مِن الصِّفاتِ في كتابِ اللهِ وسُنَّةِ رسولِهِ، مِنْ غَيْرِ تَعَرُّضٍ لتأْوِيلِهِ.

“Dan atas jalan inilah para salaf dan imam generasi khalaf setelahya. Semuanya sepakat untuk menerima, membiarkan apa adanya, dan menetapkan sifat-sifat Allah. Baik yang terdapat di dalam Kitabullah (Al-Qur’an) maupun As-Sunnah, tanpa berpaling untuk menta’wilkannya” [Syarh Lum’atil-I’tiqaad oleh Shaalih Aalusy-Syaikh; http://www.islamway.com].

Menetapkan sebagaimana dhahir makna dan lafadhnya tanpa ta’wil bukanlah tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), sebagaimana tuduhan orang-orang bodoh dari kalangan Asy-ariyyah dan yang semisal dengannya. Maka, perhatikanlah perkataan Al-Imam Ishaq bin Rahawaih rahimahullah :

إنما يكون التشبيه إذا قال : يد مثل يدي أو سمع كسمعي، فهذا تشبيه. وأما إذا قال كما قال الله : يد وسمع وبصر، فلا يقول : كيف، ولايقول : مثل، فهذا لا يكون تشبيهاً، قال تعالى : (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

”Tasybih itu hanya terjadi ketika seseorang itu mengatakan : ”Tangan (Allah) seperti tanganku, pendengaran (Allah) seperti pendengaranku”. Inilah yang dinamakan tasybih (penyerupaan). Adapun jika seseorang mengatakan seperti firman Allah : ’Tangan, pendengaran, penglihatan’ , kemudian ia tidak menyatakan : ’bagaimana’ dan ’seperti’; maka itu tidak termasuk tasybih. Allah berfirman : ”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [Mukhtashar Al-’Ulluw lidz-Dzahabi, hal. 69].

Al-Imam Nu’aim bin Hammad Al-Khuzaa’iy Al-Haafidh rahimahullah :

من شبه الله بخلقه، فقد كفر، ومن أنكر ما وصف به نفسه فقد كفر، وليس ما وصف به نفسه، ولا رسولُه تشبيهاً

”Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir. Barangsiapa yang mengingkari apa-apa yang disifatkan Allah bagi diri-Nya, maka ia telah kafir. Dan tidaklah apa yang disifatkan Allah bagi diri-Nya dan (yang disifatkan) Rasul-Nya itu sebagai satu penyerupaan (tasybih)” [Mukhtashar Al-’Uluuw, hal. 184 no. 216, dengan sanad shahih].

Tuduhan mereka (ahlul-bid’ah) kepada Ahlus-Sunnah sebagai kaum Musyabbihah sudah terjadi semenjak beratus-ratus tahun yang lalu, sebagaimana dikatakan oleh Abu ‘Utsman Ash-Shabuniy rahimahullah :

وعلامات البدع على أهلها بادية ظاهرة، وأظهر آياتهم وعلاماتهم شدة معاداتهم لحملة أخبار الني صلى الله عليه وسلم، واحتقارهم لهم وتسميتهم إياهم حشوية وجهلة وظاهرية ومشبهة، اعتقادا منهم في أخبار الرسول صلى الله عليه وسلم أنها بمعزل عن العلم، وأن العلم ما يلقيه الشيطان إليهم من نتائج عقولهم الفاسدة، ووساوس صدورهم المظلمة، وهواجس قلوبهم الخالية من الخير، وحججهم العاطلة. أولئك الذين لعنهم الله

“Tanda-tanda bid’ah yang ada pada ahlul-bid’ah adalah sangat jelas. Dan tanda-tanda yang paling jelas adalah permusuhan mereka terhadap pembawa khabar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (yaitu para ahlul-hadits), memandang rendah mereka, serta menamai mereka sebagai hasyawiyyah, orang-orang bodoh, dhahiriyyah, dan musyabbihah. Mereka meyakini bahwa hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengandung ilmu. Dan bahwasannya ilmu itu adalah apa-apa yang dibawa setan kepada mereka dalam bentuk hasil pemikiran aka-akal rusak mereka, was-was yang terbisikkan dalam hati-hati mereka yang penuh kegelapan, dan hal-hal yang terlintas dalam hati mereka nan kosong dari kebaikan dan hujjah. Mereka adalah kaum yang dilaknat oleh Allah”.

Mereka mengatakan itu karena pemahaman yang sakit, rusak, serta sikap permusuhan abadi kepada Ahlus-Sunnah – walau mereka juga mengaku sebagai ‘Ahlus-Sunnah’.

Itu saja yang dapat dituliskan. Semoga penyebutan beberapa dalil, riwayat, dan penjelasan para ulama di atas dapat memberikan satu gambaran gamblang tentang ‘aqidah Ahlus-Sunnah dalam masalah sifat Allah. Sekaligus menerangkan kekeliruan paham Asy’ariyyah yang sering mengklaim bahwa mereka adalah Ahlus-Sunnah dalam perkara ‘aqidah ini. Allahul-Musta’an……

Abu Al-Jauzaa’ Al-Bogoriy – 4 jumadits-tsaniy 1430

Thumbs up Penjelasan Ibnu Rajab tentang Tauhid Al-Asmaa' wash-Shifaat


بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله ، نحمده ونستعينه ، ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، وسيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله .{ يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون } ،{ يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساء لون به والارحام إن الله كان عليكم رقيبا}،{ يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما }.

أما بعـــد :


Pembahasan asma’ wa shifat Allah merupakan salah satu asas aqidah yang diyakini oleh Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Banyak ulama yang telah menuliskan bahasan penjelasan mengenai hal ini. Salah satunya adalah Al-Hafidh Ibnu Rajab Al-Hanbaly rahimahullah. Beliau adalah seorang ulama Ahlus-Sunnah yang dikenal luas ilmunya, baik dalam bidang tafsir, hadits, maupun fiqh. Berikut ini akan coba dituliskan sebuah pokok bahasan tentang tauhid al-asma’ wash-shifat Allah yang terdapat dalam kitab Ibnu Rajab yang berjudul : Fadl-lu ‘Ilmis-Salaf ‘alal-Khalaf (Keutamaan ‘Ilmu Kaum Salaf Dibanding Kaum Khalaf).

Ibnu Rajab berkata :

ومن ذلك أعني محدثات الأمور ما أحدثه المعتزلة ومن حذا حذوهم من الكلام في ذات الله تعالى وصفاته بأدلة العقول وهو أشد خطراً من الكلام في القدر لأن الكلام في القدر كلام في أفعاله وهذا كلام في ذاته وصفاته.

“Dan di antara perkara-perkara baru yang muncul adalah golongan Mu’tazilah dan orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka dalam pembicaraan mengenai Dzat dan Shifat-Shifat Allah ta’ala dengan berlandaskan akal pikiran semata. Masalah ini jauh lebih besar bahayanya daripada pembicaraan mengenai qadar. Hal itu disebabkan karena pembicaraan masalah qadar hanya berkisar pada perbuatan Allah. Adapun masalah ini, pembicaraan menyangkut Dzat dan Shifat-Shifat-Nya ta’ala.

وينقسم هؤلاء إلى قسمين أحدهما من نفى كثيراً مما ورد به الكتاب والسنة من ذلك لاستلزامه عنده للتشبيه بالمخلوقين كقول المعتزلة لو رؤي لكان جسما لأنه لا يرى إلا في جهة: وقولهم لو كان له كلام يسمع لكان جسما ووافقهم من نفى الاستواء فنفوه لهذه الشبهة: وهذا طريق المعتزلة والجهمية وقد اتفق السلف على تبديعهم وتضليلهم وقد سلك سبيلهم في بعض الأمور كثير ممن انتسب إلى السنة والحديث من المتأخرين. والثاني من رام إثبات ذلك بأدلة العقول التي لم يرد بها الأثر ورد على أولئك مقالتهم كما هي طريقة مقاتل بن سليمان ومن تابعه كنوح بن أبي مريم وتابعهم طائفة من المحدثين قديماً وحديثاً. وهو أيضاً مسلك الكرامية فمنهم من أثبت لإثبات هذه الصفات الجسم إما لفظا وإما معنى. ومنهم من أثبت للَّه صفات لم يأت بها الكتاب والسنة كالحركة وغير ذلك مما هي عنده لازم الصفات الثابتة.

Orang-orang yang membahas masalah Dzat dan Shifat Allah dengan berlandaskan akal semata ini terbagi menjadi dua golongan :

Pertama; Golongan yang banyak menafikkan apa-apa yang datang dari Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah tentang Dzat dan Shifat Allah ta’ala, karena angapan mereka bahwa penetapan shifat-shifat tersebut kepada Allah akan menimbulkan penyerupaan kepada makhluk-makhluk-Nya. Hal ini seperti perkataan Mu’tazilah bahwa bila Allah dapat dilihat, tentu Dia adalah jism (benda). Sebab, Dia tidaklah dapat dilihat kecuali dalam satu ruang. Perkataan mereka yang lain : Apabila Allah mempunyai Kalam (pembicaraan) yang dapat didengar, tentu Dia adalah jism (benda). Dan juga peniadaan mereka akan istiwaa’ Allah juga akibat dari syubhat ini.

Ini adalah jalan/metode yang ditempuh oleh Mu’tazilah dan Jahmiyyah. Para ulama salaf telah sepakat tentang kebid’ahan dan kesesatan mereka. Namun sungguh disayangkan banyak orang belakangan (muta’akhirin) yang menempuh jalan mereka pada sebagian perkara dari kalangan yang menisbatkan diri pada As-Sunnah dan Al-Hadits.

Kedua; Golongan yang condong terhadap penetapan Dzat dan Shifat Allah dengan dasar akal semata yang tidak terdapat dalam atsar. Telah datang perkataan-perkataan mereka yang membantah golongan yang pertama sebagaimana yang dilakukan oleh Muqatil bin Sulaiman dan pengikut-pengikutnya seperti Nuh bin Abi Maryam; yang kemudian diikuti oleh (sebagian) kalangan Muhadditsin dulu dan sekarang. Jalan ini pulalah yang ditempuh golongan Karamiyyah. Di antara mereka (golongan Karamiyyah) ada yang menetapkan shifat jism bagi Dzat Allah secara lafadh atau makna. Dan di antara mereka pula ada yang menetapkan shifat yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah seperti shifat “bergerak” (al-harakah) dan semisalnya yang menurut anggapan mereka merupakan shifat-shifat yang tidak boleh dipisahkan dari shifat-shifat yang tsabit.

وقد أنكر السلف على مقاتل قوله في رده على جهم بأدلة العقل وبالغوا في الطعن عليه. ومنهم من استحل قتله، منهم مكي بن إبراهيم شيخ البخاري وغيره. والصواب ما عليه السلف الصالح من إمرار آيات الصفات وأحاديثها كما جاءت من غير تفسير لها ولا تكييف ولا تمثيل: ولا يصح من أحد منهم خلاف ذلك البتة خصوصاً الإمام أحمد ولا خوض في معانيها ولا ضرب مثل من الأمثال لها : وإن كان بعض من كان قريباً من زمن الإمام أحمد فيهم من فعل شيئاً من ذلك اتباعاً لطريقة مقاتل فلا يقتدى به في ذلك إنما الإقتداء بأئمة الإسلام كابن المبارك. ومالك. والثوري والأوزاعي. والشافعي. وأحمد. واسحق. وأبي عبيد. ونحوهم وكل هؤلاء لا يوجد في كلامهم شيء من جنس كلام المتكلمين فضلا عن كلام الفلاسفة: ولم يدخل ذلك في كلام من سلم من قدح وجرح وقد قال أبوزرعة الرازي كل من كان عنده علم فلم يصن علمه واحتاج في نشره إلى شيء من الكلام فلستم منه.

Para ulama salaf telah mengingkari dan mengecam tindakan Muqatil saat ia membantah Jahmiyyah dengan dasar akal semata. Di antara para ulama salaf bahkan sampai ada yang menghalalkannya untuk dibunuh, seperti Makki bin Ibrahim yang merupakan guru Imam Al-Bukhari; dan selainnya.

Yang benar dalam permasalahan ini adalah apa yang telah dipegang oleh As-Salafush-Shalih, yaitu memperlakukan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits tentang Shifat Allah sebagaimana adanya, tanpa mentafsirkannya (yaitu : men-ta’wil-kannya – Pent.), menanyakan bagaimananya (takyif), atau menyerupakannya dengan makhluk-Nya (tamtsil). Tidak dinukil perselisihan diantara mereka dalam masalah ini, khususnya dari Al-Imam Ahmad. Dan golongan salaf tidak berlebih-lebihan dalam memahami makna shifat-shifat tersebut dan tidak pula membuat permisalan baginya.

Walaupun ada sebagian ulama yang hidup dekat dengan jaman Imam Ahmad mengikuti jalan yang ditempuh oleh Muqatil, akan tetapi perbuatan mereka tidak dapat dijadikan landasan. Sebab, contoh yang dapat dijadikan panutan hanyalah para imam besar seperti Ibnu Mubarak, Malik (bin Anas), Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq (bin Rahawaih), Abu ‘Ubaid, dan semisal dengan mereka. Seluruh perkataan para imam tersebut tidak ada kemiripan dengan perkataan ahlul-kalam dan juga para filosof. Abu Zur’ah Ar-Razi telah berkata : “Setiap orang yang memiliki ilmu yang tidak membentengi ilmunya (dari ilmu kalam dan filsafat), namun ia malah menggunakan ilmu kalam dan filsafat itu untuk menyebarkan ilmunya; maka janganlah kalian masuk ke dalam golongannya”.

[selesai perkataan Ibnu Rajab Al-Hanbaliy rahimahullah]

Itulah sedikit warisan Ibnu Rajab yang begitu berharga bagi kita. Semoga kita bisa mengambil manfaatnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Abu Al-Jauzaa’ 1428, diperbaharui Muharram 1430 – Ciomas Permai, Bogor.

Lightbulb Allah ta’ala Menciptakan Empat Hal dengan Tangan-Nya

Abu Sa’iid Ad-Daarimiy rahimahullah berkata :

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، ثنا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ، ثنا عُبَيْدُ بْنُ مِهْرَانَ وَهُوَ الْمُكْتِبُ، ثنا مُجَاهِدٌ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ: " خَلَقَ اللَّهُ أَرْبَعَةَ أَشْيَاءَ بِيَدِهِ: الْعَرْشُ، وَالْقَلَمُ، وَعَدْنٌ، وَآدَمُ، ثُمَّ قَالَ لِسَائِرِ الْخَلْقِ: كُنْ فَكَانَ "

Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Waahid bin Ziyaad : Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaid bin Mihraan Al-Muktib : Telah menceritakan kepada kami Mujaahid, ia berkata : Telah berkata ‘Abdullah bin ‘Umar : “Allah menciptakan empat hal dengan tangan-Nya : Al-‘Arsy, Al-Qalam (pena), (surga) Al-‘Adn, dan Aadam. Kemudian Allah berfirman kepada seluruh makhluk : ‘Jadilah’, maka jadilah ia” [Naqdud-Daarimiy ‘alaa Bisyr Al-Maarisiy hal. 98 no. 44 & hal. 262 no. 112].

Muusaa bin Ismaa’iil Al-Minqariy, seorang yang tsiqah lagi tsabat [At-Taqriib, hal. 977 no.6992]. ‘Abdul-Waahid bin Ziyaad Al-‘Abdiy, tsiqah [At-Taqriib, hal. 630 no. 4268]. ‘Ubaid bin Mihraan Al-Muktib, seorang yang tsiqah [At-Taqriib, hal. 652 no. 4424]. Mujaahid bin Jabr Al-Makkiy, seorang mufassir yang tsiqah lagi faqiih [At-Taqriib, hal. 921 no. 6523].

Sanad riwayat ini shahih dan muttashil (bersambung).

Muusaa bin Ismaa’iil mempunyai mutaba’ah dari Musaddad; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 730 : Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Husain : Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Musaddad, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdul-Waahid bin Ziyaad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaid bin Mihraan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Mujaahid, ia berkata : Telah berkata ‘Abdullah : “.....(al-hadits)....”.

‘Abdul-Waahid bin Ziyaad mempunyai mutaba’ah dari :

1. Sufyaan bin Sa’iid.

Diriwayatkan dari beberapa jalan, yaitu dari :

a. Yaziid bin Haaruun; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Haakim 2/319 – dan dari jalannya Al-Baihaqiy dalam Al-Asmaa’ wash-Shifaat 2/126 no. 693 - : Telah menceritakan kepada kami Asy-Syaikh Abu Bakr bin Ishaaq : Telah memberitakan Muhammad bin Riih As-Sammaak : Telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Haaruun : Telah memberitakan Sufyaan bin Sa’iid, dari ‘Ubaid Al-Kaatib Al-Muktib, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : “.....(al-hadits)....”.

b. Abu Ishaaq Al-Fazzaariy; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah 2/130 no. 801 : Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad Ash-Shandaliy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Muhammad Al-Marwaziy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Mu’aawiyyah bin ‘Amru dan Abu Shaalih, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaaq Al-Fazzaariy, dari Sufyaan, dari ‘Ubaid Al-Muktib, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : “.....(al-hadits)....”.

c. Ishaaq bin Azraq; sebagaimana diriwayatkan oleh Abusy-Syaikh dalam Al-‘Adhamah 2/578-579 no. 213 : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Al-‘Alaa’ bin Saalim : Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Azraq, dari Sufyaan, dari ‘Ubaid Al-Muktib, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : “.....(al-hadits)....”.

d. ‘Abdurrahmaan bin Mahdiy; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanatul-Kubraa no. 1285 : Telah menceritakan kepada kami Abu Haamid Al-Hadlramiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Bundaar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari ‘Ubaid Al-Muktib, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : “.....(al-hadits)....”.

e. Muhammad bin Katsiir; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 729 : Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Husain bin ‘Umar : Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Al-Hasan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ishaaq, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsiir, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan Ats-Tsauriy, dari ‘Ubaid Al-Muktib, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : “.....(al-hadits)....”.

2. Syu’bah

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam Tafsiir-nya 20/145 : Telah menceritakan kepada kami Ibnul-Mustannaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Syu’bah, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Ubaid Al-Muktib, ia berkata : Aku mendengar Mujaahid rahimahullaahu ta’ala menceritakan dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : “.....(al-hadits)....”.

Diriwayatkan juga oleh Abusy-Syaikh dalam Al-‘Adhamah 5/1555-1556 no. 1018 : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-‘Abbaas bin Ayyuub : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mustannaa : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, selanjutnya seperti riwayat di atas.

Adz-Dzahabiy rahimahullah menghukumi sanad riwayat ini jayyid. Adapun Al-Albaaniy rahimahullah menghukumi sanad riwayat ini shahih, dan inilah yang benar sebagaimana yang rekan-rekan lihat di atas [Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 105].

Riwayat ini mauquuf, namun dihukumi marfuu’.

Riwayat ini merupakan tambahan keterangan dari yang difirman Allah ta’ala :

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ

“Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?" [QS. Shaad : 75].

Yaitu, ada tiga makhluk lain selain Adam yang Allah ta’ala ciptakan dengan tangan-Nya. Sifat tangan ini adalah hakiki, bukan majaz sebagaimana pemahaman kelompok Asyaa’irah dan yang sepaham dengan mereka.

Abu Bakr Al-Ismaa’iliy rahimahullah berkata :

وخلق آدم عليه السلام بيده ، ويداه مبسوطتان ينفق كيف يشاء بلا اعتقاد كيف يداه إذ لم ينطق كتاب الله تعالى فيه بكيف

“Allah menciptakan Adam ‘alaihis-salaam dengan tangan-Nya, dan kedua tangan-Nya terbuka memberikan (karunia kepada makhluk) sebagaimana yang Ia kehendaki, tanpa disertai keyakinan penentuan kaifiyah kedua tangan-Nya; yaitu ketika tidak ada penjelasan di dalam Kitabullah tentang kaifiyah tersebut” [‘Aqiidah Ahlil-Hadiits, hal. 51].[1]

Catatan Penting :

Allah ta’ala berfirman :

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami)” [QS. Adz-Dzaariyyaat : 47].

Kata aid (الأيد) dalam ayat tersebut bukan merupakan bentuk jamak dari yadd (اليد), akan tetapi kata itu memang asalnya adalah aid yang artinya adalah kekuatan (al-quwwah), sebagaimana dijelaskan Ibnul-Mandhuur dalam Lisaanul-‘Arab dan penulis Mukhtaarush-Shihah.

Ini saja yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya.

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.


Coba gan njawab pertanyaan saya berdasarkan pemahaman agan saja...Agan menyatakan bahwa Allah bertempat di arasy.

1. Andai orang yg tinggal di pengunungan yg tertinggi di dunia ini apakah berarti dia dalam posisi paling dekat kepada Allah ?

2. Apakah orang yg tinggal di dasar bumi yg terdalam di dunia ini apakah berarti orang tersebut jauh dari Allah ?

3. Apakah berarti orang yg pernah menginjakan di bulan adalah orang2 pertama yg sangat dekat dengan Allah ?

4. Allah punya tangan...tangan menurut definisi agan seperti apa ?..bukankah sudah di mafhum bahwa yg namanya tangan itu punya jari jemari, siku dan lengan serta kuku ?

Sungguh suatu kontradiksi bila ingin menyifati Allah dengan punya tangan tapi bukan tangan

Kalo mau aman dan main aman ketika bicara ayat mutasyabih adalah dengan metode tafwidh dan ta'wil.

Tafwidh artinya menyerahkan arti Tangan tersebut kepada Allah dalam artian itu adalah sebagai kata yg tidak memiliki makna yg hanya Allah yg tahu..ini metode salaf yg dianut oleh Ibnu Jauzi dari madzhab Imam Ahmad bin Hanbal.

Saya kadang terheran heran ketika misal ada ustadz dari salafi yg ngotot mengatakan bahwa tangan itu sudah memiliki arti dan makna layaknya mata dan betis pada beberapa ayat mustasyabihat.

Salafi berkeyakinan Tangan ya dimaknai sebagai tangan yg sudah dimafhum punya jari jemari, siku dan lengan akan tetapi ketika dihadapkan kepada Allah dengan ayat mutasyabihatnya itu muncul kontradiksi, kebingungan alih-alihnya mereka kembali ke ayat laysa kamislihi syay-un

Bagaimana mungkin tangan yg sudah dimafhum maknanya akan tetapi disebut bukan tangan ketika disandangkan kepada Allah ?

Itu suatu keruntuhan metode dari seorang Ibnu Taymiah ketika memahami mutasyabihat.
Quote:Original Posted By modmodol


Coba gan njawab pertanyaan saya berdasarkan pemahaman agan saja...Agan menyatakan bahwa Allah bertempat di arasy.

1. Andai orang yg tinggal di pengunungan yg tertinggi di dunia ini apakah berarti dia dalam posisi paling dekat kepada Allah ?

2. Apakah orang yg tinggal di dasar bumi yg terdalam di dunia ini apakah berarti orang tersebut jauh dari Allah ?

3. Apakah berarti orang yg pernah menginjakan di bulan adalah orang2 pertama yg sangat dekat dengan Allah ?

4. Allah punya tangan...tangan menurut definisi agan seperti apa ?..bukankah sudah di mafhum bahwa yg namanya tangan itu punya jari jemari, siku dan lengan serta kuku ?

Sungguh suatu kontradiksi bila ingin menyifati Allah dengan punya tangan tapi bukan tangan


Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un

Jawaban-nya : Kami Ahlul Sunnah berhenti atas apa-apa yang Al-Qur’an dan As-Sunah berhenti padanya. dan Kami Ahlul Sunnah tidak mengatakan dan menanyakan yang lain selain ini dikarenakan sikap taslim (berserah diri) dan ridla dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dan tidak merasa berat untuk mengatakan sebagaimana yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits”

Bold.. Cuma Ahlul Bid'ah yang menanyakan kaifiyyah. kalau agan nanya sama Imam Malik udah diusir tuh dari mejelis-nya

Spoiler for ....:


lihat penjelasan diatas agan bisa dikatakan Mu’tazillah atau Jahmiyyah


Quote:Original Posted By modmodol
Kalo mau aman dan main aman ketika bicara ayat mutasyabih adalah dengan metode tafwidh dan ta'wil.

Tafwidh artinya menyerahkan arti Tangan tersebut kepada Allah dalam artian itu adalah sebagai kata yg tidak memiliki makna yg hanya Allah yg tahu..ini metode salaf yg dianut oleh Ibnu Jauzi dari madzhab Imam Ahmad bin Hanbal.


Sudah ada penjelasannya diatas gan baca langsung aja At-Tafwidl dan Makna Hakiki

setelah baca apakah agan berani mengatakan aqidah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam aqidah tasybiih

tafwidh dan ta'wil sudah bertolak belakang. yang satu menyerahkan maknanya kepada Allah yang satu meta'wilnya

Mengenai Imam Ahmad, silahkan bawakan perkataan beliau yang mengatakan Istiwa dengan Istaula

Quote:Original Posted By modmodol
Saya kadang terheran heran ketika misal ada ustadz dari salafi yg ngotot mengatakan bahwa tangan itu sudah memiliki arti dan makna layaknya mata dan betis pada beberapa ayat mustasyabihat.

Salafi berkeyakinan Tangan ya dimaknai sebagai tangan yg sudah dimafhum punya jari jemari, siku dan lengan akan tetapi ketika dihadapkan kepada Allah dengan ayat mutasyabihatnya itu muncul kontradiksi, kebingungan alih-alihnya mereka kembali ke ayat laysa kamislihi syay-un


ana justru ngak heran kalau agan keheranan, karena agan mensifati dan menta'wilkan sifat Allah berdasarkan akal agan bukan berdsarkan Al-Quran dan Sunnah. Terlebih membayangkan sifat dan dzat Allah sama dengan mahluknya.


Quote:Original Posted By modmodol
Bagaimana mungkin tangan yg sudah dimafhum maknanya akan tetapi disebut bukan tangan ketika disandangkan kepada Allah ?

Itu suatu keruntuhan metode dari seorang Ibnu Taymiah ketika memahami mutasyabihat.


ngak mungkin bagi Ahlul bid'ah yang menggunakan akalnya untuk mensifati Allah . tapi bagi kami Ahlul Sunnah mungkin saja karena bersandarkan kepada Al-Quran dan Sunnah.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [QS. Asy-Syuuraa : 11].

Apakah 2 Ulama salaf dibawah ini murid Ibnu Taimiyah juga..?

Spoiler for ...:


Berdo'a semoga agan dapat hidayah rujuk kepada Aqidah Ahlul Sunnah
asalamualaikum agan TS, mdh2an Allah selalu memberi agan kekuatan untuk beribadah
ane cuma mau nambahin pertanyaan dari agan modmodol tentang Allah yg ada di langit/di atas, yang ane tanyakan:

bila ane ada di utara bumi, ane bilang Allah ada di atas, berarti Allah ada di atas langit di bagian utara

bila ane ada di selatan bumi, ane bilang Allah ada di atas, berarti Allah ada di atas langit di bagian selatan

begitu juga bila ane di barat atau di timur

jadi yang dimaksud di atas itu dimana?, karena bila ada atas berarti ada bawah, di utara, selatan, barat atau timur?

bila atas yg agan TS maksud adalah utara, berarti bila ane ada di selatan, ane bilang Allah ada di bawah ane (menunjuk ke utara)

Maha suci Allah, Allah ada tanpa tempat dan arah, Allah ada sebelum tempat dan arah diciptakan, Allah tidak membutuhkan tempat dan arah, tempat dan arah yang membutuhkan Allah
Apakah Tuhan dalam Syarah AQIDAH Ahlus Sunnah wal Jamaah (Manhaj Salaf) itu laki2 atau perempuan ?? atau bukan laki2 maupun perempuan ??