3 BULAN KOPERASI AR-RIDHO BELUM BAYAR NASABAH (INVESTASI)

Dua koperasi masuk ke dalam pengawasan. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemkop) berniat membina kembali Koperasi Cipaganti dan Koperasi Ar-Ridho Bima Nusantara.

Koperasi Cipaganti, unit usaha simpan pinjam PT Cipaganti Cipta Graha, membetot perhatian karena skema penempatan dana investasi yang tidak dirinci secara mendetail. Karena alasan itu, Kepala Satuan Tugas Waspada Investasi Sardjito, memerintahkan agar koperasi ini kembali masuk dalam binaan Kemkop.

Rekomendasi Kemkop lumayan berat. Koperasi Cipaganti tidak diperbolehkan mengumpulkan dana masyarakat, sampai masalah administrasi tuntas. "Dalam masa pembinaan selama tiga bulan, koperasi dilarang menghimpun dana," tandas Suprapto, Asisten Deputi Urusan Pembiayaan dan Penjaminan Kredit Kemenkop.

Masalah lain dihadapi oleh koperasi Ar-Ridho Bima Nusantara, yang berpusat di Karawang, Jawa Barat. Koperasi yang menawarkan investasi dengan sistem penitipan mobil itu tidak menggunakan rekening terpisah untuk menampung dana, tapi menggunakan rekening pengelola koperasi.

Vonis yang dijatuhkan, koperasi yang telah menghimpun dana Rp 60 miliar itu tidak boleh lagi menghimpun dana masyarakat selama masa pembinaan. Soeprapto berjanji, setelah tiga bulan pembinaan kedua koperasi itu bisa berjalan seperti biasa.

Koperasi Ar Ridho menjanjikan imbal hasil Rp 4 juta setiap bulan bagi setiap nasabah yang menitipkan mobil. Mobil tersebut kemudian disewakan melalui PT Gie Trans. Giatno Harido, Ketua Koperasi Ar Ridho mengaku telah menjaring 4.000 nasabah. "Untuk memperoleh keuntungan, dananya diputar dari perusahaan bentukan saya pribadi, Gie Trans itu," papar dia.

Sementara itu, koperasi Cipaganti menawarkan bunga pinjaman yang berkisar 1,4%-1,8% per bulan. Nilai investasi awal Rp 100 juta - Rp 2,5 miliar. Koperasi Cipaganti mengelola dana Rp 174,9 miliar, yang dimiliki 700 nasabah.

Andianto Setiabudi, Direktur Utama Cipaganti Cipta Graha mengaku belum bisa berkomentar banyak. "Strategi masih belum kami pikirkan," kata dia.

Lukas Setia Atmaja, pengamat investasi Prasetya Mulya Bussiness School mengatakan, skema peminjaman uang merupakan hal yang wajar. “Namun, harus diteliti kemampuan perusahaan membayar return dan membayar utang ke koperasi," saran dia. Legalitas koperasi dari sisi hukum harus dicermati.

APAKAH ARTINYA 3 BULAN TIDAK BISA BAYAR NASABAH ATAU SUDAH PAILIT???
MOHON KAWAN-KAWAN YANG TAHU SHARE DONG...........
itu judul ambil dari mana gan kok beda sm isi beritanya?
wah banyak koperasi gk jelas skrg
Berbau black campaign sih cmiiw
kenapa sekarang banyak yg seperti ini yah


Quote:Original Posted By NITIP LAPAK GAN
Jersey bola kw thai grade ori http://www.kaskus.co.id/thread/00000...00000017003751
Lensa Nikon 55-200mm VR http://www.kaskus.co.id/thread/00000...00000017004556
Tas sepatu nike & adidas kw http://www.kaskus.co.id/thread/00000...00000017005522
Tas cantik murah meriah http://www.kaskus.co.id/post/0000000...00000758304920
Kaos distro murah http://www.kaskus.co.id/thread/00000...00000017022538
Kaos club bola murah http://www.kaskus.co.id/thread/00000...00000017026551
Kaos karikatur bola murah http://www.kaskus.co.id/thread/00000...00000017027987

kok bas gitu ya
INI koperasi UDAH BUBAR..DAN ANE TERMASUK SALAH SATU KORBAN DI DALAMNYA DAN ALHAMDULILAH MASIH DILINDUNGI OLEH ALLAH MOBIL ANE BALIK..DENGER2 ADA 3000 MOBIL LAGI BELUM kembli ke tangan sang PEMILIK dan DUIT INVESTOR banyak yang RAIB... ANE bantu UPP KARNA EMANG INI SINDIKAT PENIPU SEPERTI LANGIT BIRU

KARAWANG (Pos Kota) – Tiga pengurus Koperasi Arridho Bima Nusantara, ditangkap Satserse Polres Karawang karena dituduh menggelapkan 2000 mobil milik anggotanya.

Giyatno, Manajer Program Koperasi yang juga guru SMPN 1 Tirtamulya, ditangkap di rumahnya, sedangkan Ketua Koperasi, Wahidin, ditangkap di rest area yang ada di jalur tol Jakarta-Cikampek serta Havid Gusnawan, manajer investasi juga ditangkap di rumahnya, ketika dia hendak pulang ke kampung halamannya di Palembang.

Pengurus koperasi yang mendirikan pendidikan farmasi di Jalan Ir. H. Juanda, Kota Baru ini, ketika peresmian koperasinya sempat mendatangkan, Gubernur Jabar dan Bupati Karawang, 12 April 2011 lalu.

Kapolres Karawang AKBP Arman Achdiat, SIk, MSi, didampingi Wakapolres Rudi Pornomo, serta jajarannya mengatakan, ketiganya ditangkap dan ditahan setelah pihaknya memiliki bukti bukti pendukung sesuai dengan tindak pidana yang dilakukan.

Ketiga tersangka dijerat dengan Undang-undang tentang Money Loundring maupun Undang-undang tentang Koperasi. “Kami masih mengumpulkan bukti-bukti lainnya apakah mereka bisa dijerat dengan kedua undang-undang tersebut,” kata Arman Achdiat.

Diungkapkannya, Koperasi Arridho mulai menarik perhatian investor, kemudian dijadikan sebagai anggota koperasi, sejak dua tahun lalu. “Tidak heran, jika sekarang korbannya ada dari kalangan pejabat instansi pemerintah, polisi, TNI termasuk, wartawan,” ujar Kapolres.

Dalam aksinya, ungkap Kapolres, ketiga tersangka secara bersama-sama mengelabui ribuan korbannya dengan memindah tangankan kendaraan kepada orang lain tanpa seiizin dari pemiliknya serta menarik dana dari masyarakat atau investor dengan jaminan kendaraan.

“Mereka menitipkan investasi dalam bentuk uang tunai dan mobil dan dijanjikan akan menerima imbal jasa. Jumlah korban kami perkirakan mencapai lebih dari 2000 orang,” katanya.

Diakuinya, setelah kasus koperasi ini mencuat kepermukaan, ruang sentra pelayanan kepolisian (SPK) hampir setiap hari didatangi pemilik kendaraan untuk membuat laporan polisi.

Bahkan, hingga saat ini sudah ada 70 laporan polisi yang masuk terkait tindakan ketiga tersangka. Tidak tertutup kemungkinan jumlah pelapor terus bertambah mengingat korbannya banyak yang berasal dari luar Kabupaten Karawang. ” Karena itu, tidak tertutup kemungkinan kasus ini akan ditangani Polda Jabar,” jelasnya.

Kapolres menambahkan selain mereka bertiga yang sudah ditangkap, tidak menutup kemungkinan akan muncul tersangka baru.

Untuk pengembangan kasus tersebut, Polres Karawang telah mensterilkan lokasi Koperasi Arridho Bima Nusantara yang beralamat di Jl Ir Juanda No 402 Jomin Barat, Kecamatan Kotabaru untuk melakukan pendataan aset. Karena hingga saat ini tercatat lebih dari 2000 kendaraan yang diduga telah dipindahtangankan oleh para pelaku.

Giyatno, menolak dituduh telah menipu investor atau pemilik kendaraan. Pasalnya, Koperasi Arridho dengan ribuan anggota itu merupakan kesatuan dari Program GIE system yang bertujuan membentuk sekolah gratis bagi masyarakat.

Untuk menjalankan sekolah tersebut, ia memberikan jasa sewa-menyewa mobil harian hingga jangka panjang. “Awalnya dengan berinvestasi dapat mewujudkan sekolah terprogram secara gratis dan otomatis menjadi orangtua asuh murid,” ujarnya. (nourkinan)

http://www.poskotanews.com/2013/01/0...an-2000-mobil/
Bos Koperasi Arridho Dikenal Banyak Asetnya
Written By Mang Raka on Rabu, 09 Januari 2013 | 14.00
Sebelum mengepakkan sayap merintis SMK Farmasi dan Koperasi Ar Ridho, ternyata selama menjadi guru track record Giyatno cukup buruk lantaran sering melalaikan tugasnya sebagai pengajar. Selain itu, Giyatno dikabarkan banyak memiliki kerabat dekat orang partai. Ia juga dikenal memiliki banyak aset di Cikampek.
Mantan Kepala SMPN 2 Tirtamulya, Usman Efendi menjelaskan, bahwa status Giyatno sebagai guru PNS sebelumnya mengajar di SMPN 1 Cikampek dan memang track recordnya tidak begitu bagus dalam memenuhi kewajibannya sebagai seorang guru selayaknya. Mungkin itu merupakan salah satu alasan Giyatno dipindah tugaskan ke SMP Negeri 2 Tirtamulya. "Kalau tidak salah tahun 2009, 2010 karena lama juga dari SMPN 1 Cikampek dengan status istilahnya pembinaan pada waktu itu. Menurut informasi dan penjelasan, ada surat keterangan dari kepala sekolah yang ia (Giyatno) tinggalkan itu (SMP Negeri 1 Cikampek) masalah mengenai kewajibannya mengajar. Jadi artinya ada kekurangan disipilin dalam mengajar," ungkapnya saat ditemui RAKA di ruang kerjanya, Selasa (8/1).
Usman juga mengungkapkan, awal mengajar di sekolahnya Giyatno melaksanakan tugasnya dengan baik, namun selang waktu berjalan, sering terlambat ketika hendak mengajar, hingga selalu absen. Tapi Sebelumnya Usman sempat berbincang-bincang dengan Giyatno yang mempunyai keinginan merintis sekolah dan ingin membuat sekolah gratis. Setelah mengetahui ambisi besar tersebut Usman langsung melayangkan pertanyaan terkait statusnya sebagai guru PNS yang mempunyai tugas yang diembannya yang dikhawatirkan akan menganggu tanggung jawabnya sebagai pengajar. "Pada waktu dia menjawab mudah-mudahan bisa," jelasnya.
Namun tak berselang waktu lama, kekhawatiran yang sebelumnya menghantui Usman terjawab, karena anak buahnya itu tidak pernah mengajar lagi, sehingga memaksanya melakukan tindakan tegas. "Setelah beberapa kali saya panggil, selanjutnya saya laporankan kepada pimpinan yang lebih tinggi (disdik), yaitu dalam bentuk tertulis bukti panggilan yang ada," tambahnya.
Akibat tindakan idispliner yang dilakukannya itu, Bagian Kepegawaian dan Disdik Pora Karawang juga turun tangan untuk memanggil Giyatno, dan akhirnya Giyatno sendiri menyatakan pengunduruan dirinya sebagai PNS. "Bahkan bukan hanya (bagian) kepegawaian, bidang dikdas juga pernah memanggil satu sampai dua kali, tapi tidak tahu menghadapnya sampai berapa kali. Setelah saya konfirmasi sudah menyatakan surat pernyataan di depan beliau juga, artinya mau menjalankan tugas dengan baik," imbuhnya. Meski begitu, pada akhirnya Giyatno menyatakan mengundurkan diri. "Setelah itu saya dirotasi pindah ke SMPN 2 Kotabaru," bebernya.
Terkait kedekatan mantan anak buahnya dengan beberapa orang partai politik selama merintis dan mengembangkan yayasan pendidikan maupun koperasinya, menurut Usman, hal tersebut tidak menutup kemungkinan bisa terjadi, namun dirinya mengaku tidak terlalu mengetahui lebih dalam terkait persoalan tersebut. "Saya kurang tahu kalau disokong oleh partai-partai, hanya memang yang saya tahu dia (Giyatno) temasuk orang yang bergaulnya banyak," kata Usman.
Giyatno juga dikabarkan mempunyai beberapa aset di Cikampek, salah satunya yang diucapkan Usman yaitu tanah yang berada tepat di depan SMK Farmasi, Sukaseuri. Selain itu, Usman juga sempat mendengar Giyatno pernah mengajukan pinjaman ke salah satu bank. "Hutang ke bank? Nah saya kurang tahu tapi dia bilang, pernah mengajukan proposal. Yang jelas dia katanya meminta bantuan dana dangan cara apa ke bank, karena saya dengar ada beberapa tempat yang dibeli oleh dia. Termasuk d idepan sekolahnya yang dibeli oleh dia, dan sebagainya. Yang lainnya saya tidak tahu karena kebetulan terlewati oleh saya kalau berangkat kerja, kalau yang lainnya saya belum bisa memastikan," pungkasnya.

Sementara itu, khawatir perilaku buruk Giyatno menular kepada guru-guru lainnya, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Kadisdikpora) Agus Supriatman, ternyata sudah mengambil langkah dengan memutasi guru bidang studi Fisika itu menjadi staf di kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Disdikpora, Kecamatan Kotabaru, awal September 2012 silam.
Namun surat mutasi tersebut berbeda dengan surat yang lazim dikeluarkan jika memutasi seorang PNS maupun guru di lingkungan dinas tersebut. Pasalnya surat tersebut bukan dalam bentuk surat keputusan, melainkan surat perintah. Anehnya, surat bernomor SP: 821/2061.1/Disdikpora tertanggal 07 September 2012 itu hingga kini masih tersimpan di bagian kepegawaian Disdikpora Karawang karena Giyatno tidak sudi mengambilnya. "Surat tersebut memang masih ada disini karena belum diambil yang bersangkutan," kata Kasubbag Kepegawaian Nandang Ruhyatna MSi saat ditemui RAKA di kantornya, Selasa (8/1).
Pihaknya mengeluarkan surat perintah tersebut, kata dia, bukan tanpa alasan. Surat perintah tersebut dikeluarkan sebagai ajang evaluasi bagi PNS yang bersangkutan (tersangka Giyatno). Sehingga, jika PNS tersebut benar-benar menjalankan tugas ditempat yang baru (UPTD PAUD/SD Kotabaru), tentunya surat mutasi defenitif akan dikeluarkan.
Diakuinya, dirinya tidak begitu mengetahui kinerja PNS yang bernama lengkap Giyatno Ar Ridho bin Slamet Patmowiyono (40), warga Kampung Margamulya, Desa Jomin Barat, Kecamatan Kotabaru itu. Tetapi, setelah mendapat informasi dari pihak SMPN 2 Tirtamulya, ia pun langsung menindaklanjuti laporan tersebut. "Saya masuk Juli dan Agustus diproses kemudian September 2012, terbit surat perintah," kilahnya.
Meski begitu, Nandang mengaku akan segera melaporkan tindakan Giyatno ke pihak inspektorat agar mendapatkan sanksi yang tegas. Namun, sebelum melapor, sambungnya, tentunya harus terlebih dahulu menunggu putusan hukum yang berkekuatan hukum tetap. "Sampai sekarang kami belum tahu dia ditahan atau tidak karena kami kesulitan untuk mendapatkan nomor surat penahanannya," ungkapnya.
Mengingat surat mutasinya masih berbentuk surat perintah, otomatis hak-haknya juga belum ikut dipindahkan. Artinya, gaji dan tunjangan lainnya masih berada di sekolah yang bersangkutan. "Saya yakin gajinya masih utuh dan belum diserahkan kepada yang bersangkutan," ucapnya. Persoalan Giyatno menjadi tidak jelas, tandas dia, tidak terlepas dari sikap kepala sekolah. "Usernya kan kepala sekolah," tandasnya. (vid/ops)

http://www.radar-karawang.com/2013/0...al-banyak.html
Bosnya Dibui, Investor Koperasi Arridho Linglung

KOTABARU, RAKA - Pascaditetapkannya pimpinan koperasi Arridho Bima Nusantara beserta dua pengurus lainnya menjadi tersangka oleh Polres Karawang atas kasus penggelapan ribuan kendaraan, membuat beberapa anggota koperasi atau investor mengaku kebingungan. Mereka menuntut uang yang diinvestasikan bisa kembali.
Salah satu investor, Rahmat mengatakan, dia mendatangi kantor koperasi di Jalan Ir H Djuanda No 402 Kotabaru untuk mencari tahu terkait pemberitaan di media terkait dengan tertangkapnya Giyatno dan dua pengurus lainnya. Ia mengaku terkejut melihat pintu pagar yang sudah terpasang garis polisi. "Belum tahu cuma tadi pagi-pagi anak saya bilang, 'pak, koperasi Arridho masuk media' (Giyatno ditangkap), makanya saya mau nengok ke sini. Ini kok tiba-tiba sudah 'di-police line' gitu," ungkapnya saat ditemui RAKA di lokasi kantor Koperasi Arridho yang berbentuk gudang dan lapangan, Jumat (28/12).
Saat ini dia mengaku kebingungan, karena janji yang dilontarkan beberapa waktu lalu, hanya isapan jempol belaka dan tertangkapnya Giyatno, semakin membuat investor resah. Rahmat telah menginvestasikan uangnya sebesar Rp 50 juta yang hingga kini masih mengambang keberadaanya. "Kita sudah kebingungan ke mana kita harus mengadu?, kantor sendiri sudah tidak ada, dulu di gudang, waktu saya penyerahan kendaraan saja yang diminta oleh koperasi itu disini, di gudang ini kok tiba-tiba sudah di 'police line'," imbuhnya.
Meski demikian Rahmat berharap, investasi modal yang berada di koperasi sebesar Rp 50 juta dapat dikembalikan secara utuh, bagaimanapun caranya. "Harapan saya, itu terus terang saja uang kembali, uang investasi kembali entah gimana caranya, seprrti apa begitu? Itu yang kita inginkan loh, ingin ketegasan terhadap pihak koperasi terutama saudara Giyatno itu," tegasnya.
Sementara itu, setelah ditelusuri ke rumah Giyatno di Perumahan Rawamas Blok BB 1 No 7 terlihat kosong, tidak ada penghuni yang terlihat di dalam. Rumah tersebut nampak mewah bertingkat dan lumayan luas.
Menurut salah satu tetangga Giyatno, AS Firdaus mengatakan, rumah tersebut sudah ditempati Giyatno sejak lima bulan lalu. Namun menurutnya, sejak adanya masalah dengan koperasi, rumah ditinggalkan kosong begitu saja tanpa keterangan yang jelas. Dan juga, rumahnya tersebut setiap harinya banyak dikunjungi oleh investor yang mencari-cari keberadaanya. "Betul ini rumah Giyatno sudah lama, ada 5 bulanan (tinggalnya). Semenjak kasus mencuat, ada banyak orang nagih. Dulu banyak mobil setiap hari, sekarang sepi tidak ada yang datang," kata Firdaus.
Menurutnya, sosok Giyatno di lingkungan rumah dinilai kurang bergaul dengan tetangga. Mungkin mengingat kesibukan dan juga masih berlabel penghuni baru, karena Giyatno baru tinggal sekitar lima bulan. "Kurang gaul, karena baru sih pak," pungkasnya.
Seperti diketahui, tiga pengurus Koperasi Arridho Bima Nusantara sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penggelapan atau penipuan ribuan mobil milik anggotanya. Ketiga pimpinan koperasi tersebut dicomot dan diamankan polisi setelah salah seorang anggotanya melapor ke Polres Karawang pada awal November 2012 lalu.
Kapolres Karawang AKBP Arman Achdiat mengatakan, para peraku ditangkap dan ditahan setelah pihaknya memiliki bukti bukti pendukung sesuai dengan tindak pidana yang dilakukan. Meski begitu, tidak tertutup kemungkinan, ketiga tersangka juga akan dijerat dengan Undang-undang Money Laundring maupun Undang-undang tentang Koperasi. "Kami masih mengumpulkan bukti-bukti lainnya apakah mereka bisa dijerat dengan kedua undang-undang tersebut," kata Arman.
Dikatakannya, Koperasi Arridho mulai menarik perhatian investor, yang kemudian dijadikan sebagai anggota kopersi, setelah diluncurkan dua tahun silam. Setahun kemudian yakni 12 April 2011 lalu, koperasi tersebut diresmikan dengan menghadirkan menteri dan Gubernur Jawa barat Ahmad Heryawan. Company profile perusahaan itu pun menyebar kepada ratusan tamu dan undangan yang menghadiri acara seremonial tersebut. "Tidak heran, jika sekarang korbannya ada dari kalangan pejabat instansi pemerintah, polisi, TNI, termasuk wartawan," terang Arman.
Dalam aksinya, ketiga tersangka secara bersama-sama mengelabui ribuan korbannya dengan memindahtangankan kendaraan kepada orang lain tanpa seiizin dari pemiliknya, serta menarik dana dari masyarakat atau investor dengan jaminan kendaraan. "Mereka menitipkan investasi dalam bentuk uang tunai dan mobil dan dijanjikan akan menerima imbal jasa. Jumlah korban kami perkirakan mencapai lebih dari 2.000 orang," ucapnya. (vid/ops)
http://www.radar-karawang.com/2012/1...i-arridho.html
KARAWANG-Ditahannya para petinggi koperasi Ar-Ridho Bima Nusantara oleh jajaran Polres Karawang, akhirnya bisnis haram berkedok koperasi terbongkar. Karena imbal jasa yang dijanjikan oleh koperasi kepada para investor ini macet selama tiga bulan terakhir.

Menanggapi kasus investasi tersebut, Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) Linkar Kabupaten Karawang, Edi Junaedi mengaku prihatin.

"Saya prihatin bukan hanya soal koperasinya. Melainkan masyarakat yang umumnya masih mudah terbujuk dengan iming-iming pemberian bunga tinggi. Logika masyarakat tidak bisa digunakan dengan normal sehingga mudah terperdaya," ujarnya kepada Pasundan Ekspres (Grup JPNN), Jumat (28/12).

Edi menyayangkan kesenjangan pengetahuan di masyarakat mengenai izin risiko berinvestasi sehingga mereka sering sekali tertipu. Karena menurutnya, tidak banyak masyarakat yang mengetahui dua prinsip dasar tersebut sebagai patokan untuk menyalurkan dana melalui institusi investasi. "Seharusnya hal investasi disosialisasikan pemerintah kepada masyarakat secara massif," ujarnya.

Di samping itu, situasi tersebut diperparah lemahnya pengawasan aparat pembina koperasi. Padahal, imbuhnya, sudah banyak tindak penipuan dengan menggunakan nama koperasi. "Diharapkan pemerintah segera membuat regulasi tegas mengenai institusi yang berhak menggalang dana investasi di masyarakat. Selama ini pemerintah cenderung mengabaikan investasi-investasi bodong berkedok koperasi. Setelah kejadian ini, semoga masyarakat semakin waspada meskipun pemerintah juga tidak kurang-kurangnya menyosialisasikan untuk berhati-hati dalam berinvestasi," katanya.

Menurut Edi, lemahnya pengawasan juga memunculkan koperasi fiktif. Bahkan saat ini banyak usaha yang berlindung dengan menggunakan koperasi dan menyalahi aturan. "Pemerintah jangan hanya mengeluarkan izin kemudian tidak melalukan pemantaun. Banyak koperasi yang menyimpang dari aturan. Menyalahgunakan dan berlindung di bawah nama koperasi," imbuhnya.

Lanjut Edi, masyarakat menurutnya harus memperhatikan sejumlah hal dalam berinvestasi. Salah satunya adalah melihat apakah institusi pengumpul dana tersebut memiliki izin resmi atau tidak. "Yang penting lagi apakah pengelola secara pribadi memiliki izin untuk mengumpulkan dana dari masyarakat. Izin dalam hal ini adalah izin sebagai manajer investasi," terangnya.

Sementara itu, kehadiran koperasi Ar-Ridho Bima Nusantara yang berlokasi di Jalan Ir. H. Juanda No.403, Kecamatan Kota Baru sama dengan bisnis investasi lainnya yang ujung-ujungnya membawa kabur uang nasabahnya. Dalam aksinya, tidak tanggung-tanggung, berkat kelihaiannya itu, koperasi ini berhasil menggaet investor hingga mencapai empat ribuan orang. Hasil dana investasi yang berhasil dijaring pun sangat fantastis, yakni mencapai Rp60 miliar.(nof)

http://www.jpnn.com/read/2012/12/29/...h-Rp60-Miliar-

Tiga Pimpinan Koperasi Ar-Ridho Akhirnya Di Jebloskan Kepenjara
KARAWANG, TVBERITA.com- Tiga Pelaku tersangka Otak penipuan Koperasi Ar-Ridho akhirnya ditangkap Unit Buser Resor Karawang Jawa Barat, ketiganya karena melakukan penipuan berkedok koperasi yang merugikan nasabhnya ratusan mliyar rupiah. Petugas juga mengamankan barang bukti berupa belasan unit kendaraan roda empat milik nasabah yang di ivestasikan ke koperasi Ar-Ridho di kota baru kabupaten karawang jawa barat.


Ketiga pelaku penipuan yang di amankan petugas yakni h-g, g-y , dan w-n. Ketiganya merupakan pucuk pimpinan dari koperasi yang di kelolanya yakni koperasi Ar-Ridho yang beralamat di kota baru kabupaten karawang jawa barat. Ketiganya di tangkap petugas kepolisian usai dilaporkan nasabah koperasi yang di kelolanya .

Selain menangkap tersangka, petugas juga mengamankan puluhan kendaraan roda empat milik nasabah yang selama ini mereka titipkan ke koperasi ar-ridho.

Menurut Kapolres Karawang, Ajun Komisaris Besar Polisi Arman Achdiat, modus yang di gunakan para pelaku dalam menjalankan aksinya yakni menawarkan kepada calon nasabahnya untuk berinvestasi ke koperasinya berupa kendaraan roda empat, selanjutnya para pelaku langsung memindah tangankan kendaraan roda empat tersebut kepada orang lain , serta menarik dana dari masyarakat atau investor dengan jaminan kendaraan tersebut.

Dari hasil pemeriksaan petugas, semenjak koperasi ini mulai beroperasi yakni tahun dua ribu sepuluh, telah memindah tangankan kendaraan roda empat milik nasabahnya sebanyak tiga ribu lima ratus unit, dan berhasil mengumpulkan uang dari nasabahnya lebih dari delapan puluh milyar rupiah.

Atas perbuatannya pelaku di ancam hukuman penjara maksimal empat tahun karena telah melanggar pasal tiga tujuh dua kitab undang-undang hukum pidana.

( TVBERITA.com )

http://www.tvberita.com/berita-1645-...kepenjara.html