Quote:Original Posted By k3ylock ►
Astaga
kalau indo-malay perang homebase falcon/SU emang masih dijawa/makassar, ya dipindahlah ke riau/kalimantan dan deket ama malay
astajim keadaan perang disamaain sama black flight, ya beda lah kesiapan dalam keadaan perang 
masalah interceptor, emang loe pikir SU TNI itu apa, pesawat odong2???
ya jelas lah malay harus hancurin tuh riau n kalimantan, emang bisa nyerang pulau jawa gitu klo kedua base tu ngga dihancurin???
disini saya asumsikan 24 F-16 nanti datang, F5 Indo juga msh aktif 
na kalau loe ngomong memotong jalur logistik, apa loe ngga yakin TNI ngga mampu memotong jalur logistik malay???
emang loe pikir TNI cuma punya sebiji roket, sebiji rudal pabila ditembakkan itu yang jadi pertama dan terakhir???
dan loe pikir saat TNI nyerang itu yang pertama dan terakhir setelah itu nyerah krn ngga punya senjata lg 
Emang loe pikir selat malaka itu samudra luas gitu sampe TNI AL ngga bisa apa2???
Bro loe jawab deh asumsi gila saya yang ini, coba seandainya SU+F16+HAWK+TA-50 nyerang kuala lumpur secara bersamaan, kan riau dekat ama malay, gue yakin deh pada lebur tuh kuala lumpur walau SU+Mig+F18 malay ngejagain, sebab secara kuantitas banyak punya TNI, ngga usah banyak 10++ aja pesawat yang lolos dari jagaan, loe pikir aja akibatnya?? Selsei deh perangnya tinggal panggil PBB aja lagi buat ngedamain
Ngga usah moluk2 deh ngancurin pulau jawa, nah seandainya indo lwn ausi, saya ngga berani ngomong deh

SEPERTI SAYA BILANG SEBELUMNYA INDO-MALAY KEKUATANNYA 11-12
analisa agan Ok bgt, ngga usah mulok2 gan sekalian aja analisinya bahwa indo cuma bisa perang 1 hari dan terus kalah, saya nyerah deh bro, maaf nyubi asal ngomeng
Nah kan ada itu dalam ilmu militer yang disebut wargames, sebagai bagian analisa dan rincian kemampuan suatu negara untuk melakukan perang dan pertempuran melawan musuh potensialnya. Kalo agan sering baca2 buku mengenai strategi dan taktik militer (gak usah bukunya Clautzwitz atau yang diterbitin di SSI/Strategic Studies Institute cari bacaan yang lebih sederhana saja dulu seperti punyanya Guilio Douhet dalam The Command of the air


dan bandingkan dengan kemampuan aktual dan komprehensif serta potensial yang dimiliki oleh militer Indonesia maka bisa disimpulkan kalau
saat ini kemampuan militer Indonesia(terutama di pertahanan udaranya) tertinggal beberapa langkah dibelakang negara-negara yang menjadi musuh potensialnya/Singapura, Malaysia, Australia.
Disamain ama black flight? Emang ente berani jamin kalau Malaysia gak akan melakukan pre emptive strike seperti yang dilakukan oleh militer Israel dalam perang 6 hari? Dimana deklarasi perang diumumkan beberapa menit sebelum bom-bom Israel jatuh di military base milik Mesir? Dalam dunia militer kesiagaan dimasa damai dan masa perang itu harusnya sama dan gak boleh kendor sama sekali, kelalaian sedikit saja fatal akibatnya!
Mau nggak mau fakta dilapangan harus kita terima, Indonesia itu saat ini kapabilitas pertahanan udaranya itu lemah banget. Bahkan kekuatan udara yang dimiliki oleh TUDM saja bisa memberikan potential threat yang teramat luar biasa besarnya terhadap objek vital strategis di seluruh wilayah penjuru Indonesia. Indikasinya udah jelas dan banyak kok yang menandakan kalau kemampuan pertahanan udara Indonesia masih sangat terancam oleh kemampuan serang udara yang dimiliki Malaysia.
1. Kemampuan Coverage radar udara di Indonesia
2. Kemampuan pertahanan sistem anti serangan udara berbasis platform darat. Untuk point yang ini Indonesia benar-benar tidak memiliki SAM medium dan long range untuk mengcover wilayah yang lebih luas . Hanya Manpads dan AA gun.
3. Kesiapan operasional fighter TNI AU yang masih harus dipertanyakan lagi. Dari keseluruhan fighter yang dimiliki TNI AU emang berapa unit yang siap terbang setiap saat dan tidak terganggu oleh jadwal maintenance, kesiapan sucad, missil yang belum expired, dll.
4. Kemampuan BVR yang dimiliki oleh fighter-fighter TUDM adalah ancaman nyata yang paling penting terhadap fighter TNI AU. AMRAAM missile yang dimiliki oleh Hornet TUDM adalah salah satu contohnya, seberapa besar kemungkinan Falcon TNI AU dengan Sidewinder-nya bisa survive sebelum melakukan close engagement melawan Hornet? Apakah agan pernah memperhitungkan segala kemungkinan terburuk yang ada dalam setiap kemungkinan engagement antara fighter TUDM dengan fighter TNI AU? Disini, dalam dunia militer modern kata semangat saja sudah tidak relevan untuk meraih kemenangan, penguasaan teknologi modern dan alutsista yang mumpuni adalah salah satu kunci utama untuk memenangkan perang. Dalam konteks pertempuran udara modern, memperoleh Air Superiority adalah kata kuncinya untuk menjamin kemenangan matra yang lainnya.
Faktanya Indonesia masih belum memiliki segala resource untuk memperoleh air superiority yang mutlak kalau harus berhadapan on par dengan TUDM. Memang ada unsur lainnya untuk memperoleh kemenangan seperti taktik dan strategi yang cerdas dan brilian seperti yang diperlihatkan oleh militer Israel dalam perang 6 hari, tapi apakah kemampuan Jendral dan officer TNI sudah mencapai tahapan seperti itu, yang bahkan melakukan definisi pembedaan antara IFV dan MBT saja masih salah?
Apa yang bisa dilakukan oleh 10+ Flanker kalau bisa menerobos sistem pertahanan udara Malaysia dan bebas menghantam target strategis yang ada di Semenanjung Malaysia? ada beberapa skenario
1. Sama saja seperti skenario awal yang dah gua singgung, pemerintah Malaysia kehilangan muka dan rakyat mereka akan mempertanyakan jalannya perang. Dan ada kemungkinan untuk mereka menerima term perdamaian dari RI.
2. Malaysia justru menjadikannya sebagai scapegoat di dunia internasional dan mendorong negara-negara commonwealth untuk mendukung kampanye militer yang dilakukan oleh Malaysia untuk melawan Indonesia. Dari kemungkinan ini Indonesia yang paling dirugikan pasalnya Indonesia tidak memiliki sistem persekutuan strategis yang berguna untuk meraih dukungan internasional dalam setiap kampanye militernya (inget apa yang terjadi terhadap Indonesia dalam kasus di Timor dan Aceh dimana Indonesia sudah dituduh sebagai agresor dan pelanggar HAM di seluruh dunia). Dan akhirnya negara Commonwealth akan memberikan bantuan terhadap Malaysia (pasukan munisi, alutsista, military advisor) dan mendorong negara-negara lain melakukan embargo terhadap militer Indonesia. Yang pada akhirnya akan mengurangi kemampuan operasional militer Indonesia yang alutsista buatan blok baratnya cukup besar jumlahnya.