KASKUS

UPDATE !!!


Quote:Ilham Habibie Kembangkan Penerus N-250
Antique, Iwan Kurniawan
KAMIS, 30 AGUSTUS 2012, 07:01 WIB



VIVAnews - Presiden Direktur PT Ilthabi Rekatama, Ilham Akbar Habibie menyatakan upaya pihaknya untuk terus membangkitkan kembali N-250 menjelma menjadi pesawat generasi baru, Regio Prop.

Namun, ia menegaskan, antara N-250 dengan Regio Prop merupakan dua jenis pesawat yang 100 persen berbeda.

Putra sulung BJ Habibie ini menjelaskan, Regio Prop merupakan pesawat baru yang mengacu pada pengalaman dan program N-250 di masa lampau. "Jadi, kita bedakan antara N-250 dengan Regio Prop," kata Ilham saat ditemui VIVAnews di kantornya, Rabu 29 Agustus 2012.

Menurutnya, Regio Prop dikembangkan oleh PT Ragio Aviasi Industri (RAI) yang sahamnya 51 persen dikuasai Ilthabie Rekatama dan 49 persen sisanya dimiliki PT Eagle Cap, perusahaan milik Erry Firmansyah, mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia.

Sedangkan N-250, kata Ilham, dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI), yang merupakan badan usaha milik negara.

"Memang ini mengacu pada semangat, pengalaman, dan program N-250 tapi bukan meneruskan program. Orang-orang yang terlibat dalam pembangunan N-250 kita ajak lagi, karena sebagian besar sudah tidak di PTDI," katanya.

Namun, Ilham tidak menampik jika ke depan proyek pesawat Regio Prop ini akan menggandeng PTDI untuk memanfaatkan fasilitas perakitan pesawat yang dimiliki BUMN tersebut.

Ia mengungkapkan, RAI nantinya akan menjadi perusahaan prinsipal yang memiliki paten pesawat Regio Prop dan menjadikan PTDI sebagai tempat perakitan pesawat.

"Nanti kerja sama dengan PTDI, namun belum dinegosiasikan sama sekali. Ada angka-angka yang berkisar tapi ini baru konsep," tutur Ilham.

SUMBER :http://bisnis.news.viva.co.id/news/r...-penerus-n-250


1. ternyata memang ntar pake fasilitas PT DI
2. based on N-250.. tp 100 persen design yg berbeda, jadi gak akan ada masalah dgn copyright

Quote:Original Posted By Taz-maniac
UPDATE !!!




1. ternyata memang ntar pake fasilitas PT DI
2. based on N-250.. tp 100 persen design yg berbeda, jadi gak akan ada masalah dgn copyright



mudah2an lancar jaya,,
Pak Habibi dah capek minta dana dari pemerintah buat neruskan program yg macet makanya beliau bikin gebrakan sendiri bersama anaknya
Quote:Original Posted By Taz-maniac
UPDATE !!!




1. ternyata memang ntar pake fasilitas PT DI
2. based on N-250.. tp 100 persen design yg berbeda, jadi gak akan ada masalah dgn copyright



kapan jadinya?

antriiiii dulu sama pesenan DI yg lain dong... production line nya menyedihkan
Quote:Original Posted By Vienna.SL


kapan jadinya?

antriiiii dulu sama pesenan DI yg lain dong... production line nya menyedihkan


Ya udah diitung kali ama Ilham. Mereka kan gak langsung pengumuman bikin RAI sebelum liat kapasitas produksi yang ada di DI. Lagian Ilham juga kan dibantu orang yg sama yg jadi kepala desain dan manufakturnya N-250 yg udah paham prosedur DI gimana.
Quote:Original Posted By suhu_bukan_guru
Ya udah diitung kali ama Ilham. Mereka kan gak langsung pengumuman bikin RAI sebelum liat kapasitas produksi yang ada di DI. Lagian Ilham juga kan dibantu orang yg sama yg jadi kepala desain dan manufakturnya N-250 yg udah paham prosedur DI gimana.


my opinion.. klo ngandalkan lini yg ada sekarang dijamin, RAI gak akan sanggup menuhi pesanan yg dipersyaratkan oleh airliner.. klo udah gitu, dijamin gak laku nih pesawat.. airliner itu penetrasi pasar, who comes first to serve biasa nya lebih mendapat tempat di hati masyarakat.
Berita terkait... biar ndak mbingungi....

Strategi Ilham Habibie Membangkitkan N-250
Anggi Kusumadewi, Iwan Kurniawan
Selasa, 21 Agustus 2012, 22:59 WIB

VIVAnews – Putra sulung mantan Presiden BJ Habibie, Ilham Akbar Habibie, tengah mempersiapkan kebangkitan kembali industri pesawat terbang N-250. Ilham bahkan sudah mempersiapkan strategi khusus memasarkan pesawat ini. "Kami akan fokus dulu untuk mengarap pasar Asia Tenggara," kata Ilham kepada VIVAnews, Selasa 21 Agustus di Jakarta. Dengan strategi itu, diharapkan industri pesawat yang kini mati suri itu bisa kembali bangkit.

Pesawat N-250 itu memang pernah diluncurkan tahun 1995. Bahkan menjadi primadona pada Indonesian Air Show 1996. Sayang, krisis menggulung ekonomi Indonesia tahun 1997. Produksi pesawat itu terpaksa dihentikan. Lewat PT Ragio Aviasi Industri (RAI) - yang didirikan bersama Erry Firmansyah -- Ilham hendak menatanya kembali.

Pasar Asia Tenggara dibidik, kata Ilham, sebab 50 persen pangsa pasar pesawat turborprop atau pesawat baling-baling (propeller) berada di Asia Tenggara. Ini karena pesawat jenis itu cocok digunakan di daerah berkontur geografis seperti Asia Tenggara. Salah satu kelebihan pesawat propeller sejenis N-250 adalah pada kehandalannya dalam penerbangan jarak pendek. Dibanding pesawat jet, pesawat bermesin baling-baling jauh lebih efisien dan hemat.

Daya tampung N-250 pun cukup memadai, karena didesain pesawat ini mampu mengangkut 50-70 penumpang. Oleh karena itu Ilham yakin maskapai-maskapai penerbangan di Asia Tenggara nantinya akan lebih memilih pesawat produksi negara sekawasan ketimbang memesan pesawat buatan Eropa dan Amerika.

Sesungguhnya salah satu pesaing potensial N-250 adalah Fokker-50. Tapi pesawat jenis itu kini tidak lagi diproduksi oleh Fokker Aviation, Belanda, sebab sudah pailit pada tahun 1996. Jadi pesaing pesawat N-250 pun tinggal dua yaitu ATR 72 pmilik perusahaan Prancis-Italia dan Bombardier Dash-8 produksi Kanada.

Kedua pesawat propeller itu produksi Eropa. Maka N-250 adalah satu-satunya pesawat sejenis yang diproduksi di Asia Tenggara. Ini memperkuat tekad Ilham untuk menguasai pasar sekawasan yang tak asing lagi. Apalagi N-250 terbilang modern di kelasnya.

Direktur Aerostructure PT. Dirgantara Indonesia, Andi Alisjahbana, mengatakan bahwa N-250 memang diciptakan untuk merebut pasar jenis pesawat itu. “Hingga sekarang N-250 merupakan pesawat termodern di kelasnya. Pesawat sejenis yang digunakan Wings Air misal, MA-60 yang mengambil desain dari Antonov, dan ATR-72, didesain tahun 1980-an. Sementara N-250 dibuat tahun 1990-an,” ujarnya.

Ilham menjelaskan bahwa di masa depan produksi pesawat N-250 tidak akan seluruhnya dilakukan di Indonesia, tapi juga disubkontrakkan kepada pabrikan pesawat di negara-negara satu kawasan seperti Malaysia dan Thailand. “Kami tidak bisa berjalan sendiri karena semua pabrik pesawat tidak berdiri sendiri, tapi pasti punya supplier. Jadi punya banyak mitra di negara-negara lain itu wajar,” terang Ilham.

PT. RAI yang 51 persen sahamnya dikuasai PT. Ilthabie Rekatama selanjutnya bakal berperan sebagai perusahaan inti yang merangkul perusahaan-perusahaan lain di satu kawasan. Saham PT. RAI sendiri tidak hanya dimiliki oleh PT. Ilthabie Rekatama, tapi juga oleh PT. Eagle Cap milik Erry Firmansyah, mantan Direktur Utama PT. Bursa Efek Indonesia (49 persen).

Syarat Pasarkan N-250

Sebelum N-250 diproduksi dan dijual secara massal, Kementerian Perhubungan RI mensyaratkan pesawat ini memiliki sertifikat tipe yang dikeluarkan oleh pemerintah. “Sesuai dengan Undang Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan Pesawat, setiap pesawat yang diproduksi di Indonesia harus mempunyai type certificate,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhub Bambang S. Ervan kepada VIVAnews, Selasa 21 Agustus 2012.

Untuk mendapatkan certificate type itu, setiap pesawat harus lulus dalam serangkaian tes, salah satunya uji terbang. Sertifikat tipe dikeluarkan untuk menjamin kelaikan sebuah pesawat. Sertifikat tipe yang dikeluarkan Kemenhub RI pun berlaku universal di semua negara.

Dengan demikian, jika nantinya pesawat N-250 dijual ke berbagai negara, negara-negara itu tinggal melakukan validasi sertifikat tipe untuk mengecek kembali sertifikat pesawat yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

Sampai saat ini, dua prototipe N-250 yang diproduksi oleh PT. Dirgantara Indonesia belum mempunyai sertifikat tipe. Prototipe pertama, N-250 Gatot Kaca, baru uji terbang selama 500 jam. Prototipe kedua, N-250 Krincing Wesi, bahkan baru mengantongi jam terbang 100 jam.

Inilah yang menjadi tantangan bagi kebangkitan N-250. “Uji terbang terakhir mereka pada 1999, dan karena sudah lama maka tidak berlaku lagi,” kata Bambang. Ujian untuk mendapatkan sertifikat tipe bahkan harus dimulai dari awal lagi jika pesawat N-250 bakal berubah desain seperti yang direncanakan.

Direktur Aerostructure PT. DI Andi Alisjahbana membenarkan tes pesawat N-250 belum pernah selesai. “Karena distop IMF pada 1998 saat krisis ekonomi,” ujarnya. Oleh karena itu proyek membangkitkan kembali N-250 membutuhkan dana hingga ratusan juta dolar. Ini agar uji coba berhasil dan N-250 dapat tersertifikasi sebagai syarat mutlak untuk dipasarkan.

Lantas butuh berapa lama untuk membangkitkan N-250 yang notabene merupakan karya anak bangsa ini? Andi memprediksi waktu dua tahun cukup untuk menuntaskan seluruh riset N-250, dengan catatan pemerintah bersama-sama pihak swasta serius mau mendanai proyek N-250.

Ilham Habibie sendiri mematok waktu lebih realistis, yakni sekitar 4-5 tahun lagi. Kini PT. RAI pun akan fokus pada pendanaan internal karena produksi pesawat terbang mutlak memerlukan sokongan dana kuat. “Kami akan mencari pendanaan melalui institusi, juga kepada publik,” kata Chief Executive Officer PT. Ilthabie Rekatama itu.

http://bisnis.viva.co.id/news/read/3...ap-rebut-pasar
lagi...

Strategi Pesawat N-250 Rebut Pasar
Anggi Kusumadewi, Iwan Kurniawan
Selasa, 21 Agustus 2012, 10:41 WIB

VIVAnews – Mantan Presiden RI BJ Habibie lewat putra sulungnya, Ilham Akbar Habibie, mencetuskan gagasan untuk membangkitkan kembali pesawat N-250 yang saat ini mati suri. Ilham Habibie sudah menyiapkan strategi khusus untuk menjual pesawat bermesin turboprop ini.

Ilham menegaskan bahwa 50 persen pangsa pasar pesawat turborprop berada di Asia Tenggara karena kontur geografisnya yang cocok. “Jadi strategi kami fokus dulu untuk menggarap pasar Asia Tenggara,” kata Ilham Habibie kepada VIVAnews.

Ia yakin maskapai-maskapai di Asia Tenggara nantinya akan lebih memilih pesawat buatan sesama negara Asia Tenggara ketimbang memesan pesawat buatan Eropa dan Amerika. Optimisme ini muncul karena N-250 memang diciptakan cocok dengan kontur Asia Tenggara.

Ke depannya, pesawat N-250 tidak akan dibangun seluruhnya di Indonesia, namun juga disubkontrakkan kepada pabrikan pesawat di negara-negara satu kawasan seperti Malaysia dan Thailand.

PT. Ragio Aviasi Industri yang 51 persen sahamnya dikuasai PT. Ilthabie Rekatama akan menjadi perusahaan inti yang merangkul perusahaan-perusahaan lain di regional satu kawasan.

“Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri karena semua pabrik pesawat tidak berdiri sendiri, tapi pasti punya supplier. Jadi punya banyak mitra di negara-negara lain itu wajar,” kata Ilham.

Seperti diketahui, PT. Ragio Aviasi Industri didirikan oleh Ilham Habibie bersama Erry Firmansyah, mantan direktur utama PT. Bursa Efek Indonesia. PT. RAI inilah berencana membangun kembali pesawat N-250 yang dicetuskan BJ Habibie.
http://www.viva.co.id
http://bisnis.viva.co.id/news/read/3...50-rebut-pasar
lagi tambahan...

N250 Bangkit Kembali, Bagaimana Peluangnya?
Arinto Tri Wibowo, Iwan Kurniawan
Rabu, 15 Agustus 2012, 11:13 WIB

VIVAnews - Tanggal 10 Agustus 1995, langit kota Bandung menjadi saksi. Sebuah prototipe pesawat baling-baling buatan anak bangsa diuji coba.
Setelah mengangkasa 55 menit, penerbangan perdana itu dinilai sukses. Mimpi BJ Habibie yang saat itu menjadi Menristek dan kemudian menjadi Wakil Presiden Indonesia itu terwujud sudah.

Berkode N250, pesawat yang diproduksi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara/IPTN (kini PT Dirgantara Indonesia) itu, akhirnya membuktikan keberhasilan hasil karya putra-putri Indonesia. Pesawat ini sempat dibeli sejumlah negara. Tapi sesudah euforia luar biasa itu, N250 itu kemudian senyap karena krisis monoter mengurung ekonomi Indonesia 1997.

Kini perbincangan soal pesawat buatan dalam negeri ini kembali menghangat. Adalah Ilham Akbar Habibie, putra sulung BJ Habibie yang mengusulkan agar industri pesawat ini kembali dibuka. Pekan ini kepada VIVAnews.com, Ilham memaparkan sejumlah alasannya. Pasar pesawat baling-baling (propeller) di Asia Tenggara, katanya, sangat besar. "Dan 50 persen pasar pesawat propeller dunia ada di Asia Tenggara, bukan di Eropa ataupun Amerika." katanya.

Dan pesawat buatan Indonesia tahun 1995 itu cukup tangguh dan cocok dengan kawasan Asia Tenggara. Bermesin turboprop 2439 KW Allison AE 2100 C buatan perusahaan Allison, pesawat mampu terbang dengan kecepatan maksimal 610 km/jam dan kecepatan ekonomis 555 km/jam. Ini merupakan kecepatan tertinggi di kelas turboprop 50 penumpang.

Dengan ketinggian operasi 25.000 kaki (7.620 meter) dan daya jelajah 1.480 km, pesawat ini dinilai cocok untuk rute penerbangan pendek di wilayah Indonesia.

Ilham menegaskan bahwa kondisi geografis Asia Tenggara sangat tepat untuk mengembangkan pesawat baling-baling. Di Eropa, pesawat propeller kurang berperan, karena kalah dengan infrastruktur kereta api yang telah bagus. Kondisi serupa di Amerika Serikat, infrastruktur jalan telah memadai, sehingga orang lebih senang bepergian dengan mobil.

Berbeda dengan dua benua itu, Asia Tenggara, khususnya Indonesia, infrastruktur kereta api dan jalan belum tersedia dengan baik. Untuk itu, dibutuhkan pesawat baling-baling yang lebih efisien dibandingkan pesawat jet untuk perjalanan singkat. "Untuk mencapai level infrastruktur memadai seperti di Eropa dan Amerika butuh waktu bertahun-tahun, sehingga pesawat propeller yang akhirnya banyak digunakan di Asia Tenggara," ujar dia.

Selain itu, harga tiket penumpang pesawat baling-baling lebih murah dibanding pesawat jet. "Jika bisa efisiensi waktu dan harganya murah, why not? Itu akan sangat menarik," kata anggota presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu.

Butuh 5 Tahun
Membangkitkan produksi pesawat N250 agar kembali menjadi kebanggaan Indonesia memang tidak mudah. Dibutuhkan waktu beberapa tahun untuk mewujudkan cita-cita itu. "Setelah diluncurkan pada 1995, saat ini perlu 4-5 tahun lagi untuk merealisasikannya," kata Ilham yang juga menjadi Chief Executive Officer (CEO) PT Ilthabie Rekatama.

Guna membangkitkan kembali proyek pesawat N250 itu, BJ Habibie melalui Ilham Akbar Habibie mendirikan PT Ragio Aviasi Industri (RAI). Di perusahaan ini, PT Ilthabie Rekatama menguasai 51 persen saham, sedangkan 49 persen sisanya dimiliki PT Eagle Cap, milik Erry Firmansyah, mantan direktur utama PT Bursa Efek Indonesia.

Ilham menjelaskan, selain penyempurnaan pada sistem elektronik dan penambahan kapasitas penumpang, memproduksi pesawat terbang memerlukan pendanaan yang kuat. Untuk tahap awal, RAI akan fokus pada pendanaan internal. "Ke depan, kami akan mencari pendanaan melalui institusi dan terakhir ke publik," ujar dia.

Nantinya, beberapa penyempurnaan desain dan peralatan elektronik akan dibenamkan pada pesawat N250 baru. Ilham mengibaratkan pesawat N250 yang dibangun pada 1995 itu layaknya komputer tua.

Teknologi industri pesawat yang berkembang pesat dalam rentang 1995-2012 membuat teknologi pesawat N250 yang waktu itu tercanggih di era 1990-an terlihat ketinggalan zaman. "Pada 2012, teknologi elektronik memegang peran yang sangat penting. Misalnya di avionik, flight control system, hampir semua bagian pesawat ada unsur elektroniknya," tuturnya.

Selain pembaharuan pada sistem elektronik pesawat, lanjut Ilham, akan ada perubahan pada desain pesawat. Pesawat N250 yang baru nanti dirancang dapat memuat lebih banyak penumpang sebagai tuntutan perubahan pasar.

Dia menegaskan, dengan memproduksi pesawat N-250 yang merupakan produk Indonesia, diyakini akan memberikan keuntungan bagi maskapai nasional. Bahkan, Ilham meyakini bila pesawat N250 telah diproduksi akan diminati banyak maskapai.

Pesawat propeller N250 cocok dioperasikan di Asia Tenggara, karena kemampuannya yang andal dalam rute jarak pendek. Dibandingkan dengan pesawat jet, pesawat bermesin baling-baling lebih efisien dan hemat.

Bukan Tanpa Pesaing
Upaya membangkitkan kembali produksi pesawat N250 memang bukan tanpa kendala. Persaingan di bisnis pesawat baling-baling itu cukup ketat.

Setelah Fokker-50 tidak lagi diproduksi oleh Fokker Aviation di Belanda yang pailit pada 1996, pesawat sejenis yang siap bersaing di antaranya ATR 72 milik perusahaan pesawat Prancis-Italia ATR, dan Bombardier Dash-8, Kanada.

ATR 72
ATR 72 merupakan pengembangan dari pendahulunya, pesawat ATR 42. ATR 72 memiliki kapasitas lebih besar, yaitu dari 48 penumpang menjadi 78 penumpang. Pengembangan yang dilakukan dengan memperpanjang lambung pesawat, meningkatkan bentang sayap, memperbaharui mesin, serta meningkatkan kapasitas bahan bakar hingga 10 persen.

ATR merupakan perusahaan pesawat patungan (joint venture) antara Aerospatiale (sekarang EADS) dengan Aeritalia (sekarang Alenia Aermacchi, bagian dari Finmeccanica Group). ATR 72 diluncurkan pada 1986 dan melaksanakan penerbangan perdananya pada 27 Oktober 1988.

Pesawat ATR 72 memiliki beberapa varian, antara lain ATR 72-100, ATR 72-200, ATR 72-210, ATR 72-500, ATR 72-600 serta versi kargo dan VIP.

Bombardier Dash-8
Bombardier Q-Series atau Dash-8 merupakan pesawat baling-baling pabrikan De-Havilland, Kanada, yang saat ini telah bergabung dengan Bombardier.

Seri pertama Dash-8, yaitu 100,200 dan 300 diproduksi dari 1984 hingga pertengahan 1990-an. Kelebihan pesawat Dash-8 adalah mampu mendarat di landasan yang belum siap sekalipun dan menjadikan pesawat Dash-8 terkenal menjadi pesawat yang tangguh.

Kelanjutan varian dari Dash-8 adalah Q100/200/300 (Q-Series) yang telah memiliki perbaikan seperti Active Noise and Vibration Suppression (ANVS) yang diklaim senyaman pesawat jet.

Kapasitas penumpang pesawat Dash-8 ini bervariasi antara 37-48 penumpang, tergantung varian pesawat. Saat ini, jumlah populasi Dash-8 mencapai 660 pesawat di seluruh dunia.

Namun, Indonesia diyakini mampu memenangi persaingan itu, jika industri strategis di dalam negeri dipacu. Apalagi, saat ini, teknologi pesawat baling-baling berkembang pesat.

"Saya mendukung upaya untuk menghidupkan kembali N250 itu," kata mantan Komisaris Utama PT Merpati Nusantara Airlines, Said Didu, kepada VIVAnews, Selasa 14 Agustus 2012.

Dia menilai, proyek itu layak dikembangkan kembali, karena untuk wilayah seperti Indonesia, pesawat jenis itu sangat dibutuhkan. Untuk itu, pesawat N250 harus dirancang ulang guna disempurnakan dengan teknologi mesin pesawat yang makin maju.

"Tapi ini tidak sulit, tinggal bagaimana mencari sumber pendanaannya," ujarnya.

Said Didu menegaskan, untuk menghidupkan industri strategis di Indonesia, tidak memerlukan pendanaan besar. Cukup dengan suntikan dana Rp3-5 triliun bagi masing-masing perusahaan di industri strategis, kegiatan operasional bisa dijalankan.

"Tinggal bagaimana komitmen pemerintah dan maskapai domestik untuk menyerap hasil produksinya," tuturnya.

Dia meyakini, jika industri strategis di dalam negeri berkembang dan maju, sumber daya manusia andal --yang banyak bekerja di luar negeri--, akan kembali ke Tanah Air. "Bayangkan, dari sekitar 16.000 karyawan IPTN saat itu, kini hanya tersisa 3.000-an," tuturnya.
http://www.viva.co.id
http://bisnis.viva.co.id/news/read/3...terbang-tinggi
Maju terus Bpk BJ.Habibie,mudah2an jd sesuatu dan menjadi kebanggan bangsa dan negara tercinta ini.
Quote:Original Posted By cherrypopper


my opinion.. klo ngandalkan lini yg ada sekarang dijamin, RAI gak akan sanggup menuhi pesanan yg dipersyaratkan oleh airliner.. klo udah gitu, dijamin gak laku nih pesawat.. airliner itu penetrasi pasar, who comes first to serve biasa nya lebih mendapat tempat di hati masyarakat.


Kalo liat kata Ilham di artikel itu kan tidak menampik, artinya liat sikon DI juga. Kalo emang DI mampu ya dipake. Kalo gak, kan bisa bikin di China kayak pabrik BMW ajah....kali. Tinggal manufacture nya aja di mana gitu. Gak 100% ngandelin DI. Apalagi menjelang 2014, pasti banyak yang sok2 deketin BJH biar keliatan pro Indonesia maju. Lagian kita smua udah tau lah kalo urusan ama BUMN sering ribet ama birokrasi yg di atas. Tapi kalo gw liat, utk kelas N-250, selama Indonesia bagian timur bandaranya blum diupgrade, masih sangat dibutuhkan. Apalagi buat orang Papua, naek pesawat kelas regional turbo prop dengan tiket cuman 700rb mah kecil. Jadi pasarnya emang masih banyak. Dan akan tambah banyak.
^^
Bikin pesawat jangan samain dengan mobil
Gak bisa sembarangan tunjuk pabrik, harus sertifikasi dulu pabriknya. harus bikin yang jelas dulu

Silakan saja kalau Ilham Habibie mau buat pesawat. kami-kami sih dukung.
Tapi yaaa, ingat saja, dulu N-250 juga kan ada "karma" nya.
Dana reboisasi dan pensiun dipake R&D pesawat yo wis kualat

faktanya, sekarang untuk buat2 pesawat baru gak ekonomis kalo dikerjain sendirian. makanya musim merger2an pabrik pesawat sama bikin pesawat sebagai proyek bilateral 2 negara. silakan saja kita lihat RAI nanti mau gimana
Quote:Original Posted By MrBhass
^^
Bikin pesawat jangan samain dengan mobil


sama lho

SMK Trenggalek aja bisa
Quote:Original Posted By MrBhass
^^
Bikin pesawat jangan samain dengan mobil
Gak bisa sembarangan tunjuk pabrik, harus sertifikasi dulu pabriknya. harus bikin yang jelas dulu

Silakan saja kalau Ilham Habibie mau buat pesawat. kami-kami sih dukung.
Tapi yaaa, ingat saja, dulu N-250 juga kan ada "karma" nya.
Dana reboisasi dan pensiun dipake R&D pesawat yo wis kualat

faktanya, sekarang untuk buat2 pesawat baru gak ekonomis kalo dikerjain sendirian. makanya musim merger2an pabrik pesawat sama bikin pesawat sebagai proyek bilateral 2 negara. silakan saja kita lihat RAI nanti mau gimana


buset bisa gitu ya,, pantes ptdi kesendet2 sekarang,, ckckckck,,
ini artikel lama tahun 1994

Quote:
BJ Habibie:
Dana Reboisasi Rp 400 Milyar Pinjaman IPTN Tidak Akan Hilang

Bandung, Selasa, Mdk
Dana Reboisasi sebesar Rp 400 milyar yang ditarik untuk membantu
keuangan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) merupakan dana
pinjaman, dan akan dikembalikan kepada Departemen Kehutanan.
Hal itu diungkapkan Direktur Utama (Dirut) IPTN yang juga Menteri Riset
dan Teknologi (Menristek) BJ Habibie didampingi Eksekutif Vice
Presiden Hari Laksono, Dirjen PPG Subrata dan Direktur TVRI Azis Husen
pada jumpa pers dengan wartawan dalam dan luar negeri untuk rencana
Roll Out Pesawat N-250, Selasa (25/10) di Bandung.

Dikatakan Habibie, penggunaan dana reboisasi tersebut, atas persetujuan
Presiden Soeharto. Sedangkan IPTN sendiri tidak berhak untuk menggunakan
dana tersebut jika tidak ada persetujuan terlebih dahulu dari Mandataris.
"Maka, tidak usaha diributkan, dana itu tidak akan hilang dan IPTN siap
untuk mengembalikan dari royalti perusahaan," paparnya.

Menjawab pertanyaan wartawan tentang kuntungan IPTN Habibie mengatakan untuk
kembali modal saja, IPTN harus bisa memproduksi sebanyak 259 pesawat N-250.

Namun demikian, kata Habibie kebijaksanaan Presiden Soeharto untuk
menggunakan dana reboisasi, merupakan kebijakan yang profesional. Dana
tersebut oleh IPTN dipakai untuk mengembangkan Pembuatan pesawat N-250.
IPTN sendiri dalam mengembangkan pesawat N-250 dengan kapasitas 80 seat,
katanya dibutuhkan dana sebesar 650 juta US dolar, sementara dana yang sudah
terprogramkan belum bisa dicairkan di Departemen Keuangan. Maka bantuan dana
reboisasi dapat membantu produksi IPTN tersebut.

"Bagi IPTN sendiri jika Mandataris mengambil kebijaksanaan agar program dan
produksi pesawat N250 dilanjutkan, ya diteruskan. Tapi jika Presiden
menghendaki untuk dihentikan ya dihentikan, tidak jadi masalah," tegas
Habibie.

Bantuan Airbus
Dikatakan Habibie, Industri pesawat terkemuka Airbus, telah menawarkan diri
untuk membantu rencana flight pertama pesawat N250. Tawaran bantuan dari
Airbus tersebut sehubungan dengan menggunakan teknologi fly by wire dari
pesawat N-250. Airbus sendiri merupakan industri pesawat terbang pertama di
dunia yang menggunakan teknologi fly by wire (menggunakan sistem kabel-red).
Pesawat N-250 yang punya kemampuan 350 knot per jam menurut rencana akan
ke luar dari hanggar pada tanggal 10 November mendatang dan akan diresmikan
Presiden Soeharto. Seluruh wartawan Sesala (25/10), diajak melihak Mock Up,
pesawat N-250 yang sudah dilengkapi dengan tempat duduk dan cockpit dengan
sistem komputer.

Menurut Habibie, kebutuhan akan pesawat sejenis N-250 di pasaran internasional
tahun 2000 sampai tahun 2050 sekitar 4.500 pesawat. Berarti tiap tahunnya
dibutuhkan sekitar 225 pesawat.

Untuk mengantisipasi akan kebutuhan pesawat itu, maka IPTN akan membuka pabrik
di Amerika yaitu di Arizona Zorgia dan Albama. Dipilihnya Amerika untuk
membuka pabrik, karena tidak ada industri pesawat yang membuat pesawat
sepert N-250 papar Habibie.

Modal yang akan ditanam dalam industri pesawat N-250 di Amerika tersebut
sekitar 100 juta US dollar. Sedangkan IPTN kebagian 12 juta US dolar.
Tenaga kerjanya yangg akan terserap di Amerika sekitar 500 orang.
IPTN di Bandung, dalam kerjasama ini akan membuatkan berbagai komponen
yang berhubungan dengan struktur primier pesawat yang bisa menahan daya,
seperti sayap, flap dan lainnya.

(Merdeka, Rabu, 26 Oktober 1994)



Monggo dipikirkan. asumsi sekarang mau buat proyek serupa
239 pesawat itu mau dibuat dimana biar balik modal?
Ini ada artikel lain jaman Pak Habibie jadi Presiden

Quote:

Membubarkan Warisan Habibie

Badan Pengembangan Industri Strategis (BPIS) dibubarkan, gantinya PT Pakarya Industri. Apa pertanggungjawaban BPIS?
Pemerintah B.J. Habibie tak habis-habisnya membuat kejutan. Setelah pemerintah mulai menjual saham-saham sejumlah badan usaha milik negara (BUMN), pekan lalu pemerintah membubarkan Badan Pengembangan Industri Strategis (BPIS), badan pemerintah yang selama bertahun-tahun dikelola Habibie.

BPIS selama ini memayungi sepuluh BUMN industri strategis atau sering disingkat dengan BUMNIS. Mengapa dibubarkan? "Di bawah BPIS sebagai badan pemerintah, industri-industri strategis itu kesulitan untuk mencapai profit karena banyak aturannya," ujar Sofyan Djalil, Asisten Bidang Komunikasi Menteri Pendayagunaan BUMN.

Kalau itu tujuannya, Sofyan benar. Namun, apakah BPIS bisa bubar begitu saja setelah gagal mengelola sepuluh BUMNIS tadi? Tengok saja PT Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN), sejak berdirinya, perusahaan pesawat terbang yang dikelola Habibie dan anaknya, Ilham Habibie, itu tak pernah menghasilkan devisa, sebaiknya malah mengeruk devisa dan anggaran negara.

Data yang dikumpulkan Dr. Lukman Hakim, salah seorang peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, yang kini bekerja di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, PT IPTN pada tahun 1995 telah terjerat utang Rp 2,1 triliun. Ambisi Habibie untuk proyek pesawat turboprop N-2130 senilai US$ 2 miliar yang nantinya akan dikelola PT IPTN pun tersandung banyak masalah. PT Dua Satu Tiga Puluh (DSTP), perusahaan pengumpul dana proyek ambisius, terancam dibubarkan oleh para pemegang sahamnya sendiri. Itu belum tuntutan pertanggungjawaban uang PT DSTP yang sudah dipakai PT IPTN sebesar Rp 221 miliar.

Ini baru satu contoh, betapa ruwetnya penggunaan uang di sebuah BUMN binaan BPIS. Contoh yang lain, masih di PT IPTN, proyek N-250, generasi sebelum N-2130, saja yang sudah menghabiskan US$ 650 juta ternyata belum selesai dan sulit terjual. "Sertifikasinya saja belum keluar, siapa yang mau beli?" ujar Arifin Panigoro, seorang pemegang saham PT DSTP kepada D&R beberapa waktu lalu.

Sejak lama, Habibie memang seperti kebal terhadap kritik. Dulu, kalau terdesak, ia mengadu ke Soeharto. Biasanya, Soeharto membelanya dan mencari kesempatan berbicara di depan publik soal pentingnya Indonesia menguasai teknologi kedirgantaraan. Padahal, semua orang tahu PT IPTN sudah tertatih-tatih jalannya, bahkan malah sudah menyedot dana reboisasi. Untung Dana Moneter Internasional (IMF) menyetop IPTN menyedot dana negara. IPTN boleh jalan, tapi diminta mencari pendanaan sendiri. Kini perusahaan itu bergerak lagi ke kiri maupun ke kanan. Di samping utangnya banyak, PT IPTN harus mengeluarkan banyak dana segar setiap bulannya untuk menggaji 16 ribu karyawannya.

Pekerja IPTN memang paling banyak di antara sepuluh BUMNIS yang ada. Pekerja terbanyak kedua ada di PT PAL, yakni mencapai lima ribu orang. Galangan pembuatan kapal yang pernah dipimpin Habibie ini juga banyak utangnya. Menurut penelitian Lukman Hakim, utang PT PAL pada tahun 1995 sudah mencapai Rp 1,4 triliun dan merugi hingga hampir Rp 19 miliar.

BPIS Harus Bertanggung Jawab

BUMNIS lain di bawah BPIS yang menumpuk utang adalah PT Pindad. Pabrik senjata yang dulu di bawah Angkatan Darat itu memiliki utang sebesar Rp 324 miliar dan merugi hingga Rp 21 miliar. Dengan kata lain, tak ada BUMNIS di bawah BPIS yang tak memiliki utang. PT Krakatau Steel, misalnya, masih memiliki utang sebesar Rp 338 miliar walaupun sudah mampu meraih untung hingga Rp 250 miliar tahun lalu. Begitu pun PT Inti, perusahaan pembuat alat-alat telekomunikasi itu punya utang hampir Rp 300 miliar, PT Barata, pembuat dinamit pun punya utang sebesar Rp 243 miliar.

Pembubaran BPIS memang tampaknya beriktikad baik, memotong inefisiensi dan mendorong ke arah profesionalisme. Apalagi pengganti BPIS, yakni PT Pakarya Industri, yang berfungsi sebagai holding company, akan dikelola oleh Menteri Pendayagunaan BUMN, Tanri Abeng. Namun, BPIS sebenarnya tak bisa dibubarkan begitu saja, sebelum badan yang dianggap gagal mengelola BUMNIS itu mempertanggungjawabkan dulu tugas-tugasnya.

Soalnya, total utang sepuluh BUMNIS di bawah pengelolaan BPIS yakni: PT Krakatau Steel, PT IPTN, PT PAL, PT Pindad, PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT Inti), PT Barata, PT Boma Bosma Indah, PT Inka, PT LEN, dan PT Dahana, akhir tahun 1995 mencapai Rp 4,8 triliun. Kala itu nilai per dolar Amerika Serikat masih sekitar Rp 2.000. Kalau utang sepuluh BUMNIS itu ada yang berbentuk dolar, utang-utangnya dalam rupiah bisa membengkak berlipat-lipat.

Menurut data dari Kantor Menteri Negara Pendayagunaan BUMN, pada tahun 1997 terdapat empat BUMNIS yang masih rugi, yaitu PT Pindad (rugi Rp 25 miliar), PT Dahana (rugi Rp 1 miliar), PT Boma Bisma Indra (rugi Rp 15 miliar), dan IPTN (rugi Rp 194 miliar). Dari segi status, hanya ada dua BUMN yang dinyatakan sangat sehat, yaitu PT Barata dan PT Inka, satu yang dinyatakan sehat PT Inti, satu yang kurang sehat, yakni PT Krakatau Steel. Akan halnya lima perseroan yang berstatus tidak sehat yaitu PT Pindad, PT Dahana, PT IPTN, PT PAL, dan PT LEN Industri. Namun, tahun ini hanya tiga yang dinyatakan tak sehat, yakni PT IPTN, PT Pindad, dan PT Barata.

Jika data ini benar, prestasi ini merupakan hal yang luar biasa, mengingat di tengah krisis moneter yang membuat banyak perusahaan yang semula sehat jadi tak sehat, dua BUMN yang semula merugi dan berutang, yakni PT PAL dan PT LEN, malah jadi sehat.

Dibubarkannya BPIS dan dibentuknya lembaga penggantinya, PT Pakarya Industri yang sekaligus menjadi holding company sepuluh BUMNIS, menurut Muhammad Faisal, direktur utama holding itu, dimaksudkan agar tercipta sinergi antar-anggota holding. "Kita mengambil teori sapu lidi saja, kalau satu kan tidak ada apa-apanya, tetapi kalau sepuluh digabung jadi satu, itu bisa bagus," kata Muhammad Faisal.

Menurut Sofyan Djalil, PT Pakarya Industri diharapkan menangani sepuluh BUMNIS secara profesional, karena kinerja BUMN-BUMN itu selama ini kurang memuaskan. Meski berada dibawah holding, perusahaan-perusahaan itu tetap mengurus rumah tangganya masing-masing. "Mereka menjalankan tugasnya seperti biasa. Holding itu mengadakan koordinasi di antara industri-industri tersebut," ujar Sofyan.

Holding Tak Tepat

Lukman Hakim berharap PT Pakarya Industri bisa membawa industri-industri strategis itu ke alam bisnis. "Kalau industri tersebut menjadi perusahaan bisnis, orientasinya ke profit. Oleh karena itu, pembiayaannya akan selalu diperhitungkan dengan profitnya," kata Lukman ketika dihubungi D&R.

Pakarya Industri mungkin lebih menjanjikan keuntungan. Namun, Faisal Basri, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), berpendapat pembentukan holding untuk sepuluh BUMNIS itu tak tepat. "Sinergi macam apa yang akan terjadi misalnya antara Krakatau Steel dan Pindad, atau Krakatau Steel dan industri pesawat terbang?" ujar Faisal.

Namun, kalau kesepuluh BUMNIS itu hanya akan saling mengisi, Faisal setuju. Apalagi kini ada tiga BUMNIS yang tidak sehat yang bisa ditutup oleh BUMNIS yang sehat. Pendapat Faisal ini tak disetujui rekannya, Wahyudi Prakarsa, pengamat BUMN dari kampus UI. Menurut Wahjudi, pembentukan holding ini akan membuat industri strategis yang berhasil memperoleh untung merugi, karena harus memberikan subsidi kepada industri lain yang tidak sehat.

"Misalnya PT IPTN, selama ini kekurangan dana sehingga mengambil dana reboisasi. Kalau dalam holding tidak tertutup peluang, duit Krakatau Steel akan dilempar ke IPTN. Akhirnya semuanya mati pelan-pelan," ujar Wahjudi kepada D&R.

Menurut Wahjudi, hingga kini fungsi yang dijalankan oleh PT Pakarya Industri belum jelas benar. Apakah akan berfungsi sebagai investment holding, yakni sebagai pemegang saham dan pada akhir tahun tinggal meminta pertanggungjawaban dari anak-anak perusahaan atau operating holding, dan holding itu ikut campur dalam soal operasional sehari-hari.

Wahjudi memperkirakan, Tanri Abeng akan memilih investment holding. Soalnya, kalau menjalankan operasional holding, tak akan berhasil. Karena, anak-anak perusahaan ini memiliki pengalaman operasi. Apalagi, sumber daya holding mungkin juga tak mampu menjalankan tugas operasional. "Pembenahan harus segera dilakukan di sektor keuangan dan pemasaran. "Kegagalan IPTN selama ini karena mereka lemah di bidang keuangan dan pemasaran," kata Wahjudi.

Itu soal PT Pakarya Industri. Soal BPIS, apakah lembaga itu bisa lepas begitu saja dari tanggung jawab meruginya sejumlah BUMNIS yang dikelolanya? Tentu tidak. Sebaiknya, BPIS mempertanggungjawabkan tugas-tuganya dulu sebelum bubar.

Irawan Saptono/Laporan Silvester Keda
Majalah D&R, 22 Agustus 1998


Saya pribadi tidak meragukan kemampuan Pak Habibie dalam sains.
Hanya saja untuk management dan bisnis sepertinya perlu ada konsultan-konsultan ahli, biar gak terjerembab ke masalah yang sama seperti sebelumnya.

jadi masalah di PT DI itu sebenernya gak cuma 1-2 tahun koq
dari jaman jaya2nya juga udah bermasalah sebenernya
ampe keselek bacanya,, rudet banget keliatannya,,
jadi makin penasaran liat rai ke depannya ini bakal gimana,,,
^^
Just wait and see... Yang jelas, sejarah sendiri sudah berkata bahwa bikin industri dirgantara itu bukan hal simple....

dan di artikel panjang yang ku quote diatas banyak yang nyesek bacanya seperti:

Quote:
Sejak lama, Habibie memang seperti kebal terhadap kritik. Dulu, kalau terdesak, ia mengadu ke Soeharto. Biasanya, Soeharto membelanya dan mencari kesempatan berbicara di depan publik soal pentingnya Indonesia menguasai teknologi kedirgantaraan. Padahal, semua orang tahu PT IPTN sudah tertatih-tatih jalannya, bahkan malah sudah menyedot dana reboisasi. Untung Dana Moneter Internasional (IMF) menyetop IPTN menyedot dana negara. IPTN boleh jalan, tapi diminta mencari pendanaan sendiri. Kini perusahaan itu bergerak lagi ke kiri maupun ke kanan. Di samping utangnya banyak, PT IPTN harus mengeluarkan banyak dana segar setiap bulannya untuk menggaji 16 ribu karyawannya.


Masih mau nyalahin IMF? Masih bilang ini konspirasi Amrik biar kita gak menyaingi Boeing?
makin lama saya kerja disini saya makin gak percaya sama teori konspirasi IMF menggagalkan N250 dan N2130
Quote:Original Posted By MrBhass
^^
Just wait and see... Yang jelas, sejarah sendiri sudah berkata bahwa bikin industri dirgantara itu bukan hal simple....

dan di artikel panjang yang ku quote diatas banyak yang nyesek bacanya seperti:



Masih mau nyalahin IMF? Masih bilang ini konspirasi Amrik biar kita gak menyaingi Boeing?
makin lama saya kerja disini saya makin gak percaya sama teori konspirasi IMF menggagalkan N250 dan N2130


Setuju Mod. Bisnis bikin pesawat mah investasi alat dan manusianya mahal banget. Jangan2 momod kelamaan nemenin bosnya ngerokok ya jadi gitu
Jaman dulu... Merpati & ABRI dipaksa beli NC-235, makanya ada pembeli pada awal-2 penjualan. Misalnya N250 berhasil diupgrade dan jadi, kalau pemerintah tidak ikut 'memaksa' dan berperan aktif terhadap penjualan, minimal ke dalam negeri. Ya.. project ini bakalan jadi kenangan lagi.
×