FIGHT CLUB

Ane kasih review nih Fight Club > 10/10

Spoilerfor 2. Fight Club:


Lihat Review lainnya disini
10 Film terbaik Ane dalam 3 Tahun Terakhir (part. 2)
1. Orphan


Review : There's Something wrong with that kid .
Bercerita tentang 1 keluarga yg mw mengadopsi anak setelah keguguran anak ke 3nya.. (Sbnrnya Mati Dalam kandungan), Dan Setelah Mengadopsi Seorang Anak Bernama Esther. Kehadiran Esther diharapkan dapat membawa suasana baru di keluarga tersebut.
Namun, harapan tersebut sepertinya tidak akan pernah terwujud. Perlahan tapi pasti, Esther berubah menjadi anak yang misterius dan labil. Penampilan luarnya yang manis dapat mengecoh semua orang. Justru, ia menjadi pusat kehancuran keluarga Coleman.

Selanjutnya Nnton aja ndri, Yg pastinya bakal lumayan Suprise Tentang anak kcil ini

Awal Sering liat ni kaset di tempet sewa dvd, cmn liat gambar depen nya aja udah
Setelah cari2 film di kaskus ktmu film horor 1 ini, baca ceritanya bener2 bagus. dan stlah nnton saya ksih review

8 / 10



2.Speed Scandal



Review : Aduh karna bagus saya bingung mw ksih review apa, intinya yg demen film Drama Comedy korea. wajib nnton film ini

8 / 10
the cabin in the wood
semalem abis nonton film ini
penilaian gw film ini overated



sorry to say kalo comment ane beda dr yang laen yg kebanyakan banyak yg memuji , ane kecewa berat ama film2 kayak ginian
ternyata ini tergolong kayak film sci fi khayalan ga masuk akal gitu
apalagi ceritanya campur aduk gitu
Spoilerfor 1:


rating dr ane 6/10
^ gak masalah mau ngasih review jelek, itu hak lo

tapi ya mbok yao dikasih tag spoiler reviewnya, isinya ngebocorin jalan ceritanya tuh, kasian yg belom nonton
@erikjamela

oy lau spoiler tuh, edit buruan
Quote:Original Posted By ikyokebanget
Spoilerfor "asd":


You are the apple of my eye (2011)


Lumayan buat sambilan donlotan

quote bagus dari film ini

"kadang usaha tidak selalu membuahkan hasil"

6.5/10

Spoilerfor "asd":

Quote:Original Posted By jackspades
Spoilerfor "answer":


Spoilerfor "asd":
Never Ending Story ( K-Movie ) 2012


Standart romance

6/10



Quote:Original Posted By Rukii
Spoilerfor asd:


salah banget isabelle mainin peran itu
BILLY ELLIOT (2000)



jatuh nya film drama deh tokoh nya anak2 kecil semua tp ini film serius,,,


8/10

SILENT HOUSE



ga ngerti sama ni film pembunuhan apa balas dendam film hantu bukan lebih tepat film semacam scream


6/10

Starship Troopers: Invasion (2012)



nnton deh Starship Troopers film versi cartoon nya hahahaha WARNING jng nnton sama anak di bawah umur !!!! ada adegan PORN nya soal nya


7/10
^ Billy Elliot gw suka
Quote:Original Posted By comANDRE
^ gak masalah mau ngasih review jelek, itu hak lo

tapi ya mbok yao dikasih tag spoiler reviewnya, isinya ngebocorin jalan ceritanya tuh, kasian yg belom nonton


sorry ud dispoiler
soale gw ga ngerti , ane kira spoiler itu yg ending aja
bukannya cuman ending aja yg wajib dispoiler? n ane di atas kan ga ngasih tau endingnya
oke deh jd ngerti
The Raid : Redemption (2011)
a.k.a Serbuan Maut





Sinopsis :

SWAT team terjebak dalam sebuah apartemen yang dikendalikan oleh mafia kejam dan anak buahnya yang terkenal sebagai pembunuh dan preman


Review :

Applause buat film indonesia yang satu ini :
kagum sekali dengan nuansa action yang diberikan film ini.
jujur tidak hanya dalam ruang lingkup nasional. Serbuan Maut menjadi film aksi favorit gue dalam tingkatan dunia

bagaimana ndak. Film ini terkesan konsisten. sehingga memberikan dampak minus dan positif yang menonjol. mungkin hanya 10%-15% untuk space story, karena sisanya dihabiskan dengan adegan fighting yang oke punya.

karena itu menurut gue, gareth evans bukan sosok yang pantas dipuji disini karena storynya kurang mantap. Tapi iko uwais, si mad dog dan puluhan pemain yang jago berantem yang layak dianggap sebagai suksesor film.

atraksi seni bertarung dengan tangan kosong juga membuat film ini menarik ditonton daripada film film luar yang hanya berpgang pada senjata rata - rata.

walaupun ceritanya juga agak ndak logis, set apartemen yang kotor dan kelam membuat perasaan thriller tetap ada.
The Raid mungkin satu dari sedikit film action yang benar benar Total Full Action




Rating : 8.0/10


------------------------------------------------------------------------------------------------


The Mechanic (2011)






Cerita yang biasa, good action, tokoh minim, ending agak nge-twist dan durasi yang pendek cukup membuat the mechanic menjadi hiburan sekejap


Rating : 6.8/10

I Spit On Your Grave - Remake (2010)
===
sadis nih film tapi keren mirip saw


the dark knight (2008)

karena TDKR jadi pengen nonton yang ini
batman lawan joker
orang psycho
mainin karakternya si joker jago nih
ada two face juga
oh begini toh proses dia jadi two face
jadi tau kenapa jadi judulnya the dark knight bukan berjudul batman ...

tonton deh bagus menurut ane
rate 8/10

666



fuck man, this one is EPIC! uda lama ga liat film thriller yang bisa bikin melek di 20 menit akhir Orgasm to the MAX!!

Quote:Original Posted By Sikamari
The Prestige 2006



Gak nyangka ini film tentang pesulap, dan gak pernah kepikiran endingnya begitu. Satu kata, keren!
Didalemnya banyak konspirasi - konspirasi yang maksudnya cuma satu.
Ide cerita nya simple, tapi bisa dibuat rumit hanya karena trik transported man. Kembaran, saudara, pada kenyataannya itu tipuan.
Semua kartu dibuka di akhir filmnya.

Rate : 8.5/10
ada sedikit pertanyaan nih, mungkin ada yang tau jawabannya

Spoilerfor question:


Quote:Original Posted By jackspades
Spoilerfor answer:


Spoilerfor klonengan:
Quote:Original Posted By tebscooler
Spoilerfor klonengan:


Spoilerfor ..:
Review: Tanah Surga… Katanya (2012)

Deddy Mizwar sepertinya belum puas untuk bermain di sekitar wilayah drama satir. Setelah film-film semacam Kentut (2011) dan Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010), Deddy kembali hadir sebagai produser – sekaligus hadir sebagai pemeran dalam kapasitas terbatas – untuk film terbaru arahan Herwin Novianto (Jagad X Code, 2009) yang berjudul Tanah Surga… Katanya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Danial Rifki, Tanah Surga… Katanya mencoba untuk membahas struktur kehidupan masyarakat yang berada di daerah perbatasan negara Indonesia – Malaysia, khususnya dari segi ekonomi. Sebuah sentuhan kritis yang jelas terasa begitu sensitif, namun Tanah Surga… Katanya mampu menyajikannya dengan penceritaan yang elegan.

Tanah Surga… Katanya berkisah mengenai dilema kehidupan yang dialami oleh Hasyim (Fuad Idris) ketika ia diajak oleh anaknya, Haris (Ence Bagus), untuk meninggalkan desanya yang berada di daerah pinggiran perbatasan Indonesia – Malaysia di Kalimantan Barat dan berpindah ke Malaysia. Pilihan ini sendiri diberikan oleh Haris karena selama ini ia telah mendapatkan rezeki yang melimpah dengan bekerja di Malaysia sekaligus mengingat fakta bahwa kehidupan masyarakat di daerah pinggiran tersebut sama sekali tidak mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah Republik Indonesia. Sebagai seorang mantan pejuang kemerdekaan yang masih menggenggam nilai-nilai nasionalisme yang tinggi, Hasyim jelas menolak ajakan tersebut. Akhirnya, Haris hanya mengajak puterinya, Salina (Tissa Biani Azzahra), untuk berangkat ke Malaysia dan meninggalkan ayah beserta puteranya, Salman (Osa Aji Santoso), yang tidak ingin meninggalkan sang kakek sendirian.

Dilema kehidupan di daerah perbatasan Indonesia – Malaysia tidak semata-mata hanya dialami oleh Hasyim dan keluarganya. Tanah Surga… Katanya juga menyinggung mengenai masalah pendidikan melalui karakter guru muda bernama Astuti (Astri Nurdin) yang harus berjuang mengajar sendirian di desa tersebut karena keterbatasan tenaga guru yang mengajar disana. Ada juga karakter Anwar (Ringgo Agus Rahman), seorang dokter yang berasal dari Bandung yang baru saja tiba disana setelah ditugaskan dari kota asalnya di Bandung. Melalui kehidupan yang dijalani oleh karakter-karakter tersebut di sepanjang penceritaan film inilah Tanah Surga… Katanya berusaha menunjukkan bahwa tanah air Indonesia tidak seindah dan semakmur bayangan masyarakatnya selama ini, khususnya ketika pemerintah sama sekali bersikap acuh kepada nasib keseharian para warganya.

Satir yang disajikan oleh Tanah Surga… Katanya memang secara berani mengkonfrontir berbagai isu yang dihadapi oleh Indonesia selama ini dengan Malaysia. Memang, jalan cerita film ini bukanlah berniat untuk menanamkan semangat kebencian terhadap negara tetangganya tersebut. Tanah Surga… Katanya memilih untuk membandingkan secara langsung bagaimana kesejahteraan kehidupan yang saling bertolak belakang antara masyarakat Indonesia dan masyarakat Malaysia yang hidup di garis perbatasan, dan bagaimana masyarakat Indonesia mengais-ngais rezeki di wilayah negara tetangganya akibat kurangnya kepedulian pemerintah yang berujung pada hilangnya pula rasa kecintaan dan nasionalisme masuarakat di daerah tersebut terhadap negeri kelahiran mereka sendiri. Kritis. Tajam. Namun pada kebanyakan bagian, Tanah Surga… Katanya justru terkesan menyalahkan kesejahteraan negeri tetangga yang begitu memikat daripada mengeksplorasi masalah yang dihadapi karakter masyarakat di wilayah Indonesia dan usaha mereka untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Satir dan sindiran mengenai sikap nasionalisme di dalam jalan cerita Tanah Surga… Katanya sendiri mampu dihadirkan secara elegan, melalui berbagai dialog maupun adegan sindiran yang cukup berhasil untuk menghantarkan pesannya – walau pada beberapa bagian terkesan dieksekusi secara terlalu berlebihan. Pun begitu, kematangan kemampuan penampilan akting para jajaran pengisi departemen akting Tanah Surga… Katanya berhasil membuat berbagai sisi kehidupan yang ingin disampaikan film ini menjadi dapat tersampaikan dengan lugas. Pujian khusus tentu layak disematkan kepada pemeran Salman, Osa Oji Santoso, yang mampu memberikan penampilan akting yang apik sekaligus menjaga ritme emosional cerita di setiap penampilannya. Nama-nama lain seperti Ence Bagus, Fuad Idris, Ringgo Agus Rahman – yang sepertinya semakin baik dalam memilih peran-peran yang ia mainkan, Astri Nurdin dan Norman Akyuwen semakin menambah kokoh kekuatan pondasi akting film ini.

Herwin Novianto sendiri harus diberikan pujian atas kemampuannya untuk mengarahkan film ini, baik dari sisi penjagaan alur ritme penceritaan film maupun pengarahan dari tata produksi film ini. Jelas tidak mudah untuk mengarahkan sebuah drama satir agar tetap mampu dinikmati oleh khalayak ramai. Namun, Herwin berhasil mengeksekusi naskah cerita arahan Danial Rifki dengan cukup baik. Kekuatan penceritaan tersebut juga didukung dengan kualitas penampilan audio dan visual yang begitu berkelas. Sinematografi arahan Anggi Frisca mampu menangkap alam Kalimantan dengan penuh kesan eksotismenya, sementara tata musik karya Thoersi Argeswara juga mampu mengisi setiap adegan dengan tambahan emosi yang lebih kuat.

Harus diakui, jika dibandingkan dengan film-film Indonesia lain yang bertema serupa seperti Batas (2011) atau Tanah Air Beta (2010), Tanah Surga… Katanya memiliki nilai kritikan yang jauh lebih tajam. Sayangnya, seiring dengan berjalannya durasi film, Tanah Surga… Katanya menjadi kehilangan fokus, berlarut dalam drama yang kurang mampu tergarap dengan baik dan semakin bertele-tele dalam penyampaian ceritanya. Pun begitu, dukungan keapikan penampilan akting para jajaran pemerannya serta kualitas tata produksi film ini setidaknya tetap mampu membuat Tanah Surga… Katanya menjadi sebuah sajian yang berkualitas untuk disimak. Tidak istimewa, namun jelas sebuah hasil produksi dengan kualitas yang cukup memuaskan.

Rating: 3 / 5
Quote:Original Posted By erikjamela
the cabin in the wood
semalem abis nonton film ini
penilaian gw film ini overated



rating dr ane 6/10

Spoilerfor cabin:
Review: Perahu Kertas (2012)

Wajar jika begitu banyak orang memiliki ekspektasi yang tinggi bagi Perahu Kertas. Selain diarahkan oleh Hanung Bramantyo – salah seorang sutradara film Indonesia yang dikenal seringkali mampu memadukan unsur kualitas dengan nilai jual komersial pada setiap karyanya, naskah cerita Perahu Kertas sendiri diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Dewi Lestari yang memiliki tingkat penjualan serta jumlah penggemar yang cukup tinggi. Layaknya setiap film yang naskah ceritanya mengadaptasi sebuah novel, jelas merupakan sebuah tantangan besar bagi Hanung Bramantyo dan Dewi Lestari untuk menghasilkan sebuah karya adaptasi yang benar-benar mampu menangkap esensi dari isi novel yang telah membuat banyak orang jatuh cinta tersebut. Lalu… apakah mereka dapat melakukannya?

Merupakan bagian pertama dari dua seri film yang telah direncanakan, Perahu Kertas berkisah mengenai perjalanan cinta dari Kugy (Maudy Ayunda) dan Keenan (Adipati Dolken). Kugy sendiri diperkenalkan kepada Keenan oleh dua sahabatnya, Noni (Sylvia Fully R) dan Eko (Fauzan Smith), ketika mereka menjemput Keenan sepulangnya pemuda tersebut dari masa belajarnya di negara Belanda. Kisah cinta Kugy dan Keenan tidak lantas berjalan dengan mulus. Ketika pertama kali bertemu, Kugy sedang menjalin kasih dengan Ojos (Dion Wiyoko), pria tampan yang telah ia pacari semenjak masa sekolah menengah atas. Keenan sendiri juga sempat dekat dengan seorang gadis cantik bernama Wanda (Kimberly Ryder). Kugy dan Keenan sama-sama saling menyukai. Keduanya (mungkin sama-sama) menyadari hal itu. Namun keduanya tidak pernah benar-benar saling menyatakan perasaannya.

Arus perjalanan kehidupan akhirnya memisahkan Kugy dari Noni dan Eko. Hal yang sama juga terjadi pada hubungannya dengan Keenan yang perlahan mulai membeku ketika Keenan mulai berkonsentrasi untuk membangun karirnya sebagai seorang pelukis dengan pindah ke Pulau Bali. Kugy sendiri, seusai menyelesaikan masa kuliahnya, mulai magang di sebuah perusahaan periklanan atas bantuan kakaknya, Karel (Ben Kasyafani). Jalan pemikiran Kugy yang unik akhirnya justru memikat pimpinan perusahaan tersebut, Remi (Reza Rahadian), yang kemudian mengangkat Kugy sebagai seorang karyawan. Secara perlahan, hubungan profesional antara Kugy dan Remi mulai mencair menjadi sebuah hubungan personal. Keenan sendiri juga sedang memulai sebuah hubungan kasih baru dengan seorang gadis asal Bali bernama Luhde (Elyzia Mulachela). Namun, keduanya akan segera menemukan diri mereka kembali bertemu di sebuah persimpangan kehidupan yang baru.

Jika dibandingkan dengan deretan karya Dewi ‘Dee’ Lestari lainnya, Perahu Kertas jelas merupakan karya Dee yang paling mudah dicerna – sekaligus difilmkan. Layaknya film-film drama romansa kebanyakan, Perahu Kertas juga memuat formula kisah percintaan yang tidak asing lagi: jatuh bangunnya hubungan cinta antara dua orang manusia yang diwarnai dengan kisah pembuktikan kemampuan dan eksistensi pribadi diri mereka. Yang membedakan Perahu Kertas jelas adalah kemampuan Dee untuk menggarap karakter-karakter kisahnya menjadi lebih berwarna dan menarik serta jalinan dialog puitis indah yang hadir di setiap bagian penceritaan. Dan harus diakui, Dee cukup berhasil dalam menghadirkan poin-poin penting dari novelnya ke dalam naskah cerita Perahu Kertas.

Tidak sepenuhnya berjalan dengan lancar sebenarnya. Perahu Kertas terasa sekali berusaha memperkenalkan karakter-karakternya dalam waktu yang singkat. Untungnya, setiap karakter yang hadir di dalam jalan cerita mampu digambarkan dengan cukup baik – dan sangat terbantu dengan kemampuan para pengisi departemen akting film ini. Bagian introduksi karakter berjalan cukup mulus dengan hadirnya karakter-karakter serta dialog-dialog segar yang menghibur. Namun, ketika konflik demi konflik mulai dihadirkan, Perahu Kertas perlahan-lahan mulai kehilangan arahnya. Konflik yang muncul dari sisi kehidupan pribadi masing-masing karakter mulai mengambil tempat yang akhirnya justru memecah perhatian dan membuat satu bagian terkesan menarik sementara bagian lainnya terasa datar. Hal ini berjalan dalam durasi yang cukup lama sampai sebuah fase baru dalam kehidupan karakternya mulai hadir yang akhirnya kemudian membangkitkan kembali ritme dan energi penceritaan Perahu Kertas.

Tidak hanya dari sisi penulisan cerita, warna penceritaan Perahu Kertas juga sangat dipengaruhi oleh penampilan akting para jajaran pemerannya. Dalam kapasitas tersebut, Maudy Ayunda, yang memerankan karakter Kugy, merupakan sarana enerji utama dari Perahu Kertas. Maudy secara berhasil menterjemahkan bagaimana sesosok karakter Kugy yang memiliki kepribadian yang berwarna, tidak takut mengekspresikan perasaannya – kecuali perasaan cintanya, mungkin – dan jalan pemikiran yang unik. Penonton yang telah mengikuti perjalanan akting Maudy jelas akan merasa kagum dengan transformasi gadis cantik tersebut menjadi sesosok karakter yang lebih luwes daripada karakter-karakter yang biasa ia perankan. Dan penampilan Maudy jelas merupakan nyawa utama bagi Perahu Kertas.

Sayangnya, hal yang sama tidak berlaku bagi lawan main Maudy Ayunda, Adipati Dolken. Penampilan Adipati lebih sering terlihat terlibas keberadaan penampilan bersinar Maudy Ayunda – atau pasangan karakter Eko dan Noni yang diperankan oleh Fauzan Smith dan Sylvia Fully R yang seringkali mencuri perhatian. Akibatnya, ketika Perahu Kertas sedang mengeksplorasi kisah pribadi karakter Keenan yang diperankan oleh Adipati – tanpa kehadiran karakter lainnya – Perahu Kertas menjadi terlihat berjalan semu. Tidak sepenuhnya kesalahan Adipati Dolken, sebenarnya. Karakter Keenan harus diakui merupakan karakter yang membutuhkan sesosok pemeran yang memiliki daya tarik dan kharisma yang sangat kuat. Adipati, terlepas dari penampilannya yang cukup baik, tidak memiliki kharisma tersebut.

Berbeda dengan Adipati, kehadiran Reza Rahadian merupakan contoh tersendiri bagaimana satu sosok aktor dapat menjadikan sebuah peran yang kecil menjadi begitu bermakna ketika dirinya mampu memiliki kharisma yang kuat. Penampilan Reza sebagai Remi memang baru dihadirkan di paruh kedua film. Pun begitu, rasanya akan ada cukup banyak penonton yang kemudian segera meminggirkan (baca: melupakan) karakter Keenan yang diperankan oleh Adipati Dolken dan menjadikan karakter Remi yang dipresentasikan oleh Reza sebagai pendamping yang tepat bagi karakter Kugy yang diperankan Maudy Ayunda. Terlepas dari penampilan personal dari masing-masing jajaran pemeran, seluruh pengisi departemen akting film ini mampu memberikan penampilan yang lugas serta chemistry yang kuat satu sama lain untuk menjadikan Perahu Kertas begitu mudah untuk dinikmati.

Satu hal lain yang cukup tampil standout dari presentasi Perahu Kertas adalah pilihan-pilihan lagu yang mengisi deretan adegan film ini. Selain iringan musik arahan Andhika Triyadi yang mampu menghasilkan tambahan emosi pada setiap adegan, lagu-lagu pilihan yang mengisi deretan adegan Perahu Kertas begitu mampu untuk hadir dan menjadi presentasi kisah sendiri bagi setiap adegan yang diisi oleh lagu tersebut. Sangat mudah untuk menempatkan jajaran soundtrack film Perahu Kertas pada jajaran soundtrack terbaik yang pernah berada pada sebuah film Indonesia. Selain kualitas tata musik, Perahu Kertas juga didukung kualitas produksi yang kuat, baik dari segi audio maupun visualnya. Sederhananya, Perahu Kertas adalah sebuah tampilan yang memuaskan dari sisi produksinya.

Perjalanan pengisahan Perahu Kertas tidak murni berjalan mulus. Setelah bagian pembukaannya yang cenderung meledak-ledak dengan deretan karakter dan dialog yang begitu berwarna, film ini mengalami penurunan ritme cerita ketika berusaha memperdalam penggambaran konflik pribadi yang dialami oleh karakter Keenan. Cukup mengganggu mengingat hal tersebut membuat Perahu Kertas terlihat menjadi datar dan cenderung menjemukan. Untungnya, Perahu Kertas kemudian mampu bangkit lagi dengan sebuah fase penceritaan yang baru dan akhirnya berhasil untuk membawa film ini menjadi sebuah jalan cerita yang cukup menghibur sekaligus menyentuh. Maudy Ayunda memberikan penampilan terbaik di sepanjang karirnya – yang masih sangat panjang, tentu saja – yang dengan dibantu dengan penampilan dari jajaran pemeran lainnya membuat Perahu Kertas mampu tampil dinamis dalam bercerita. Sebuah drama romansa yang jelas berada di atas kelas kebanyakan drama romansa yang banyak dihasilkan oleh industri film Indonesia.

Rating: 3.5 / 5
SUCKSEED (2011)


awal2 sedikit boring ceritanya IMO
tapi lama2 makin menarik ceritanya ditambah jokes khas film thailand
ditambah endingnya yang bisa bikin terharu nontonnya
trus bifern yang main jadi som bener2 lovely

7/10