KASKUS

Quote:Original Posted By Cailean_Black
Misalnya saya seorang pembunuh, adakah yang bisa membuat saya terlepas dari konsekuensi tindakan saya membunuh?


Quote:Original Posted By Choa
tidak ada...


Jadi teringat kisah Ahimsaka (Angulimala).
Mungkin bisa dijadikan salah satu referensi bacaan yang (semoga) tidak penuh teka-teki.


Quote:Original Posted By Fernando.Gil
...yang pasti tidak sepantasnya digambarkan seperti sebuah patung apalagi yang disembah(patung/benda mati yang bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri), tidak beranak/diperanakan dan tidak bisa dibandingkan dengan apapun...


Saya setuju, memang tidak pantas.
Karena sebuah patung, symbol, tulisan, lukisan, foto, atau sejenisnya tidak akan dapat merubah keadaan seseorang.
Namun perbuatan nyata lah yang bisa merubahnya.

Oleh karena tidak pantas, maka, sebagai "makhluk ciptaan-Nya" yang sempurna, hendaknya sebagai "ciptaannya" (yang sempurna), seseorang senantiasa selalu berusaha untuk bersikap, berbuat, berucap, berpikir sesempurna, se-positive mungkin terhadap sesamanya, tanpa membeda2kan, karena semua adalah "ciptaan-Nya" yang sempurna (juga).
Quote:Original Posted By Chelonazi
Jadi teringat kisah Ahimsaka (Angulimala).
Mungkin bisa dijadikan salah satu referensi bacaan yang (semoga) tidak penuh teka-teki.




Saya setuju, memang tidak pantas.
Karena sebuah patung, symbol, tulisan, lukisan, foto, atau sejenisnya tidak akan dapat merubah keadaan seseorang.
Namun perbuatan nyata lah yang bisa merubahnya.

Oleh karena tidak pantas, maka, sebagai "makhluk ciptaan-Nya" yang sempurna, hendaknya sebagai "ciptaannya" (yang sempurna), seseorang senantiasa selalu berusaha untuk bersikap, berbuat, berucap, berpikir sesempurna, se-positive mungkin terhadap sesamanya, tanpa membeda2kan, karena semua adalah "ciptaan-Nya" yang sempurna (juga).


Demikian pula dengan kisah Banthe Maha Moggalana bro, dari situ kita juga bisa memetik pelajaran.
Quote:Original Posted By Pi-One
Setelah mencapai Kebuddhaan, Sang Buddha masih memiliki jasmani, yang menjadi landasan bagi berbuahnya kamma. Jadi seorang Buddha dan arahat pun masih bisa menerima buah kamma.

Setelah masa hidup mereka berakhir, mereka takkan terlahirkan lagi, tak ada lagi landasan bagi berbuahnya kamma.


Yang kelihatan yah ketika Sang Buddha masih hidup, bagaimana buah2 kamma itu tidak terelakkan.

Kalau masa hidup mereka berakhir, kelanjutannya gimana, itu masuk ranah FAITH ...
Quote:Original Posted By Hashimi


klaim lo yg bilang menghina arahat dihukum di neraka avici mana?

Itu bukan klaim saya, kamu buddhist kan? keterlaluan dan memalukan menurut saya kalo nggak tau hal ini
PS : Saya selesaikan dulu mengenai Saddha dengan Joe, Pi-One kamu tunggu dulu aja, besides, ada Buddhist yang sudah menjelaskan soal menghina Arahat ini, dan bertentangan dengan jawaban si youknowwho

Quote:Original Posted By tagarasamana
Pada tubuh dan entitas yang masih bersatu/tersisa kammaphala itu masih muncul, makanya Buddha ketika masih memiliki tubuh manusia, Nibbana yang beliau capai disebut sebagai Saupadisesa Nibbana, Nibbana dengan sisa, tubuh dan entitas masih mengalami efek dari rantai kamma tapi unsur2 bathin yang tersisa sudah tidak, karena Sang Buddha telah berhasil memotong semua unsur pembentuknya, hal2 buruk yang beliau terima tidak membuat Beliau merasa sedih, berduka, atau bahkan terganggu kebahagiaannya.

Ya, bahkan Sang Buddha sendiri tidak mampu menghindari buah dari kamma buruk dari kehidupan sebelumnya, can't moore agree with you
Quote:Original Posted By sang..pencerah


kok belum dijawab2 om?
tolong segera dijawab, kalau perlu sekalian jebak sudutvijaya dgn taktik om
biar dc bersih dari orang2 penderita ADHD

Tenang aja udah di tangan kok, cuman sengaja wa ulur2 biar mereka2 ini coba jangan males buka Kitab Sucinya sendiri dulu


Quote:Original Posted By Choa
karena anda pinter menguraikan bisa kasih sutta yang anda babarkan?

Quote:Original Posted By Choa
cari sendirilah
selamat belajar, ane tunggu debat berbobot dengan "elo"

Hehehehe, NGOMONG tuh sama diri lu sendiri cwa
Quote:Original Posted By kecapasinreload
Yang kelihatan yah ketika Sang Buddha masih hidup, bagaimana buah2 kamma itu tidak terelakkan.

Kalau masa hidup mereka berakhir, kelanjutannya gimana, itu masuk ranah FAITH ...

Masih juga jual kecap merek 'faith' lu?
Gimana kalau lu pahami dulu sedikit tentang kamma?
Itu sesuatu yang perlu pemahaman, bukan cuma modal 'pokoknya percaya'...
Quote:Original Posted By kecapasinreload
Yang kelihatan yah ketika Sang Buddha masih hidup, bagaimana buah2 kamma itu tidak terelakkan.

Kalau masa hidup mereka berakhir, kelanjutannya gimana, itu masuk ranah FAITH ...


Setelah Sang Buddha Parinibbana akan masuk pada ranah achintiya dhamma bro, dan tidak diperlukan faith dan tidak masuk pada ranah faith.

Mungkin membaca malunkyaputtasutta dapat dijadikan sebagai rujukan
Quote:Original Posted By Pi-One
Masih juga jual kecap merek 'faith' lu?
Gimana kalau lu pahami dulu sedikit tentang kamma?
Itu sesuatu yang perlu pemahaman, bukan cuma modal 'pokoknya percaya'...


disini dia terbuli di luar forum ini di buli dan ngak di angep
jadi maklum yah
Quote:Original Posted By tagarasamana
Setelah Sang Buddha Parinibbana akan masuk pada ranah achintiya dhamma bro, dan tidak diperlukan faith dan tidak masuk pada ranah faith.

Mungkin membaca malunkyaputtasutta dapat dijadikan sebagai rujukan


jadi tidak ada di "buddhis" aku percaya Buddha lalu langsung masuk nibbana

geto on tagar...nama pangilanya serem
Membahas dan "mengimani" kondisi Sang Tathagattha akan memasuki ranah spekulasi ketimbang faith .

Cula Malunkya Putta Sutta

Demikian yang saya dengar.
Pada suatu ketika Sang Bhagava berada di Jetavana, taman milik Anathapindika, Savatthi. Kotbah ini dibabarkan berkenaan dengan pertanyaan Malunkyaputta kepada Sang Buddha.
Pada suatu ketika bhikkhu Malunkyaputta sedang berdedikasi sendiri dan muncul tentang:
Dunia kekal
Dunia tidak kekal
Dunia terbatas
Dunia tak terbatas
Jiwa sama dengan jasmani
Jiwa tidak sama dengan jasmani
Setelah meninggal, Tathagata ada
Setelah meninggal, Tathagata tidak ada
Setelah meninggal, Tathagata ada dan tidak ada
Setelah meninggal, Tathagata bukan ada dan bukan tidak ada
Saya akan menanyakan hal-hal ini kepada Sang Bhagava. Jika, Sang Bhagava menerangkan salah satu diri hal-hal itu, maka saya akan tetap melaksanakan penghidupan suci di bawah bimbingan beliau; bila ia tidak menerangkannya, saya akan meninggalkan penghidupan suci.

Ketika hari telah petang, Malunkyaputta bangun dari meditasi dan pergi menjumpai Sang Buddha. Malunkyaputta menanyakan sepuluh hal itu dan mohon Sang Buddha memberikan jawaban dapat menjawabnya atau tidak. “Malunkyaputta, apakah saya pernah mengatakan kepadamu: Malunkyaputta, datang dan laksanakanlah penghidupan suci (brahmacari) di bawah bimbinganku dan saya akan menerangkan padamu bahwa, ‘dunia kekal’, ‘dunia tidak kekal’, setelah menilai, Tathagata bukan ada dan bukan tidak ada.”
“Tidak. Bhante.” “Apakah engkau pernah mengatakan kepadaku: ‘Saya akan melaksanakan penghidupan suci di bawah bimbingan Sang Bhagava, dan Sang Bhagava akan menerangkan kepadaku tentang ‘dunia kekal’, ‘dunia tidak kekal’, …. setelah meninggal, Tathagata bukan ada dan bukan tidak ada.”
“Tidak, Bhante.”
“Bila demikian, siapakah anda dan yang akan kau tinggalkan?
Jika ada orang berkata: ‘Saya tidak akan melaksanakan penghidupan suci di bawah bimbingan Sang Bhagava bila Sang Bhagava tidak menerangkan padamu ‘dunia kekal’, ……. setelah meninggal, Tathagata bukan ada dan bukan tidak ada’; karena hal itu belum diterangkan oleh Sang Tathagata maka orang itu akan mati. Misalnya, ada orang yang terkena panah beracun, lukanya dalam, karena kenalan dan keluarganya membawa seorang dokter operasi, tetapi orang itu berkata: ‘Saya tak mau dokter saya, kedudukannya, aramanya, apakah ia pendek atau tinggi, hitam atau cerah kulitnya, ia tinggal di kota atau di desa …. bentuk panah yang melukai itu. Hal-hal itu belum dapat diketahui, orang itu telah meninggal, demikian pula halnya dengan kamu Malunkyaputta.
Tidak ada penghidupan suci (brahmacari) bila masih ada pandangan, ‘dunia kekal’, ‘dunia tidak kekal’, …. setelah meninggal, Tathagata bukan ada dan bukan tidak ada, juga masih ada kelahiran, usia tua, kematian, penderitaan, kesedihan, kesakitan, ratap tangis dan putus asa, yang saya terangkan untuk dilenyapkan sekarang di sini.
Malunkyaputta ingatlah apa yang saya tidak terangkan adalah tidak diterangkan, apa yang saya terangkan adalah diterangkan. Apakah yang saya tidak terangkan? Itu adalah ‘dunia kekal, dunia tidak kekal, ….. setelah meninggal Tathagata bukan ada dan bukan tidak ada.’ Apa yang saya tidak terangkan ini adalah tidak menghubungkan dengan kesejahteraan, itu tidak termasuk dalam prinsip berhubungan dengan kesejahteraan, itu tidak termasuk dalam prinsip penghidupan suci (brahmacari) itu tidak mengarah ke pelenyapan nafsu, pemusnahan, kedamaian. Pengetahuan langsung (abhinna), penerangan agung (sambodhi), nibbana.
Apakah yang saya terangkan ? Itu adalah dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya dukkha serta jalan melenyapkan dukkha (magga).
Mengapa saya terangkan ? Karena itu berhubungan dengan kesejahteraan, termasuk dalam prinsip brahmacari, mengarah ke pelenyapan nafsu, pemusnahan, kedamaian, pengetahuan langsung, penerangan agung (sambodhi), nibbana.”
Itulah yang dibabarkan Sang Bhagava Bhikkhu Malunkyaputta menjadi puas dan gembira.
Quote:Original Posted By Choa
disini dia terbuli di luar forum ini di buli dan ngak di angep
jadi maklum yah

Eaaaaaa, jurus "character assassination" keluar dehhhhh

Quote:Original Posted By Pi-One
Masih juga jual kecap merek 'faith' lu?
Gimana kalau lu pahami dulu sedikit tentang kamma?
Itu sesuatu yang perlu pemahaman, bukan cuma modal 'pokoknya percaya'...
Oooo, pembahasan kita kemarin belum kelar yak, oke, i'll not hesitate this times, bentar makan siang dulu

Quote:Original Posted By tagarasamana
Setelah Sang Buddha Parinibbana akan masuk pada ranah achintiya dhamma bro, dan tidak diperlukan faith dan tidak masuk pada ranah faith.

Mungkin membaca malunkyaputtasutta dapat dijadikan sebagai rujukan
Masuk ranah Faith bagi yang membaca dan percaya cerita tersebut, jadi ini tidak berbicara tentang Sang Buddha, namun tentang pemirsa di rumah, dan hadirin di studio
Quote:Original Posted By Choa
jadi tidak ada di "buddhis" aku percaya Buddha lalu langsung masuk nibbana

geto on tagar...nama pangilanya serem


Ada beberapa kejadian, seseorang menjadi arahat hanya dengan mendengar dhamma yang Sang Buddha bagikan. Keterlaluan kalau kamu nggak tau suttanya di mana wahai false prophet
Quote:Original Posted By tagarasamana
Membahas dan "mengimani" kondisi Sang Tathagattha akan memasuki ranah spekulasi ketimbang faith .

Cula Malunkya Putta Sutta

Demikian yang saya dengar.
Pada suatu ketika Sang Bhagava berada di Jetavana, taman milik Anathapindika, Savatthi. Kotbah ini dibabarkan berkenaan dengan pertanyaan Malunkyaputta kepada Sang Buddha.
Pada suatu ketika bhikkhu Malunkyaputta sedang berdedikasi sendiri dan muncul tentang:
Dunia kekal
Dunia tidak kekal
Dunia terbatas
Dunia tak terbatas
Jiwa sama dengan jasmani
Jiwa tidak sama dengan jasmani
Setelah meninggal, Tathagata ada
Setelah meninggal, Tathagata tidak ada
Setelah meninggal, Tathagata ada dan tidak ada
Setelah meninggal, Tathagata bukan ada dan bukan tidak ada
Saya akan menanyakan hal-hal ini kepada Sang Bhagava. Jika, Sang Bhagava menerangkan salah satu diri hal-hal itu, maka saya akan tetap melaksanakan penghidupan suci di bawah bimbingan beliau; bila ia tidak menerangkannya, saya akan meninggalkan penghidupan suci.

Ketika hari telah petang, Malunkyaputta bangun dari meditasi dan pergi menjumpai Sang Buddha. Malunkyaputta menanyakan sepuluh hal itu dan mohon Sang Buddha memberikan jawaban dapat menjawabnya atau tidak. “Malunkyaputta, apakah saya pernah mengatakan kepadamu: Malunkyaputta, datang dan laksanakanlah penghidupan suci (brahmacari) di bawah bimbinganku dan saya akan menerangkan padamu bahwa, ‘dunia kekal’, ‘dunia tidak kekal’, setelah menilai, Tathagata bukan ada dan bukan tidak ada.”
“Tidak. Bhante.” “Apakah engkau pernah mengatakan kepadaku: ‘Saya akan melaksanakan penghidupan suci di bawah bimbingan Sang Bhagava, dan Sang Bhagava akan menerangkan kepadaku tentang ‘dunia kekal’, ‘dunia tidak kekal’, …. setelah meninggal, Tathagata bukan ada dan bukan tidak ada.”
“Tidak, Bhante.”
“Bila demikian, siapakah anda dan yang akan kau tinggalkan?
Jika ada orang berkata: ‘Saya tidak akan melaksanakan penghidupan suci di bawah bimbingan Sang Bhagava bila Sang Bhagava tidak menerangkan padamu ‘dunia kekal’, ……. setelah meninggal, Tathagata bukan ada dan bukan tidak ada’; karena hal itu belum diterangkan oleh Sang Tathagata maka orang itu akan mati. Misalnya, ada orang yang terkena panah beracun, lukanya dalam, karena kenalan dan keluarganya membawa seorang dokter operasi, tetapi orang itu berkata: ‘Saya tak mau dokter saya, kedudukannya, aramanya, apakah ia pendek atau tinggi, hitam atau cerah kulitnya, ia tinggal di kota atau di desa …. bentuk panah yang melukai itu. Hal-hal itu belum dapat diketahui, orang itu telah meninggal, demikian pula halnya dengan kamu Malunkyaputta.
Tidak ada penghidupan suci (brahmacari) bila masih ada pandangan, ‘dunia kekal’, ‘dunia tidak kekal’, …. setelah meninggal, Tathagata bukan ada dan bukan tidak ada, juga masih ada kelahiran, usia tua, kematian, penderitaan, kesedihan, kesakitan, ratap tangis dan putus asa, yang saya terangkan untuk dilenyapkan sekarang di sini.
Malunkyaputta ingatlah apa yang saya tidak terangkan adalah tidak diterangkan, apa yang saya terangkan adalah diterangkan. Apakah yang saya tidak terangkan? Itu adalah ‘dunia kekal, dunia tidak kekal, ….. setelah meninggal Tathagata bukan ada dan bukan tidak ada.’ Apa yang saya tidak terangkan ini adalah tidak menghubungkan dengan kesejahteraan, itu tidak termasuk dalam prinsip berhubungan dengan kesejahteraan, itu tidak termasuk dalam prinsip penghidupan suci (brahmacari) itu tidak mengarah ke pelenyapan nafsu, pemusnahan, kedamaian. Pengetahuan langsung (abhinna), penerangan agung (sambodhi), nibbana.
Apakah yang saya terangkan ? Itu adalah dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya dukkha serta jalan melenyapkan dukkha (magga).
Mengapa saya terangkan ? Karena itu berhubungan dengan kesejahteraan, termasuk dalam prinsip brahmacari, mengarah ke pelenyapan nafsu, pemusnahan, kedamaian, pengetahuan langsung, penerangan agung (sambodhi), nibbana.”
Itulah yang dibabarkan Sang Bhagava Bhikkhu Malunkyaputta menjadi puas dan gembira.


sekarang pertanyaanya

apakah Buddha Gotama, sebagai Sammasambuddha kalau mau jawab, bisa apa tidak?
kalau bisa berarti "arti" kata spekulasi itu sendiri akan hilang
kalau tidak menjawab, alasanya apa?

lanjut,,,dari pada baca post orang idiot
Quote:Original Posted By kecapasinreload
Eaaaaaa, jurus "character assassination" keluar dehhhhh

Oooo, pembahasan kita kemarin belum kelar yak, oke, i'll not hesitate this times, bentar makan siang dulu

Masuk ranah Faith bagi yang membaca dan percaya cerita tersebut, jadi ini tidak berbicara tentang Sang Buddha, namun tentang pemirsa di rumah, dan hadirin di studio


Itu akan sangat tergantung pada person, bila ia senang pada sekedar "percaya" saja dalam mengembangkan Buddhasasana, maka itu akan menjadi pilihan pribadi, begitu pula bagi orang yang hendak mengembangkan ariyatthangikkha magga melalui panna (kebijaksanaan).

Terdapat pilihan yang bebas untuk dipilih dalam mengembangkan "magga" ini, menggunakan alur "panna", "saddha", dan "Viriya".

Bila yang menjadi landasan dari ketiga hal tersebut adalah cattariariyasaccana walaupun dengan dasar landasan yang berbeda yang dijadikan pilihan dalam mengaplikasikan "Dhamma" dan "sasana", maka tujuan akhir adalah sama dan satu "Nibbana".
Quote:Original Posted By Choa
sekarang pertanyaanya

apakah Buddha Gotama, sebagai Sammasambuddha kalau mau jawab, bisa apa tidak?
kalau bisa berarti "arti" kata spekulasi itu sendiri akan hilang
kalau tidak menjawab, alasanya apa?

lanjut,,,dari pada baca post orang idiot
Lu sendiri nggak ngerti apa yang lu ngomongin, Buddhist macam apa wahai kauuu choaaa, Sutta sendiri kamu banyak nggak tau eksistensinya
Quote:Original Posted By kecapasinreload
Lu sendiri nggak ngerti apa yang lu ngomongin, Buddhist macam apa wahai kauuu choaaa, Sutta sendiri kamu banyak nggak tau eksistensinya


ga akan mengerti,
dan tak akan pernah sadar,



http://d24w6bsrhbeh9d.cloudfront.net...480x300_v2.jpg
Quote:Original Posted By tagarasamana
Itu akan sangat tergantung pada person, bila ia senang pada sekedar "percaya" saja dalam mengembangkan Buddhasasana, maka itu akan menjadi pilihan pribadi, begitu pula bagi orang yang hendak mengembangkan ariyatthangikkha magga melalui panna (kebijaksanaan).

Terdapat pilihan yang bebas untuk dipilih dalam mengembangkan "magga" ini, menggunakan alur "panna", "saddha", dan "Viriya".

Bila yang menjadi landasan dari ketiga hal tersebut adalah cattariariyasaccana walaupun dengan dasar landasan yang berbeda yang dijadikan pilihan dalam mengaplikasikan "Dhamma" dan "sasana", maka tujuan akhir adalah sama dan satu "Nibbana".


Saddha/Faith salah satunya timbul dari pendengaran, dan pendengaran akan Dhamma, jadi orang yang percaya, nggak bisa serta merta dikatakan dia percayanya buta, itu jatuhnya udah menjudge.
Quote:Original Posted By kepalawortel
ga akan mengerti,
dan tak akan pernah sadar,



http://d24w6bsrhbeh9d.cloudfront.net...480x300_v2.jpg


Hahahaha,
Bahaya nih orang, bisa merusak Dhamma, dan mempermalukan Buddhism
Liat aja cai tanya kemarin baik2 di sini, malah membuat tembok, dan melakukan peng-kasta-an secara nggak langsung
Quote:Original Posted By kecapasinreload
Saddha/Faith salah satunya timbul dari pendengaran, dan pendengaran akan Dhamma, jadi orang yang percaya, nggak bisa serta merta dikatakan dia percayanya buta, itu jatuhnya udah menjudge.


Nah agar tidak jatuh pada "percaya yang membuta" harus ada pemahaman terlebih dahulu pada "sesuatu" yang menjadi landasan dari saddha yang disandangkan.
Quote:Original Posted By tagarasamana
Nah agar tidak jatuh pada "percaya yang membuta" harus ada pemahaman terlebih dahulu pada "sesuatu" yang menjadi landasan dari saddha yang disandangkan.


Maaf, mengenai pemahaman, pemahaman menyingkirkan moha, nggak berkorelasi dengan keraguan, keraguan ada di ranah yang berbeda, meskipun pemahaman ada, namun nggak lantas keraguan itu hilang.
×