KASKUS

Quote:Original Posted By MrBhass
Emangnya Rusia gak akan embargo?

Liat tuh India kocar kacir gara-gara dimainin Rosoboroneksport


ganti haluan.....



impor dari Iran
Quote:Original Posted By Shula08
kira-kira anggota dpr denger ksau ngomong bgm ya?????



pasti mereka bilang yang gk nalar lg gan..
ada2 aja jika mereka gk dapet jatah dari proyek besar pengadaan alutsista...

intinya komisi hahahaaa
Quote:Original Posted By MrBhass


Emangnya Rusia gak akan embargo?

Liat tuh India kocar kacir gara-gara dimainin Rosoboroneksport


bisa share linknya om?

Quote:Original Posted By omsaction
bisa share linknya om?


http://defenceforumindia.com/forum/i...ts-supply.html

Quote:ndia Upset At Russian Military Parts Supply

India Upset At Russian Military Parts Supply

Apr 4, 2011

By Asia-Pacific Staff
New Delhi

When it comes to Russian aerospace products, conventional wisdom is: The equipment is good, the after-market is awful.

Ask the Indian air force (IAF) and its officials would emphatically agree. Sourcing of spares and consumables for its Russian-built aircraft and weapon systems has sunk to a new low for the IAF, with the government permitting it to issue multiple global tenders for spares across a range of systems. The move marks a striking break from the Indian defense ministry’s traditional practice of contracting spares from original equipment manufacturers via Rosoboronexport.

Now the IAF is turning to vendors in Europe, Israel and the U.S. to respond to an urgent spares call for Russian-built equipment it has in inventory.

There are more than 25 tenders on the street, with more floated each day. The service needs everything from terminals and transformers for its MiG-29 fighters to main wheels for its Su-30 fleet. It also needs multiple spares for its Il-76/-78 transport fleet, Mi-26 and Mi-17 helicopters and virtually all Russian-built ground radars, including its P-19 Danubes.

The MiG-29 situation may be the most difficult. The aircraft is undergoing an extensive upgrade, which means it needs close to 150 different spare parts, including shield installations, main and nose wheels, video amplifiers and photo diodes, as well as minor items such as transformers, capacitors and resistors.

The issue goes beyond cost and poor relations with its supplier. For the IAF there is a very real day-in, day-out operational cost. For example, Il-78 refueling tankers are suffering from a lack of major parts, hobbling mission rates.

The supply problems are not new. What appears to have changed is that the IAF has finally had enough. Perhaps with more access to Western equipment, it no longer believes it has to put up with years of neglected customer service from Russia. Instead, service leaders say they want an unhindered flow of spares for their aircraft and weapons.

Indian sources indicate that Rosoboronexport—the sales agency for most Russian hardware—had put up multiple roadblocks to an assured spares supply. These variously include demands for price revisions on existing warranties and contracts, demands for advances on warehousing spares and consumables, even demands for fresh contracts.

An official at the Russian Trade Federation in New Delhi, acknowledges that “there are some problems that need attention.” But, he adds, “global tenders for type-specific spares may be counter-productive. Also, price and economy of scale will be a major problem. The two sides need to work out these differences and get on with it.”

Russia in the past has punished customers who have tried to circumvent its supply chain by effectively restricting all support for the system in question.

A senior IAF officer familiar with the acquisition process says “it is an historic fact that after-sales relations with the Russians have always been shaky. That could be understood, if not forgiven, under the Soviet Union, but we have wasted too much time putting up with the situation now.”

Concerning the current effort to find an alternative source of supply, the officer says “the [IAF] cannot afford to waste precious time and funds contracting for critical spares, when it is the original equipment maker’s responsibility to ensure supply on any given day. When you have spares supply problems with an ongoing flagship program like the Su-30MKI, then you know something is very, very wrong.”

http://www.bharat-rakshak.com/NEWS/n...p?newsid=14587


Makan tuh RUSIA anti EMBARGO dan selalu memuaskan!
silakan pikir kenapa pembelian alutsista terakhir dari India malah dari US dan Euro, bukannya dari Rusia
Quote:Original Posted By MrBhass
http://defenceforumindia.com/forum/i...ts-supply.html



Makan tuh RUSIA anti EMBARGO dan selalu memuaskan!
silakan pikir kenapa pembelian alutsista terakhir dari India malah dari US dan Euro, bukannya dari Rusia


numpang nimbrung ya,
ini kan ciri khas produk Ruski, mereka gak hobby embargo tapi after sales selalu masalah.
salah satu penyelesaian ialah lisensi dan memproduksi lokal.

F-16 Refurbished

F-16 Refurbished
Untuk F-16 hibah yang nyatanya di refurbished ini tepatnya, F-16 itu kemampuannya disetarakan dengan blok 52. mengapa?
Bila kita menuntut blok 52, ini cakupannya terlalu luas dan terlalu besar serta mahal untuk alokasi dana yang tersedia. lagi pula tak relefan dengan usia pesawat yang masih tersisa.
alasan antara lain:
blok -52 lahir karena permintaan pasar yaitu multirole fighter yang mampu digunakan sebagai platform persenjaatan baru (AMRAAM dan BVR), tapi tak memerlukan endurance dan abilitynya F-15

untuk TNI-AU sepertinya kemampuan BVR dan sejenisnya akan dilimpahkan ke Su-27/35. dimana daya jelajah dan kelincahannya jelas-2 melebihi F-15.
Radar type v-6 keatas output powernya pasti lebih oke, tapi memerlukan energy lebih besar dan bobotnya lebih berat. dari situ lahir F-16 baru (blok-52)yang dilengkapi mesin dengan trust lebih besar.
Mesin dengan trust lebih besar ini mempunyai diameter lebih besar, merobah perut F-16 untuk keperluan ini? padalah MTBF framenya hanya tinggal 1/3? suatu hal yang tak terlalu menguntungkan.
Apakah dengan MTBF yang hanya 1/3 itu kita berkehendak mengoperasikan F-16 dengan AMRAAM? Sepertinya dari sisi management saja sudah timpang, apalagi dari sisi operasi? Saya kita justru hanya mendatangkan mudarat.

kemungkinan besar TNI-AU menghendaki F-16 refurbished ini akan dilengkapi radar type lain yang cocok untuk memandu tugas udara kita. yaitu radar dengan kemampuan deteksi lebih jauh tapi tak harus memandu peluru udara-udara BVR, system terpadu LANTIRN dan sejenisnya. Cukup misalnya dengan sidewinder type baru serta kemampuan menyerbuan darat dengan roket berkendali sejenis AGM-Maverick. nah ini kan barang ideal untuk meronda udara. kalau seandai dalam meronda ia berpapasan dengan lawan yang lebih sakti ya tinggal panggil adiknya yang lebih berotot pula Su-27/30.

Yang juga perlu kita waspadai ialah biaya perawatan burung besi tsb. Bila F-16 itu harus meronda hingga tahun 2024 kemungkinan besar tak semua F-16 mencapai batas usia tsb. Pasti nanti ada udang dibalik batu, entah dana untuk pemeliharaaan yang terpotong, metal fatique atau sukucadang yang sudah tak tersedia misalnya. Lebih payah lagi seandai terjadi seperti nasib Grippennya Thailand. Barang sudah beres, dibayar lunas, tapi grippen tsb tak bisa diserahkan oleh sebab pemasok hardware di Amrik berkeputusan “ogah” mengirim barang.
^^
Itungan gak sampe 2024 gimana?
Airframe F-16 itu dirancang untuk sampe umur 8000 jam terbang lho.
Block 25 dan Block 32 nya ANG itu rata-rata flight hournya 3300 jam.
Artinya apa? masih ada waktu 4700 jam lagi buat dipake sampe batas umurnya.

katakan tiap tahun dipake 200 jam terbang, itu masih tahan buat 20 tahun lebih lho! Sekarang, TNI-AU mau pake berapa jam per tahun?

Kemudian pesawat itu beda sama mobil, yang kalo usia udah tua bakal sering masuk bengkel. Namanya pesawat itu sekali udah masuk overhaul, ya udah dia kembali seperti baru lagi, dengan maintenance plan seperti pesawat baru.

Gak ada tuh pesawat yang katakan di awal di state "overhaul every 2000 jam" terus setelah dipake 20 tahun Time Between Overhaul turun jadi 1000 jam.

makanya pesawat2 tuwir seperti 727, 737-200, Fokker 27 masih pada terbang sampe sekarang.

Quote:Original Posted By ttatung
numpang nimbrung ya,
ini kan ciri khas produk Ruski, mereka gak hobby embargo tapi after sales selalu masalah.
salah satu penyelesaian ialah lisensi dan memproduksi lokal.


Kapan Rusia jadi negara baik yang mau kasih lisensi?
produksi lokal? Industri kita sanggup gak?
asdfasdfadsfasdfasdf
Quote:Original Posted By MrBhass
^^
Itungan gak sampe 2024 gimana?
Airframe F-16 itu dirancang untuk sampe umur 8000 jam terbang lho.
Block 25 dan Block 32 nya ANG itu rata-rata flight hournya 3300 jam.
Artinya apa? masih ada waktu 4700 jam lagi buat dipake sampe batas umurnya.

katakan tiap tahun dipake 200 jam terbang, itu masih tahan buat 20 tahun lebih lho! Sekarang, TNI-AU mau pake berapa jam per tahun?

Kemudian pesawat itu beda sama mobil, yang kalo usia udah tua bakal sering masuk bengkel. Namanya pesawat itu sekali udah masuk overhaul, ya udah dia kembali seperti baru lagi, dengan maintenance plan seperti pesawat baru.

Gak ada tuh pesawat yang katakan di awal di state "overhaul every 2000 jam" terus setelah dipake 20 tahun Time Between Overhaul turun jadi 1000 jam.

makanya pesawat2 tuwir seperti 727, 737-200, Fokker 27 masih pada terbang sampe sekarang.


Mas Admin, yang saya maksud dengan angka 2024 kan saya jelaskan akibat resiko “biaya perawatan”
Kita realistis saja, dari 1 sq yang kita punya saat ini berapakah yang operasioanl? apakah mereka mencapai target ops seperti semula?. Tak-lah. Inilah yang saya maksud dengan dana pemeliharaan. Biarpun airframe masih dalam hitungan tapi radarnya ngadat? Apakah ini masih layak dioperasikan? Dari situ hitungan operasionalnya.
Yang juga mengganggu jam terbang adalah suku cadang. Metal fatique bisa timbul ditengah jalan akibat tuntutan operasi. Seperti yang terjadi pada F-18A Amrik dulu, setelah beberapa tahun operasional USAF menemukan keretakan pada fin yang diakibatkan pemakaian angle of attack terlalu tajam. Lynxnya Inggris, yang pada th 90-an dijago-2kan tapi th 2000-an ketahuan ada cacat dibaling-2 lalu pabrikan itu mereduksi mtbf mesin 50%. Tentu barang itu secara hitungan masih layak terbang tapi service abilitynya reduced. Very-2 reduced.

Untuk F-16 ini untungnya kita sudah berpengalaman mengoperasikan, jadi kita sudah mengenal kelemahan/kelebihannya serta serta selum beluk jalur infranya
Iya gan tapi dengan begitu, kekuatan kita jadi semakin dapat diketahui aMAerika...bahaya juga gan...
Quote:Original Posted By ttatung
Mas Admin, yang saya maksud dengan angka 2024 kan saya jelaskan akibat resiko “biaya perawatan”
Kita realistis saja, dari 1 sq yang kita punya saat ini berapakah yang operasioanl? apakah mereka mencapai target ops seperti semula?. Tak-lah. Inilah yang saya maksud dengan dana pemeliharaan. Biarpun airframe masih dalam hitungan tapi radarnya ngadat? Apakah ini masih layak dioperasikan? Dari situ hitungan operasionalnya.
Yang juga mengganggu jam terbang adalah suku cadang. Metal fatique bisa timbul ditengah jalan akibat tuntutan operasi. Seperti yang terjadi pada F-18A Amrik dulu, setelah beberapa tahun operasional USAF menemukan keretakan pada fin yang diakibatkan pemakaian angle of attack terlalu tajam. Lynxnya Inggris, yang pada th 90-an dijago-2kan tapi th 2000-an ketahuan ada cacat dibaling-2 lalu pabrikan itu mereduksi mtbf mesin 50%. Tentu barang itu secara hitungan masih layak terbang tapi service abilitynya reduced. Very-2 reduced.

Untuk F-16 ini untungnya kita sudah berpengalaman mengoperasikan, jadi kita sudah mengenal kelemahan/kelebihannya serta serta selum beluk jalur infranya

nah bener gan setuju ada udang di balik batu...mereka sedang jualan suku cadang tuh yang harganya sangat mahal....
Quote:Original Posted By ttatung
F-16 Refurbished
Untuk F-16 hibah yang nyatanya di refurbished ini tepatnya, F-16 itu kemampuannya disetarakan dengan blok 52. mengapa?
Bila kita menuntut blok 52, ini cakupannya terlalu luas dan terlalu besar serta mahal untuk alokasi dana yang tersedia. lagi pula tak relefan dengan usia pesawat yang masih tersisa.
alasan antara lain:
blok -52 lahir karena permintaan pasar yaitu multirole fighter yang mampu digunakan sebagai platform persenjaatan baru (AMRAAM dan BVR), tapi tak memerlukan endurance dan abilitynya F-15

untuk TNI-AU sepertinya kemampuan BVR dan sejenisnya akan dilimpahkan ke Su-27/35. dimana daya jelajah dan kelincahannya jelas-2 melebihi F-15.
Radar type v-6 keatas output powernya pasti lebih oke, tapi memerlukan energy lebih besar dan bobotnya lebih berat. dari situ lahir F-16 baru (blok-52)yang dilengkapi mesin dengan trust lebih besar.
Mesin dengan trust lebih besar ini mempunyai diameter lebih besar, merobah perut F-16 untuk keperluan ini? padalah MTBF framenya hanya tinggal 1/3? suatu hal yang tak terlalu menguntungkan.
Apakah dengan MTBF yang hanya 1/3 itu kita berkehendak mengoperasikan F-16 dengan AMRAAM? Sepertinya dari sisi management saja sudah timpang, apalagi dari sisi operasi? Saya kita justru hanya mendatangkan mudarat.

kemungkinan besar TNI-AU menghendaki F-16 refurbished ini akan dilengkapi radar type lain yang cocok untuk memandu tugas udara kita. yaitu radar dengan kemampuan deteksi lebih jauh tapi tak harus memandu peluru udara-udara BVR, system terpadu LANTIRN dan sejenisnya. Cukup misalnya dengan sidewinder type baru serta kemampuan menyerbuan darat dengan roket berkendali sejenis AGM-Maverick. nah ini kan barang ideal untuk meronda udara. kalau seandai dalam meronda ia berpapasan dengan lawan yang lebih sakti ya tinggal panggil adiknya yang lebih berotot pula Su-27/30.

Yang juga perlu kita waspadai ialah biaya perawatan burung besi tsb. Bila F-16 itu harus meronda hingga tahun 2024 kemungkinan besar tak semua F-16 mencapai batas usia tsb. Pasti nanti ada udang dibalik batu, entah dana untuk pemeliharaaan yang terpotong, metal fatique atau sukucadang yang sudah tak tersedia misalnya. Lebih payah lagi seandai terjadi seperti nasib Grippennya Thailand. Barang sudah beres, dibayar lunas, tapi grippen tsb tak bisa diserahkan oleh sebab pemasok hardware di Amrik berkeputusan “ogah” mengirim barang.

Setujuu gaannn...!!!
Kalo menurut ane sudah saatnya putera-puteri bangsa bisa memproduksi pesawat...jadi ga tergantung hibah gan...
Quote:Original Posted By kinxkonx89
pasti mereka bilang yang gk nalar lg gan..
ada2 aja jika mereka gk dapet jatah dari proyek besar pengadaan alutsista...

intinya komisi hahahaaa


hahaha ngiler kali anggota DPR nya...!!
Quote:Original Posted By phanze
Iya gan tapi dengan begitu, kekuatan kita jadi semakin dapat diketahui aMAerika...bahaya juga gan...


Saat ini kekuatan kita bukan hanya diketahui Amrik, tapi juga didikte.

memproduksi pesawat sendiri? itu semua kan harus ada nilai putar ekonominya.
Kita lihat mengapa F-35 begitu tersendat2? karena Eropa masih belum berani menanamkan modalnya.

kalau hitahanya main buat tapi nanti tak ada nilai keuntungan ekonomiyang jelas? ya sama saja membuang garam ke laut.


Salam
Quote:Original Posted By ttatung
Kita lihat mengapa F-35 begitu tersendat2?


karena desainnya gagal. dua dari tiga varian yg dibuat bermasalah waktu diujicoba

Quote:Original Posted By phanze
Kalo menurut ane sudah saatnya putera-puteri bangsa bisa memproduksi pesawat...jadi ga tergantung hibah gan...


coba cari proyek fkx ato ifx ato f-33
tergantung hibah?

Quote:Original Posted By ttatung
numpang nimbrung ya,
ini kan ciri khas produk Ruski, mereka gak hobby embargo tapi after sales selalu masalah.
salah satu penyelesaian ialah lisensi dan memproduksi lokal.


embargo bukannya kejadiannya itu aftersales ya?
kalo masih beranggepan embargo dan layanan aftersales itu beda, monggo http://internasional.kompas.com/read...njata.ke.Libya
libya lho gan yg diembargo
konsumen loyal dan royal
Quote:Original Posted By .bukan.momod.
karena desainnya gagal. dua dari tiga varian yg dibuat bermasalah waktu diujicoba


Akibat krisis ekonomi eropa sekarang ini tak ada satu negara eropa yang bersedia memesan F-35. mereka memilih Midlife Update F-16 mereka lagi.

apa yang terjadi? pesanan F-35 itu diubah menjadi "menjajal produk". Jadi negara eropa sekarang hanya bersedia membiayai satu atau dua experimental plane doang. sekedar menyelaraskan keingeinan Airforce mereka dengan kemampuan pesawat produk Just sekedar product demonstrator.
Apalagi jelas-2 Italy inggris jerman dan spanyol lebih cinta eurofighter (untuk melindungi produk dalam negeri mereka). Jadi perkara F-35 memang pelik buat Amrik.
Quote:Original Posted By ttatung
Mas Admin, yang saya maksud dengan angka 2024 kan saya jelaskan akibat resiko “biaya perawatan”
Kita realistis saja, dari 1 sq yang kita punya saat ini berapakah yang operasioanl? apakah mereka mencapai target ops seperti semula?. Tak-lah. Inilah yang saya maksud dengan dana pemeliharaan. Biarpun airframe masih dalam hitungan tapi radarnya ngadat? Apakah ini masih layak dioperasikan? Dari situ hitungan operasionalnya.
Yang juga mengganggu jam terbang adalah suku cadang. Metal fatique bisa timbul ditengah jalan akibat tuntutan operasi. Seperti yang terjadi pada F-18A Amrik dulu, setelah beberapa tahun operasional USAF menemukan keretakan pada fin yang diakibatkan pemakaian angle of attack terlalu tajam. Lynxnya Inggris, yang pada th 90-an dijago-2kan tapi th 2000-an ketahuan ada cacat dibaling-2 lalu pabrikan itu mereduksi mtbf mesin 50%. Tentu barang itu secara hitungan masih layak terbang tapi service abilitynya reduced. Very-2 reduced.

Untuk F-16 ini untungnya kita sudah berpengalaman mengoperasikan, jadi kita sudah mengenal kelemahan/kelebihannya serta serta selum beluk jalur infranya



makanya kita pesan 6 tambahan buat spare parts gan...

Quote:Original Posted By phanze
Iya gan tapi dengan begitu, kekuatan kita jadi semakin dapat diketahui aMAerika...bahaya juga gan...


sampeyan gak bisa multiquote..
[QUOTE=



embargo bukannya kejadiannya itu aftersales ya?
kalo masih beranggepan embargo dan layanan aftersales itu beda, monggo http://internasional.kompas.com/read...njata.ke.Libya
libya lho gan yg diembargo
konsumen loyal dan royal [/QUOTE]

Kalau menurut saya, Embargo itu selalu akibat keputusan politik sedang aftersales itu kan keputusan pasar. bila berani melanggar yang pertama itu penaltynya berat
Ni pesawat kenapa ribet masalah lisensinya ya, jadi mirip kasus dulu oom russky nolak ekspor ke cina gara2 su-35bmnya takut dibajak