KASKUS

Quote:Original Posted By Genteb
nice info nya gan n aganwati..
sy br pnya anak 1 ni


Wah kok dibanned gan
Ketauan ngejunk ya

Kalo meneurut ane nilai agama harus ditanamkan pada anak sejak bayi
Kalo udah semakin gede bakal sulit mengarahkan si anak
Kitenye sebagai orang yang lebih tua juga harus memberikan contoh yang baik.
Karena anak itu peniru yang baik.
Orang tua harus bisa memberikan contoh yg baik terhadap anak
Anak pasti akan liat apa yg dilakukan ortunya
betul banget gan,,, menanamkan nilai moral dan agama pada anak sebaiknya memang sejak anak dalam kandungan
Menanamkan nilai moral dan agama merupakan suatu keharusan yg dilakukan orangtua terhadap anak-anaknya. Hal yg paling efektif adalah dimulai dari sikap dan perilaku orangtua sendiri
disiplin yang kaku yang menurut ane paling gak disukai sama anak..
kebanyakan orang tua pun seperti itu
Saya juga punya anak 1
Secara yg dikatakan TS itu benar, anak2 harus diberikan pendidikan moral dan agama sejak dini
Tapi ortu harus ngasih contoh yg baik biar si anak bisa mengikuti tingah laku ortunya
Trit yg qualified gan :
Semoga bisa bermanfaat bagi kaskuser khususnya yg punya anak2
moral, agama dan budi pekerti, sepertinya hal itu sudah terkikis, sayang sekali
pondasi agama moral serta budi pekerti yg kuat akan membuat anak menjadi lebih baik
menghadapi masa remaja yg penuh gejolak
Pas kebetulan aja tesis saya tentang Agama Anak Usia Dini:

Menurut Zakiyah Daradjat, anak-anak sudah mempunyai rasa beragama melalui perkembangan bahasa yang diucapkan orang tua atau orang dewasa disekelilingnya. Anak-anak lebih tertarik pada kosakata bahasa daripada pertanyaan-pertanyaan apa itu agama? Siapa Tuhan? Apa itu surga dan neraka? Hal ini disebabkan karena kemampuan berpikir atau perkembangan kognitif anak belum menjangkau pemikiran yang bersifat abstrak.

Dalam pengertian lain, Suyadi memberikan pengertian mengenai agama menjadi 2 bagian yaitu pengetahuan agama yang berarti informasi tentang agama yang bersumber dari kitab suci, sedangkan rasa beragama adalah adalah buah dari pengetahuan terhadap agama tersebut. Suyadi menerangkan lebih lanjut mengenai keagamaan anak. Makna agama yang dipahami anak tidak sama dengan makna agama yang dipahami orang dewasa, terlebih lagi perbedaan rasa agama diantara keduanya. Dari sisi pemahaman persepsi mengani agama yang juga berbeda antara agama Islam, Kristen-Katolik, maupun agama lain, Suyadi menyimpulkan titik persamaan persepsi yakni rasa aman, kasih sayang, dan perlindungan. Kemudian Suyadi menyimpulkan mengenai makna agama bagi anak-anak sebagai sesuatu yang bersifat konkrit dan jauh lebih kuat dari dirinya, sehingga mampu memberi perlindungan.

Jalaluddin menuliskan, menurut penelitian Ernest Harms perkembangan agama anak-anak itu melaui beberapa fase (tingkatan) yaitu:

1. The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng)
Tingkatan ini dimulai pada anak berusia 3-6 tahun. Pada tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada tingkat perkembangan ini anak menghayati konsep ke-Tuhanan seusia dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Kehidupan masa ini masih banyak dipengaruhi kehidupan fantasi, hingga dalam menanggapi agama pun anak masih mengguanakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal.

2. The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk Sekolah Dasar hingga ke usia (masa usia) adolesence. Pada masa ini, ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realitas). Konsep ini timbul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini ide keagamaan anak didasarkan atas dorongan emosional, hingga mereka dapat melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Berdasarkan hal itu, maka pada mas ini anak-anak tertarik dan senang pada lembaga keagamaan yang mereka lihat dikelola oleh orang dewasa dalam lingkungan mereka. Segala bentuk tindak (amal) keagamaan mereka ikuti dan pelajari dengan penuh minat.

3. The Individual Stage (Tingkat Individu)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang individualistis ini terbagi atas tiga golongan, yaitu:

a. Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Hal tersebut dipengaruhi oleh pengaruh luar.
b. Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (perorangan)
c. Konsep ke-Tuhanan yang besifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis ppada diri mereka dalam menghayati ajaan agama. Perubahan ini pada setiap tingkatan dipengaruhi oleh faktor intern, yaitu perrkembangan usia dan faktor ekstern yang berupa pengaruh luar yang dialaminya.

Masih menurut Jalaluddin, orang tua mempunyai pengaruh terhadap anak sesuai dengan prinsip eksplorasi yang mereka miliki. Dengan demikian, ketaatan kepada ajaran agama merupakan kebiasaan yang menjadi milik mereka yang mereka pelajari dari orang tua maupun guru mereka. Bagi mereka sangat mudah untuk menerima ajaran dari orang dewasa, walaupun belum mereka sadari sepenuhnya manfaat ajaran tersebut. Berdasarkan hal itu, maka bentuk dan sifat agama pada diri anak dapat dibagi atas:

1. Unreflective (Tidak Mendalam)
Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam, sehingga cukuo sekedarnya saja dan mereka sudah merasa puas dengan keterangan yang kadang-kadangkurang masuk akal. Meskipun demikian, beberapa anak memiliki ketajaman pikiran untuk menimbang pendapat yang mereka terima dari orang lain.

Penelitian Praff mengemukakan 2 contoh tentang hal itu :

a. Suatu peristiwa seorang anak mendapat keterangan dari ayahnya bahwa Tuhan selalu mengabulkan permintaan hambanya . Kebetulan, seorang anak lalu didepan toko mainan. Sang anak tertarik pada sebuah topi berbentuk kerucut. Sekembalinya kerumah, ia langsung berdoa kepada Tuhan untuk apa yang diingininya itu. Karena hal itu diketahui oleh ibunya, maka ia ditegur. Ibunya berkata bahwa tak boleh seseorang memaksakan Tuhan untuk mengabulkan barang yang diinginkannya itu. Mendengar hal tersebut anak tadi langsung mengemukakan pertanyaan, “mengapa?”
b. Seorang anak perempuan diberitahukan tentang doa yang dapat menggerakkan sebuah gunung. Berdasarkan pengetahuan tersebut maka pada suatu kesempatan anak itu berdoa selama beberapa jam agar Tuhan memindahkan gunung-gunung yang ada di daerah Washington ke laut. Karena keinginannya itu tidak terwujud, maka semenjak itu ia tak mau berdoa lagi.

Dua contoh diatas menunjukkan bahwa anak itu sudah menunjukkan pemikiran yang kritis, walaupun bersifat sederhana. Menurut penelitian, pemikiran kritis baru timbul pada usia 12 tahun sejalan dengan pertumbuhan moral. Di usia tersebut, bahkan anak yang kurang cerdas pun menunjukkan pemikiran yang korektif. Disini menunjukkan bahwa anak meragukan kebenaran agama yang pada aspek-aspek yang bersifat konkret.

2. Egosentris
Anak memiliki kesadaran akan diri sendiri sejak tahun pertama usia pekembangan dan akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalamannya. Apabila kesadaran akan diri itu mulai subur pada diri anak, maka akan tumbuh keraguan pada rasa egonya. Semakin bertumbuh, semakin meningkat pula egoisnya sehubungan dengan hal itu maka dalam masalah keagamaan anak telah menonjolkan kepentingan dirinya dan telah menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dari kesenangan pribadinya. Seorang anak yang yang mendapat kasih sayang dan selalu mengalami tekanan akan bersifat kekanak-kanakan (childish). Dan memiliki sifat ego yang rendah. Hal yang demikian mengganggu pertumbuhan keagamaannya.

3. Anthromorphis
Pada umumnya, konsep mengenai ke-Tuhanan pada anak berasal dari pengalamannya dikala ia berhubungan dengan orang lain. Tapi suatu kenyataan bahwa konsep ke-Tuhanan mereka tampak jelas menggambarkan aspek-aspek kemanusiaan.
Melalui konsep yang terbentuk dalam pikiran, mereke menganggap bahwa perikeadaan Tuhan itu sama dengan manusia. Pekerjaan Tuhan mencari dan menghukum orang yang berbuat jahat disaat orang itu berada dalam tempat yang gelap.
Surga terletak dilangit dan untuk tempat orang yang baik. Anak menganggap bahwa Tuhan dapat melihat segala perbuatannya langsung kerumah-rumah mereka sebagai layaknya orang yang mengintai. Pada anak yang berusia 6 tahun, menurut penelitian Praff, pandangan anak tentang Tuhan dalah sebagai berikut:
Tuhan mempunyai wajah seperti manusia, telinganya lebar dan besar. Tuhan tidak makantetapi hanya minum embun.
Konsep ke-Tuhanan yang demikian itu mereka bentuk sendiri berdasarkan fantasi masing-masing.

4. Verbalis dan Ritualis
Dari kenyataan yang kita alami ternyata, kehidupan agama pada anak-anak sebagian besar tumbuh mula-mula secara verbal (ucapan). Mereka menghapal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan dan selain itu pula dari amaliah yang mereka laksanakan bedasarkan pengelaman menurut tuntutan yang diajarkan kepada mereka. Sepintas lalu, kedua hal tersebut kurang ada hubungannya dengan perkembangan agama pada anak dimasa selanjutnya, tetapi menurut penyelidikan hal itu sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan agama anak itu diusia dewasa. Bukti menunjukkan bahwa banyak orang dewasa yang taat karena pengaruh ajaran dan praktik keagamaan yang dilaksanakan pada masa kanak-kanak mereka. Sebaliknya, belajar agama diusia dewasa banyak mengalami kesukaran. Latihan-latihan bersifat verbalis dan upacara keagamaan yang bersifat ritualis (praktik) merupakan hal yang berarti dan merupakan salah satu ciri dari tingkat perkembangan agama pada anak-anak.

5. Imitatif
Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita saksikan bahwa tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak-anak pada dasarnya diperoleh dari meniru. Berdo’a dan sholat misalnya, mereka laksanakan karena hasil melihat perbuatan dilingkungan, baik berupa pembiasaan ataupun pengajaran yang intensif. Para ahli jiwa menganggap bahwa dalam segala hal anak merupakan peniru yang ulung. Sifat peniru ini merupakan modal yang positif dalam pendidikan keagamaan pada anak.
Walaupun anak mendapat pengajaran agama tidak semata-mata bedasarkan apa yang mereka peroleh sejak kecil, namun pendidikan keagamaan (religious paedagogis) sangat mempengaruhi terwujudnya tingkah laku keagamaan (religious behaviour) melalu sifat meniru ini.

6. Rasa heran
Ras heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan yang terakhir pada anak. Berbeda dengan rasa kagum yang ada pada orang dewasa, maka rasa kagum pada anak ini belum bersifat kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum terhadap keindahanlahiriah saja. Hal ini merupakan langkah pertama dari pernyataan kebutuhan anak akan dorongan untuk mengenal sesuatu yang baru (new experience). Rasa kagum mereka dapat disalurkan melalui cerita-cerita yang menimbulkan rasa takjub.

Sumber : Prof. Dr. H. Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2007